Setiap ruang, tempat, bangunan atau rancangan tidak pernah hadir begitu saja tanpa kaitan dengan wacana-wacana yang ada di sekitarnya. Meskipun keberadaannya tampak seperti sesuatu yang bisu, benda-benda mati ini sebenarnya adalah bagian dari dialog wacana yang bergulir dari masa lalu melintasi masa kini untuk mencapai harapan atau visi yang hanya ada di masa depan. Yang melakukan dialog itu tidak lain adalah manusia, yang berdialog dengan dan dalam waktu, menanggapi lingkungan fisik yang kasat mata, serta menyadari semangat zaman yang bergulir dan terasa namun tak akan dapat diraba. Manusia sebagai makhluk yang memiliki kemampuan berabstraksi akan selalu dibebani oleh masa lalu yang tak mau pergi dalam ingatan dan usaha-usaha berulang untuk mendefinisikan dirinya melalui representasi-representasi yang ia coba tampilkan ke dunia luar. Semua hal itu secara tak disadari membentuk sebuah kesatuan ideologi yang perwujudannya dapat terlihat dari objek-objek hasil ciptaannya. Abidin Kusno menyadari semua hal itu sebagaimana yang dapat terbaca di buku ini. Ia membongkar wacana-wacana yang dilekatkan dan ditampilkan manusia pada objek ruang dan bangunan sehingga membawa penyadaran bahwa tidak pernah ada gambaran yang netral atau bebas nilai.
layaknya magis, buku ini membawa kita berada pada Jakarta masa lampau. Jakarta dengan segala transformasi dan bibit menjadi sebuah kota yang besar. Jakarta yang menyadari potensinya.