Andre mungkin saja memiliki banyak kekurangan, tapi selingkuh bukan salah satunya. Sesaat aku mengutuk diriku, sempat menuduh mendiang suamiku atas tuduhan yang belum tentu benar. Tapi aku bisa apa?
Rinjani sudah terlalu lelah dengan kedukaan atas meninggalnya suami tercinta. Ratapan setahun terakhir seolah tidak pernah cukup. Sampai ia harus berurusan dengan surat-surat tanpa identitas yang muncul mengusik ketenteramannya, menimbulkan berbagai tanya dan prasangka atas mendiang suaminya.
Lalu saat mulai terpojok dan bingung harus ke mana, ia berkenalan dengan olahraga lari jarak jauh yang membawanya ke Bromo Marathon, tempat semuanya—secara tak terduga—akan terjawab dan ia seharusnya tidak perlu “lari” lagi.
Disonansi dalam Teori Disonansi Kognitif adalah perasaan tidak nyaman yang memotivasi orang untuk mengambil langkah demi mengurangi ketidaknyamanan itu.
Disonansi dalam Teori Disonansi Kognitif adalah perasaan tidak nyaman yang memotivasi orang untuk mengambil langkah demi mengurangi ketidaknyamanan itu.
* * *
Setelah dua minggu, akhirnya aku bisa menulis review untuk buku ini. Sebenarnya, ini lebih ke komentar aja sih. Jadi, tolong diingat kalau apa yang kutulis di sini berdasarkan pendapat pribadiku.
Disonansi merupakan cerita tentang Rinjani yang masih terperangkap pada fase kesedihan pasca tditinggal mendiang suaminya. Di masa-masa itulah, Rinjani bertekad untuk 'berlari' lalu berbagai kebenaran mulai muncul melalui surat-surat misterius mengenai suaminya.
Ini adalah karya pertama Edith PS yang kubaca. Beli ini karena promo gramedia dan didukung blurb serta kover yang sangat menarik. Judulnya terdengar asing, namun ternyata memiliki makna yang cukup masuk akal pada cerita Rinjani.
Aku cukup nyaman dengan gaya penulisannya, meskipun kadang bosan dengan deskripsi terlalu panjang dan, menurutku, tak jarang yang sebenarnya tidak perlu. Jadi, kadang kesannya bertele-tele gitu.
Perihal tokoh, ada banyak tokoh di sini. Tokoh utamanya terdiri dari Rinjani, Okto, dan penyurat misterius. Aku pribadi, cukup suka dengan Rinjani meskipun kadang dia suka memancing emosi. Kalau Okto, uhm, aku kurang sreg sih. Tapi, lumayan untuk pemanis suasana. Dan si penyurat misterius.... Dia pembuat twist yang cukup mencengang. Walaupun dari awal surat itu datang aku udah mengira 'bakal gini'--yang ternyata betul--tetap saja aku agak jaw dropped.
Mneurutku, romansa bukanlah topik yang ingin penulis sampaikan. Penulis seperti ingin lebih menunjukkan misteri penyurat itu, perihal bangkit dari jatuh, dan terus menjalani hidup. Nah karena hal-hal itu, aku merasa romance is such an unnecessary thing here.
Kenapa?
Karena aku bingung sebenarnya kenapa tokoh Okto terombang-ambing begitu. Hilang, pergi, hilang, eh pergi lagi. Terus, ya udah begitu terus selanjutnya. Dan alasannya dia hilang-pergi juga, uhm, kurang menarik simpati 'kerinduan' jatuhnya justru kayak mainin perasaan. Sudah begitu, chemistry-nya kurang meldak-ledak. Cepat banget jadinya.
Tapi, ini menurutku loh ya.
Secara keseluruhan, novel ini tergolong nyaman untuk dibaca cepat. Despite the unnecessary things I mentioned above, this is still okay.
Metropop pertama yang ngebahas soal dunia lari! Ceritanya seru, apalagi ada yang buat gue agak shock dengan karakter misterius pengirim surat.
Paling lucu bagian yang nyebutin tokoh utama punya toko di daerah SCBD. Duh, kalau di dunia nyata, lagi tren dibahas sama komunitas lari. Dan kayaknya, nggak se-charming itu! :p
Itu sih anggapan pribadi karena suka lari juga.
Secara keseluruhan, gue suka Disonansi. Rasanya jadi kepingin ikut Bromo Marathon. Hmm... tahun depan deh.
*but you're not actually leaving since you're gonna finish in the same line where you're gonna start*
Punya ekspektasi yang lebih saat pertama kali membaca blurbnya but its good enough to read.
Dari saya sendiri buku ini cukup bagus untuk dibaca namun menurut saya alur cerita yang disampaikan sedikit bertele-tele, sedikit membingungkan juga karena tidak ada batasan saat penulis melempar pembaca ke masa lalu Rinjani tapi di sisi lain jujur penulis cukup berhasil membawa perasaan Rinjani di setiap kata-kata yang ditulisnya. How pain she is, how struggle she is to let his husband go, i can feel it.
Ada pelajaran yang diselipkan penulis di buku ini tentang keikhlasan, tentang melepaskan dan tentang menemukan puzzle tentang dirimu sendiri.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Surat-suratnya, memang sejak awal seperti suaranya cowok sih. Bahas soal larinya cukup menarik, cuma entah kenapa chemistry Okto-Janinya terasa kurang. Sukses terus untuk Penulisnya ^^
Di antara novel serupa yang bertemakan soal lari, yang ini saya paling suka. (Saya berjanji pada diri sendiri selepas membaca bukunya Haruki Murakami yang What I Talk About When I Talk About Running, saya bakal bikin Ngobras tentang buku-buku bertemakan lari.) Saya suka karena porsi berlari di novel ini cukup besar, bahkan menjadi passion salah satu karakter utamanya, yaitu Okto. Tidak hanya menyuguhkan tentang tema lari, banyak kalimat filosofis tentang lari yang disampaikan di sini. Meskipun, ada pula bagian yang masih terasa seperti "copas" info dari internet. Namun, itu tidak mengurangi hakikat filosofis berlari yang terasa mengena sekali dalam kehidupan sehari-hari.
"Secangkir kopi hangat saja ada filosofinya, apalagi lari." ---halaman 214
Nah, sekarang ke bahasan topik ceritanya. Saya suka sekali dengan kisah ini. Tentang seorang perempuan yang kehilangan suaminya, berharap untuk bisa move on dari situasi itu yang tentu saja tak mudah. Ketika sedang menuju bangkit, justru dihadapkan dengan surat kaleng tentang suaminya, dikirimkan oleh orang yang teramat mencintai sang suami. Plotnya sederhana, cenderung dekat dengan kehidupan pembaca. Tentang memaknai sebuah kehilangan besar dalam hidup dan berupaya untuk melanjutkan hidup tanpanya. Saya merasakan bagaimana Rinjani melawan ketakutan dan kemelut dalam kisah sendunya. Saya pun dapat berempati karenanya.
Dari segi karakter, semuanya memiliki kekhasan yang dengan mudah dapat terbayangkan oleh saya pembacanya. Saya suka Rinjani, pun juga dengan sosok Okto yang misterius tapi serius. Saya juga suka Abbas. Bahwa persahabatan tidak selamanya berakhir dengan saling suka. Ada bentuk persahabatan yang memang murni tanpa melibatkan romansa sama sekali. Saya suka pokoknya sama Abbas yang selalu ada untuk Rinjani.
Tidak hanya menyuguhkan kisah romansa saja, novel ini juga ada bagian lucunya. Saya ketawa sewaktu membaca tentang bagian cowok-cowok yang lari pakai baju couple yang ada quote-quote-nya itu. Lucu! :)
Gaya penulisan sang penulis di buku ini, berhasil menjerat saya di awal-awal membacanya. Saya suka dengan penyampaian penulis dalam buku ini. Itu pula yang mengakibatkan saya dengan mudah bisa menyelesaikan novel ini segera. Terlebih, banyak kalimat-kalimat yang quoteable di sini. Sama sekali tidak menggurui, bahkan justru menohok tepat sasaran pada relung hati saya si juara lomba lari dari kenyataan ini.
"Karena sudah nggak zamannya lagi lari dari kenyataan, Jan. Kita harus lari menuju kenyataan. Kenyataan bahwa kita memiliki kewajiban untuk merawat tubuh sebagai wujud syukur atas kesehatan yang diberikan Tuhan." ---halaman 27
Dan ini adalah kutipan yang paling saya suka:
"Fokus ke targetmu saja, jangan target orang lain. Jadikan dirimu sendiri sebagai tolak ukur. Kalahkan rekormu sendiri, bukan rekor orang lain." ---halaman 128
Waaah aku nanges dua kali coooy Metropop rasa nyastra Gue merasa aja gtu pesan Mbak Edith di novel ini ngena gtu di gue Jadi makin respect sama marathoner gtu, cuma blm bikin gue pengen ikutan jadi marathoner nih hehe Padahal dulu suka banget sama olahraga lari Mau agak komplain sama dialog English nya yg menurutku kebanyakan Kayak biasanya si tokoh gak ngomong pake Bahasa Inggris, tau2 pas lg puitis 3 kalimat Inggrisan semua -_- Yes, I'd like to buy the book (tapi ini kan terbitan lama :((( nyari di mana donggg?), since I read it from iPusnas
Aaaaa!! Hebaaat! Ini akan jadi salah satu novel yang membekas buat saya. Saya yang takut akan kehilangan, bisa mengerti sedikit yang dirasakan Rinjani. Yang Jani rasakan, mungkin saja saya rasakan nanti. Tetapi sebelum saya merasakan itu, saya seperti "diberitahu" beginilah proses berduka seseorang. Proses melewati kehilangan sampai akhirnya merelakan, melepaskan, mengikhlaskan untuk tetap berjalan menuju garis finish di depan.
"Disonansi dalam Teori Disonansi Kognitif adalah perasaan tidak nyaman yang memotivasi orang untuk mengambil langkah demi mengurangi ketidaknyamanan itu." -blurb
"Katanya apa yang sudah ditetapkan Tuhan ngga bisa berubah. Mereka yang hidup melajang sampai meninggal, ngga mungkin kan karena Tuhan lupa menciptakan jodoh mereka? Berarti sudah jelas, jodoh sama seperti rezeki, harus diusahakan, ditemukan dan dipertahankan. | Setuju. | Masalahnya, seberapa tahu sih kita usaha kita sudah maksimal? Seberapa yakin sih kita bahwa usaha kita sudah tepat sasaran? Pernah ngga terpikir bahwa kita pernah dipertemukan dengan jodoh kita, tapi karena kita kurang peka dan ngga mengusahakannya akhirnya dia menjauh. Si jodoh yang diciptakan Tuhan tadi ngga bisa bersama kita. Tapi untungnya Tuhan ngga pernah mempertemukan kita dengan berbagai macam manusia di berbagai macam situasi tanpa tujuan. 'Kebetulan' bukanlah istilah yang dipakai Tuhan." - hlm.33/37
"Kita tidak pernah tahu sampai kapan hidup, apakah besok masih bisa hidup, atau apakah rencana akan berjalan mulus sesuai harapan. Tapi toh ketidakpastian itu membuat hidup menggairahkan. Keteguhan untuk terus berharap dan berencana di tengah ketidakpastian tidak akan menjadikan semua asa dan upaya sia-sia. Karena aku tahu pasti, semesta sudah punya perhitungannya sendiri. Tuhan punya metematika-Nya sendiri. Dan segala daya upaya tidak pernah membelakangi keberhasilan." - hlm.238
"Aku tahu rasanya berdamai dengan masa lalu. Mengikhlaskan dan memaafkan semua kegelisahan atas perasaan kehilangan serta keengganan untuk beranjak dengan segala ketidakpastian masa depan. Setiap orang pasti suatu saat akan atau pernah mengalami fase yang membuatnya harus berhenti sejenak, stagnan. Dan ia memerlukan momen yang bisa mengubah segala kebuntuan menjadi energi baru untuk melanjutkan hidup dengan dinamika lebih menggairahkan. Titik penentu." - hlm.244
Gue beli buku ini karena tertarik dengan sampulnya yang mencolok dengan warna kuning dibalut hijau yang terlihat cocok, serta melihat ada kata Bromo dan Rinjani hahaha. Dan kalo baca sinopsisnya di cover belakang buku, ekspektasi gue ga jauh-jauh dari cerita cinta sepasang suami-istri yang menye-menye dengan latar Bromo. But it is totally different. Kisahnya jauh dari menye-menye. Ketika baca, lo akan seolah-olah menjadi tokoh utama dalam cerita (disamping karena pov-nya adalah sudut pandang orang pertama tunggal), juga menjadi pengamat cerita. Selain kisah cinta level suami-istri muda, buku ini juga memberi pelajaran tentang bagaimana mengikhlaskan dan menerima. Dan selama baca cerita ini, lo akan diajak penulis untuk ikut menebak misteri yang dibungkus rapi oleh penulis. Walau sebenarnya mudah ditebak, tapi lo akan dibuat tidak yakin dengan tebakan lo sampai akhirnya lo baca buku ini sampai abis. Dan boom! Plot twist nya ciamik banget! Well, this story has succeeded to make me feel like has a husband wqwqwq.
Hal yang gue suka dari buku ini adalah, dia tidak hanya menyuguhkan cerita cinta-cintaan, tapi juga mengenalkan tentang olahraga lari dan marathon. Quotes yang ngena banget menurut gue adalah, "Marathon ini bukan seperti olahraga lain yang tujuannya itu mengalahkan peserta lain, tapi justru yang harus dikalahin adalah diri lo sendiri". Bener banget! Kadang kita selalu membandingkan diri kita dengan orang lain, tapi itu sebenarnya bukan hal yang sebanding guys. Everyone has his own timeline. Yang harusnya lo ketahui adalah, gimana caranya lo yang hari ini bisa lebih baik dari lo yang kemaren. That's it!
In addition, ada hal yang gue kurang suka dari buku ini. Yaitu penggunaan kalimat-kalimat yang menurut gue gak perlu, sehingga cenderung tak punya arti. Mungkin tujuan penulis itu biar lebih terlihat indah kali ya bahasanya, tapi jatohnya kaya kalimat tak bermakna dan bertele-tele. But it is no big deal. Dan satu hal lagi sih yang penting banget diketahui bagi kalian semua yanh mau baca, yaitu buku ini mengandung konten dewasa cuy!! Hahahahahaha. Adegan ciuman diceritakan jelas, astaghfirullah. Tapi gak banyak sih, dan saran gue kalo kalian masi dibawah umur mending langsung skip aja bagian ini. Karena inti ceritanya bukan disana wqwq.
Setahun setelah suaminya meninggal, datang surat dari pengirim tak dikenal. Dalam surat itu, tertulis bahwa tidak hanha Jani yang merasa tercabut sebelah nyawanya saat Andre meninggal, tapi si pengirim surat juga merasakan hal yang sama. Karena tak hanya Jani, si pengirim surat pun dengan lantang mengatakan mencintai almarhum suaminya itu. Andre yang Jani kenal adalah pria pendiam yang baik hati. Suaminya bukan type pria yang gampang menabur gombalan, pun sibuk melirik perempuan lain saat mereka bersama. Andre adalah suami kebanggannya. Yang tak pernah mempermasalahkan Jani tak bisa masak, pulang larut karena lembur, dan masih bersedia mencium kepalanya meski Jani lupa keramas 7 hari. Lantas, rahasia apakah yang disembunyikan Andre? Selingkuhkah dia? Apakah Jani harus percaya pada surat-surat yang datang dan isinya yang sentimentil membuat Jani mempertanyakan kembali: Siapa sebenarnya suaminya?
Aihhhh baca buku ini rasanya pengen cepat selesai, biar kejawab deh teka-teki yang memang dari awal ditebar oleh penulis. Dan ternyata tebakan saya memang benar, karema memang ada clue yang mungkin sengaja disisipkan.oleh Edith, biar kita nggak shock-shock banget pas tahu kenyataannya ya. hehe
Nggak banyak yang mau saya komentarin, selain hanya tipisnya perbedaan antara flashback-nya. Serius, tipis banget. Kadang sampai ngebuat saya balik lagi ke paragraf awal untuk lebih jelas ini flashback atau masa sekarang. Memang sih, nggak enak juga baca buku yang kalo flashback, ditulis miring atau dibikin bold. Mungkin itu niat penulis, biar pembacanya lebih pinter, nggak asal dimanjakan. Hemmm apa lagi ya, oh iyaaa, karakter Abbas tuh dari awal saya nangkapnya agak ngondek gitu. hahahaha maapkeun aku yaa Abbas Saddekh, tapi seriuss ngeliat kamu di awal cerita begitu perhatiannya sama Jani, aku mikir 2 hal aja, naksir Jani atau yaa gitu deh😁
Novel Disonansi karya Edith PS yang menceritakan kehidupan seorang wanita setelah ditinggal pergi meninggal oleh suami yang paling dicintainya. Kehidupan pernikahan yang bahagia sungguh dirindukannya, hingga membuat keterpurukan dalam hidupnya. Dan kini wanita malang ini hanya bisa menyesali segala yang terjadi. Wanita malang ini bernama Rinjani. Dan dalam novel ini akan diulas apakah Rinjani bisa keluar dari ketidaknyamanan hidupnya seperti judul Novel yang disajikan oleh penulis. Sepeninggal suaminya, Andre. Rinjani benar-benar berubah. Tubuh, tingkah laku, pemikiran, serta hati bukanlah seorang Rinjani dahulu. Namun, dalam kesulitan ini Rinjani banyak mendapat dorongan dari orang disekitarnya untuk bangkit dari keterpurukan itu. Rinjani mencoba memberikan rasa nyaman pada setiap penempatan dirinya.
Rinjani mulai bangkit dengan bantuan lari marathon. Namun, ada saja yang mengusik kenyamanannya. Kiriman surat tak bernama yang selalu memojokkannya, membuat rasa khawatir dan cemas kembali muncul di diri Rinjani. Surat tak bernama itupun terus datang kepada Rinjani. Membuat Rinjani semakin yakin bahwa pengirim surat tersebut adalah selingkuhan mendiang suaminya. Hingga Rinjani mendapatkan celah untuk mengetahui pengirim surat tersebut. Rinjani tak gentar dan penasaran semakin melingkupinya. Saat sang pengirim diketahui olehnya, Rinjani menjadi bingung. Sebab sang pengirim adalah seorang laki-laki yang sedang lemah duduk di kursi roda di rumah sakit. Rinjani mencoba tidak menghiraukan apa yang sudah diketahuinya saat ini.
Kini Rijani mulai kembali berlari marathon. Namun, rasa penasaran akan kebenaran suaminya, membuat Rinjani kembali mendatangi rumah sakit laki-laki tersebut. Rinjani meminta penjelasan dari Laki-laki itu, agar semua kebenaran terungkap. Ternyata laki-laki ini adalah penyidap AIDS yang kehidupannya dibiayai Andre dahulu. Atas kebaikan suaminya, Laki-laki pesakitan ini pun empati dan mulai menyukai Andre. Kebenaran yang menyakitkan bagi Rinjani, sebab berburuk sangka kepada suaminya. Tentunya bangkitnya Rinjani disebabkan lari marathon dan Okto. Kini Rinjani mendapatkan kehidupan yang lebih baik, lebih menarik, dan ia bertekad akan tujuan yang akan dicapai dalam kehidupannya, yaitu hidup dengan nyaman. Akhirnya, Rinjani kembali menemukan kebahagiaannya dan berhasil keluar dari ketidaknyamanan tersebut.
Novel ini adalah bentuk representasi dari kehidupan sosial. Bagaimana suatu hubungan suami istri terkadang memiliki masalah berupa saling curiga memiliki kekasih di antara prenikahan yang sudah dijalaninya.
Novel ini merupakan salah satu novel yang memberikan amanat berupa untuk selalu maju jangan sampai terpuruk saat sekali jatuh. Melalui lari marathon, tokoh Rinjani kembali melalui hidupnya setelah ditinggal meninggal oleh sang suami
Dalam novel ini, terdapat pula amanat mengenai hubungan timbal balik, bila menanam kebaikan akan memetik kebaikan pula diakhirnya. Dan sebagai manusia harus senantiasa menghargai dan menolong orang yang membutuhkan
Disonansi adalah metropop kedua setelah Falling yang berhasil mengisi rak bukuku. Tapi kali ini aku sedikit kecewa dengannya (baca : buku ini). Okelah. Di awal aku memang cukup terpukau dengan kepiawaian penulis dalam memaparkan kisah Rinjani. Bagaimana keadaannya di kantor sepeninggal suaminya tercinta— Andre, lingkaran pergaulan dengan sahabatnya— Abbas dan pertemuannya dengan salah seorang penggiat olahraga lari Indorunner— Okto. Sampai di sini aku masih bisa terima.
Tapi kemudian, setelah Rinjani membawa kisahnya pada surat-surat misterius yang cukup membuatnya gusar bahkan cemburu pada mendiang suaminya, dan lari yang mulai ditekuninya hingga berniat mendaftarkan diri di Bromo marathon— aku mulai merasa kisahnya tak berarah dan cenderung lamban. Banyak bagian penting kisah yang harusnya meninggalkan kesan pada pembaca hanya terasa tidak lebih dari basa basi belaka, hambar.
Diceritakan dengan sudut pandang Rinjani memang menjadi nilai tambah novel ini. Dan dengan beberapa kutipan menarik cukup membuatku bersedia dengan senang hati menyelesaikan kisahnya. Meski ending yang disuguhkan belum bisa meninggalkan kesan berarti, karena aku merasa karakter tokoh dan chemistry keduanya belum bisa kuselami secara dalam, walau begitu aku cukup puas dengan keseluruhan sajian Edith PS ini. Kemungkinan besar karyanya akan jadi salah satu buruanku kedepannya. Sebab aku merasa skill penulis satu ini ada untuk itu— untuk menuliskan kisahnya lebih daripada ini.
Dan perlu kalian tahu, aku tidak menyesal sama sekali memiliki novel ini🥰
Garis besar cerita: novel ini menceritakan kisah ttg rinjani, perempuan pekerja, profesional yang jago dibidangnya, blak blak an, modern, dan tangguh. Rinjani berduka selama lebih dari setahun krn suaminya meninggal secara mendadak. Suami yg lovable dan sangant mencintainya.
Karakter: rinjani, andre deceased husband, abbas and tata-bestfriend, okto future lover, ian-ga seru kalo diceritain harus baca sendiri, dan bbrp pemain tambahan seperti ibu, ibu mertua, bu karen, petugas medis, perawat, dll.
Alur cerita: maju mundur asikkk... Konflik: konflik rumah tangga yang diceritakan secara flashback. Konflik marathon yang diceritakan secara detil.
Kesan: novel ini menceritakan tentang definisi cinta, definisi hidup. Membuat saya lebih memaknai kehidupan dan rumah tangga dengan kedewasaan. Bahwa cinta dan hidup dan bahagia adalah ultimate maturity... kebebasan... releasing... Gaya bahasa novel cenderung simple ga neko, meskipun disisipi bahasa bahasa filosofis. Namun, mudah dipahami dan dicerna. Yang saya suka, detil dari kejadian marathon. Saya ikut ngos ngos an, ikut tegang 😅😅😅 Kayaknya gitu aja reviewnya...
Buku kedua Edith yang saya baca. Kali ini tentang mengikhlaskan kepergian orang terkasih, yaitu suami dari Rinjani, Andre. Memang butuh waktu yang gak sebentar agar bisa merelakan suatu kepergian, berbeda-beda tiap orang, waktu akan sedikt demi sedikit membantu untuk itu, juga kehadiran dan dukungan orang-orang terdekat pastinya.
Tentang kepergian ini dibalut dengan cerita hobi lari yang akhirnya digeluti Rinjani. Hobi yang sekarang banyak banget digandrungi para kaum urban, yang sampe ikut lomba lari hingga ke luar negeri. Saya jadi banyak tau soal lari, perintilannya, istilahnya dari cerita hobi barunya Rinjani dan kawan-kawannya ini. Penasaran juga karena ada sebuah cerita tentang rahasia Andre yang baru diketahui Rinjani setahun setelah kepergiannya.
seru. jadi lebih banyak tau tentang olahraga lari yang ternyata tak sekadar lari aja. apalagi di tengah cerita muncul sosok misterius yang mengganggu Rinjani sebagai tokoh utama. juga mengusik insting aku sebagai pembaca yang sibuk menebak-nebak apa yang akan dilakukan sosok misterius itu terhadap Rinjani.
hanya kadang suka bingung aja sih saat baca ini tentang waktu sekatang atau sedang flashback.
cukup asik karena dapet pengetahuan baru tentang olahraga lari. tapi untuk penggunaan bahasa dlm dialognya, beberapa kata terlihat kurang 'gaul'/'informal' utk percakapan yg sejak awal sudah dibangun dgn nuansa akrab. selain itu, kadang perpindahan antara masa kini & ingatan masa lalu agak terasa 'tiba-tiba', hingga membuat sedikit bingung. but the rest is good, so novel ini msh cocok buat yg pengen nyantai aja bacanya, mengalir semilir seperti sejuknya angin Gunung Bromo~
Kata 'disonansi' terdengar asing di telinga, tapi tidak terlalu berpengaruh karena pertama lebih fokus membaca sinopsisnya. Beberapa bulan belakangan ini memang sedang menekuni olahraga lari, alhasil penasaran dengan buku ini karena Rinjani mulai sedikit merubah hidupnya semenjak berkenalan dengan olahraga ini. Overall, aku suka dengan watak Rinjani tapi jujur ceritanya cenderung datar.
Rinjani selalu dihantui kenangan mengenai Andre, suaminya yang udah meninggal. Sampe-sampe kerjaannya jadi kacau. Tapi akhirnya, sahabatnya mengajak dia buat lakuin hal positif, olahraga lari.
Awalnya sih Rinjani ga kuat, lari-lari begitu. Tapi lama-kelamaan, dia enjoy juga. Apalagi ketemu pegiat lari yang keceh badai dan punya toko lari gitu.
Di sini, gue sadar kalo lari ga semurah sebayangannya, cyin. Mungkin Kak Edith juga suka lari ya, makanya tau soal printilan lari gitu. Ya secara gue ga demen olahraga. Demennya ngemilin makanan! Wakakaka.
Yang buat seru, si Rinjani ini selalu dapet surat dari orang yang ngaku cinta sama suaminya yang udah meninggal! Tapi kan Andre ga mungkin selingkuh.... Dan benar aja. Jeder aja pas tau siapa si pengirim surat.
Lumayan suka sama ceritanya deh. Isi waktu senggang liburan begini *liburan? Apa lu kate dah Rei*
disonansi bercerita tentang sosok rinjani yang terus-menerus dihantui kenangan akan suaminya yang sudah meninggal. abbas, sang sahabat yang prihatin dengan kondisi Rinjani berinisiatif mengajak Rinjani mengikuti olahraga lari bersama dirinya dan kekasihnya. meski awalnya ogah-ogahan, lama kelamaan Rinjani mulai menikmati aktivitas lari yang dilakukannya. melalui lari juga, rinjani berkenalan dengan oktober bayu, seorang penulis yang juga suka berlari. membaca novel ini mau tak mau mengingatkan saya akan film mari lari namun dengan premis berbeda.
Ini buku kedua yang masa bacanya paling lama :D Entah kenapa mood baca tiba tiba menghilang.
Dari sinopsis nya lumayan keren, tapi agak di luar ekspetasi sih. Cerita kematian suami tercinta dan istri yang susah move on tapi akhirnya move on juga. Kisah cinta Rinjani dan Okto kurang greget, karena kesannya gampang aja gitu dapetnya. Tapi kalau dipikir-pikir perempuan yang terlalu terjebak sama suami yang udah meninggal juga bakal ilfeel in. Udah oke sih, tapi kalo buat aku kurang greget aja cara menakluk kan perempuan seperti Rinjani yang punya masa lalu ditinggal mati suami.
suka banget dengan filosofi2nya tentang lari, baca ini jadi pengen nyobain lari juga *padahal udah gk kuat* :)) selama ini ngira olahraga lari hanya sekedar tren semata, tapi ternyata ada maknanya juga bukan sekedar lari saja :) suka dgn quote " hidup itu kyk lari, bukan lari dari kenyataan, tapi lari menuju kenyataan"
berhenti menggerutu, berhenti terlalu mencemaskan ketidakpastian, dan berheti menoleh kebelakang. Karena tujuan akhir terlalu menggiurkan untuk menghentikan langkah sekarang
Actually the main story is nice and simple. However Edith had added a lot of additional stories coming from each character that burden this thin books. So you will get a unsettled feelings once you face the last page.