Pada suatu hari, Darmagandhul, seorang murid yang tajam hatinya, bertanya kepada gurunya, Kiai Kalamwadi, tentang awal mula kenapa penduduk Jawa meninggalkan agama Shiwa Buddha dan beralih memeluk agama Islam. Pada saat itulah Kiai Kalamwadi mulai menyadari bahwa rahasia kehancuran Majapahit dan Jawa yang tersembunyi selama berabad-abad patut dibabarkan kepada Darmagandhul, agar menjadi pelajaran bagi generasi mendatang. Kiai Kalamwadi memperoleh pengetahuan itu dari gurunya, Raden Budi, yang mewarisi cerita sejarah dan ilmu-ilmu rahasia leluhur Jawa. Melalui percakapan yang disenandungkan, Kiai Kalamwadi lantas berkisah tentang proses kehancuran Majapahit. Dikisahkan, Majapahit hancur oleh serangan Dêmak yang dipimpin oleh Senapati Jimbun alias Raden Patah—putra kandung Prabu Brawijaya yang berkuasa. Hanya Syekh Siti Jênar yang menolak rencana itu, sehingga ia dijatuhi hukuman mati.
Semenjak terbit pertama kali pada paruh pertama abad ke-20, Darmagandhul memantik polemik panjang di kalangan sejarawan terkait validitas data-data sejarah yang ditampilkan di dalamnya. Banyak yang menyetujui, tetapi tak sedikit yang menyangkal dan menganggap kitab tersebut sekadar karya sastra belaka. Buku yang berada di tangan Anda saat ini memberikan analisis kritis atas kitab tersebut, didasarkan pada peninggalan-peninggalan sejarah berupa prasasti, kakawin, babad, sêrat, kronik, dan cerita tutur yang berkembang di tanah Jawa dan Bali tentang masa akhir Majapahit. Buku ini juga mengulas ajaran-ajaran rahasia Jawa dalam kitab ini dengan sudut pandang Tasawuf, Shiwa Buddha, dan Kêjawen.
Damar Shashangka lahir di Malang pada tanggal 8 April 1980. Kelahirannya di keluarga Kêjawen membuatnya sangat tertarik kepada mistisisme dan spiritualitas semenjak kecil. Saat masih berumur belasan tahun, ia memperoleh sebuah visi bahwa suatu saat dirinya bakal menulis banyak buku tentang sejarah dan ajaran-ajaran kuno Nusantara. Ia penulis novel sejarah yang sangat produktif. Ia mulai dikenal di belantika sastra sejarah Indonesia setelah menulis novel berseri debutnya, Sabda Palon, tentang masa akhir Kerajaan Majapahit dan berkuasanya Islam di Nusantara, yang menangguk banyak pujian dan menjadi referensi berharga tentang sejarah Nusantara berikut ajaran-ajaran kunonya.
Selain menulis novel, Damar Shashangka juga aktif menerjemah dan mengulas naskah-naskah klasik Jawa seperti Induk Ilmu Kejawen (Wirid Hidayat Jati), Darmagandhul, dan Gatholoco. Anak muda yang fasih berbicara dan menulis tentang spiritualitas Islam, Kêjawen, dan Śiwa Buddha ini bisa dihubungi secara personal melalui email: damarshashangka@gmail.com, facebook: Damar Shashangka, twitter: @DamarShashangka, blog: damar-shashangka.blogspot.com.
"Kebanggaan apa yang kamu dapatkan jika sudah unggul berperang melawan ayah sendiri yang patut dihormati? Walau kamu bertobat kepada Yang Mahakuasa, menurutku tobatmu tidak akan diterima."
Salah satu dari sekian banyak kalimat yang tertulis di buku ini yang meninggalkan "bekas" di hati saya.
Buku ini berisikan serat Darmagandhul dalam berbagai versi Bahasa sehingga memudahkan pembacanya untuk membaca dan memaknainya (secara individu, tentunya). Ditutup dengan ulasan objektif dari penerjemahnya, buku ini terkemas dengan menarik dan berhasil mencengangkan saya, sebagai pembaca dan tentunya para pembaca lainnya.
Serat Dharmogandul menawarkan sudut pandang sejarah alternatif yang berani, namun pembaca harus tetap kritis. Ekspektasi saya untuk mendapat narasi sejarah dari sisi berbeda memang terpenuhi, tapi isinya sangat sarat dengan opini subjektif yang provokatif. Beberapa poin yang perlu dicatat: • Logika Bahasa: Banyak permainan kata (kerata basa) yang diklaim bermakna filosofis, namun bagi saya justru terasa dipaksakan dan "sesat" dalam menerjemahkan esensi aslinya. • Infiltrasi Kepentingan: Sangat terasa adanya pengaruh atau "titipan" narasi kolonial. Teks ini seolah menempatkan bangsa Belanda sebagai pembaharu yang dinanti Nusantara—sebuah anomali yang membuat objektivitas karyanya patut dipertanyakan. Sebuah bacaan yang penting untuk memahami dialektika budaya, namun harus dibaca dengan pembanding agar tidak terjebak pada bias penulisnya.
Jujur.. emang dasar nya saya orang nya agak2 BLO'ON.. saya punya pendapat sama tadinya.. "ini mah yg nulis orang kristen".. But Damar Shashangka took it to another level when i red the last chapter. This guy is AMAZING... more than a Spiderman.. hahaha.. peace out.. aah .. Btw.. im a Christian raised in the big moslem family (father side) and jewish family (mother side).. and we doin just fine..