Buku ini berisi 20 cerita pendek dari 20 penulis fiksi perempuan yang pernah dimuat di rubrik sastra Harian Umum Republika sejak awal 2003 hingga akhir 2004. Selama kurun waktu tersebut, prosentase karya cerpenis perempuan di Republika hanya mencapai 20 persen dari total 528 cerpen. Artinya, cerpenis perempuan masih menjadi 'minoritas' dalam sastra Indonesia -setidaknya itu yang tampak di media massa menurut pengamatan Ahmad Yosi Herfanda di bagian pengantar.
Setiap cerita menunjukkan fenomena tematik yang kerap ditemui di kehidupan masyarakat dari kisah asmara, hubungan ibu dan anak, skandal cinta sampai masalah sosial keagamaan. Semua memiliki sisi menarik.
Dari 20 cerpen di buku cetakan pertama Republika (April, 2005) ini saya tertarik pada dua cerpen. Pertama, pada cerpen berjudul 'Pohon'. Cerpen ini mengingatkan kita ihwal kepercayaan masyarakat tradisional terhadap kesakralan sebuah objek. Adapun objek di sini ialah pohon, yang sudah hadir turun temurun di halaman rumah tokoh bernama Sardi. Sang Bapak mewasiatkan kepada Sardi agar tidak menebangnya.
Konon, pohon itu adalah pohon 'warisan' dari kakeknya dulu. Alhasil, Sardi dan istri -Lasmi- membiarkan pohon tersebut berdiri di depan rumahnya. Hingga tiba suatu masa di mana warga di desa Sardi kesulitan mendapat air bersih, rumah Sardi menjadi 'banjir rezeki'. Para tetangga berduyun-duyun membeli air dari rumah Sardi dengan harga miring. Sardi tidak banyak berekspektasi. Ia hanya berpikir ingin berbagi. Namun, lucunya para tetangga dan warga dari desa lain malah berkesimpulan bahwa pohon di depan rumah Sardi merupakan pohon kramat sehingga mendatangkan sumber air yang bersih dan berlimpah.
Awalnya Sardi dan istri tidak begitu menanggapi. Namun, kelakuan masyarakat sekitar yang mulai 'nyeleneh' dengan mengirimkan sesajen di depan pohon membuat Sardi geram. Ia merasa ada hal yang harus 'dibereskan' dari perkara pohon warisan tersebut. Dan tindakan yang dilakukan Sardi dalam cerpen karya Dewi Sartika ini seakan mengingatkan kita tentang belenggu manusia dalam menjalani hidupnya.
Cerpen selanjutnya yang menarik perhatian saya adalah 'Perahu Nuh' karya Ratna Indraswari Ibrahim. Cerpen ini mengisahkan keteguhan hati seorang tokoh bapak-bapak bernama Rudi di tengah terjangan banjir yang melanda kompleks rumahnya. Rudi ini bersikap konyol. Antara teguh pada prinsip 'ketauhidan'-nya atau buta terhadap karunia Tuhan-nya. Di cerpen ini Rudi sibuk berdialog pada dirinya sendiri dan Tuhan bahwa manusia zaman sekarang sudah melupakan tuhan. Mereka hanya percaya dan terlalu mengagung-agungkan pertolongan manusia, bukan pertolongan sang pencipta. Hal ini mengingatkan saya pada era awal pandemi, dimana manusia secara umum terbagi menjadi dua, yaitu golongan apatis dan altruis. Mereka yang altruis akan lebih peduli dan taat prokes. Sedangkan mereka yang apatis akan bertindak sebaliknya.
Selain dua cerpen tersebut, masih ada cerpen lainnya yang menarik untuk diulik. Intinya, buku ini syarat makna dan cocok dibaca bagi mereka yang ingin mengenal karakteristik dari penulis-penulis fiksi perempuan Indonesia. Karena sebagian tema cerita mengisahkan persoalan orang dewasa, jadi buku ini lebih layak baca bagi mereka yang berusia 17+.
Sekian dan terima kasih sudah membaca review ini :)