Alfa Ichon, anak yang mendapat karunia. Dukun di kampungnya menggadang-gadang dia sebagai penerus orang-orang sakti. Di bagian selanjutnya akan terungkap bahwa Alfa bisa memasuki mimpi sebagai entitas yang punya kesadaran utuh, bahkan berbicara dengan kesadaran lain yang hadir dalam mimpinya. Tapi, sepanjang cerita, tidak dijelaskan apa guna dari kemampuan itu. Ini semacam pergolakan pribadi seorang Alfa, yang kadang terasa seperti seorang pengecut yang berusaha lari dari bangku sekolah.
Cara Dee membangun narasi, mendeskripsikan wajah tokoh-tokohnya, memberi suspense, cukup bisa dinikmati. Saya memuji ruang imajinasi novel ini. Sayangnya, banyak bagian yang terasa dijejalkan begitu saja, tanpa jelas juntrungannya, tidak kokoh kausa pembangunnya, terutama di pembangunan plot. Eh, btw, di review buku ini saya ingin meracau saja ya. Sedang enggan menyajikan dengan terstruktur. Tapi lihat aja deh seperti apa jadinya.
Kita mulai.
Pertama. Buku ini dibangun dengan imajinasi yang keren, namun lemah dalam bangunan logisnya. Semacam terlalu banyak penggampangan.
Ketika upacara pemanggilan roh terjadi di kampung Ichon, kenapa Si Jaga Portibi baru muncul di hari itu? Di upacara-upacara sebelumnya, apakah Si Jaga Portibi tidak bisa menemukan keberadaan Ichon? Atau karena Ichon tidak mendengar musiknya, makanya dia tidak bisa melihat Si Jaga Portibi? Padahal dijelaskan bahwa ketika upacara pargondang itu dilakukan, batas antara dunia manusia dan dunia roh menjadi menipis, dan Si Jaga Portibi selalu berada di dekat Ichon. Anehnya lagi, kemunculan Si Jaga Portibi justru membuat keberadaan Ichon—sebagai peretas mimpi—menjadi terendus Sarvara, padahal, semestinya Si Jaga Portibi itu baru muncul kalau Ichon sudah terancam. Bukannya menjadi pelindung, dia justru menjadi penyebab kemunculan ancaman.
Di bagian ketika Ichon alias Alfa mengikuti seminar Tom Irvine, saya bahkan sampai terkekeh. Kenapa argumen sederhana Ichon—yang sebetulnya anak-anak ekonomi yang belajar marketing pasti paham itu—bisa jadi spesial buat Irvine? Sampai-sampai Irvine mengundang Ichon untuk bicara berdua. Saya sampai berdecak, “Ternyata anak kampus Amerika bodoh-bodoh. Kalau di seminar itu ada gue, jelas gue yang akan lebih dulu menjawab pertanyaan Irvine.” Nyatanya, saya memang sudah tahu jawaban pertanyaan Irvine bahkan sebelum berganti paragraf. Pembaca lain pun pasti ada yang mengalami ini.
Kemudian, ketika Ichon ikut lomba main musik. Aduhai, ini anak kok sepertinya memenangkan itu dengan mudah ya? Deskripsi yang dibangun ketika dia memainkan gitar dan bernyanyi sama sekali tidak spesial. Kenapa dia bisa menang? Saya kepikiran, jangan-jangan Ichon ini memang pakai dukun untuk memenangkan lomba itu. Eh, atau yang main gitar itu sebetulnya bukan Ichon, melainkan Si Jaga Portibi? Ngeri kali, Bang!
Selanjutnya, tentang ketakutan yang dia alami dalam mimpi dan tidurnya. Dia pernah diancam bahkan disayat di pipi oleh Rodrigo dan Rodrigo sampai bilang, “Wow, Men! Nyali lu bahkan lebih gede dari otak lu!” Deskripsi emosi Ichon dalam adegan itu sungguh keren, pemberani, tidak ada nuansa takut sama sekali. Anehnya, dia justru membiarkan sebuah mimpi menakutinya—selama bertahun-tahun! Apalagi kalau dikaitkan dengan fakta bahwa dia orang cerdas, insinyur (iya kan ya?), dan belajar banyak hal lain. Kok bisa, ya, dia bela-belain jadi insomnia menahun hanya karena takut sama mimpi? Takut dibekap dengan bantal? Jauhkan bantalnya, Chon, jauhkan! Kamu tidak terpikir pada hal sesimpel ini?
Inilah kenapa saya bilang Ichon pecundang, atau, lebih tepatnya, dia tidak konsisten sebagai sebuah karakter fiksi. Kecuali jika penulis memang bermaksud membangun karakter yang semacam itu. Satu contoh paling jelas, sikap Ichon yang cengeng dan penuh drama itu dijelaskan pada dialognya Nicky di halaman 261. Kata Nicky, “Dua jam lalu, saya melihat seseorang yang panik, ketakutan, dan bermasalah besar. Dua jam kemudian, saya melihat seseorang yang defensif dan tidak mau dianggap bermasalah.” Iya, Ichon, kamu ribet.
Terakhir, ketika Ichon pindah dari Jakarta ke Amerika, kenapa ayahnya tidak melarang? Padahal di perdebatan sebelumnya—ketika Gultom main ke rumah mereka—ayahnya berkeras bahwa yang akan berangkat adalah abangnya Ichon dan Ichon akan lanjut kuliah di UI. Eh, ujug-ujug Ichon berangkat ke Amerika. Tidak ada perang mulut yang terjadikah? Yang ada hanya air mata keluarga yang melepasnya pergi. Lagi-lagi Ichon ini gampang banget hidupnya.
Bagian kedua. Saya ingin membahas deskripsi Dee tentang dunia dalam mimpi. Beberapa kali Dee terpeleset atau mungkin bingung untuk membangun dunia itu. Ini contohnya, di halaman 345, ada dua kata yang tertukar, “Jadi, aku harus jatuh dari Antarabhava untuk bisa ke Asko, walaupun Antarabhava letaknya di atas Asko.” Ketemu kan?
Kemudian, di halaman 432-433, ada penjelasan yang justru membuat saya bingung, yaitu ketika Dr. Kalden berkata, “Kamu akan masuk dan keluar dari Asko dengan sepenuhnya sadar. Lakukan semua tahap visualisasi yang kutulis di buku (ini seperti apa jelasnya?). Begitu kamu melihat lorong, jangan lawan (gimana cara melawan lorong?). Ikuti saja.
Biarkan dia menarikmu masuk (oke, berarti lorong ini mengisap). Kamu harus mulai stabil dari awal menutup mata (penjelasan ini mestinya di depan, Doktor!). Sthirata yang akan membuatmu bertahan meski muncul rasa sakit, takut, ragu, bahkan euphoria. Anggap sthirata sebagai tongkat penyeimbang di atas tali dan kamu harus menyeberangi sungai emosi dan sensasi fisik. Jatuh berarti hanyut. Apa pun yang terjadi, jangan biarkan dirimu hanyut (Jadi jangan biarkan lorong itu mengisap?). Hanyut berarti perjalananmu bubar. Mengerti?”
Jawaban saya ketika membaca dialog itu, “Saya tidak mengerti, Doktor! Izinkan saya baca ulang penjelasanmu!” Setelah saya baca ulang, tetap membuat bingung dan sebuah pertanyaan tertinggal di kepala saya, “Jadi harus membiarkan diri kita diisap atau harus melawan?” Jika memang dunia mimpi punya Ichon itu dibangun dengan desainnya sendiri dan Dr. Kalden—sebagai infiltran—tidak lupa akan itu, harusnya penjelasannya lebih jernih, tidak berputar-putar dalam medan abstrak dan terjebak dalam anggapan.
Ketiga, tentang dialog. Buku ini mencampuradukkan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia dalam satu pengucap yang sama, dan itu di Amerika. Ini cukup mengaburkan imajinasi saya. Saya selalu membayangkan bagaimana si tokoh mengucapkan dialognya dan bahasa apa yang sebetulnya dia gunakan. Maka, ketika dua bahasa digabung penggunaannya, saya jadi heran, yang mana tokoh yang sebetulnya berbahasa Indonesia, yang mana yang berbahasa Inggris, Meksiko, Tibet, dll. Saya lebih senang jika mereka semua memakai bahasa Indonesia, dan khusus untuk beberapa kata yang tidak bisa dibahasaindonesiakan (karena berbagai sebab), barulah tetap dalam bentuk bahasa aslinya.
Dan yang terakhir, barangkali ini yang paling menyebalkan. Jika memang para Sarvara itu tidak akan pernah mati dan mereka bisa memilih bentuk apa pun yang mereka mau ketika fisik mereka rusak, kenapa Pemba tidak membunuh Ichon alias Alfa ketika mereka di mobil dan Nicky kesulitan bernapas? Kenapa Pemba harus menunggu saat-saat yang tepat jika misi terbesarnya adalah membunuh Alfa dan dia bahkan bisa hidup lagi jika terbunuh? Belum lagi jika melihat fakta bahwa Sarvara sangat membenci peretas mimpi. Kalau saya punya modal kebencian dan keabadian seperti mereka, saya akan langsung menyerang Alfa di mana pun saya berada. Saya tidak akan peduli jika saya ditangkap polisi atau dimarahi mamak saya. Serius deh. Ketika adegan Alfa menahan satu tangan Pemba dan Pemba hampir jatuh dari jembatan, kenapa Pemba tidak menyerang bagian nadi Alfa? Dia malah menyerang ke arah yang jelas sulit dijangkau. Dikatakan pula bahwa Sarvara ini ada banyak di Lasha. Lalu kenapa si Pemba tidak mengajak teman-temannya? Kenapa dia cuma menyerang sendirian? Kenapaaa?
Keroyok saja si Alfa itu, pasti mati dia! Bah!
Banyak tokoh yang terlalu kelihatan bodoh, dan yang pintar sekaligus dimudahkan jalan hidupnya hanyalah Alfa. Semua untuk Alfa. Ini semacam menonton film action yang gerakan musuhnya sering lamban bahkan ceroboh sementara si jagoan selalu teliti dan tidak kehabisan energi. Bah!
Saya sebetulnya menikmati bagian awal buku ini, ketika Ichon masih di Medan. Saat dia pindah ke Jakarta, lalu Amerika, habis sudah; sepanjang buku ini berisi kebosanan dan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab. Bagian paling tidak penting dalam buku ini adalah ketika Ichon di Hoboken. Bagian itu dibuang pun hasilnya pasti sama saja. Demikianlah.
Akhir kata, kapan-kapan Alfa mesti main ke dalam mimpi saya. Saya jamin dia akan terkencing-kencing di sana, dan dengan begitu dia akan lebih tenang ketika menghadapi mimpinya sendiri.
Tertanda,
Joseph Gordon Levitt