What do you think?
Rate this book


132 pages, Paperback
First published October 1, 2015
Bagi Ana, jalan cerita semacam itu mirip dengan jalan hidup manusia. Bahagia dan derita berselang datang, tapi bagian akhirnya masih rahasia. Dan, doa tetap tak akan mampu memengaruhinya, apalagi mengubahnya. (hlm. 6)
Kematian 9 koi itu diartikannya pertanda kesialan dan dia mengira-ngira kesialan apa yang bakal menimpanya. Dia tahu pasti sehebat apapun seseorang, dia tetap akan kalah jika berhadapan dengan kesialan. (hlm. 14)
Jika pengaruh itu tak segera dihilangkan, maka usaha misionaris itu akan sia-sia. Dan apalah arti sebuah penaklukan tanpa dibarengi merambahnya iman? (hlm. 22)
Kapulaga paham bahwa kemampuan memasaknya sempurna dan dunia akan lebih baik jika tanpa kesempurnaan. Dalam ketidaksempurnaan, orang-orang akan terus berusaha dan tidak berhenti belajar. (hlm. 32-33)
Linda merasa sudah saatnya menemui pujaan hatinya itu. Dia akan menyatakan cintanya dan memohon agar Lukman bersedia menjadi kekasihnya. (hlm. 40)
Hal yang melintas perama kali di benak mereka adalah ucapan terakhir dari pertapa yang mengutuk mereka. Mereka seakan saling menemukan sosok yang tepat, yang membebaskan dari belenggu kutukan. Dengan tutur kata yang lembut puteri itu bertanya pada pangeran di depannya, "Terima kasih kau telah membangunkanku dari tidur panjang berarti kau harus menjadi suamiku. Siapa sejatinya dirimu dan bagaimana caramu tadi membangunkanku?" (hlm. 49)
Akhirnya aku dapat pergi ke Jepang untuk melunaskan pertanyaan sepele itu. Kuanggap semua ini adalah harga yang sepadan untuk menebus kesetiaan film itu menemani hari-hari Mingguku selama puluhan tahun. Kunamai perjalanan ini sebagai ziarah yang indah bagi fanatisme. (hlm. 54)
Aku jadi teringat kenangan masa kecilku yang meyakini bahwa Tuhan tinggal di langit. Kini aku akan membuktikan keyakinan itu. Semakin tinggi seseorang berada di udara, maka semakin dekat ia dengan Tuhan. Berada di pesawat yang mengudara akan membuat seseorang lebih religius. (hlm. 60)
Keesokan harinya segera kuuangkan kemenanganku. Dengan bersiul-siul kecil, aku menuju pegadaian. Langsung kutebus sertifikat rumah mertuaku. Lalu kulunasi semua biaya rumah sakitnya dengan uang kemenangan itu setelah dipotong bantuan dana kesehatan dan pengobatan dari pemerintah kota. (hlm. 66-67)
"Artis yang kalian nikmati karyanya tidak mendapat imbalan yang setimpal. Mereka tidak mendapat apa-apa dari jerih payahnya. Royalti yang dicuri oleh para pembajak dan kalian seakan mendukung tindakan mereka. Kalian ikut dosa bahkan dosa kalian bisa dihitung tiap lagu atau bahkan tiap detik dari lagu yang kalian dengarkan." (hlm. 71)
Sebenarnya dari segi nama, Luma itu unik. Nama panjangnya adalah Sri Lumayanwati. (hlm. 82)
Tidak sulit mencari orang-orang seperti ini. Mereka pastilah orang yang berposisi strategis yang memengaruhi hajat hidup orang banyak. Sebuah posisi yang sulit. Kesulitan bisa berasal dari tekanan berbagai pihak atau dibuat sendiri. (hlm. 88)
"Aku suka aromanya, dan ingin kamu memakainya, pasti nanti tubuhmu beraroma kesturi. Kalau kamu tidak suka besok boleh kamu bawa lagi ke sini, aku akan memakainya sendiri," jawabnya dengan nada ketulusan yang terluka. (hlm. 93)
Petugas birokrasi yang cukup cerdas ketika membaca KTP-ku akan mengajukan pertanyaan kritis semacam, "Kenapa tidak ditulis sebagai penulis saja?" Aku akan memberinya kuliah gratis sebagai jawaban. (hlm. 98)
Dalam perjalanan ke kantor, aku berpikir tentang ibadah haji, tentang doa-doa yang katanya mudah dikabulkan jika dipanjatkan di sana. Aku tersenyum sendiri. Jika benar demikian tentu tim sepak bola Arab Saudi sudah berkali-kali jadi juara Piala Dunia. (hlm. 108-109)
Setelah kepergianmu aku sering menangis diam-diam. Tangis yang berusaha kusembunyikan dari isteri dan anakku. Tangis seorang lelaki yang merindu dan kehilangan. Pada sisir itulah kucurahkan segala kesepianku. Kularung rinduku pada helai-helai rambutku. (hlm. 115)
Catur itu perkara serius. Jika kau tak percaya, akan kukisahkan padamu tentang Garry Kasparov. Kau tahu siapa dia? Baiklah, kulanjutkan. (hlm. 120)