Jump to ratings and reviews
Rate this book

Nyai Dasima

Rate this book
Sebuah karya memukau dari S.M. Ardan, sastrawan Indonesia modern yang juga dikenal sebagai pelopor kebangkitan teater rakyat Betawi. Ardan melalui novelet Nyai Dasima, yang ditulis ulang oleh Ardan dari karya G. Francis yang terbit lebih seabad lalu, ini menyajikan lebih dari sekadar suatu cerita tentang tragedi nyai yang ingin kembali ke tengah bangsanya.

138 pages, Paperback

First published January 1, 1965

21 people are currently reading
225 people want to read

About the author

S.M. Ardan

7 books7 followers
Syahmardan, (lahir di Medan, 2 Februari 1932 – meninggal di Jakarta, 26 November 2006) adalah sastrawan dan tokoh Betawi. Dia dikenal sebagai penyair, cerpenis, novelis, esais, dan penulis drama. Kebangkitan lenong, topeng Betawi, dan lain-lain tidak lepas dari tangannya.

Meski tidak memiliki darah Betawi dalam tubuhnya, namun sejarah mencatat bahwa Ardanlah yang pertama kali menggunakan dialek Betawi dalam karya sastra Indonesia. Barulah disusul Firman Muntaco, yang banyak banyak menulis sketsa-sketsa Betawi.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
23 (14%)
4 stars
35 (22%)
3 stars
62 (40%)
2 stars
20 (12%)
1 star
15 (9%)
Displaying 1 - 30 of 34 reviews
Profile Image for Ellena.
21 reviews8 followers
February 1, 2014
Baiklah. Memang tak bisa dielakkan jika saya akhirnya terperangkap juga dalam upaya membandingkan antara Tjerita Njai Dasima yang ditulis oleh G. Francis (mengisi setengah bagian terakhir buku) dengan Nyai Dasima yang ditulis ulang oleh S.M. Ardan. Dan meskipun Nyai Dasima versi S.M. Ardan merupakan sebuah upaya untuk 'mengidealisasi' para karakternya & melepaskan citra dari struktur sosial kolonial, tuturan G. Francis lebih dapat saya terima sebagai pembaca.

Memasuki penulisan ulang S.M. Ardan dengan perubahan karakter dan motif masing-masing tokoh di dalam cerita Nyai Dasima setelah membaca pengantar dari J.J. Rizal bukannya tak dengan ekspektasi yang bisa dibilang cukup berlebihan. Saya sebut berlebihan karena hingga penulisan ulang oleh S.M. Ardan berakhir, pengalaman membaca menyisakan ruang untuk ketakpuasan.

Meski nampak sebagai sebuah 'niat baik' untuk memulihkan stereotip identitas masyarakat Pribumi yang -meminjam diksi yang digunakan oleh J.J Rizal di bagian Pengantar- diselewengkan oleh G.Francis dengan sudut pandang kolonial, justru Tjerita Njai Dasima (versi asli) menuturkan kejujuran tersendiri yang lebih kaya, terlepas dari dikotomi 'benar' dan 'salah' dalam menggambarkan tabiat karakter berdasar identitas sosialnya.

Sebuah 'itikad baik' yang ditawarkan oleh S.M.Ardan kelewat sumir. Cerita yang dituturkan S.M. Ardan nampak begitu terburu-buru dan 'terjebak' dalam upaya pemulihan konstruksi sosial, hingga melupakan aspek lain yang 'memadatkan' sebuah narasi.

Salah satu faktor yang paling mengganggu (di luar hal teknis seperti kesalahan ketik dan jeda dialog antar tokoh yang membingungkan), adalah plot yang dibangun oleh S.M. Ardan. Hubungan kausalitas nampak lemah dan kabur, serta begitu dipaksakan, sehingga konflik yang menjadi dasar cerita Nyai Dasima jadi hadir begitu remeh.

Meski didasari oleh motif haus harta yang dimiliki Nyai Dasima atas pemberian Tuannya, G. Francis dapat dengan luwes menghadirkan tuturan yang runut nalar tentang bagaimana Mak Buyung, Samiun, juga Haji Salihun menyelewengkan agama sebagai dalih dalam upaya membujuk Dasimah agar meninggalkan tuannya, Tuan Edward W. Pertentangan pandangan religi yang prinsipil, cenderung primitif, dan sekaligus terdistorsi dengan sosok kolonial yang dicap kafir dan seenaknya mengambil perempuan pribumi jadi bini piare hingga diasingkan bangsanya sendiri justru muncul dengan lebih natural dalam versi G. Francis.
Sedangkan S.M. Ardan, bagi saya, telah gagal membangun landasan yang mendasari seluruh cerita Nyai Dasima yang dibangunnya. Motif mengapa Samiun ingin memperistri Dasima sendiri tak jelas. Mengapa mengambil seorang Nyai pun, tokoh Samiun sama sekali tak menawarkan alasan. Tiba-tiba tergila-gila dan kepengen aje ambil Dasima jadi madunye. Motif pembunuhan Dasima sendiri juga tak terelaborasi dengan maksimal.

Hal lain yang mengganggu adalah karakterisasi dan penempatan peran S.M. Ardan bertele-tele dan kurang efektif.
Ketimbang S.M. Ardan, meskipun tokoh Pribumi digambarkan dengan citra yang busuk, G. Francis 'menghormati' masing-masing tokohnya dengan meletakkan mereka dalam proporsi yang efektif dan efisian sehingga dapat saling melengkapi serangkaian konflik dalam cerita.

Dari Samiun, Saleha, Mak Buyung, hingga Haji Salihun yang diposisikan sebagai Si Jahat (haus harta, pongah dengan latar identitasnya sebagai keluarga amtenar, dan mempergunakan agama untuk pembenaran rencana busuknya) dalam Tjerita Njai Dasima, diputarbalikkan karakternya oleh S.M. Ardan, dengan tetap menyisakan Hayati (istri Samiun) dan Bang Puase (si Penjagal) tetap pada karakter antagonisnya. Saleha dan Haji Salihun (yang menggunakan jampi pada Njai Dasima versi Francis) dalam versi S.M. Ardan pun hadir menentang poligami. Sedang Samiun yang hendak memperistri Dasima, dalam versi Ardan bukan lagi menjadi otak dari kekejian yang menimpa Dasima, melainkan sebagai 'si orang awam yang keciprat apes'.

Ambillah tokoh Dulo sebagai contoh lain. Tokoh yang diciptakan oleh S.M.Ardan dalam Nyai Dasima versinya hanya muncul untuk sekedar menyetor uang narik delman pada Samiun, atau sekedar omong remeh-temeh tentang keinginan Miun memperistri seorang Nyai. Karakter Dulo hadir dengan begitu dipaksakan dengan perannya juga tak lebih dari sekedar menggambarkan bagaimana Hayati, istri Samiun, sebagai istri yang mata duitan dan gila judi.
"Bininye ade nggak?" tanya Dulo lagi yang kontan dijawab oleh Mak Leha, "Hayati? Jangan, jangan kasi Hayati. Lu kasi Hayati pendeknya bures deh.
[...]
"Kaye nyang nggak tau aje. Biase deh. Dari pagi ude pegi, tapi bukan nyari duit kaye si Miun. Hayati sih ngebuangin duit... maen ceki!"
(Mungkin dimaksudkan sebagai salah satu motif mengapa Samiun ingin beristri lagi, tapi perannya untuk menekankan motif itu pun tak kuat.)

Atau tokoh Puase yang mengakhiri hidup Dasima. Poasa, dalam versi G. Francis, dengan efektif muncul hanya di bagian puncak tragedi Nyai Dasima. Ia muncul dengan efisien lewat kekejian yang memang seharusnya identik pada dirinya sebagai pembunuh. Lain halnya dengan Puase dalam versi S.M. Ardan. Puase muncul berkali-kali, bahkan nampak seperti tetangga yang mampir secara harian, yang malah membangun sebuah keakraban a la love-hate relationship antara dirinya dan Samiun --sehingga perannya sebagai penjagal Dasima menjadi sebuah kekonyolan yang tak masuk akal. Kekejian Puase dalam versi S.M. Ardan tak terbangun secara sempurna bahkan sampai akhir perannya dalam adegan pembunuhan Dasima yang disampaikan dengan terlalu tergesa-gesa untuk segera mengakhiri rangkaian cerita yang telah terlanjut bertele-tele di bagian awal.

Tak ada kengerian, tak ada simpati. Singkatnya, begitu minim gejolak emosi kita dipancing dalam sosok Dasima yang S.M. Ardan sajikan, meski melalui dialog-dialognya Dasima telah berujar dengan kalimat-kalimat 'gagah' dan "revolusioner".

Bagi saya, Nyai Dasima yang penuh kesadaran akan haknya, memiliki otoritas atas pilihan, kemelekan atas sebangsanya (dan segala yang ingin dikonstruksikan oleh S.M. Ardan) justru telah muncul dalam versi asli G. Francis itu sendiri: Njai Dasima hadir dengan kompleksitas masa-masa kolonial dan konflik batinnya yang lebih masuk akal dan jujur tanpa mengada-ada; meski subtil.
Profile Image for Jimmy.
155 reviews
June 28, 2010
Setelah menonton pementasan "They Call Me Nyai Ontosoroh" di Erasmus Huis beberapa waktu yang lalu, saya sangat kagum dengan sosok Nyai Ontosoroh. Sebuah sosok perempuan yang kuat. Dan itu yang membuat saya ingin segera membaca buku "Nyai Dasima" ini. Sama-sama seorang Nyai, mungkin memiliki karakter yang kuat juga, pikirku. Dan saya pun membacanya...

Kesan pertama yang saya rasakan, Capek! Buku ini sepertinya dikerjakan terburu-buru. Ceritanya seolah numpang lewat begitu saja. Bagi saya, tidak ada tokoh yang memiliki karakter yang kuat. Bahkan Nyai Dasima sekalipun. Saya tidak tahu harus mengagumi tokoh yang mana, dan saya juga tidak tahu harus 'membenci' tokoh yang mana. Semua tokoh, biasa saja. Seolah numpang lewat saja. Datar. Saya bisa memastikan Nyai Dasima adalah tokoh utamanya, hanya karena namanya menjadi judul buku ini.

Buku ini dibagi menjadi dua bagian. Keduanya bercerita tentang Nyai Dasima.

Bagian Pertama: "Nyai Dasima" karya S.M. Ardan
Percakapan menggunakan bahasa Betawi, tapi untunglah di bagian belakang ada daftar anotasi kata-kata dalam bahasa Betawi yang belum umum. Tapi karena kalimat-kalimat tidak disusun dengan rapi, hanya rasa capek yang saya rasakan.

Belum lagi salah ketik yang bertebaran dimana-mana. Ada yang kekurangan huruf-lah. Ada yang hurufnya salah posisi-lah. Saya sering menemukan tanda kutip penutup tanpa ada kutip pembukanya, dan sebaliknya. Sejumlah koma yang salah mengambil tempat. Kalimat-kalimatnya sambung menyambung, dalam artian acak-acakan. Kacau.

Bagian kedua: "Tjerita Njai Dasima" karya G. Francis
Dan bagian ini juga membuat saya semakin capek. Dari judulnya saja sudah kelihatan bahasa seperti apa yang digunakan.

Yang 'menarik' adalah, meskipun S.M. Ardan dan G. Francis menceritakan tokoh yang sama, tapi kedua cerita ini menurut saya sangat bertolak belakang. Entah siapa yang benar. Tidak hanya Nyai Dasima, tokoh-tokoh pendukungnya juga digambarkan dengan cara yang berbeda. Hanya penggambaran tokoh Bang Puase saja yang sama.

Tapi, akhir ceritanya sama kok, yaitu Nyai Dasima akhirnya... *sensor*
Profile Image for Pera.
231 reviews45 followers
February 14, 2019
Kisah Nyai Dasima dalam buku ini ditulis oleh dua orang Penulis. Yang pertama S.M. Ardan, yang kedua adalah G. Francis.

Penulis aslinya adalah G. Francis, kemudian ditulis ulang oleh SM. Ardan.

Apa bedanya?

Yang pertama, ejaan. Ejaan tulisan G. Francis tetap memakai ejaan masa sebelum merdeka. Repot benar membacanya. 😅

Yang kedua, penyebab Nyai Dasima meninggalkan kehidupan Nyainya.

G. Francis menceritakan bagaimana Nyai Dasima keluar dari rumah besar Tuan nya karena tawaran memperdalam Agama dan terkena mistis (guna-guna).
Hubungan Nyai dan Samiun seperti rampok dengan strategi panjang dan mahal untuk hasil yg sedikit.

Sementara kisah versi Ardan lebih mengupas konflik di keluarga Samiun. Nyai Dasima meninggalkan rumah besarnya karena keinginan kembali ke lingkungan sebangsanya.Membaca Versi Ardan seperti nonton ketoprak Lenong, atau film ala Benyamin. Ardan sedikit menyelipkan pesan nasionalisme.

Yang Ketiga: waktu penulisan.
Cerita asli ditulis G.Francis terbit tahun 1896 .Kisah Nyai ini populer di masa kolonial sampai kemerdekaan sejalan dengan berkembangnya budaya Lenong betawi. Menguatkan Label negatif seorang Nyai: Perempuan matre, memilih jalan hidup yang naif, berakhir tragedi karena hidup disekitar pribumi yang bodoh dan jahat pula.

S.M Ardan muncul , menciptakan versi sudut pandang baru tentang Nyai Dasima pada tahun 1960. S.M Ardan memangkas bagian pesan anti Islam/pribumi dan menambahkan semangat nasionalisme.

Tahun 1980, mengikuti jejak SM. Ardan muncul Pram yang lebih bisa melihat adanya pengaruh kolonialisme dalam sastra yang terus memberikan pengaruh negatif. Pram melawan pengaruh itu dengan menghidupkan Nyai dengan peran yg lebih berkarakter ala Mother Goddess atau manusia modern. Sang Nyai itu bernama...Nyai Ontosoroh.

*Sekian*

Thanks @tan yang sudah meminjamkan buku ini. :)
@medanmembaca
#medanmembaca
Profile Image for Stefani Lestari.
5 reviews
December 9, 2018
Novel ini terkesan menyudutkan orang Belanda dan hanya mengagungkan orang Betawi. Saya membandingkan dengan versi G. Francis dan lebih tertarik pada versi G. Francis. Meskipun keburukan orang Betawi masih ditampilkan (seperti bermain judi dan memalak), namun terkesan hanya membandingkan kulit Belanda dengan isi Betawi (semoga paham maksud saya.)

Selain itu, keburukan orang Belanda hanya ditampilkan dari sisi Nyai Dasima semata. Tentu tidak diketahui apa yang menjadi alasan utama Nyai Dasima meminta cerai dari tuannya. Terlebih, ketika Nyai Dasima mati terbunuh pun, orang Betawi langsung menyalahkan Tuan Edward sebagai bekas tuan Nyai Dasima. Jadi semua keburukan Belada hanya ditampilkan dari asumsi orang Betawi saja. Akan lebih baik apabila membandingkan novel ini dengan versi G. Francis atau menonton film Nyai Dasima yang disutradarai oleh Citra Dewi.
Profile Image for fajar binks.
30 reviews2 followers
July 15, 2015
secara struktur karya SM Ardan karakternya kurang hidup, kaku dan dipaksakan.terlebih Nyai Dasima nya yang menjadi judul buku ini, misalnya berapa kali dia bilang "lebih enak tinggal dengan bangsa sendiri blablabla", dan tak lupa banyak typo-nya. tapi terlepas kekurangannya cerita versi SM Ardan banyak disisipkan humor khas betawi, menilik bahwa Ardan adalah seorang penggiat lenong betawi. sementara versi G Francis menurut saya malah lebih bagus secara karakterisasi-an nya walaupun terlalu ekstrim kadar orientalisme-nya, dimana semua karakter dicerita ini jahat kecuali tuan W yang seorang Inggris (bahkan tuan W seperti korban kejahatan orang timur). padahal seharusnya versi Ardan bisa membalikan pencitraan timur yang buruk tersebut dengan cerita yang lebih bagus
Profile Image for fatru.
211 reviews
June 30, 2022
Penulisan ulang sebagai bentuk reklamasi cerita di sini perlu diparesiasi. Benar bahwa dalam tulisan G.Francis, Dasima digambarkan mudah sekali terseret oleh arus, dan gampang dipengaruhi. Belum lagi gambaran soal penduduk asli Betawi yang diambil dari sudut pandang amat kolonial. Versi S.M Ardan segar dan sesuai dengan keadaan, membacanya memang seperti membaca naskah lenong Betawi. Tetapi benar bahwa ada sedikit kebolongan pada plot di belakang, bahwa ada beberapa hal yang tidak terjelaskan dalam cerita, dan cerita kesannya seperti 'berakhir begitu saja', tapi ini mungkin karena sumber aslinya pun demikian, berakhir begitu saja seolah tanpa konklusi.

Tapi penulisan ulang ini memang bagus dan amat perlu diapresiasi.
Profile Image for Adelline Tri.
4 reviews
September 8, 2014
Entah mengapa Ardan mengubah ceritanya menjadi 180 derajat. Mungkin ingin membela kaumnya sendiri. Jika di buku nyai dasima sebelumnya karya G Francis buku ini kelam tapi justru lebih menarik dan dalam. meskipun kental akan masyarakat tanah air yang menjadi "biang keladi" nya.
Profile Image for Hanifati.
99 reviews47 followers
December 25, 2020
Menarik sekali membaca penceritaan satu kisah dari dua sudut pandang yang berbeda. Ini contoh sederhana penggambaran pandangan Orintalisme. Cerita Njai Dasima yang dahulu pertama dikisahkan oleh Francis tahun 1813 mengandung banyak stereotip kolonial terhadap pribumi: naif, bodoh namun picik. Terlihat dengan cukup jelas pula pandangan anti-Islam dari kolonial dengan penggambaran tokoh yang sangat agamis dan penggunaan dalih agama dlm berkelakuan. Sementara SM Ardan yang berusaha menceritakan kembali pada tahun 1960 menggambarkan tokoh-tokoh dalam cerita Francis menjadi lebih lugas. Cukup banyak perubahan karakter dan plot cerita, terutama penggambaran orang-orang kampung dan tradisi beragama pada masa tsb. Motif dari setiap karakter juga sangat jelas terlihat perbedaannya dari kedua cerita. Njai Dasima memiliki alasan kuat untuk bercerai dg Tuan W krn rasa keterasingannya di lingkungan koloni, Ia juga merasa tidak dihargai sebagai perempuan simpanan dlm cerita SM Ardan. Sementara dlm pengkisahan Francis, Ia termakan bujuk rayu Mak Buyung dengan memanipulasi pikirannya bahwa kehidupannya sebagai Njai adalah dosa dalam Islam. Meski penggambaran masyarakat pribumi dari kisah Francis sangat mengganggu saya, banyak stereotip yg tidak benar, namun penulisan cerita dan motif setiap karakter cukup logis dan masuk akal. Sementara SM Ardan lebih berfokus untuk menuturkan kembali penokohan yang 'benar' dari stuktur masyarakat yg terjadi di masa tersebut dan lebih berfokus pada dialog anatar tokoh. Mungkin salah satu alasannya adalah penulisan cerita ini untuk pertunjukan sehingga alasan dan motif tokoh tidak terdeskripsikan secara detil.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Helvry Sinaga.
103 reviews31 followers
June 22, 2011
Batavia pada awal abad 19. Belanda dikuasai Prancis pada 1806, Napoleon Bonaparte  menunjuk Herman Daendels untuk mereformasi Batavia pada 1808. Daendels mengubah perilaku orang Eropa dahulu (Belanda) yang melarang orang Eropa memperkerjakan orang-orang pribumi tanpa dibayar. Selanjutnya yang paling mengerikan adalah kerja paksa membangun jalan Anyer-Panarukan untuk mengantisipasi kekuatan laut Inggris yang hebat.Selanjutnya, Daendels digantikan oleh Sir Thomas Stanford Raffles pada 1811. Raffles membawa perubahan dalam kehidupan sosial Batavia. Orang Inggris mencatat pengamatan mereka dengan orang Batavia (pribumi) sebagai berikut:


Banyak orang Inggris yang melihat warisan rasial yang bercampur aduk dari para isteri teman-teman Belanda mereka. Kurangnya pendidikan berakibat tidak adanya bahasa penghubung yang dapat digunakan untuk berkomunikasi (Jean Gelman Taylor, Kehidupan Sosial di Batavia, Masup Jakarta, 2009)


Surat Lord Minto kepada istrinya perihal pengamatannya terhadap perempuan Eropa (Belanda) di Batavia juga menggambarkan bahwa mereka terlihat tidak menyenangkan.

Akibat yang ditimbulkan adalah banyak laki-laki yang hidup dengan perempuan pribumi dan memiliki anak gadis yang memiliki kebudayaan campuran yang akan menjadi isteri dan perempuan yang memiliki derajat dan martabat tinggi di Jawa...Mereka diasuh sejak kecil oleh budak-budak yang mengajarkan mereka ketidakberdayaan dan kemalasan, dengan begitu banyak pelayanan dan perintah. Kamu bisa memahami, seperti apa kelakuan mereka nanti...


Cerita 'duo' novel ini berlatar di tahun 1820. Di sebuah kawasan yang sekarang hiruk pikik dengan suara kendaraan bermotor. Kwitang-Pejambon-Kebon Sirih. Sejak Daendels memindahkan pusat kegiatan pemerintahan dari kawasan Sunda Kelapa ke kawasan Lapangan Banteng, kawasan sekitarnya juga ikut berkembang. Kwitang hingga ke Menteng sekarang ini menjadi tempat pemukiman.

Hidup sebagai gundik atau bahasa betawinya 'bini piare' pada saat itu mempunyai dampak. Dampak yang menyenangkan tentu saja bebas dari kemiskinan, semua pekerjaan rumah tangga ditangani oleh budak-budak, dan hidup berkelimpahan. Dampak negatif adalah kehilangan kontak dengan teman sebangsa, kehilangan hak mengasuh anak, kehilangan peran sosial dalam kehidupan bangsawan. Intinya kehilangan kemerdekaan atas diri.

Nyai Dasima dalam cerita SM Ardan ini tidak digambarkan secerdas Nyai Ontosoroh. Ny Dasima bersuamikan Tuan William dan memiliki seorang putri yang bernama Nancy. Selama 7 tahun Nyai Dasima tidak pernah pulang ke kampung halamannya di Bogor. Selama itu pula ia tidak pernah bergaul dengan teman sebangsa, dan ia tidak pernah dilibatkan dalam pertemuan-pertemuan keluarga Eropa di Batavia.

Cerita Nyai Dasima pada kedua versi ini memiliki kesamaan yaitu hidup Nyai Dasima akhirnya harus berakhir di tangan Bang Puase, orang suruhan Samiun. Samiun adalah seorang Kusir yang tinggal bersama isteri dan ibunya di kawasan Kwitang. Ia depresi lantaran istrinya sepertinya tidak mencintainya dan selalu bersenang-senang. Samiun menaruh hati pada Nyai Dasima, yang adalah "bini piare" Tuan William di daerah Pejambon. Ia berusaha dengan keras agar dapat memperistri Nyai.

Ketika Samiun ingin memperistri Nyai Dasima terjadi benturan nilai etika. Hal inilah yang menjadi perbedaan sudut pandang SM Ardan dan G. Francis. Ardan menggunakan pendekatan budaya dan nilai agama Islam, sementara G. Francis menggunakan pendekatan feodal yang menganggap orang Timur menggunakan ilmu mistik dan sebagainya. Selain itu, ketika Nyai Dasima sudah menjadi isteri kedua Samiun, SM Ardan menampilkan sosok Nyai yang rela melayani Samiun, mertuanya, dan madunya. Sementara dari sisi G. Francis, Nyai Dasima ditampilkan sebagai korban kesewenang-wenangan Samiun, madunya, dan mertuanya.


Kedua versi cerita ini diduga adalah kisah nyata. Cerita ini sudah difilmkan pada tahun 1929. Cerita ini membuat citra orang Betawi menjadi tidak baik. Orang Betawi digambarkan enggan bekerja keras, tukang palak, dan menyia-nyiakan perempuan. Membaca cerita versi SM Ardan, terbayang tetangga saya dulu, namanya Mpok Mumun. Dan memang tetangga dekat rumah kami adalah mayoritas betawi. Kawinan dengan menggunakan petasan, pelaminan mempelai dibuat di teras rumah alih-alih di gedung pertemuan. Makanan buat tamu pakai gerobak dorong. Lalu pasang musik setara 10.000 TOA! Hal ini yang mungkin menjadi kenangan saya pernah tinggal dengan komunitas Betawi, saya salut dengan Mpok Mumun, anaknya sekolah semua, padahal ia hanya berjualan kecil-kecilan di rumahnya. Miris melihat Orang Betawi yang semakin terpinggirkan di Jakarta ini. Perhatikan saja Kwitang-Pejambon-Kebon Sirih, sisa-sisa kampung mereka sekarang sudah menjadi gedung perkantoran dan gedung pertokoan.

Mungkin bagi para penggemar cerita dongeng, cerita ini dianggap biasa. Namun saya melihat sebuah kejujuran ditampilkan. Inilah Nyai. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya ia menceritakan dirinya pada generasi penerus. Ia pernah tinggal dalam dua dunia. Dunia intelektual dan dunia tradisional. Suatu cerita yang semoga tidak terlupakan dalam kisah sosial historis Indonesia.

#Dirgahayu Jakarta 484#

@hws22062011

Profile Image for Rahmah.
498 reviews
March 17, 2022
Pinjam ini dari perpus sekolah tahun lalu dan baru sempat baca hari ini XD
Tertarik karena dulu pas kuliah, sering dengar nama Nyai Dasima. Sempat tahu juga ceritanya, tapi hanya sekilas aja. Dan kalau ga salah dulu juga bentuknya lebih ke naskah drama.

Baca ini agak pusing sih karena dialognya hampir 90% menggunakan tulisan betawi. Nerka-nerka aja artinya apa sampai di halaman akhir, ternyata ada anotasinya ^o^. Aslinya cuma baca bagian awal aja. Yang bagian ke-2, yang tulisannya zaman doeloe, kayaknya nggak dulu. Tulisannya bikin pusing hehehe XD.

Menurutku, ceritanya ada plot hole-nya sih. Di mana akhir cerita cuma gitu doang tanpa penjelasan. Dan baca komentar lainnya, berbeda buku ini dengan versi aslinya. Jadi pengen baca versi aslinya dengan suntingan yang Indonesia zaman sekarang tentunya ^^.
Profile Image for Neysa.
120 reviews1 follower
December 14, 2025
dnf

Seriously I cannot enjoy the book at all. The plot is just too raw & too simple. There are numerous typographical errors pertaining to pronunciation, particularly in the works of S.M. Ardan. Furthermore, there exists inconsistency in the pronunciation too of G. Francis's words, (sometimes old Indonesian, other times it's used modern Indonesian words and pronounciation). I have found this book thoroughly unenjoyable. It stands as the most disappointing publication I have purchased and read this year. I bought and found this book from Makarya Buku at a cost of approximately around 100,000 IDR, which I consider an entirely unworthy expenditure and a complete waste of money.
Profile Image for mzya.
80 reviews2 followers
May 25, 2024
Jujur, lebih suka versi g.francis karna ceritanya lebih tertata, ga buru buru, dan jelas gimana kronologinya nyai dasima milih buat lepas dari tuan W. Versi G.Francis juga ngasih liat sifat² karakternya dgn jelas, ga kaya versi S.M Ardan yg menurutku sifat² karakternya cuma di tampilin sempitas aja. Terus versi S.M Ardan juga ga terlalu di ceritain gimana perjuangan nyai dasima buat lepas dari tuan W, kayak kurang jelass gitu. Tapi samiun mau di versi keduanya menurutku sama² ga beres. Baca ini lidahku ke selipet² 😭.
Profile Image for Galih Surya.
70 reviews
June 29, 2025
“Terdiri dari 2 bagian : bagian pertama semacam naskah drama yang penuh dengan dialog yang bersahut-sahutan, minimal narasi, serta dalam logat betawi. Bagian kedua memang lebih sedikit dialog dan dominan dengan narasi, namun isi disusun menggunakan ejaan lama yang lumayan membuat tersandung saat mengeja. Satu-satunya sisi positif dari buku ini ialah tidak tebal. Slecht.”
Profile Image for Nirmala Budi.
18 reviews
January 16, 2020
I would prefer the original version, rather than Ardan. Francis version feels more fun to read, even though Ardan version is better.
16 reviews1 follower
May 27, 2020
Kedua cerita menggambarkan sesuatu di masa kolonial yang sangat mengandung intrik dan perbedaan kelas.
Profile Image for Mochammad Syahdiladarama.
27 reviews
November 25, 2022
One of the earliest books I've read in my life. I like Indonesian pre-indepence stories set, it is rich of heritage and interpersonal and cultural conflicts
45 reviews
May 2, 2024
A book that covers two side of the story of Nyai Dasima. One side is from the colonizers, while the other is from the locals.
Profile Image for Adisti.
87 reviews9 followers
October 17, 2009
Sebenarnya Nyai Dasima itu dikarang oleh G.Francis pada tahun 1813. Tapi karena cerita yang ia karang sungguh mendiskreditkan Islam, maka pada tahun 1960 S.M. Ardan membuat versi baru dari Nyai Dasima. Tapi di buku mungil ini kedua versi tersebut ditampilkan. Versi S.M. Ardan yang lebih me-manusiawi-kan tindakan tokoh dengan menceritakan berbagai latar belakang manusia, serta ditulis dengan bahasa Indonesia ejaaan baru itu, ditaruh di awal bagian. Dan versi G. Francis dengan penulisan ejaan serta tata bahasa Melayu lama ditampilkan di bagian akhir.

Sinopsis:
Buku ini menceritakan hidup Nyai Dasima seorang wanita cantik asal Kuripan yang hidup pada tahun 1820. Nyai Dasima dinikahi oleh seorang bule (yg gw simpulkan sebagai orang Belanda) dan dikaruniai seorang anak bernama Nancy. Kecantikan Nyai Dasima membuat seorang lelaki dari Kwitang bernama Samiun jatuh hati. Padahal Samiun sudah punya istri yaitu Hayati. Berkat pertolongan Mak Buyung yang merupakan babu sang Nyai, Samiun pun berhasil merebut hati hati Nyai Dasima. Ia pun meninggalkan Tuan W dan anaknya demi Samiun. Tapi apakah Nyai benar bisa hidup bahagia dengan Samiun?

Penulisan S.M. Ardan yang benar-benar Betawi lenong terkadang membuat beberapa bagian buku ini lucu. Berbeda dengan penulisan G. Francis yang naratif dan kelam. Namun perbedaan tersebut membuat buku ini jadi menarik dan seimbang.

Quote favorit gw:
" Njai Dasima menjaoet:
" " Saja poeja oentoeng, Toehan Allah kasih boeat ikoet saja poenja Toean hatinja baek dan terlaloe sajang sama saja, saja poenja makan dan saja poenja semoea tjoekoep."" ( Hal. 103)

Karena:
Dari quote itu gw belajar bahwa kesederhanaan pola pikir bisa membuahkan kebahagiaan.
Profile Image for Speakercoret.
478 reviews2 followers
December 28, 2013
cuaaapeeeek....
maap maap nih yee.. tp bagian ptama ma kdua sama2 bikin gw capek bacanya -_-
gw bukan pemerhati typo dan saudara2nya, tp ini mah hadeeeh...
tp paling ga nahan ma susunan kalimatnya yang ga jelas batasnya dimana, siapa yg ngomong..
soal cerita, siapa yg ga tau cerita ini, yg jadul pasti tau, prnah nonton sinetron nyai dasima di tipi jaman dahulu kala, kalo ga salah sutradaranya pak brewok deh, pak ali shahab.. lupa siapa yg maen..
dan krna suka crita di sinetron itu, gw beli buku ini.. tp ternyata huhhuhuu....

jd 1* saja deh....
Profile Image for Indahanggita.
10 reviews1 follower
August 26, 2010
sejarah Nyai Dasima yang ditulis ulang oleh SM. Ardan dengan versi dan perspektif yang berbeda dengan yang ditulis oleh G. Francais. Dalam buku ini terdapat dua versi cerita yakni (halaman awal hingga tengah) ditulis oleh Ardan, sementara halaman tengah hingga belakang versi G. Francais. Namun sayang sekali pada cover buku ini hanya tertulis Nyai Dasima karya S.M. Ardan yang seolah2 buku setebal kurang lebih 138 halaman ini merupakan hasil tulisan dan versi Ardan seorang diri, padahal ada cerita versi G. Francais yang--bahkan--memakan hampir setengah dari buku ini sendiri
Profile Image for yuli astuti.
11 reviews3 followers
December 25, 2009
'pemulihan nama baik' atas sebuah gelar 'nyai'. nyai terbentuk karena adanya kolonialisme. kesan awal cerita nyai adalah, seorang wanita cantik, cenderung penggoda yang menjadi simpanan pejabat belanda di kala jaman penjajahan.

tapi dalam buku ini, nama baik nyai dikembalikan. nyai adalah perempuan pribumi, yang karena keadaan, harus mau menjadi simpanan orang-orang belanda. dalam dirinya berontak, ingin kembali ke komunitas masyarakt pribumi dan muslim.
Profile Image for Bambang Yuno.
276 reviews13 followers
August 12, 2016
cerita ttg nyai Dasima dari dua versi, versi Ardan dan versi Francis

cerita yang sederhana dan biasa saja, tentang perempuan bernama Dasima yang dijadikan istri (simpanan?) orang Belanda ..

membaca kedua versi ini sangat terganggu dgn dialek2 dan percakapan betawi, serta ejaan2 lama di versi francis ..
Profile Image for Kucing.
25 reviews5 followers
October 29, 2008
Dalam buku ini, ada dua versi cerita. Diawali dengan versi S.M. Ardan dan selanjutnya versi G. Francis. Rasanya kurang adil kalau hanya baca salah satu versi, harus keduanya. Saya sih lebih suka versi S.M. Ardan, sudah pasti. Tapi penggambaran karakter-karakter pada versi G. Francis seru juga.
Profile Image for Nia.
486 reviews24 followers
June 7, 2016
Aku anggap finished aja, karena semakin ke belakang bahasanya jadoel banget. Rada puyeng juga :-(
Profile Image for Kimi.
404 reviews30 followers
August 6, 2010
Buku yang bisa dibaca habis dalam satu jam . :-) Konfliknya biasa saja dan ceritanya kurang menggigit. Tapi, lumayanlah buat nambah-nambahin daftar buku di Goodreads. :-D
Profile Image for Marissa Uli.
31 reviews
January 25, 2013
So I read this in my Bahasa Indonesia class and I guess it's good for a class but the story is just not my thing.
Profile Image for Lina Maharani.
274 reviews15 followers
February 11, 2015
cerita klasik yang seumur-umur baru terbaca skrg. Nasib si nyai yg berakhir diujung golok oleh pembunuh bayaran suami barunya yg gila harta.
Displaying 1 - 30 of 34 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.