Setelah menginvestigasi dan menginterogasi keempat teman prianya yang menginap dan berpesta di suatu akhir pekan, semua punya alibi yang meyakinkan bahwa mereka bukan pelakunya. Lalu, siapa?
Dunia dan masa depan Arlin runtuh dalam semalam. Ia bahkan sempat memutuskan akan mengakhiri hidupnya karena tak sanggup menanggung aib dan malu.
Ketika akhirnya salah seorang mengaku sebagai pelakunya dan bersedia bertanggung jawab, Arlin tak serta-merta percaya. Arlin mengenal pria itu sejak di bangku SMP, dan dia terlalu baik untuk melakukan hal sebejat itu.
Ironisnya, Arlin harus menerima pernikahannya agar benih yang ia kandung tidak dicap sebagai anak haram. Arlin bertekad melampiaskan kemarahannya dan menjadikan pernikahan mereka sebagai neraka bagi pria itu. Hingga sebuah rahasia tersibak, membuat Arlin percaya bahwa cinta yang tulus benar-benar ada…
"Siap atau tidak, takdir bertindak sesuai kehendaknya sendiri dan tak pernah mengenal kata kompromi."
Ini pertama kalinya aku membaca tulisan Dadan Erlangga. Sejak awal melihat covernya, aku sudah jatuh cinta. Cover amore yang keren dan jika dipajang didisplay tokobuku, pasti langsung mencuri perhatian. Saat membaca sinopsisnya, aku pun makin dibuat penasaran dengan kisahnya, sehingga ketika novel ini terbit aku tak ragu langsung membacanya.
"Cinta Akhir Pekan" merupakan karya debut penulis. Novel yang mengisahkan mengenai kehidupan Arlin. Hidupnya yang nyaman berubah seketika saat akhir pekan. Liburan akhir pekan bersama Dita dan 4 teman lelakinya, Bisma Chandra Edwin dan Ferdy menjadi liburan yang berubah kelam. Liburan yang seharusnya menyenangkan menjadi sebuah mimpi buruk tak berkesudahan.
Arlin harus menerima kenyataan bahwa dirinya telah DIPERKOSA. Dan Arlin tak mengingat sama sekali siapa pelaku pemerkosaan terhadap dirinya. Arlin yang baru pertama kali minum minuman keras, akhirnya berujung mabuk dan tiba-tiba saat bangun keesokan harinya sudah dalam keadaan yang tak sama lagi. Melihat kondisi dirinya yang sungguh tidak nyaman, apalagi dibagian tubuh bawahnya, Arlin yakin dia telah diperkosa oleh salah satu dari 4 teman lelaki yang menginap bersamanya dan Dita.
Tersangka pemerkosa Arlin ada 4 orang, Bisma kekasih Dita, Candra sahabat SMP Arlin juga Edwin dan Ferdy teman Bisma. Ke-4 pria itu jelas-jelas kaget dengan kondisi Arlin. Setelah serangkaian investigasi dan interogasi yang dilakukan oleh Arlin dan Dita terhadap ke-4 lelaki itu tidak ada yang benar-benar mengaku bahkan mereka punya alibi masing-masing.
Tidak hanya sampai disitu, beberapa minggu kemudian Arlin harus menerima kenyataan bahwa akibat perkosaan terhadapnya, Arlin positif hamil. Tentunya Arlin bingung, belum juga pelakunya diketahui, sekarang dia sudah harus menerima kondisinya yang hamil di luar nikah. Mau jujur terhadap mamanya pun, Arlin terlalu ragu karena dia tahu itu akan sangat menyakiti mamanya.
Hingga akhirnya mamanya tahu kondisi Arlin yang telah hamil dan memaksa untuk mencari siapa pelaku pemerkosaan terhadap Arlin. Akhirnya, berkat paksaan dan interogasi mamanya, salah satu dari 4 pria yang berlibur bersamanya akhirnya mengaku dan bersedia bertanggung jawab. Dan pria itu adalah Chandra. Cukup mengejutkan sekali bahwa Chandra adalah pelaku sesungguhnya...
Kedua pihak keluarga akhirnya memutuskan untuk segera menikahkan Arlin dan Chandra untuk menutupi semuanya dan bayi yang dikandung Arlin mempunyai status yang jelas. Awalnya Arlin menolak, tetapi mau tidak mau dia harus menerima menikah dengan Chandra. Dimulailah pernikahan Arlin dan Chandra. Mereka memang berstatus suami-istri tetapi hanya sebatas kertas, Arlin tetap bersikap ketus terhadapnya, bagaimanapun Chandra telah menghancurkan hidupnya.
"Kamu boleh membenciku selama yang kamu mau, Ar. Tapi, ketika kebencian itu malah semakin menyiksa dirimu, aku mohon berhentilah, demi dirimu sendiri. Dan perlu kamu ketahui juga, prioritas dari pernikahan ini adalah kamu dan bayi di dalam kandunganmu. Aku tidak akan menuntut apa-apa darimu . Aku tidak akan memaksamu menyukai dan mencintaiku."
"Kalaupun ada satu hal yang paling kuinginkan dari dirimu sekarang... itu adalah melihat kamu tersenyum bahagia. Dan aku tidak akan pernah menyerah sampai bisa mewujudkannya."
Namun, yang tak diduga Arlin, Chandra begitu sabar menghadapinya, hingga suatu hari semuanya terkuak...mengenai apa yang sesungguhnya terjadi di akhir pekan itu. Tentang siapa pelaku sesungguhnya. Bagaimana akhir kisah Arlin?
"Tidak ada laki-laki brengsek yang bersedia bertanggungjawab. Dan tidak ada perempuan brengsek yang mampu melihat kebenaran itu."
Membaca novel ini sungguh menyenangkan. Sebuah debut yang begitu rapi dan mengalir. Aku dibuat hanyut dengan kisah Arlin. Bagaimana dia terbangun di pagi hari dan mendapati kenyataan bahwa dirinya telah diperkosa, tanpa tahu siapa pelakunya. Kemudian harus menerima kenyataan positif hamil kemudian menikah dengan pria yang mengaku telah memerkosanya. Hidup Arlin sungguh berat, aku bisa merasakan betapa sebuah kebohongan kecil dalam kehidupan Arlin membawanya menempuh segala cobaan yang hadir dalam hidupnya.
Pernikahannya dengan Chandra, si pria yang mengaku telah memerkosanya mungkin adalah jalan terbaik yang memang seharusnya dipilih. Walau awalnya menolak, tetapi Arlin juga manusia biasa, anaknya butuh pengakuan dan perlindungan status. Namun, entah kenapa aku tidak bisa membenci Chandra begitu saja. Sikap Chandra itu begitu tulus dan terasa sekali rasa sayang dan cintanya terhadap Arlin. Walaupun Arlin bersikap kurang mengenakkan, tetapi Chandra tetap setia mendampingi Arlin. Aku malah yakin seyakinnya bahwa Chandra bukanlah pelaku sesungguhnya, ada pelaku lain yang terlalu pengecut untuk mengakui perbuatannya.
Dan ternyata dugaanku itu benar, dari ke-4 pria yang menghabiskan liburan bersama Arlin sejak awal aku sudah menebak sosok itu. Walaupun dia juga punya alibi bahwa bukan dia yang melakukannya tetapi tetap saja tebakanku mengarah kepadanya. Semakin lama aku membaca kisah ini, dugaanku semakin kuat dan memang benar dialah pelakunya.
Aku salut dengan penulis yang menulis kisah ini begitu rapi, perlahan demi perlahan menguak keping demi keping kisah Arlin. Twist yang hadir berkali-kali membuatku tercengang dan tidak memperkirakan sebelumnya bahwa ternyata semua yang terjadi terhadap Arlin ada sesuatu yang lebih besar daripada itu. Arlin hanyalah korban dari sebuah cinta yang terlalu besar sehingga mengorbankan semuanya.
Menuju ending, aku bisa bernafas lega. Aku suka bagaimana penulis mengakhiri kisah ini. Manis dan memikat. Penulis membuatku sungguh menikmati kisahnya dari awal hingga akhir. Perpaduan yang manis, cover yang memikat dan isi yang juga memikat.
Overall, akhirnya aku menemukan 1 lagi penulis baru yang membuatku jatuh cinta dengan tulisannya. Salut buat debut penulis, rasanya Dadan Erlangga adalah penulis cowok pertama yang mengambil lini "Amore" dan sukses mengeksekusi ceritanya dengan baik. Aku akan selalu menunggu karya lainnya dari penulis.
Kalau kamu mencari kisah romance yang memikat, aku rekomendasikan novel ini untukmu. Cocok dibaca di akhir pekanmu yang menyenangkan.
"Aku memandang akhir pekan sebagai gambaran dari sebuah kebahagiaan. Kebahagiaan setelah ujian dan kesedihan datang dalam hidup seseorang."
Dadun adalah legenda. Ia adalah guru pertamaku dalam menulis fiksi. Momennya adalah di Lembang. Ia memberiku kumpulan cerpennya secara gratis. Saat itulah saya merasa ingin menulis fiksi, karena bukunya itu menginspirasiku.
Banyak anggota kemudian.com yang terkenal di kemudian hari. Ada Windry hingga Bernard. Nama Dadun, entah, muncul terlambat. Padahal Dadun punya kualitas yang beda. Tokoh-tokohnya seperti hidup. Di novel ini pun demikian. Cara Dadun membawa pembaca masuk ke dalam ceritanya itu seperti sebuah bakat yang sudah terasa sejak kali pertama aku membaca Dadun.
Soal cerita, foreshadownya Dadun di novel ini sebenarnya kebanyakan, sehingga siapa saja pasti mudah menebak siapa pelaku pemerkosanya.
Foreshadownya ada di 2 pertanyaan Dita yang kira-kira 1. Apakah seseorang yang mabuk benar-benar bisa lepas kontrol? 2. Apakah seseorang yang mabuk sepenuhnya tidak melakukan penolakan?
Di sini saya jadi teringat obrolan dengan kak Hanna tentang definisi perkosaan. Jadi untuk membuktikan sebuah perkosaan memang benar perkosaaan, harus dilakukan pembuktian-pembuktian. Salah satunya, akan ditelaah apakah benar ketika intercourse si perempuan tidak ikut goyang? Kalau ikut goyang, berarti ikut menikmati. Jadi, bisa dibilang bukan pemerkosaan.
Meski bisa ditebak, Dadun benar-benar menggoda untuk dibuka halaman per halaman. 4/5 novel ini keren. Sayang 1/5 sisanya, di akhir, biasa saja. Paling tidak suka penyelesaian konflik Edwin dan Ferdy. Kentang banget itu. Jadi semacam bad guy must die.
Gitu sih, Dun. Novel debut Dadun ini akan mengantarkan Dadun punya tempat di pembaca Indonesia. Ia akan dinanti. Saya percaya.
Covernya kece banget, dari semua novel Amore yg sekarang, paling suka buku ini. Baru lihat book trailernya, jadi penasaran. Baca sinopsisnya, tambah penasarannnnn. Pingin baca, semoga berjodoh :D
update akhirnya berjodoh juga di meja book war XD
lumayan lah untuk debut, suka Chandra, ada g sih cowok kayak dia? mau satuuuuuu XD
Suka sama cover buku ini. Ceritanya juga keren. Dadan Erlangga bercerita dengan runut, mengalir.Berusaha belajar banyak dari buku ini tentang bagaimana merangkai kata, membangun konflik. hingga penyelesaian. Banyak plot twist juga dan itu mengasyikkan. Biarpun bacanya deg2 an.
Bercerita tentang seorang gadis bernama Arlin, yang pada suatu akhir pekan berlibur dan menginap bersama Dita sahabatnya juga 4 orang teman pria. Di sana Arlin yakin telah diperkosa dalam keadaan tidak sadar. Pencarian pelaku pun dimulai. Hingga akhirnya ada salah satu dari keempat orang itu yang mengaku.
Dikehidupan nyata, kalau kasus ini dibawa ke polisi, akan mudah sekali menangkapnya. Tapi pada kenyataannya pula, banyak korban perkosaan yg berdiam diri, karena malu. Lagi pula, kalau dihubungkan ke polisi, cerita ini akan jadi cerita kriminal, hehehe...
POV yang digunakan adalah POV 1, dan dalam sudut pandang ini, biasanya cerita lebih terasa feelnya. Dadan Erlangga berhasil untuk itu. Ada beberapa bagian yang pengennya sih tokoh Arlin dan Chandra ada mesra2 sedikit, terutama masa pernikahan. Arlinnya jutek banget.. hehehe...
Overall, suka dengan cerita ini. Semoga best seller...
Gila, sukses bgt bikin gw ternganga2, walaupun dari awal gw udah curiga sih sama si penjahat kelamin itu. Agak kaget juga sama plot twistnya & kebenaran yang akhirnya terkuak. Arlin is really lucky to be loved by such a loyal guy. Mau banget dong gw dicintai kyk gt >.< 4.5 deh buat debutnya!
Suka! Aku suka sama novel ini! Buatku novel ini unexpected. Soalnya kebanyakan novel Amore yang kubaca ceritanya cenderung manis-manis empuk, berbeda dengan Cinta Akhir Pekan yang menyuguhkan novel roman dengan twist oke serta penulisan yang nggak menye-menye.
Arlin dipaksa oleh sahabatnya, Dita, untuk berlibur setelah kelulusan mereka di sebuah villa di Lembang. Bersama empat orang cowok - Bisma, Chandra, Edwin dan Ferdy - yang juga adalah teman mereka, mereka menghabiskan malam dengan minuman beralkohol. Tentu saja mereka mabuk, tapi yang terjadi sesudahnya adalah hal yang tidak mungkin dilupakan Arlin. Dia telah diperkosa.
Pelakunya tentu salah satu dari keempat orang cowok yang bersama mereka. Setelah diinterogasi, tak satupun dari keempat cowok itu mengaku. Dua minggu kemudian, Arlin mendapati dirinya hamil. Mamanya Arlin akhirnya turun tangan untuk mencari pelaku pemerkosaan yang juga adalah ayah dari bayi yang dikandung Arlin. Usaha Mama berhasil. Chandra mengakui bahwa dialah pelaku pemerkosaan terhadap Arlin. Chandra bersedia bertanggung jawab dengan menikahi Arlin. Meski Arlin sangat membenci Chandra karena perbuatannya, dia tidak kuasa menolak pernikahan itu. Bagi Arlin, pernikahan itu hanyalah di atas kertas. Dia tetap bersikap ketus dan selalu menyalahkan Chandra. Anehnya, Chandra malah bersikap sangat baik pada Arlin. Mungkin dia telah menyesali perbuatan bejatnya. Masalah lain yang muncul adalah sikap Ibu Maria, mamanya Chandra, yang terang-terangan menunjukkan ketidak sukaannya pada Arlin. Perlahan Chandra mulai menunjukkan rasa cintanya pada Arlin. Namun hati Arlin terpaut pada pria lain. Dia adalah Bisma, yang juga kekasih Dita sahabatnya. Chandra sendiri adalah sahabat Bisma, dan juga teman Arlin semasa SMP. Sebenarnya Arlin sendiri sempat bingung mengapa Chandra yang dulunya pemalu dan selalu terlihat baik selama ini bisa melakukan perbuatan bejat itu. Ada yang aneh dari peristiwa ini, pikir Arlin. Apalagi setelah Arlin menerima SMS dari nomor tidak dikenal yang mengatakan bahwa Arlin menikahi pria yang salah, membuat Arlin semakin bimbang.
Novel debut karya Dadan Erlangga ini, menarik perhatian saya sejak pertama kali melihat review beberapa teman di Goodreads. Apalagi sangat jarang penulis cowok menulis novel dalam lini Amore. Tema yang diusung pun bisa dibilang hal yang tidak biasa, tentang perkosaan. Ternyata setelah membacanya, novel ini bukan sekadar roman tragedi saja, tetapi juga ada unsur misteri dan suspence-nya. Twist yang dilempar di dalam buku ini selalu mengejutkan.
Namun ada hal yang mengganjal saat saya membaca novel ini adalah pemeriksaan kehamilan yang dilakukan oleh dokter Amirah pada Arlin. Dokter itu melakukan pemeriksaan dengan metode tusi (touche) yaitu dengan cara memasukkan jari melalui vagina untuk mengetahui umur kehamilan. Setelah pemeriksaan, dokternya memprediksi usia kehamilan sekitar 2 minggu. Saya bukan praktisi kesehatan, tapi rasanya aneh pemeriksaan dalam dilakukan pada usia kehamilan yang masih sangat muda. Lagipula hitungan kehamilan itu dimulai dari periode menstruasi terakhir. Dengan test pack pun biasanya baru akan terlihat jelas pada usia kehamilan 4-5 minggu. Saya diam-diam merasa lega setelah Arlin memutuskan mengganti dokter kandungannya. Ngeri aja rasanya lagi hamil muda diubek-ubek gitu.
Anyway... saya senang membaca novel ini. Kisahnya mengalir dengan baik sejak awal. Saya dibuat prihatin dengan Arlin yang sudah menjadi korban, masih mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari ibu mertuanya. Saya pun dibuat penasaran dengan misteri siapa pelaku pemerkosaan yang sebenarnya. Cara penulis menyelesaikan semua konflik pun cukup adil. Dan saya akan menantikan neovel berikutnya dari Dadan Erlangga.
Sooooooooo, here we go. Kenal sama Om Dadun sejak zaman-zaman aktif di situs Kemudian. Saat saya masih SMP dan unyu-unyunya :3. Kata member lain, Om Dadun ini hebat dalam cerita cinta-cintaan.
Dan Cinta Akhir Pekan adalah novel pertamanya.
Seperti halnya saya, tulisan Om Dadun juga tumbuh dan berkembang. Saya dapat melihat ini di CAP. Om Dadun punya bakat menghipnotis saya untuk terus membuka halaman demi halaman dan mengungkap misteri dibalik cerita. Satu bintang buat itu.
Karena saya lagi sering membaca soal TKD akhir-akhir ini, saya menemukan keanehan diawal. Yakni nama-nama tokohnya. Arlin-Bisma-Chandra-Dita-Edwin-Ferdy. Nyaris saya mencari selembar kertas dan ngebuat urutan ABCDEF untuk ikut memecahkan kasus dan saya pun tersadar, ini bukan soal TIU!
(((((((((((Oke, skip yang barusan tadi)))))))))))))
Untuk karakter, saya sempet ngerasa C nggak terlalu kuat. Dia cuma jadi si tokoh keju. Tapi semakin ke belakang, saya udah nggak meraba-raba lagi karakter dia gimana. Saya suka banget kebiasaan-kebiasaan kecil Mas C yang Om Dadun tuliskan disini.
Terus, sempat agak sebel sama si A. Kok dia lebay banget, gitu. Seenggaknya dia bersyukur dan menerima dan bla bla. Lalu lagi-lagi saya sadar, kalau berpikiran seperti itu, sama halnya saya menyamakan diri dengan orang luar yang seenaknya nge-judge dia harus gini dan gitu. A punya alasan untuk bersikap seperti itu. Dan karena dia bereaksi demikian, karakternya kuat. Setengah bintang untuk bagian karakter. Setengah yang hilang karena alasan subjektif tadi.
Daaaaan, kovernya manis banget! Satu bintang untuk kover yang kelihatan bisa dikunyah ini.
Bintang ketiga untuk cerita bonus. Tapi setengahnya doang. Sayang sekali saya agak kecewa dengan cerita bonusnya. Kenapa? Karena saya butuh lagi! Yang banyaaaak. LOL. Peace :3
Bintang terakhir saya persembahkan atas usaha Om Dadun yang telah menyelesaikan novel manis ini. Juga twist yang tersemat di dalam. Ditunggu karya-karya selanjutnya. Best regards. Salam buat ABCDEF!
Buku ini aku kasih rating 4, dengan catatan nggak penting yang mau aku kasihtahu ke Bang Dadun. Hehehe.
1. Pertama-tama, selamat buat novel debut Bang Dadun! Kisahnya manis banget, di pertengahan cerita, aku sampai hampir nangis gara-gara ketabahan Chandra.
2. Masih ada typo tapi... Ya udah sih, ini nggak ngurangin bobot cerita. Cuma salah ketik yang nggak terlalu kelihatan. Hehe.
3. Kenapa ya, kok aku nggak suka sama Arlin? Ya mungkin wajar aja, si Arlin kan labil. Namanya juga hidup dia lagi terkikis gara-gara dia hamil. Tapi, bisa dibilang dia juga bodoh karena pas di Lembang kok mau-maunya minum tanpa menaruh kecurigaan sama cowok-cowok yang ada di sekitar dia.
4. Nggak ada catatan lain dari novel ini. Kayaknya, novel ini benar-benar minus cela. Mungkin ini soal selera, tapi aku benar-benar menikmati novel debut Bang Dadun! Oh ya, bahkan aku baca ini dalam sekali duduk--sekali tidur deng--karena baca sambil tiduran. Beli pukul 21.00, buka bungkusnya dan mulai baca di 22.30, lalu selesai sekitar pukul 02.00 pagi. Gila ya? Begadang demi Chandra! :')
5. Dan dari rating 4, aku tambah 0.5 bintang lagi. Bintang itu cuma buat Chandra! :))
Duh, nggak ngerti lagi deh. Bener-bener suka sama Chandra. :')
Sebenernya aku ngasih tiga bintang ini secara objektif; sedangkan kalo secara subjektif, aku lebih ke bintang dua. :)
Nah, ada dua hal dasar yang paling pengen kubahas: tema dan premis yang dibahas di sepanjang buku, sama gaya nulis dan unsur romance-nya. Yang pertama lumayan bikin respek, tapi yang terakhir… whew. :)
SPOILER ALERT: Ini lebih enak kalo pelaku sebenernya langsung dibahas tuntas, jadi bagi yang pengen baca dulu tanpa kena spoiler, dimohon berhenti baca review ini sampe sini aja. ^3^
1. Tema, Premis, Plot
Aku suka tema yang diangkat di cerita ini. Tentang korban pemerkosaan yang nggak bisa berbuat apa-apa, disudutkan masyarakat bahkan orang-orang terdekat, dan cuma disuruh nurut tanpa ngasih banyak pilihan.
Salah satu adegan yang paling berkesan buatku ya waktu Arlin diajak mamanya ke rumah Chandra, trus malah disuruh nikah tanpa ngasih hukuman ke pelaku. Ini nunjukin dua hal paling bobrok yang masih berlaku sampe saat ini: bahwa pelaku (terutama laki-laki) cenderung dilindungi meski jelas-jelas dia salah. Alasannya banyak, ya karena kehormatan keluarga (ditunjukin dari ketidaksetujuan ortu Chandra waktu tuh cowok bakal dijeblosin ke penjara sama Arlin), kariernya yang udah dibangun sejak lama (seolah pihak perempuan nggak punya karier atau masa depan yang harus dipertaruhkan juga), dan jalan minta maaf lewat menikah yang selalu dipaksakan sebagai solusi.
That’s totally sick, dan aku bersyukur novel ini ngebahas masalah itu dengan jelas sejelas-jelasnya.
Dari situ, aku mengambil kesan bahwa premis yang dibawain ya fokus ke Arlin sebagai korban pemerkosaan yang nggak diuntungkan. Setelah dipaksa nikah, dia masih dijahatin sama mama Chandra. Udah disuruh bersih-bersih padahal tau lagi mengandung dan nggak boleh capek, mama Chandra juga sering ngelakuin verbal abuse ke Arlin dengan bilang dia ngerusak hidup Chandra.
Hello???
Terlepas dari siapa pelaku sebenernya, adegan ini semacam nunjukin bahwa sesalah apa pun laki-laki setelah melakukan tindak kejahatan, mereka bakal tetep dibela karena hidupnya dianggap jauh lebih penting daripada hidup korban. Padahal (di antara empat cowok itu), hidup pelakunya baik-baik aja setelah kejadian nahas itu bikin Arlin trauma. Chandra tetep kerja di Pertamina, Bisma masih bisa jadi koas, Edwin dan Ferdy juga nggak digambarin bangkrut atau apa. Dilihat dari mana pun, itu udah nggak adil banget. Tapi tentu aja mereka bisa lepas tanggung jawab karena dari awal, pelaku nggak memperlakukan Arlin sebagai manusia. Adanya cuma—sori—kayak barang sekali pake langsung dibuang gitu aja. Sinting!
Ini juga yang bikin aku suka karena semua reaksi tokohnya pada bikin gemes dan kesel™, seolah memusuhi dan menyudutkan Arlin secara kolektif.
Hal lain yang nggak kalah bikin kesel adalah pas Bi Inah muncul dan ujug-ujug nyuruh Arlin beramah-tamah sama Bu Maria (mama Chandra). Gila doooong, itu orang udah ngolok Arlin sampe bikin stres berbulan-bulan, trus Bi Inah dengan entengnya nyuruh Arlin maafin Bu Maria segampang itu?????? Emosi aku tuh. =w=
Kayak, dari awal sampe akhir, Arlin ini emang digambarkan suruh ngalah dan nurut doang. Bahwa dia nggak pernah punya andil buat stand for herself—udah nyoba sih, tapi niatnya selalu dikerdilin sama orang lain. Sinting™! =w=
2. Romance
Unsur romens di sini sekalian ngebahas gaya nulis dan eksekusi novelnya secara keseluruhan ya, wkwkwk.
Sejak awal, aku udah nggak ngeliat chemistry antara Chandra sama Arlin. Hambar aja gitu. Kayak ngarepin es krim rasa vanila yang manis menggigit, tapi pas dimakan cuma kerasa kayak air putih biasa. Itu pun jenis air putih yang bikin lidah aneh, kentang, dan ga ada spesial-spesialnya sama sekali. Sori. :")
Masalahnya gini. Arlin diceritain suka banget sama Bisma, dan nih cewek bucinnya ya sama Bisma. Jadi perasaan longing, desperate, pining, semua itu tumpah jadi satu ya ke Bisma doang. Meski terlarang sekalipun, rasanya Arlin tuh emang pedulinya sama Bisma. Gak ada tempat buat cowok lain. Titik.
Pas menuju ending di kafe baru itu pun, aku masih nganggep Arlin ini sregnya sama Bisma. Udah banyak adegan sama Chandra di bagian pertengahan sampe mendekati akhir, tapi itu semua sia-sia dan kesiram ombaknya Bisma-Arlin.
Emotional bonding antara Chandra sama Arlin menurutku terlalu maksa dan, lagi-lagi, hambar. Nggak berkesan. Jadi gampang ilang ketika Arlin bucin ke Bisma, ewkwkwk. (ಥ_ʖಥ)
Terus, solusi dari semua ini apa dong?
Gampang, bikin aja Chandra kecelakaan! (ಥ_ʖಥ)
Serius, Arlin sampe mimpi Chandra nggak bisa diselametin dan mati gitu aja. Dalam sekejap, ketidakpedulian Arlin berubah arah 180 derajat. Dia jadi lebih care sama Chandra, dan nggak jutek lagi kayak dulu.
Ini nggak ada bedanya kayak pake deus ex machina! Tokoh utama nggak ada chemistry, nggak ada cukup emotional bonding, bikin aja salah satunya kecelakaan biar auto peduli™. =w=
Hal lain yang bikin aku mikir keras adalah pas Arlin ngeliat album SMP Chandra dan nemu fotonya pas lagi senyum, hasil jepretan Chandra. Tuh cowok mulai bilang alasan dia suka Arlin sejak lama, mulai dari cara Arlin tersenyum, ngibasin rambut, wah macem-macem lah pokoknya. Arlin? Langsung kesengsem doooong, hihihihihi. Aku??? Cuma bisa:
Menurutku ya, itu cringe banget. Berasa kayak kena stalking tapi versi creepy. Bahkan kadang pas baca fanfic AO3 aja, tokohnya masih sempet self-conscious pas pedekate, takut kelewatan, wkwkwk. Ini nggak pake mikir consent partner lagi, udah main terabas aja huhu my AO3 brain can’t. (ಥ_ʖಥ)
Selain chemistry Chandra-Arlin yang terjun bebas™, hal lain yang bikin aku kurang sreg adalah gaya nulisnya yang kebanyakan narasi ketimbang deskripsi. Banyak yang kayak ke-skip dan kurang pendalaman gitu, jadinya aku ngerasa porsi Arlin sebagai korban lebih ngena ketimbang romance dia sama Chandra. Wkwkwk.
Dan, astagaaaa, what happens with halaman 280??? Aku ga bisa berhenti ketawa, fellaaaaas. Deskripsi macam apa ituuu, aku ga kuaaaaat. (ಥ_ʖಥ)
I mean, kalo Arlin emang dibikin belum punya pengalaman, yaa adegan dia sama Chandra bisa diperhalus dikit dong. Masa Chandra digambarin gemetaran gitu kayak orang kedinginan alih-alih grogi dipegang cewek? Wkwkwk. Bahkan aku yakin kalo dipoles lebih bagus dikit, Chandra bakal cocok jadi tokoh asexual (meski nggak usah ngarep kejauhan ke sana dulu ya, representasi tokoh minoritas itu bisa menimbulkan discourse memusingkan yang bisa berlanjut sampe tujuh turunan, lmao).
Dan yep, sampe akhir pelakunya ketemu pun, dia nggak dihukum atau apa lah. Tetep aja nyalahin Arlin dan nyalahin tokoh lain yang udah ngejebak dia, jadi satu-satunya elemen paling kuat dari novel ini cuma perjalanan Arlin sebagai korban pemerkosaan. Romensnya sama Chandra? Sori, masih 1/100 kali ya. :")
Jadi, tiga bintang menurutku cukup, wkwkwk.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Aku kenal pengarangnya di komunitas menulis kemudian.com dulu. Ketemu beberapa kali juga pernah. Makanya, walau genre yang kami tekuni berbeda, aku tetap ngerasa kalau dia kawan seperjuangan. Aku ngerasa punya kewajiban moral buat membaca buku ini! Selamat buat Dadun atas terbitnya novel pertamanya!
Cinta Akhir Pekan bercerita tentang Arlin, si tokoh utama, yang berusaha menerima dan menghadapi kenyataan yang telah terjadi pada dirinya. Ini terutama saat ia dihadapkan pada orang yang mau bertanggung jawab atas kehamilannya. Tapi lambat laun, terkuak hal-hal yang mengindikasikan apa sesungguhnya yang terjadi dalam akhir pekan yang membuatnya hamil itu, yang membuat Arlin bertanya-tanya kembali tentang pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya sendiri.
Sebagian besar misteri soal kehamilan Arlin sebenarnya sudah ketebak dari pertiga awal buku. Tapi Cinta Akhir Pekan tetap punya cerita yang menarik sih. Terutama dengan 'ujung cerita' yang sedikit lebih jauh dari dugaan...
Buatku, ceritanya masih terasa agak sinetroniyah. Setiap drama yang terjadi buatku kerasa kayak terjadi karena 'diarahkan' (sutradara). Pada sikap para karakternya, atau pada sejumlah dialog dan gaya bahasa mereka, rasanya masih suka ada yang kurang alami.
Kekurangan ini juga menimbulkan sedikit dampak yang enggak disangka di awal-awal sih. Pada beberapa adegan, aku sempat mengernyit karena kesannya malah jadi kayak black comedy. Jadi kayak ada adegan-adegan yang sebenarnya enggak lucu, dan memang enggak dimaksudkan untuk lucu, yang entah gimana tiba-tiba kerasa kayak lucu.
Beberapa contohnya meliputi: -Adegan saat Arlin dan sahabatnya, Dita, menginterogasi satu per satu 'tersangka.' Dalam hati aku mikir, "Hah? Gapapa kalo cuma gini doang?" Tapi lalu di beberapa halaman kemudian, ada karakter lain yang ngomong sesuatu kayak, "Ya iyalah! Kalo cuma gitu doang mana mungkin pelakunya ngaku!" Aku sekarang ngebatin, "Oh, jadi si Dadun sadar toh." -Saat Arlin menggambarkan perasaannya saat ada yang mengungkit soal insiden itu lagi, dia memakai ungkapan, "Bagaikan mayat hidup yang membongkar kuburannya sendiri..." Aku langsung kayak, "Ini serius Dun? Perasaan Arlin jadi kayak orang jadi zombie kayak gini?" -Saat terungkap bahwa kejadian serupa ini juga pernah terjadi di keluarga Arlin di masa lalu. -Lalu saat adegan ketika Arlen, adik lelaki Arlin, digambarkan tiba-tiba bersikap ramah pada si tersangka utama. Hal pertama yang Arlin pikirkan: "Apa Arlen sudah disogok sejumlah uang?" Uang Dun? Seriusan? Itu prasangka pertama yang kelintas di pikiran Arlin?
Tapi meski ada kelemahannya (yang mungkin juga jadi kerasa karena penceritaannya dari sudut pandang orang pertama), narasinya sendiri termasuk enak dibaca kok. Kualitasnya termasuk 'standar' untuk ukuran narasi Indonesia.
Meski entah kenapa dia enggak banyak melakukannya di buku ini, kekuatan narasi Dadun yang terbesar ada saat dia menggali pikiran para karakternya. Ada lumayan banyak kalimat yang bikin aku terpekur dan merenung beberapa kali. Lalu aku suka perumpamaannya tentang akhir pekan yang disampaikannya pada bab terakhir buku ini. Tapi, ya itu, porsi pendalaman ini enggak sebanyak yang aku harap.
Meski aku simpati dengan yang dia alami, Arlin terus terang bukan karakter yang gampang disukai. (Karakter yang paling simpatik justru adalah karakter utama cowoknya. Pokoknya, salah satu antara Bisma, Chandra, Edwin, dan Ferdi.)
Arlin itu kayak... didefinisikan semata-mata oleh tragedi yang dia alami. Lalu kita enggak dikenalkan pada seperti apa kepribadiannya sebelum tragedi, sehingga kita enggak bener-bener ngerasain sejauh apa perubahan yang dialaminya karena itu. Apa-apa yang bisa kita rajut soal masa lalunya juga enggak bikin dia lebih simpatik. Pada banyak titik, dia bisa terasa sangat egois (dan membuatku mikir beberapa kali andai saja ada twist di mana dia tiba-tiba diseruduk mobil). Intinya, kerasa kayak dia enggak layak ngedapatin apa yang dia dapatin, tapi dalam artian positif sekaligus negatif.
Karakter-karakter lainnya (sekali lagi, selain si tokoh cowok utama) juga enggak banyak dibeberkan seperti apa pribadi mereka. Jadi kayak, mereka cuma tampil gitu aja. Padahal aku berharap ada interaksi lebih banyak dengan Sofi (kakak ipar Arlin), Bu Maria (yang menjadi mertua barunya), si Bi Inah, Dita yang menjadi sahabatnya (emang awal mula mereka berteman dekat itu gimana?), dan lain-lainnya.
Aku juga heran dengan gimana sesudah insiden itu, hubungan antara empat cowok di atas yang jadi tersangka masih bisa terkesan cool-cool saja. Aku bayanginnya, sesudah hal kayak gitu, pasti persahabatan bakal agak retak dan ada semacam saling mencurigai 'kan? Dalam adegan-adegan saat mereka mengunjungi Arlin, semuanya tetap saling ramah-ramah saja. Arlin secara argumentatif memang polos. Tapi aku berharap karakter kayak Dita bisa lebih menyadari sesuatu, misalnya. Lalu sadarnya enggak cuma karena dapat SMS misterius dari nomor enggak dikenal...
Akhir kata, penilaianku lumayan fluktuatif antara 'it was ok' dengan 'liked it'. Tapi akhirnya aku kasih 2,8 bintang yang dibuletin ke atas jadi 3 bintang. Dan lagian, sesudah dibaca langsung, lumayan kelihatan kenapa cerita ini dulu lumayan populer di Wattpad.
Sekali lagi, selamat buat Dadun atas novel pertamanya ya. Kudoain kamu makin mateng buat proyek yang berikutnya.
Actual 3.5⭐ Udah lama save audiobooknya dan engga terlalu minat dengerin, karna tbh gue agak underestimaste setelah baca blurbnya. Tapi ternyata alur ceritanya lumayan seru!
Saya harus tulis ulang review yang tiba-tiba hilang saat tombol save sudah saya pencet, fiuh. Ini sangat menjengkelkan dan saya hampir ngambek dan tidak jadi menulis review, tetapi ya sudahlah, perasaan saya mengatakan untuk bersabar dan menulis ulang. Wkwkwk~
Oke, kenapa lima? Barangkali karena saya terseret oleh gelombang emosi yang ada pada kisah ini. Namun, walau lima saya tetap memberi catatan yang sedikit tidak memuaskan untuk saya.
Pertama, porsi interaksi Arlin-Chandra memang sudah pas, tetapi interaksi (yang saya harap lebih) seharusnya bisa menjadi bumbu pelengkap yang pas,wkwk. Saya penyuka cerita romantis yang berlebihan XD
Kedua, kisah Arlin dan interaksi antar tokoh di dalamnya membuat saya tidak begitu kaget ketika menjumpai anti klimaksnya akan seperti itu. Dari awal cerita sepertinya saya sudah bisa tahu siapa pelaku sebenarnya, namun saya masih penasaran juga bagaimana penulis mengolahnya jadi teka-teki.
Ketiga, saya masih tidak punya ide, kok bisa Arlin -gadis yang amat biasa- berteman dengan Dita yang nyaris sempurna itu, tidak ada penjelasan mengenai bagaimana mereka sampai bersahabat. Yah, saya hanya penasaran sih.
Namun keseluruhan saya harus mengacungi jempol penulis, Arlin sangat nyata saya bayangkan sebagai perempuan. Maksud saya, jarang sekali saya rasakan ketika membaca tokoh utama dengan sudut pandang perempuan dan ditulis oleh penulis laki-laki, tidak ada bayangan sama sekali tentang penulisnya. Bahkan membuat saya juga merasakan luapan emosi yang ada pada hidup Arlin, saya terenyuh saat dia berinteraksi dengan Mamanya. Dan, mengenai Chandra, wah, masih ada ya laki-laki baik seperti dia. Walau pasti akan sangat jarang sekali.
Pada akhirnya saya harus mengakui menikmati cerita dalam buku ini. Selamat atas lahirnya Cinta Akhir Pekan untuk Mas Dadan Erlangga. Semoga karya selanjutnya lebih baik :)
Well first of all what a good book, ringan, easy to read tp gak meninggalkan unsur "curious" in it. Sempat curiga aja dengan gampangnya dia mengakui telah memperkosa Arlin, tapi memang ada misteri didalamnya ternyata, wow. Suka bgt dgn cara Author mendeskribsikan Chandra dan kebiasannya yg pasti tanpa kesengajaan sama dengan aku susah tidur klo TV gak nyala dan of course di timer biar ttp hemat energy lah hehehe that's wow bgt Jadi mikir apa selama ini pasanganku terganggu dengan kebiasaanku ini, well nobody's complaining so i thought that's fine gak kayak Arlin yg gak suka. Intinya I love this book much and Collectible of course. Sukses buat authornya dan di tunggu karya selanjutnya.
Bingung sih kenapa judulnya Cinta Akhir Pekan. Walaupun akhirnya paham. Alur ceritanya oke. Tp ada beberapa bagian yg kadan TMI. Too Much Information. Seperti waktu Chandra ngobrol sama Dokter Silvia dimana tiba² eksistensi Arlin ngilang gitu aja tanpa penjelasan. Ya sebenernya itu buat ngejelasin kedekatan Chandra dan Bisma. Udah curiga dr awal siapa yg memerkosa Arlin. Walaupun cukup lihai disembunyikan dalam cerita. Tp udah kadung curiga. Eksekusi masalahnya oke, mungkin mau mengakirinya aja yg terlalu cepat. Berharap kalau Diandra bisa diselamatkan. Tp bakal nggak selesai² mgkin ya klo Diandra masih ada.
Ini novel kedua Dadan yg aku baca. Mungkin harusnya aku baca ini dulu kali ya baru Sweetly Broken. Muehehehe...
Sebenarnya buku ini sudah lama aku incar. Tapi karena selalu terlewat dengan buku-buku lain, jadi aku menbacanya lewat gramedia digital dulu.
Tidak sulit untuk tidak jatuh cinta dengan cerita ini. Tidak susah untuk memahami perasaan seorang Arlin. Dan tidak sulit untuk jatuh cinta dengan sosok Chandra.
Aku rasa, semua wanita pun akan melakukan hal yg sama jika menjadi Arlin. Masalahnya, sikap keras kepala Arlin ini cukup menjengkelkan. Bahkan aku sendiri pun sempat berucap, "sukur2 ada yg mau tanggung jawab ama lu!" 😂
Tapi setidaknya cukup bikin hati aku seperti diremas. Kebaikan Chandra, pengorbanannya yang benar2 nggak dilihat oleh Arlin.
Salut sama Kak Dadan. Dia laki-laki tapi bisa menulis dengan sudut pandang wanita lalu berhasil membuat pembacanya ikut merasakan luka yang di alami Arlin.
Well, setelah ini aku bakal nyari tulisan-tulisannya yang lain! Salut!!! 4 stars for this book.
Suka sama ceritanya. Ada 4 pelaku yang dicurigai Arlin, Bisma, Candra, Ferdy dan Edwin. Awalnya ngira pelakunya Ferdy, tapi ... ternyata oh ternyata, malah "dia". Kalau sebelumnya baca cowok yang dingin ke cewek, yang ini sebaliknya. Candra care banget sama Arlin. Pokoknya suka ❤️
Ternyata ini karya kak Dadan yang pertama. Cukup menarik, karena diambil dari sudut pandang seorang cewek. Dan kak Dadan juga perfect banget ngambil sisi perempuannya. Bener-bener kerasa banget, kayak ditulis dari penulis cewek
Aku selalu kagum ketika seorang pria menulis pov wanita. Bukan bermaksud menyinggung tentang gender tapi bukankah memang cukup sulit mendalami feel yang terasa asing apalagi ketika mengungkapkan hal-hal dan perasaan pribadi si woman main character dalam cerita, tentu untuk mencapainya dibutuhkan riset dan mas Dadan ini cukup berhasil. Untuk alur yang cepat dan terkesan di singkat aku sih nyaman-nyaman saja tapi ada beberapa moment yang aku merasa kurang dalam feelnya. Mungkin penulis bermaksud menyampaikan bahwa Arlin adalah sosok wanita kuat yang akhirnya mau memaafkan kemalangan yang terjadi terhadap dirinya berkat andil teman-temannya. Tapi ketika menjabarkan tentang Bisma bagaimana kronologisnya dia memperkosa Arlin, yang katanya dia "tidak berniat" melukai arlin namun disana jelas dia mengakui mengikat tangan arlin, menutup mata arlin saat "khilaf" itu. Buatku itu sudah diluar batas dari kata "khilaf" karena bisa-bisanya Bisma sempat kepikiran untuk melakukan itu. Dan bisa-bisanya juga diantara bisma, edwin juga yang lain melemparkan seluruh kesalahan kepada ferdy saja. Padahal semua dari mereka juga punya andil saat malam itu, aku merasa ketidak adilan tetap terjadi pada Arlin hingga akhir dan luar biasanya Arlin juga keluarganya bisa gitu memaafkan segalanya. Dua karakter yang aku suka adalah Chandra dan Dita, chandra tentu saja karena dia "lovely man" nya sementara Dita adalah sahabat terbaik yang dimiliki Arlin, dia tidak menghujat tidak menghakimi siapapun dan membantu hingga akhir hanya sayangnya tidak dijabarkan reaksi dita ketika dia mengetahui kenyataan tunangannya sendiri yang memperkosa sahabatnya, padahal itu salah satu moment yang dinanti. Dan akhirnya cerita berakhir happy ending, diketahui Arlin akhirnya bersama chandra setelah setahun berpisah padahal sebelumnya tidak gamblang diceritakan sejak kapan arlin mulai mencintai chandra, karena selama pernikahan arlin hanya bersikap ketus lalu perlahan melunak karena kasihan kah? simpati kah? sebab saat itu juga arlin masih dibayang-bayangi cinta terpendamnya pada bisma. Lalu dita bisma yang berpisah hingga bisma tugas keluar pulau, dan ferdy dapat hukuman akhirnya. Seperti dirancang keadilan bagi setiap karakternya hanya tetap saja sedikit janggal buatku, semuanya terkesan terburu-buru untuk selesai. Bagusnya adalah aku tidak perlu waktu lama untuk membaca novel ini, hanya beberapa jam saja. Mungkin karena narasi dan gaya bahasanya nyaman tidak membuat bosan.
Halo, Desember! Seneng banget rasanya bisa namatin novel yang terbilang baru aku beli dalam waktu singkat tanpa molor. Yap, Cinta Akhir Pekan oleh Dadan Erlangga berhasil aku libas dengan cepat. Novel ini bercerita tentang Arlin yang kecolongan pas acara menginap di villa milik salah satu temannya di daerah Lembang. Bersama Dita, Chanda, Bisma, Ferdy, dan Edwin, Arlin menghabiskan akhir pekan bersama. Tapi, nahas bagi Arlin harus berakhir dengan kepiluan. Dia diperkosa dan harus menerima vonis hamil. Untuk lanjutan ceritanya, baca aja sendiri ahahaha… Yang ingin aku soroti adalah kisah ini punya premis yang menarik. Pertama tahu penulisnya, yakni Dadan Erlangga lewat ceritanya yang bertebaran di Wattpad. Entahlah, aku lagi kecanduan Wattpad. Plotnya udah oke, tapi perlu dicermati bahwa Dadan mungkin lupa bahwa pembeda masa lampau yang diceritakan dengan masa sekarang harus ada. Seperti saat Arlin tiba-tiba mengingat saat-saat awal perkenalannya dengan Bisma. Kisahnya membaur begitu saja, hingga awalnya aku pikir ini termasuk dalam percakapan, tapi ternyata itu adalah kilas balik. Minimnya porsi Ferdy dan Edwin. Terlalu banyak di Arlin, Chandra, dan Bisma. Mungkin itulah kelemahan dari sudut pandang pertama oleh Arlin. Jadi, pembaca jadi minim clue dan tidak curiga berlebihan terhadap pelaku yang sebenarnya. Meskipun penulis sudah menyodorkan pelakunya dari pertemuan-pertemuan singkat itu, aku tetap saja salah tebak. Hahaha… Karakter Arlin hampir mirip dengan Lana dari Last Forefer, hanya bedanya Lana yang antikomitmen dan Arlin dengan kenaifannya, menurutku. Mungkin saat Lana menolak menikah karena dia yang tidak suka diajak berkomitmen, sedangkan Arlin tidak mau diajak menikah karena naifnya dia yang harus memenjarakan seumur hidup pelaku yang membuatnya hamil. Tapi, untuk ada beberapa karakter yang menyuarakan rasa protesku. Seperti Dita, Mama Lani, dan Bu Maria. Sebesar apa pun kebencian seorang wanita yang diperkosa dan berakhir hamil, dia memerlukan tanggung jawab dari lelaki pelaku sebagai bentuk perlindungan baginya terhadap dunia luar yang kejam. Aku cukup salut pada Chandra yang mengakui dan mau bertanggung jawab meski seperti itu. Good Job and keep writing dehh buat Dadan Erlangga. Sukses!
Boleh bikin pengakuan? Nangis baca ini! Nggak kuat sama baiknya Chandra :'''(
Cinta Akhir Pekan, tentang Arlin yang 'kecolongan' di suatu akhir pekan karena mabuk. Kemudian berakhir dengan mencari salah satu teman lelakinya yang harus bertanggung jawab akan kehamilannya, hingga datanglah Chandra yang mengaku bahwa ia adalah ayah si jabang bayi. Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada dipaksa menikah dengan orang yang tidak dicintai, apalagi orang tersebut adalah bajingan yang merenggut hidup dan masa depan Arlin. Sebagai pembaca saya bisa merasakan marah dan dendamnya Arlin pada Chandra, juga Chandra yang ternyata tulus mencintai Arlin.
Novel ini sukses bikin hati saya rasanya kayak di kruwes-kruwes. Pedih lihat kebaikannya Chandra yang dilepeh habis-habisan sama Arlin. Sampai nangis bagian Chandra rela dipukulin adiknya Arlin dan tidak melawan. Soalnya udah keburu kena spoiler duluan.
Kadang suka banget sama karya-karya penulis laki-laki. Mereka seolah mewakili cowok-cowok baik yang selama ini ketutupan sama cowok-cowok keren, bad boy, dan (sok) cool.
Pokoknya, Cinta Akhir Pekan ini paaas banget buat amunisi musim hujan. Bikin baper! :P
Ini bacaan yang menyenangkan meski awalnya menyuruh kita harus menebak-nebak siapa sebenarnya yang membuat Arlin kehilangan kehormatannya dan harus mengandung. Sebagai penggemar Agatha Cristie dan Mary Higgins, ini terlalu mudah. Dan mungkin memang sengaja dibikin mudah karena ini line Amore yang fokus pada cinta dan bukan cerita detektif atau thhriller yang membuat saraf kita nyaris korslet karena intens dengan ketegangan. Meski ada beberapa logika yang lepas, aku maklum sih karena saat baca romance, kita hanya perlu menikmatinya dan tidak ingin ribut soal masuk akal atau tidak (meski kadang ngedumel. eh? hehehe). Inti ceritanya adalah Cinta akan membuatmu bersedia melakukan hal paling tidak masuk akal sekalipun. Mengakui perbuatan jahat yang tidak kamu lakukan, misalnya. it's a sweet love story. Hanya saja, kurang scene romance-nya sih. Hahaha... maafkan ke-omes-anku, pemirsa. Ini kali pertama baca karya Dadan dan tidak keberatan beli buku dia yang berikutnya.
Susah untuk review tanpa menebar spoiler di mana-mana. Bahkan di blurb novel ini rasanya sudah ada sebiji spoiler juga. Tapi, ya bagus, aku aja beli buku ini karena terbius oleh blurb (seringnya karena dorongan diskon). Pembaca lemah!
Kayaknya ini novel lini Amore GPU yang pertama kubaca. Kalau nggak salah, syarat untuk masuk lini ini harus cerita yang happy ending, ya? Nah, pertanyaan ini aja terasa mengandung spoiler kan...
Aku suka cerita dan karakternya. Selalu salut dengan penulis cowok yang menulis dengan PoV 1 tokoh cewek, apalagi berhasil. Tapi jarang sebaliknya.
Novel debut yang menarik. Cara berceritanya mengalir. Baguslah. Penceritaan momen habis peristiwa perkosaan itu terasa begitu real, begitu pula dengan momen kehilangan itu. Tapi mengingat porsi cerita yang disuguhkan, rasanya judul Cinta Akhir Pekan bukan judul yang tepat. Apalagi dengan kover yang seperti itu. Indah, tapi kurang sesuai.
Banyak hal positif dan pesan2 yg ingin disampaikan penulis melalui kisah Arlin dan teman-temannya di buku ini. Seperti memandang sesuatu itu tidak serta merta di awali dengan yg negatif. Ooverall, aku suka sama alur ceritanya, sedikit diluar ekspektasi aku memang. Tetap enak diikuti.
Pertama-tama kuucapkan rasa kagum tak terhingga pada cover novel ini yang kece badai. Kakinya siapa tuh yang jadi model *gagal fokus* hehe... Saat pertama kali aku membaca sinopsis novel ini di GWP, aku langsung ingat novel karya Marga T tahun 80 an, "Karmila" . Kisah tentang seorang cewek yang diperkosa lalu terpaksa menikah dengan sipemerkosa yang tidak dia cintai, kesan pertamanya terasa hampir mirip. Tapi ternyata novel ini tidak kalah bagus dari "Karmila". Gara-gara rasa penasaran, aku mengintip beberapa halaman kebelakang dan jadi terbengong-bengong dengan cerita yang ternyata jauh berbeda dari apa yang kubayangkan. Aku hampir selalu bisa menebak ending dari cerita suatu novel bertema percintaan saat sedang setengah jalan, tapi Cinta Akhir Pekan ini benar-benar berbeda. Dan kenyataan bahwa pengarangnya adalah seorang laki-laki benar-benar membuatku terkejut haha... Karena Kak Dadan ini bisa tahu persis gimana perasaa seorang wanita yang ternodai. Aku biasanya nggak suka novel dengan pov sudut pandang orang pertama sebagai pelaku utama. Menurutku pov semacam ini kurang menggambarkan secara detail apa yang dihadapi oleh tokoh lainnya karena hanya bertitik beratkan pada satu tokoh. Tapi 'Cinta Akhir Pekan' berbeda, aku suka gaya bahasa dan cara penyampaiannya meskipun pakai pov orang pertama pelaku utama. Sekedar curcol, Aku pernah baca novel best seller luar negeri dengan pov seperti ini dan kecewa berat. Semua orang memuji novel itu bagus dan menyentuh karena percintaan antara manusia dan vampir yang memukau (kalian bisa tebak kan apa judulnya? aku nggak mau sebut merek karena terakhir aku mengutarakan pendapatku tentang novel ini aq harus dimarahi oleh temenku yang ngefans berat sama novel ini), tapi aku pribadi benar-benar tidak sependapat. Novel-novel karya Indonesia yang pernah aku baca menurutku jauh lebih bagus dari pada novel itu (seandainya saja mereka baca novel negara kita). Aku beberapa kali membaca novel luar negeri dengan genre amore yang membuatku merasa jengah. Sebagian besar isi dari novel luar negeri yang katanya bagus itu ternyata adalah 'kemesuman'. Sepertinya orang luar negeri itu berpikir bahwa 'Kemesuman' itu adalah salah satu bagian dari amore. Padahal menurutku, cinta itu tidak melulu tentang seks dan seks itu bukan wujud dari ekspresi cinta. 4 jempol kuacungkan untuk novel ini karena tidak ada unsur 'kemesuman' sama sekali. Novel ini layak dikonsumsi oleh semua kalangan. Dan terakhir aku benar-benar jatuh cinta kepada Chandra yang begitu baik dan begitu romantis. Karenanya 5 bintang kuberikan sebagai apresiasi atas karya Kak Dadan ini. Aku benar-benar tidak menyesal telah membeli buku ini.