Jump to ratings and reviews
Rate this book

3

Rate this book
Novelisasi film 3 karya Sutradara Anggy Umbara.

Alif, Lam, dan Mim. Tiga sahabat seperguruan yang menjalani hidup berbeda sejak Indonesia menjadi negara liberal. Alif teguh sebagai penegak hukum. Lam berkarier sebagai wartawan, memaparkan kebenaran sebagaimana yang dilihatnya. Mim tetap setia di padepokan, meski Indonesia mencurigai mereka yang beragama.

Satu demi satu konflik bergulir. Dalam situasi genting, garis antara kawan dan lawan mengabur, dan mereka bertiga harus terus berjuang demi negara, keluarga, dan sahabat yang mereka sayangi...

232 pages, Paperback

First published September 28, 2015

6 people are currently reading
55 people want to read

About the author

Primadonna Angela

50 books374 followers
Call her Donna or Angela, she might respond with a smile. This Indonesian writer divides her time juggling to make ends meet, writing, balancing her attention between her partner (Isman H. Suryaman) and children, managing the household, and of course, occasionally sipping earl grey tea to keep her sane. She has written twenty books so far, popular fiction, in Gramedia Pustaka Utama (GPU). Her newest book, Candrasa, is published in August 2017.

Her passion for new experiences propels her to seek new chances to meet more people. Enthused for fresh inspirations, she longs to join multicultural events, collecting data and broadening her horizon.

She claims to be unique, independent and strong. She dreams and imagines a lot. "But what is love, and what is life, if you do not let yourself live?"

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
12 (36%)
4 stars
11 (33%)
3 stars
7 (21%)
2 stars
3 (9%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 13 of 13 reviews
Profile Image for Nisa Rahmah.
Author 3 books105 followers
June 28, 2016
Novel ini bercerita tentang situasi dan kondisi Indonesia tahun 2034, di mana saat itu Indonesia menjadi negara liberal, pancasila sudah diubah menjadi catursila--sila pertama tentang ketuhanan sudah dihapus. Tidak boleh ada simbol agama di mana pun. Terorisme dijadikan ancaman ketahanan negara, meskipun ternyata ada skenario besar untuk menyerang satu golongan tertentu.

Teror bom yang akhir-akhir ini marak di Jakarta, membuat banyak pihak gempar. Kepolisian melakukan misi untuk mengungkap aksi terorisme ini, media mengusut kebenaran yang tidak terungkap dalam kasus ini. Sementara itu, tuduhan tentang otak di balik kejadian ini dialamatkan ke Pesantren Al Ikhlas.


Alif
Menjulang ke atas, tegak, tanpa memiliki liukan sana-sini. Tegasnya tidak bisa ditawar-tawar. Kukuh dan teguh dalam menjalani hidup. Seperti huruf hijaiyah pertama, Alif adalah pionir. Dia seorang pemimpin. Dan sebagai pemimpin, dia harus berani menegakkan kebenaran. --- Halaman 7

Alif adalah seorang penegak hukum. Karena kepiawaiannya menyelesaikan target operasi kepolisian, dia mendapatkan posisi yang cukup tinggi meskipun di atasnya masih ada petinggi-petinggi lainnya. Alif mempunyai kebiasaan untuk menyantuni istri atau keluarga korban target operasinya. Dengan bantuan Herlam, ia mendapatkan akses informasi tentang keluarga korban tersebut.

"Ini, Lam!" Alif menggenggam foto-foto itu sampai terancam remuk. "Ini yang bikin gue tetap waras! Ini yang ngejaga gua supaya tetap punya ini...!" Alif menunjuk-nunjuk dadanya. --- Halaman 47

Suatu saat, dia menemukan sebuah fakta bahwa keluarga salah satu korban ternyata adalah Laras, mantan kekasihnya tiba-tiba saja menghilang dua belas tahun lamanya. Ternyata, perasaan yang dulu masih tetap ada. Banyak hal yang belum selesai.

Alif mendapatkan sebuah pesan untuk menemui Laras di suatu tempat, Candi Cafe, tempat Laras bekerja sebagai pramusaji. Di sana, Alif mendapati sekelompok orang berpakaian seperti santri yang ditolak masuk ke dalam kafe tersebut. "NO RELIGIOUS TALKS, NO RELIGOUS OUTFITS." Begitu tulisan peringatan di kafe itu. Namun, sesuatu tidak terduga terjadi, bom meledak di tempat itu.

Alif ditugaskan untuk menyelidiki kasus itu.


Lam
Huruf hijaiiyah Lam membentuk kurva, melengkung. Dia tetap tegak, namun dia luwes. Dia fleksibel. Lam menunjukan seseorang tetap bisa memegang prinsip sekaligus baik hati dan pemurah pada sesama. --- Halaman 87

Herlam adalah seorang wartawan yang idealis. Herlam memiliki seorang istri bernama Gendis dan anak SD yang bernama Gilang. Anaknya yang cerdas mewarisi bakat d bidang IT yang diajarkan oleh Herlam.

Meskipun negara ini menganut paham liberalis, yang mengedepankan kebebasan, namun tidak ada yang namanya kebebasan dalam beragama. Banyak hal yang berhubungan dengan dunia jurnalisme yang seolah "diatur" oleh kepentingan tertentu. Banyak kasus yang ingin ditangani secara objektif oleh Herlam, namun ketika adaberita-berita yang sensitif, Herlam justru ditugaskan untuk meliput berita di daerah.

Saat kejadian pemboman terjadi, pihak kepolisian membuat press release yang terkesan terburu-buru, tanpa ada penelitian lebih lanjut. Mereka menyatakan bahwa Pondok Pesantren Al-Ikhlas adalah otak dibalik serangan ini, karena ditemukan parfum yang menjadi ciri khas pesantren itu.

Herlam memiliki kecurigaan tentang kasus ini, dan diam-diam ia menyelidikinya sendiri.


Mim
Mim, huruf hijaiyah yang membentuk lingkaran. Menandakan kesempurnaan. Manusia bisa dikatakan mendekati sempurna kalau dia menerima dirinya sebagai insan yang tunduk di hadapan Tuhannya, kalau dia ikhlas hidup dan matinya hanya untuk Allah semata, kalau yang dia cari dalam hidupnya adalah keadaan berpulang pada-Nya dalam keadaan husnul khotimah. --- Halaman 143

Berbeda dengan kedua kawannya yang lain yang memilih karir di luar pondok, Mimbo bertekad untuk meneruskan perjuangannya di pondok pesantren yang membesarkannya sewaktu kecil.

Di tengah prasangka yang negatif terhadap agama terutama Islam, kehadiran pondok pesantren ini menjadi ancaman bagi orang-orang yang mempunyai kepentingan. Mimbo membantu KH Mukhlis yang merupakan pimpinan pondok pesantren ini. Di sini, mereka tidak hanya belajar agama saja, namun juga beladiri. Di tempat ini pula dulunya Alif, Lam, dan Mim dibesarkan dan belajar banyak hal.

Peristiwa pemboman yang terjadi di Jakarta akhir-akhir ini dialamatkan pada pesantren ini sebagai pihak yang bertanggung jawab.

Sampai di satu masa, ketiganya yang merupakan kawan, dihadapkan pada posisi sebagai lawan.

***

Saya teringat dengan sebuah pertanyaan di buku Bulan Terbelah di Langit Amerika; Would the world be better without Islam? Di novel ini, mungkin akan muncul pemahaman yang sama meskipun dalam lingkup yang berbeda; Apa yang terjadi dengan Indonesia tanpa agama?

Sebuah penggambaran distopia futuristik yang mencengangkan, karena deskripsi yang ada di novel ini melekat sekali dengan keadaan Indonesia. Dan, mau tidak mau, saya harus mengakui bahwa ada banyak hal yang terjadi saat ini, yang mungkin saja akan terjadi sepuluh-dua puluh tahun ke depan. Miris, benar-benar miris pokoknya.

Jadi, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi apabila sila pertama "Ketuhanan Yang Maha Esa" dihapuskan dan pancasila hanya menjadi catursila? Indonesia akan menjadi negara liberal. Semua simbol agama dihapuskan, tidak ada lagi yang boleh berbangga diri dengan atribut agama yang dikenakan. Tidak boleh berhijab, tidak boleh mengenakan kalung salib (untuk umat Kristiani). Banyak rumah ibadah yang beralih fungsi menjadi gudang. Ini sebenarnya bukan hal yang baru. Saya jadi teringat berita yang lumayan marak beberapa waktu lalu di Perancis, atau kisah pelarangan hijab di Turki sebelum era Erdogan berkuasa. Saya memang lemah dalam hal politik atau berita luar negeri, tapi cukup mengetahui berita-berita itu di permukaannya saja. Membayangkan hal tersebut terjadi di Indonesia rasanya..., naudzubillah, semoga tidak terjadi.

Novel ini membuat imajinasi berkelana untuk membayangkan bagaimana jadinya jika itu memang benar-benar terjadi. Sekarang saja, banyak tanda-tanda yang mengarah ke sana. Misalnya tentang media yang digunakan pihak tertentu untuk melancarkan propaganda, bias terjadi untuk mengetahui mana yang benar mana yang salah, dan beberapa peristiwa (terorisme yang dialamatkan kepada Islam, pelarangan hijab, atau upaya menggagalkan perda syariah di wilayah-wilayah tertentu). Serem banget ya Allah.

Dan saya juga penasaran pada akhirnya, mengapa film ini begitu cepat turun layar di bioskop-bioskop Indonesia. Apakah benar karena sepinya peminat atau....

Sebenarnya novel ini saya beri rating 3,5. Tapi karena saya ingin banyak orang membaca dan tertarik dengan buku ini, jadi saya bulatkan bintangnya ke atas.
Profile Image for Launa.
242 reviews51 followers
July 15, 2020
Buku 3 ini merupakan novel yang diadaptasi oleh Primadonna Angela dari film berjudul sama karya sutradara Anggy Umbara. Buku 3 menceritakan tentang peristiwa yang terjadi di Jakarta pada tahun 2034. Di mana agama mulai ditinggalkan karena dianggap memicu kekerasan dan menghalangi kebebasan. Pun dianggap membatasi ideologi dan menjadikan penganutnya fanatik sekaligus hanya menganggap diri mereka yang benar. Agama tidak lagi dianggap perlu oleh Negara dan sila kesatu Pancasila telah dimusnahkan. Pada tahun tersebut pula kisah tiga sahabat, yaitu Alif, Lam dan Mim dimulai.

Ketika semua padepokan bela diri di Nusantara ditutup, dan ketika guru mereka yaitu Astaroth pergi meninggalkan padepokan, Alif, Lam dan Mim memiliki keputusannya masing-masing mengenai masa depan. Alif yang ingin negara menjadi aman dan damai memutuskan untuk menjadi penegak hukum. Lam yang ingin masa depan yang lebih baik memutuskan untuk menyebarkan kebenaran dengan cara menulis tentang kebenaran. Dan Mim yang ingin mati dalam keadaan husnulkhatimah memutuskan untuk mondok di sekolah KH Mukhlis. Ia ingin menyebarkan kebaikan melalui agama.

Setelah membaca habis buku ini saya baru bisa menyimpulkan keseluruhan cerita di dalamnya. Semakin ke belakang, satu per satu potongan 'puzzle' yang berantakan dan terpecah-pecah menjadi lengkap. Barulah saya bisa menangkap pesan yang tersirat di dalamnya. Sungguh cerita yang mencerahkan dan membuka pikiran saya terhadap banyak hal. Dugaan yang sempat terpikirkan oleh saya saat membaca bagian-bagian awal, semuanya terkuak di bagian akhir cerita. Alurnya benar-benar enggak bisa ditebak dan ceritanya enggak terduga! Cuma satu yang saya sayangkan, yakni ending-nya yang kurang greget dan masih ada rasa penasaran dalam diri saya yang belum terjawab.

Dibandingkan dengan karya Primadonna Angela yang lainnya, buku "3" ini tentunya beda banget. Genre sudah jelas beda. Buku ini berisi tiga genre, yaitu action, drama dan religi. Gaya bahasanya pun terasa bedanya, tapi tetap mudah dimengerti. Meski di beberapa bagian lebih banyak narasinya, tapi enggak membosankan. Primadonna Angela memaparkan setiap peristiwa dalam buku ini dengan sangat baik. Ia mampu membuat saya membayangkan kejadian-kejadian yang terjadi seolah-olah saya berada di sana. Nyata banget!

Buku 3 mengajarkan saya bahwa enggak semua yang kita lihat atau dengar itu benar. Juga mengajarkan untuk berhati-hati dan jangan mudah mempercayai apa yang kita lihat atau dengar sebelum mencari tahu dan memperoleh info yang jelas. Buku ini tentunya menarik untuk dibaca karena isinya bukan cuma tentang persahabatan Alif, Lam dan Mim, tetapi juga tentang keluarga, pekerjaan, mereka yang beragama sekaligus kehidupan.

Full review: http://bit.ly/1NXtd4z
Profile Image for Rahmadiyanti.
Author 15 books175 followers
September 1, 2021
Kok saya kuper banget ya, baru tahu ada adaptasi novel dari film 3 (Alif Lam Mim) yang sempat heboh itu? Sebagai seorang "sintingbuku" ini memalukan :D. Baru tahu ada novel ini saat ada promo di salah satu toko buku online. Langsung beli deh.

Buku ini bagus dan relevan banget dalam kondisi sekarang. Bagus dibaca, apalagi oleh mahasiswa.

Berkisah tentang 3 sahabat perguruan: ALIF, HerLAM, & MIMbo, yang memilih jalan berbeda. Alif seorang polisi idealis, anggota Detasemen 38:80-83, antisogok dan tak kenal ampun dengan penjahat. Lam, jurnalis di Libernesia. Dan Mim, guru di Pesantren Al Ikhlas.

Cerita bersetting futuristik, Jakarta tahun 2034 (apa 2036 ya? 😁). Dasar negara saat itu Catursila. Tidak ada sila Ketuhanan yang Maha Esa. Agama menjadi urusan pribadi masing-masing warga negara. HAM dijunjung tinggi, di mana salah satu perwujudannya polisi dilarang menggunakan kekerasan dalam mengamankan negara. Penggunaan peluru tajam haram hukumnya, hanya boleh peluru karet.

Ledakan bom di sebuah kafe menjadi pemicu yang "mempertemukan" kembali Alif, Lam, dan Mim. Konflik cerita makin menajam karena tuduhan terorisme mengarah pada Kiai Mukhlis dan Pesantren Al Ikhlas.

Kenapa buku ini relevan dengan kondisi sekarang dan mungkin bertahun-tahun mendatang?
1. Tentang narasi besar liberalisme yang sering kali jadi mantra global.
2. Tentang terorisme & radikalisme, yang juga jadi mantra global. Kesenggol dikit radikal radikul.
3. Tentang paradoksal HAM
4. Tentang sekularisme
5. Tentang rekayasa sosial

Terkesan berat ya isu-isu yang dibahas? Tenaang, meski berat tapi karena dikemas dalam bentuk fiksi, jadi asyik banget dibaca. Plot twist ya juga bikin "Ooo...". Tabik untuk penulis skenario & penulis buku yang telah mengadaptasi dengan baik.

“Saya tidak membenci agama… tak ada dari kami yang benci. Kalau kami ingin menghancurkan agama, mudah saja. Pasti sudah kami lakukan sejak dulu. Justru kami mendukung keberadaan agama, terutama militannya! Mainan kami itu. Bikin sekte di sana, militan di sini. Kami menciptakan sebab… dan mendapatkan akibat. Itulah yang kami lakukan. Sejak ratusan lalu. Kami membutuhkan musuh dan perang!”
Profile Image for Zora Zolla.
188 reviews5 followers
January 24, 2024
Sumpah keren banget ceritanya!!!😍👍
Setelah namatin baca novel ini, ku segera deh berburu filmnya di y**t***.
Sambil nungguin selesai terdownload semuanya,iseng kepoin di i*s**g**m...ternyata banyak banget spoiler & yg nunggu² kehadiran film ini, dan yg bikin ku penasaran itu...ama tulisan kecaman dari pemerintah!

W.O.W

Bagi yg suka film action, wajib masuk list ini judul cerita.

[ASLI KAYAK BISA MASUK KE MASA DEPAN INDONESIA 20-15 TAHUN KE DEPAN]
Profile Image for Shelly.
Author 2 books44 followers
December 15, 2022
Jujur, saya nggak nyangka lho ceritanya sebagus ini. Asli. Ini juga pertama kalinya saya membaca tulisan Kak Primadonna Angela. Dari sudut pandang saya yang belum menonton filmnya, somehow saya yakin Kak Primadonna ini memanglah penulis yang tepat untuk adaptasi film 3 (Alif, Lam, Mim). Hohoho.

Aksi? Keren.
Konflik? Oke punya.
Karakterisasi? Jelas dua jempol. Empat malah!
Alur cerita? Kuat dan sama sekali nggak membosankan.

Ini murni dari segi cerita ya. Novelnya cukup fast-paced dan deskripsinya juga pas. Buat saya sih nggak kecepatan. Saya yakin alur di filmya juga nggak jauh beda. Duh, penasaran banget deh dengan akting para pemerannya. Alurnya pun rapi—terbagi tiga babak yaitu Alif, Lam, dan terakhir Mim. Sulit untuk menetapkan tokoh mana yang paling favorit. Karakter ketiganya pun kokoh dengan background story masing-masing yang sama kuatnya. Alif si aparat hukum, Lam si jurnalis, dan Mim si pengurus padepokan. Ketiganya menguasai bela diri, tapi Mim yang paling menguasai bela diri dengan tenaga dalam (semua peluru karet yang ditembakkan ke dia sama sekali nggak mempan wkwkwk).

Nah. Mengingat Lam ini di awal cerita selalu berusaha menjaga supaya hubungan Alif dan Mim nggak bertolak belakang, saya sangat tersentuh dengan prinsip serta kisah Lam (juga keluarganya).

Terakhir, tentu saja kutipan favorit~


Cobaan akan selalu ada. Siapkah kita menerimanya? (hlm. 124)

Kata orang, waktu bisa menyembuhkan luka. Waktu bisa menumpulkan duka. (hlm. 41)

Bisakah masa depan ditata dari masa lalu yang dipenuhi derita? (hlm. 57)

"Alif dan Mim jangan sampai berada di posisi berlawanan." - Lam (hlm. 116)

"Jujur, aku takut menjadi istri yang membuat suaminya tuli, karena nggak bisa mendengar kata hati." - Gendis (hlm. 118)

"Lam, ajarin aku agar nggak bergantung sama uang. Ajarin aku agar nggak takut sama dunia." - Gendis (hlm. 118)



Bintang: 4,5/5
Profile Image for Fitria Wardani.
118 reviews3 followers
August 15, 2020
Saya tertarik baca novelnya karena belum sempat nonton filmnya dan tidak terlalu tertarik dengan filmnya eh ternyata dari buku ini malah ceritanya menarik ya.
Profile Image for Bunga Mawar.
1,356 reviews43 followers
November 13, 2015
Novelisasi dari film layar lebar dengan judul sama yang baru beredar bulan Oktober 2015 lalu. Saya sama sekali tidak terpapar promosi tentang film ini sebelumnya. Pastinya bukan karena saya sedang tinggal di dasar laut, ya, namun karena sepertinya promosi produsernya yang kurang rame. Ditambah saya sangat jarang nonton tivi, mungkin rata2 cukup satu jam seminggu. Kalau saya tahu pun, sepertinya saya tidak akan repot2 antre di bioskop. Sebab biasanya film Indonesia itu, menurut saya, banyak yang digarap dengan kedodoran. Banyak hantu2nya, atau latar ceritanya nggak nyambung, komedinya maksa, atau dramanya tidak masuk akal. Juga, banyak film Indonesia yang cepat sekali turun layar ke tabung kaca di tahun berikutnya, misalnya sebagai tontonan libur lebaran atau jelang tahun baru.

Jadi tentang film ini, saya tahu dari status beberapa teman di media sosial. Tidak banyak, hanya 3-4 orang, bukan teman2 akrab pula, namun mereka memberi jempol pada ide cerita film ini, sekaligus menyayangkan cepatnya film ini diturunkan dari layar tayang bioskop. Saya mulai sedikit penasaran, iya ya di Indonesia, sekarang ini bisa muncul film dengan tema agama bareng dengan aksi, namun tidak mainstream?

Sampai kemarin, saya sedang cari kado buat seseorang yang ulang tahun hari ini, dan menemukan novel ini. Rupanya pengarangnya mbak Donna, yang sudah saya kenal sejak zaman main Multiply tahun 2008 lalu (walau mungkin dia nggak kenal saya, hehe...). Selama ini saya tahu mbak Donna sebagai penulis yang sangat produktif, keterlaluan malah. Gimana enggak, masak hampir tiap tahun dia menerbitkan novel baru! Ih, novel saya musti keluar kapan dong? (curcol tidak pada tempatnya). Tapi setahu saya selama ini mbak Donna tu menulis buku2 teenlit, di antaranya adalah buku Big Brother Complex yang pernah saya baca. Nah, kali ini buku yang ditulis berdasar film action religi atau apa lah istilahnya. Sepertinya pasti tantangan berat. Jadi, mari kita baca bukunya.

Hasilnya, bintang 3 sodara2. Review lanjutannya kapan2 ya. Saya mau main dulu. Ke Cikareteg, di mana pun itu berada.
Profile Image for yanti.
117 reviews2 followers
January 25, 2016
Buku 3 merupakan novelisasi film yang berjudul sama. Filmnya telah rilis di Bioskop tanggal 1 Oktober 2015, dimana skenario ditulis oleh 3 umbara (Anggy Umbara, Bonty Umbara dan Fajar Umbara). Saya tertarik membaca novel ini, karena tema yang diangkat cukup kontroversial yaitu tentang Indonesia pada suatu masa tepatnya tahun 2034 yang menganut paham Liberal, dimana dasar negara tidak lagi pancasila, tetapi catur sila. Sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, dihilangkan. Agama dianggap sudah tidak penting dalam suatu tatanan negara. Ini sepertinya menjadi film atau novel bergenre dystopia Futuristic Indonesia pertama yang kubaca.

Review lengkapnya https://jendeladuniaku2015.wordpress....
3 reviews
January 17, 2016
Ini pertama kalinya saya membaca novel yang diangkat dari film. Tidak seperti biasanya, saat menonton novel yang difilmkan, saya selalu membanding-bandingkan filmnya dengan visualisasi dalam khayalan saya yang sering berakhir mengecewakan. Namun kali ini kebalikannya, novel ini melengkapi part-part film yang tidak sempat saya tonton dengan lengkap. Novel ini seolah menjelaskan, mempertegas dan mengabadikan kata per kata kalimat-kalimat yang memukau dari film ini.
Profile Image for Ruru.
47 reviews4 followers
November 5, 2015
Saya suka ide ceritanya, walaupun di novel jadinya terasa kurang. Menurut saya sih, kekurangan terbesar karena film ini lebih banyak adegan berantem. Nulis adegan berantem emang susah sih supaya terasa tegangnya, jadi ya kurang aja gitu.
Ada adegan yang kurang terbayang juga. Tapi overall, Mbak Donna udah bisa menggambarkan film ini dengan cukup baik :)
Profile Image for Oni.
661 reviews11 followers
February 15, 2016
"..waktu tidak bisa mengobati rasa sakit..kadang malah mempertajamnya.."
too fast..tapi tapi..silakan baca sendiri..
Displaying 1 - 13 of 13 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.