Jump to ratings and reviews
Rate this book
Rate this book
Kota besar seperti Jakarta bisa mengubah orang menjadi apa saja. Lasi, seorang perempuan dusun, bisa diubah menjadi orang yang-meskipun tanpa disadarinya-ikut menentukan perilaku dan praktek kekuasaan negara.

Awalnya, melalui lika-liku jaringan bisnis berahi kalangan atas, Lasi yang berdarah Jawa-Jepang terseret ke dalam pusaran hidup para elite yang pragmatis dan korup. Dengan penampilannya yang eksotis, ia terbawa dalam arus kehidupan amat makmur. namun karena latar belakang yang sederhana, ia tak mampu menikmati kehidupan barunya itu.

Lasi tak betah hidup serba mudah namun tak bisa dipahami. Lebih dari itu, ia sering merasakan kehilangan jati diri justru ketika kehidupan ala orang-orang kaya Jakarta sangat memanjakannya.

142 pages, Paperback

First published January 1, 2001

13 people are currently reading
305 people want to read

About the author

Ahmad Tohari

48 books526 followers
Ahmad Tohari is Indonesia well-knowned writer who can picture a typical village scenery very well in his writings. He has been everywhere, writings for magazines. He attended Fellowship International Writers Program at Iowa, United State on 1990 and received Southeast Asian Writers Award on 1995.

His famous works are trilogy of Srintil, a traditional dancer (ronggeng) of Paruk Village: "Ronggeng Dukuh Paruk", "Lintang Kemukus Dini Hari", and "Jantera Bianglala"

On 2007, he releases again "Ronggeng Dukuh Paruk" in Java-Banyumasan language which is claimed to be the first novel using Java-Banyumasan. Toward his effort, he receives Rancage Award 2007. The book is only printed 1,500 editions and sold out directly in the book launch.

Bibliography:
* Kubah (novel, 1980)
* Ronggeng Dukuh Paruk (novel, 1982)
* Lintang Kemukus Dini Hari (novel, 1985)
* Jantera Bianglala (novel, 1986)
* Di Kaki Bukit Cibalak (novel, 1986)
* Senyum Karyamin (short stories, 1989)
* Bekisar Merah (novel, 1993)
* Lingkar Tanah Lingkar Air (novel, 1995)
* Nyanyian Malam (short stories, 2000)
* Belantik (novel, 2001)
* Orang Orang Proyek (novel, 2002)
* Rusmi Ingin Pulang (kumpulan cerpen, 2004)
* Mata yang Enak Dipandang (short stories, 2013)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
63 (30%)
4 stars
75 (35%)
3 stars
59 (28%)
2 stars
10 (4%)
1 star
3 (1%)
Displaying 1 - 15 of 15 reviews
Profile Image for Miss Kodok.
220 reviews18 followers
March 4, 2010
Thanks to Asrori for buying me this book. Love it so much…

Belantik merupakan sekuel dari buku Bekisar Merah. Belantik sendiri menurut KBBI mempunyai dua arti. Yang pertama berarti alat penangkap binatang (perangkap), sedangkan arti yang kedua adalah makelar.

Belantik sendiri masih berkisah tentang Lasi, perempuan cantik asal Karangsoga, berdarah Jepang-Indonesia yang terperangkap dalam jebakan yang dibuat oleh Bu Lanting, seorang mucikari kelas atas di ibukota. Memang Lasi tidak-lah dijadikan PSK sembarangan, tetapi keluguannya membuat Lasi tak juga menyadari bila dirinya hanyalah sepotong tubuh yang tengah dieksploitasi secara besar-besaran oleh Bu Lanting. Ia dijadikan mesin pengeruk uang dengan cara menjadikannya istri simpanan para kaum berpunya.

Setahun menjadi istri Handarbeni, Lasi belum juga memahami peran yang tengah dilakoninya. Secara jujur, ia berusaha untuk menjadi istri yang baik dan setia bagi laki-laki yang menikahinya hanya demi gengsi, demi menjaga prestise akan kelaki-lakiannya di lingkungan sosialnya. Namun melalui sebuah negosiasi, Handarbeni bersedia menyerahkan Lasi kepada Bambung demi jabatan dan kedudukan yang menggiurkan. Dan menjadi tugas Bu Lanting-lah untuk membuat Lasi tak punya pilihan selain mengikuti apa yang telah diperintahkan.

Dengan licik, Bu Lanting berhasil membuat Lasi menerima pemberian Bambung bernilai milyaran rupiah dan membuat Lasi terjebak dalam situasi yang sama sekali tidak dikehendakinya berdua Bambung. Kekecewaan Lasi-pun bertambah ketika mengetahui bahwa Handarbeni-pun begitu ringan menceraikannya untuk di’hibah’kan kepada Bambung. Lasi semakin gagap menghadapi kenyataan pahit itu. Dalam segala kebingungannya Lasi melarikan diri bersama Kanjat, teman sepermainannya sejak kecil, setelah dinikahkan di bawah tangan oleh Eyang Mus. Namun Bu Lanting selalu dapat menemukannya.

Jadilah Lasi kembali menghuni sebuah sangkar emas sebagai bekisar bagi Bambung. Namun dengan cerdas Lasi mampu menjaga kesucian kehamilannya dan menyelamatkannya dari usaha pengguguran yang akan dilakukan oleh Bu Lanting.

Politik, bagaimanapun juga selalu penuh dengan tangan yang belepotan kotoran dari orang-orang yang serakah. Kemapanan Bambung sebagai seorang pelobi kelas dunia dianggap mengancam kestabilan pemerintahan saat itu, maka sebuah konspirasi-pun dibuat guna menjatuhkan Bambung dan menyeretnya ke dalam penjara. Lasi yang tak mengerti apa-apa tentang politik, turut terseret ke dalam kemelut ini. Mampukah Lasi melepaskan diri dari semua permasalahan ini ??

Belantik dibandingkan Bekisar Merah terasa kurang menggigit, ataukah mungkin dalam buku ini tak lagi diceritakan kehidupan kaum kelas bawah seperti buku sebelumnya ??
Entahlah, tapi seperti buku-buku Ahmad Tohari yang lain, Belantik tetap menarik buat dibaca, dan gaya bertutur yang khas dan jauh dari membosankan membuat kita enggan berhenti membacanya sebelum tuntas. Dan pada akhirnya buku ini buat saya tetap layak untuk diberi 4 bintang.
Profile Image for Claudia.
47 reviews7 followers
February 10, 2023
“Mak, Mak… aku pulang.”

Ahmad Tohari, penulis kesayangan yang lagi-lagi berhasil memotret secara lugas kehidupan masyarakat desa yang terpencil dan tertinggal.

Dalam buku Bekisar Merah dan Belantik, Ahmad Tohari mengisahkan seorang gadis cantik bernama Lasi, yang bisa dibilang kembang desa, namun semasa kecil termarginalkan, akibat parasnya yang campuran Jepang-Indonesia. Oleh karena wajahnya yang berbeda tersebutlah, ia kerap menjadi bulan-bulanan anak-anak Karangsoga, kampung halaman di mana Lasi tinggal dan berasal.

Lasi memanglah anak asli Karangsoga, tapi ia adalah buah pemerkosaan yang dilakukan tentara Jepang terhadap banyak perempuan Indonesia, termasuk Emak Lasi, pada masa pendudukan negeri Matahari Terbit tersebut.

Perlakuan berbeda terhadap dirinya membuat Lasi kerap bertanya, apa yang salah dengan dirinya? Ia sering dikecewakan oleh banyak sikap warga desanya, bahkan ia dikecewakan pula oleh suaminya, Darsa, seorang penyadap nira yang kemudian berkhianat.

Berbekal kekecewaan yang mengerak dalam dirinya, Lasi kabur meninggalkan Karangsoga, menuju Jakarta, dunia gemerlap yang sama sekali tidak dikenalnya. Di Jakarta, hidup Lasi berubah 180 derajat. Wajahnya cantiknya, yang di kampung menjadi bahan ejekan, rupanya malah menjadi daya tarik eksotis, yang membuat hidup Lasi serba mudah, bergelimang harta. Tetapi, bahagiakah Lasi di Jakarta? Di tengah gemerlap lampu Ibu Kota dan harta melimpah?

Dalam buku ini, aku melihat Ahmad Tohari berhasil memotret dan menyerukan penderitaan masyarakat miskin, yang sehari-hari menggantungkan hidup dari pohon kelapa dan tengkulak yang kerap tak kenal derita.

Masyarakat miskin, kerap dipaksa untuk nrima pandum, bahwa takdir miskin adalah garis hidup yang harus mereka terima dengan lapang dada. Pun untuk bisa mengangkat derajat hidup mereka, hal itu sangat sulit bahkan mustahil untuk dilakukan, dan satu-satunya cara yang paling mungkin adalah “menjual” paras cantik ke orang gedean di kota. Itu pun mereka tahu, sangat bersebrangan dengan norma kepatutan yang mereka anut selama ini.

Kegelisahan ini digambar dan dipadukan dengan kisah hidup Lasi secara luwes oleh Ahmad Tohari, ditambah ciri khasnya yang selalu menggambarkan latar tempat dengan sangat detail, sehingga pembaca bisa seolah berada di tempat dalam cerita sesungguhnya.

Tak hanya penderitaan rakyat miskin, dalam dua buku ini, Ahmad Tohari juga berhasil mengorek borok para “penggede-penggede” di Republik ini. Kecurangan, kejahatan, dan serba-serbi politik kotor dengan latar waktu masa Orde Baru digambarkan oleh Ahmad Tohari beriringan dengan kisah Lasi. Sentilan halus disisipkan, membuat pembaca tergelitik dan tak habis pikir oleh polah orang-orang penting negeri ini.

Di dua buku ini pun, aku merasa bahwa Ahmad Tohari ingin menyerukan, bahwa wanita pun manusia yang patut dihargai kehadirannya, keberadaannya, eksistensinya. Wanita bukan hanya sekadar pajangan pelengkap hidup pria. Bahwa pernikahan pria dan wanita adalah tentang saling padu, saling isi, bukan menjadikan satu pihak semata perhiasan sangkar madu.

Bekisar Merah dan Belantik, adalah juga tentang pencarian jati diri, pencarian makna hidup sejati, dan betapa hangatnya benar-benar bisa pulang ke rumah.
Profile Image for Wina S. Albert.
502 reviews4 followers
April 6, 2026
Novel ini pintar menunjukkan bagaimana praktik makelar kekuasaan bisa hidup subur, sementara orang-orang jujur cuma jadi figuran yang idealismenya pelan-pelan digerus realitas. Sindirannya tajam, kadang sampai bikin saya mikir, “ini fiksi atau laporan harian negara?” Tapi ya, namanya juga karya sastra yang serius, alurnya kadang terasa lambat dan berputar-putar, seolah saya harus sabar merenung di setiap halaman—bagus, kalau lagi punya energi. Beberapa bagian juga terasa terlalu simbolis, jadi kalau nggak fokus, bisa-bisa malah bingung sendiri. Mungkin bisa dibilang, di situlah pesonanya: novel ini tidak berusaha menyenangkan, tapi sukses bikin saya sedikit tidak nyaman—dan mungkin itu memang tujuan utamanya.
Profile Image for Lathifa Rohmani.
12 reviews
February 16, 2023
Berkisah tentang Lasi, perempuan kampung keturunan Jawa-Jepang, yang terseret pada arus hidup para elite negeri yang korup. Dengan pesona dan kecantikannya, Lasi menjadi perempuan yang hidup sangat serba mudah di Jakarta karena dimanjakan oleh salah dua dari pejabat yang berpengaruh di lingkaran para penguasa dan pengusaha.

Di desa asalnya, Lasi hidup sangat sederhana. Sehingga ia tidak bisa menikmati segala kemakmuran yang didapatkannya, bahkan kerap kali merasa hampa. Kehampaan yang ia rasa membawa dirinya pada sebuah pelarian, hingga waktu kembali mempertemukan Lasi dengan cinta lamanya.
Profile Image for Haricahayabulan.
33 reviews2 followers
February 19, 2017
Penelaahan masalah yang menarik. Pembaca jadi memahami banyak hal dari kehidupan di kota besar. Terlebih pada seorang wartawan yang terkadang harus bungkam karena ancaman. Menggambarkan pula bagiamana ketidakadilan akan adanya kekuasaan. Menampilkan pula karakteristik tokoh yang terasa nyata. Dari tokoh yang lugu dan tidak memahami kebusukan pejabat, sampai permainan politik pejabat-pejabat. Sudut pandang yang benar-benar matang.
Profile Image for Diba Ilupi.
83 reviews29 followers
April 28, 2018
Buku ini sekuel dari "Bekisar Merah", berkisah melanjutkan nasib Lasi yang serba menderita di berbagai segi meskipun bergelimangan harta karena menjadi isteri simpanan pria kalangan atas.

di "belantik" akhirnya Lasi menemukan titik cerah dalam kehidupan yang selama ini bak penjara, ia akhirnya terbebas dan bersatu dengan Kanjat -lelaki yang dicintainya bersama calon jabang bayinya, hidup di karangsoga, setelah kekuasaan sang belantik korup berhasil ditumbangkan.

Profile Image for U'un Aidatuz.
3 reviews
April 23, 2013
Judul Belantik : Bekisar merah II
Volume 2 dari Bekisar merah, Bekisar merah
Penulis : Ahmad Tohari
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2001
Didigitalkan : 19 Mei 2008
ISBN : 9796556073, 9789796556076
Tebal : 142 halaman
Hidup. Memang tidak bisa ditebak. Inilah yang membuat Lasi pergi meninggalkan kampungnya, ke Ibu kota. Kecewa karena dihianati oleh suami demi seorang gadis cacat memebuatnya nekat pergi meninggalkan tanah kelahirannya. Dengan Wajah yang rupawan, bagai berputar 180 derajat, kini hanya lah kemewahaan yang menghiasi hidupnya. Berasama lelaki tua dan lemah Pak Handarbeni yang bukan sekedar konglomerat di negeri ini, kesetianlah yang hanya diberikan oleh Lasi. Hidup seperti ini membuat Lasi berubah, orang dusun berubah menjadi nyonya besar.
Mungkin sudah risih, bosan, atau jenuh dengan kehidupan seperti itu membuatnya kembali ke kampungnya meninggalkan Pak Han. Pada akhirnya Lasi kembali pada kehidupan yang ia dambakan bersama Kanjat, teman sepermainannya dulu. Tak semudah membalikan tangan, untuk bersama Kanjat. Baik Lasi maupun Kanjat harus melewati masa-masa yang sulit. Harus terpisah berbulan-bulan, Padahal Lasi dalam keadaan hamil buah cintanya dengan Kanjat yang telah menjadi suaminya. Itu semua mereka lakukan karena adanya Bambung. Orang yang paling berpengaruh dalam kehidupan ibu kota, sampai urusan Negara pun berada ditangannya, Pak Han pun tak dapat berkutik. Betapa tidak? Baik Lasi maupun Kanjat tidak bisa melawan, mereka hanya menunggu waktu yang pas untuk lari dari jeratan Bambung. Oleh Bambung Lasi hanya digunakan sebagai perhiasan permata, hanya menemani Bambung menghadari acara relasinya. Tentu saja pertemuan orang-orang kalangan atas. Hanya itu tugas Lasi, tak lebih. Tapi imbalannya, satu rumah elit beserta mobil mewah dan kemewahan yang lain yang diberikan Bambung terhadap Lasi Kanjat pun tidak bisa diam, ia nekat nekat menjemput Lasi. Ia tidak takut dengan Bambung karena ia telah melaporkan kelicikan-kelicikan yang telah dilakukan Bambung.
Akhirnya Lasi dan Kanjat bersatu kembali. Merajut Kehidupan yang baru. Walaupun tidak sekaya Pak Han maupun Bambung, bersama Kanjat, Lasi sangat bahagia. Betapa tidak? Baru kali ini merasakan bahwa inilah hidup yang sebenarnya.
Kelebihan: NOvel sastra ini memang sangat cocok sekali dengan realita kehidupan sekarang. Jadi pembaca tertarik untuk terus membaca walaupun bahasa yang digunakan sulit untuk dipahami. Penulis sangat piawai dalam menggambarkan unsure intrinsik novel, bagaikan ia sendiri pernah mengalaminya.Sehingga pembaca dapat benar-benar merasakan apa yang ia baca. Tidak hanya menyaksikan saja tapi melihat apa yang dialami oleh tookoh. Penulis pun mengerti apa yang diinginkan oleh pembaca yaitu terletak pada happy endingnya karena kebanyakan pembaca novel mengharapkan novel yang dibacanya berujung pada happy ending
Kekurangan: Bahasa yang digunakan penulis sulit untuk dipahami dan tinggi. Bnayak jiuga kata-kata yang menurut saya tidak baik. Bahasa yang dgunakan terlalu tinggi sehingga sulit untuk dipahami. Jadi hanya orang-orang dewasalah yang dapat membaca dan memahami dengan baik, karena membutuhkan pemahamn yang lebih
Profile Image for Marina.
2,042 reviews363 followers
July 19, 2014
** Books 183 - 2014 **

Fuhh Akhirnya rasa penasaran saya terjawab sudah ketika sebelumnya membaca buku pertama Bekisar Merah pada 11 juni 2014 dan hari ini selesai membaca buku sekuelnya yang berjudul Belantik. lagi-lagi saya dibuat terpikat oleh karya-karya Ahamd Tohari

Buku ini berkisah bagaimana nasib Lasi selanjutnya. Dia yang sebelumnya menjadi Istri bapak Handabeni diceraikan dan harus kembali memilih jalan yang pahit yaitu menjadi istri Pak Bambung. Disinilah pergolakan batin Lasi terjadi. Ia merasa hampa dengan segala yang ia punya. Ia tahu dia memiliki uang, perhiasan dan segalanya tetapi entah kenapa hatinya selalu rindu akan kampung halamannya di Karangsoga

Lasi kabur menghindar ke kampungnya. Disanalah ia menemukan Kanjat sahabat masa kecilnya yang sudah menjadi dosen. Kanjat mengajak Lasi minggat ke Sulawesi bersamanya namun mau tak mau mereka harus menjadi suami istri yang sah terlebih dahulu. Namun malang nasib Lasi, kaki tangan Pak Bambung sudah menanti untuk membawanya pulang. Bagaimana akhir kisah Lasi dan Kanjat? apakah Lasi harus kembali ke pelukan pak bambung?

Yaa saya selalu terpana oleh konsep cerita dan setting yang dibuat oleh Ahmad Tohari. Beliau piawai dalam menulis deskripsi suatu tempat dengan detail seakan-akan saya sedang dibuai di dalam desa Karangsoga. Selain itu Ahmad Tohari tampaknya ahli dalam membuat cerita yang bertemakan sosial-budaya seperti ini.

Baiklah saya berikan 4 dari 5 bintang untuk buku ini! :)
Profile Image for Sri.
897 reviews39 followers
October 6, 2018
**spoiler alert**
Jadi, negeri ini sejak jaman ORBA (atau sebelumnya juga?) diarahkan untuk menjadi surganya para makelar. Para produsen gula legit hidup hina dina. Dan para makelar tanah air tercinta kita ini hidup bergelimang manis legit dunia. Termasuk legitnya wanita-wanita muda cantik elok rupawan. Selain menjadi kawan pergurauan, mereka juga menjadi obyek pameran. Ini loh saya, makelar hebat, bisa nggandeng perempuan yang cantik tiada tara. Obyek itu didandani dengan segala rupa perhiasan terbaik di dunia. Sayang oh sayang, Pak Belantik trauma sama bumil hahaha. Asli, lucu banget bagian ini. Alkisah ibu Pak Belantik hamil melulu sampai-sampai Pak Belantik trauma.
Lasi terselamatkan berkat:
1. kehamilannya (sah, karena sebelum dirumahkan secara paksa sama Pak Belantik dia udah dinikah siri sama bapak si jabang bayi)
2. tertangkapnya Pak Belantik karena kasus korupsi. Emm, lupa... kenapa ya Pak Belantik pudar kejayaannya? Sekedar persaingan antara sesama belantik atau ada kasus apa... Soalnya peristiwa ini sih masih di jaman itu-itu aja. Lah jaman itu kan lama banget ga runtuh-runtuh -_-.
Profile Image for Rigo Tahapary.
16 reviews
March 21, 2013
Empat bulan berselang sejak gue baca lembar terakhir dari Bekisar Merah, gue baru dapet buku ini dari langganan gue di rumah. Bukan karena gue males nyari, bukan. Gue aja yang nggak nemu bukunya. Di Gram** stoknya selalu kosong. Di toko online dapetnya fiktif mulu. Di Senen, gue malah ditawari bukunya ********.

Bicara bukunya sendiri, gue merasa agak 'kehilangan' Ahmad Tohari disini. Ciri khas pedesaan yang biasa muncul di tulisan-tulisan AT yang lain nggak ada. Memang wajar sih, karena memang latarnya kebanyakan di kota. Tapi buat gue, cara AT mendeskripsikan 'kota' disini nggak sekuat deskripsi AT ketika menggambarkan 'desa'. Mengenai penokohannya, gue agak kurang suka tentang bagaimana tiba-tiba Handarbeni lenyap begitu saja setelah tokoh 'Bambung' muncul, juga tokoh Darsa yang tiba-tiba hilang lenyap gitu aja. Berasa kayak nonton sinetron aja, tiba-tiba tokoh ini muncul, yang itu ngilang. Tapi kelemahan ini gue abaikan karena alur ceritanya yang runtut nan wajar. Buku ini gue kasih bintang tiga, jujur, semata-mata karena endingnya hepi.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Readaksi bahri.
11 reviews
Read
December 17, 2009
gue selalu tertarik ma bukunya pak Tohari, tapi waktu itu gue gak punya uang jadi ngabisin buku ini sekali duduk di Gramedia Solo
Profile Image for ilma mail.
4 reviews
September 17, 2014
tempat tinggal boleh berbeda tapi sikap dan perilaku harus masih mempertahankan adat yang dahulu





















Displaying 1 - 15 of 15 reviews