"Pengarang Ditemukan Tewas Gantung Diri"---itulah judul berita di koran yang membuat Elang Bayu Angkasa, seorang pelukis, penasaran. Apalagi pengarang yang tinggal di Singkawang dan bernama samaran Gagak Hitam itu tidak meninggalkan jejak sama sekali, kematiannya misterius. Terpancing rasa ingin tahu, Elang pergi ke Singkawang, menyelidiki kematian itu.
Saat Elang baru saja menyelidiki misteri kematian Gagak Hitam bersama Agung, polisi di Singkawang, kematian lain menyusul. Seorang dokter bernama Nina Sekarwati ditemukan tewas gantung diri di Jakarta. Elang tercengang ketika mendengar di kamar dokter naas itu ada tulisan dari lipstik ditorehkan di dinding: "Merpati Putih menyusulmu".
Pengarang dan dokter---dua kota, dua kematian, dua misteri. Teka-teki apa yang tersembunyi?
Sidik Nugroho lahir pada tanggal 24 Oktober 1979, menekuni dunia kepenulisan sejak cerpen pertamanya berjudul Surat Kakakku menang sebagai juara ketiga lomba kepenulisan di kampusnya pada tahun 2002. Beberapa tulisannya (cerpen, puisi, esai, opini, artikel, dan resensi buku) pernah dimuat media-media nasional seperti Kompas, Media Indonesia, Koran Tempo, Jawa Pos, Kontan, beberapa media online, dan beberapa media lokal.
Buku-bukunya yang telah terbit adalah:
1. kumpulan cerpen remaja yang ditulisnya bersama Arie Saptaji berjudul Never be Alone (Penerbit Andi, 2005),
2. kisah dongeng berjudul Kisah-kisah Si Tuan Malam: Pencarian Kolam Mukjizat (Pustaka Ninja, 2011),
3. kumpulan kisah inspiratif berjudul 366 Reflections of Life (Bhuana Ilmu Populer, 2012),
4. kisah dongeng berjudul Kisah-kisah Si Tuan Malam: Pendekar Gitar dan Penggali Kubur (Pustaka Ninja, 2013),
5. novel berjudul Surga di Warung Kopi (Bhuana Ilmu Populer, 2014),
6. novel berjudul Melati dalam Kegelapan (Gramedia Pustaka Utama, 2014),
7. novel berjudul Tewasnya Gagak Hitam (Gramedia Pustaka Utama, 2016),
8. novel berjudul Neraka di Warung Kopi (Gramedia Pustaka Utama, 2016),
9. buku nonfiksi berjudul Menulis untuk Kegembiraan (Buana Karya, 2016),
10. novel berjudul Ninja dan Utusan Setan (Gramedia Pustaka Utama, 2017),
11. novel berjudul Serikat Kegelapan (Kopihitam, 2017),
12. novel berjudul Klien Ketiga (Prakarsa Anugerah Mandiri, 2021), dan
13. novel berjudul Kematian Pendeta Felix (Prakarsa Anugerah Mandiri, 2025).
Pada 26-30 Oktober 2016 ia diundang tampil di Ubud Writers and Readers Festival di Ubud, Bali. Pada tahun yang sama, novel Tewasnya Gagak Hitam lolos seleksi program penerjemahan yang dihelat Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan (PPSDK) dari Badan Bahasa; novel yang sudah diterjemahkan ke Bahasa Inggris itu diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, berjudul The Death of the Black Crow.
1 bintang untuk diksi yang bagus 2 bintang untuk ... kebaikan hati saya
Sudah sejak lama saya rindu dengan novel-novel karya penulis se-tanah air yang nggak melulu menulis tentang tema filosofis, religi romantis atau romantisme saja. Dan karena saya penyuka genre misteri, saya merasa tertarik membaca buku ini karena sinopsisnya menarik dan karena bukunya tipis. Tapi aduh, ada banyak keanehan dalam buku ini. Saya jabarkan ya.
SPOILER ALERT
Buku dibuka dengan sebuah berita tentang peristiwa bunuh diri seorang penulis bernama Gagak Hitam di koran yang dibaca oleh pelukis Elang Bayu Angkasa. Dia segera mengaitkan peristiwa bunuh diri tersebut dengan penulis klasik Ernest Hemingway yang juga bunuh diri. Elang merasa..... apa ya.... terpukul? tersentak? seolah-olah bunuh diri hanya berlaku pada orang lain dan di halaman berikutnya dia mengatakan kebanyakan penulis penderita bipolar. Gangguan mental. Alamak.... mulai keliatan jelas sifat Elang ini. Lalu pada halaman berikut, Elang dikatakan menjalin hubungan gelap dengan istri seorang pengusaha bernama Irin, yang juga mengungkap fakta bahwa dirinya menyukai perempuan sebagai objek seks dan tidak berminat melakukan hubungan serius. WTH is this? stereotip seniman? Nggak butuh waktu lama bagi saya untuk menyimpulkan bahwa Elang adalah seorang misogynist yang menganggap wanita hanya bersikap santun di luar tapi mesum di ranjang. Ketika Elang melihat seorang wanita, yang dipikirannya cuma "bisa diajak tidur nggak ya" dan tentu saja body yang hot. beli kompor sekalian Lang.
Setelah itu, Elang adalah tokoh yang luar biasa kepo. Motifnya untuk ikut menyelidiki kasus bunuh diri penulis ini sangat tidak jelas. Cuma sekedar penasaran saja. Lalu dia pun dilibatkan dalam penyelidikan (memangnya boleh Polisi melibatkan warga sipil untuk kegiatan kriminalitas? kacau banget dong). Lebih jauh lagi, Elang bahkan bersedia pergi ke Jakarta (kasus sebelumnya ada di Pontianak) dengan uangnya sendiri tanpa di-reimburse untuk membantu penyelidikan polisi. Baik banget lo Lang, abis berapa duit tuh buat sekedar kepo doang? Elang juga mau saja jadi mata-mata untuk selidik ini-itu yang malah dipake buat cari cewek. Iya, Elang disini digambarkan guanteng buanget sampe semua cewek yang dia goda (picisan pula rayuannya) mau diajak tidur walau baru sekali bertemu. Bener deh isi novel ini 40%nya dipake buat menggambarkan bagaimana wanita itu gampang dirayu, fisik bahenol baju ketat-ketat, dan manja ala kucing di ranjang. Sama sekali nggak diceritakan ada wanita pintar di buku ini. Bahkan seorang dokter wanita yang juga didekati Elang, digambarkan begitu berpikiran pendek sehingga mau saja dirayu si terduga untuk membunuh. Tapi eits, nggak lupa, telanjang dulu yuks.... *facepalm* Totally misogynist.
Lanjut lagi, terbukalah misterinya........... yang bikin saya sinis juga. Peristiwa bunuh diri si gagak hitam juga pembunuhan si merpati putih yang disamarkan sebagai bunuh diri ternyata berkaitan dan dilakukan oleh orang dekat. Tapi motifnya, sungguh nggak masuk akal. Dan itu bikin semua peristiwa di buku nggak masuk logika. Ada pula peristiwa penyanderaan oleh si pelaku yang sangat dangkal banget, lagi-lagi menyeret Elang si warga sipil yang harusnya nggak ngerti prosedur penangkapan, juga ada Ronny, random guy yang ditemui Elang di warkop hanya 2 kali. Ngomong-ngomong, sama sekali nggak ada prosedur-prosedur ala Law & Order disini. Kerja polisi sangat cepat dan nggak butuh surat-surat untuk penangkapan atau prosedur ijin dari atasan untuk penyergapan pelaku yang menyandera. Nggak perlu Brimob, nggak perlu kopassus. Cukup beberapa orang saja dengan 2 warga sipil. *tepok-tangan* canggih ya.
Kesimpulan, buku ini cukup mengecewakan. Saya nggak suka cerita dangkal dan hanya asal tempel sana-sini. Katanya buku ini mau dijadiin trilogi? wuiiih, Semoga bisa lebih baik lagi.
Review Novel: Tewasnya Gagak Hitam Oleh: Dimas Rumamby
Identitas Buku: Judul Buku: Tewasnya Gagak Hitam Penulis: Sidik Nugroho Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tahun terbit: Januari 2016 Tebal Halaman: 248 halaman Ukuran Buku: 18 cm ISBN: 978-602-03-2429-6
Tewasnya Gagak Hitam merupakan novel karangan Sidik Nugroho yang bertemakan Horror/Thriller serta Action adalah awal mula cerita dari serial karakter yang bernama Elang Bayu Angkasa bersama rekannya yang berprofesi sebagai polisi Agung Prasetyo.
Mengisahkan tentang Elang Bayu Angkasa yaitu seorang pelukis yang cukup ternama di Pontianak mempunyai rasa penasaran yang tinggi dengan kasus bunuh diri seorang pengarang di Singkawang yang melabeli dirinya sebagai “Gagak Hitam”. Merasa tertarik serta penasaran dengan kasus tersebut Elang menghubungi rekan yang juga berprofesi sebagai polisi Effendi Raditya untuk mendapatkan keterangan mengenai kasus bunuh diri itu hingga akhirnya bekerja sama dengan rekan kerjanya Agung Prasetyo yang berwenang menangani kasus tersebut. Pada saat Elang dan Agung sedang memecahkan kasus itu, mereka mendapatkan kabar di Jakarta bahwa ada seorang dokter yang bernama Nina Sekarwati juga melakukan bunuh diri dengan bertuliskan “Merpati Putih” ditembok kamarnya. Apakah ada hubungan antara “Gagak Hitam” di Singkawang dengan “Merpati Putih” di Jakarta?
Cerita dalam Tewasnya Gagak Hitam memiliki alur yang cukup untuk tidak mudah ditebak oleh pembaca, cukup untuk menghadirkan banyak kejutan dari segi latar dan tokoh yang tak disangka-sangka, dan mempunyai beat yang naik turun. Dari segi tokoh utamanya juga sangat kreatif sekali sifatnya dimana seorang seniman dilibatkan dalam kasus kriminal karena mempunyai kemampuan yang lebih dalam hal menyelidiki sebuah kasus, walaupun ada sedikit hal yang disayangkan seperti pada alur ketika Elang memanggil “Bang” kepada penjaga toko buku di Singkawang yang artinya sangat tidak sesuai antara daerah dengan bahasa yang dipakai dan tidak menjelaskan pada akhir cerita mengapa tokoh pasif Nina Sekarwati bisa dijuluki sebagai “Merpati Putih”, akan tetapi cerita dalam novel ini bagus sebagai tema Thriller/Horror/Action dengan mencocokkan gaya hidup pada jaman sekarang.
Diharapkan untuk serial Elang Bayu Angkasa berikutnya penulis bisa membuat pembaca lebih penasaran, lebih sulit untuk menebak, dan lebih membuat pembaca tidak menduga-duga.
Dari segi alur kisah dan bagaimana lika-liku Elang dan kawan-kawannya memecahkan misteri kematian sang pengarang dan dokter ini, novel ini bisa dikatakan cukup menarik layaknya sebuah novel misteri dimana pembaca dibuat penasaran dan ikut berputar otak untuk memecahkan teka-teki yang muncul disepanjang kisahnya. Sayangnya ada beberapa ganjalan yang membuat novel misteri ini menjadi kurang sempurna.
Yang pertama dan yang paling mengganggu adalah bagaimana Elang, seorang pelukis yang hanya bermodalkan pertemanan dengan seorang anggota kepolisian di media sosial begitu mudahnya bergabung dengan satuan kepolisian guna memecahkan kasus ini. Penulis sendiri mengungkapkan bahwa Elang dan Effendy walau telah berteman di Facebook selama setahun lebih tapi masing-masing belum pernah bertemu dan jarang nengirim apapun di kronologi Facebook mereka. Bagaimana mungkin seorang polisi langsung mempercayai Elang untuk ikut membantu memecahkan kasus kematian Gagak Hitam hanya berdasarkan pertemanan ala kadarnya di Facebook?
Memang bukan hal yang mustahil dimana aparat kepolisian bekerja sama dengan masyarakat awam untuk memecahkan sebuah kasus, namun tentu saja yang dipilih adalah orang-orang yang telah mereka kenal baik dan terpercaya. Sedangkan di novel ini pemilihan Elang untuk membantu aparat kepolisian terkesan begitu ceroboh. Hanya berdasarkan pertemanan di Facebook semata.
Kabarnya novel ini merupakan novel pertama seri petualangan Elang Bayu Angkasa. Sebagai sebuah novel pembuka dari seri-seri selanjutnya alangkah baiknya penulis sedikit bersabar untuk tidak langsung melibatkan sang tokoh dalam petualangan memecahkan misteri, melainkan memberikan latar dan dasar kisah yang kuat bagaimana Elang bisa begitu dipercaya oleh aparat kepolisian untuk terlibat atau membantu kepolisian dalam memecahkan sebuah kasus.
Selain Elang, nanti di tengah-tengah perburuan dan penyergapan polisi juga melibatkan orang awam lainnya sebagai mata-mata padahal orang tersebut baru saja dikenal oleh Elang selama beberapa hari di Jakarta. Sungguh suatu perbuatan yang ceroboh lbagi aparat kepolisian jika sampai melibatkan orang awam yang tidak diketahui latar belakangnya untuk terlibat dalam sebuah operasi penyerbuan.
Yang kedua, soal bukti petunjuk berupa buku TTS milik Gagak Hitam. Bukti petunjuk yang harusnya tersimpan di kantor kepolisian ternyata begitu mudahnya dapat dipinjam dan dibawa oleh Elang ke kamar hotelnya dan Elang membolak balik buku tersebut hanya dengan menggunakan tisu hingga ketiduran.
Ketiga, adalah bagaimana dengan mudahnya pegawai toko buku dibohongi oleh Elang untuk mencari buku TTS serupa guna mencari petunjuk dari halaman yang hilang di buku TTS milik Gagak Hitam. Elang mengatakan bahwa siapa yang bisa mengisi seluruh TTS dalam buku tersebut maka hadiahnya adalah tamasya ke Jepang tiga hari tiga malam ditemani wanita berpenamilan sexy yang dijadikan cover buku TTS tersebut. Bualan tersebut rasanya terlalu berlebihan dan rasanya sulit bagi seseorang sekalipun dia hanya seorang pegawai toko biasa untuk mempercayainya.
Terakhir, novel ini terkesan terlalu menonjolkan ke play boy-an Elang. Bagaimana tidak, setiap wanita yang ditemui Elang dengan mudah jatuh ke pelukannya. Tidak hanya dipacari melainkan sampai bersedia diajak ke tempat tidur. sebagai bumbu penyedap dan mengurangi tensi ketegangan sebuah novel misteri hal ini bisa dimaklumi, namun penulis tampaknya harus berhati-hati dalam mengumbar ke playboy-an Elang karena bukan tidak mungkin penulis dianggap terlalu melecehkan wanita oleh pembacanya karena dalam semua tokoh wanita yang muncul di novel ini hampir semuanya begitu mudah diajak bercinta oleh tokoh utamanya. ......
Rasanya legaaa banget bisa namatin buku ini. Sebelumnya khatam duluan sama buku keduanya (ps: nggak dibaca urut nggak masalah) dan memutuskan karakter Elang masuk ke kategori main-chara-kader-pdip.
Elang membaca potongan berita tentang kematian Gagak Hitam, seorang penulis, di kamar indekos penulis tersebut. Polisi memberi keterangan jika GH meninggal karena gantung diri. Namun, apakah benar demikian? Rasa penasaran Elang terpantik, terlebih dia dan korban sama2 bergelut dalam bidang seni. Hingga kesempatan itu muncul dari Agung, polisi yang menyelidiki kasus tersebut secara khusus memintanya menggunakan daya imajinasi seniman untuk melihat sisi lain dari kasus ini.
Kesanku tetap seperti novel sebelumnya, misteri dan ketegangannya datar banget. Memang, tulisan lebih baik show daripada tell, tapi apa ya, di sini kesannya terlalu cepat. Apalagi bagian akhir, isinya yaudah satu orang dialog panjaaang buat jelasin.
Main problem di sini karakter Elang. Duh, paket lengkap banget ini laki-laki; ya sok pintar, sok ganteng, sok tau. Oke, barangkali emang skeptis dan judes banget reviuku. Tapi cara Elang bisa dapetin cewek bikin jengah. Seolah cewek jadi objek yang gampanglah didapetin. Plus, dia ini diam aja waktu melakukan perselingkuhan. Nggak perlu bilang pakai hati atau apalah, kalau memang dirasa salah ya udah, end. Nggak ada kesan kasihan sama sekali sama Elang mah. Yang dipikirannya lihat wanita cantik (atau nggak terlalu cakep, tapi tubuhnya oke) adalah dia pengin ngajak ngamar. His problem with Dokter Bunga nggak bikin simpatiku lantas datang. Pantes dapetin itu karena yang dipikirin cuma esek-esek. Mau bikin karakter yg bad boy, tapi jatuhnya annoying.
Cara dia berpartisipasi sama kasus juga langsung wasweswos. Seolah dia bagian dari kepolisian. Waktu part dia jelasin rencana penggerebekan, kupikir yang ngomong si polisi, ternyata bukan. I guess, alasan kenapa Elang punya kerjaan pelukis buat ini; mainin imajinasinya.
It supposed 1 star, tapi detail di bagian action-nya patut dikasih tambahan koma. Penjelasannya nggak rumit dan gampang diikuti.
Ps: Reviu di atas sepenuhnya preferensi pribadi, mohon untuk tidak dijadikan referensi. Rating dan penilaian yg diberikan bukan karena bukunya tidak layak untuk dicoba baca.
Judul : Tewasnya Gagak Hitam Penulis : Sidik Nugroho Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tebal : 248 halaman Tahun terbit : 2016
Elang Bayu Angka, seorang pelukis asal Pontianak merasa penasaran setelah membaca Headline koran tentang tewasnya seorang pengarang berinisial Gagak Hitam. Pengarang itu hanya dikabarkan mati, tanpa ada keterangan lebih lanjut. Bermodalkan pertemanan melalui facebook Elang mendekati seorang polisi bernama Effendi yang kemudian mengenalkannya dengan Agung, polisi yang menangani kasus tersebut. Elang direkrut menjadi orang internal kepolisian dengan nama samaran Brigadir Yono. Elang membantu Agung menyelidiki misteri dibalik kematian Gagak Hitam. Mereka menemukan dua buah bukti pengiriman barang dan sebuah buku TTS. Mereka lalu tercengang saat mengetahui bahwa Dokter Nina yang mendapat kiriman barang dari Gagak Hitam ditemukan tewas gantung diri setelah menegak racun dengan meninggalkan satu pesan kematian. "Merpati putih menyusulmu." Apakah dua kematian berbeda kota ini saling berhubungan? Ada satu hal dalam novel ini yang sedikit mengusik pikiran saya.Perekrutan Elang dalam kepolisian yang menurut saya terlalu cepat. Hanya bermodal pertemanan melalui FB dan mengobrol sebentar di warung kopi Elang sudah dipercaya ikut menyelidiki kasus pembunuhan. Saya cukup sering membaca cerita detektif. Biasanya tokoh detektif kebanyakan bertentangan dengan polisi pada awalnya. Namun setelah dia menunjukan kepiawaiannya dalam mengungkap kasus, barulah dia dipercaya membantu polisi. Elang belum menunjukan kemampuannya atas dasar apa dia tiba-tiba menjadi anggota internal kepolisian? Menurut saya, di sini Kak Sidik sedikit ceroboh. Namun bagian-bagian lainnya dari novel ini sudah bagus. Ada beberapa bagian yang vulgar dalam novel ini. Beberapa reviewer tampaknya cukup terganggu dengan bagian ini, namun saya tidak. Menurut saya kevulgaran novel ini masih dalam batas wajar. Novel barat seperti karya Sidney Sheldon jauh lebih vulgar dari novel ini. Lagi pula adegan vulgar dalam novel ini memiliki tujuan yang jelas yaitu untuk membangun karakter tokoh Elang. Seorang senior saya di @Detective_ID mengatakan bahwa novel bergenre detektif harus memiliki karakter yang kuat. Sherlock Holmes sangat cerdas namun menjadi becandu narkoba. Poirot cerdas tapi pemalas. Saya menangkap bahwa dalam novel ini Kak Sidik ingin menggambarkan Elang sebagai pria yang cerdas namun penggila wanita. Kak Sidik sama sekali tak bermaksud merendahkan wanita, bahkan Elang pun akhirnya kena batunya pada bab 13. Elang mungkin juga digambarkan tidak memiliki fisik yang kuat. Dia tidak bisa berlari dengan cepat dan tidak pandai berkelahi. Itulah yang menyebabkan tokoh-tokoh polisi lainnya atau beberapa tokoh lain memiliki porsi aksi yang cukup besar pula dalam pemecahan dan penangkapan si penjahat. Saya senang sekali karena genre detektif/thriller kini cukup ramai di Indonesia. Meskipun misteri ini tak terlalu rumit dan mudah ditebak namun, cukup menghibur. Saya berharap Kak Sidik dapat menulis cerita yang lebih baik lagi. Atas perjuangan Kak Sidik dalam menulis novel ini saya memberikan empat bintang.
sosok elang dalam kisah ini memang unik. mengingat latar belakangnya sebagai pelukis, jadi masuk akal kalau ia tampil sbagai tokoh utama. dari beberapa cerita detektif yang saya baca, sosok elang bayu angkasa memang lain daripada yang lain. lalu, mengemasnya dalam sebuah cerita dewasa yang ada petualangan asmara, menjadikan novel ini makin menarik.
saya kira, cerita ini lebih kearah misteri daripada detektif. unsur laga juga terasa menjelang akhir. membacanya, saya jadi penasaran dengan sosok elang juga yang atraktif dan flamboyan walaupun gampang mudah terpikat wanita, bukan hanya kasus yang ia tangani karena kasus itu juga ditangani banyak polisi dan orang lain yang terlibat. seperti apa ya misteri keduanya?
Temanya sebenarnya menarik, dan cara penulisnya mengalir. Tetapi, maaf sekali, saya tidak benar-benar menyelesaikan buku ini, benar-benar membaca hanya sampai tengah lalu melompat-lompat. Telanjur tak bersimpati pada Elang dan saya berpikir sebegitu mudahnya masuk ke dalam penyelidikan polisi hanya karena merasa saya-tertarik-dengan-kasus-ini tanpa memiliki latar belakang menyoal dunia kriminal, karena kenal dengan polisi lewat fb. Mungkin lebih bisa saya terima andai Elang ini, misalnya, teman korban atau katakanlah detektif swasta. Memasukkan Elang ke dalam penyelidikan yang terlalu dalam, apalagi si polisi tidak begitu mengenal terasa... gegabah sekali polisi itu. Kalau saya jadi Agung, mungkin saya malah curiga sama Elang. Semoga karya ke depan bisa lebih baik lagi
ini kisah detektif yang... gimana ya menggambarkannya ... ceritanya atau endingnya tidak mudah ditebak, tapi alurnya gampang dicerna. peristiwa-peristiwa juga dikisahkan urut ,ada tanggal di beberapa awal bab atau pergantian babak cerita. kelihatan kalau penulisnya punya perencanaan baik dalam menyusun cerita. awalnya saya menduga, nuansa detektif bakal kental, tapi dugaan itu meleset. agk kecewa sedikit di sini, tapi memang ini bukan kisah yang bisa dibilang sama dengan kisah2 detektif yang banyak dikenal seperti agatha atau sir arthur, tapi lebih ke arah laga.
this book was complicated! ada serunya, dan lucunya juga asyik. dan, selingan-selingan asmaranya itu sangat menghibur.
buku dengan tema seperti ini memang belum banyak di indonesia nggak aneh sih, kalau banyak yang penasaran
pertama, ini genre favorit saya berkali saya mencari genre serupa, dan memang jarang ditemui. itu alasan saya membeli buku ini.
kedua, entah kenapa saya agak kecewa karena ternyata bukunya tipis dan kertasnya dengan kualitas seperti itu. memang buku-buku sydney sheldon juga tidak kalah tipis, tapi tetap nyaman tuh dinikmati.
ketiga, saya cukup suka dengan pilihan kata-katanya. ada beberapa yang filosofis dan ada juga yang terkesan polos.
keempat, karakter elang menurut saya sangat manusiawi. biasanya orang keren, di belakangnya punya belang hitam. ya seperti elang ini.
kelima, ceritanya sederhana, tapi sayangnya saya kehilangan rasa penasaran di tengah buku. entah, mungkin ada semacam link yang hilang.
keenam, keterlibatan elang dalam dunia spionase terkesan sangat tiba-tiba. karena kehidupannya sama sekali tidak dijelaskan pernah bersinggungan dengan dunia intelijen. intinya,latar belakang elang sebagai pelukis masih kurang kuat jika harus diseret ke dunia intelijen.
ketujuh, saya tidak terganggu dengan adegan elang dan wanita-wanitanya. karena biasanya buku luar lebih vulgar untuk ini. tapi memang agak kurang halus penggambarannya, terkesan buru-buru.
kedelapan, saya menemukan beberapa bagian buku yang cacat logika. misalnya, di awal, elang disebutkan pernah menikah dan bercerai. tapi di halaman 76 ada kalimat " ... walaupun belum menikah ... " yang seolah mengatakan kalau si elang ini memang belum pernah menikah. kemudian pada karakter ibu kos gagak hitam. saat elang datang bersama rekan polisinya, kok pertanyaan si ibu ini keren banget ya, seolah orang yang ahli penyelidikan (hal 45), bertanya soal visum dan sidik jari. wajarnya, sosok wanita ibu kos ini tampak khawatir soal bisnisnya, daripada 'tertarik' dengan penyelidikan, apalagi sampai bertanya sedetail ini.
kesembilan, ada beberapa adegan yang agak mengganggu bagi saya. pada bagian penyergapan polisi, tampak si polisi kurang terencana. memang sih, polisi juga manusia. tapi kok sepertinya benar-benar kacau. gagal sekali sih wajar, tapi ini gagal sampai dua kali. dan personil yang turun ke lapangan pun sangat sedikit. jadi agak aneh sih.
kesepuluh. dari segi editing, saya memang merasakan kalau buku ini diedit khas gaya buku terjemahan. baik pilihan huruf, tata letak maupun kekhasan lainnya.
sudah ada sepuluh point di atas. well, rasa penasaran saya karena melihat sampulnya memang terjawab. meski memang saya masih belum puas sepenuhnya. semoga bisa terobati di buku berikutnya terimakasih
Diksinya lugas, kalimatnya luwes sehingga berbagai "kejanggalan" di dalamnya bisa diceritakan dengan mengalir lancar. Cukup bikin penasaran untuk dibaca sampai akhir.
Sayang, konten adegan Elang bersama para wanitanya lumayan bikin risih. Zengkel ya, ini novel detektif misteri atau stensilan? Tapi orang kaya Elang di dunia nyata itu ada. Jadi ya... dia itu potret ya. Potret laki-laki yang minta dikebiri. HUH!
Di bagian akhir, pembaca dibanjiri dengan berbagai macam informasi yang tiba-tiba membanjir begitu saja demi terungkapnya misteri. Plus tambahan rentetan para pemain figuran yang tiba-tiba beraksi dengan gagah berani, tanpa sempat meninggalkan kesan di hati di bagian-bagian sebelumnya.
Tokoh Agung sebenarnya potensial untuk dijadikan idola, dengan sikap dingin dan pemikiran kelamnya yang cadas. Tapi porsinya di sini kurang terbangun (andai adegan Elang dan para wanita itu diganti dengan pengembangan karakter dan kasus ya...). Dia terkesan dengan mudah melewatkan berbagai petunjuk agar Elang bisa unjuk gigi "sebagai pelukis yang ternyata berbakat jadi detektif setelah tidak sengaja bergabung dalam penyelidikan setelah pedekate dengan polisi via FB".
Sebenarnya penulis mampu menghasilkan yang lebih baik dari ini. Pasti. Semoga di bagian berikutnya. Apakah kematian Gagak Hitam ini hanyalah awal dari rangkaian kasus yang lebih besar di buku-buku selanjutnya? Entahlah... Just wait and see...
penulis buku ini punya selera humor yang unik saya rasa. kadang serius, kadang bercanda. memang ceritanya rada p*rno, tapi asyik diikutin. saya terhibur membaca buku ini. review ini saya tulis setelah baca review yang mempermasalahkan masalah kerjasama polisi dengan masyarakat. lucu juga baca review itu, apalgi yang nge-review gak selesai baca. udah jelas banget di novel ini pertemuan agung dan elang itu muncul karena elang penasaran, lalu elang punya kenalan pak effendi. pak effendi itu temannya pak singgih, temannya elang. jadi elang gak langsung kenal agung dan dipasrahi tugas. di novel bahkan elang merasa dirinya tamu, sempat ragu-ragu terlibat. ada dialog cukup banyak antara elang dan pak effendi, juga ealang dan agung sebelum elang terlibat.
selain itu wajar saya kira kalau agung perlu rekan kerja. singkawang, tempat kejadian kematian gagak hitm memang kota kecil. kalau cerita kerjasama antara polisi dan masyarakat dianggap aneh... lha kosasih dan gozali itu cerita tentang apa? sampai berseri-seri gitu.
overall, saya suka cerita ini. :=) mengingatkan saya pada cerita2 s mara gd dan v lestari, walau di tewasnya gagak hitam penyingkapan kasus lebih banyak dilakukan bersama-sama
Terlalu ... aneh dan mengada-ada. Banyak pula kebetulan yang diciptakan. Elang (si tokoh utama) hanya pelukis, tetapi terlibat sebagai "detektif" yang belum pernah ada pengalaman sebelumnya, tetapi mengalahkan polisi-polisi berpengalaman dalam hal yang sepele--seperti melihat "jejak" di kamar yang jelas banget kelihatannya, kok ya seperti dipaksakan banget. Terus Elang yang seakan menjadi intel paling cakap karena selalu benar membuat ceritanya jadi makin menyebalkan. Dan ada pertanyaan besar yang tidak dijawab oleh penulis (yang justru sebenarnya lebih penting daripada pertanyaan-pertanyaan tetek bengek yang dijawab secara gamblang oleh penulis), yaitu polisi mana yang bekerja sama dengan Yogi. Dan Yogi terkesan bukanlah bandar ulung seperti yang diceritakan, Tindakannya terlalu terbuka, terlalu aneh. Overall, novel ini aneh. Wkwkwk.
Lumayan seru dan nggak berbelit-belit, sih. Yang agak mengganjal, kok Elang gampang banget bergabung dengan polisi buat melakukan penyelidikan dan langsung dapat kepercayaan. Padahal hubungan antara Elang dan salah Pak Effendi sebatas pelukis dan pelanggannya. Nggak lebih. Terus kemunculan tokoh Rinto di akhir kisah juga cukup mengganggu meskipun dengannya misterinya jadi gamblang. Tapi, kan, nganu banget jadinya. Banyak pula kejadian yang terlalu dipaksakan, terlalu kebetulan, dan nggak masuk akal.
Untuk pertama kalinya saya tidak memberi rating pada sebuah buku. Kenapa? Karena saya tidak bisa menilai secara keseluruhan Kenapa? Karena saya tidak membaca sampai tamat Kenapa? Karena saya kena serangan tidak nyaman bertubi-tubi Kenapa? Eh..... sana meluncur aja dari pada tanya-tanya terus.
Buku dengan judul Tewasnya Gagak Hitam, yang bahkan tidak terlalu jelas dalam menceritakan kematiannya. Saya merasa keseluruhan ceritanya dituliskan dengan sangat sembarangan. Dari awal hingga akhir, penuh dengan kecerobohan. Saya tahu ini fiksi, tetapi semua yang diceritakan terlalu dipaksakan dan mengada-ada, bahkan itu terlihat seperti dituliskan dengan asal. Penokohan dan pengembangannya juga serupa. Elang, tokoh utama, adalah seorang pelukis yang secara tak terduga membantu polisi memecahkan sebuah kasus: pembunuhan Gagak Hitam dan Merpati Putih. Di tengah cerita, warga sipil lain juga ikut terlibat dalam penanganan kasus tersebut. Namun masalahnya, cerita itu diceritakan secara asal-asalan. Tidak ada prosedur yang jelas. Bahkan penggambaran Elang sebagai calon detektif pun tidak sepenuhnya akurat. Sebaliknya, tindakannya sangat gegabah. Dan pihak berwenang mengikuti sarannya tanpa mempertimbangkan hal lain. Sungguh gegabah. Lebih lanjut, sorotan terhadap kasus Gagak Hitam dan Merpati Putih tidak jelas. Mengenai motif dan runtutan kejadiannya, di mana adanya keterlibatan kasus lain, tidak memberikan kejelasan yang pasti, namun malah menambah ketidakjelasan alur cerita ini. Segala sesuatunya terputus-putus dan tidak terhubung dengan baik. Selain itu, sikap para tokohnya pun jauh dari kata baik. Menurut saya, semuanya ditulis dengan asal-asalan. Elang mungkin memang karakter yang berpotensi menjadi detektif. Tetapi apakah semuanya dilakukan secara sewenang-wenang? Saya rasa itu tidak bijaksana. Dari sudut pandang saya, alih-alih menginspirasi, karena ada orang-orang di luar kepolisian yang luar biasa cerdas dan berani, buku ini justru memberi kesan bahwa semua pihak tidak benar-benar serius dan sangat ceroboh dalam menangani kasus. Jadi, kesan saya terhadap buku ini adalah terlalu serampangan dan banyak hal yang terlalu dipaksakan.
This entire review has been hidden because of spoilers.
“Mengamati detail. Kalian pera pelukis, selalu peka dengan detail, bukan?” The first story of a painter who suddenly became a detective. Following Elang, a Casanova painter who finds excitement in mystery. Accompanied by a police detective named Effendy, they will partake in an investigation into a murder case of a writer with the pen name of “Black Crow” and his ‘lover’, the “White Dove”
As a mystery fan, I’d say this book brings fresh air to Indonesia’s detective mystery collection. The case itself is light, as it took 250-ish pages to introduce the character until the revelation. For a starter in a detective mystery series, I’d say this book is just okay. Rather than the mystery point, I think the plot leaned more toward action, as a lot of scenes portrayed a chase between the police with the culprit and a kidnapping scene.
Though, there’s some unrealistic plot within the story, like how come to a common person is easily involved in a murder case investigation, or how the main character who got no experience in the investigation before suddenly got a great disguise skill. Also, my ‘irk’ moment throughout this book is how the main character is portrayed as a casanova who weirdly enough always seduces every woman he meets during the investigation.
“Dari terang menuju gelap, dia melaluinya sendiri. Kita akan melalui kegelapan yang menanti kita masing-masing–satu per satu. Kegelapan, kesunyian, keheningan–misteri. Misteri kehidupan, itu yang terus-menerus kupikirkan saat itu, ketika aku yakin bahwa aku dan kekasihku mesti mengarungi hidup bersama.”
Elang, seorang pelukis penasaran dengan kasus bunuh diri seorang penulis dengan nama pena Gagak Hitam. Rasa penasarannya membawa dirinya ke Singkawang dimana kasus itu terjadi. Dengan pengaruh relasinya dia kemudian berkenalan dengan Agung, polisi yang menyelidiki kasus itu dan di sana mulailah petualangan Elang sebagai detektif amatir.
Gue sebisa mungkin untuk tidak nge-judge kehidupan detektif kita ini yang doyan FWB-an (kalo bahasa jaman sekarang). Cuma ada scene yang gue ngerasa puas banget yang sampai ketawa gitu, waktu Elang lari-lari pake sempak doang. Kalo dari segi misteri lumayan bikin penasaran ya. Dari awal pas baca di-los-in aja nggak yang otak gue mikir siapa pelakunya. Tapi gue cukup enjoy bacanya, karena tergolong ringan walau ada action di bagian akhir. Baca ini bikin nostalgia di mana facebook jadi rajanya sosmed kala itu. Karena gue udah jarang banget denger istilah HTS (Hubungan Tanpa Status), padahal dulu di facebook itu ada yang self-proclaimed kalo dia dalam HTS-an, padahal mah bertepuk sebelah tangan (ya moal bunyi atuh!).
Gue awalnya mau beli buku ini, tapi seringnya habis atau nggak ada gratis ongkir (in this economy, faktor bayar ongkir sangat diperhitungkan). Tapi, ternyata di iPusnas ada dan gas dah langsung pinjem.
This entire review has been hidden because of spoilers.
So far, novelnya seru banget! Plotnya cukup cepat dan penuh teka-teki, apalagi dengan gaya penulisan yang membuat pembaca terus penasaran. Karakter-karakternya pun cukup hidup, terutama Elang—tokoh seniman yang tiba-tiba jadi semacam detektif dadakan.
Tapi jujur, ada beberapa hal yang bikin kurang sreg. Pertama, transisi Elang dari seorang seniman ke “detektif” rasanya terlalu tiba-tiba dan nggak terlalu meyakinkan. Kayak, out of nowhere dia bisa menganalisis kasus pembunuhan dengan tajam, padahal nggak dijelaskan dia punya latar belakang di bidang itu.
Kedua, keputusan polisi yang seolah-olah langsung mengikuti “imajinasi” Elang juga agak dipaksakan. Padahal dalam dunia nyata, penyelidikan pasti butuh bukti kuat dan proses hukum yang jelas. Di sini, kesannya semua teori Elang langsung dianggap sah dan diikuti tanpa banyak pertimbangan.
Secara keseluruhan, ini tetap bacaan yang menarik dengan cerita yang kompleks dan karakter penuh rahasia. Tapi buat yang suka cerita kriminal realistis, mungkin beberapa bagian akan terasa kurang logis.
Awal baca sinopsis aku cukup tertarik, sampai akhirnya kuangkut pulang. Tapi ternyata aku ga bisa bener-bener baca buku ini sampai habis tanpa melompati beberapa bagian. Ga butuh waktu lama untuk ga suka sama karakter Elang yang super misoginis dengan segala sudut pandang dan diksinya tentang wanita. Selain itu, dari awal aku udah merasa ga beres pas tahu kalau Elang dengan mudahnya bisa ikut andil di penyelidikan satu kasus "bunuh diri" dengan latar belakangnya yang ga nyambung-nyambung amat. Sebenernya, menurutku ide ceritanya sudah cukup bagus. Tapi, alurnya terkesan tergesa-gesa, sih, menurutku. Mungkin karena aku terlanjur ga suka sama karakter pemeran utamanya, ya, jadi ga tertarik. Atau mungkin memang buku ini bukan buat aku aja.
Kalau teman-teman pengen baca juga, ya, you can give it a try.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Ini pertama kalinya aku membaca novel karangan Sidik Nugroho. Menurutku, novel ini berhasil membuat penasaran dan menebak-nebak. Banyak kejutan yang muncul dan yang paling unik tentu penamaan tokoh-tokohnya.
aku cukup menikmati membaca novel ini. Banyak hal yang aku dapat antara lain tidak selamanya berpikir positif itu baik, ada waktunya kita juga perlu berpikir negatif. Dan yang terpenting dalam proses mencari kebenaran, hindarilah generalisasi yang dangkal. Contohnya, ‘Anak SD sekarang besar-besar ya badannya’, padahal sejak dulu selalu ada anak yang memang badannya besar dan ada juga yang kecil, hehe.
Ceritanya tentang seorang penulis yang tewas bunuh diri, tapi pas diselidiki, banyak yang penasaran siapa sebenarnya si Gagak Hitam ini dan apa nama aslinya. Terus, ada pelukis namanya Elang, yang suka main cewek dan jajan 💀💀. Dia penasaran dengan kematian Gagak Hitam, jadi dia bantu polisi buat ngungkapin kasusnya.
Novel ini harus dibaca sesuai umur, ya. Dari awal yang menurutku nggak masuk akal itu bagian si Elang. Masa seorang pelukis punya teman polisi dan boleh-bolehnya ikut bantu penyelidikan kasus ini, kayak...?!?!?!?
Bacanya tahun lalu, lupa untuk tulis review. Sorry but not really filled up my taste. Tidak direkomendasikan buat pembaca buku thriller/mystery luar atau terjemahan karena akan auto bosan dan ingin berhenti. Untuk pemula yang ingin baca genre serupa, aku tidak ingin merekomendasikan tapi boleh dicoba. :)
Novel misteri ala-ala detektif yang menyenangkan untuk dibaca. Alurnya jelas dan padu. Karakternya menarik sedangkan misterinya agak ringan tapi tertolong oleh cerita aksi tembak-tembakan yang seru. Membaca buku ini membawa saya merasakan kisah "Lima Sekawan" dengan petualangan yang seru. Sebagai pembuka dari trilogi Sidik, buku ini menyenangkan.
Gak nyangka gw bs secepet ini nyeleseinnya. Ceritanya seru, dan membuat penasaran di setiap halamannya. Teka-teki misterinya terungkap satu per satu. Yang bikin gw lebih suka, ceritanya gak bertele-tele. Jd nyesel kenapa gw baru sekarang baca novel ini.
Cukup bagus untuk sebuah novel misteri kriminal. Menarik bagaimana karakter tokoh selain mengundang konflik juga menuntun pada petunjuk. Pemecahan kasus di akhir pun memberikan kejutan yang mencengangkan meskipun kurang memuaskan buat saya.
Buku pertama dari trilogi misteri-detektif karangan lokal yang bener bener ga bisa ketebak jalan ceritanya!.
Bercerita seorang pengarang yang tewas bunuh diri tanpa jejak serta kasus bunuh diri lain yang diselidiki oleh seorang pelukis (yang awalnya iseng ikut) dan polisi
Overall ceritanya bagus dan cukup masuk akal. Cuman ketika pihak polisi dengan enteng bocorin detail suatu kasus ke warga sipil tuh... menurutku kurang logis. Bukannya harusnya ada aturan atau batasan yg harus dijaga ya terkait data kasus begitu?