Jump to ratings and reviews
Rate this book

Lembaga Budi

Rate this book
Sebelum ada perintah mengenai hukum-hukum syariat diturunkan di Mekkah, belum kokoh Tauhid itu di dalam jiwa. Masyarakat waktu itu berada dalam alam jahiliyah. Maka tauhid itulah yang menyebabkan segenap manusia yang mempercayainya memandang kecil segala urusan didalam hidup, kecil kepentingan diri sendiri, kecil kepentingan keluarga dan rumah tangga, kecil harta benda yang tiada kekal, bahkan kecil seluruh alam yang terbentang ini, sejak dari bumi ke langit, bintang, bulan ke matahari, sampai kepada apa jua pun perkara-perkara yang belum tercapai oleh kepandaian manusia, jika dibandingkan kepada kehendak dari Yanh Maha esa, hanya Dia-lah yang besar, ALLAHU AKBAR.

Budi Al-Qur'an telah menyebabkan timbulnyasuatu umat yang besar, yang telah berkumandang suaranya di bawah kolong langit ini, ke timur, ke barat, ke utara dan ke selatan, menegakkan suatu negara dan suatu peradaban yang diakui sebagai suatu rantai emas yang gilang gemilang di dalam tarikh Pri Kemanusiaan. Sampai akhirnya genaplah isi Wahyu Tuhan, "Bahwasanya bumi ini akan Kami wariskan kepada hamba Kami yang sudi melakukan amal yang mulia."

126 pages, Paberback

First published January 1, 1939

25 people are currently reading
303 people want to read

About the author

Hamka

111 books1,088 followers
Haji Abdul Malik Karim Amrullah, known as Hamka (born in Maninjau, West Sumatra February 17, 1908 - July 24, 1981) was a prominent Indonesian author, ulema and politician. His father, syekh Abdul Karim Amrullah, known as Haji Rasul, led and inspired the reform movement in Sumatra. In 1970's, Hamka was the leader of Majelis Ulama Indonesia, the biggest Muslim organizations in Indonesia beside Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah. In the Dutch colonial era, Hamka was the chief editor of Indonesian magazines, such as Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, and Gema Islam.

(source : wikipedia)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
109 (49%)
4 stars
83 (37%)
3 stars
22 (9%)
2 stars
3 (1%)
1 star
5 (2%)
Displaying 1 - 30 of 32 reviews
Profile Image for dausshassan.
51 reviews9 followers
March 20, 2021
Makalah “Lembaga Budi” dari Pak HAMKA ini bebicara soal kejayaan abadi manusia adalah bermula dari budi yang baik. Dan budi yang baik itu datangnya dari pegangan hati yang malar kepada zat-Nya sehingga berakhir sawang hayatnya.

Gilalah manusia yang hendak cuba menukarkan akidah itu dengan kebendaan. Hingga tidak dapat mengimbangi di antara kesalahan dengan kebenaran.
Terimalah nikmat yang diberi dengan syukur, bukannya dengan menyombong. Yang bernama makhluk, kecilnya seperti kuman jika dibandingkan dengan falak yang luas ini. Iradat Tuhan untuk mencabut anugerah-Nya kepada manusia yang terus alpa oleh arus duniawi itu terlalu mudah.

Kelebihan manusia daripada binatang bukanlah kerana makan atau melihat. Tetapi kerana manusia mempunyai kesanggupan meninjau dan merenungkan hakikat sesuatu. Setiap pekerjaan yang dilakukan tetaplah manusia itu mesti menjadi seorang yang mukhlis agar tidak dibinasa dengan pedih berpanjang di akhirat oleh kerna bersifat ahmah(bodoh) dan haloba segala macam hal untuk meraih keuntungan diri.

Perasaan janganlah mengalahkan akal dalam menetap sesuatu keputusan. Senantiasalah manusia itu perlu untuk berwasilah dengan penciptanya agar kemudaratan terhindar dan terjaga utuh hatinya kepada agama.
“Yakinlah mati yang biasa tidak lain hanyalah ghaibnya nafas dari tubuh, tetapi mati yang paling pahit ialah bila engkau masih hidup tetapi pertimbangan akalmu telah mati”

Pak HAMKA telah menitip percikan pengalaman 99 kata renungan budi untuk si pembaca agar boleh dijadikan renungan sanubari lalu dituntun ke budi yang lebih tinggi.
Profile Image for Zulkifli Khair.
Author 21 books30 followers
November 27, 2022
Ia hakikatnya buku tasauf biarpun tanpa kalimat tasauf seperti Tasauf Moden. Secara jujur buku ini 'evergreen' sifatnya lantaran sampai kiamat manusia perlu menyucikan hati masing-masing biarpun bukan bergelar sufi. Dari satu perspektif, berbudi itu adalah dengan menyucikan hati.

Pak Hamka membuat sorotan pandangan Ibn Maskawih, Ibn Arabi, Ibn Hazm dan al-Ghazali terhadap konsep budi dan penyakit budi. Rata-rata bersetuju bahawa penyakit budi perlu dirawat dalam usaha mempertinggi budi bersama 'munjiyat' (perangai baik).

Antara tanda jiwa kembali sihat setelah dirawat, segera melakukan 'infaq'.

Buku ini seronok dibaca apabila disulam dengan beberapa anekdot; anekdot zaman sahabat dan juga dalam zaman selepasnya. Gaya penulisan Pak Hamba persis mentor yang menulis buat mentee-nya atau guru buat murid kesayangannya.

Akhir kalam buat warga Nusantara, Pak Hamka menyarankan agar menjadi kelapa yang setiap satu daripadanya bermanfaat buat manusia; "Kalau tua jadilah tua-tua kelapa, makin tua makin berminyak." Secara tersirat, orang berbudi itu orang berjasa.

Profile Image for Bsplayer.
39 reviews3 followers
May 15, 2011
Diribut rundukkan padi
dicupak Datuk Temanggung
hidup kalau tidak berbudi
duduk tegak ke mari canggung
(Prof. Dr. Hamka)

Tegak rumah kerana sendi
runtuh sendi rumah binasa
sendi bangsa ialah budi
runtuh budi runtuhlah bangsa.
(Shauki Bey)

Ulasan saya:

Jangan disemai benih yang iri
kelak tumbuh pohonan dengki
jangan menuai hasad di hati
kelak binasa diri sendiri.

Kendatipun pelana emas
kuda tua jadi tunggangan
kendatipun tak minta balas
budi itu jadi kenangan.

http://budakkilang.wordpress.com/2011...
Profile Image for Fur Abid.
227 reviews8 followers
August 12, 2021
Nukilan tinta dari Pak Hamka yang menghamburkan 1001 hikmah mengenai budi yang merupakan tapak dan asas kegemilangan seseorang itu datangnya dari keluhuran budi yang bagus. Budi itu mencerminkan rupa sebenar seseorang. Juga, budi merupakan tapak bagi membina karakter insani sesuai dengan cerminan identiti sebagai seorang Muslim.
.
Bila menyebut berkenaan budi, ia ada satu maksud keterkaitan di antara manusia dengan pencipta-Nya. Manusia itu tidak seperti haiwan yang mana hanya bergantung kepada gharizah yakni 'instinct' semata-mata. Tetapi, manusia itu melakukan kerjanya melalui pertimbangan akal lalu diterjemahkan kepada tujuannya bagi mencari wasilah penyelesaiannya.
.
Keluhuran budi itu perlunya kepada pegangan yang kukuh kepada agama Islam. Malah, dipetik daripada Muhyiddin Ibnu Arabi yang terkenal dalam keilmuan dunia tasawwuf dan falsafah menyatakan berkenaan penyakit budi dan cacat perangai :

1) Fujur ( Durjana )
2) Syarah  ( Tamak Haloba )
3) Tabazzul ( Tidak punya harga diri )
4) Safah ( Cepat tersinggung & marah )
5) Kharq ( Bangga diri )
6) Qasawah ( kesat hati )
7) Khadar ( curang )
8) Khianat
9) Membuka Rahsia
10) Takbur
11) Khabats ( berniat jahat )
12) Bakhil
13) Jubun ( Takut menghadapi tanggungjawab )
14) Hasad
15) Jaza' ( Gentar )
16) Shaghirul Himmah ( Jiwa Kecil )
17) Al- Jaur ( Keluar Dari Garis Kesederhanaan )
.
Dilampirkan daripada Imam Ghazali bagi mengenal kekurangan diri :

1) Mencari guru, pendidik yang berpandangan luas.

2) Mencari seorang sahabat karib yang jujur dan berpandangan luas.
.
Sebuah naskhah yang wajar dibaca oleh umat Islam secara khususnya bagi mengukuhkan jatidiri dan membina keluhuran budi berteraskan agama Islam.
Profile Image for Khalid Hidayat.
46 reviews19 followers
July 25, 2022
Teramat pentinglah buku ini buat dibaca, lantaran menjaga keluhuran budi adalah tugas yang tak dapat disepelekan bagi setiap diri manusia. Buya Hamka menekankan bahwa, orang yang berakal dan berbudi tetaplah hidup walaupun dia telah mati.
Profile Image for nur'aini  tri wahyuni.
895 reviews30 followers
June 10, 2017
wajib baca, nih. untuk beberapa pekerjaan mayoritas di Indonesia ada banyak nasehat baik yang diberikan. Hamka mengajarkan dengan bahasa yang sangat indah.
Profile Image for Baihaqi Mohamad.
69 reviews1 follower
November 25, 2017

Buku yang ringkas tetapi padat. Amat berguna untuk memupuk budi yang mulia.



Dalam menerangkan budi seorang doktor, kata beliau : " Doktor yang tahu kewajipannya, bila ada yang memerlukan pertolongan tidak pernah ditolak, meski dibangunkan waktu malam. Memang berat pekerjaannya tetapi dia diperintah oleh perasaannya yang halus, bahawa ilmu pengetahuannya itu ialah buat anak Adam seluruhnya. Tidak memilih bangsa dan kulit, tidak pula memilih pangkat dan darjat.



Terima kasih Prof atas nasihatnya.


Profile Image for Waode Hasrana Haris.
1 review2 followers
March 4, 2022
Membuka halaman pertama buku ini pembaca disuguhkan sebuah syair indah.

"Tegak rumah karena sandi
Runtuh budi rumah binasa
Sendi bangsa ialah budi
Runtuh budi runtuhlah bangsa"

Yups, ketinggian budi menjadi modal utama dalam membangun masyarakat. Ketinggian budi terbukti telah mengantarkan peradaban Islam pada masa kejayaannya. Sedang runtuhnya budi menjadi penyebab kehancuran. Bukan hanya Islam namun peradaban lain pun demikian.

Buya melalui buku setebal 206 halaman ini menyuguhkan siraman segar bagi rohani ditengah zaman yang semakin gersang. Membuka lembar demi lembarnya ibarat mencungkil sisi-sisi baik yang selama ini mulai pudar. Ada banyak kisah yang dituangkan oleh Buya sangat patut untuk diperhatikan.

Buku Lembga Budi dipecah dalam 11 bab. Mula-mula membahas tentang budi yang mulia, sebab budi menjadi jelek, penyakit budi, dan juga budi yang harusnya dimiliki oleh orang pemerintahan, raja, pedagang, pengarang, dan orang yang membuka perusahaan.

Pada bagian pemerintahan, Buya menyitir beberapa surat dari para pemimpin di zaman kejayaan Islam. Isi yang luar biasa yang niscaya jika diperhatikan dan dijalankan maka kebaikan dan kejayaan akan kembali. Pemerintah dan rakyatnya bisa seiring sejalan dalam memajukan sebuah bangsa.

Selain surat, disuguhkan pula kisah-kisah yang menurut saya sangat membekas. Salah satunya ketika Buya ditanya tentang mana yang lebih baik anatara Pak Haji yang selalu melaksanakan shalat tetapi kasar pada hewan, ataukah dokter non muslim yang sangat penyayang pada hewan dan gemar memberi pengobatan secara gratis?

Buya memamparkan sebuah jawaban telak yang mencirikan ketinggian pemahaman. Dengan gaya bertutur khas Buya, membaca buku ini seperti sedang duduk di depan beliau sembari menyerap sari-sari ilmu dan pemahaman.

Bagi saya buku ini seumpama kado dari Allah yang datang pada saat yang tepat. Saat dimana banyak impian-impian yang telah terususun harus kandas. Tanpa disangka-sangka Allah mengambil kembali titipan-Nya yang begitu berharga.

Secara acak saya membuka halaman terakhir dan menemukan renungan ke 99 “Betapapun kita memegang kemudi bahtera menuju pelabuhan yang dicita-citkan, namun yang menentukan arah agin adalah Dia. Sebelum sampai ke tempat pehentian, janganlah lekas puas dan gembira jika nasib selamata, tetapi bersyukurlah! Dan jika nagin rebut mengguncangkan bahtera sehingga seakna-akan tiang akan patah, janganlah berguncang jiwamusebab sesudah angina rebut itu alam akan terang kembali, sebab itu hendaklan sabar. Imbangan pelajaran hidup adalah sabar anatara syukur dan sabar”

Ya, kadang kita terlalu takabur dalam berencana. Hingga Allah berikan sentilan-sentilan untuk kembali menyadarkan bahwa ada Dia yang memiliki kuasa atas segala.
Profile Image for Nurulnaziefa_.
65 reviews5 followers
May 10, 2022
LEMBAGA BUDI- HAMKA

Diribut runduklah padi,
Dicupak Datuk Temenggung,
Hidup kalau tidak berbudi,
Duduk tegak ke mari canggung.

Maksud budi menurut kamus Dewan Bahasa dan Pustaka ialah:
1. Akal, kebijaksanaan.
2. Pekerti perangai, akhlak, tingkah laku, kelakuan, watak.

Di dalam buku Lembaga Budi, HAMKA mengajar kita tentang pentingnya budi yang baik dalam kehidupan kita. Pembentukan budi yang baik pula seharusnya dipupuk sejak dari kanak-kanak lagi, disini peranan ibu bapa begitu penting bagi memastikan anak-anak belajar menjaga budi.

Buku yang hanya berketebalan 176 m/s ini membawa isu yang agak berat bagi Saya, jadi Saya mengambil masa yang agak panjang untuk habiskan buku ini.

Antara bab yang paling menarik dalam buku ini ialah bab sebelas iaitu percikan pengalaman 99 kata renungan budi. Saya sentiasa kagum dengan kata-kata HAMKA yang begitu indah sekali seperti selalunya, membuatkan Saya sayang menghabiskan buku ini begitu sahaja.

Ikhlaskah kita jika beramal kerana Syurga?

“Begitu banyak nikmat-Nya, walaupun kita berdosa, walaupun salah, namun nikmat tidak juga kurang. Bukankah sudah perintah budi akal kita sendiri akan menyembah dengan ikhlas kepada Allah? Syurga apakah lagi yang diharapkan, bukankah yang telah ada ini sudah separuh syurga bagi hati yang Mukmin? Neraka apakah lagi yang ditakuti, bukankah maksiat itu sudah neraka dalam batin kita?”

Membaca buku ini menambahkan lagi ilmu Saya tentang budi. Budi yang baik seharusnya menjadikan hidup lebih teratur dan baik, bukannya melarat.

Buku ini sesuai dibaca oleh semua orang, bacalah perlahan-lahan supaya kita dapat manisnya isi buku ini.
Profile Image for Tengku Khadijah.
88 reviews4 followers
July 27, 2023
Buku Lembaga Budi merupakan buku bukan fiksyen yang mengandungi huraian HAMKA berkaitan dengan budi. HAMKA menjelaskan perihal budi yang mulia, dan tidak mustahil, budi boleh juga menjadi rosak. Ada juga penyakit budi yang boleh mendatangkan mudarat terhadap diri.

Ada beberapa bab yang menjelaskan cara berbudi mengikut perkelasan berikut;
1. Budi Orang Yang Memegang Pemerintahan
2. Budi Yang Mulia Pada Raja
3. Budi Orang Yang Membuka Syarikat
4. Budi Yang Mulia Pada Pengarang
5. Sifat Dalam Bekerja
6. Budi Yang Mulia Pada Pengarang

Beberapa isi yang menarik dalam buku ini, antaranya tentang berbangga-bangga dengan keturunan secara berlebih-lebihan.

Kata Hamka; “Kalau nenek moyang yang engkau banggakan itu memang orang yang berjasa, mempunyai nama baik tidak jugalah ada faedahnya bagi dirimu kalau engkau sendiri tidak berbudi.”

Banyak lagi yang menarik dalam buku ini, terutamanya untuk sesiapa yang berniaga. Ada nasihat-nasihat daripada Hamka agar kita sentiasa berbudi dalam berniaga.

“Orang yang pengetahuannya baru sedikit kerapkali menyangka dirinya telah mengetahui semua. Tetapi orang yang luas pandangannya dan mendalam ilmunya tidaklah berani lagi mengatakan bahawa dia tahu segala-galanya.

Bahkan dia lebih suka berkata: ”Banyak yang belum saya ketahui.””

Silalah baca buku ini. Ada banyak ‘quote’ menarik di bab terakhir buku ini. Ada sesetengah bab mungkin agak sukar difahami kerana bahasanya tapi mungkin terbitan PTS atau Jejak Tarbiah lebih mudah difahami.
Profile Image for A'ishah Kamaludin.
39 reviews3 followers
September 10, 2021
Meskipun segala sesuatu diketahuinya, tetapi pengetahuannya itu tidak sampai kepada makrifat akan Allah, sama ertinya dengan tidak mengetahui apa-apa! (page 42)

For me, this book feels light because of the beautiful language that easily touches the heart, but the content feels heavy on the chest. Each line is a word of wisdom and meaningful advice for reflection. We might think that we already know the difference between good and evil, but this book delves into each act more deeply.

There are chapters for the king/imam, leaders, entrepreneurs & business owners, as well as general workers like teachers, doctors, lawyers, but what appeal to me personally is one section in Chapter 8 that tells about a writer's good character, while Chapter 9 also contains a letter from Abdul Hamid Khatib, a palace author during the time of the last Umayyad Caliphate, Marwan. Among his advice was the importance of knowledge, perhaps the unimportance (don't quote me) of studying math and taking care of the beauty of handwriting. As someone passionate about writing, I relate to these unique tips very much.

The last chapter of the book is a compilation of quotes and gems from Hamka on various topics. All in all, I appreciate this book and will always reach for this book for motivation and inspiration.
Profile Image for Ain Sakinah.
26 reviews30 followers
February 7, 2021
This book, mashAllah..
I’ll put my honest review for this book.
Every each page of it, every line, every bit of words is full with good remembrance for us to apply in getting the love of Allah.
This book focus on the Akhlak of us as a Muslim towards other people and nation.
This book also remind us to do good during selling goods and food which most people don’t comply nowadays.
Although this book is written in Indonesia, it’s a bit difficult for me to read it but Alhamdulilah i manage to get it done!
Profile Image for Lailaturrahmi.
154 reviews18 followers
April 1, 2019
Dibandingkan Lembaga Hidup, buku ini terasa lebih ringan dan menyentuh, barangkali karena membahas 'budi', sesuatu yang lebih dekat dengan perilaku sehari-hari. Diawali dengan bahasan mengenai budi menurut para ahli tasawuf, Buya Hamka juga memaparkan contoh-contoh budi yang baik dan kontrasnya dengan yang buruk. Di bagian akhir buku, terdapat 99 tulisan pendek yang mengena, mengingatkan kita untuk tak melupakan budi di zaman yang kerap menyibukkan kita dengan materi dan kesemuan dunia.
Profile Image for Dede Koesprihatin.
4 reviews3 followers
July 8, 2023
Buku yang menurutku “must read” buat jadi referensi dalam hidup. Berisi pedoman hidup yang bisa kita ambil yang diramu menggunakan kata-kata sederhana sehingga pesannya tersampaikan dengan lugas.

Nasihat-nasihat yang diberikan Buya amat serat makna.
Buku ini benar-benar menjadi pengingat diri di saat yang tepat.

Terima kasih, Buya Hamka.
Semoga tulisan-tulisan dan nasihatmu menjadi amal jariyah untuk Buya.
Profile Image for Niena Aniesza.
195 reviews7 followers
March 10, 2017
Orang yang berbudi itu 'hidup' selepas dia mati.

Jalaluddin Rumy berkata, "Jika mahu mengenali aku setelah aku tiada, temui orang yang mengenal ajaranku."

Runtuhnya sesuatu bangsa itu kerana hilangnya budi.

Buku ini sangat relevan dibaca sepanjang zaman, bagi menilai semula siapa diri dan tujuan kita hidup.
Profile Image for Aardbewoners.
49 reviews
May 9, 2023
This book contains good advice to apply in life. This advice is often packaged in story form so it is very easy to understand. There are several examples of events that can be learned during the reign of Islam in ancient times. Buya Hamka describes some of the virtues that should be possessed by a worker such as a trader, doctor, teacher, lawyer, writer, even a king/leader.
Profile Image for Abdul Arsal.
6 reviews
July 31, 2018
Buku kumpulan nasehat dan ajaran tentang kemanusiaan.
Mengajarkan Adab, bagaimana individu berinteraksi sesamanya, dan bagaimana bersikap dalam lingkungan kerja tertentu.
Profile Image for bila.
57 reviews2 followers
January 12, 2019
Merasa sangat tertampar di setiap babnya karena keadaan yang sangat jauh dengan apa yang seharusnya kita lakukan disetiap perlakuan, pekerjaan kita :(
Profile Image for Faizah Dewi.
14 reviews1 follower
May 28, 2020
Dalam buku ini, Buya Hamka menuliskan banyak sekali nasehat untuk para pekerja dalam berbagai bidang. Beliau menitikberatkan perkara budi pekerti serta pandangan dari berbagai ulama terdahulu.
1 review
Read
July 3, 2020
i wanna read read learn learn and use knowloge for better wold
Profile Image for Santhy Ria.
14 reviews
May 1, 2022
A great one to reflect our behaviors towards life. A deep philosophical yet a light reading for Ied Fitr holiday.
2 reviews
December 29, 2020
Topik yang dibahas didalam buku lembaga budi ada lah
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Reza Rizky Muttaqin.
13 reviews2 followers
March 5, 2025
Di buku ini buya Hamka menjelaskan nilai2 budi pekerti yang harus diketahui dan diamalkan oleh setiap manusia yg menginginkan kebahagiaan, kesuksesan, dan kemuliaan yang hakiki berdasarkan tuntunan Al Quran dan sunnah Rasul.
Cakupan budi pekerti yang dijabarkan mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari budi yg mulia secara umum, budi seorang pemimpin pemerintahan, budi seorang pekerja, hingga budi seorang pengusaha.
Sejarah mencatat, budi pekerti yg bersumber dari Al Qur'an telah melahirkan suatu umat yg besar. Gema pengaruhnya menjalar di seluruh penjuru bumi, peradabannya diakui sebagai rantai emas yg gemilang dalam sejarah peradaban manusia. 
Namun, sayangnya, setelah 700 tahun kejayaannya, sinarnya peradabannya meredup akibat merosotnya budi pekerti. Sebagaimana hukum Allah yg berlaku, datanglah zaman baru di benua eropa, menandai pergeseran peradaban dunia.
Buya Hamka mengingatkan agar kita terus memperbaiki budi di setiap posisi dan kondisi kita, serta selalu berusaha membangun peradaban yang berlandaskan tuntunan Al Qur'an dan sunnah Rasul, agar mampu meraih kembali jejayaan yang pernah dimiliki.
147 reviews14 followers
January 31, 2017
Di sini saya ingin nyatakan rasa sukacita untuk menggalakkan dan memberi saranan keras agar semua orang baca karya Hamka. Isi mantap, tulisan pun tidak keras.. suuppp...ke hati terus.

Kerana selalunya karya bukan fiksyen akan buat aku rasa cepat tepu. Bukan kali ini. Bukan bagi karya Hamka. Akanku teruskan dengan karyanya yang lain pada masa hadapan.

Cuma dari segi teknikal, ada beberapa typing error yang kecil, cth: 'pun' jadi ejaan 'oun' yang tidak lah sampai hilang maksud konteks.. kira okay la.. ni cetakan pertama versi pts kan..)

Super good book. Love it.
Profile Image for These Okudum.
17 reviews
February 23, 2022
"Begitu banyak nikmat-Nya, walaupun kita berdosa, walaupun salah, namun nikmat itu tidak juga kurang.

Bukankah sudah perintah budi akal kita sendiri akan menyembah dengan ikhlas kepada Allah?

Syurga apakah lagi yang diharapkan, bukankah yang telah ada ini sudah separuh syurga bagi hati yang mukmin? Neraka apakah lagi yang ditakuti, bukankah maksiat itu sudah neraka dalam batin kita?"

Harus saya ulang baca lagi dan lagi.
Profile Image for شرقاوي روسلن.
10 reviews
February 2, 2017
Walaupun buku ni tidak terlalu tebal, tetapi saya mengambil masa untuk hadam satu persatu mesej yang ingin disampaikan. Alhamdulillah habis juga pada hari ini. Buku ini lebih kepada memberi motivasi dan nasihat dalam pembentukan peribadi sebagai manusia di atas muka bumi ini. Wallahu a'lam.
Profile Image for Wiranggeni.
10 reviews
October 14, 2008
agak lupa isinya, soalnya dah lama banget bacanya trus ga ada catatan-catatan tentang buku ini
Displaying 1 - 30 of 32 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.