Enzo Aku senang melihatnya tertawa, atau merengut kesal ketika kugoda. Aku senang mendengarnya bercerita. She's the best friend ever!
Alleira Aku senang menghabiskan waktu bersamanya. Akan selalu kuingat setiap detik jika dia ada.
Ben Bagiku, yang terpenting Alleira bahagia. Selama dia bahagia, aku akan baik-baik saja.
---
Terancam kehilangan pekerjaan telah membawa Alleira Barata bertemu Benjamin Chua. Alleira tidak pernah tahu, bahwa saat pekerjaan di kantor barunya itu dimulai, babak baru dalam kehidupannya juga dimulai.
Terjepit di antara cinta – yang kemungkinan besar bertepuk sebelah tangan – pada sahabatnya sendiri dan perhatian-perhatian kecil yang perlahan ditawarkan Ben, membuat hidup Alleira sungguh kompleks.
Alleira jarang memikirkan, manakah hal-hal dalam di dalam hidupnya yang sungguh berarti, sampai suatu ketika ia dihadapkan pada sebuah keputusan besar yang harus diambil: memilih untuk mencintai, atau dicintai.
Stephanie Zen has been passionate about writing since elementary school, crafting stories that resonate with humor, heart, and inspiration. Influenced by authors like Sophie Kinsella and JK Rowling, her writing blends wit with deeper reflections on life and love.
Beyond books, music plays a huge role in her creative process—especially the songs of Daughtry, which have inspired many of her stories. When she’s not writing, Stephanie shares her thoughts and inspirations on her blog: https://smoothzensations.wordpress.com/
Suka dengan sisipan pekerjaan Singapura-nya, sisipan S Pass, buatku sih yang jadi nilai plus buat novel ini ya. Terasa banget aura kantoran di sana, apalagi dengan cerita teman yang juga suka bolak-balik sana karena emang kerja di sana. Tapi soal riset kerja dan latar emang Stephanie Zen ini jagonya sih.
Karakter Al juga bisa diterima dengan baik karena membumi, begitu pun Ben dan Enzo. Alurnya juga cepat, ritmenya pas. Untuk teknis, banyak kiasan Indonesia yang ada tapi tetep dipake Inggris (nggak masalah sama ceritanya kok).
SUKA banget sama Stuck in Love. Hihihi. Dunia kerjanya berasa banget. Tapi, ini perasaan gue doang atau gimana ya, ada beberapa kalimat yang ada di More Than Words juga bertebaran di novel ini? Ya, namanya juga ditulis sama penulis yang sama, Jen. *self-toyor*
Awalnya gue takut porsi Enzo dan Ben nggak seimbang di novel ini. Nanti kan penilaiannya jadi timpang. :( Eh, tapi ternyata nggak! Di sini kelebihan dan kekurangan Enzo dan Ben sama-sama dimunculkan. Nggak ada yang sangat perfect sampai nggak bisa dicela.
Dan, baca novel ini berasa ngaca. Terutama bagian Alleira dengan si-tuan-egosentris-bernama-Enzo. *tendang Enzo versi dunia nyata* Pokoknya gue #TeamBenGarisKERAS :)))
Overall, kapan sih ya gue pernah bosen sama karya Kak Stephanie Zen? Dari Teenlit sampai Metropop-nya nemenin gue dari SMP sampai kuliah begini. :') *lalu berasa tua*
***
"I don't believe in fate. It's no fate that brought you here. It's God will and my prayer, combined together. When we pray, God sets miracle into motion." -- pg. 252
*meleleh adek, Bang*
"Kalau aku bertanya padamu, mengapa kamu masih tetap mencintai dia, padahal ada banyak pria lain yang akan mencintaimu lebih dari yang bisa dia lakukan, apakah kamu bisa menjawab?" -- pg. 254
"It's maybe because I've been fighting for too long. I don't know how it feels to be someone a guy fights for." -- pg. 255
Intinya sama dengan pertanyaan Stephanie waktu talkshow di IRF: Pilih mencintai atau dicintai? Saya sih ga bisa bilang lebih banyak soal ceritanya yaa... soalnya nanti spoiler. Jalan ceritanya simpel, tapi emang ngajak buat merenung.
Bagus.
Satu yang saya sebenarnya ingin tahu lebih banyak tapi nggak sampai diceritain di sini adalah bagaimana karakter ibu Ben dan keluarganya sebenarnya. Soalnya, kalau masalah pasangan hidup, saya ngga bisa tuh kalo nggak mempertimbangkan keluarganya juga.
Meskipun sudah menduga sebelumnya, Alleira tetap terkejut ketika dipanggil oleh atasannya dan diberikan pilihan apakah menyerahkan surat pengunduran diri atau dipecat dengan resmi dari tempatnya bekerja sekarang. Bekarja di bidang akuntansi memang bukan hal yang diinginkan Alleira, tapi harus kehilangan pekerjaan di Singapura membuatnya shock. Dia tetap membutuhkan pekerjaan agar bisa tinggal dekat dengan Enzo, sahabatnya.
Sebenarnya Enzo bukan hanya sekadar sahabat. Dia juga pria yang kepadanya Alleira memberikan cintanya. Sayangnya, Enzo hanya melihatnya sebagai sahabat, tidak lebih. Dan untuk urusan menyatakan perasaan, Alleira masih memilih cara tradisional : bukan wanita yang menyatakannya duluan.
Syukurlah Alleira tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan pekerjaan lagi. Berkat bantuan teman gerejanya, Pauline, dia (kembali) memasukkan lamaran ke We Connect, tempat Pauline bekerja. Bos We Connect, Benjamin Chua, juga senang bisa mendapatkan karyawan seperti Alleira. Dulu Alleira memang sudah pernah melamar ke We Connect, bahkan sempat wawancara dengan Ben. Tapi tempat bekerjanya sekarang lebih dulu menerbitkan S Pass (visa kerja). Jadinya Alleira mengirimkan surat pada Ben bahwa dia tidak jadi bekerja di We Connect. Ternyata takdir membuat Alleira harus kembali ke We Connect.
Hari-hari Alleira mulai membaik, kecuali perasaannya yang tak berbalas dari Enzo tentunya. Enzo masih saja cuek dan hanya peduli pada dirinya sendiri. Sementara Ben justru mulai menunjukkan tanda-tanda menyukai Alleira. Sayangnya Ben juga memilih menyimpan perasaannya. Baginya cukuplah jika Alleira berbahagia meski orang yang dicintai Alleira bukan dirinya. Well... ada cinta segitiga ternyata.
Hampir tiga per empat buku ini menceritakan hubungan Enzo dan Alleira yang kayak layang-layang, senangnya tarik ulur. Saya sampai membatin, kasian amat cowok sebaik Ben dianggurin... Ben memang lebih tua, thirty something, tapi kepintaran, caranya memperlakukan wanita, dan *uhuk* kemapanannya jelas membuat nilai Ben jauuh di atas Enzo. Tapi ya kalau sudah berbicara soal pilihan hati, mata dan isi kepala kadang harus ngikut aja.
Yang menarik dari novel ini adalah sisipan informasi mengenai pekerja di Singapura yang di-share oleh Stephanie di dalam ceritanya. Mulai dari soal beberapa macam visa untuk pekerja asing sampai bagaimana cara mendapatkan visa kerja itu. Dan cara Stephanie Zen merangkai kisahnya juga khas, yang pasti ada unsur Singapura, gereja (saya sempat mencari-cari logo Chrom di sampul buku ini tapi ga ada), dan cinta yang manis. Bacaan yang ringan tapi juga menghangatkan hati.
Saya membaca novel ini di sela-sela kesibukan saya mempersiapkan sebuah event di kampus. Karena baca versi digitalnya (thanks to Gramedia.com dan SCOOP), saya bisa membacanya via hape saya kapanpun dimanapun. Kamu juga mau mencoba, klik saja di sini. Mumpung murah nih...
Bahkan sepanjang karir ke-ABG-an saya, saya ngga pernah tuh yg namanya labil selabil Alleira.
Padahal dari segi cerita, yaa oke lah walau memang ngga spesial, tapi biasanya saya masih bisa suka yg tipe2 begini. Selain ketidakstabilan tokohnya, mungkin emang saya yg kurang cocok sama gayanya Stephanie Zen, mengingat beberapa tahun lalu pun saya gagal paham dgn Brondong Lover. Jadi ini sebenernya saya sih yg salah, udh tau ga bakal cocok, tetep aja dibeli.
Penulis tau banyak tentang Singapur, jelas. Saking taunya kadang saya ngerasa penulisnya agak terlalu membangga2kan Singapur apalagi tiap bagian yg lagi ngebanding2in Singapur sama Jakarta. Saya jd sering ngebatin; yaudah sih woi. Ini saya yg sensi deh kayaknya. wkwkwk.
Dan, masalah dialog. Aduh, saya ngga nyaman bgt bacanya, nggak smooth. Mungkin karena emang saya gasuka sm singlish, jd dari awal kesannya aneh. hehe. Tapi beneran, menurut saya agak kurang halus aja pengalihan ke bahasa indonesianya. Dan, kombinasi antara baku dan tidak bakunya beneran ga enak.
Jadi yah, pas nutup buku ini, saya lempeng aja. Sangat below average mengingat beberapa reviewer kayanya suka bgt sm ini (that's why i bought the book in the first place, duh). Intinya, buku ini biasa banget. Meh.
ceritanya keren! mengalir enak khas Stephanie Zen. its been an honor being proofreader for this novel---i've been stephanie's fan since One Last Chance. #TeamBen ftw! hehehe.
Ok, jadi sebenernya ide cerita Stuck in Love ini menurut gue beda tipis aja dari Summer Sky, ya karena penulisnya juga sama ya.
Yang gue suka: latar Singapore-nya ya ampun aku iri pengen kerja juga di sana, tapi bahasa inggris q cuma sekedar yes, yes, no, no, hah hah hah.
Yang gue ga suka: penyelesaian konfliknya rada dangdutz. Terus si Aillera ini aneh juga ya, dia yang salah tapi malah nyalahin orang (apa gua yang salah baca apa gimana tapi ya gitu dah), ya pokoknya gua gemes aja gitu ama dia.
3.5 / 5. Dibuletin jadi 4 karena gue enjoy bacanya.
“Seperti itulah jawabaku. Aku mencintaimu karena hatiku memilihmu, sama seperti hatimu memilihnya.” –Stuck in Love, hlm. 254
Akunting memang bukan cangkir kopi yang tepat untuk Alleira. Setelah sebulan memutuskan bekerja di The Accountants. Performa kerjanya langsung dinilai payah. Al terancam tak memiliki pekerjaan. Dan dengan tidak memiliki pekerjaan, visa kerjanya pun terancam hangus. Al tak ingin kembali ke Indonesia begitu saja. Apalagi harus berjauhan dengan Enzo, sahabat baiknya.
Usaha Al untuk melamar kerja pada We Connect tak ayal mempertemukannya pada Benjamin Chua. Ben kentara senang melihat Al kembali memilih perusahaannya setelah sebulan lalu perempuan itu mangkir ke perusahaan lain.
Ben memang tipikal pria biasa. Namun, seluruh bawahan dan rekan kerjanya menganggap pria itu sebagai bos terbaik sedunia. Berbeda dengan Al, bagi Al, Ben bukan sekadar baik, tetapi kelewat pengalah dan sabar.
Al yang masih terjepit di zona pertemanan dengan Enzo, kerap kali merasa canggung dengan kebaikan bossnya. Ben berpendapat, asal Al bahagia ia pun akan merasa demikian. Tetapi, bagi Al, satu-satunya orang yang tengah mengisi hatinya adalah Enzo seorang. Namun, sampai kapan ia harus menunggu? Mengapa Enzo begitu egois terhadap dirinya?
Masih bernuansa Metropop dengan latar profesionalisme yang kental, “Stuck in Love” mengisahkan tentang satu pertanyaan: ingin cintai atau mencintai? Khususnya untuk karakter Al, ia bersikukuh untuk berjuang menyatakan cintanya untuk Enzo sekalipun ia tahu, ia sudah masuk ke dalam zona nyaman bersama Ben.
Secara keseluruhan, dengan pemilihan lini Metropop. Suasana yang dihadirkan Stephanie Zen adalah suasana kantoran di Singapura. Setiap bos menuntut kerja ekstra serta tingkat perfeksionis yang tinggi dari para karyawan. Dalam novel terbarunya, Stephanie Zen tidak hanya ingin menceritakan kisah hidup Al lewat lingkup percintaan, tetapi dengan lingkungan baru yang amat patuh pada regulasi. Seperti adanya regulasi mengenai visa kerja yang memiliki tiga jenis: Permanent Resident, Employment Pass, dan S Pass. Dengan regulasi tersebut, penulis bisa membuat sebuah konflik yang terasa rill dan tidak mengada-ngada. Sehingga, jika seseorang berada di posisi Al kala itu, sudah jelas alur ceritanya bakal bergulir sebagaimana seharusnya.
“Stuck in Love” bisa terbilang cukup quotable. Walau masih bertemakan novel roman, tapi Stephanie Zen banyak menyelipkan pelajaran dan kalimat-kalimat syukur dari peristiwa-peristiwa di sekitar Al, melalui seorang rekan kerja dan juga melalui kejadian-kejadian yang sesungguhnya bukan menjadi bagian dari cerita utama. Namun, potongan cerita tersebut malah terasa menyegarkan bagi saya, bukan sekadar membaca, tapi seperti mendapatkan moral motivasi tersendiri.
"Stuck in Love" bercerita tentang Alleira, seorang wanita asal Indonesia yang bekerja di Singapura. Setelah mundur dari pekerjaannya di sebuah kantor akuntan, Alleira mendapati dirinya bekerja di "We Connect", sebuah perusahaan pemasaran.
Di tempat kerjanya yang baru, Alleira bertemu dengan Ben. Alleira sadar bahwa atasannya itu memberikan perhatian yang lebih padanya, tapi hatinya telah telanjur suka dengan Enzo, sahabatnya yang dua tahun lebih muda dari dirinya dan masih kuliah. Terombang-ambing di antara dua orang pria, pada akhirnya Alleira hanya bisa memilih satu di antara mereka.
"So, do you believe in fate?" (hal. 36)
Wow, akhirnya saya selesai baca novel ini. Jadi gini, saya beli buku ini pas Festival Pembaca Indonesia bulan Desember 2015 yang lalu. Dari waktu itu sudah langsung pengin baca dan sudah masukin ke rak currently-reading juga, tapi akhirnya... *drum rolls* saya baru selesai baca pada Oktober 2016 :)).
Ceritanya oke kok buat saya. Cara berceritanya juga enak, mengalir dengan baik. Saya suka hal-hal kecil di novel ini, semisal tentang cara mengajukan izin kerja di Singapura, atau satu-dua bahasa slang di sana, karena menambah kental nuansa Negara Singa itu.
Cerita cintanya juga bagus. Seru aja melihat Alleira terombang-ambing antara Enzo dan Ben. Soalnya keduanya sama-sama baik dan sepertinya cocok dengan Alleira. Jadi, lumayan susah juga menebak dengan siapa Alleira akan bersama pada akhirnya.
Sayangnya, saya kurang suka dengan akhir ceritanya. Jujur saya merasa wtf di bagian itu. Akhir ceritanya terasa... terlalu mengada-ada. Alasan Alleira untuk meninggalkan salah satu pria itu rasanya terlalu dibuat-buat. Tidak ada build up yang cukup kuat ke arah sana.
Latar belakang kedua tokoh pria sepertinya cukup luas dan masih penuh tanda tanya. Apakah penulisnya berniat membuat novel lain untuk mereka?
"I don't believe in fate. It's not fate that brought you here. It's God's will and my prayer, combined together. When we pray, God sets miracle into motion." (hal. 252)
Secara keseluruhan, "Stuck in Love" sebenarnya punya kisah cinta yang bagus dengan cara penulisan yang enak. Sayangnya saya kurang percaya dengan akhir ceritanya. Rasanya terlalu dipaksakan.
"There comes a time when you have to stop crossing oceans for people who wouldn't even jump puddles for you"
"They say, it's not the goodbye that hurts, but the flashbacks that follow" How true!
"It's maybe because I've been fighting for too long. I don't know how it feels to be someone a guy fights for"
Tiga dari sekian kutipan diaglog yang cukup membuat gw merenung. setting Singapore dan suguhan kisah cinta segitiga sederhana nggak pernah bosen untuk dibaca. yes, novel sudah menjadi bagian gw mencari hikmah dan pelajaran hidup, tanpa perlu lo mengalaminya.
pertama, lo nggak bisa milih dengan siapa lo jatuh cinta, tapi lo bisa milih dengan siapa lo memperjuangkannya.
kedua, pada dasarnya (karena memang kodratnya) wanita itu dicintai.
ketiga, yes we choose aman dan nyaman over love (sounds nonsense? just wait for it).
keempat, oh come on. Fight for someone who fights for you ;)
I've got mixed feelings with this novel. agak nggak suka sama "run away" Al pas di bus, mungkin bukan style gw aja kali ya kalau di posisi Al. pada dasarnya udah ketebak sih arah ceritanya mau kemana, cuman sering dibuat ragu sama tebakan sendiri. ceritanya mengalir dengan ritme yang pas dan masuk akal, bukan sekedar kebetulan. entah kenapa adegan kecelakaan selalu gagal di gw sebagai "turning point" sebuah cerita. serasa sinetron jadinya. best part : saat Al nemuin order form bunga, nggak nyangka. oiya soal ibunya Ben, agak gantung dan terasa dibuat-buat untuk melengkapi alasan Ben yang gelisahan. sayangnya kurang ada eksekusi lebih lanjut.
Stephanie Zen kembali dengan metropop terbarunya, yang berjudul Stuck In Love. Awalnya agak bimbang karena begitu melihar blurb-nya, lagi-lagi berlatar di Singapura seperti beberapa novel pendahulunya, namun akhirnya memutuskan untuk membelinya karena covernya yang comot-able.
Seperti biasa, saya menyukai gaya bercerita Stephanie Zen yang mengalir, dan saya suka dengan penggambaran tentang dunia kerjanya. Jelas sekali Stephanie Zen menguasai bidang yang ditulisnya. Membacanya nggak berasa diceramahi, namun mengalir aja.
Yang saya sayangkan, mungkin hanya pembatas '***' di novel ini yang hilang timbul, dan perubahan font percakapan email/WA yang kurang dramatis sehingga bacanya suka bingung. But overall, Stuck in Love is a nice and entertaining novel :)
He can be your mood booster, your painkiller. But he can also be your mood destroyer or he can even be your pain itself.
suka dengan quotes di atas, yang benar adanya. stephanie zen adalah one of my favorite author yang karyanya selalu ku tunggu. dan stuck in love adalah novel kesekian dari stephanie zen yang jadi fave aku! dari segi cerita, i love it! aku memang penggemar brondong love story wkakakaka. ceritanya mengalir begitu aja dan tiba-tiba BOOM!!! aku kaget finally Alleira bisa mengambil keputusan. untuk cover, i love it! suka dengan desain covernya yang simple tapi memikat hati di tambah kalimat She knew she had to choose, she just didn't know letting go could be that hard. karakter Enzo di sini sejujurnya aku suka, apalagi saat bagian dia membawa payung untuk menjemput Al hanya saja karakter Enzo di sini egois, yang hanya mementingkan perasaannya dan baru menyadari berartinya sosok Al setelah Al memutuskan untuk walk away. dan untuk karakter Ben, tipikal cowok sederhana yang baik hati bagai malaikat hanya saja sosok Ben di sini kurang menonjol dan kuat tertutupi dengan karakter Enzo yang bolak-balik di kehidupan Al. dan aku setuju dengan Al cinta bisa tumbuh karena respek, dan bisa luntur karena sering di-take for granted.
Judulnya sangat mewakili cerita. Tentang seseorang yang susah move on meski sudah ada orang yang menyukainya di depan mata. Alurnya maju, settingnya di Singapura so banyak englishnya gituh. Banyak kutipan cantik juga. Semua karakter dapat feelnya sih tapi bagiku seakan tidak ada satupun yang jadi antagonis.
Menjadi calon pengangguran di Singapura membuat Alleira sedikit cemas – ia tidak mau kembali ke Indonesia. Ia mulai mencari pekerjaan baru. Kemudian Alleira teringat pada perusahaan tempat ia mengikuti sesi wawancara yang ia tolak karena ia terlanjur menerima pekerjaan yang sekarang. Alleira menghubungi Pauline, temannya yang merekomendasikan pekerjaan itu, untuk mengetahui apakah posisi yang ia lamar waktu itu masih lowong. Beruntung posisi itu masih ada. Nasib membawa Alleira untuk bekerja di We Connect, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang online marketing milik Benjamin Chua. “I don’t believe in fate. It’s not fate that brought you here. It’s God’s will and my prayer, combined together. When we pray, God ests miracle into motion.” (hal. 252) Alleira tentu senang sekali. Ia menceritakan semuanya pada Enzo. Enzo merupakan sahabat Alleira. Alleira sudah lama menyukai Enzo yang usianya lebih muda dari Alleira. Namun Enzo tidak menyadari bahwa Alleira menyukainya. Alleira sendiri menikmati kedekatannya dengan Enzo. Hanya melihatnya saja sudah cukup. Di sisi lain, Ben ternyata menyukai Alleira. Ia melindungi dan membantu Alleira tanpa Alleira sadari. Dari hal- hal kecil hingga saat Alleira patah hati, Ben lah yang selalu mendukung Alleira. Ben sendiri tidak berharap banyak dari Alleira karena ia senang jika Alleira bahagia. Ia memilih menyerah saat mengetahui Alleira menyukai Enzo.
"Today I have loved you for 1000 days", Sampai inget, saking apanya coba. haha... Berhasil dibikin melting sama kata-kata ini. Sebenarnya dari awal udah bisa nebak sih ending'y seperti apa dan sama siapa, and I like it. I think this novel seems like "Perhaps You" yang juga merupakan karya Ka Stephanie yang intinya "Lebih memilih mana antara MENCINTAI apa DICINTAI" hanya beda konflik saja. Bukan hanya "Perhaps You" tapi juga "I Remember You" ketika aku mendapati kalimat "Friends don't do what they do'' jadi teringat kisah Aurelie di "I Remember You" mungkin karena baru beberapa bulan yang lalu saya membaca "I Remember You". hehe... Ceritanya simple tapi khas Ka Stephanie banget, mengalir dengan indah jadi nggak bosen bacanya. begitupun dengan settingnya, yang selalu aku suka dari novel2'y Ka Steph, apalagi kalau bukan Singapore; tempat yang penuh banyak buatku, walau hanya sebentar di sana. Membacanya seperti aku masih berada di sana. I know, I really miss that place and every moment I have. Nggak tau kenapa ada sesuatu di balik kata2 ini. "Do you believe in fate?" "I don't believe in fate. it's not fate that brought you here. It's God's will and my prayer, combined together. When we pray. God sets miracle into motion" (p. 252) Finally, cerita ini ditutup dengan indah dengan kata-kata yang bikin baper dan mikir. "Today I have loved you for 1000 days" He counted, Wooowwwww #TeamBen
"yang selalu dicari akan kalah sama yang memberi diri untuk ditemukan" " I don't believe in fate. It's not fate that brought you here. It's God's will and my prayer, combined together. When we pray, God sets miracle into motion."
A kind of happy-ending lovelife book. Dari dulu selalu nyempetin beli buku stephanie zen. Dari awal cerita tentang anak SMA dan segala kesempurnaan para tokoh ceritanya sampai akhirnya beli novel Stuck in love yang bercerita tentang works' environment.
Novel cinta dengan alur roller coaster, di satu bagian terasa sangat lambat dan terasa ngalor ngidul akan tetapi menjelang ending terasa dipercepat dalam problem solving seolah-olah menaiki mesin waktu. Banyak part yang seharusnya bisa dijelasin lebih dalam seperti ibu Ben, kehidupan Enzo selanjutnya dan epilog yang terasa sangat tanggung dan kurangnya klimaks masalah dalam cinta segitiga ini. Bagian favorit dalam buku ini adalah quote yang bertebaran yang cukup membuat saya merenung dan karakter yang down-to-earth mungkin bukan prestasi (Ben is so perfect in his academic/ everything) tapi karakter yang tidak sempurna bukan pangeran berkuda putih yang muncul di kantor tapi sebuah percintaan love at first sight, rela berkorban dan prinsip kalo "jodoh ga bakal kemana". If you want to read book which is simple and not hurt your head, read this one. This book will make up your mind. If you want to read a deep romance with climax, i'm sorry this is not your cup of tea.
Geez why did I wait so long to finish this bo0k? Despite the emotional instability of the heroine, the hero's selflessness made up for it. I am always a sucker for this type of story where one of the characters chooses to forfeit his/her love as long as the person they love is happy.
Selama kamu bahagia, aku akan baik-baik saja. Bagiku, itulah yang terpenting sekarang. Kamu tak perlu menjelaskan apa-apa. Aku mengerti."
If the girl doesn't fall for that, I don't know what else will. Even when the guy was all stitched up laying helplessly in a hospital bed, the first thing he thought as he woke up was her, how his accident has ruined all her plans. Sheez.. *wheezes* *wipes tears*
stuck in love, menurut saya ini salah satu karya stephanie zen yg saya favoritkan. Dari tokoh2nya yg keren. dengan ceritanya yg heartwarming. novel kak stephanie selalu menyajikan cerita yg sederhana dan manis. memberikan pilihan2 yg pastinya sering terjadi dikehidupan nyata. cerita yg sering terjadi tetapi dikemas dengan kata2 yg indah. dan eksekusi diluar dugaan. kadang memang harus sperti itu. cinta tak harus memiliki. dan cinta akan menemukan jalannya. saat seseorang menyerah. cinta akan dtg berjuang utknya. kadang dg suatu keadaan yg membuatnya dekat. I don't believe in fate. It's not fate that brought you here. It's God's will and my prayer, combined together. When we pray, God sets miracle into motion. (Salah satu quote favorit saya)
Saya juga mau diperjuangkan! *Toss dulu sama Alleira* Terima kasih juga sama Staphanie Zen yang sudah memberikan gambaran soal dunia kerja di Singapore (soalnya selama ini stereotypenya katanya bener-bener kerja keras?) Buktinya ada bos kayak Ben. Beneran ada kan ya, Mba? Hahaha.
Yang jelas di Indonesia saya pernah ketemu satu bos yang mirip-mirip sama Ben. Smart, agak diam, wawasannya luas, perhatian.... #BenisTheBest
Ditunggu karya-karya selanjutnya Mba Stephanie! Btw saya selalu suka dengan Book Trailernya! Keren dan kratif.
Oh God, buku pertama dari sang Author yg ada di rak gue. Dan ya, gue akan membeli buku buku karya beliau yg sempat terlewatkan. I do love the way author explain to the reader about the meaning of "comfortable" to be with someone. Unexpected - Sweet - Loved to be loved.
love benjamin so much. tentang alleira yang mencintai sahabatnya enzo selama bertahun2...dan pada saat enzo sadar akan cinta alleira, alleira ternyata sudah bertemu dengan ben yg mencintainya dengan tulus.
Cerita novel ini nggak ketebak. Seru di bagian akhir. Kata Alleira, cinta bukan semata perasaan, melainkan pilihan. Siapakah yang Alleira Barata pilih? Benjamin Chua atau Enzo Chandra?
Pertama-tama, aku berterima kasih banget karena udah dikasih novel ini waktu ikut kelas GWP 3 tahun lalu. Aku seneng banget! >w<
Nah, pas awal lihat kover buku ini, aku ngerasa ceritanya bakal seneng-seneng gitu. Lah, ternyata, di belakang-belakang, nyeseknya di mana-mana. Mau nggak mau aku sempet ikut mewek, sampe berniat berhenti baca dulu buat nangis-nangis. (Iya, alay emang; tapi ini bukan pertama kalinya aku nangis gara-gara baca Metropop--meski aku kemarin cuma dalam tahap hampir wkwkwk.)
Banyak banget harapan bertebaran di antara para tokoh utamanya di bagian awal. Pembawaan harapan ini subtle banget, sampe baru kerasa waktu mereka semua dihantam kenyataan. Nyelekit, man. Aku sampe nggak tau kenapa aku bisa ikut ngerasain luka-luka mereka ketika harapan itu mulai kehilangan pijakan.
Well, sebenernya, pas tokoh-tokoh ini nggak baik-baik aja, mereka pura-pura baik-baik aja. Itu juga yang bikin aku makin blingsatan nahan nangis. Nggak nyangka aja gitu lho, mereka bisa nahan perasaan segitu lama dan dalem.
Selain pembawaan emosi yang oke banget, aku juga suka plotnya. Rapi dan nggak terburu-buru. Setiap adegan disusun dengan natural, kayak nggak pake mikir, sampe rasanya ngalir dan nggak pengin cepet-cepet tamat. Adegan yang sering dipake kaya makan, atau ke kantor, juga nggak kerasa ngebosenin maupun repetitif. Semuanya kayak narik perhatian secara sederhana dari awal, dan aku ngerasa ini plot paling lancar yang pernah aku baca. >w<
Aspek lain yang menarik perhatianku adalah gimana merek bisa saling salah paham antara satu sama lain. Kesalahpahaman ini bahkan berguna buat membangun klimaks, dan juga menyadarkan tokohnya.
Sebagai pembaca, aku semacam sadar bahwa tindakan kayak gini tuh nggak recommended, hehe. Masa masalah yang bisa diselesaiin hanya dengan tiga kata sakral, jadi panjang dan melelahkan cuma karena mereka gengsi? Dan, pelajaran singkat Amy tentang kemauan cewek itu bikin aku sadar, ini bukan cuma sinyal kuat buat cowok-cowok yang mau nembak, tapi juga peringatan buat cewek-cewek yang kebanyakan ngode. Biar sama-sama sadar aja sih. :P
Satu hal yang bikin aku kasih bintang tiga adalah penggunaan bahasa Inggris-nya yang bikin bertanya-tanya di beberapa tempat.
Kayak di hlm 194 pas Alleira ngomong “What was I thinking?” trus diikuti “No, I were not.” Tadinya aku sempat ngira itu kalimat yang diawali “if”, tapi ternyata bukan. Dan aku sayang aja ada kesalahan sepele gini; padahal di bagian depan, istilah dunia kerjanya udah oke banget.
Terus, pas ngebahas dead body, di bagian awal nggak ditambah huruf a, meski di belakang akhirnya dikasih. Yha, sedikit heran aja kenapa bisa gitu.
Satu lagi.
Itu aja sih. Selebihnya udah oke. Jadi, tiga bintang. :3
❝...tidak perlu berkata apa-apa. Aku pun dulu tak tahu harus berkata apa, tapi memang ada saatnya kita hanya perlu diam, berpikir, dan mencerna.❞ —Page 56
❝Ya, semua terjadi karena suatu alasan. Bahkan mungkin, banyak alasan. Supaya aku belajar.❞ —Page 57
❝Sometimes, good thighs fall paart, so better things can fall together❞ —Page 57
❝Indeed, when people treat you badly, you only have two choices, either becoming bitter, or becoming better.❞ —Page 115
❝No one can hurt you unless you let them❞ —Page 176
❝There comes a time when you have to stop crossing oceans for people who wouldn't even jump puddles for you.❞ —Page 210
❝She's been giving in too much. Amd it's really the time to stop.❞ —Page 210
❝They say, it's not the goodbye that hurts, but the flashbacks that follow. How true.❞ —Page 218
❝I don't believe in fate. It's not fate that brought you here. It's God's will and my prayer, combined together. When we pray, God sets miracle into motion.❞ —Page 252
❝Kalau aku bertanya padamu, mengapa kamu masih tetap mencintai dia, padahal ada banyak pria lain yang akan mencintaimu lebih dari yang bisa dia lakukan, apakah kamu bisa menjawab? ...... Seperti itulah jawabanku. Aku mencintaimu karena hatiku memilihmu, sama seperti hatimu memilihnya ❞ —Page 254
❝It's maybe because I've been fighting for too long. I don't know how it feels to be someone a guy fights for.❞ —Page 255
❝Jika suatu saat nanti kamu sudah lelah berjuang, maukah kamu memberitahuku?❞ —Page 255
❝❞Which do you prefer, to love or to be loved? —Page 268
❝If you come back, I know you will always be mine.❞ —Page 272
•••
Where should I begin?
I'll say that I have no expectations when I read this book. My only intention is to read books to reach my reading goal. So, I just pick this book and was surprised by how much I love it!
As what the title is, it's about Alleira who got stuck between two guys. Enzo, her best friend that she loves for about 3 years. Or Ben, her boss, who turns out to have feelings for her.
Just by reading the first few chapters, I already know how the storyline will go and who will be with Alleira at the end. In the process, I have the urge to read the ending first to make sure my prediction was right. But still, I held back and managed to read it from the beginning till the end.
Oh, I love Stephanie Zen's writing style! The premise of the story is fairly general but the subtle manner of the storytelling gets me too excited! Although there is no unpredictable twist, I still really enjoyed this book!
Do you know what's funny? I might write my review opposite to this one if the story was different from what I wanted. Yet, as expected, it's exactly to my liking! Yay!
Oh, one more thing. This book makes me get a glimpse of how it feels like to work in Singapore, especially about the S pass.
Anyway, reading this book made me realize that I've got a thing with a character named BEN. BEN as in Benjamin Chua, Benton James Kessler, Ben Barata, and even Benjamin Joshua!
Perdana baca scoop dengan novel ini, hahaha..even ga ngerasain secara fisik but overall gw enjoy dengan scoop..Awalnya ritme dari novel ini sangat lambat buat gue, jadi ga bikin gue excited untuk meneruskan tapi ada satu momen dimana ketika Email hero ke heroine yang bikin gw lebih penasaran dan penasaran dan penasaran sehingga gue melanjutkan cerita ini. Honestly, chemistry mereka gue dapat banget even ga meletup-letup kayak harlequin atau hisrom tapi lebih ngena dan mendalam buat gue..ini tipe chemistry yang smoothly dan bagaimana cara hero nya memperjuangkan heroine tanpa harus terlihat menggebu-gebu tapi lebih condong ke arah romantis yang buat gue makin baper..hahahaha,,I'm in love with Ben so deeply ^^,
Wow. Keren. Menyenangkan sekali membaca novel ini hahaha. Jalan cerita menarik, penggambaran latar yang tidak membosankan, dialog-dialog yang tidak cringe dan nikmat dibaca, serta chemistry tokoh utama Alleira dengan Enzo dan Alleira dengan Ben yang dibangun smooth tapi ngena.
Dan saya nggak tahu apakah saya #TimBen atau #TimEnzo karena...baik Ben atau Enzo, seimbang.i love them both
Nggak mau spoiler, tp gmn yaaaa... Mnrt gw, novel ini gabungan dari : Between the raindrops (karakter enzonya yg jago masak n leg perjuangin ceweknya, di sisi lain Ben adalah karakter Dheeraj nya yg memilih mengutamakan kebahagiaan di cewek), Summer Sky (Yaaaa... Begitu deh... Karakter2, alur serta ending yg mirip), secara, penulisnya sama. Ide dasarnya cinta segitiga. Menunggu novel lainnya yang semoga, dengan ide baru dan fresh serta karakter dan alur berbeda.
Alur cerita menurutku bagus, rapi, dan ringan juga. Aku suka penggambaran detail suasana dan latar tempat di sana. Jadi bisa bayangin gimana kalau besok kerja hahaha Perjuangan Alleira bikin sadar kalau cinta itu memang perlu diperjuangkan, tapi buat apa jika orang itu bahkan tidak menghargai perjuangannya. Padahal di sisi lain ada sosok yang rela mencintai dan memberikan perhatian-perhatian kecil dengan tulus.
Finally bisa baca Stuck in Love setelah masuk daftar wishlist selama berbulan-bulan. Seperti biasa, kak Stephanie bercerita dengan detail, menjadikan Singapura bukan hanya sekedar tempelan. Dan hey, pengen banget punya bos seperti Ben yang baiknya luar biasa itu hahaha.
Dan sepertinya aku harus menemukan ritme membacaku kembali.