Selama ini, Devon Cruz hidup dengan aturannya sendiri. Ia merampas apapun yang diinginkannya serta menghancurkan apapun yang berani menghalanginya. Semua yang diinginkannya, harus dimilikinya. Tidak ada yang tidak bisa ditaklukkannya. Apalagi kalau cuma wanita. Sampai ia bertemu dengan Eireen, gadis yang ditangkapnya bersama puluhan penduduk desa. Gadis yang bertekad menolaknya walaupun Devon sudah memilikinya berkali-kali. Ketika tubuh gadis itu saja tidaklah cukup, Devon terobsesi untuk memiliki seluruh diri Eireen. Dan kali ini, ia tidak bisa menerima penolakan lain atau ia akan menghancurkan gadis itu sampai tak bersisa.
The Village’s Maiden
Selama ini, Eireen hidup tenang bersama dengan kakeknya walaupun desa mereka miskin dan mereka kerap kelaparan. Tapi ia bahagia. Hingga suatu malam, kawanan perompak datang membakar desa dan membunuh kakeknya. Eireen tertangkap bersama yang lain. Pasar budak membayangi nasib mereka sepanjang perjalanan menunju Venice. Namun malapetaka terbesar justru ketika berada di atas kapal sang perompak. Dikelilingi puluhan lelaki yang menatap mereka dengan tatapan lapar. Eireen melakukan segalanya untuk bertahan. Tapi sayang, perlawanannya menarik perhatian sang kepala perompak yang keji. Malam-malam yang dihabiskannya ketika ia dipaksa untuk melayani pria itu, membuat Eireen tersiksa di antara rasa benci dan perasaan terlarang yang perlahan tumbuh.
Devon Cruz adalah bajak laut congkak, kejam, tinggi hati dan sangat temperamental. Baginya wanita hanyalah pemuas nafsunya, tidak lebih dari itu. Tidak heran dia jarang menggunakan wanita sebagai penyaluran birahinya lebih dari sekali.
Eireen, gadis kecil lugu yang berusia 15 tahun, tiba-tiba dunia damainya terenggut dari dirinya dengan serangan tiba-tiba dari pasukan perompak Devon. Bersama teman baiknya, Leanne, mereka diangkut ke kapal perompak dan akan dijadikan budak belian. Pada saat ada kesempatan, Eireen berusaha membunuh Devon, namun gagal dan malah membuat dirinya dibawa ke kabin Devon dan diperawani dengan pemerkosaan. Eireen yg merasa dirinya nista sempat berusaha utk bunuh diri namun dicegah oleh Devon, yg lagi-lagi berakhir dengan perkosaan. Mungkin kalian heran kenapa perkosaan dilakukan kontinyu. Tidak usah heran karena Eireen terus membangkang dan melawan Devon, dan Devon yg punya masalah "anger management" merasa Eireen tidak pernah patuh dan harus mendapat ganjaran dengan dihukum persetubuhan secara paksa. Konyolnya lagi, Devon sampai harus membawa gadis budak lainnya utk mengajari Eireen cara memuaskan pria seperti dirinya.
Namun cinta yang tidak diinginkan kedua belah pihak, tetap tumbuh walau dengan cara yang salah, saling menyakiti (terutama di pihak Eireen yg berulangkali jatuh sakit) tapi walau gertakan Devon utk menjual Eireen karena nekat kabur, tetap tidak bisa menjauhkan Devon terhadap Eireen.
Membaca buku ini membuat saya teringat kisah perompak yang sangat saya favoritkan. Tristan dalam novel "A Pirate's Love" nya tante Johanna Lindsey. Diawali dengan perkosaan2 yg belakangan malah menumbuhkan cinta. Kedua karakter yang selalu adu mulut dan adu birahi benar-benar menggetarkan dan tetap bisa menghipnotis diri saya hahahaha.....
Banyak yang tidak tahan membaca buku romance semodel ini, namun menurut saya justru ini yang mendekati "realistis". Jangan harap adanya intelektualitas diantara tokoh-tokoh utamanya. Yang ada hanyalah gemuruh nafsu yang berkobar-kobar saja dan ketimpangan antara si kuat dan si lemah dalam hal fisik. Dalam novel ini saya merasa tokoh Eireen wajar saja kalau belakangan dia jatuh cinta pada Devon, tapi Eireen bukan jatuh cinta pada karakter Devon, melainkan karena sepanjang cerita boleh dikatakan Eireen didominasi oleh Devon baik secara fisik maupun mental. Dia tidak bisa membandingkan Devon dengan pria lain karena notabene dia sudah ditandai MILIK DEVON. Disini penulis piawai menggambarkan situasi yang membuat Eireen tidak berkutik terhadap pria pilihannya. Di tengah samudra, pilihannya melawan akan diserahi utk menjadi bulan2an perompak lainnya atau menyerah secara totalitas pada Devon. Eireen adalah wanita yang kuat semangat hidupnya, tidak mudah bagi Devon utk mengintimidasi gadis kecilnya ini. Dan Eireen juga kewalahan dalam menghadapi Devon yang mudah murka. Eireen bukan tidak pintar atau pengecut. Dia sudah mencoba segala cara yang dia bisa tempuh untuk menjauh dari Devon tapi dia tidak bisa menolak apa yang sudah digariskan oleh si penulis. Jalinan cinta yang menyesakkan tapi apa boleh buat sudah harus menerima nasibnya digiring seperti itu.
Untuk Devon, sangat disayangkan tidak diceritakan sebab musababnya dia mudah sekali marah dan menutup perasaannya terhadap wanita, juga sinis serta kerap menuduh wanita itu munafik. Walau pada akhir cerita ada penjelasan tapi hanya sedikit informasi tentang masa lalu Devon tanpa detail yang lebih terinci. Tapi penulis sudah menggambarkan dengan baik karakternya yang buas dan ganas di kabin pribadinya hahahaha...
This entire review has been hidden because of spoilers.
Ini adalah novel local pertama yang aku baca. Jujur aku tidak pernah baca novel local Bahasa Indonesia apalagi berlatar belakang historical tapi aku membuat pengecualian kali ini. Claimed by The Pirate karya Carmen LaBohemian ini adalah novel fiksi genre historical pertama yang kubaca.
Devon Cruz adalah bajak laut yang terkenal kejam di kalangan perompak dan disegani di lautan. Tidak ada yang luput dari Devon mulai dari harta sampai wanita. Perjalanan ke Vienna membutuhkan banyak persiapan dan kru bajak laut Devon menargetkan suatu pulau dimana ada desa yang akan mereka bajak. Eireen adalah gadis desa biasa yang merawat kakeknya yang sakit-sakitan. Di saat kru Devon membajak desanya, dirinya dibawa naik kapal setelah salah satu dari mereka membunuh kakeknya. Eireen merasakan kasar dan kejamnya hidup diantara para bajak laut tapi dia tidak menyerah. Dia tetap berusaha mempertahankan diri dengan mulut tajamnya yang kemudian menarik perhatian Devon, sang kapten.
Aku cukup menyukai kedua karakter utama ini. Devon dan Eireen adalah dua pribadi yang bertolak belakang dan tidak suka satu sama lain. Devon yang terkenal garang dan tidak pernah ‘memakai’ wanita yang sama tertarik pada tingkah laku Eireen yang berani. Hmm… Berani atau bodoh? Ya, Eireen yang masih perawan berusia 16 tahun memiliki mulut yang cerdas dan berani karena dia berhasil ‘merayu’ Devon membuat kesepakatan. Devon pula yang mengambil keperawanan Eireen dengan paksa. Setiap malam Devon memanggil dirinya dan memaksakan sex yang tindak diinginkan Eireen. Terkadang ada saatnya Devon melunak dan membuat Eireen sempat jatuh hati. Devon adalah ciri karakter pria yang konsisten terhadap sikap brutalnya dari awal hingga akhir. Eireen yang polos membuat Devon jatuh cinta.
Selama perjalanan kedua pasangan ini mulai merasakan perasaan yang tumbuh tapi masih menepisnya. Jujur saja, mulai di tengah buku aku merasakan bosan saat membaca adegan too-much-sex tapi setelah dipikir ternyata cukup penting karena Carmen ingin membuat perubahan sikap Devon secara perlahan. Kisah cinta mereka terkesan ‘gampang’ tapi cukup sulit untuk dirasakan diriku. Aku mulai tertarik kembali setelah mereka tiba di tempat tujuan dan disitulah mulai ada gelombang suspense yang cukup mendebarkan hingga akhir.
Ya, twist di akhir cerita ini sudah kutebak karena kecurigaanku terhadap asal usul Devon. Penulisan Carmen mengalir dengan cukup baik dan pemilihan kata terasa seperti novel terjemahan. Walaupun ada sedikit salah kata/typo, tidak membuatku kehilangan focus pada ceritanya. Alur yang dari cepat-lambat-bertahan-cepat lagi membuatku memiliki mixed feelings. Untuk novel karya lokal bertema historical, aku senang bisa merekomendasikannya.
Tapi kembali kepada pribadi masing, apakah suka membaca tema historical bajak laut? Atau ingin sedikit merasakan suspense? Pada sisi eroticnya bisa kukatakan bahwa novel ini cukup panas yah. Hehehe… Good job, Carmen!
Review ini dibuat secara pribadi dan jujur dari pemikiranku sendiri tanpa campur tangan pihak lain.
ARC provides by author for exchange with a honest review.
Tema bajak laut mungkin umum di buku-buku Hisrom luar. Sebut saja Johanna Lindsey, Sabrina Jeffries, Gaeley Folley dan Julie Garwood juga sudah pernah menulisnya. Tapi buku bajak laut hisrom yang ditulis oleh author Indonesia, ha ha ha kamu pasti penasaran.
Carmen berhasil mematahkan anggapan bahwa menulis hisrom itu sulit dan mengintimidasi. Dia memberikan 2 karakter h/h yang sifat dan perilakunya konsisten sampai akhir. Seorang glorious bastard, Kapten Bajak Laut garang, misterius, super jahat dengan kepribadian serumit puzzle, Devon Cruz. Aku berharap penggambaran karakter hero satu ini bisa berbeda dari tokoh bajak laut novel yang kita kenal sebelumnya. Karakter dan masa lalunya juga bisa digali lebih mendalam untuk menciptakan ikatan yang lebih kuat dengan pembaca.
Di sisi lain, Eireen si gadis desa ini worming her way straight to my heart. Carmen berhasil menggambarkan perpaduan keberanian, kepolosan, sifat setia kawan, sisi little brat dan semangat bertahan hidup gadis ABG ini. Eireen ini tidak melemah dari semua musibah yang dihadapinya, tidak curhat, tidak menggalau, tidak munafik dan tidak pasrah. Semua musibah membentuknya menjadi pribadi yang makin dewasa dan kuat.
Walaupun porsi scene hore-hore mereka banyak, steamy dan panasnya bisa membuat readerku meleleh, but I need more dirty talk pleaseeee. Aku berharap scene panas ini bisa dibuat dalam intensitas yang berbeda sehingga tidak jenuh dan ada proses membangun tensi bagi pembaca. Sayangnya aku juga belum bisa merasakan pertumbuhan cinta mereka. Devon dan Eireen kekurangan momen-momen saling mengenal secara mendalam diluar scene dosis rutin perkosaan harian mereka.
Novel ini ditulis dengan alur maju yang cepat dan mengikat mataku sejak chapter pertamanya. Walau begitu, storyline CBTP tidak menawarkan hal baru. Aku mengharapkan konflik yang lebih dashyat dan twist-twist kejutan yang akan membuat cerita ini berbeda dari buku-buku bajak laut lainnya. Masa lalu Devon dan penyelesaian konflik sebagai bagian ending juga diceritakan terlalu singkat, instan dan seperti ditumpuk di 10% ending buku. Apabila rahasia misterius masa lalu Devon dibuka selapis demi selapis di sepanjang 90% chapter sebelumnya, itu akan menjamin naiknya tensi rasa penasaran para pembaca ke level yang jauh lebih tinggi.
Beberapa tambahan poin kecil dariku : - Perjelas penjelasan dan detail lokasi. Sampai detik ini aku masih bingung tentang lokasi kastil misterius itu ada dimana. - Konsisten dengan pengunaan istilah medis ato sastra, dan panggilan nama ( pm me for detail fu fu fu) - Belum ada pembagian chapter, prolog dan epilog di ARC ini.
Seri pertama ini penuh potensi tapi masih terasa seperti foreplay untuk buku selanjutnya di seri ini. Kuharap buku kedua bisa lebih kuat dan membuat para pembaca mengibar-kibarkan bendera putih.
2,5 star awalnya gw antusias banget untuk membaca buku ini karena rekomendasi dan beberapa hal lain. bab-bab awal bagus banget karena feel-nya dapat tapi setelah memasuki pertengahan rasa antusias untuk membalik halaman selanjutnya berhenti. gw ngerasa eireen itu terlalu dewasa digambarin untuk anak perempuan berumur 15 tahun yang bagaimana pun masih punya sisi anak kecil.
devon yang selalu penuh emosi dan amarah tanpa sebab, membuat keputusan-keputusan tanpa berpikir matang yang seharusnya dilakukan oleh seorang perompak kejam. masa lalu devon hanya secuil kecil dari keseluruhan cerita.
mungkin cerita ini bakal lebih bagus kalau sosok eireen digambarin bukan hanya keras kepala tapi juga licik dan mampu menaklukan devon dengan kepintaran.
yeah, ini pendapat pribadi gw sebagai reader but overall ini buku watty yang paling oke yang pernah gw baca sih, daripada beberapa yang sangat mengecewakan.
Untung ga jadi beli physical copynya huff!! Padahal uda terarik bgt mau baca tentang slave and pirate with their fobidden love etc etc penonton sedikit kecewa :(
Pertama, aku rada ga faham sih knp si Devon ini bisa jadi pirate, jadi istri sah ayahnya yg kirim dia ato gmn sih?! Lalu sebenernya conflic dgn sang ayah ini soal apa?! Ibu kandungnya yg pelayan di fitnah trs dibunuh ato gmn?!
Kedua, si Devon sama si Eireen ga ada chemistrynya sama sekali, eh tiba2 mau selesai bukunya ILY ILY meh.. And btw ini harusnya di era kapan ya medieval or regency? Seingetku ga disebutin tahun brp sih?!?
Ketiga, it’s not as hot as everyone says
This entire review has been hidden because of spoilers.
Awalnya sih oke, but semakin ke belakang terkesan 'encer' banget. Konfliknya maksudnya. 😂 Karakter eireen bikin gedek 😅 Beneran ini umur 15 tahun? Tapi masuk akal juga sih liat kelakuan-nya. Yap berkarakter emang sampe pengen bilang "heh melek'o" 😅😅
Udah lama bacanya baru review sekarang. Gue inget banget dulu pas bukunya dateng, langsung baca sampai habis, dengan mengusahakan tidak ketahuan siapapun, soalnya dari cover-nya aja udah mengundang tanya orangtua (?) HAHAHA. Dan sekarang bukunya kesimpen dalam lemari XD
Ceritanya tentang Eireen yang ditawan sama Devon, bajak laut yang kejam, jahat, sadis. Terus yah, lama-lama Devon naksir sama Eireen, soalnya Eireen ini pemberontak banget. Jadi mungkin Devon melihat ada sisi yang menarik dari Eireen, jadi dia memperlakukan Eireen spesial deh. Nggak spesial pake telor ya, itu martabak. Yah begitulah, kalian tahu sendiri kan gimana cerita selanjutnya? hehe.
Sebelumnya gue baca ini dari wattpad dulu, terus karena katanya di wattpad ada bagian yang beda sama buku, gue pun tertarik buat beli. Ternyata, hmmm.. bagaimana ya. Malah entah kenapa gue lebih suka versi wattpad :( :'(
Waktu gue baca awal-awal sempet ketawa sih. Katanya kan Eireen nangis gara-gara kakeknya meninggal, terus tiba-tiba lah kok tiba-tiba kakeknya ngomong ke Eireen. Lah ini kakeknya hidup lagi? WKWKWK ah sudahlah. Mungkin itu hanya delusinasi gue saja.
Oh ya, kalau ada yang bilang baca buku ini bikin keingat sama A Pirate Love karya Johanna Lindsey, gue juga ngerasa iya. Dari panggilan Devon yang "little one", terus Eireennya hobi kabur juga. Begitulah.
In the end, 3 bintang buat buku ini karena.. effort penulisnya yang cukup berhasil membawa setting his-rom, alur ceritanya yang cukup menarik, dan.. adegan hore-horenya yang digambarkan cukup panas. HAHAHAHA.
Suka banget! Hot nggak berlebihan, tipikal dark romance yang banyak di cari gadis yang suka berimajinasi. Masalahnya nggak terlalu pelik namun menggairahkan, ringan untuk di baca namun juga bernuansa kelam. Pokoknya recommended walaupun ini bukan dari penerbit mayor tapi ini menjadi salah satu novel kesukaanku!
hisrom jadi2an. setting tempat dan waktu ga jelas. sepertiga cerita di awal cukup suka, yp mulai pertengahan mulai boring. tapi mayan lah erotika penulis indo
novel pertama mbak carmen yg bikin aku tertarik untuk baca novel2 carmen yg lain pas baca buku ini,keingetan ama pirates love nya johana lindsay.. konflikx mengalir..tarik ulur konflik bikin geregetan sendiri mbk carmen ni emg jago bikin hero yang sadis,egois,jahat,ga punya hati banget lah..
Di awal cerita, novel ini terlihat cukup menjanjikan. Perompak dan perawan desa.
Tapi tahun dan lokasi yang abstrak (? haha) sedikit mengganggu karena berhubungan dengan yang lainnya. Kayak merebut daerah kekuasaan seorang lord? Apa nggak ada raja yang akan ikut campur?
Soal kapal dan pelayaran. Digambarkan kapal itu besar. Yah, kalau bisa berlayar berhari-hari harusnya memang besar untuk menampung semua persiapan. Tapi kapal sebesar itu Nggak Mungkin bisa bersandar di teluk yang turunnya cuma pakai tali dan kedalaman air cuma seleher perempuan kecil. Serius! Kapal itu bakal nyangkut dan perlu kapal besar lain untuk narik keluar. Devon juga digambarain doyan mandiin Eireen. Serius? Ditengah pelayaran berhari-hari? sedangkan mereka perompak yang seharusnya nggak bisa seenaknya berlabuh di pelabuhan dan mengisi ulang bahan makanan (itu kenapa mereka merompak desa demi makanan). Air tawar seharusnya jadi barang langka, jadi aneh aja kalo mandi berendam mulu kerjaannya.
Dan karakter Eireen di sini sangat mengganggu, entah dimaksudkan jadi seperti apa. Tapi kalau ditujukan sebagai gadis miskin yang kuat keras kepala, jelas Carmen gagal total. Eireen bukan keras kepala, tapi lebih ke bodoh dan cenderung konyol. Belum lagi Devon yang agak labil untuk ukuran perompak dan pembunuh.
Meski awalnya berharap banyak, tapi mengingat isi buku ini bahkan nggak sampai 300 hal, jelas saya harus puas sampai di sini aja.