Buku ini bukanlah buku teori parenting, buku ini adalah buku bagaimana teori parenting dapat diaplikasikan dengan penuh kesabaran dan keyakinan. Buku ini mengangkat kisah-kisah seputar pengasuhan anak yang mungkin sangat umum terjadi dalam keluarga. Namun atas petunjuk Allah SWT penulis mampu menyibak rahasia dan mengumpulkan hikmah yang berserak dari setiap permasalahan yang dihadapi dalam pengasuhan anak sehingga menjadi pelajaran berharga bagi para orang tua. Buku ini tidak hanya memberikan teladan dalam mengatasi berbagai konflik yang spesifik seputar pengasuhan anak, namun juga memberikan hikmah yang dapat menjadi ruh dalam menyelesaikan permasalahan kehidupan lainnya. Meskipun permasalahan yang diangkat adalah seputar pengasuhan anak usia dini dan remaja, namun hikmah yang tergali dapat menjadi pelajaran berharga bagi orang tua dengan segala usia.
Sejak memiliki anak saya suka membaca buku parenting, terutama yang membahas tentang perlakuan terhadap anak, menghadapi tingkah pola anak, berpikir kreatif, dan bagaimana terus memotivasi diri untuk tetap berusaha memberikan pendidikan terbaik untuk anak.
Kiki Barkiah adalah seorang ibu dengan 5 anak, dengan sulung yang berusia 11 tahun dan adik-adiknya, yang pastinya, berumur lebih muda. Bisa dibayangkan betapa marak dan atraktifnya kegiatan di rumah mereka.
Berhadapan dengan 5 karakter yang berbeda, mengurusi dan mengatur segala aktivitas apapun di rumah, serta tetap berusaha menampilkan ketenangan dan manajemen emosi yang luar biasa, menjadi garis besar kumpulan cerita dalam buku ini.
Pengalaman berbicara lebih "banyak" daripada teori. Ya, sebagian besar kisah penulis menampilkan realita kesehariannya bersama putra/i-nya. Ada kisah saat beliau bercerita tentang obrolan dengan anaknya, atau homeschooling yang dilakukannya dengan diselingi memasak di dapur, atau saat 'lelah' dan curhat kepada suami.
Kesemuanya dibagikan penulis untuk memberikan sedikit gambaran, bagaimana mempersiapkan mental seorang ibu dengan upayanya untuk mendidik anak. Pendidikan anak yang tak jarang bertemu dengan kompleknya masalah yang datang dari anak, lingkungan, bahkan diri sendiri.
Buku ini sangat recomeded untuk dibaca oleh para orangtua maupun calon orangtua, karena tidak ada sekolah khusus yang belajar menjadi orangtua, maka setiap saat adalah belajar. Dan terkadang anak-anak kita adalah guru kita, banyak hal dalam diri anak-anak yang menjadikannya sumber pembelajaran Dalam buku ini tidak hanya membahas tentang pengasuhan anak, tetapi juga tentang hubungan komunikasi antar suami istri, meskipun suaminya sibuk. Tetapi percakapan-percakapan singkat di telepon cukup mengharmoniskan hubungan keduanya. Karena tidak akan berhasil kalau hanya ibu sendiri yang berjuang mendidik dan mengasuh anak, sebagaimana membuatnyapun tidak sendirian :)
Tidak sabar baca bagian ke-2 nya...udah di timbunan ..:)
Masya Allah, Teh Kiki ini lulusan STEI ITB euy, tapi mau menisbatkan hidupnya menjadi Al-Ummu Madrasarul Ula'... Masya Allah, terharu bacanya, dan terinspirasi. Di samping keinginin pribadi juga sih yang berharap memiliki pasangan yang cerdas dan mau menjadi Al-Ummu Madrasarul Ula', insya Allah. Semoga pasangan saya kelak punya visi yang sama tentang bagaimana mengajarkan anak-anak kami, seperti beberapa cerita dalam buku Teh Kiki ini.
Saat awal buku ini terbit dan cukup booming, saya sudah membaca beberapa bab di awal. Sebenarnya waktu tulisan beliau masih berupa tulisan di album Facebook, cukup sering juga mengikuti cerita pengasuhannya. Tapi entah kenapa, saya memilih kembali buku ini untuk jadi teman perjalanan dinas Bdg-Cibinong-Bdg kemarin.
Membaca kembali kisah-kisah teh Kiki barkiah di buku 5 Guru kecilku ini membuat hati saya terasa hangat. Ikut merasakan energi cinta yang melahirkan ketulusan, kesungguhan, totalitas dalam mendidik anak-anaknya yang dibalut dengan kesabaran, kebijaksanaan dan pengorbanan.
Kisah-kisah tersusun dengan bahasa yang mengalir dan alami. Saya bisa ikut tenggelam dan merasakan bagaimana emosi teh Kiki dalam menghadapi warna-warni tingkah ke-5 anaknya yang berjarak usia cukup dekat itu di negeri rantau, tanpa ART atau saudara yang membantu.
Misalnya ketika mendapati rumah yang "kacau" setelah eksplorasi anak-anak, atau saat si kakak yg terus menerus mencari perhatian dengan menggoda adik bayi. Dan beberapa kali saya pun ikut berkaca-kaca, terharu, saat inisiatif-inisiatif kecil datang dari anak-anaknya untuk membantu pekerjaan rumah, atau ketika teh Kiki dan anaknya terlibat percakapan intim tentang hubungan anak dan ibu (tiri). Atau saat teh Kiki menelepon suaminya di kantor, demi menjaga kewarasan bergelut dengan gunungan pekerjaan rumah, "hanya" untuk menanyakan apa prioritas tugasnya, dan meminta maaf bila nanti pulang mendapati rumah yang belum beres. Percakapan singkat yang mampu memboost energi untuk menghadapi "kenyataan".
Ini bukan hanya tentang pengasuhan atau stay-at-home mom. Tapi tentang menjaga dan menumbuhkan fitrah anak-anak yang sudah diamanahkan kepada kita. Ini tentang totalitas menjalankan peran dalam proyek peradaban.
Karena mendidik anak memang PASTI REPOT. Tinggal kita memilih, ingin repot saat bersungguh-sungguh mendidik mereka di usia dini, atau repot dengan tingkah laku mereka di kemudian hari karena ke-abai-an kita saat ini. Jangan sampai di akhirat nanti kita masih kerepotan, mempertanggungjawabkan mereka di hadapan Allah.
Buku yang cukup menarik, apalagi bagi yang tertarik dengan pendidikan dan pengasuhan anak. Ya iyalah, namanya juga buku pengasuhan anak wkwk
Oh ya, buku ini memuat catatan-catatan pengasuhan anak versi Mbak Kiki Barkiah yang menurutku cukup membuka wawasan si. Beliau menuturkan dan menceritakan dengan cukup praktis tentang pengasuhan. Beliau juga memberkikan contoh serta tips-tips yang bisa di coba dan dipraktikkan ke anak. Contohnya sederhana gitu, jadi mudah di pahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, whehe.
Buku ini diawali dengan penegasan tentang niat dalam mendidik anak serta berbagai macam urgensi/keharusan orang tua mengambil peran dalam pendidikannya. Yang paling aku suka dari buku ini itu menggunakan perpaduan ciamik dari ilmu pengasuhan psikologi perkembangan dan pengasuhan versi islam. Selain itu, mbaknya juga menjadikan Rasulullah sebagai role model terbaik dalam pengasuhan. Penjelasan-penjelasannya cukup baik. Pokoknya worth it lah kalau dibaca. Apalagi ada juga cerita tentang tingkah lucu-lucu anaknya mbak Kiki. The best.
Membaca buku ini seperti sedang mendengarkan kisah keseharian seorang Ibu Rumah Tangga dengan 5 orang anak luar biasa, namun penuuuuuh dengan catatan-catatan istimewa untuk diri saya pribadi dalam menjalani hari-hari sebagai IRT.
2 hal yang paliiing membekas bagi saya :
✅ Bahwa mendedikasikan diri menjadi seorang ibu Rumah Tangga bukanlah sebuah 'hanya', bahwa di dalamnya ada ribuan peran dan tanggung jawab jika di krus-kan dalam biaya, tak ada apa-apanya di dunia, namun tak terhingga harganya di akhirat kelak.
✅ Bahwa anak tidak meminta gaji yang berlipat, anak tidak meminta karir Bunda yang melesat, anak hanya ingin bahagia. Jika kesibukan Bunda membuat Bunda tidak bisa bersabar dan memperlakukan mereka dengan cara yang baik, lalu siapa yang harus mengalah?
Allaaahh 😭😭😭
Betapa banyak pelajaran yang begitu #Plak untuk diri saya pada buku ini :')
Untuk kamu, para Ibunda. Cobalah untuk membaca buku ini ❤️
5 guru kecilku bagian 1 Merupakan buku berisikan kisah berhikmah seputar pengasuhan anak. Bukan buku teori parenting. Tapi buku bagaimana teori parenting dapat di aplikasikan dengan penuh kesabaran dan keyakinan.
Mengangkat kisah -kisah seputar pengasuhan anak yang sangat umum terjadi dalam keluarga. Namun atas petunjuk Allah swt penulis mampu menyibak rahasia dan hikmah yang didapat dari setiap permasalahan yang dihadapi dalam pengasuhan anak sehingga menjadi pelajaran berharga bagi orang tua.
Tak hanya menyenangkan untuk dibaca, tapi buku ini syarat makna, mengandung banyak pelajaran penting dari setiap kisahnya. Dialog antara ibu dan anak sangat mencerminkan cinta kasih dan kesabaran. Mengasah kita untuk belajar bersabar dalam mengasuh anak. Agar mampu mencetak anak - anak berakhlak mulia dan memiliki kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual ( IQ, EQ, SQ) sebagai generasi yang akan datang.
Menjadi orang tua memang bukan perkara mudah, apalagi dalam hal "mendidik". Kiki Barkiah menceritakan pengalaman hidupnya mendidik ke-5 anaknya. Yang paling membuat salut adalah caranya menanamkan pendidikan agama, memberi masing-masing anak pengertian saat mereka bertengkar atau meminta perhatian. Buku ini menambah khazanah lagi untuk ilmu parenting, meski menerapkannya memang tak mudah dan tak mungkin bisa sama di setiap keluarga karena perbedaan karakteristik anak dan lingkungan keluarga, tetapi paling tidak memberikan gambaran bagaimana seorang Ibu sebaiknya bersikap terhadap anak-anaknya.
Kalau di part I ga terlalu banyak diceritain tingkah anak-anaknya, tapi lebih ke cerita masa-masa awal teh Kiki berkeluarga. Quote yang diinget "mendidik anak susah itu pasti, kalau sudah dewasa nyusahin pasti ada yang salah". Kurang lebih gitu. Niat niat niat....
Saya suka sekali buku ini karena modelnya lebih ke sharing pengalaman sambil ada teorinya sedikit. Tapi membaca pengalaman org lain itu buat saya lebih banyak pelajaran yg bisa diambil dan jadi bikin lebih termotivasi sih.
salut terhaturkan kepada teman SMA ku, kiki dalam menulis pengalamannya sebagai orang tua yang membesarkan lima anaknya (sampai saat ini)
jujur dengan diriku yg belum melangkah ke pernikahan, buku kiki memberikan gambaran bagaimana mengasuh anak
apalagi di masa awal pernikahan kiki, dia membesarkan anaknya sendirian di negeri orang tanpa pengasuh
trial dan error pasti kiki hadapin tiap saat. hebatnya adalah kiki memiliki motivasi kuat untuk mengantarkan keluarganya sebagai keluarga islam, dengan memperkenalkan al quran, hadist dan story telling kisah kisah nabi.
dan keunggulan kiki adalah prinsipnya mengajarkan anak anaknya pada sistem Homeschoolling, sebuah metode pengajaran yang ideal untuk pribadi masing masing anak tapi menuntut kreativitas orang tua untuk memberikan pengajaran
buku pertama ini saya rasa masih bersifat kasar, menuliskan pengalaman-pengalaman kiki dalam mengasuh anaknya. tapi itu tidak mengurangi keasikan membaca
yang pasti buku ini recommended bagi pembaca yang ingin menyelami dunia parenting, khususnya yang berbalut pengajaran islam dan sistem homeschooling
Buku yang sangat bagus dan menginspirasi. Gaya penulisannya yang mengalir seperti membaca cerita sehari-hari. Dan karena mungkin penulisannya yang benar-benar berasal dari hal-hal yang dialami oleh penulis sendiri, lebih mengena di hati. Memang benar ini bukan buku parenting, isinya hanya catatan seorang Ibu dalam membesarkan anaknya. Namun hal-hal penting, ilmu parenting yang benar-benar real, hikmah-hikmah yang ada sangatlah banyak. Tulisan yang berupa catatan-catatan harian ini benar-benar dapat mengajarkan banyak hal tanpa menggurui. satu hal lagi adalah bahwa, apa yang ditulis oleh penulis benar-benar nyata, dialami dan dilakukan, bukan hanya sekedar teori saja, namun ada tindakan terperinci apa saja. Dijabarkan dengan cukup jelas, bukan hanya kalimat-kalimat normatif yang tidak dimengerti.
Keren lah, tak sabar menunggu kisah-kisah lain dari penulis, dan juga membuat saya ingin sekali bisa merasakan bagaimana mengasuh anak :3
Buku tentang parenting berdasarkan pengalaman pribadi. Saya mendapat banyak ilmu dan inspirasi dari buku ini, apalagi cara berceritanya santai dan mengalir. Memiliki lima orang anak dan menjadi full time mom tanpa asisten RT tentunya sangat menantang. Saya jadi belajar bagaimana mengelola waktu dengan baik, pengasuhan anak secara islami, dll. Masukan dari saya, buku ini akan lebih baik lagi jika penyuntingannya lebih komprehensif. Mungkin tulisan-tulisan di buku ini adalah kumpulan dari notes/status di Facebook, tetapi ketika menjadi sebuah buku, ekspektasi saya tulisan ini lebih dari sekadar notes yang ditulis tanpa aturan bahasa yang baku. Cukup mengganggu juga adanya cukup banyak typo serta kesalahan tata bahasa, dll. Semoga cetakan selanjutnya bisa lebih baik. :)
Menarik. Kiki Barkiah menulis pengalamannya sebagai istri dan ibu dari 5 orang anak dan tinggal di San Jose, California. Tulisannya enak dibaca, mengalir karena memang pengalaman pribadi seperti membaca blog saja.
Saya banyak belajar dari pengalaman dan sharinh dari Mbak Kiki dari buku ini, tentang bagaimana ia memandang keluarga, rumah tangga, dan keputusan untuk memiliki anak banyak tanpa bantuan ART dan nanny. Saya aja yang baru 2 anak aja tanpa ART dan nanny rasanya rempong aja gitu (tapi saya menikmatinya).
Bagi para orang tua, buku ini cukup direkomendasikan. Kisah-kisah Teh Kiki barangkali bisa dijadikan pelajaran dalam mendidik anak. Dimana mendidik anak dengan cara-cara yang kreatif dan tidak kasar, menumbuhkan penuhnya kesabaran sebagai ibu sampai pembagian tugas dalam mendidik anak yang sejatinya bukan hanya menjadi tugas ibu, namun juga tugas seorang ayah.
Saya belum mempunyai anak dan saya merekomendasikan buku ini untuk Anda yang sudah maupun sedang mempersiapkan diri untuk memiliki buah hati. Ada beberapa bab dalam buku ini yang baik juga apabila dibaca bersama dengan pasangan karena buah hati kita kan dibikin bukan sendirian hehehe.. Kalau saja tidak ada kesalahan penulisan (banyak sekali kata depan yang penulisannya disambung dengan kata kerja) pasti saya kasih bintang 5.
Cari buku ini perjuangan banget ya, karena dimana-mana habis. Akhirnya nemu juga disalah satu reseller penerbitnya. Dan gak nyesel sama sekali karena baguuuus banget bukunya! Bagi saya yg masih bberapa bulan berstatus istri dan sbentar lagi juga akan berstatus ibu, buku ini sangat bermanfaat. Rekomended!
Salah satu hal yang tidak saya sukai dari membaca buku parenting adalah --- saya kemudian merasa menjadi ibu yang payah sekali. Huhuhu. Syukurnya, teh Kiki tidak melulu menggambarkan betapa sempurnanya tugas keibuan yang diperankannya. Setidaknya itu mengurangi tingkat keminderan saya. Hehe. Untuk buku kedua, saya pass dulu deh, belum ingin membacanya sekarang.
Bagi perempuan yang belum menikah seperti saya, buku ini sangat membuka mata tentang apa-apa saja yang akan terjadi pada kemudian hari. Tentang peran seorang istri dan ibu dalam memperjuangkan dan mengelola keluarga dengan penuh susah payah dan perjuangan.
Tapi di awal buku sudah dijelaskan, ada hadiah dari Allah, ada niat untuk Allah yang menjadi penguat sendiri dalam melakukan pekerjaan.
Kebanyakan buku-buku parenting yang saya baca bahasanya lumayan sulit dipahami. Buku ini sangat direkomendasikan karena menggunakan bahasa sehari2. Saya tidak bisa membayangkan rasanya mengurus 5 anak sendirian dengan metode homescholling lebih2 di masa2 keemasan mereka. Saat2 mereka sedang aktif2nya. Saya ketagihan untuk menunggu edisi keduanya
Quote: Tidak ada yang lebih sempurna dari Rasulullah SAW dalam pengasuhan anak, maka berilah ruang dalam hati kita untuk menerima bahwa kita bisa salah. Maka tidak perlu kita mengatakan "kami merasa gagal menjadi orangtua" namun katakanlah "bersama Allah kami bisa lebih baik lagi"