Riwayat hidup Masa mudanya dihabiskan di Surakarta. Pada masa ini ia sudah menulis sejumlah karya yang dikirimkan ke majalah-majalah. Kesukaannya menulis ini berkembang saat ia menempuh kuliah di bidang bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Sejak tahun 1974 ia mengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia, namun kini telah pensiun. Ia pernah menjadi dekan di sana dan juga menjadi guru besar. Pada masa tersebut ia juga menjadi redaktur pada majalah "Horison", "Basis", dan "Kalam".
Sapardi Djoko Damono banyak menerima penghargaan. Pada tahun 1986 SDD mendapatkan anugerah SEA Write Award. Ia juga penerima penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003. Ia adalah salah seorang pendiri Yayasan Lontar.
Karya-karya Sajak-sajak SDD, begitu ia sering dijuluki, telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Sampai sekarang telah ada delapan kumpulan puisinya yang diterbitkan. Ia tidak saja menulis puisi, tetapi juga menerjemahkan berbagai karya asing, menulis esei, serta menulis sejumlah kolom/artikel di surat kabar, termasuk kolom sepak bola.
Beberapa puisinya sangat populer dan banyak orang yang mengenalinya, seperti Aku Ingin (sering kali dituliskan bait pertamanya pada undangan perkawinan), Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Akulah si Telaga, dan Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari. Kepopuleran puisi-puisi ini sebagian disebabkan musikalisasi terhadapnya. Yang terkenal terutama adalah oleh Reda Gaudiamo dan Tatyana (tergabung dalam duet "Dua Ibu"). Ananda Sukarlan pada tahun 2007 juga melakukan interpretasi atas beberapa karya SDD.
Berikut adalah karya-karya SDD (berupa kumpulan puisi), serta beberapa esei.
Kumpulan Puisi/Prosa
* "Duka-Mu Abadi", Bandung (1969) * "Lelaki Tua dan Laut" (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway) * "Mata Pisau" (1974) * "Sepilihan Sajak George Seferis" (1975; terjemahan karya George Seferis) * "Puisi Klasik Cina" (1976; terjemahan) * "Lirik Klasik Parsi" (1977; terjemahan) * "Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak" (1982, Pustaka Jaya) * "Perahu Kertas" (1983) * "Sihir Hujan" (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia) * "Water Color Poems" (1986; translated by J.H. McGlynn) * "Suddenly the night: the poetry of Sapardi Djoko Damono" (1988; translated by J.H. McGlynn) * "Afrika yang Resah (1988; terjemahan) * "Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia" (1991; antologi sajak Australia, dikerjakan bersama R:F: Brissenden dan David Broks) * "Hujan Bulan Juni" (1994) * "Black Magic Rain" (translated by Harry G Aveling) * "Arloji" (1998) * "Ayat-ayat Api" (2000) * "Pengarang Telah Mati" (2001; kumpulan cerpen) * "Mata Jendela" (2002) * "Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro?" (2002) * "Membunuh Orang Gila" (2003; kumpulan cerpen) * "Nona Koelit Koetjing :Antologi cerita pendek Indonesia periode awal (1870an - 1910an)" (2005; salah seorang penyusun) * "Mantra Orang Jawa" (2005; puitisasi mantera tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia)
Musikalisasi Puisi
Musikalisasi puisi karya SDD sebetulnya bukan karyanya sendiri, tetapi ia terlibat di dalamnya.
* Album "Hujan Bulan Juni" (1990) dari duet Reda dan Ari Malibu. * Album "Hujan Dalam Komposisi" (1996) dari duet Reda dan Ari. * Album "Gadis Kecil" dari duet Dua Ibu * Album "Becoming Dew" (2007) dari duet Reda dan Ari Malibu * satu lagu dari "Soundtrack Cinta dalam Sepotong Roti", berjudul Aku Ingin, diambil dari sajaknya dengan judul sama, digarap bersama Dwiki Dharmawan dan AGS Arya Dwipayana, dibawakan oleh Ratna Octaviani.
Ananda Sukarlan pada Tahun Baru 2008 juga mengadakan konser kantata "Ars Amatoria" yang berisi interpretasinya atas puisi-puisi SDD.
Buku
* "Sastra Lisan Indonesia" (1983), ditulis bersama Subagio Sastrowardoyo dan A. Kasim Achmad. Seri Bunga Rampai Sastra ASEAN.
Setelah novel "Hujan Bulan Juni" yang ternyata kurang memenuhi ekspektasi, SUTI berhasil memberikan penghiburan walau agak-agak terasa aroma Ahmad Tohari dengan lingkungan pedesaannya. Setidaknya, dalam SUTI, pembaca dibikin penasaran dengan nasib tokoh-tokohnya, dibuat merasa tentram dengan aroma lokal Solo-nya yang kental, serta ikut lega sampai di penghujung cerita. Tapi, siapakah yang bungsu dan siapakah yang sulung di akhir novel ini? Kunto atau Dewo? Yang penasaran bisa ikutan giveaway-nya di http://dionyulianto.blogspot.co.id/20...
"Perempuan muda itu yatim, dan itu mungkin sebabnya orang desa cenderung menerima sebagai hal yang wajar-sewajar-wajarnya kalau ada berita aneh tentangnya, meskipun mereka tentu juga tahu bahwa orang yatim tidak harus aneh tingkah lakunya." – halaman 5
Suti adalah perempuan muda yang tidak bisa diam. Karena tak mau dibilang tidak becus mengurus anaknya, Parni, ibu Suti, menikahkan Suti dengan Sarno, seorang duda yang kerja serabutan. Suti juga tidak punya pekerjaan tetap. Kemudian keluarga Den Sastro datang dari Ngadijayan dan menetap di desa Tungkal. Keluarga priyayi itu tinggal tak jauh dari pemakaman, tempat makam ‘keramat’ Pak Parmin berada. Suti dan suaminya menjadi orang-orang yang dimintai bantuan untuk mengerjakan apa saja.
Semakin sering berada di rumah tersebut, Suti lama-lama menjadi bagian dari keluarga itu. Dia kagum dengan kegagahan Pak Sastro sebagai kepala rumah tangga, kekuatan Bu Sastro dalam memperjuangkan keluarga, si sulung Kunto yang pintar, dan si bungsu Dewo yang nakal tapi berani. Dia juga mendapatkan hal-hal baru seperti film yang berbeda dengan pertunjukan wayang, lalu buku-buku dan lainnya. Lalu perlahan Suti merasa status ‘adik’ atau ‘anak bungsu’ yang kerap dikeluarkan Kunto dan Pak Sastro tidak lagi cukup.
--
Satu kata yang paling cocok menggambarkan Suti, rumit! Dari awal Suti sudah dipandang sebelah mata dan menimbulkan topik obrolan yang aneh-aneh. Kehidupannya semakin sibuk dengan keluarga Den Sastro. Dia punya konflik dengan keempat orang priyayi itu. Semuanya agak susah diselesaikan karena jika satu benang ditarik, benang lain akan ikut terbawa dan memperkeruh suasana. Pusiiing deh. Tetapi Suti ini perempuan yang menarik. Dia bisa bergaul dengan siapa saja, mudah beradaptasi dan memposisikan diri di situasi yang paling canggung sekalipun, dan kemampuannya menyerap hal baru cukup mengagumkan. Ketika pengetahuan baru muncul, Suti membandingkannya dengan pengetahuan lain yang sudah dia tahu sebelumnya dan langsung mengaplikasikannya pengetahuan gabungan tersebut dalam masalah di kehidupannya. Aku hanya berharap Suti bisa lebih terbuka kepada orang lain dan sehingga bisa mengambil keputusan yang lebih baik.
Walaupun masih memproses alur hidup Suti ini, aku rasa pengalaman pertama membaca karya SDD cukup menyenangkan. Yang paling aku suka adalah gaya penulisannya. Narasi yang mendominasi, tetapi sangat enak dibaca. Setelah membaca ulang beberapa bagian, aku menemukan banyak bagian yang ditulis sangat bagus untuk memperlihatkan karakter setiap tokohnya dan itu menimbulkan efek yang kuat. Masih sulit memilih siapa tokoh favoritku, Suti, Bu Sasro, atau Kunto. Drama tiga babaknya juga membantuku masuk ke cerita dan memperlihatkan naik turun perkembangan cerita dengan baik.
Karena judulnya Suti, maka fokus saya saat membaca novel ini adalah ke Suti. Tapi kok rasanya Suti ini kayak "alat" ya? Dia seakan-akan hidup hanya untuk memenuhi kebutuhan orang lain.
Dimulai sejak dia dikawinkan dengan seorang duda oleh ibunya, semata-mata kedok biar ibunya bisa kumpul dengan suaminya Suti. Trus Suti dipekerjakan di rumah keluarga Sastro, lagi-lagi hidupnya didalangi oleh Ibu Sastro.
Novel ini khas dengan nuansa desanya. Deskripsi tentang Solo di jaman dulu itu sering "mengambil" porsi alur cerita karena dituliskan dengan detail. Novel ini juga sarat dengan kontroversi sosial di masyarakat. Banyak hal tentang hubungan manusia yang dibahas, baik secara tersirat maupun tersurat.
Syukur novel ini tidak seruwet dan semenyebalkan novel Hujan Bulan Juni, novel ini lebih ringan dan dalam dalam mengulik hidup SUTI wanita jawa dari kalangan abangan yang ngenger di Rumah Bu Sastro. Wanita Jawa yang patuh pada tuannya, (hampir sama dengan nasib Pariyem-nya Linus) rela-serela-relanya. Mengabdikan diri, menyaksikan hidup dan belajar bagaimana orang priyayi itu belajar.
Hingga, perut Suti didiami janin NUR. Lantas siapa yang menyimpan pejuh di dalam rahimnya? APakah Pak Sastro yang dianggapnya sebagai Raden Kresno ataukah Kunto yang sangat dikagumi? Masih misterius.
Suti, si konyal-kanyil lugu yang terombang-ambing di antara keegoisan suami dan ibunya, dan cinta-cinta yang ditawarkan keluarga barunya. Cermin kehidupan ala priyayi desa di masa lampau. Sekilas ringan dan mudah dibaca, namun sebenarnya banyak fenomena sosial dan kritik budaya yg diangkat di dalamnya. Suka jg penggunaan pastiche, mulai dr kisah-kisah wayang, cerita rakyat sampai film koboi zadul, untuk menyederhanakan penyampaian kesan dan karakter tokoh-tokohnya.
setelah membaca novel Hujan Bulan Juni, ada kekhawatiran kalau saya akan mengalami hal yang sama saat membaca Suti, yaitu nggak akan "dong" sama ceritanya. tapi ternyata berbeda. bahasa di buku ini lebih ringan dan tidak ruwet. saya pun di buat penasaran dengan tokoh-tokohnya. cerita ini akan lebih mudah dipahami kalau kita mengerti dunia perwayangan or at least berinisiatif untuk googling. karena banyak hal dalam buku ini yang dikaitkan pak Sapardi dengan dunia perwayangan.
Cerita yang "ringan" bahasa yang "ringan" pula... Belum lama saya membaca Karya Pak Sapardi "Hujan Bulan Juni", dengan ekspektasi lebih pada "Suti". Overall asik juga. Sampai sekali bagaimana tokoh Suti ini " berperan " dalam keluarga Den Sastro.
Rada berbelit cara berceritanya. Suti dengan cinta segi berapa, entahlah. Dengan Pak Sastro, apa Kunto, apa Dewo. Yang pasti bukan sama Sarno. Aneh juga Sarno itu, menikahi Suti tapi dekatnya sama simboknya Suti wkwk. Bu Sastro itu ribet banget, apa-apa nanya mbah Parmin, yang tinggal nisannya aja itu. Kok ya betah nahan lama-lama rasa penasaran, anak Suti itu anak siapa. Apa suara mbah Parmin lebih dia percayai ketimbang nanya langsung ke bojonya, ke anaknya, apa ke Suti? Tak seperti ketika membaca Tango & Sadimin, aku susah memaafkan salah tulis Kunto sebagai bungsunya Bu Sastro. Mungkin karena ditulis dari sudut pandang Kunto yang jelas-jelas waras walaupun mungkin tidak sepenuhnya laki-laki.
Saya sangat menikmati cerita yang bernuansa desa di tahun enam puluhan. Narasinya bagus sekali, sampai-sampai saya terkagum dengan kemampuan Pak Sapardi membawakan cerita. Namun, beberapa bagian ada yang tidak saya sukai, seperti isi cerita banyak sekali hubungan terlarang. Antara suami Suti dan ibunya, Suti dan Pak Sastro, dan juga Dewi yang mencintai Ibunya sendiri. Plot twist nya emang ngena banget sih, yang sayangnya membuat saya kecewa akan alur cerita ini, tapi ya sudahlah.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Bacaan ringan yang cucok buat waktu senggang. Konfliknya nggak banyak dan nggak ruwet, meski menurut saya sih kemunculan konfliknya itu agak lama ya. Sekian bab pertama saya lalui ngerasa "ini mana..jadi konfliknya apa..." Tapi saya tetap bisa menikmatinya sih dengan alur cerita yang luwes dan tenyata twist ending-nya "wow". Scandal!
This book is wow...where do I begin. I mean it should be scandalous, however because of its familiar setting (in Java) and the flow and rhythm of the story it is told as if it’s a normal thing. It’s really messing with my head, a good story to read!
Ada beberapa kata jarang sy dengar, pdhl sy orang jawa asli lumayan untuk belajar bahasa jawa. Bu sastro terlihat halus tp kuat, sy malah kasihan dgn Suti
Suti hanyalah gadis kampung yang riang, penuh percaya diri, dan pemberani. Tidak pernah ada yang tahu siapa ayahnya. Ibunya bekerja di kota sebagai makelar. Di usianya yang sangat muda dia juga harus menikah dengan lelaki yang usianya terpaut jauh. Bahkan orang-orang di kampung, masih tidak percaya alasan Suti menerima suntingan itu. Suaminya bekerja serabutan. Terkadang ikut mertuanya ke kota.
Namun, dibalik wajah Suti yang selalu ceria, tak ada yang tahu jikalau Suti sebenarnya tidak begitu bahagia dengan Sarno. Dia harus menelan kenyataan pahit. Hingga sebuah keluarga priyayi pindah ke kampungnya. Sebuah keluarga yang membuat Suti nyaman berada di tengah-tengah mereka, bahkan Suti sudah dianggap sebagai anak sendiri oleh keluarga Den Sastro. Dari sanalah kehidupan Suti berubah lengkap dengan segala kerumitan dan konflik yang harus dihadapi.
Alur cerita dibawakan dengan perlahan, mengalir hingga akhir. Walaupun diselipkan bahasa jawa gak perlu khawatir bagi yang gak paham bahasa jawa kaya aku, karena ada penjelasannya di awal.
Karakteristik tokoh yang kuat di sini adalah Suti dan Bu Sastro. Suti yang friendly dan Bu Sastro yang bijak dan tegar.
Kelebihan novel ini adalah aku jadi tahu bagaimana perubahan zaman dari pra modern ke modern. Tentang gaya hidup dan pola pikir. Namun, konflik cerita kurang greget dan ada beberapa konteks yang menurutku terasa aneh walau sudah dicerna dengan teliti. Yah, mungkin otak-ku yang masih belum sejalan dengan gaya penulisan SDD. Tapi aku tetap menyukai karya-karyanya.
Bercerita tentang gadis muda bernama Suti yang dipaksa menikah oleh Ibunya dengan Sarno, lelaki yang diinginkan Ibunya. Disini Suti hanya dijadikan alat saja sebenarnya oleh Ibunya untuk mendapatkan Sarno.
Di sini juga menceritakan tentang keluarga priyayi Sastro (keluarga dimana Suti bekerja sebagai pembantu) dengan suami yang lenjeh dan kedua anak laki-lakinya Kunto dan Dewo. Tapi kadang ada salah penyebutan antara Kunto yang disebut bungsu padahal Kunto anak pertama yang harusnya disebut mbarep(dalam bahasa jawa) jadi waktu membaca saya dibuat mengernyit.
Sikap Suti juga agak plin-plan, yang awalnya menyukai Kunto, tetapi malah termakan rayuan Pak Sastro. Padahal keluarga Sastro sudah sangat baik dengan menganggap Suti sebagai anak angkat. Dan anehnya disini Suti adalah wanita yang sulit digoda lelaki, diperkuat dengan Dewo yang pernah menggodanya di kebon tebu tetapi gagal. Lha kok dia dengan mudahnya tergoda oleh Pak Sastro? hanya karena Kunto sedang meninggalkan rumah untuk studi di UGM.
Dan dengan tidak tahu dirinya setelah mengetahui Pak Sastro di Jakarta memiliki wanita lain. Suti kembali mengharapkan Kunto! ckckckckkc saya dibikin gemassss pemirsaaaaahhhh!!!!!
Intinya tokoh Suti itu disenangi semua orang, disenangi Dewo adiknya Kunto yang berandalan, dicintai Kunto yang awalnya tidak pernah ada ketertarikan pada perempuan hingga membuat Ibunya khawatir, disayangi Bu Sastro yang sudah menganggap Suti ini anaknya, dan di kasihi Tomblok sebagai sahabatnya.
Dan endingnya memang sudah tidak terlalu mengejutkan lagi... di awali dengan Suti menghilang lalu muncul lagi dengan membawa kejutan untuk semua orang tapi anehnya Bu Sastro sudah paham. Mungkin ikatan Ibu dan anak itu sudah terjalin kuat. hehe Untuk yang penasaran silakan membacanya :)
Oh iya! ada beberapa typo disini tapi masih termaafkan buat saya :)
Kisahnya nya dimulai dari Suti, perempuan konyal kanyil yang dinikahkan dengan Sarno. Yang sebenarnya hanya akal akalan ibunya untuk bisa seranjang dengan Sarno. Suti justru terlibat dalam hubungan yang rumit dengan keluarga priyai. Dengan pak Sastro, bu Sastro dan Kunto anaknya. Novel yang sangat menarik, novel yang setiap halaman nya, selalu membuat pikiran saya bertanya tanya, ending nya bagaimana. Terbukti, saya hanya butuh hitungan jam untuk menyelesaikan novel Pak Sapardi ini. Suti ini perempuan yang menarik bagi saya, hubungan nya dengan Kunto yang saya harapkan bisa sampai ke pelaminan. Justru tak terjadi, kunto memilih wanita lain, namun sebenarnya masih mengidam idamkan Suti. Suti sendiri, pergi entah kemana, ia dibawa pergi Ibunya sejak Suti muntah muntah. Sarno sendiri juga pergi ke tempat lain, entah kemana. Namun akhirnya semua jadi jelas di ujung akhir cerita. Suti mempunyai anak perempuan. Pejuh siapa yang ditanamkan di rahim nya? Silahkan pembaca mencari carinya sendiri. Selain Suti sendiri, karakter Bu Sastro serta Tomblok, yang karakter nya cukup membentuk cerita disini. Bu Sastro mengingat kan saya pada hakikat nya orang jawa, yang butuh pegangan selain agama, dan Bu Sastro memilih mbah Parmin sebagi pegangan itu. Selain itu sikap, bu Sastro yang legawa, tak perlu mempermasalahkan tentang anak Suti juga menunjukkan pada hakikat nya orang jawa.
Meskipun, saya sudah mencapai ending dari novel ini, saya masih mengharapkan Suti bisa kawin dengan Dewo, adiknya Kunto. Maka biarkan imajinasi saya sendiri yang meneruskan cerita ini. Saya kasih bintang 5, untuk novel ini.
Jika berasal dari Jawa, mungkin saya akan lebih dapat menikmati dan memahami novel ini.
Kisah sederhana tentang Suti dan pemikirannya yang lugu sebelum, saat, dan setelah mengenal keluarga Den Sastro, keluaga priayi yang menjadi majikannya.
Mungkin zaman sekarang sudah sulit menemukan wanita--meskipun gadis desa--yang memiliki pola pikir seperti Suti. Dengan latar yang dikisahkan secara apik, kita bisa merasa bahwa sikap nrimo Suti bisa jadi justru menunjukkan kekuatannya dalam menghadapi kehidupan.
Cara bercerita Pak Sapardi dalam novel ini pun menarik, jauh lebih menarik dari Hujan Bulan Juni. Jika kalian orang Jawa, suka dan paham wayang apalagi, maka kalian akan menemukan kenyamanan di novel ini.
Kekurangan: buku ini tanpa editor. Tentu perlunya editor bukan untuk mengganti diksi-diksi kedaerahan yang digunakan Pak Sapardi dalam novel ini, atau membakukan kata-kata yang memang sengaja digunakan versi tidak bakunya, melainkan untuk menghindari typo dan kekeliruan penyebutan, seperti desa Tungkal menjadi desa Tumbal. Atau Kanto yang tiba-tiba disebut si bungsu.
Dan istilah bahasa Jawa diletakkan di depan, tidak dijadikan footnote. Gerakan membolak-balik halaman demi memahami arti kata bahasa Jawa itu lumayan merusak ritme membaca.
sesederhana apa pun gaya penulisan Pak Sapardi, saya akan selalu menggemari karya beliau. mungkin karena saya sering satu pemikiran dgn beliau, sering setuju dgn opini2 beliau yg terselip dalam setiap cerita beliau. apalagi Pak Sapardi suka menuliskan karakter perempuan yg tidak "biasa" secara tradisi, seperti Suti ini (atau tokoh Sita dlm cerpen putar-balik di kumcer Pada Suatu Hari Nanti).
yang jadi masalah buat saya dlm membaca buku ini, dan akhirnya memaksa saya memberikan nilai "hanya" 3.5, adalah naskahnya yg terasa sama sekali mentah, seperti tidak diedit. banyak sekali typo dan kata-kata ganda. kalo boleh saya mau berpesan pada editor (siapa pun, di mana pun): jangan hanya karena seorang penulis sudah senior lalu tulisannya tidak diedit sama sekali, apalagi kalo penulis tersebut sudah sepuh. novel sebagus ini bisa jadi sangat kurang hasilnya.
Suti. Buku yang menarik, berlatar sebuah desa bernama Tungkal di pinggiran Solo. Walau bercampur Bahasa jawa, tapi membacanya tetep nggak mau berhenti. Saya seolah terjebak dalam kehidupan Suti di tengah keluarga priayi yang sudah menganggapnya seperti anak di keluarga itu. Konflik yang tercipta pun terasa mengalir apa adanya, antara Suti dengan semua anggota keluarga Sastro.
Cerita pun diakhiri dengan drama menyayat hati (ah ini hiperbolis). Nggak segitu menyayatnya sih, semuanya tersirat. Bagaimana pembaca menafsirkannya gimana. Istilah 'wanita perkasa' salah satu yang membuat saya tergelitik untuk menafsirkannya. Mungkin pembaca punya paradigma masing-masing.
Tertarik baca? yang enak sambil minum kopi ditemani suara rintik hujan, terus kita ngomongin Suti yang kesemsem sama anaknya Pak Sastro. :)
Novel ini bikin ketagihan, karena penasaran, dan banyak mengundang pertanyaan, sehingga lanjut terus bacanya tapi eeh sampai akhir kok nggak kejawab ya pertanyannya. Itu dia nggak kuberi bintang 5 karena ending-nya blawur alias nggak jelas, nggak jelasnya ttg apa ? Tentang ituuu loh, si Suti.. dan beberapa hal lain (nanti spoiler, baca sendiri aja) Tetapi ada kalimat yang mendukung dugaan ku ttg endingnya itu, ttg si Suti, ya jadi kuanggap endingnya tafsirannya begitu.
Good job, mr Sapardi !
Btw, meski aku bisa ngomong Jawa tp beberapa aku mesti liat ke kamus Jawa yg ada di hal depan krn nggak dong, mungkin gara2 Jawa ku jawatimuran sedang pak Sapardi jawatengahan ? Mungkin
Tiga setengah, seandainya saja Goodreads menyediakan pilihan itu. Karena tidak ada, dan kebetulan saya sedang suka membulatkan ke atas, maka empat bintang untuk Suti.
Ringan. Tak terlalu frontal. Sesekali harus menebak-nebak layaknya membaca sebuah puisi. Novel ini habis sekali teguk dalam perjalanan Yogyakarta-Sepinggan.
Meski demikian, saya suka peyimpangan-penyimpangan sosial yang terjadi pada tokoh-tokoh di novel ini, khas novel-novel sastra indonesia. Suti tidak seperti novel-novel populer yang kerap mengangkat hal-hal lumrah dan selalu berada pada koridor norma sosial. Dan, well, sejak dulu saya gemar tema-tema semacam itu. Semacam membuka wawasan saya, bahwa dalam tatanan masyarakat kita, memang terjadi hal-hal yang tidak biasa.
Ini novel pertama, Pak Sapardi yang saya baca. Saya cukup menikmati dan bahasanya ya cukup tidak biasa. Begitu pula alurnya, tokoh terkesan jalan semaunya tanpa paksaan pengarang. Daan, begitu pula endingnya, waw! Serasa makan krepes aja, kres, kres, kres (maksudnya apa?).
Intinya saya suka, dan sungguh saya saluut banget dengan Pak Sapardi. Meski sudah sesepuh itu, beliau masih konsisten menulis. Luar biasa! Sebuah teladan yang wajib diikuti oleh para (calon) penulis muda ya!
Setelah merampungkan novel "Hujan Bulan Juni", saya penasaran dengan novel-novel Sapardi lainnya. Saya ingin 'membaca' gaya berprosa Sapardi. Itulah salah satu alasan saya membeli novel "Suti". Menurut penilaian saya, Sapardi dalam berprosa masih jauh dari Sapardi dalam berpuisi. Sapardi belum matang di penulisan prosa. Seperti kesulitan merangkai kata-kata yang panjang. Sapardi kurang berani dalam penggambaran cerita dalam "Suti". Peristiwa-peristiwa masih terasa samar. Tidak dituntaskan hingga detil. Terdapat juga kesalahan logika dalam novel ini. Mungkin saya harus membaca novel "Trilogi Soekram" supaya bisa lebih memaklumi gaya berprosa Sapardi.
Masih dengan gaya penulisan yang sama khas SDD. Sederhana dan sarat makna, mengajak kita untuk masuk dalam kehidupan dengan aroma khas pedesaan, dibumbui beberapa kata-kata dari bahasa jawa yang artinya bisa kita lihat dalam daftar istilah dan kata. Menurut pembaca (saya) sopan santun dan besarnya rasa peduli masyarakat desa adalah salah satu pesan yang ditampilkan dalam buku ini. "sekolah tidak selalu memberikan sesuatu yang benar-benar dibutuhkan bagi yang rajin mengikutinya" hal. 45