Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sundari Keranjingan Puisi dan Cerita-cerita Lainnya

Rate this book
“Sastra yang inspiratif adalah sastra yang antara lain mampu mengubah cara pandang kita terhadap sesuatu. Itulah yang telah diupayakan oleh Gunawan Tri Atmodjo melalui sejumlah cerita yang dituturkannya dengan bersahaja. Beberapa karyanya mencoba mempertanyakan kembali penghayatan dan pemahaman kita tentang berbagai perkara yang kadang pelik, misalnya mengenai doa dan keberuntungan.” — Joko Pinurbo, penyair

Tokoh-tokoh rekaan Gunawan Tri Atmodjo dalam kumpulan cerita ini adalah mereka yang berkubang dalam kesialan hidup lalu menyiasatinya dengan cara yang tidak biasa. Penyiasatan unik mereka terhadap dunia yang bedebah ini sekilas akan terbaca sebagai kekonyolan, tapi sesungguhnya adalah sikap dan tindakan yang serius.

Sundari Keranjingan Puisi adalah kumpulan cerita pendek yang ditulis dengan serius meski sambil tersenyum—dan diharapkan pembaca bisa menikmatinya dengan cara yang sama pula.

“Jika hal lucu itu harus selalu diperoleh dari banyolan, pelecehan, atau satir terhadap sesuatu yang serius, maka unsur humor dalam cerpen-cerpen ini tidak termasuk dalam kategori itu. Cerita-cerita Gunawan Tri Atmodjo ini cerita biasa, santai, tapi serius dalam berkelakar.” — M. Faizi, penyair dan cerpenis

132 pages, Paperback

First published October 1, 2015

Loading...
Loading...

About the author

Gunawan Tri Atmodjo

11 books10 followers
Cerpen dan puisi jebolan Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta ini sudah dipublikasikan di berbagai media massa baik lokal maupun nasional.

Memenangkan beberapa kali lomba penulisan sastra diantaranya Pemenang II Pena Islami 2004, Pemenang II Bulan Bahasa FKIP UNS 2004 dan cerpen Terbaik Majalah Horison 2004 untuk cerpen berjudul Gerimis Bermata Batu.

Karya-karyanya juga tergabung dalam sejumlah antologi sastra seperti Kisah Cinta Plastik (2004), Dian Sastro for President: End of Trilogy (2004), Risalah yang Dikalahkan (2005), dan Soliloqui Sketsa Nurani (2005), Antologi Penyair Jawa Tengah (2005). Kumpulan puisinya bersama Agus Bakar berjudul Agitasi Menjelang Diam (Taman Budaya Jawa Tengah, 2005).

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
9 (14%)
4 stars
28 (44%)
3 stars
21 (33%)
2 stars
4 (6%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 19 of 19 reviews
Profile Image for Septian Hung.
Author 1 book9 followers
August 21, 2016
Setelah puas dengan buku Mas Gunawan yang berjudul "Tuhan Tidak Makan Ikan", saya pun tertarik untuk melanjutkan membaca tulisan-tulisan beliau yang akhirnya menambatkan mata dan hati saya kepada buku satu ini, "Sundari Keranjingan Puisi".

Dan seperti yang telah saya prediksi, saya memang suka, atau 'seritme', dengan tulisan-tulisan beliau. Tak cuma apik, beliau juga mampu menyisipkan satire-satire lembut dalam setiap cerita maupun karakter rekaannya. Hal ini sudah tersirat dari cerita pertama buku kumpulan cerpen ini, yang berjudul "Untuk Siapa Kau Berdoa, Ana?".

Saya, secara pribadi, menyukai bagaimana cara beliau mengutarakan kekecewaan seorang anak perempuan kepada Tuhan yang kemudian berimbas pada keengganannya untuk berhubungan lagi dengan Tuhan, yaitu dengan cara berdoa. Dan di akhir cerita pun, Mas Gunawan dengan lihai menyelipkan suatu epilog yang membuat saya tersenyum-senyum sendiri menangkap apa yang sebetulnya hendak beliau sampaikan.

Buat saya, cerita-cerita pendek Mas Gunawan tidak kalah menarik dengan cerita-cerita pendek Mas Eka Kurniawan yang sempat saya baca dalam bukunya yang berjudul "Corat-coret di Toilet" dan "Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi".

Jadi, sebagai simpulan akhir, empat bintang lagi-lagi tidaklah berlebihan bagi buku semenarik ini. Hebat!
Profile Image for raafi.
965 reviews467 followers
February 22, 2018
Setelah mendaki gunung, melewati lembah, dan menyeberangi sungai, buku ini akhirnya selesai juga. Bentuk cerpen yang seperti ini yang tidak bisa membuatku lekas membacanya. Aku bertanya-tanya mengapa.

Keinginan membaca buku ini hadir setelah membaca "Tuhan Tidak Makan Ikan" yang kusukai. Jadi, ketika menemukan buku ini di sebuah toko buku di Depok (iya, sejauh itu), aku tidak ragu untuk membawanya ke kasir.

Cerpen pertama, "Untuk Siapa Kau Berdoa, Ana?" bisa dibilang masih memiliki ciri khas Gunawan. Semakin ke belakang, dengan kekaguman yang sempat terjaga, aku tidak mendapati apa yang kucari. Cerpen-cerpennya semakin kentang dan biasa saja. Strike dalam pemungkas cerita yang "Gunawan" itu tidak ada. Aku bahkan mengantuk pada beberapa cerita.

Anggapanku, mungkin cerpen-cerpen pada buku ini berada pada bagian perdana karier kepenulisan cerpennya. Setelah menemukan gayanya sendiri, Gunawan menulis cerpen lagi yang dikumpulkannya dalam "Tuhan Tidak Makan Ikan". Entahlah, aku hanya bersikap positif.

Setidaknya, aku mencatat kutipan-kutipan yang mari-sebut-ciri-khas-Gunawan-tapi-tidak-terlalu-Gunawan dari setiap cerpennya. Aku urutkan berdasarkan halaman.

"Untuk siapa Kau Berdoa, Ana?"
Bagi Ana, jalan cerita semacam itu mirip dengan jalan hidup manusia. Bahagia dan derita berselang datang, tapi bagian akhirnya masih rahasia. Dan, doa tetap tak akan mampu memengaruhinya, apalagi mengubahnya. (hlm. 6)

"9 Koi"
Kematian 9 koi itu diartikannya pertanda kesialan dan dia mengira-ngira kesialan apa yang bakal menimpanya. Dia tahu pasti sehebat apapun seseorang, dia tetap akan kalah jika berhadapan dengan kesialan. (hlm. 14)

"Perihal Orang Suci Berwajah Muram yang Tinggal di Hutan"
Jika pengaruh itu tak segera dihilangkan, maka usaha misionaris itu akan sia-sia. Dan apalah arti sebuah penaklukan tanpa dibarengi merambahnya iman? (hlm. 22)

"Kapulaga dan Para Pengudap Duka"
Kapulaga paham bahwa kemampuan memasaknya sempurna dan dunia akan lebih baik jika tanpa kesempurnaan. Dalam ketidaksempurnaan, orang-orang akan terus berusaha dan tidak berhenti belajar. (hlm. 32-33)

"Linda dan Lukman"
Linda merasa sudah saatnya menemui pujaan hatinya itu. Dia akan menyatakan cintanya dan memohon agar Lukman bersedia menjadi kekasihnya. (hlm. 40)

"Puteri yang Menikahi Kecoak"
Hal yang melintas perama kali di benak mereka adalah ucapan terakhir dari pertapa yang mengutuk mereka. Mereka seakan saling menemukan sosok yang tepat, yang membebaskan dari belenggu kutukan. Dengan tutur kata yang lembut puteri itu bertanya pada pangeran di depannya, "Terima kasih kau telah membangunkanku dari tidur panjang berarti kau harus menjadi suamiku. Siapa sejatinya dirimu dan bagaimana caramu tadi membangunkanku?" (hlm. 49)

"Doraemon dan Korban Pemilu"
Akhirnya aku dapat pergi ke Jepang untuk melunaskan pertanyaan sepele itu. Kuanggap semua ini adalah harga yang sepadan untuk menebus kesetiaan film itu menemani hari-hari Mingguku selama puluhan tahun. Kunamai perjalanan ini sebagai ziarah yang indah bagi fanatisme. (hlm. 54)

"Penghitung Keberuntungan"
Aku jadi teringat kenangan masa kecilku yang meyakini bahwa Tuhan tinggal di langit. Kini aku akan membuktikan keyakinan itu. Semakin tinggi seseorang berada di udara, maka semakin dekat ia dengan Tuhan. Berada di pesawat yang mengudara akan membuat seseorang lebih religius. (hlm. 60)

"Menantu Teladan"
Keesokan harinya segera kuuangkan kemenanganku. Dengan bersiul-siul kecil, aku menuju pegadaian. Langsung kutebus sertifikat rumah mertuaku. Lalu kulunasi semua biaya rumah sakitnya dengan uang kemenangan itu setelah dipotong bantuan dana kesehatan dan pengobatan dari pemerintah kota. (hlm. 66-67)

"Haji Inul dan Ayat Bajakan"
"Artis yang kalian nikmati karyanya tidak mendapat imbalan yang setimpal. Mereka tidak mendapat apa-apa dari jerih payahnya. Royalti yang dicuri oleh para pembajak dan kalian seakan mendukung tindakan mereka. Kalian ikut dosa bahkan dosa kalian bisa dihitung tiap lagu atau bahkan tiap detik dari lagu yang kalian dengarkan." (hlm. 71)

"Sundari Keranjingan Puisi"
Sebenarnya dari segi nama, Luma itu unik. Nama panjangnya adalah Sri Lumayanwati. (hlm. 82)

"Penjual Kantuk"
Tidak sulit mencari orang-orang seperti ini. Mereka pastilah orang yang berposisi strategis yang memengaruhi hajat hidup orang banyak. Sebuah posisi yang sulit. Kesulitan bisa berasal dari tekanan berbagai pihak atau dibuat sendiri. (hlm. 88)

"Kurma Asmara"
"Aku suka aromanya, dan ingin kamu memakainya, pasti nanti tubuhmu beraroma kesturi. Kalau kamu tidak suka besok boleh kamu bawa lagi ke sini, aku akan memakainya sendiri," jawabnya dengan nada ketulusan yang terluka. (hlm. 93)

"Ranggawarsita Si Penyair Partikelir"
Petugas birokrasi yang cukup cerdas ketika membaca KTP-ku akan mengajukan pertanyaan kritis semacam, "Kenapa tidak ditulis sebagai penulis saja?" Aku akan memberinya kuliah gratis sebagai jawaban. (hlm. 98)

"Antara Angin dan Perpisahan"
Dalam perjalanan ke kantor, aku berpikir tentang ibadah haji, tentang doa-doa yang katanya mudah dikabulkan jika dipanjatkan di sana. Aku tersenyum sendiri. Jika benar demikian tentu tim sepak bola Arab Saudi sudah berkali-kali jadi juara Piala Dunia. (hlm. 108-109)

"Sisir"
Setelah kepergianmu aku sering menangis diam-diam. Tangis yang berusaha kusembunyikan dari isteri dan anakku. Tangis seorang lelaki yang merindu dan kehilangan. Pada sisir itulah kucurahkan segala kesepianku. Kularung rinduku pada helai-helai rambutku. (hlm. 115)

"Catur dan Beberapa Hal yang Sebaiknya Kau Mengerti"
Catur itu perkara serius. Jika kau tak percaya, akan kukisahkan padamu tentang Garry Kasparov. Kau tahu siapa dia? Baiklah, kulanjutkan. (hlm. 120)


Setelah menuliskan kutipan-kutipan di atas, aku menimbang lagi. Gunawan memang unik.
Profile Image for Irma Setiani.
84 reviews12 followers
June 9, 2025
Buku perkenalanku dengan karya Gunawan Tri Atmodjo. Cerpen dalam kumcer ini hampir semuanya menyiratkan kesialan hidup yang dialami tokohnya. Masing-masing cerpen punya keunikan, dan favoritku cerpen berjudul Kapulaga dan Para Pengudap Luka. Lewat satir yang tersirat ditambah alur cerita unik, pembaca seperti disentil untuk melihat ulang makna kata 'sial', serta melihat lebih dalam bagaimana posisi sesuatu yang dicap 'sial' itu dalam tatanan kehidupan yang sangat kompleks ini.
2 reviews
February 6, 2016
Sesudah Kesialan akan Datang Keberuntungan

Sebuah cerita yang baik haruslah memenuhi komposisi yang tepat, baik secara intrinsik maupun sepaket unsur lain yang membuat cerita tersebut mempunyai dunia rekaannya sendiri. Gunawan Tri Atmodjo menghadirkan cerita-cerita tersebut dalam kumpulan cerpen berjudul Sundari Keranjingan Puisi dan Cerita-cerita Lainnya ini. Cerita-cerita dalam buku ini lebih mengedepankan kekuatan alur, narasi apik, dan ending cerita yang menarik.
Memang ada hal lain yang mendukung penjelasan itu. Namun tak bisa dipungkiri bahwa aspek kesederhanaan juga mempunyai peran penting dalam perwujudan sebuah cerita. Kesederhanan yang dimaksud di sini adalah soal tema yang dipilih dan bahasa yang digunakan dalam pembentukan cerita tersebut.
Untuk soal pertama, dapat disimak pada cerita Linda dan Lukman. Sebuah hal sederhana namun berkonsekuensi besar, yakni janji. Bermula dari sebuah SMS nyasar menjelang ulang tahun tokoh Linda: “Tapi Linda telah berjanji pada dirinya sendiri dan pantang baginya untuk mengingkari. Maka dia pun menghubungi momor pengirim sms itu meski dia tahu bahwa itu adalah pesan penipuan. Barangkali ini adalah tindakan bodoh, tapi akan lebih celaka lagi jika ia tak menepati janji sederhana itu.” Kita dapat memahami kesederhanaan bahasanya, namun berkekuatan pada alur dan amanat ceritanya.
Sebagian besar cerita dalam buku ini belum pernah dipublikasikan di media cetak. Gunawan tentu memiliki alasan sendiri mengapa demikian. Hal ini tentu bukan tanpa pretensi apapun. Sebagaimana trubadur, cerita-cerita dalam buku ini juga semata-mata sebagai hiburan, penghapus duka-lara, pembikin pembaca tersenyum bahkan tertawa sendiri; yang disampaikan dengan cinta. Ada pelajaran tersembunyi dalam tiap kelakar cerita yang memantik ruang-pikir pembaca sehingga menyulutkan inspirasi. Tidak sampai di situ, Gunawan juga menyelipkan hal-hal sederhana yang biasa dijumpai dalam keseharian bahkan tak pernah diduga. Simak cerpen berjudul Doraemon dan Korban Pemilu, Haji Inul dan Ayat Bajakan, atau Catur dan Beberapa Hal yang Sebaiknya Kau Ketahui.
Sebagian besar dari kita tentu mengenal Doraemon. Tokoh rekaan Fujiko F Fujio asal Jepang ini dikenal hampir semua anak di Indonesia. Dalam cerpen Doraemon dan Korban Pemilu, tokoh “aku” begitu sedih ketika film kartun ini akan segera tamat sedangkan ia belum tahu bagaimana sosok ayah Giant dan Shizuka. Sangat sepele! Akan tetapi, akibat fanatisme berlebihan, menjadi sangat tidak sepele ketika tokoh aku dengan susah-payah bekerja keras dan menggadaikan sertifikat rumah keluarganya untuk biaya ke Jepang, negara dimana anime itu diciptakan. Dan ia berhasil menemukan jawabannya (yang tentu saja dirahasiakan). Berbeda dengan fanatisme para calon anggota dewan yang gagal menjadi anggota dewan dan menjadi gila usai pemilu.
Cerita-cerita yang menarik dan menyentuh lubuk dasar benak pembaca adalah cerita-cerita yang barangkali saat ini diperlukan. Setali dengan endorsement Joko Pinurbo bahwa sastra yang inspiratif adalah sastra yang antara lain mampu mengubah cara pandang terhadap sesuatu, misalnya hal pelik yang disampaikan dengan cara bersahaja. Atau catatan M Faizi, bahwa cerita-cerita ini adalah cerita-cerita yang biasa dan santai, namun serius dalam berkelakar. Dan, seperti itulah adanya cerita-cerita yang termaktub dalam buku terbaru Gunawan ini.
Sebagian besar cerita dalam buku ini merupakan cerita-cerita yang biasa, cerita-cerita yang kita temui sehari-hari, dan tentu saja santai. Tak ada gaya bahasa neko-neko atau kata-kata yang njlimet. Semua tampak bersahaja dan apa adanya. Namun, di balik semua itu, ada daya inspiratif yang menyentuh lubuk dasar benak pembaca dan membuat kita, tanpa sadar, menganggukkan kepala, atau sekadar mengiyakan dalam hati. Sederhana dan kocak.
Nilai-nilai luhur berupa ikhtiar dan doa dalam menjalani laku hidup di dunia juga coba ditanamkan Gunawan dalam beberapa ceritanya. Meski tindakan yang dilakukan tokoh-tokohnya dianggap konyol dan tabu, namun bilamana demi kebaikan dan kebahagiaan orang lain, maka hal itu dianggap sah-sah saja. Tidak menjadi soal.
Coba simak cerpen berjudul Menantu Teladan. Diceritakan bahwa seorang menantu yang dulunya seorang petaruh dan setelah menikah meninggalkan pekerjaannya itu dan menjadi makelar motor. Konflik dimulai ketika si menantu harus membayar biaya perawatan rumah sakit yang dijalani mertuanya. Lantaran semua barang berharga di rumah sudah disekolahkan alias digadaikan, maka satu-satunya yang tersisa adalah sertifikat rumah. Berawal dari rayuan teman-temannya di warung kopi, jiwa si menantu yang dulunya pejudi muncul. Uang hasil menggadaikan sertifikat itu dipakainya untuk taruhan bola. Dengan harapan tentu saja bisa menang dan dapat mengembalikan pinjaman itu tanpa bekerja muluk-muluk. Dan tampaknya Gunawan ingin menegaskan bahwa bila ada niat baik, sekecil zarah pun, maka apapun tindakannya dianggap baik pula. Si menantu pun menang dan dapat mengambil sertifikat itu keesokan harinya seusai ia melunasi semua biaya mertuanya. Masalah yang pelik pun tuntas berkat doa dan keberuntungan. Setidaknya nama baikku masih terjaga, baik sebagai seorang suami yang mengayomi maupun sebagai menantu yang patut dibanggakan. (hal. 67). Begitulah premis yang ingin Gunawan tegaskan.
Pun dengan cerita lain, yang menawarkan pemecahan masalah dengan doa dan keberuntungan. Simak saja cerita 9 Koi, Penghitung Keberuntungan, atau Penjual Kantuk. Ada kekuatan doa dari tokoh utamanya dan keberuntungan yang akhirnya mengikuti. Dua hal yang sederhana namun sering luput dari kehidupan yang kian hedon. Dua hal yang senantiasa diperlukan di tengah kehidupan yang kian tak masuk akal. Bagaimanapun, sesudah kesulitan pasti ada kemudahan. Sesudah kesialan akan datang keberuntungan.
Gunawan tampak memperlakukan ceritanya pada pandangan Horatius: dulce et utile. Ada unsur hiburan sekaligus faedah dalam ke-16 cerpen ini. Tentu hal tersebut tak perlu dinafikan, sebab, bagaimanapun, sebuah karya sastra (cerpen dalam hal ini) harus mampu menjadi hiburan sekaligus bermanfaat bagi pembacanya. Sekecil apapun itu. Bukan berarti lantas dengan begitu sebuah cerita menggurui pembaca dan abai akan sikap kritis pembaca. Sebagaimana dalam cerpen Untuk Siapa Kau Berdoa, Ana?. Ada pesan relijius di sana, bahwa sepayah apapun kita menjalani hidup, berdoa adalah keniscayaan sebagai makhluk bertuhan, meski doa yang rutin dimunajatkan tak pernah langsung kita rasakan mustajabnya.
Simak pula dalam cerpen 9 Koi: “Dengan kata lain, selain adu kualitas tulisan juga adu kuat doa antarpengirim tulisan. Perkara doa ini dia hanya mampu melafalkannya setulus-tulusnya dan menyerahkan pengabulannya kepada kuasa Tuhan Yang Maha Esa.” (hal. 11).
Meskipun dalam hidup sudah barang tentu terdapat kesialan-kesialan yang tidak diinginkan dan tak pernah diduga muasalnya. Setidaknya, sebagai pembaca, kita diajak untuk senantiasa percaya bahwa ada keberuntungan tersembunyi di balik itu. Bukankah setelah kesukaran akan datang kemudahan: setelah kesialan akan datang keberuntungan? Konsep berpikir positif inilah yang coba ditanamkan Gunawan dalam buku ini.
Kesederhanaan tema bukan berarti menyederhanakan bentuk cerita. Dengan kesederhanaan ada hal-hal mesti tersampaikan dan membuka gaya gedor pikiran dan nurani pembaca, sehingga cakrawala pengetahuan semakin luas. Juga kebaikan. Dan sampai di sini, Gunawan telah berhasil dengan hal itu. (*)
Profile Image for Kezia Nadira.
67 reviews6 followers
March 24, 2024
Saya sebenarnya sudah kapok membaca buku yang isinya adalah kumpulan cerpen. Kebanyakan saya dibiarkan menggantung dengan endingnya karena gagal menginterpretasi maksud ceritanya. Intinya baca kumpulan cerpen itu seru, awalnya. Tapi seringnya dibuat bingung sama maksud ceritanya. Udah sering banget baca buku kumcer yang diacungi jempol sama orang-orang tapi sama sekali nggak “kena” di saya.

Waktu pas lagi giving-up sama kumcer, udah terlanjur beli buku karya Gunawan Tri Atmodjo ini. Karena bukunya juga tipis, akhirnya memutuskan untuk baca aja.

Eh ternyata saya suka, dong! Buku ini kayak “penyembuh” untuk kekecewaan saya terhadap buku kumcer sebelum-sebelumnya yang udah saya baca. Seperti pengharapan bahwa nggak semua buku kumcer itu nggak cocok di saya.

Testimoni M. Faizi di blurb bagian belakang buku itu bener banget sih: “Jika hal lucu itu harus selalu diperoleh dari banyolan, pelecehan, atau satir terhadap sesuatu yang serius, maka unsur humor dalam cerpen-cerpen ini tidak termasuk dalam kategori itu…(mereka) cerita biasa tapi serius dalam berkelakar.”

Serius, deh. Setiap kumcer di sini itu lucu dengan cara yang elegan, seperti berkelakar tentang kehidupan yang pahit dan terkadang kejam, membuat guyon dan lelucon dari hal-hal yang getir. Begitu, tapi tanpa menjadi konyol dan berlebih dalam membanyol. Tentunya, ada juga kisah-kisah getir yang menyayat hati yang sarat dengan makna.

Habis baca 1 kisah kita akan dibuat bertanya-tanya kisah apa lagi nih yang akan kita baca, apalagi judulnya terasa unik dan menggugah rasa penasaran. Habis baca 1 kisah kita (pada beberapa kisah, ya) akan nyengir sambil geleng-geleng kepala, bertanya-tanya kok bisa sih penulisnya kepikiran dengan kisah ini? Saya dibuat seperti itu saat membaca kisah-kisah di bawah ini, oleh karena itu dari sekian kisah di buku ini, kisah-kisah di bawah ini adalah favorit saya: (kebanyakan hampir semua, sih 🙂‍↔️)

-> “Untuk Siapa Kau Berdoa, Ana?”
Tentang Ana yang tidak percaya lagi dengan doa kepada Tuhan karena doa-doanya yang ia panjatkan untuk melindungi ayahnya tidak terkabulkan, ayahnya mati saat perang.

Cerita ini menjadi favorit saya karena memang jujur saja kita pasti sering kecewa karena doa kita tidak terkabulkan. Tetapi itu bukan karena Tuhan mengabaikan kita. Bisa saja Tuhan tahu itu bukan yang terbaik, atau sesuatu memang jalannya harus begitu - tidak harus sesuai dengan keinginan kita.

-> “9 Koi”
Tentang seorang penulis yang sangat percaya dengan fengshui dan bagaimana hal itu bisa mempengaruhi keberuntungannya. Si penulis terlalu menggantungkan nasib dan memasrahkan hidupnya kepada hal-hal klenik seperti perhitungan dan takaran keberuntungan, serta primbon dan sebagainya.

Saya suka cerita ini karena 2 cerita yang saya sebutkan di atas membuat saya menjadi sedikit merenung tentang peran doa dan keberuntungan dalam hidup kita serta rasio kekuatan mereka dalam menentukan atau memengaruhi hidup kita. Kadang kita terlalu mematok sesuatu sebagai kesialan atau keberuntungan padahal kita tidak benar-benar tahu sesuatu di baliknya. Kadang kita terlalu percaya dengan melakukan sesuatu akan terhindar dari sial. Tapi benarkah begitu? Kedua cerita di atas seperti mengajak kita merenungkan kembali kekuatan “doa” dan “keberuntungan” dengan balutan cerita yang menyunggingkan cengiran di wajah.


-> “Perihal Orang Suci Berwajah Muram yang Tinggal di Hutan”
Tentang Ki Ageng Purwa atau Jati Jatmika, orang suci yang mendapatkan wahyu, yang harus berhadapan dengan penjajah yang datang dan ingin merebut tanah kelahirannya.

Saya suka cerita ini karena menggambarkan “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”, terbukti dari bagian akhir cerita: “Sang misionarislah yang terparah di antara mereka. Tubuhnya bergetar demikian hebat, roboh, kejang-kejang lalu pingsan. Kejadian ajaib semacam ini bahkan tak tertulis dalam kitab sucinya.”

Cerita ini ada unsur sejarahnya juga. Bisa jadi saat pertama-tama penjajah datang, kejadian di kisah ini benar-benar terjadi, mengajarkan kepada kita bahwa jangan sembarangan di tempat yang belum pernah kita sambangi sebelumnya. Menjadi ahli kitab suci bukan berarti kau orang yang baik, terbukti dari kekejaman si misionaris penjajah di kisah ini.

-> “Kapulaga dan Pengudap Duka”
Tentang lelaki juru masak bernama Kapulaga. Masakannya itu aneh-aneh dan tidak lazim, seperti masakan dari ulat bulu, tikus, dan lainnya. Masakannya lezat luar biasa, dan semua orang sangat ingin mencicipinya, tapi Kapulaga hanya masak di saat ada seseorang yang meninggal - di perkabungan kematian. Oleh karena itu, ada pihak dari luar yang datang dan agar bisa terus mencicipi masakan Kapulaga, mereka mulai membunuh orang-orang secara acak agar akan terus ada perkabungan kematian di mana Kapulaga akan memasak.

Cerita ini menjadi top favorit saya, karena sangat unik! Dan bikin saya terkagum-kagum bagaimana bisa kepikiran bikin cerita seperti ini. Kisah ini seperti bentuk sindiran bahwa banyak orang yang menghalalkan segala sesuatu, bahkan merenggut nyawa seseorang, hanya demi keinginannya dan memuaskan nafsunya.

-> “Puteri yang Menikahi Kecoak”
Tentang puteri dan pangeran yang sombong suka menyakiti hati dan kurang ajar yang dikutuk. Si puteri dikutuk untuk tertidur, si pangeran dikutuk menjadi kecoak. Mereka berdua harus menemukan pasangan yang dapat menyelamatkan mereka dari kutukan tersebut.

Saya suka cerita ini karena nggak kalah uniknya. Seperti baca kisah rakyat jaman dahulu. Tapi tentunya yang ini lebih lucu dan di luar nalar!

-> “Doraemon dan Korban Pemilu”
Tentang seseorang yang mencari jawaban di mana ayah Shizuka, Giant, dan Suneo.

Saya baca ini pas pemilu, dan ngakak pas baca “Setelah pemilihan calon presiden, rumah sakit jiwa dipenuhi pasien baru.” Semoga saja hal ini tidak terjadi, ya! (Hehe). Cerita ini menunjukkan akibat kefanatikan yang dapat menjadi malapetaka bagi hidup kita. Si penutur kisah yang menjadi perawat di RSJ merupakan fanatik doraemon yang akhirnya bisa kembali waras dan sembuh dari kegilaannya itu. Sedangkan ia merawat orang-orang yang “fanatik” kekuasaan hingga berakhir gila di RSJ (maaf kalau menyinggung).

“Terkadang jawaban atas sebuah pertanyaan berharga sangat mahal. Kalian harus menghargai itu.” (hlm. 56)

-> “Menantu Teladan”
Tentang si menantu ketagihan berjudi yang harus cari uang untuk biaya rumah sakit mertuanya dengan cara menggadaikan uang sertifikat rumah untuk berjudi demi mendapatkan uang yang lebih banyak.

Sumpah, cerita ini kayaknya yang paling kocak sih. Kocak dan agak bego ya si karakter utama di kisah ini. Kok bisa-bisanya bernyali besar banget!!

-> “Haji Inul dan Ayat Bajakan”
Tentang kampung yang gila musik, kemudian dilarang bermusik oleh si Haji Inul karena musik yang mereka dengarkan itu bajakan.

Saya suka cerita ini karena beberapa paragraf di bagian akhir cerita ini, saat si “Aku” bingung harus mengikuti anjuran Haji Inul untuk menghindari dosa menikmati karya bajakan, tapi dia rindu mendengarkan lagu-lagu favoritnya, dan ia tidak bisa tahan lebih lama lagi dan sangat menyiksanya untuk memikirkan mana pilihan yang harus ia ambil antara menahan keinginan dari perbuatan dosa atau berdosa saja sekalian yang penting ia terpuaskan.

“Hidup yang selalu terayun gamang, ditimang bisik keinginan dan ancaman dosa.” (hlm. 76)

Bukankah kita manusia begitu? Tahu mana yang membuat dosa, tapi tetap dilakukan?

-> “Sundari Keranjingan Puisi”
Saya suka cerita ini walau tidak se-sarat makna seperti kisah yang lain, tapi indah saja untuk dibaca. Bahwa cinta akan menemukan jalannya kembali - dengan cara yang tidak pernah kita pikirkan.

“Di jalan puisi, hati yang tergembok itu telah menemukan anak kuncinya lagi.” (hlm. 84)

-> “Ranggawarsita Si Penyair Partikelir”
Menceritan keturunan Raden Ngabehi Ranggawarsita (pujangga besar budaya Jawa jaman Keraton Kasunanan Surakarta, hidup 1802-1873 yang diangkat oleh Pakubuwono VII tahun 14 September 1845). Ceritanya keturunannya ini kesal karena profesinya sebagai penyair partikelir sering dianggap remeh. Dia juga kesal betapa jaman sekarang orang-orang tidak ada lagi yang peduli dengan keindahan puisi dan tidak tertarik dengan dunia kesusastraan, dan berpikir apa jadinya jika leluhurnya yang pujangga besar itu masih hidup dan melihat kesadaran akan sastra yang sangat memprihatinkan tersebut.

-> “Antara Angin dan Perpisahan”
Mungkin nggak ya kisah ini tentang lelaki yang mencintai lelaki lain saat ia sudah beristri? Entahlah. Selain kisahnya (tidak lagi memiliki cinta sebesar dulu terhadap pasangan) yang sangat relate dengan dunia nyata, saya suka gaya berceritanya…juga endingnya yang sangat mencengangkan!

-> “Catur dan Beberapa Hal yang Sebaiknya Kau Mengerti”
Tentang seseorang yang sangat menyukai catur, dan bagaimana cerdas dalam bermain catur membuatnya mendapatkan hal-hal di hidupnya, bahkan menyelamatkannya!

Kisah ini ditulis sebagai bentuk cover letter untuk melamar pekerjaan. Dengan gaya bercerita yang unik, tidak seperti cover letter pada umumnya! Tentunya endingnya juga sangat kocyaaag.

Kan! Dari 15 kisah, berapa di atas yang menjadi favorit saya? Ada 12!

Sulit, sih, untuk tidak menyukai buku kumcer ini. Dan penilaian saya tersebut bersifat subjektif, ya, karena memang pada dasarnya saya memang menyukai buku ini. Selain kisahnya yang kebanyakan di luar nalar, kisah yang seperti memberikan sindiran-sindiran terhadap peliknya kehidupan dengan balutan humor dan sarkasme, juga pemilihan diksi dan gaya bercerita yang indah. Saya paling senang kalau baca buku yang isi diksinya baru saya ketahui, seperti menambah kosakata saya.

Buku ini akan menjadi buku pertama yang akan saya rekomendasikan kalau ditanya buku kumcer mana yang bagus untuk dibaca. Kisah-kisahnya segar, tidak menjemukan, tidak “gelap” yang bikin menghela napas saking beratnya, ringan dan tidak memusingkan, dan membacanya seperti sedang membaca buku harian seseorang yang meliput kisah banyak orang lain di dalamnya.
Profile Image for Steven S.
743 reviews67 followers
March 2, 2016
Kumcer yang mengasyikkan.

Kumpulan cerita yang dibuat penyair asal Solo Gunawan Tri Atmodjo begitu bersahaja. Tidak lama setelah "Sundari Keranjingan Puisi" (SKP) diterbitkan dan dipromosikan oleh penerbitnya Marjin Kiri saya membelinya sepaket dengan buku bagus lainnya "Di Bawah Tiga Bendera".

Dalam sekali duduk saya merasa tidak dapat berhenti melahap cerita-cerita lucu yang disajikan penulis. Saya bertanya-tanya dalam hati kenapa mbak Sundari bisa keranjingan puisi?

Selengkapnya bisa dibaca di sini
http://www.h23bc.com/2015/11/meneropo...
Profile Image for Bimana Novantara.
295 reviews30 followers
July 31, 2016
Gunawan Tri Atmodjo menurut saya salah satu penulis yang menjanjikan. Cerpen-cerpennya banyak menyampaikan gugatan terhadap banyak hal. Tokoh-tokohnya seperti menabrak hal-hal yang ada di sekelilingnya dan tabrakan itu berujung pada kebimbangan yang disertai kekeraskepalaan mereka untuk menyudahi kebimbangan tersebut, lalu mengambil sikap. Gunawan terasa sangat serius dalam bermain-main dengan cerita dan tema, dan itu buat saya mengasyikkan.
Profile Image for Diana.
60 reviews13 followers
December 5, 2015
Saya suka ide-ide usil si penulis untuk menceritakan sesuatu yang tidak lazim diceritakan. Cerita-cerita yang ada di dalam buku ini terasa segar, tak biasa, dan sering membuat senyum-senyum sendiri saat baca. Namun, bagian akhirnya ada beberapa cerita bertema perselingkuhan yang terasa biasa dan terasa seperti curhat. Semoga saya salah tentang itu. Hehe
Profile Image for Nina Yasari.
161 reviews1 follower
May 21, 2024
Beberapa waktu yang lalu saya membaca novelnya Gunawan Tri Atmodjo yang berjudul “Musuh Bebuyutan”.. Eh, ternyata saya suka dan bertekad untuk membaca bukunya yang lain.

Berdasarkan data Di Goodreads, beliau sudah menerbitkan beberapa buku, namun pilihan saya kali ini berupa kumpulan cerpen. Dalam buku ini ada 17 cerpen. Beberapa cerpen sudah diterbitkan di majalah dan koran.

Buku yang saya dapatkan merupakan cetakan kedua tahun 2022 dengan ilustrasi sampul yang lebih keren dan kekinian, yang di Goodreads ini kok tidak menarik ya? Hmm..

Hampir semua cerpennya serius, namun sesungguhnya penuh dengan humor gelap a.k.a dark jokes yang membuat saya sebagai pembaca terhibur.

Dari seluruh cerita, tokoh-tokohnya semuanya punya karakter serius, namun saya sebagai pembaca menilai keseriusan mereka merupakan tindakan konyol.

Seperti dalam cerpen Doraemon dan Korban Pemilu. Sebagai penggemar serial Doraemon, bertahun-tahun ia selalu penasaran dengan wajah ayah Giant dan Sizuka. Karena ia ingin tidur nyenyak dan tidak mau mati penasaran, ia nekad ia menggadaikan sertifikat rumahnya dan pergi ke Jepang untuk mencari jawaban.

Begitu juga kekonyolan dalam cerpen Linda dan Lukman. Dua jam menjelang ulang tahunnya yang ke 27, Linda membuat janji dengan dirinya sendiri. Siapa pun lelaki yang pertama kali menghubunginya setelah jam 12 malam akan ia ‘tembak’ untuk menjadi kekasihnya. Seserius itu Linda dengan janjinya dan saya pembaca merasa tindakan tersebut konyol sekali.

Satu lagi, dalam cerpen Menantu Teladan mengisahkan ibu mertuanya yang terbaring sakit di rumah sakit. Istrinya lalu menyuruh dia menggadaikan sertifikat rumahnya untuk biaya berobat. Dalam perjalanan pulang dari pegadaian, ia tergoda untuk mempertaruhkan seluruh uang yang dipegangnya untuk judi bola di warung kopi. Dengan mantap ia yakin akan menang. Jika menang, ia akan menebus sertifikat rumah dan sisanya untuk biaya rumah sakit. Namun, benarkah ia menang?

Begitulah. Hampir semua tokoh dalam tiap cerpennya bersikap over thinking dan melakukan aksi konyol yang dilakukan secara serius. Lucu.

Sudah 2 buku yang saya baca dan semuanya memuaskan hasrat saya sebagai pembaca. Pengen baca bukunya yang lain, lagi dan lagi.
Profile Image for Shofiya Hasna.
36 reviews
May 26, 2026
Ada beberapa cerpen yang endingnya jelas dan ada juga yang dibiarkan menggantung. Sebenarnya tidak bisa dibilang "menggantung" juga karena pembaca seharusnya bisa tahu bagaimana akhirnya walaupun tidak dijelaskan lugas oleh penulis.
"Menggantung" di sini sepertinya berlaku untuk cerpen-cerpen yang makna dan filosofinya dibiarkan begitu saja.

Aku baca ini dalam sekali duduk karena openingnya tuh unik-unik! Tiap selesai 1 BAB dan gak sengaja membaca BAB berikutnya tuh jadi kepo isinya karena memang pembukanya sungguh ~unik~.

Cerpen yang menjadi favoritku justru yang di akhir-akhir, yang bercerita tentang cinta, cinta, dan cinta.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Nike Andaru.
1,690 reviews116 followers
September 13, 2020
116 - 2020

Kali pertama baca karyanya Gunawan Tri Atmodjo, dan.... saya suka.
Hampir semua judul cerpen dalam buku ini saya suka. Kata demi kata juga kalimat dalam cerita pendek di buku ini terasa banget karya penyair.

Judul favorit :
- Kapulaga dan Para Pengudap Duka
- Penjual Kantuk
- Untuk Siapa Kau berdoa, Ana?
- Sundari Keranjingan Puisi
Profile Image for Jajo.
4 reviews
September 18, 2016
Suer deh...saya suka gaya cerita GTA (sorry mas ga ada maksut apa-apa. apalagi kalo ngungkit2 jargonmu itu-saya masih pembaca sempak yang budiman). diksi-diksi yang nyeleneh bikin kau senyum-senyum tapi pahit. kritik yang menembus dari arah yang berbeda atau bisa dibilang orisinil milik dia. cerita koki yang mau memasak hanya untuk acara perkabungan misalnya. saya kira itu kritik pada ritual budaya yang dianggap sebagai ritual agama--gak tahu lah pokoknya. lalu kisah ini yang terasa manis-manis pahit, romantisme pasangan yang bertukar-tukar sempak. ah! Mas. Sorry.
wajib di tunggu untuk karya beliau yang lainnya!
Yang belum, buku ini reccomended banget.
Profile Image for Itus Tacam.
61 reviews2 followers
November 8, 2017
sundari keranjingan puisi, selesai. saya kasih contekan baitnya.

1/ Angin
angin tak mengenal bersetia/ baginya, kehilangan adalah keniscayaan.

3/ Senam dan Renang
aku ingin mencintaimu seperti pakaian senam/ ketat, menonjol, meyakinkan/ aku ingin mencintaimu seperti pakaian renang/ ringan, menonjol, transparan

4/ Perbatasan
hampir hujan dan kau menjelma perbatasan/ di mana pergi dan kembali disamarkan

6/ Perpisahan
pasangan yang sudah lama hidup bersama/ akan tau saat yang tepat. untuk berpisah/ dengan bahagia
Profile Image for Adek.
196 reviews4 followers
January 14, 2017
Cerdas dan menarik dalam kesederhanaan. Recommended.
Profile Image for Rosi Ochiemuh.
11 reviews
March 30, 2017
Kumpulan Cerita yang di dalamnya hampir bertemakan kesialan-kesialan hidup yang sering kita dan orang lain alami. Tetapi dikemas dengan cara penceritaan yang elegan, brilian dan lucu. Seakan meski sudah jatuh tertimpa tangga pun, masih bisa ngeloco (salah satu kata khas si pengarang) yang buat saya tiada henti tertawa menikmati keajaiban cerita-cerita di dalamnya.
Buku bagus yang nggak bikin kamu datar saja membacanya.
Displaying 1 - 19 of 19 reviews