Awalnya aku tidak ingin memupuk rasa, karena semua pasti sia-sia. Aku akan kehilangan segalanya dalam hidupku, Aku tidak bisa melupakanmu, karena cinta yang tak akan pernah padam.
Tapi hidupku harus terus berjalan, tidak berjalan di tempat, aku masih harus menghadapi jalan panjang yang entah lurus atau berliku. Jalan yang harus berani kutempuh, bukan berhenti seperti saat ini.
"Hidup adalah kenyataan. Sepahit apa pun kenyataan itu, kenyataan tetap ada di depan kamu. Tetap berdiri di samping kamu. Tetap menjadi yang terbaik buat kamu. Dan masa lalu, selamanya hanya akan menjadi bayang gelap yang menyisakan luka. Kamu hanya harus memberanikan diri untuk menerima kenyataan. Karena kenyataanlah yang pada akhirnya akan menang dan memberikan akhir yang bahagia."
Edo, seseorang yang masih belum bisa move on dari masa lalu. Kematian Sophia, tunangannya 2 minggu sebelum hari pernikahannya membuat Edo sungguh menyesal. Edo malah larut dengan kesedihannya, tak peduli dengan keluarga bahkan sahabat-sahabatnya. Edo berubah menjadi seseorang yang dingin, tiap hari Edo akan pergi ke Stasiun Bekasi untuk bermain biola, hanya melalui lagu-lagu sendu Edo kembali mengenang kisahnya dengan Sophia.
Dimas, sahabat sekaligus tetangga Edo. Seorang pekerja yang cukup mapan, memiliki kekasih bernama Clara. Hubungan mereka sudah mengarah ke arah pernikahan, sayangnya ibunya tidak merestui karena Clara bekerja. Ibu Dimas hanya menginginkan istri Dimas nantinya hanya menjadi ibu rumah tangga seperti dirinya, hanya mengasuh anak dan mengurus suami saja, cukup suami saja yang bekerja. Hal inilah yang selalu menjadi sumber pertengkaran Dimas dan Clara, mereka sama-sama keras dan belum menemukan titik terang. Dimas diantara 2 pilihan, antara ibu dan wanita yang dicintainya. Hingga kemudian muncul sosok Nurmalita, wanita pilihan ibunya.
Satria, seorang petugas walka commuterline. Satria sudah sejak lama jatuh cinta terhadap Rena, seorang pengguna commuterline yang selalu ditemuinya. Jatuh cinta dalam diam, hingga tembok kos-kosannya menjadi saksi cintanya. Rena yang dicintainya, tak lain tak bukan adalah adik angkat Edo. Rena yang rapuh dan suatu hari pingsan, dan Satrialah yang menolongnya. Hal ini membuka pintu perkenalan Satria dan Rena, hingga akhirnya perlahan-lahan cinta hadir di antara keduanya. Namun, kenapa ketika Satria menyatakan cinta, Rena menolak? Kenapa Rena takut padahal dia juga punya rasa yang sama?
"Jatuh cinta itu sederhana. Apabila sudah tidak sederhana, itu artinya kamu harus melepaskan."
Awalnya aku pikir ini bukan novel, karena ada 5 penulis didalamnya. Jujur aku tidak menaruh ekspektasi terlalu tinggi untuk novel ini, karena sama sekali belum ada bayangan seperti apa tulisan dalam novel ini. Ternyata aku cukup bisa menikmati novel ini, salut buat 5 penulis yang bisa menghadirkan sebuah kisah yang utuh. Rasanya sulit membayangkan kolaborasi 5 penulis menjadi sebuah novel, karena bagaimana pun menyatukan isi 5 kepala itu sulit, dan ke-5 penulis ini berhasil mengeksekusi ceritanya dengan baik, Pantas novel ini menjadi "outline naskah terbaik workshop Berbagi Cinta Lewat Kata"
Awalnya memang novel ini terasa lambat sekali kubaca, karena novel ini mencoba mengenalkanku pelan-pelan dengan para tokoh dalam novel ini. Ada 3 tokoh pria yang menjadi sentral dalam novel ini, Edo, Dimas dan Satria. Tiga pria dengan latar belakang yang berbeda, dengan kisah cintanya yang tak kalah rumit. Namun, aku merasakan bahwa semua kisah ini lebih menitikberatkan pada sosok Edo, yang belum bisa move on dari masa lalunya yang pahit.
Edo, Dimas dan Satria semuanya ternyata saling terkait satu sama lain. Edo adalah sahabat Dimas, sekaligus kakak angkat Rena, wanita yang dicintai Satria. Dari 3 tokoh pria ini, aku jatuh cinta dengan sosok Edo, jujur aku penasaran dengan sosoknya, yang jago membuat lagu, namun karena patah hati yang sangat dalam, larut dalam kesedihannya sendiri. Edo yang memilih untuk meresapi kesedihannya sendiri, hanya dengan bermain biola di Stasiun Bekasi, Edo seakan lebih dekat dengan Sophia. Aku awalnya penasaran apa yang menyebabkan Sophia meninggal, karena jujur agak kaget saat membaca prolognya yang lumayan mencekam dan akhirnya ketika tahu jawabannya, aku jatuh simpati terhadap Edo.
Salut dengan Edo yang walau punya masalah sendiri, bisa membantu menyelesaikan masalah Dimas dan secara tidak langsung juga terhadap Rena untuk memperjuangkan cintanya. Ketika akhirnya Edo pun bisa move-on, aku juga terharu...walau memang terasa cepat sekali, aku sudah bisa menebak sey sebelumnya kalau Edo akan jatuh cinta dengan..... karena clue yang bertebaran menambah keyakinanku.
Walau novel ini membahas mengenai kehidupan 3 pria ini, ada beberapa tokoh pendukung yang tak kalah penting. Salah satunya, Ibu Dimas. Awalnya aku agak kesal sama sosok Ibu Dimas, yang tidak merestui hubungan Dimas-Clara hanya karena Clara bekerja, tapi setelah tahu alasan dibaliknya aku malah jatuh simpati. Ibu Dimas tidak sendiri, ada banyak wanita di luar sana yang sepertinya.
Overall, novel ini menyadarkanku bahwa cinta patut diperjuangkan!!!
"Jatuh cinta itu cuma satu. Jatuh dengan bebas, tanpa prasangka ataupun penyesalan. Jatuh cinta seharusnya membawa kebahagiaan. Karena jatuh cinta itu anugerah dan hanya bisa dirasakan oleh orang-orang tertentu, orang-orang terpilih."
"Menurutku, orang-orang yang cukup beruntung untuk merasakan jatuh cinta nggak seharusnya menyerah. Karena di dunia ini, ada jutaan orang yang juga menginginkan hal sama tapi nggak pernah mendapatkannya, bahkan setelah mencari seumur hidup."
Sejujurnya aku bukanlah pembaca buku teenlit, tapi... sepertinya EF menjadi TL pertama yg aku baca, dan memecah rekor langsung dpt bintang 5.
Salut buat 5 author yg bisa menyatukan ide cerita, visi, dan misi mereka dalam satu buku yg bertema cinta sepanjang masa.
Cinta dalam buku ini tak hanya membahas cinta antara pria dan wanita. Tapi lebih luas cakupanya. Ada cinta yg hilang, yg membuat seseorang menjadi apatis (edo), ada yg menemukan cinta baru yg membuat seseorang menjadi lebih produktif (edo dan nurma), ada ketakutan dalam bercinta (edo) karena takut memberatkan orang yg mencintai dan yg dicintai (rena), ada cinta yg harus memilih diantara 2; antara masa lalu dan kini, antara 2 wanita, pacar atau ortu, antara karier atau jodoh (edo, clara, dimas), dan terakhir cinta ortu terhadap anaknya/anaknya terhadap ortu(hampir seluh karakter), dan juga cinta terhadap sesama yg membutuhkan (rena dan ortu angkatnya), dan terakhir ada cinta yg tak tergapai (anisa, tokoh yg harus gigit jari, rela melepas orang yg dicintai untuk kebahagiaan orang yg dicinta. Inilah jenis cinta yg istimewa. Kesemua kisah cinta ini terhubung di stasiun bekasi KRL.
Baca buku ini, sungguh sangat terbawa perasaan. Terutama dibagian tokoh rena dan satria. Entah kenapa dari awal tokoh rena ini terasa melankolis dan pucat. Hampir diakhir buku, terbuka rahasia ( seperti ciri khas K.Y.) yg memberi sebuah kejutan yg tak terpikirkan sama sekali. Sedangkan untuk tokoh satria; betapa bahagianya bila ada seseorang seperti satria yg mencintai dengan apa adanya walau sudah tahu kalau cewe yg ditaksir memiliki kekurangan dan kelemahan, alias mengidap penyakit yg menakutkan bagi orang awam. Pake acara gendongan segala (benar benar tipe tokoh kesukaanku).
Satu lagi, kejadian tragis yg membuatku sangat pilu, yaitu kisah bagaimana sophia yg "hancur luluh lantak" disalah satu stasiun KRL. Sungguh kisa yg sangat tragis. Dan ini menjadi pembelajaran kita agar lebih hati hati dalam mekakukan setiap tindakan didalam kehidupan sehari hari dimanapun itu, khususnya di KRL. Sesal kemudian tiada guna.
Tidak ada perbedaan yg sangat mencolok yg terlihat dalam gaya penceritaan kelima author. Tapi ada satu kejanggalan yg aku temukan, yaitu: tokoh rena dan sophia terlihat seperti bukan 2 orang yg bersaudara kalau dilihat dari penamaan tokoh (sophia dewi anggraeni dan renaine michelle).
Terakhir. Terimakasih untuk penulis, dari aku pribadi sebagai pembaca yg memiliki penyakit AI, karena telah mengangkat satu tema autoimun "lupus" sebagai salah satu tema dari cerita cinta beberapa tokoh yg menarik dalam buku ini.
Baca ini seakan saya nonton FTV, hahaha. Beneran deh, saya senyum-senyum terus setiap baca adegan yang "FTV banget" gitu. Kayak misalnya adegan saling tatap secara gak sengaja. Nah, saya tuh udah ngebayangin banget deh kalo nonton jadinya gimana, hahaha. Semoga aja ini jadi doa biar novelnya beneran difilmkan *lirik Naya Corath*. Dan hubungan antar tokohnya juga beneran kayak di film-film FTV gitu deh, saling gak tau kalau ternyata mereka berhubungan satu sama lain yang tanpa disadari ujung-ujungnya akan saling kenal.
Oiya, alur ceritanya sih maju, tapi beberapa kali aja Edo teringat masa lalunya yang membuat karakternya seperti sekarang. Hal ini yang cukup membuat saya bingung waktu awal membaca bukunya. Tapi begitu lanjut ya ngerti banget kok kalau itu ternyata cuplikan dari mimpi yang memunculkan rasa bersalah Edo yang terpendam.
Bukan hanya Edo aja sih yang diceritakan dengan cukup bagus. Masa lalu kedua tokoh utama lainnya pun dibuat halus dan mengalir. Gak terkesan memaksa dan pas gitu penceritaannya.
Tapi saya agak kecewa sebenernya begitu baca bagian saat Sophia kehilangan nyawanya. Berasa terlalu kejam aja gitu buat ukuran teenlit. Habis, saya bacanya sambil ngebayangin sih, jadinya berasa "beuh, sadis banget yak ini kecelakaannya, huhuhu". Gitu deh pokoknya, hehe.
Aniway, bisa yah berlima tapi menghadirkan bahasa yang gak gitu terlihat berbeda siapa menulis bagian yang mana. Salut buat kerja samanya. Pastinya gak gampang kaan menyatukan 5 pikiran sekaligus dalam satu novel kayak gini :)
Sukses terus yaa Naya Corath. Best wishes for you dear :*
Bercerita tentang tiga orang laki-laki. Edo, Dimas dan Satria. Yang memiliki latar belakang, sifat dan permasalahan yang berbeda-beda.
Buku ini dikarang oleh 5 orang author. Buset gak tuh! Lima orang dengan pemikiran yang beda-beda, dengan selera yang enggak sama, dipaduin jadi satu. Dan hasilnya ... well, cukup memuaskan!!!
Menceritakan tentang kemelut kisah ketiga laki-laki itu secara berseling, yang ketiganya sama-sama memiliki masalah pribadi yang berbeda-beda.
Tentang Edo, laki-laki yang tengah terpuruk akibat kematian kekasihnya—Sophia—yang membuatnya menjadi dingin dan ‘tak bernyawa’ juga putus asa, menghabiskan seluruh waktunya untuk bermain biola di KRL Bekasi, menolak bersosialisai, menolak bekerja hanya karena perasaan hancurnya terhadap kematian Sophia yang membuat ia selalu bermain biola di KRL hanya untuk mengenang Sophia (banyak banget 'yang' nya)
Kemudian Dimas, seorang Account Manager disebuah perusahaan kontraktur multinasional. Yang tengah galau-gundah karena cinta, kekasihnya Clara tidak pernah mau menerima lamarannya, karena Clara yang seorang fotografer dengan kehidupan bebasnya tidak mau melepas mimpi hanya untuk menuruti kemauan Ibu Dimas yang menginginkan menantunya sebagai Ibu Rumah Tangga, yang membuat Dimas dijodohkan dengan seorang gadis pilihan sang Ibu bernama Nurmalita.
Dan Satria, adalah Walka di CommuterLine yang sudah sejak lama menyukai Rena—adik Sophia yang menjadi adik angkat Edo—secara diam-diam. Laki-laki yang memiliki mimpi sebagai seorang pelukis namun harus mematahkan mimpinya karena keinginan sang Ayah agar ia bekerja di kereta api.
Ketiganya sama-sama memiliki cerita berbeda, dan sama-sama mencari jalan keluar untuk cerita masing-masing.
Diantara ketiganya ... entah kenapa gue lebih suka sama Satria, sama karakter cowok itu yang luguuuuu~ banget! Bahkan gue patah hati waktu Rena nolak Satria Kesel gue!
Dan semua masalah mulai dari Dimas, Rena juga Clara selalu dibantu oleh Edo untuk menyelesaikannya, yang juga sama-sama berjuang.
Udahlah. Intinya gue suka sama nih novel, walau diawal ceritanya tuh terkesan lambat—mungkin karena menceritakan tiga sisi yang berbeda-beda dan memperkenalkan ketiga karakter.
❝Cinta. Sekuat apa pun seseorang menghindarinya, dia akan tetap hadir. Entah memberikan rasa nyaman atau luka hati yang menganga. Karena cinta itu abadi.❞ —Back Cover
Arrendo Farid Arrizal— sosok lelaki yang dirapuhkan oleh cinta. Kesetiaan yang dimiliki begitu membebani kehidupannya. Yah, cintanya telah pergi, selamanya. Namun Edo masih saja menunggu dan berharap bersua kembali dengan cinta lamanya. ❝Cinta tak akan pernah pergi, dia selalu hadir, saat napas masih berhembus dan saat hati masih membuka dirinya.❞ —Hlm. 242
Lain halnya dengan Dimas Bimantara yang kini diombang-ambingkan cinta, sebab belum bisamenemukan cara untuk menjinakkan perasaan kekasihnya dan keinginan ibunya.
Tidak jauh berbeda dengan Edo dan Dimas— Satria juga mengalami hal sama, masih bergelut dalam perihal cinta. Hanya saja bedanya Satria belum (sanggup) menyatakan secara gamblang isi hatinya, hanya bisa diam-diammenyukai. ❝… pada akhirnya seseorang yang hanya berani mencintai diam-diam, harus lebih siap merelakan❞ —Hlm. 215
Untuk pertamakalinya aku benar-benar terpukau dengan kisah yang digagas oleh lima penulis handal ini. Karena bukan perkara mudah menyatukan lima kepala dalam mengagas sebuah novel, namun juga gak sulit bagi yang telah mahir di bidangnya. Berbeda halnya dengan antologi yang hanya menitikberatkan pada pemilihan tema yang sama, bukan kisah yang berkesinambungan seperti ini. Great ideaaa!
Eternal Flame mengedepankan kisah tiga pria dengan karakter berbeda, juga masing-masing mengungkap sisi cinta berbeda pula— Edo yang ditinggalkan cintanya pergi untuk selamanya, Dimas dengan kebimbangan hatinya dalam menentukan arah cintanya, dan terakhir Satria yang masih keukeuh bertahan mencintai dalam diam.Gak hanya itu, Eternal Flame juga mengangkat tema kekeluargaan yang sangat kental sehingga gak heran jika kisahnya sangat akrab dengan pembaca. Sangat bisa dikoleksi bagi penggemar roman. T O P B G T !
Akhirnya siap juga baca kisah perjalanan menuju bahagianya Edo, Satria dan Dimas. Untuk endingnya sudah bisa ditebak dari awal bacanya, bahagia. Aku sudah bosan dari awal membaca novel ini, dan rasa bosan itu tidak membaik juga sampai dibagian akhir ceritanya. Aku tidak menemukan kejutan apapun diceritanya. Oke, maafkan reviewku yang buruk ini. Tapi, aku suka penguatan karakter dari ketiga pasangan tokohnya. Untuk novel ini, aku kasih ⭐3.00
Cara penulis dalam menyampaikan cerita sangat baik dan runtun dan mudah dicerna.. Ceritanya juga menarik kisah antara ketiga pria dengan cinta, Edo menderita karena cinta, Dimas terombang-ambing karena cinta, dan Satria tertampar karena cinta. Ending yang bahagia..
Tapi aq sedih dengan sosok Anisa yg selalu ada buat Satria, dan Satria malah memilih wanita impiannya Rena yg merupakan adek Sophia, yg akhirnya jadi adik Edo, tunangan Sophia.
Buku ini cukup kompleks . Sangat cukup untuk membuat saya menangis . Satria yang tegar dan tulus . Edo yang setia dan tampan . Serta Dimas yang tegas dan mapan . Ketiganya punya kisah yang unik . Utuh. Dan menyatu . Ketika saya bertemu dengan 2 dari 5 penulisnya tadi siang , saya langsung ambil novel ini . Dan dari banyaknya buku yang saya beli maupun masih segel di rumah , i chosed this one as my first book to read . Selain suka sama covernya , novel ini ringan tetapi komplit . Heran aja bagaimana 5 orang penulis berbeda-beda , bisa menyatukan ide mereka menjadi cerita yang 'WOW' . Akhir kisah yang manis . Sangat pas menemani malam minggu yang dingin . Bahasanya rapi , inti alurnya simple tapi bermakna . Porsi ceritanya adil antara suka dan duka . Alurnya runtut banget dan mengalir . Cinta yang penulis ingin sampaikan di novel ini benar-benar kentara . Bahwa cinta tak melulu bahagia atau terluka . Cinta selalu adil . Bagi yang belum beli , monggo dibeli . Dijamin gak nyesel .... Oiya ini adalah quote yang paling saya suka dari buku ini . Jatuh Cinta itu sederhana . Jika tidak lagi sederhana , itulah waktunya kamu untuk melepaskan .
Buku ini sungguh ROMANTIS! Aku suka setiap deskripsi dan dialog yang dituturkan lima penulis ini. Lembut, syahdu, dan sama sekali tidak terburu-buru. Selalu ada jawaban di setiap tanda tanya. Aku kenyang sekali baca novel ini dalam waktu 1 hari.
Gila.... Why I baru baca ini....?! Why...?!!! . Pertama kali I beli l, I pikir ini cuma cerpen... Dan ternyata ini novel yang WOW!. .
. I diombang-ambingkan oleh rasa kesedihan 😭😭😭😭.... Novel ini bagus banget.... Saking I terhanyutnya sampai ga ngeh masalah typo... (harusnya sih ga ada karena I ga lihat). I dapet feel konfliknya dari mulai, klimaks, sampai di eksekusi.... I hampir nangis pada saat bagian Edo menceritakan penyebab luka dihatinya 😭😭😭... I marah marah ga jelas gara" ibunya Dimas. Dan I merasa terpukul karena Rena, Annisa dan Satria. . . Ini Novel EPIK banget!!!!!.
Gila.... Why I baru baca ini....?! Why...?!!! . Pertama kali I beli l, I pikir ini cuma cerpen... Dan ternyata ini novel yang WOW!. . . I diombang-ambingkan oleh rasa kesedihan 😭😭😭😭.... Novel ini bagus banget.... Saking I terhanyutnya sampai ga ngeh masalah typo... (harusnya sih ga ada karena I ga lihat). I dapet feel konfliknya dari mulai, klimaks, sampai di eksekusi.... I hampir nangis pada saat bagian Edo menceritakan penyebab luka dihatinya 😭😭😭... I marah marah ga jelas gara" ibunya Dimas. Dan I merasa terpukul karena Rena, Annisa dan Satria. . . Ini Novel EPIK banget!!!!!. Hidup itu terus berjalan... Keep Moving Forward.