Di bumi cendrawasih ini Anindita S. Thayf akan mengenalkan kita pada Mama Anabel. Perempuan tua yang sehari-hari di sapa Mabel ini dilahirkan tahun 1946 di Lembah baliem, jayawijaya. Perempuan Komen dari Suku Dani ini bekerja sebagai pedagang sayuran dan tinggal di satu rumah bersama Leksi cucunya serta Mace Lisbeth, orang tua Leksi sekaligus menantu Mabel. Di rumah sederhana itu tinggal pula dua ekor hewan peliharan. Kisah Mabel dalam Tanah Tabu adalah kisah orang Komen.
Tema tentang papua yang diambil Papua Anindita membuat novel ini menjadi sangat unik, karena belum banyak disentuh dunia kesusastraan indonesia. Apalagi, kisah yang diangkat bukan soal eksotisme alam dan budaya pulau ini, melainkan sebuah kisah kelam orang papua, serupa kulit mereka yang sehitam malam.
Tanah Tabu, yang dalam novel ini berarti tanah keramat dan harus dijaga atas nama leluhur demi anak cucu mereka, tidak lagi dapat mengelak dari kehancurannya, terutama ketika datangnya perusahaan asing yang mengeruk emas bumi mereka dengan rakus. Hutan mereka tidak lagi menghasilkan sagu, sungai mereka pun dipenuhi kotoran yang berasal dari perusahaan tambang. Kerusakan itu jelas membuat kehidupan orang Papua, yang selama ini sangat bergantung pada keramahan alam, menjadi kian sulit.
Meskipun perusahaan asing berlaba milyaran dollar per tahun ini telah datang dengan mengiming-imingi kekayaan pada orang papua, tapi itu taklebih hanya tipu daya, “kalau anjing setia pada tuannya dan kucing setia pada rumahnya, perusahaan di ujung jalan sana hanya setia pada emas kita. Tidak peduli apakah tanah, air, dan orang-orang kita jadi rusak karenanya, yang penting semua emas punya mereka. Mereka jadi kaya, kita ditinggal miskin. Miskin di tanah sendiri! (halaman 133)” Kata Mabel. Dan, yang lebih memprihatinkan, Perusahaan ini semakin melegitimasi kekuasaan kaum laki-laki papua atas kaum perempuan.
Dalam sebuah kelompok yang menganut sistem patriarki seperti di Papua, perempuan berada dalam kuasa laki-laki. Pada awalnya sistem ini muncul karena perempuan dianggap sebagai makhluk yang lemah dan harus dilindungi. Karena itulah hanya laki-laki yang boleh bekerja di luar rumah, termasuk di perusahaan emas, karena dunia di luar rumah adalah dunia yang penuh bahaya.
Namun, dalam prakteknya, alih-alih melindungi, laki-laki malah menjelma menjadi makhluk yang paling merasa berkuasa atas kaum perempuan karena telah menghidupi mereka. Dengan uang yang diperolehnya, laki-laki merasa berhak melakukan apapun. Alkohol, perjudian,dan pelacuran, yang datang seiring semakin meraksasanya perusahaan emas itu, membuat mereka semakin lupa daratan dan benar-benar menelentarkan keluarga, “Begitulah laki-laki...kekuatan dan kegagahan membuat mereka merasa sebagai penguasa.lupa diri sebagai manusia. Takingat bahwa sebagian darah yang ditumpahkan demi kelahirannya dan keringat yang mengucur saat mengurusnya adalah milik perempuan (halaman 194),” Kata Mabel.
Anindita tidak hanya menggambarkan penindasan oleh negara asing, tapi pun negara sendiri. Kedatangan orang-orang berseragam dan bersenjata kiriman negara Indonesia membuat orang Papua dirundung ketakutan karena selalu merasa diawasi. Belum lagi orang-orang berseragam ini kerap membuat aturan-aturan seenaknya dan wajib dituruti seluruh warga jika tidak ingin dihukum. Mace Lisbeth pernah mengalami taruma akibat perlakuan orang-orang berseragam itu.
Begitu pula janji-janji manis negara tentang hidup sejahtera yang disampaikan lewat partai yang penuh bualan, “Orang-orang itu sadarkah, tidak? Justru mereka yang bikin rakyat kecil jadi makin tertindas. Janji-janji saja. Omong kosong. Cih! Kalau benar mereka mau bantu, kenapa harus ada imbalannya?Kenapa pula harus tunggu sampai pilkada selesai? Memangnya mereka pikir perut ini bisa kenyang kalau hanya diisi angin? (halaman 182)” Tegas Mabel.
Namun, Semua pengalaman buruk itu tidak lantas membuat nyali Mabel ciut. Selama masih bernafas, ia akan terus tegar dan melawan penindasan kaumnya.
Novel yang ditulis dengan riset selama dua tahun tentang kehidupan papua ini benar-benar membuat cerita ini kaya data. Novel yang ditulis dengan etnografis ini berhasil membongkar ketimpangan sosial yang terjadi di Papua akibat perkawinan modal asing dan negara. Menariknya, novel ini tidak terasa sebagai tulisan yang mengobarkan kebencian dan provokasi, karena disampaikan lewat bahasa sastra.
Tanah Tabu menjadi semakin menarik lantaran sosok Mabel tidak digambarkan melalui mulutnya sendiri, yang dapat menimbulkan kesan angkuh, tapi melalui tiga narator yang unik, yaitu Pum, anjing tua peliharaan Mabel, Kwee yang juga seekor binatang peliharan, dan Leksi, cucu perempuan kesayangan mabel.
Pum adalah anjing berambut putih yang sudah mendampingi Mabel sejak ia kecil. Kemana pun mabel pergi, termasuk ketika tinggal di rumah keluarga Belanda dan berpindah-pindah tempat dari Mindiptana, Manokwari, hingga Wamena, Pum selalu ada di sampingnya. Mereka takpernah terpisahkan sampai pada ujung usianya. Di masa tuanya sekarang ini, Pum akan banyak mengisahkan ketegaran Mabel dalam menghadapi hidup yang penuh kerikil.
Sementara itu, Kwee juga akan menceritakan kisah mabel dan keluarganya. Tapi, dengan porsi yang tidak sebanyak Pum, karena usianya jauh lebih muda dan belum banyak menyerap pengalaman hidup. Kwee akan lebih banyak membanding-banding dirinya dengan Pum, yang dianggap suka sok menggurui. Sesungguhnya Kwee tidak terlalu nyaman berada dekat-dekat dengan Pum.
Lalu, ada pula Leksi. Usianya tujuh tahun dan baru masuk sekolah. Di usianya yang sudah senja sekarang ini, Leksilah yang menjadi harapan Mabel untuk meneruskan perjuangannya, “Ada saatnya seorang pejuang harus mundur... Tapi, bukan mundur untuk menyerah, melainkan mempersiapkan penggantinya. Aku menaruh harapan besar pada Leksi. Aku tahu ia mewarisi darahku. Darah seorang pejuang (halaman 62).
Untuk dapat meneruskan perjuangannya itu, mabel dan Mace memasukkannya ke sekolah formal, karena bagi Mabel senjata yang paling ampuh untuk melawan penindasan kaumnya bukanlah dengan senjata, melainkan pendidikan,“kalau ada orang yang datang kepadamu dan bilang ia aka membuatmu jadi lebih kaya, bantingkan saja pintu di depan hidungnya, tapi kalau orang itu ia akan membuatmu jadi lebih pintar dan maju, suruh dia masuk. Kita boleh menolak uang karena bisa saja ada setan yang bersembunyi di situ. Namun, hanya orang bodoh yang menolak diberi ilmu cuma-cuma. Ilmu itu jauh lebih berharga daripada uang, nak (halaman 30),” Ucap Mabel suatu hari.
Kesimpulan itu didapat Mabel ketika pernah diadopsi keluarga Belanda yang datang ke tanah kelahirannya. Keluarga inilah yang membuka wawasan Mabel melalui bermacam-macam buku bacaan. Meskipun, ketika Mabel berusia sekitar 14 tahun, keluarga itu terpaksa meninggalkannya karena harus kembali ke negara asalnya.
Tapi, tidak sepenuhnya Mabel menyerahkan pendidikan cucu kesayangannya itu pada pendidikan formal. Sebagai orang Papua, Mabel juga merasa perlu mengajarkan Leksi cara membuat Noken, tas rajut papua yang dibawa dengan cara digantung di atas kepala, “...Sejak jaman nenek moyang dulu, setiap perempuan tanah kita harus bisa membuat noken. Noken yang bagus dan kuat berarti kesuburan dan kemakmuran yang lebih baik bagi suku si perempuan. Sebaliknya, kalau kau tidak bisa membuat noken, itu artinya kau belum dewasa dan belum siap untuk menikah, (halaman 227)” Itulah nasehat Mabel kepada Leksi.
Seperti halnya Pum dan Kwee, Leksi yang memiliki rasa penasaran yang sangat tinggi terhadap hal-hal baru yang ditemuinya, akan menceritakan kehidupannya bersama Mabel dan Mace. Dengan menghadirkan tokoh anak-anak bersama bahasanya yang lugu, Anindita menyelipkan bumbu humor namun tetap kritis, sehingga tidak membuat kening pembaca mengerut ngeri sepanjang cerita.
Simaklah adegan Leksi terheran-heran sekaligus terpukau ketika bertemu seorang pemuda papua berkulit gelap, yang berdandan ala pendatang yang memakai celana pendek, kaos oblong, topi berwarna cerah, serta sepasang sepatu kulit. Pemuda yang dijumpai Leksi di pasar ini menunjukkan sebuah telepon genggam berkamera. Leksi langsung terheran-heran sekaligus terpukau melihat wajahnya ada di sebuah benda kecil yang aneh itu.
Namun, beberapa hari kemudian, ketika Leksi berjumpa dengan pemuda itu untuk kedua kalinya di pasar, ia tampak sangat lusuh dengan pakaian yang sama dengan kali pertama mereka berjumpa. Pemuda itu terbaring di teras sebuah ruko dengan beberapa botol minuman keras berserakan di sampingnya. Saat Leksi menanyakan foto dirinya, si pemuda tidak dapat menunjukkannya karena telepon genggamnya sudah dijual. Ia malah meminta tolong kepada Leksi untuk meminjamkannya uang untuk ongkos pulang ke rumah.
Keputusan Anindita untuk menggunakan tiga narator ini sangat tepat. Karena mereka membuat Tanah Tabu menjadi cerita yang bisa dilihat dari banyak perpektif dan tidak membosankan. Ketiga narator ini mewakili derita tiga generasi perempuan papua. Pum mewakili jaman Mabel, Kwee untuk Mace, dan Leksi untuk generasinya sendiri.
Namun, ada sedikit catatan kecil dalam novel ini, terutama soal karakter Pum. Tokoh anjing tua yang cerdas dan gagah ini mengingatkan saya pada sekelompok hewan ternak yang berusaha menggulingkan kekuasaan manusia di Animal Farm karya George Orwell dan kera ajaib yang jago berfilosofis dalam Ishmael karya Daniel Quinn (mungkinkah karakter dalam novel-novel itu yang menginspirasi lahirnya tokoh Pum?). Tapi, Animal Farm dan Ismael adalah novel yang murni fiksi, sementara Tanah Tabu, meskipun fiksi, ditampilkan sebagai kisah yang bersifat nyata, sehingga menunttut kehadiran tokoh yang nyata pula, termasuk Pum.
Tapi, jika melihat umur Pum yang hampir seusia Mabel, sekitar 50-an tahun, rasanya mustahil. Ini disebabkan perbandingan usia anjing dan manusia yang berbeda. Usia satu tahun seekor anjing sama dengan 16 tahun manusia. Dua tahun anjing sama dengan 24 tahun manusia, sementara tiga tahun anjing sama dengan 30 tahun manusia. Dan, untuk setiap tahun berikutnya ditambahkan 4 tahun usia manusia.
Seekor anjing memiliki harapan hidup 14 tahun usia manusia, meski sebuah riset pernah mencatat ada seekor anjing di Australia yang mencapai usia 29 tahun manusia. Itu pun karena asupan nutrisi yang baik, sementara Pum hidup di perkampungan miskin dengan makanan sehari-hari ala kadarnya. Tapi memang jika keberadaan Pum memang ada, maka ia pantas untuk masuk catatan rekor dunia.
Selain itu, ketika membaca narasi-narasi Pum, anjing ini terasa sangat manusia. Memang, anjing termasuk binatang yang cerdas, bahkan sebuah riset menyatakan bahwa kecerdasan seekor anjing menyamai anak usia dua tahun. Tapi, apakah kemampuan menggambarkan kehidupan yang ideal dan menganalisa pelbagai masalah sosial, seperti kemampuan Pum dalam novel ini, terdapat dalam otak anak berusia dua tahun?
Kecerdasan Pum dan Kwee yang menyamai manusia itu pula yang mungkin membuat cara bertutur mereka hampir sama dengan Leksi, sehingga terkadang membuat saya kebingungan, siapa yang sebenarnya sedang mendapat giliran bercerita. Ini membuat saya harus membalikkan beberapa halaman ke belakang untuk memastikannya.
Meskipun demikian, novel yang memenangi sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2008 ini tetap layak untuk di baca, seperti komentar Seno Gumira Ajidarma, Novelis yang juga menjadi juri dalam sayembara ini, Tanah Tabu menarik bukan saja karena menguasaan dan materi penulisan yang baik, maupun komposisinya, tetapi juga urgensi masalah, yang membuatnya sangat penting.
“Di ujung sabar ada perlawanan. Di batas nafsu ada kehancuran. Dan, air mata hanyalah untuk yang lemah.”