Jump to ratings and reviews
Rate this book

Seriously I'm In Love

Rate this book
Tinggal bersama Ayah yang terus menerus mengungkungnya dari kebebasan membuat Riana ingin sekali kembali ke kota kelahirannya, Solo. Hubungannya yang tidak harmonis dengan adik tirinya, Rasya, serta ibu tirinya, Tante Lidya, pun memperburuk kehidupannya. Beruntung, sahabatnya mampu membuatnya bertahan.
Tapi masalah kembali bermunculan ketika dirinya kembali tinggal di Solo. Pertemuan dengan cowok yang mirip cinta masa kecilnya membuatnya semakin gundah. Namun, dengan bertemu sahabat baru, mengenal budaya baru, akankah membuat Riana baik-baik saja?

202 pages, Paperback

First published October 21, 2015

98 people want to read

About the author

Armadi S. Pambudi

2 books20 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
3 (33%)
4 stars
1 (11%)
3 stars
2 (22%)
2 stars
3 (33%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 2 of 2 reviews
Profile Image for Hapudin.
289 reviews7 followers
November 7, 2016
Saya beli buku Seriously, I’m In Love ini karena berharap menemukan cerita seru hasil karya penulis pria. Sampai saat ini, saya masih menaruh ekspektasi tinggi untuk cerita yang lebih berbeda jika ditulis oleh penulis pria. Tetapi, harapan itu tidak terjawab di buku ini.

Seriously, I’m In Love bercerita tentang gadis bernama Riana Mentari yang berumur 16 tahun. Ia tinggal di Kota Jakarta bersama ayahnya, ibu tiri, dan saudari tiri bernama Rasya. Hubungan Riana dengan keluarga tiri tidak terlalu baik, terutama hubungannya dengan Rasya. Tidak dijelaskan kenapa hubungan Riana dan Rasya buruk. Saya menduga karena hubungan tiri itu. 10 tahun di Jakarta membuat Riana ingin pergi ke Solo. Di awal, ayahnya menolak keinginan Riana. Lama kelamaan, ijin itu pun turun. Selain ingin menenangkan diri, Riana juga ingin berkunjung ke makam ibunya dan tentu saja misi kecilnya mencari anak laki-laki yang ia temui sewaktu masih kanak-kanak bernama Tio.

Di Solo ia berjumpa dengan Anandha Ardhi Pambudi, biasa dipanggil Pampam. Pemuda inilah yang menjemputnya di stasiun . Cerita bergulir manis khas anak SMA dan akan membuat kamu bernostalgia dengan kemeriahan abege.

Saya kira tema keluarga akan terasa kental di novel ini, namun yang terjadi justru sisi romance yang lebih pekat memenuhi hampir seluruh buku. Keluarga tiri yang tidak akur memancing konflik yang menarik seandainya digarap penulis. Seperti ada kegalauan membawa arah cerita, akhirnya penulis mengisi konflik dengan hubungan percintaan dan persahabatan yang dialami tokoh-tokoh usia SMA ini. Bagaimana penulis mengemas premis ‘cinta sebaiknya diungkapkan dengan jujur’ memang menarik perhatian. Dengan membuat banyak tikungan cerita, ending kisah yang sebenarnya mudah ditebak pun menjadi yang ditunggu. Hubungan Riana dan Pampam sudah jelas memberi kode akan berakhir dimana, ketika mereka bertemu pertama kali. Penulis dengan berani membuat tokoh Pampam mengalami banyak kebodohan dan kesalahan dengan menerima kisah cinta yang lain sehingga ending cerita menjadi tidak mudah berakhir.

Selain sisi romance, kita akan menemukan bagian positif dari persahabatan Riana dengan Cantya, Sari, dan Riris. Persahabatan yang digambarkan penulis memang kerap ditemukan di lingkungan SMA. Mendukung ketika salah satu mengejar sesuatu, mengingatkan ketika salah satu ragu, dan menjadi andalan ketika salah satu butuh sandaran.

Yang mengganggu di novel ini terletak pada gaya bercerita penulis yang menggunakan POV pertama dari sisi Riana dan Pampam. Kebanyakan narasi dibuat seperti tulisan curhatan seseorang. Banyak kalimat yang strukturnya tidak nyaman dibaca. Paling parah di novel ini, ditemukannya banyak typo. Banyak sekali jumlah typo-nya sampai saya bingung untuk menandai. Selain typo penulisan kata, kesalahan penggunaan tanda baca pun berserakan. Saya gemas sekali ingin memperbaiki penulisan novel ini karena ceritanya memang sudah menarik. Dan tentu saja ini jadi pekerjaan rumah penyunting penerbit Ratisa Media.

Menilai kovernya, pemilihan warna biru telur asin dan gambar gadis memakai jaket bertudung sudah sangat pas. Satu bagian yang harus diperbaiki, gambar bayangan bunga-bunga sebaiknya dihilangkan. Bagian tadi mengesankan feminim sedangkan penulis novel ini adalah penulis pria. Ah, ini soal selera saja, saya lebih menyukai kover buku yang unisex, yang aman dibawa oleh pembaca pria juga.

Ada juga selipan menarik mengenai perbedaan tari dan Sendratari.

“... kalo tari itu kita hanya main olah tubuh. Nah, meski sama-sama ada pesan yang disampaikan, tapi yang ditonjolkan adalah pengemasannya, bagaimana seni olah tubuh itu tampak menarik dan tak membosankan. Kalo Sendratari itu menggabungkan seni tari dengan seni treatrikal, jadi yang lebih ditonjolkan adalah isi ceritanya dengan kemasan yang tak kalah menarik juga....” [hal. 122]

Seriously, I’m In Love mengajarkan kita untuk selalu jujur mengungkapkan perasaan. Jangan memundurkan kesempatan. Bukan tidak mungkin, dengan mengelak sekali, sekali itu juga kita akan menyakiti yang lain. Percayalah kejujuran sebenarnya selalu membawa pada banyak kebaikan.
Profile Image for Nova  Putri.
46 reviews23 followers
March 14, 2016
---------------UPDATE ------------------
“Andai aku bisa setegar kedua pohon itu. Aku ingin terus berdiri tegak meski diterpa berbagai masalah. Tapi, aku tak sekuat dan sekokoh pohon, aku hanya cewek biasa, cewek lemah yang tak bisa melakukan semunya sendiri.”

Riana Mentari, gadis berusia 16 tahun yang hidup dengan segala kenyamanan dan berbagai macam fasilitas yang serba ada mulai dari supir antar-jemput sampai kepada kebutuhan sehari-hari yang siap sedia. Tapi disamping kemewahan dan hidup yang ‘terlihat’ mudah dan sangat menyenangkan itu terselip rasa sedih dan tertekan. Perlakuan sang ayah yang terlalu protektif, yang selalu membatasi ruang gerak Riana dan ditambah perlakuan dari adik tirinya, Rasya, semakin memperburuk segalanya.
“Andai hidupku secerah langit malam ini.”

Karena kondisi rumah yang semakin tidak nyaman, akhirnya Riana memberanikan diri untuk meminta izin kepada ayahnya untuk untuk pulang ke Solo, kampung halamannya. Sebenarnya sudah sejak awal dia ingin pulang ke Solo, selain untuk ‘mengunjungi’ makam sang ibu, Riana pun merasa bahwa Solo-lah rumahnya yang sebenarnya. Tempat yang bisa memberikannya rasa nyaman.
“Lo gak perlu lari lagi. Gue yakin yang lo butuhkan hanya sedikit dorongan dan keberanian.”

Pada awalnya sangat sulit untuk mendapatkan izin sang Ayah, tapi setelah insiden makan malam yang melibatkan Riana dan Rasya, akhirnya sang ayah pun memberi izin Riana pulang ke Solo dan menghabiskan masa SMA nya disana. Pada awalnya, Riana pikir semua akan baik-baik saja setelah kepulangannya ke Solo. Riana pikir ia akan menemukan kenyamanan yang ia cari. Tapi pertemuannya dengan Ardhi malah membawa Riana ke masalah baru yang lebih rumit karena saat ini masalahanya bukan hanya tentang Riana, tapi juga menyangkut orang disekitarnya. Mampukah Riana menghadapinya kali ini atau apakah dia harus berlari lagi???
“Hidup itu tak selalu tentang aku, kamu, dan kita, tapi hidup itu juga tentang mereka.”

-----------------------------------------------

Novel ini saya peroleh dari giveaway yang diadakan penulis di Goodreads dan ini kali pertama saya membaca karya penulis. Dari segi cerita, novel ini mengambil tema yang cukup sering diangkat pada novel-novel remaja pada umumnya yaitu tentang cinta dan persahabatan. Berpusat pada Riana, Ardhi dan juga Cantika yang ketiganya merupakan sahabat. Meski tema yang diangkat cukup pasaran saya tetap dibuat penasaran dengan endingnya karena sampai menuju ending sekalipun penulis masih membuat sang tokoh utama cowok labil pada pilihannya. Dan bahkan awalnya saya berpikir kalau akhirnya si tokoh utama cowok akan jadian dengan cewek yang “itu” bukan yang “ini” melihat dari gelagat si tokoh utama.

Novel ini diceritakan dengan menggunakan POV orang pertama secara bergantian. Pembaca [saya] akan diajak untuk bisa mengenal lebih dekat karakter kedua tokoh utama. Bisa merasakan apa yang ada dipikiran mereka, seperti apa konflik yang sedang mereka hadapi, bagaimana pergulatan batin mereka sampai kepada mengintip kenangan-kenangan yang pernah mereka alami.

Sayangnya tidak ada karakter yang terlalu berkesan untuk saya dalam novel ini, tapi jika disuruh memilih saya lebih memilih Sari sebagai karakter yang saya sukai. Padahal Sari ini pemeran pendukung tapi saya suka dengan perangainya yang dewasa. Kalau untuk tokoh utamanya sendiri, saya kurang suka dengan karakter mereka terutama pada karakter Ardhi alias Pampam. Pampam ini tipe cowok PHP dan labilan menurut saya. Bentar ngomong begini, bentar lagi ngomong begitu. Terus sebagai cowok, dia gak bisa bersikap tegas terutama pada perasaannya sendiri dan seakan-akan perasaan itu hanyalah mainan dan hal itu bikin saya sebel. -_-

Review lengkap bisa dibaca di http://wangibukubaru.blogspot.co.id/2...
Displaying 1 - 2 of 2 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.