Jump to ratings and reviews
Rate this book

Malam-malam Terang

Rate this book
Secara keseluruhan, cerita yang ingin kami usung adalah tentang metamorfosis seorang perempuan muda, yang kemudian beranjak dewasa, hingga kelak ketika ia menjadi orang tua. Aneka rupa peristiwa: senang-sedih, jatuh-bangun, tawa-tangis, kehujanan-kepanasan, lapar-kenyang yang berdasarkan kisah nyata penulis, kami coba ramu sedemikian rupa, untuk menyampaikan banyak hal. Yang pertama adalah pesan, yang menjadi identitas buku ini. Yang kedua adalah pertanyaan dan wacana diskusi, karena bagi kami, buku yang menarik adalah yang memberikan satu ruang kepada pembacanya untuk bebas berinterpretasi, berimajinasi, dan berkesimpulan. Untuk lebih kongkretnya, adalah pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: sebagai perempuan muda, haruskah aku menjadi mimpiku atau barangkali mimpi dari orangtuaku? Sebagai perempuan dewasa nanti, yang barangkali seseorang sudah meminangku, haruskah aku menjadi mimpi dari suamiku atau kelak ketika aku sudah tua, haruskah aku menjadi mimpi dari anak-anakku? Apakah Tuhan Mengizinkanku ‘tuk memilih atau biarkan aku mengizinkan Tuhan Memilihkan satu untukku?

Paragraf di atas adalah abstraksi dari mimpi kami tentang buku(-buku) yang kami tulis. Kalau tak tampak sederhana, mohon maaf, terkadang memang angan-angan sulit dikalimatkan. Kalau Tuhan Mengizinkan, dan juga Memberi kesempatan, insya Allah buku pertama kami ini, Malam-Malam Terang, akan jadi buku pertama dari trilogi yang kami harapkan bisa merajut bagian demi bagian dari barisan impian kami di atas. Doakan ya :)

Tentang Malam-Malam Terang.

Buku ini bercerita fase pertama; di mana Tasniem, tokoh utama di dalam buku ini, mengalamai kegagalan untuk memperoleh nilai ujian akhir yang cukup untuk masuk SMA idamannya di Yogya. Tasniem yang saat itu baru 15 tahun, menantang dirinya untuk merantau ke luar negeri. Berbekal restu sang ibu yang rela menjual sepetak tanah, ia berangkat ke Singapura melanjutkan sekolah dengan tekad memenangi apa yang “direbut” darinya.

Hidup di Singapura dan belajar di sekolah internasional mengantarkan Tasniem melihat dunia global. Di sisi lain, remaja belasan tahun ini juga didera cobaan hidup merantau: rindu keluarga, kesepian, terasing dan uang pas-pasan seringkali merayunya untuk menyerah dan pulang.

Beruntung, Tuhan kirimkan tiga teman serantau; Cecilia asal China, Aarin asli India, dan Angelina dari Indonesia. Empat sekawan ini sekalipun berbeda dalam keyakinan dan banyak hal lain, berhasil melewati suka-duka dan sukses membangun persahabatan. Petulangan mereka menjadi suguhan menarik sarat makna.

Mampukah Tasniem memenangi apa yang menjadi tekadnya? Mampukah ia menjadi bintang yang paling terang?

246 pages, Paperback

First published December 14, 2015

11 people are currently reading
166 people want to read

About the author

Tasniem Fauzia Rais

1 book12 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
56 (43%)
4 stars
41 (31%)
3 stars
27 (20%)
2 stars
5 (3%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 30 of 70 reviews
Profile Image for Anastasia Cynthia.
286 reviews
January 31, 2016
“Jadikan kegagalan sahabat setiamu. Bukan berarti kamu harus selalu gagal, namun ketika kegagalan datang, sambutlah ia sebagai sahabat. Mengapa? Karena kegagalan adalah cermin yang mengingatkan kita untuk berusaha lebih baik. Tanpa cermin itu kita tidak bisa melihat diri sendiri, tidak bisa mengevaluasi diri.” —Malam-Malam Terang, hlm. 66



Sebagai anak keempat dari lima bersaudara, Tansiem sangat ingin mengikuti jejak kakak laki-lakinya, Mumtaz, yang masuk ke SMA 3. Akan tetapi, kala pengumuman hasil EBTANAS dibagikan. Dunianya seakan runtuh. NEM yang bakal ia bangga-banggakan nyatanya tak memenuhi kriteria untuk masuk ke SMA Negeri.

Tasniem dirundung mimpi buruk. Sampai kunjungannya ke rumah sang nenek di Solo, ia pun disadarkan oleh sebuah ide yang tak henti-hentinya mengusik pikiran. Nim, begitu ia sering dipanggil, meminta izin kepada ibunya untuk merantau ke Singapura.

Berbekal restu kedua orangtua, yang rela menjual sepetak tanah, Tansiem pun berangkat menuju sekolah barunya, Globe College. Globe College adalah sekolah asrama yang akhirnya mempertemukan Nim dengan ketiga sahabat dari berbagai belahan dunia. Cecilia dari China, Aarin berasal dari India, dan Angelina yang juga berasal dari Indonesia.

Sebagai seorang Muslim yang taat, bermukim di luar negeri dengan banyak perbedaan kultur, awalnya Tansiem merasa sedikit segan. Namun, lantaran toleransi dan sikap saling menghormati ketiganya, Tansiem, Aarin, Cecilia, dan Angelina berhasil membangun sebuah lingkaran persahabatan.

Bukan sekadar teman sekamar, bersama ketiga sahabatnya Tansiem melewati setiap ujian yang membuatnya bergadang bermalam-malam, mengelilingi negeri Malaysia untuk mencari sebuah alamat, dan memenangkan seuatu yang pernah direbut darinya.




Sebagai novel pertama yang dirilis Tasniem Fauzia Rais bersama dengan suaminya, Ridho Rahmadi, “Malam-Malam Terang” bisa dibilang novel yang inspiratif. Dirangkai dengan kalimat-kalimat yang sederhana, tapi terasa memotivasi sekaligus mendidik kaum muda di Indonesia untuk berani menantang diri sendiri. Keluar dari zona nyaman. Dan menggapai sesuatu dengan lebih baik.

“Malam-Malam Terang” pada dasarnya banyak membicarakan tentang kalimat-kalimat motivasi, tips dan trik untuk bertahan hidup sebagai seorang perantau muda, dan juga tentang toleransi antarsahabat yang berbeda kultur dan agama. Menilik latarnya yang berlatarbelakang dunia pendidikan dan tema persahabatan yang diangkat, saya ingin bilang kalau “Malam-Malam Terang” punya feel mirip “Negeri Van Oranje”, tapi punya target pembaca yang lebih simpel, yaitu para remaja sesuai dengan usia tokoh utamanya.


Baca selengkapnya di: https://janebookienary.wordpress.com/...
Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
August 22, 2016
"Jadikan kegagalan sahabat setiamu. Bukan berarti kamu harus selalu gagal, namun ketika kegagalan datang, sambutlah ia sebagai sahabat. Mengapa? Karena kegagalan adalah cermin yang mengingatkan kita untuk berusaha lebih baik. Tanpa cermin itu kita kita tidak bisa melihat diri sendiri, tidak bisa mengevaluasi diri."

Tasniem, adalah putri ke-4 dari 5 bersaudara. Selama ini Tasniem selalu mendapatkan nilai yang memuaskan di sekolahnya bahkan selalu menjadi juara kelas. Hingga dia yakin sekali bahwa hasil ujian Ebtanasnya pun akan memuaskan dan dia bisa masuk ke SMA favorit yang dia inginkan. Sayangnya, saat pengumuman NEM, Tasniem harus menerima kenyataan pahit, NEM yang didapatkannya memang tidak buruk, tapi tidak sesuai standar yang telah ditetapkan oleh SMA 3, SMA yang ditujunya.

Tasniem pun terpuruk, bingung menghadapi teman-temannya bahkan keluarganya. Tasniem pun harus segera memikirkan rencana selanjutnya, kemana dia akan melanjutkan pendidikannya setelah dia gagal masuk ke sekolah impiannya. Perjalanan ke Solo mengunjungi neneknya, malah membuat Tasniem sadar dan akhirnya memutuskan untuk merantau ke Singapura.

Awalnya keinginan Tasniem ini kurang disetujui oleh ibunya, karena alasan jarak dan juga biaya pendidikan yang cukup tinggi saat itu. Namun, setelah ayah dan ibunya berdiskusi akhirnya mereka sepakat merestui Tasniem untuk sekolah di Singapura. Tasniem pun merelakan sepetak tanah yang akan diwariskan kepadanya untuk memuluskan jalannya ke Singapura.

Akhirnya, Tasniem pun diterima masuk ke Globe College dan bertemu dengan Aarin, Angelina dan Cecilia. Mereka pun tidak sekedar menjadi teman sekamar tetapi juga sahabat yang saling mendukung suka dan duka.

Dimulailah hari-hari penuh perjuangan Tasniem bersekolah di Globe School. Sanggupkah Tasniem meraih impiannya? Bagaimana kisah Tasniem dengan ketiga sahabatnya?

Membaca novel ini aku seperti kembali ke masa lalu, mengenang saat aku memutuskan untuk merantau saat lulus SMA. Namun, aku tidak seperti Tasniem yang merantau karena gagal masuk di sekolah impiannya, tapi memang sejak awal aku ingin sekali mengenyam pendidikan di Pulau Jawa ketika kuliah. Masa-masa awal penyesuaian diri dengan sekolah baru, teman dan segala aturan yang tentunya berbeda, membuatku harus extra kerja keras.

Jujur, aku salut sekali dengan sosok Tasniem. Tasniem yang awalnya gagal, bisa menunjukkan kepada semua orang bahwa kesuksesan itu tidak instan, butuh kerja keras, doa dan kemauan yang kuat. Restu dari orang tua menjadi landasan awal bagi Tasniem untuk berusaha menunjukkan bahwa dia bisa dan mampu. Kegagalannya dulu menjadi langkah awal baginya merengkuh "kesuksesannya" sendiri.

"Kegagalan adalah sebuah kepastian sebelum kesuksesan. Bahwa kegagalan seharusnya disambut sebagai sahabat dan bukan sesuatu yang menakutkan, apalagi akhir dari sebuah petualangan."

Tidak hanya tentang kisah Tasniem dan perjuangannya selama sekolah di Globe School saja, ada juga kisah persahabatan yang mengharukan dan indahnya toleransi di antara Tasniem dan ketiga sahabatnya. Walau mereka berbeda keyakinan dan berbeda budaya, tetapi mereka saling mendukung dan tidak pernah saling mengusik jika ada di antara mereka yang sedang beribadah.

Aku pun dibuat terharu sekali, saat Angelina yang ingin mencari ayahnya yang sedang sakit parah ke Malaysia berbekal sebuah alamat. Bagaimana akhirnya Tasniem berubah pikiran di saat-saat terakhir, mengorbankan kerinduannya kepada keluarga yang sudah lama tidak ditemuinya demi mendampingi Angelina, begitu pun dengan Aarin dan Cecilia yang akhirnya kembali ke Singapura. Petualangan mereka berempat ke Malaysia, jujur membuatku deg-degan sekali, ah aku sampai terharu sekali saat akhirnya Angelina akhirnya berhasil bertemu dengan ayahnya walau dalam keadaan ....

Novel ini memang seperti membaca diary perjalanan Tasniem selama bersekolah di Singapura, bagaimana Tasniem yang punya trik khusus sebelum ujian. Bukan belajar sistem kebut semalam, tetapi Tasniem mendisiplinkan diri jauh hari sebelum hari ujiannya tiba. Malam demi malam yang dilaluinya dengan belajar, saat orang lain tidur Tasniem malah belajar. Ah, salut sekali. Cocok banget buat diterapkan sama remaja yang masih sekolah. Tidak hanya belajar, kekuatan doa dan puasa juga menjadi senjata ampuh Tasniem dalam melewati hari-harinya sebelum ujian.

Aku tidak kaget lagi saat mengetahui hasil belajar Tasniem selama di Singapura. Aku bisa merasakan perasaan Tasniem saat itu, karena aku pun pernah di posisi yang sama, rasanya itu menjadi salah satu momen terbaikku dalam hidup :)

Di penghujung akhir cerita, akan ada beberapa part tentang kisah Tasniem dan pertemuannya dengan Ridho, kakak kelasnya. Namun, sepertinya aku harus menunggu lebih sabar lagi untuk mengetahui kisah kelanjutan hubungan mereka, karena jujur endingnya ini bikin penasaran sekali, masih banyak pertanyaan yang belum terjawab.

Overall, kamu membutuhkan bacaan yang ringan dan berisi, yang bisa meningkatkan motivasi dan semangatmu untuk meraih impianmu, aku rekomendasikan novel ini untukmu.

"Hidup bentuknya seperti jalanan lurus, naik dan turun, berbelok ke kanan kemudian sedikit ke kiri, atau barangkali harus sebentar berhenti untuk rehat sekejap. Hidup tidak selalu penuh kembang berwarna, juga tidak selalu tertawa bahagia. Hidup adalah kumpulan episode, rangkaian cerita tentang perjalanan kita yang penuh suka dan cita. Kadang tangis dan sedih melanda untuk membuatmu lebih kuat dari yang sebelumnya. Lihat, hari yang telah lalu, lambaikan dan katakan salam perpisahan."
Profile Image for Fikriah Azhari.
362 reviews147 followers
June 23, 2016
"Jadilah bintang yang paling terang kelak, jangan menyerah." - halaman 9.


Semua hal yang terjadi setiap harinya, setiap jam, bahkan setiap detik adalah rencana Tuhan. Jika ada suatu hal yang tak bisa kau gapai, percayalah pada rencana lain yang lebih baik yang telah disiapkan oleh-Nya.



Tasniem Fauzia saat wali kelasnya membagikan NEM hasil EBTANAS miliknya. Bagaimana tidak? Hasil yang ia dapatkan tak cukup untuk membawanya melanjutkan pendidikan ke SMA 3. Pupus sudah harapannya selama ini, dirinya benci dengan kenyataan yang ada. Di mana keadilan? Perjuangannya di SMP kemudian ditentukan oleh beberapa hari yang menghasilkan angka desimal dimana tentunya tak sebanding dengan kerja kerasnya tiga tahun ini. Dan Tasniem merasa semuanya sia-sia. Mimpinya selama ini lenyap seketika.



“It’s a gift, falling from the sky even though you have never asked for it.” – halaman 48.


Namun ternyata Tuhan punya rencana lain, dan Tasniem mengambilnya dengan cukup berani. Bermodal sepetak tanah juga restu kedua orangtua, Tasniem akhirnya terbang ke Singapura demi melanjutkan pendidikan di sana. Dan Globe College of Singapore akan menjadi saksi perjuangan Tasniem selama tiga tahun ke depan, yang pastinya tidak akan dijalani begitu saja dengan mudah.



Tapi Tasniem akan berusaha menjalani semua itu. Ia akan belajar lebih mandiri, bertemu teman yang berbeda namun tetap saling toleransi, dan belajar semaksimal mungkin demi membanggakan orangtua dan dirinya sendiri.



“Hidup adalah kumpulan episode, rangkaian cerita tentang perjalanan kita yang penuh suka dan cita.” - halaman 99.



***

“Sejak itu, aku berdoa siang dan malam pada Tuhan, memohon sebuah kesempatan. Kesempatan ketika aku bisa membuat mereka tersenyum. Tersenyum bangga padaku.” – Tasniem Fauzia.


Saya tertarik pada buku ini saat menemukan fakta bahwa yang akan diceritakan adalah perjalanan Tasniem setelah menerima NEM yang tidak memuaskan. Ini seperti "Wah, kebetulan sekali! Saya juga baru menerima NEM SMP." Dan saya juga seperti Tasniem, cukup kecewa dengan hal itu. Sebenarnya saya puas dengan tiga mata pelajaran lain, bahkan nggak percaya bisa dapat nilai segitu cakepnya! Tapi sayangnya saya jatuh di Matematika. Euh kok malah curhat. Tapi saya setuju dengan Tasniem, rasanya memang seperti langit akan runtuh saat itu juga. Saat mulai membaca, saya butuh motivasi, dan saya berharap buku ini bisa memberikan saya hal itu.



Perasaan Tasniem yang ditunjukkan di cerita ini bisa saya serap dan rasakan, sebagai siswi yang merasa gagal, sebagai anak yang merasa telah mengecewakan kedua orangtua, dan sebagai dirinya sendiri yang merasa bahwa ini semua tak adil.



Menceritakan perjuangan Tasniem di Singapura, berarti menceritakan hari-hari Tasniem di sana. Di sana ia bertemu dengan tiga teman seperjuangan. Pertama ada Angelina yang juga asal Indonesia dan keturunan Tionghoa. Kedua ada Aarin yang asal India namun dari kecil sudah tinggal di Inggris. Ketiga ada Cecilia yang berasal dari Shanghai. Berawal dari teman sekamar, akhirnya mengantarkan mereka ke hubungan persahabatan. Saya suka hubungan persahabatan mereka, betul-betul saling melengkapi dan saling membantu, namun tetap memberikan ruang masing-masing untuk beberapa hal.



Ah, saya pun tertarik dengan bagian Tasniem dan Edo, namun di buku ini belum terlalu banyak menampilkan kisah mereka. Sepertinya di buku selanjutnya ya? Yay or Nay? Saya sih maunya Yay ya~~ Eh, dengar-dengar buku ini akan hadir dalam bentuk film ya? Wah semoga prosesnya lancar.



Btw, sempat pula diadakan Instagram Book Tour Malam-Malam Terang di akun Fikriah_Azharii. Mungkin bisa sekalian mampir ke sana.

Jujur, saya betul-betul menikmati saat membaca Malam-Malam Terang ini. Apa ya? Gaya bahasanya membuat saya nyaman, alurnya mengalir, dan tetap ada pelajaran yang bisa saya ambil. Kembali ke tujuan awal, saya berhasil mendapatkan motivasi. Bahwa sebuah kegagalan bukanlah sebab untuk menyerah pada impian.

Profile Image for Alvina.
732 reviews119 followers
June 13, 2016
Buku yang bagus buat dibaca remaja yang akhir akhir ini makin banyak aja yang galau. Bahwa persoalan hidup ga melulu tentang cinta. Noh pikirin emak bapak di rumah.

Review lengkap menyusul

---------------------


Jadilah bintang yang paling terang kelak, jangan menyerah



Penerimaan nilai Ujian Nasional merupakan momok yang menakutkan bagi Tasniem. Jika nilainya tak cukup untuk masuk ke sekolah negeri favorit di kotanya, entah mau ditaruh di mana mukanya. Segala kerisauan yang dia alami kemudian menjelma menjadi mimpi mimpi buruk yang meneror malam malamnya. Tak hanya itu, rasa ketakutan itu kemudian menjadi nyata. Nilai Ujiannya tak cukup untuk mendaftar ke SMA impiannya.

Diserang panik dan patah hati yang sangat, Tasniem kemudian memilih untuk meninggalkan rumahnya di Jogja sejenak menuju rumah Si Mbahnya di Solo. Dalam perjalanan, ia berkali kali tanpa sengaja menemukan hal hal kecil tentang Singapura. Salah satunya majalah berisi panduan pendidikan di Singapura. Tapi sinyal sinyal yang mungkin berupa petunjuk dari Allah itu sepertinya masih belum jelas diterima Tasniem. Barulah ketika ia mendapat wejangan dari si Mbahnya, Tasniem mendapatkan ide mengenai permasalahan nilai UNnya yang tak memuaskan tersebut. Ia akan bersekolah di Singapura.

Sayang, ibunya tak bisa mengabulkan keinginannya karena beliau tak memiliki biaya yang cukup bagi sekolah di luar negeri. Tapi kemudian berbekal hasil menjual tanah bagiannya dan restu dari kedua orang tuanya, Tasniem berangkat sendiri ke Singapura untuk melanjutkan pendidikannya.

Bersekolah di Globe College of Singapore merupakan sebuah tantangan yang tak main main. Murid muridnya berasal dari seluruh dunia dan kemampuan akademik yang mumpuni. Merasa dirinya memiliki kekurangan dalam hal memahami pelajaran dan kemampuan berkomunikasi bahasa Inggris membuat Tasniem semakin menggenjot usahanya untuk sukses di sekolah tersebut. Di awal awal tahun pelajaran, ia selalu membawa kamus bahasa dan mencatat kata kata baru dan sulit yang ia temukan. Begitupun menjelang ujian, ia rela bangun jam 3 pagi untuk lebih berkonsentrasi dalam belajar. Selain itu ia tak berhenti memohon kepada Allah melalui sujud sujud panjangnya di tiap malam, puasa sunnah serta yang paling penting adalah tidak pernah meninggalkan sholat wajibnya.

Tak hanya tentang Tasniem dan sekolah barunya, buku ini juga bercerita tentang dia dan sahabat sahabatnya. Bahasa yang digunakan asyik untuk diikuti, terutama bagi remaja yang masih dalam tahap menemukan motivasi diri. Buku ini mengajarkan banyak hal bagi pembacanya, tentang perjuangan, pengorbanan untuk mendapatkan keberhasilan. Tentang merelakan, toleransi, kepedulian juga rasa setia kawan. Bahwa dukungan dari keluarga juga sangat berperan dalam keberhasilan kita. Bahwa doa-doa panjang tak cukup untuk menebus sebuah kebahagiaan, melainkan perlu adanya kerja keras yang mengiringinya.

Sosok Tasniem yang keras kepala namun lembut sangatlah mencerminkan karakter anak muda yang sering dilanda kebimbangan atas banyak hal dalam hidup mereka. Oh satu lagi, lewat buku ini saya jadi mengetahui bahwa sekalipun Tasniem berasal dari keluarga terpandang, bukan berarti hidupnya mulus-mulus saja. Tasniem sama seperti remaja lainnya, gelisah karena sekolah, bahagia bersama teman dan juga merasa jatuh cinta.
Buku yang apik meski saya belum puas sebenarnya dengan cerita-cerita di dalamnya. Tapi toh ini merupakan bacaan ringan yang menyenangkan dan menimbulkan semangat positif saat selesai membacanya.

Profile Image for Berlian Wajis.
1 review1 follower
December 15, 2015
Ini Novel yang sangat memotivasi untuk kaum wanita.
ini merupakan cerita yang sangat bagus dan menyentuh hati.
novel ini juga tidak kalah pentingnya bagi kaum pria.
merupakan sebuah cerita tentang perjalannan hidup yang penuh liku dan tidak melewatkan sisi islam yang begitu indah.
perjalanan kehidupan di negeri orang.
disertai bubuk-bubuk indah yang namanya cinta.
gak nyesal baca ini novel.
rilis tanggal 17 desember 2015 lo.
cepetan beli.
terus berkarya untuk.
Mbag Tasniem Fauzia Rais
dan
Mas Ridho Rahmadi
Sukses novel "Malam-malam Terangnya :)
Profile Image for Jujuk Indah Nila Wati.
1 review2 followers
April 22, 2016
‘‘TERUS TERANGI MALAM-MALAMMU’’


Malam-malam Terang by Tasniem Fauzia Rais
Judul : Malam-malam Terang
Penulis : Tasniem Fauzia Rais & Ridho Rahmadi
Editor : Donna Widjajanto
Penerbit :Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Pertama, Desember 2015
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978-602-032-454-8


“Wanita harus kuat karena harus bersiap diri menjadi madrasatul ula, sekolah pertama bagi anak-anak yang akan lahir dari rahimnya dan jadi generasi penerus di masa mendatang’’

Sinopsis

Sekiranya begitulah hipotesis yang dilontarkan penulis saat masih gadis yang baru akan beranjak dewasa. Penulis Novel berjudul “Malam-malam Terang” ini merupakan karya dari anak keempat mantan Ketua PP Muhammadiyah Prof. Dr. H. Amien Rais, yaitu Tasniem Fauzia Rais dan Ridho Rahmadi, suami Tasniem.

Tasniem familiar dipanggil Ninim yang membuktikan hipotesis tadi tidak hanya sekedar kata bijaksana sebagai penenang diri sebelum tidur. Akan tetapi, Ninim mampu menjadi wanita kuat memenangi apa yang menjadi tekadnya dan mampu menjadi bintang yang paling terang.

Tekad awal bermula dari gejolak hati Ninim yang berharap lulus dari SMP memperoleh nilai bagus dan bisa melanjutkan di SMA 3 atau SMA 1 Jogja. Akan tetapi, Tuhan berkehendak lain nilai EBTANAS Ninim hanya 44,73. Tidak bisa dipungkiri bahwa masuk SMA favorit menjadi dambaan semua siswa SMP yang mengikuti ujian nasional, tanpa terkecuali Tasniem, seorang siswi SMP di Jogja. Kerja keras dan semangat yang membara Ninim untuk mengapai harapan dan angan-angan seakan-akan sia-sia belaka yang membuat malu dan kecewa.

Dari pergulatan batin yang kuat Ninim, "Aku tidak terima. Perjuanganku selama tiga tahun di sekolah, berbulan-bulan khusus untuk persiapan ujian, hanya ditentukan oleh angka desimal yang didapat dari beberapa jam saja mengerjakan soal ujian. Di mana keadilan?" Bukankah belajar adalah proses panjang bukan sesuatu yang dinilai dari satu atau dua jam ujian saja? (hlm. 10).

Akhirnya kekecewaan itu membimbing Ninim ke jalan terang menuju pencerahan spiritual, dengan berdoa setelah shalat malam: "Ya Allah, ya Tuhanku...Aku lelah, kuserahkan semuanya pada Mu. Tunai sudah usahaku, tiga tahun. Engkau lebih tahu, ini bukan hasil yang aku inginkan, tapi aku yakin ini yang terbaik dari Mu. Tunjukan hamba jalan yang terbaik, ya Allah, mudahkanlah hamba menujunya, mudahkanlah... ".

Ibu Tasniem berusaha membalut keecewaan anaknya dengan berusaha membujuk Tasniem masuk SMA Swasta di mana sekolah tersebut di bawah naungan Muhammadiyah untuk mengikuti jejak kakaknya, Hanafi dan Hanum. Masuk SMA swasta bukan berarti karena NEM Tasniem rendah, akan tetapi dukungan pada bapaknya yang sudah membesarkan organisasi Islam Muhammadiyah.

Tasniem tidak menjawab saran dari ibunya dengan memutuskan untuk mendekam di kamarnya, kalau bahasa anak muda sekarang sedang galau, galau yang melanda muaranya hanyalah satu tentang NEMnya. Hingga akhirnya ia putuskan untuk pergi dan bermalam di rumah Neneknya yang berada di Solo. Dengan harapan bertemu dengan neneknya, ia akan mendapat nasihat dan semangat.

Perjalanan menuju rumah Nenek ada kejadian demi kejadian yang seakan-akan ini tanda-tanda pada Tasniem untuk menjadi bintang yang paling terang dan jangan menyerah, sesuai dengan bisikan bu Evi gurunya, saat Tasniem menerima amplop yang berisi nilai EBTANAS. Ide cemerlang nenek untuk merantau meguncang hati Tasniem untuk segera kembali pulang Jogja.

Tapi ada daya, sesampai di rumah Ninim tidak direstui ibunya karena alasan biaya. Tetapi alasan yang sesungguhnya adalah kekhawatiran seorang ibu yang akan melepaskan anaknya sendirian dengan waktu cepat. Namun pada akhirnya, bermodalkan biaya dari menjual sepetak tanah, Bapak dan Ibu mendukung niat Ninim untuk melanjutkan sekolah ke Singapura, Globe College of Singapore alias GC tepatnya. Sebuah lembaga pendidikan yang awalnya dimotori oleh seorang Jerman diasingkan oleh Nazi karena perlawanannya.

Keberangkatan Ninim teringat pesan Bapaknya yang membuncahkan taji dalam hatinya "Setinggi apa pun engkau terbang, dan kebelahan bumi mana pun kelak engkau berpetualang, suatu saat kembalilah, negeri ini membutuhkanmu". Itu artinya Bapak Tasniem memiliki jiwa Nasionalisme yang sangat tinggi. Di sisi lain muncul perasaan senang, karena dia tidak lagi menggung malu bertemu teman-teman SMPnya. Tapi tetap tujuan Tasniem merantau bukan karena menanggung malu, tetapi ia merantau untuk menuntut ilmu.

Hidup merantau dan belajar di Singapura mengantarkan Tasniem melihat dunia global. Di sana banyak perbedaan yang merupakan kebesaran Tuhan. Meskipun beruntung dan bersyukur fasilitas yang lengkap, megah nan indah serta kebutuhan terpenuhi oleh Tasniem. Pastilah ada ujian hidup seperti rindu, sakit, ketidakpercayaan diri, dan sepi. Akan tetapi, skenario Tuhan dia dipertemukan oleh tiga sahabat yang berbeda asal dan agama. Cecilia Ng dari Tiongkok, Aarin Mohanty asal India, dan Angelina Soemantri dari Indonesia, mereka menjadi orang-orang terdekat Tasniem dalam suka, duka, canda, tawa, tangis, gelisah, marah, rindu, dan segala macam rasa dibaginya tanpa sisa.

Dengan adanya ujian tadi, membuat Tasniem lebih dekat dengan Tuhan dan mempunyai kebiasaan baru shalat Tahajud. Memiliki bapak yang paham agama membuat Tasniem rindu padanya. Rindu di saat Bapaknya menjadi imam dengan bacaan surah yang panjang. Dengan ayat-ayat yang dipilihpun ayat monumental, seperti surah Luqman ayat 13-19. Surah yang menjadi simbol besar kasih sayang seorang ayah kepada anaknya yang diabadikan kisahnya di dalam Al-Qur’an dan menjadi tolok ukur dalam mendidik anak.

Kerinduan itu membuat Tasniem berangan-angan kelak jika punya calon suami dan calon ayah dari anak-anaknya kelak seperti dalam surah Luqman. Tujuh ayat surah Luqman berisi pesan-pesan kehidupan dari seorang ayah yang menjadi teladan untuk anaknya yaitu supaya memegang teguh aqidah, menghormati ibu bapaknya, berhati-hati terhadap apapun yang dikerjakan karena kelak akan diperhitungkan, mengajak orang lain untuk berbuat baik, jangan sombong dan membanggakan diri, dan menjadi pribadi yang sederhana dan tidak berlebihan dalam segala hal.

Meski kerinduan pada bapaknya itu mencuat di hati, Tasniem tetap bersyukur dan bahagia. Bahagia mampu membangun persahabatan dengan Aarin, Cecilia, dan Angelina. Sebagai seorang Muslimah yang taat, merantau di luar negeri dengan banyak perbedaan kultur, awalnya Tansiem merasa segan. Namun, adaya toleransi perbedaan keyakinan dan sikap saling menghormati ketiganya, membuat indahnya kebersamaan. Dulu awal masuk sekolah tantangan yang harus ditaklukan Ninim adalah kemampuan bahasa inggrisnya, sekarang ia merasa gagal, menyerah, dan memalukan yang dikarenakan nilai kelas komputer tidak seperti yang diharapkan. Hal itu membuat Ninim ingin pulang ke Indonesia.

Nah di novel Terang-terang Malam ini yang membuat pembaca terharu dan kagum adalah motivasi dari Pak Amin Rais, bapak yang tengah menjalankan amanah sebagai ketua MPR RI menyempatkan untuk menyemangati Tasniem. Sesosok orang tua yang menaruh perhatian dan kasih sayang terhadap anaknya dengan dibacakan ayat Al Qur’an surah Al Baqarah ayat 8-10. Ayat yang memiliki makna dengan dianalogikan fenomena yang sedang terjadi di Indonesia, yang esensinya sekalipun Tuhan berjanji akan membuka makar mereka, kita juga harus tetap berusaha menjadi benteng moral, yang pertama, selanjutnya dan yang terakhir untuk bangsa ini. Maka, bapaknya memamparkan bahwa sebagai generasi muda seperti Tasniem kelak akan diperlukan Bangsa ini. Dengan merantau jauh demi ilmu, maka Tuhan punya alasan kuat mengapa Dia akan memilihmu suatu saat kelak. Sebab Tasniem adalah pekerja keras.

Jadikan kegagalan sahabat terbaikmu, karena hanya dialah yang setia dalam mengingatkan untuk selalu brusaha yang lebih baik. Tanpanya, kamu tidak akan pernah maju (65)

Bukan berarti harus selalu gagal, namun ketika kegagalan datang, sambutlah ia sebagai sahabat. Karena kegagaglan adalah cermin yang mengingatkan kita untuk berusaha lebih baik. Tanpa cermin itu kita tidak bisa melihat diri sendiri, tidak bisa mengevaluasi diri.

Sungguh beruntung, Ninim selain dikelilingi tiga sahabat yang senantiasa mendukungnya. Bapaknya lah yang memberi perhatian penuh seakan menyelesaikan tantangan yang di hadapi Tasniem. Tuhan juga melapangkan hati Tasniem lewat Surah Alam Nasyrah, ayat 5 dan 6. Setelah ada kesulitan pasti ada kemudahan.

“Malam-Malam Terang” pada dasarnya banyak tertulis baris-baris pesan-pesan, motivasi, tips, kata mutiara, dan startegi serta pesan yang mendalam. Tak hanya kata motivasi yang timbul dari dirinya tetapi kata motivasi yang muncul dari bapaknya.

Dari latar belakang bapak Tasniem yang paham agama, maka banyak petuah pada novel Malam-malam Terang yang dikaitkan dengan perintah Tuhan. Ayat yang sebagai petunjuk bagi umat. Seperti contohnya: jangan pernah tinggalkan shalat lima waktu dan ditambah tahajud. ‘’Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.

Ending petuah tersirat percakapan Tasniem dengan Bapaknya melalui telpon, bapaknya mampu mengorbankan waktu untuk keluarga, pesan-pesannya berhasil meyakinkan kegagalan adalah sebauh kepastian sebelum kesuksesan. Dan pada akhirnya Tasniem mampu melewati tantangan itu dengan semangat sahabat sekamarnya juga.


Persahabatan Tasniem dengan tiga sahabatnya makin mengental dari hari ke hari. Hingga suatu momen yang mengejutkan Tasniem, ketiga temannya telah menyiapkan kejutan karena hari lahir Tasniem, meski mereka salah tanggal bukan hari lahir Tasniem. Tetapi dengan kejadian itu mebuat dampak postif pada Tasniem untuk mengakui kesalahan, karena telah melanggar aturan asrama yaitu aturan light out.

Satu kenangan manis yang tak terlupakan dalam hidup Tasniem di GC. Sebuah momen terbaik yang berhasil dimenangkannya bukan karena memiliki badan yang tinggi, bukan pandai bermain basket tetapi ia mampu menolak untuk menyerah. Baginya memenangkan proses itu sendiri lebih dahsyat daripada memenangkan skor pertandingan.

Perjalanan hidup Tasniem di Negeri Singa telah mengubah sebagian hidup Tasniem yang dulu takut gagal, berubah jadi tak takut lagi, mampu mandiri tanpa keluarga, mampu menahan rindu, mealwan diri, dan berjuang. Hingga mampu mengantarkan Tasniem pada hipotesis seperti yang sudah dipaparkan di paragraf awal.

Persahabatan Tasniem dan tiga sahabatnya semakin erat manakala mereka mau mengorbankan hal-hal penting dalam hidup mereka, di saat mau mencari ayah Angelina ke Malaysia. Yang selama hidupnya Angelina belum pernah ketemu lagi dengan ayahnya setelah usia Angelina tujuh tahun. Tasniem sangat merindu kepada keluarga, yang awalnya kerja paruh waktu di dua tempat dan rencana upah kerjanya untuk membeli tiket pulang. Tapi semua itu ditinggalkan egonya demi ikatan persahabatan.

Sepulang dari Malaysia menuju Singapura. Tasniem ingat pertanyaan gurunya yang disampaikan dulu di kelas. Orang yang paling cerdas itu siapa? Ternyata kutipan itu dijleaskan gurunya saat ketemu di Malaysia. Lagi-lagi skenario Tuhan. Orang cerdas adalah orang yang mengingat kematian dan mempersiapkannya. Tasniem pun terharu dengan gurunya yang berubah keyakinan. Dan berpesan carilah suami yang pandai membaca Al Qur’an, kalau ia pandai membaca ayat-ayat Tuhan, membacamu sebagai istri sangat mudah.

Petualangan keempat sahabat di negeri berpatung Singa penuh sarat dan makna. Tiga tahun sudah ia habiskan untuk menimba ilmu di Singapura. Ternyata atas perjuangan Tasniem selama ini, ia memperoleh penghargaan The Big Ten. Penerima The Big Ten dengan peringkat pertama, diminta panitia untuk pidato spontan dihadapan semua peserta wisuda. Hal itu adalah kejutan yang disiapkan Tuhan. Menjadi Momen terbaik dan kado perjuangan dalam hidup untuk Tasniem. Yang membuat kedua orang tuanya bangga dan terharu pada putrinya.

Pada saat di Jogja, Tasniem berniat melanjutkan ke perguruan tinggi di Jepang, seperti cita-cita yang diinginkan pada malam bersama tiga sahabatnya di GC. Kabar baik bagi Tasniem dan keluarga ia lolos beasiswa dari salah satu universitas internasional terkenal di Jepang. Dengan waktu yang bersamaan, atas skenario Allah Ia dipertemukan dengan Ridho Rahmadi. Seorang kakak kelas saat SMP di Jogja. Tasniem di Singapura juga sempat komunikasi melalui jejaring sosial. Tetapi saat di Singapura meski kuncup itu mekar ia luapkan dengan tulisan. Makna dari tulisannya yaitu tidak mau berharap lebih pada manusia, sebab Tasniem itu beragama dan agama yang menjadi benteng. Jodoh sudah digariskan Tuhan dan akan dipertemukan menurut kehendak Tuhan. Meski jatuh cinta pasti pernah dirasa oleh anak manusia biasa.

Pra keberangkatan Tasniem, Ridho berpesan lewat email. Ia mengutarakan keinginannya pada Tasniem, supaya kelak menjadi bagian dari hidupnya sepulang Tasniem dari mengejar mimpi-mimpinya di Jepang. Akhirnya petualangan jilid II dimulai Tasniem untuk mengapai mimpi-mimpinya. Mimpi yang selalu diperjuangkan lewat belajar yang diawali dengan shalat tahajud dipertiga malam, seperti rahasia belajar yang pernah disampaikan pada sahabatnya waktu di Singapura. ‘Aku belajar ketika kalian belajar, dan aku pun belajar ketika kalian tidur’’.

Kelebihan

Malam-malam Terang berhasil ditulis dengan mengajak pembaca untuk menyelami masa remaja hingga dewasanya yang inspiratif. Dengan gaya bahasa nan indah membuat imajinasi pembaca ke masuk dunianya. Bahasa yang mudah dipahami dan tidak berbelit-belit menjadikan novel ini layak dibaca oleh semua kalangan terutama remaja dan orang tua.

Novel yang mampu membangkitkan semangat bagi orang yang pernah mengalami kegagalan. Tips dan strategi jitu yang dilakukan Tasniem mampu menggugah dan memotivasi para pembaca untuk selalu terus menerangi malam-malam dengan hal positif. Dari kisah Bapak dan Ibu Tasniem yang patut dicontoh oleh para orang tua, bahwa keberhasilan anak butuh dorongan dan perhatian orang tua. Orang tua tak sekedar memfasilitasi tapi juga mengontrolnya. Secara keseluruhan Novel ini sangat menginspirasi dan memotivasi dengan mengambil hikmah di setiap kejadian.

Kekurangan

Dengan alur maju mundur yang terkadang membuat pembaca menerka-nerka jawaban yang belum pasti. Namun demikian, mampu membuat pembaca semakin penasaran. Penggunaan bahasa Jawa dan asing yang tidak diterjemahkan dengan tak adanya catatan kaki, dapat membingungkan pembaca, mengingat semua orang tidak memahami maknanya. Mungkin akan lebih mengasyikkan pembaca dengan diberi gambar atau animasi-animasi yang mendukung cerita.

Penulis: Juwanti (Jujuk) MPI PWM DIY, PWNA DIY, IMM UAD, guru SMP Muhammadiyah 2 Yogya.
Profile Image for Sartika Puspita.
2 reviews
December 27, 2015
Membaca novel ini, aku menemukan bacaan yang cocok untuk anak remaja yang sedang mencari identitas dan menggapai cita-cita.
Beruntung kami menemukan buku yang sangat inspiratif dan syarat motivasi.

Tasniem, merangkai kisah dalam mencapai cita-citanya. Gadis 15 tahun bisa sukses bangkit mewujudkan impiannya, kisah itu dimulai saat Nilai akhir kelulusan SMP nya dirasa kurang memuaskan.

Buku ini dengan indah menceritakan kehidupan tasniem dengan teman-temannya, guru dan membawa kita pada settingan 'menjadi teman tasniem' yang juga sekolah di GC. Kita sedang berada di kampus WEST, asrama, gedung olahraga
dan semua fasilitasnya. Buku ini berhasil membawa saya ke masanya.

Saat mengalami 'malam-malam' nya kedekatan tasniem dg keluarga dan orangtua begitu hangat, Simbah Putri memberi inspirasi, ibunda yg lembut namun tegas memberi semangat dan kesepakatan dengan anak gadisnya, sosok ayah yang 'ngayomi' menenangkan, dapat menjadi suri tauladan yang membacanya.

Kisah petualangan tasniem dengan teman-temannya pun tak kalah menarik untuk dibaca.

Yang paling mengharukan dalam buku ini ada pada chapter 20, tak terasa air mata mengalir otomatis saat tasniem berhasil membuat surprise orangtua nya. Tidak hanya sebagai penerima penghargaan 'The Big Ten' namum LEBIH dari itu, dia berhasil menjadi peringkat pertama 'TERBAIK'

Dan akhirnya tasniem berhasil sukses dan menjadi bintang yang paling terang. Kalimat motivasi dari ayahnya ini rupanya berhasil sebagai penyemangat:
'Jadikan kegagalan sahabat setiamu' ketika kegagalan datang, sambutlah ia menjadi sahabat, karena kegagalan adalah cermin yang mengingatkan kita untuk berusaha lebih baik. Tanpa cermin itu kita tidak bisa melihat diri sendiri dan mengevaluasi diri. Jangan takut GAGAL kecuali kamu TAKUT SUKSES. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan.

Kesuksesannya tidak lepas dari campur tangan TUHAN dapat dirasakan sangat kental disetiap tulisannya. Pelajaran yang luar biasa bisa kita contoh yaitu anak semuda itu sudah rajin Tahajud, Dhuha dan Puasa Daud.. MasyaAllah La Quwwata Illa Billah.

Tips sukses ala tasniem dan keluarganya yang membuat saya tersenyum: menyisipkan takbir atau bismillah dalam menyelesaikan SETIAP nomor soal.

Segera dibaca buku yang inspiratif, penuh motivasi dan syarat makna.
Selamat Membaca

Regard,
Sartika Puspita
dentist@dental hospital UMY
Profile Image for Eka Arief Setyawan.
2 reviews94 followers
December 29, 2015
Secara keseluruhan novel ini sangat bagus. Terbukti bahwa mbak Tasniem dan mas Ridho dalam menulis novel ini cukup berusaha untuk tidak menyamai gaya dan karakter penulisan kakaknya, mbak Hanum. Mereka tak hanya pandai dalam bertutur novel, namun juga pandai dalam merangkai kata-kata yang walaupun menurut saya tidak terlalu membuat melayang tinggi layaknya novel romantis yang lain, tetapi cukup membawa suasana sang pembaca terutama saya sendiri dari senang hingga sedih (khususnya mengenai Singapura, saya sampai membayangkan secara detail lho keadaan disana saat membacanya)

Selain itu banyak juga kata-kata yang mungkin banyak belum diketahui oleh pembaca sebelumnya seperti kata 'feronom', 'squamata', dan lain-lain yang menambah wawasan pada para pembacanya. Juga gaya bertutur mbak Tasniem dan mas Ridho yang cukup detail dalam menceritakan mulai awal hingga akhir dan berasa seperti kisah nyata (walaupun mungkin berdasarkan kisah nyata juga sih ceritanya hehe) serta selalu menyisipkan beberapa cuplikan flashback yang mungkin pada halaman-halaman sebelumnya sudah dibahas dan justru makin menambah kualitas novel ini alias tak hanya sekedar bercerita secara lurus saja.

Sukses untuk buku pertamanya mbak Tasniem dan mas Ridho, saya selalu berharap ada novel-novel berikutnya yang lebih seru lagi. Mungkin hanya saran sih dari saya supaya cover nya lebih dipoles lagi mungkin ditambah dengan ikon singapore saat dibawah gemerlap bintang dengan sosok mbak ninim disana, atau yang lain. Karena dari awal saya menilai buku ini secara sepintas seperti buku novel romantis bahkan buku puisi mengenai hujan, padahal sebenarnya setelah membaca saya malah menilainya sebagai novel petualangan yang inspiratif lho. Sekali lagi selamat dan sukses, tetap semangat! (y)
Profile Image for Khoirunnissa Khoirunnissa.
1 review
January 20, 2016
Sangat menginspirasi! Sebuah kisah kehidupan seorang gadis 15 tahun yang hampir berputus asa dengan nilai ujian yang ia dapatkan. Hingga ia memutuskan untuk merantau ke negeri orang. Melanjutkan studynya disana.
Banyak kisah dimulai dari sini. Senang, indah, sedih, susah, kesal, banyak perasaan diceritakan disini. Memahami kehidupan yang sebenarnya. Tidak selalu indah, dan tidak selalu sedih. Berputar seperti roda.
Ditambah nilai agama yang selalu tercantum dalam novel ini. Membuat kita yakin bahwa Tuhan sangat berperan dan telah mengatur semuanya dengan indah. Seperti novel ini yang berakhir dengan indah.
Kalimat yang selalu saya ingat dalam novel ini adalah "Jangan takut gagal, kecuali kamu takut sukses. Jadikan kegagalan sahabat setiamu. Bukan berarti kamu harus selalu gagal, namun ketika kegagalan datang, sambutlah ia sebagai sahabat. Mengapa? Karena kegagalan adalah cermin yang mengingatkan kita untuk berusaha lebih baik. Tanpa cermin itu kita tidak bisa melihat diri sendiri, tidak bisa mengevaluasi diri."

Seneng banget bisa baca novel ini.. Jadi tambah semangat :)

Teruslah semangat! Kejar mimpi-mimpimu. Sebesar dan sebanyak apapun, jika kau yakin, pasti akan tercapai. Dan jangan lupa untuk selalu berdo'a. :)

Terimakasih..
Profile Image for Frida.
201 reviews16 followers
March 17, 2016
Review menyusul. Nantikan pembuka blog tournya di blog saya awal April ( ´ ▽ ` )ノ
Profile Image for Cut Alima Syarifa.
1 review
January 17, 2016
Sepintas, kurasa “Every cloud has a silver lining“ adalah kalimat yang tepat untuk seluruh kejadian dalam novel karya Tasniem Rais dan Ridho Rahmadi ini. Pada kali pertama aku membaca sinopsis novel ini, aku langsung tahu bahwa novel ini begitu cocok untuk membangkitkan semangat para pemimpi yang telah dijauhkan dari mimpinya.

Ketika aku membuka novel ini untuk yang pertamakalinya, aku merasakan aura yang familier. Novel ini berlatar di tempat-tempat yang terasa tidak asing bagiku berkat penggambaran-penggambarannya yang begitu ‘nyata’. Novel ini terasa begitu ‘dekat’ berkat pilot chapter-nya yang menggambarkan kejadian yang sering terjadi di sekitar pelajar: NEM yang terlalu rendah untuk masuk ke SMA idaman. Plot awalnya memang merupakan suatu kejadian yang biasa, tetapi every student can relate to that point of story.

Setelah membalik beberapa puluh halaman, aku berasa membaca kembali novel-novel favoritku: trilogi Negeri 5 Menara dan tetralogi Laskar Pelangi. Ya, menurutku, novel ini memiliki semangat yang sama dengan trilogi Negeri 5 Menara dan tetralogi Laskar Pelangi. Persamaannya adalah karakter Tasniem yang sebelas-duabelas dengan karakter Alif dan Ikal yang pantang menyerah. Novel ini seakan terletak di antara trilogi dan tetralogi besar itu; tidak sereligius Negeri 5 Menara (religius karena berlatar di pondok pesantren) dan tidak seutopis Laskar Pelangi (utopis karena menurutku semua tokoh mendapat akhir yang bahagia). Malam-Malam Terang berada di titik kesetimbangan.

Menurutku, Malam-Malam Terang adalah ‘camilan’ baru bagi para pecinta novel-novel petualangan penuh inspirasi. Aku suka cara Tasniem Rais dan Ridho Rahmadi membuat usaha tokoh Tasniem untuk berprestasi tampak menonjol pada cerita itu. Cara belajar Tasniem yang jitu digambarkan dengan detail, mengakibatkan cerita itu terkesan seperti tips dan trik bagi para pelajar. Bagian cerita yang menggambarkan Tasniem ketika berdoa dan bermunajat kepada Tuhan membuatku sebagai pembaca tersadar bahwa setiap usaha itu perlu disertai dengan doa. Selain itu, aku suka cara Tasniem Rais dan Ridho Rahmadi menggambarkan Tasniem yang selalu berpikiran positif. Pikiran positif Tasniem terletak dimana-mana dan tidak menggurui; pikiran positif Tasniem bisa ‘mendoktrin’ pembaca dengan mudah (tentunya dalam hal-hal yang baik).

Meskipun begitu, menurutku ada beberapa hal yang membuatku berpikir “Sedikit lagi dan novel ini akan menjadi petualangan yang sangat tak terlupakan.”

Pertama, kurangnya dialog pada beberapa bagian membuat urutan-urutan kejadian dalam cerita ini kurang dapat tervisualisasi dengan jelas. Meskipun latar ceritanya digambarkan dengan penggambaran yang begitu ‘nyata’, kurangnya dialog dalam cerita membuat beberapa bagian di cerita ini kurang nge-feel.

Kedua, masih ada beberapa salah ketik yang kurasa cukup mengganggu kenyamanan pembaca. Beberapa kata yang seharusnya ditulis dengan huruf kapital justru ditulis dengan huruf kecil. Sangat disayangkan!

Terakhir, aku masih merasa digantungkan ketika membaca bab terakhir dalam buku itu. Aku merasa bingung; sebenarnya apa, sih, inti dari novel tersebut? Apakah inti dari novel tersebut adalah perjuangan Tasniem melupakan sakit hatinya karena tidak diterima di SMA idamannya? Apakah inti dari novel tersebut adalah pengalaman Tasniem ketika bersekolah di SMA dan hendak kuliah? Apakah inti dari novel tersebut adalah upaya Tasniem untuk mendapat beasiswa kuliah di Jepang? Atau apakah inti dari novel tersebut adalah kisah Tasniem untuk pada akhirnya bersama dengan Edo?

Menurutku, novel ini berisikan kepingan-kepingan kisah Tasniem yang antarkepingannya tidak begitu berhubungan. Seperti misal, pada bab awal hingga beberapa bab sebelum bab terakhir, novel ini memang terfokus pada cerita Tasniem bersekolah di GC. Namun, beberapa bab terakhirnya membahas mengenai kegiatan Tasniem di Indonesia ketika mencari beasiswa ke Jepang. Kemudian, dua bab terakhirnya membahas mengenai Tasniem yang akan ‘ditunggu’ oleh Edo dan mengenai Tasniem yang sudah sampai di Bandara Fukuoka, Jepang. Aku merasa novelnya menjadi sedikit antiklimaks karena kurasa klimaks dari cerita tersebut adalah ketika Tasniem diwisuda (adegan itu benar-benar membuatku merinding!), bukan ketika Tasniem memperoleh beasiswa ke Jepang (bersekolah di Jepang tidak menjadi fokus cerita ini dari awal). Alangkah lebih nge-feel apabila novel itu hanya sampai pada adegan Tasniem diwisuda dan adegan-adegan selanjutnya dilanjutkan di novel selanjutnya (aku benar-benar berharap ada sekuelnya yang menceritakan petualangan Tasniem di Jepang hingga pulang dan ‘bersatu’ dengan Edo, hehe).

Akan tetapi, secara keseluruhan, menurutku novel ini merupakan novel a must-read! Ada banyak sekali adegan yang ‘mencerahkan’ dan adegan-adegan yang menyentuh hati. Aku tak sabar untuk membaca sekuelnya (kalau memang ada)!

Tambahan, berikut ini beberapa kutipan yang aku suka dari novel ini, hehe:

“Memenangkan proses itu sendiri lebih dahsyat daripada memenangkan skor pertandingan.”

“Kesepian adalah kutukan bagi seorang petualang.”

“Carilah suami yang pandai membaca Al-Quran. Kalau dia pandai membaca ayat-ayat Tuhan, membacamu sebagai istri adalah perkara yang mudah.”
Profile Image for DETaK.
1 review4 followers
March 13, 2016
Sebuah kegagalan dalam hidup sering kali membuat seseorang merasa lemah dan tidak berdaya. Seolah langit runtuh, dan bumi tempat ia berpijak menjadi rapuh, bahkan tak sanggup menahan bebannya seorang diri. Namun tanpa disadari, kejadian pahit itu merupakan sebuah awal baru, masa depan luar biasa, dan menjadi galah untuk menggapai impian yang bahkan belum terbayangkan sebelumnya.

Dalam kisah yang diceritakannya, Tasniem Fauzia, gadis yang akrab disapa Ninim ini, menemukan momok terburuk dalam hidupnya. Ketika ia harus gagal mencapai standar nilai untuk melanjutkan pendidikan ke SMA ungggulan di daerahnya. Gadis kelahiran Yogya ini mengutuk kegagalannya saat itu, betapa tidak adilnya dunia, bagaimana mungkin perjuangan tiga tahunnya berakhir dengan angka-angka yang tercetak pada lembar hasil ujian dalam beberapa hari tersebut?!.

Namun, berkat do’a dan keteguhan hati yang ia miliki, Ninim berusaha menjadi kuat. Ia berangkat mencari jalan keluar dari masalah yang ia hadapi. Akhirnya do’a gadis muda ini terdengar, melalui serentetan kejadian dan nasehat mbahnya, Tuhan memberikan petunjuk apa yang harus ia lakukan setelahnya. Berbekal tekad yang kuat, Ninim berkeinginan melanjutkan pendisikannya ke Singapura, United World College of Shouth East Asia tepatnya. Sebuah lembaga pendidikan yang bercampur baur di dalamnya seluruh kebudayaan dunia.

Tak lantas semua berjalan mudah, dalam usia yang masih cukup muda, Ninim yang jauh dari keluarganya jelas saja merasakan rindu bukan kepalang. Beberapa kejadian pahit membuatnya hilang arah dan menjadi goyah, namun sekali lagi keinginanya untuk pulang berhasil ia tangguhkan atas dorongan yang diberikan keluarga, rasa percaya dan kasih sayang ibu dan bapak tanpa henti mengalir dalam dirinya.

Perlahan ia lalui dengan sabar dan semangat yang kuat perjalanan yang akan di tempuhnya selama tiga tahun itu. Berkaca dari masa lalu, ia yakinkan dirinya untuk tidak mengulang kejadian sebelumnya.

Kisah menarik Ninim dimulai dalam masa-masa perjuangannya, saat ia dipertemukan oleh tiga orang teman yang kemudian menjadi sahabatnya, Cecilia, Aarin, dan Angelina yang ketiganya berasal dari tempat berbeda, dengan budaya, bahasa, juga agama yang tentunya tidak serupa. Persahabatan mereka seperti gambaran kecil dunia dalam kedamaian.

Pembaca disuguhkan dengan kisah muda yang bergelora, membakar semangat dan pantang menyerah!. Pecahan mozaik-mozaik peristiwa dalam kehidupan Ninim di Singapura menumbuhkannya menjadi pribadi luar biasa, seperti kisahnya yang rela berkorban demi sahabatnya, untuk membantu Aarin bertemu dengan ayahnya yang telah lama berpisah. Ninim rela menahan kemauannya untuk pulang ke kampung halaman setelah bekerja keras dengan mencari uang di liburan musim panasnya yang berharga. Tidak lepas dari kejadian penuh tantangan yang memaksanya membuat keputusan singkat kala itu.

Tiga tahun bekerja keras, bukanlah sesuatu yang mudah, namun jelas saja itu bukan sesuatu yang sia-sia baginya.‘Big Ten’, sebuah prestasi luar biasa yang menempatkannya menjadi siswa terbaik di sekolah. Ninim berhasil bangkit dari keterpurukan bahkan menjadi lebih dari yang ia mampu harapkan, menggapai sukses yang tidak biasa.

Kisah Tasniem yang ia tulis bersama suaminya ini mampu membuat pembaca tersedu bahkan haru akan perjuangan Ninim membahagiakan orangtuanya. Sebagai contoh kerja keras nyata yang tidak akan pernah sia-sia. Meski buku ini bercerita tentang perjuangan gadis remaja menuju kedewasaanya, kisah ini tidak hanya cocok bagi kalangan gadis remaja saja, karena penulis mampu membawa pembaca seolah menjadi seorang teman yang menyaksikan kisahnya kala itu, tuturnya yang lembut dan ringan mengusik ingatan para pembaca tentang kisah mereka masing-masing, tentang masa-masa yang pernah atau akan mereka lalui nantinya.

Tak lengkap tanpa rasa, kepiawaiannya Tasniem dalam memberikan bumbu-bumbu penyegar seperti selingan bibit kisah cinta antara ia dan Ridho, menyegarkan mata pembaca dari rasa bosan akan kisah perjuangan yang monoton. Dengan penutup kisah akhir sederhana namun menyayat hati, penulis seolah ingin pembaca mengimajinasikan sendiri akan kisah Ninim dan Ridho yang indah di jalurnya hingga akhir.

Namun sangat disayangkan kisah akhir yang dapat diimajinasikan oleh pembaca tersebut tidak seluruhnya ditafsirkan demikian, bisa jadi pembaca menilai bagian menarik ini sebagai kekuragan penulis dalam menyelesaikan kisah akhir mereka. Sebab cara melihat dan menilai baik buruk karya bergantung pada pembaca dan penulis yang saling memahami kisah mereka.[]

Peresensi adalah Dinda Triani, Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Syiah Kuala. Tercatat aktif di UKM Pers DETaK sejak tahun 2014.
Profile Image for Anugrah Roby.
5 reviews
February 11, 2016
Puasa Daud, Big Ten dan Bintang-Bintang yang Menerangi Malam

Saya pertama kali mendengar nama Tasniem Fauzia Rais ketika ia mengirim surat terbuka kepada Jokowi saat menjadi capres pada tahun 2014 lalu. Saat itu tulisan putri yang dibagikan di catatan Facebook itu dengan sangat cepat menjadi viral di dunia maya. Reaksi dari pendukung sang caprespun datang bertubi menghantamnya.

Kini, lebih setahun setelahnya, saya mendapati bahwa Tasniem telah menerbitkan novelnya. Saya -dan mungkin sebagian kawan- menduga bisa jadi ini adalah langkah mengikut jejak sukses kakaknya Hanum Salsabila Rais yang booming setelah novelnya 99 Cahaya di Langit Eropa laris manis hingga best seller di pasaran dan naik ke layar lebar. Apalagi Tasniem -saya pikir- juga menulis bersama suaminya Ridho Rahmadi sama seperti Hanum mengarang bareng sang kekasih Rangga Almahendra.

Tapi ternyata saya salah. Novel Malam-Malam Terang karya Tasniem dan suaminya sama sekali berbeda dari saudarinya tersebut. Tidak ada cerita romantisme sejarah masa lalu Islam. Tidak ada setting Eropa. Tidak ada usaha untuk menjadi epigon baik dari gaya bahasa hingga perwajahan sampul novel ini. Tasniem justru mengisahkan drama persahabatan dan keluarga yang memiliki citarasa kearifan lokal yang kuat, meski lebih banyak mengambil setting di Singapura yang metropolis.

Memang awalnya saya sempat merasa lelah serta sedikit bosan sewaktu membaca bab-bab awal yang -bagi saya- kurang terasa konfliknya. Khususnya ketika berkisah soal drama hati murid berseragam putih-biru jelang kelulusannya. Syukurnya, sejumlah istilah sains yang dijejalkan membuatnya tetap memiliki nilai tambah sebagai pengaya wawasan. Dan ini dipertahankan dari awal hingga akhir buku ini.

Namun jangan khawatir, semakin ke tengah rupanya buku ini semakin seru. Jatuh bangun memang klise. Tapi sudut pandang penceritaan yang unik selalu memberikan sensasi berbeda. Ada banyak ibrah yang bisa dipetik. Salah satunya adalah bahwa Dia Maha Tahu apa yang terbaik buat kita. Bisa jadi kita merasa sedang gagal dan bernasib jelek, tapi ternyata hal itu justru pembuka pintu kegemilangan yang tak terduga.

Kerja keras dan do’a saya kira mewakili pesan buku ini. Mulanya Tasniem terseok mendapat nilai jelek dan dibully karena fisiknya yang pendek oleh teman-teman Kaukasoidnya. Tapi ikhtiar maksimal menjadi kunci sukses sang tokoh utama menggapai Big Ten yang prestisius. “Aku belajar di saat kalian belajar, dan akupun belajar ketika kalian tidur.” (hal. 200). Ditambah petuah Ayah dan Ibu yang sangat bijak. Puasa Nabi Daud, Dhuha dan Tahajjud menjadi bekalan penguat untuk menempuh perjalanan hidup.

Selain itu, kisah persahabatan antar etnis dan agama yang saling toleran patut mendapat acungan jempol. Walau beda keyakinan dan tradisi, Tasniem beserta tiga kawan sekamarnya di asrama yakni Angelina, Cecilia dan Aarin tetap kompak tanpa harus menggadai prinsip akidah masing-masing. Malah pengorbanan mereka mencari Ayah Angelina dengan bertualang ke Malaysia sungguh mengharu-biru. Saya -yang laki-laki tulen saja- tak bisa tidak melelehkan air mata.

Buku ini sangat recommended untuk siapa saja yang hendak meraup hikmah tentang kerja keras menggapai cita-cita, ketulusan persahabatan dan kesejatian keluarga. Di samping kesedihan, banyak sekali bertebaran kelucuan ala anak SMA, lika-liku bekerja part time saat liburan sampai perjuangan mencari beasiswa. Tak ketinggalan kisah perkenalan via mIRC yang bikin penasaran.
Sayangnya, saya tidak tahu apakah buku ini 100% merupakan true story dari penulisnya. Soalnya tidak ada satu kalimatpun di buku ini yang menjelaskan hal itu. Seperti misalnya novel-novel Dan Brown yang mengurai bagian mana saja yang fakta, mana yang fiksi. Tasniem juga tidak menyebut nama lembaga secara eksplisit untuk menerangkan aktivitas ayahnya seperti “sebuah ormas keagamaan” (untuk menyebut Muhammadiyah) dan “sebuah lembaga tinggi negara” untuk menyebut MPR).” Overall, 4 bintang deh untuk buku ini. Selamat membaca!

http://www.kompasiana.com/anugrahroby...
Profile Image for Dwiana Apriesti.
1 review
January 20, 2016
Luar biasa, dua kata itu sangat cocok untuk malam-malam terang. Saya tidak
menyangka novel ini memberikan saya suntikan energi positif luar biasa. Memberikan
perubahan yang cukup signifikan, merubah pola pikir saya dan yang terpenting membuat
saya lebih bersyukur serta ingin lebih mendeketkan diri pada Allah SWT. Saat halaman
pertama saya baca, saya langsung tertarik untuk membuka lembar-lembar berikutnya.
Mengapa? Karena saya pernah mengalami hal yang sama ketika UN SMP, nilai saya tidak
mencukupi untuk masuk ke SMA keinginan saya. Cerita yang disampaikan sangatlah runtut
dan rinci membuat saya sebagai pembaca seakan benar-benar terjun didalamnya, menjadi
tokoh utama”Tasniem”.
Saat yang sangat tepat bagi saya untuk membaca novel malam-malam terang
sekarang-sekarang ini, karena saya sekarang duduk di kelas 3 di SMA N 1 Purbalingga itu
berarti sebentar lagi saya akan meraskan UN kembali dan yang tak kalah pentingnya saya
juga akan merasakan fase hidup merantau sama seperti yang dialami sang tokoh dalam novel
ini. Cerita cerita di buku malam malam terang ini telah membuka pikiran dan hati saya secara
lebar. Perjuangan yang dilakukan Mba Tasniem ini benar-benar sangat hebat, buku ini seakan
menampar saya atas perjuangan belajar yang telah saya lakukan, rasanya sepotong kukupun
tidak ada ketimbang perjuangan belajar beliau. Buku ini sangat cocok dibaca oleh generasi
muda karena memberikan pelajaran yang begitu berharga, bukan hanya tentang ceritanya tapi
mengenai perjuanganya yang sangat patut di contoh.
Keistiqomahan beliau dalam beribadah disaat bagaimanapun dan dalam keadaan
apapun juga menjadi nilai plus tersendiri dalam buku ini, tersisip dakwah yang nyata, sebuah
contoh yang sangat layak menjadi teladan. Setelah selesai membaca buku ini, pikiran saya
langsung berubah. Sekarang saya mempunyai rencana yang lebih pasti untuk masa depan,
saya tidak takut akan kegagalan dan saya akan berjuang lebih keras lagi dalam belajar dan
berdoa seperti yang dilakukan oleh Mba Tasniem. Seyogianya saya memberikan ucapan
terimakasih teramat dalam karena malam malam terang sudah menginspirasi saya dan
membuat saya lebih yakin dengan apapun yang saya hadapi. Kecintaan beliau terhadap kedua
orang tuanya sungguh membuat saya takjub, sebaliknya kecintaan kedua orang tuanya kepada
beliau membuat saya iri. Saya juga menjadi lebih bersyukur dan mencintai kedua orang tua
saya serta kakak saya setelah membaca buku ini.
Mengenai persahabatan yang diceritakan dalam malam-malam terang, rasanya saya
tidak percaya atas persahabatan yang terjalin diantara Tasniem, Angelina, Cecilia dan Aarin,
persahabatan yang benar-benar dilandasi cinta dan kasih sayang, hal inipun lagi-lagi memberi
saya pelajaran bagaimana saya menjaga sahabat-sahabat saya dan menjadikan saya lebih
mencintai sahabat saya. Mengenai cinta, sebagai remaja saya pun tidak luput dari kata
tersebut, dan sekali lagi buku ini memberikan nasihat pada saya bagaimana saya menjaga rasa
yang paling indah yang telah Tuhan berikan kepada umatnya. Satu hal lagi, buku ini telah
sukses membuat saya menangis karena menyesali perbuatan-perbuatan tidak bermanfaat yang pernah saya lakukan, menyesali kesalahan yang saya perbuat kepada kedua orang tua saya.
Buku ini sangat recommended terutama bagi generasi muda seperti saya, buku yang sangat
bermanfaat. Terima kasih atas segala nasihat, pembelajaran, motivasi, dan cerita cerita luar
biasa ini. Saya tunggu karya-karya hebat nan luar biasa secepatnya.
Profile Image for Rina  NwS.
1 review
February 23, 2017
Berkembanglah beriringan dengan berbagai jalan yang kau patuhi. Bagaimana rasa kecewa diungkapkan dalam pupuk semangat pejuang mimpi ala racikan kisah Tasniem? Mengapa kita harus memilih jalan yang lain dengan berdiri jauh dari ibu pertiwi untuk berkembang? Bagaimana menjadi sosok kecil diantara macam berbagai perbedaan yang menyelimuti kehidupan baru?. Hal-hal dasar ungakapan kegelisahan Tasniem diuraikan dengan kisah kegagalan yang memberi pilihan untuk menjadi tegar. Kisah Tasniem kecil di usia belianya harus memilih merantau jauh di negeri sebrang, negeri SInga putih, Singapura, untuk melanjutkan pendidikan jenjang menengah atas. Mengawali kegelisahannya yang kecewa dengan angka desimal tak bercukup sebagai syarat masuk sekolah favoritnya, yaitu di SMA 3 Yogyakarta yang menjadi sekolah favorit. Nilai EBTANAS yang kurang menjadi pemicu rasa sedih menggelayut masa depannya, hingga saat itu ia memilih pergi ke Solo di rumah neneknya untuk menenangkan diri. Selama perjalanan menuju Solo, Tasniem dihantarkan sepotong kisah yang mengarahkan pilihannya pada negeri Singa Putih, mulai dari perjumpaan dengan sesama penumpang kereta api yang memakai kaus bertuliskan “Singapore”, pertemuan dengan korban pencopetan yang majalahnya bertemakan sebuah judul “Study In Singapore”, dan kejadian terakhir adalah ketika Tasniem mengetahui kalau sahabat neneknya pun merantau ke Singapura hingga menetap disana. Kisah penghantar tersebut seperti cara Tuhan membisikkan jalan baginya. hal yang membuat Tasniem untuk merantau ke negeri sebrang adalah nasehat dari neneknya terkait kegagalannya masuk ke sekolah favorit. Neneknya mengatakan “ nak, jika kamu tidak bisa masuk sekolah yang kamu sukai, cobalah melihat ke arah yang jauh, pastinya ada yang lebih cocok buat kamu”. Merantau ke Singapura bulat ia pilih mantap. Mempunyai kehidupan baru di Global College of Singapore telah menyulam lembaran semangat baru dari diri Tasniem yang berangkat seperti biji kecambah yang baru bertunas. Tanah rantau mengajarkankannya hidup berlingkup perbedaan dalam persatuan, memahami bahasa toleransi dari teman-teman barunya. Cecilia, Angelina, dan Aarin adalah teman sekamar Tasniem yang mempunyai latar belakang perbedaan darinya, tapi mereka mengekal sebagai sahabat sejati yang saling bersatu dalam bahagia dan duka. Hari-hari Tasniem melewati masa sekolahnya bersama sahabat, guru, dan semesta hirup-pikuk Singapura mewarnai kisah yang menyihir kita sejenak mengulur kenangan dengan masa muda kita. Kesedihan sebagai perantau, sebagai gadis kecil yang merengek kerinduan pada kedua orang tuanya, sebagai perjuangan yang dirasa resah akan jarak. Hal tersebut dipupuskan oleh dukungan ayahnya, Amien Rais seorang tokoh politik di Indonesia yang ternyata mempunyai sisi hangat seorang ayah kepada anaknya. Sebagai seorang ayah, sosoknya terasa hidup dalam setiap langkah-langkah semangat Tasniem. Wejangan-wejangan dari ayahnya merupakan titik dimana Tasniem menumpu kepercayaan yang kuat. Bagaimana Tasniem melewati masa pembuktian akan kegagalannya dahulu? Bagaimana pencapaiannya berbuah manis benderang di negeri sebrang? Sosoknya menjadi wanita tangguh di rantau dengan ghirahnya yang luar biasa akan membuktikan bahwa bukunya ia rajut dengan dayungan yang tekun, kerja keras dan do’a. Seterang apa Tasniem mewarnai gulatan tintanya, lihatlah sinar itu akan anda temukan dalam aroma helai tutur harapan yang menyeringai gontai.



Profile Image for yanti.
117 reviews2 followers
May 25, 2016
Ini adalah novel pertama yang ditulis oleh sepasang suami istri Tasniem Fauzia Rais dan Ridho Rahmadi. Novel ini rencananya akan dibuat dalam trilogy, bercerita tentang kehidupan Tasniem saat remaja, dewasa hingga nanti mengarungi kehidupan rumah tangga. Membaca buku ini seolah saya sedang berbicara langsung dengan sang penulis. Buku ini memang bercerita tentang kisah nyata penulis itu sendiri, yaitu Tasniem. Awalnya saya tidak tahu kalau Tasniem adalah adik dari Hanum Salsabila Rais, putri dari Tokoh bangsa Bapak Amien Rais. Sebagai penikmat buku-buku Hanum, pastilah saya langsung “interest” untuk membaca karya dari putri Amien Rais ini.

Saat mulai membaca halaman awal, saya langsung dibuat terpana dengan gaya bahasa yang berbeda, penulis meramu cerita ini dalam bahasa-bahasa ilmiah menggunakan istilah dalam pelajaran ilmu pengetahuan alam

Meskipun novel ini seperti novel biografi yang menceritakan sosok Tasniem, tetapi membacanya tidak akan pernah bosan, dalam setiap lembarannya terkandung banyak makna. Kalimat-kalimat inspiratif banyak bertebaran dalam novel ini. Jadi menurut saya ini lebih tepat disebut sebagai novel inspiratif
Novel ini recomended dibaca oleh semua kalangan, semua usia dari remaja sampai dengan orangtua. Dalam novel ini banyak yang dapat kita pelajari; bagaimana menghadapi kegagalan dan berusaha bangkit untuk meraihnya, tentang sebuah arti persahabatan, tentang hubungan antara orangtua dan anak yang saling mendukung , tentang sebuah toleransi beragama serta masih banyak lainnya.

Dalam novel ini tidak semata-mata membicarakan impian-impian Tasniem meraih prestasi akademiknya, tetapi juga dibalut dengan kisah cinta seperti pada remaja pada umumnya. Perbedaanya Tasniem tidak terlalu mengedepankan perasaanya, ia percaya bahwa tidak ada yang serba kebetulan, karena semua sudah terencana dengan sengaja-olehNya. Termasuk juga pertemuannya dengan kakak kelas SMPnya yang dulu diam-diam sempat ditaksirnya, Ridho Rahmadi,setelah sekian tahun tidak pernah saling mengenal,tiba-tiba saling bertegur sapa dalam ruang obrolan chatting.
Rencananya novel ini akan di filmkan, sebagai novel pertama dari Tasniem dan Ridho tentunya ini prestasi yang mengagumkan. Mengikuti jejak kakaknya Hanum yang telah melahirkan beberapa film dari buku yang ditulisnya. Sebagai buku pertama, menurut saya ada beberapa catatan yang mungkin dapat lebih menyempurnakan novel ini, antara lain diperlukan catatan kaki untuk dialog-dialog yang menggunakan bahasa jawa. Karena tidak semua pembaca memahami bahasa jawa. Atau istilah-istilah asing seperti squamata atau chepalopada juga perlu di beri catatan kaki, agar kita lebih paham, terutama pembaca seperti saya yang asing dengan istilah-istilah ilmiah. Meskipun ini jadi memotivasi saya untuk “googling” karena penasaran:). Selain itu ukuran font tulisan yang sedikit lebih kecil dibanding buku lainnya serta jarak antar pragaraf yang terlalu rapat, ini sedikit mengurangi kenyamanan membaca. Untuk porsi cerita Ridho, sepertinya sengaja dibuat sedikit yaa.., mungkin dapat dikupas lebih banyak, agar makin melengkapi cerita ini. Atau mungkin nanti di sekuel berikutnya?

Review lengkapnya : https://jendeladuniaku2015.wordpress....
Profile Image for Dedul Faithful.
Author 7 books23 followers
June 15, 2016
Judul: Malam-Malam Terang
Penulis: Tasniem Fauzia Rais & Ridho Rahmadi
Penerbit: Gramedia
Terbit: Desember 2015
Tebal: 244 Halaman

Malam-Malam Terang ditulis oleh putri keempat Amien Rais. Novel ini ditulisnya bersama sang suami. Kisah di dalam novel ini mengajak pembaca untuk masuk ke dunia muda Tasniem. Saat ia lulus SMP, Tasniem menelan pil pahit kegagalan masuk SMA favorit di Kota Gudeg. Hasil EBTANAS gadis itu kurang memenuhi syarat masuk SMA 3 Yogyakarta, sekolah yang diidamkannya. Tasniem pikir hidupnya berakhir saat itu.

Tasniem berhari-hari mengurung diri di kamar. Ia merasa jerih payahnya sia-sia. Orangtua Tasiem menghiburnya, namun Tasniem bergeming. Ia tidak terima mimpinya pupus karena NEM, dia pun memilih menenangkan diri dengan mengunjungi nenek di Solo.

Di perjalanan, secara tak sengaja ia menemukan brosur sekolah Singapura yang menjanjikan. Dia bertekad sekolah di sana sebab jiwanya tidak tenang jika ia bersekolah di Yogya karena masih malu. Sayang orangtua Tasniem tak mengizinkan.

Namun siapa sangka orangtua Tasniem berubah pikiran. Gadis itu pun akhirnya bisa bersekolah di United World College Singapura. Di sinilah awal perjuangan dimulai. Tasniem harus menyesuaikan diri sebagai perantau. Dia mengganggap sekolahnya adalah miniatur dunia global karena murid-murid sekolahnya berasal dari berbagai ras dan penjuru dunia.

Tasniem melakoni belajar giat demi menebus masa lalu pahit dan kondisi sekarang yang berbeda. Siang malam dia belajar, bahkan saat malam buta ia belajar keras sebab ia lebih mudah menyerap materi di malam hari. Kegiatan itu ia selingi dengan tahajud. Sesekali sahabat sekamar Tasniem merasa aneh karena gadis itu terlampau rajin.

Pada akhirnya kisah ini akan bermuara pada kesuksesan Tasniem yang berhasil menjadi lulusan peringkat pertama di sekolah internasional. Sebuah prestasi membanggakan anak negeri yang berhasil mewujudkan keberhasilan. Novel ini pun tidak hanya fokus pada kehidupan akademis Tasniem, ada juga hal-hal seperti persahabatan, keluarga, dan bahkan cinta turut dibahas. Hal-hal itu makin mempermanis kisah di novel ini.

Malam-Malam Terang bisa menjadi pemandu mujarab bagi generasi muda yang membacanya. Kegagalan sudah terlampau basi jika disikapi dengan bermuram durja. Lebih baik menyikapi hal itu dengan sikap optimis dan pantang menyerah seperti halnya Tasniem. Ia berhasil membuktikan bahwa berkat kerja keras, hasil yang didapat pun setimpal dan terasa manis.
Profile Image for Andi Sulasikin.
45 reviews3 followers
February 5, 2016
Malam-malam Terang, bacaan pertama yang dimulai dan selesai di tahun ini. Bacaan yang sangat renyah, saking renyahnya tenyata buku 244 hal ini bisa diselesaikan dengan tiga kali duduk saja. Dimulai setelah magrib kemarin, dilanjutkan besok paginya, dan sisanya tiga lembar setelah jumatan tadi. Padahal awalnya target dua hari, ini malah kurang sehari, hehe. Harus diakui, kata per kata di buku ini memang disusun dengan apik, tidak menggurui, mudah dicerna, dan diajak secara langsung merasakan suasana dan narasi dalam cerita.

Ada banyak pesan dan hikmah dari novel (yang based on true story) ini. Beberapa pesan yang paling saya suka adalah,

"Sejarah mengatakan, orang-orang sukses selalu jatuh bangun dulu sebelum mencapai puncak idaman. Itu seperti sudah rumus dari Tuhan."

"...Merantaulah, banyak ilmu tentang kehidupan dapat dipelajari. Ilmu yang tak ada dibalik rumus-rumus matematika ataupun teori-teori ekonomi. Ilmu yang tersembunyi di tengah padang pasir pengembara..."

Latar ceritanya bermula dari SMP sampai persiapan S1, sehingga memang sangat cocok untuk adik-adik SMP & SMA yang sedang persiapan UN atau applikasi beasiswa. Walau begitu, bagi saya yang sudah melewati jenjang pendidikan itu, merasa ini semacam kawan refleksi diri tentang perjuangan yang sudah dilalui. Ia telah mengajak untuk meredefinisi langkah-langkah dan mimpi-mimpi saya kedepannya, dengan senantiasa menjaga hubungan dengan Tuhan, keberanian, dan pantang menyerah.

Buat Mba Tasniem dan Mas Ridho, terima kasih dengan sharing berharganya lewat novel Malam-malam Terang ini. Sejujurnya, saya telah dibuat penasaran dengan kelanjutan ceritanya, jadi mohon untuk sequel berikutnya bisa cepat selesai, hehe. Oh iya, saya juga mendukung sekali Malam-malam Terang ini untuk difilmkan.

Semoga berkah dan manfaat yang diberikan bisa semakin besar lagi kedepannya, aamiin allahumma aamiin.
Profile Image for فيتا الحمراء.
1 review
January 8, 2016
Saya merasa tertipu ketika membaca novel ini. Dari judul novel hingga ke sub-bab tidak ada satupun yang berbau religius, tapi saat membaca kisah-kisah perjuangan Tasniem muda dalam novel ini, saya terbawa dengan pengalaman spiritual tokoh Tasniem. Sebagai seseorang yang berstatus mahasiswa sekaligus santriwati di universitas swasta tertua di Indonesia, saya merasa novel ini banyak menyelipkan nasehat-nasehat agama bahwa kedekatan kita dengan Allah merupakan sumber ketenangan dan kejernihan pikiran yang menjadi pangkal kesuksesan kita meraih mimpi. Saya seperti membaca testimoni khasiat shalat Tahajud dan dhuha.

Permasalahan-permasalahan yang ditemui adalah permasalahan yang memang dirasakan oleh kebanyakan pelajar atau mahasiswa perantau, hal ini menjadi salah satu daya tarik novel ini. Tokoh Tasniem berhasil menginspirasi untuk terus berjuang menghadapi masalah demi masalah. Bahkan, secara tidak langsung banyak tips-tips yang saya dapatkan dari novel ini seperti tips jitu menguasai bahasa Inggris dan tips sukses menghadapi ujian.

Seru sekali rasanya, mengikuti naik-turun semangat Tasniem muda. Saya terlarut dalam setiap pengalamannya, seolah menjadi bagian dari kisah keempat sahabat : Tasniem, Cecilia, Aarin, dan Angelina.

Novel anti galau. Sangat recomended untuk anak rantau!
Profile Image for Inna Ar.
2 reviews2 followers
January 4, 2016
Membaca novel ini seperti bernostalgia ketika masa SMP dulu. Kebetulan saya juga mengenyam pendidikan SMP di tempat yang sama dengan Mb Niniem dan merencanakan untuk melanjutkan ke SMA yang sama juga, SMA 3. Sepertinya itu jalur yang sangat umum dilalui bagi pelajar kota Jogja. Jika sudah masuk SMP 5 pasti akan berlanjut ke SMA 3 dan pendidikan tinggi di UGM. Namun, ternyata jalan yang dilalui mb Niniem berbeda dengan pelajar pada umumnya. Perbedaan inilah yang akhirnya malah memperkaya pengalaman dengan merantau ke Singapura. Salut dengan perjuangan dan keputusan yang telah diambil oleh penulis yang baru lulus SMP.

Secara umum, cerita yang diangkat di novel ini cukup ringan namun memberikan kesan yang mendalam. Di beberapa bab, saya sempat meneteskan air mata, membayangkan perjuangan penulis menjadi perantau di usia yang cukup muda dan rasa bangga yang didapat setelah berhasil melalui cobaan-cobaan yang ada. Saya seperti larut dalam kehidupan Mb Niniem yang dituliskan dengan detail. Novel yang sangat cocok dibaca oleh anak-anak remaja yang sedang mencari jati diri. Banyak pesan moral yang tertulis baik itu implisit maupun eksplisit. Satu bagian kehidupan Mb Niniem yang dituliskan dalam novel ini bisa menjadi bahan pelajaran, renungan, dan inspirasi bagi generasi Indonesia.

Profile Image for Fadlan Torres.
1 review
February 2, 2016
Awalnya aku lihat covernya polos banget , lalu aku mencoba melirik sinopsis d sampul blakang dan ternyata entah kenapa tpi kejadian yg di novel itu mirip bgt dgn sama yg aku alami sekarang, jdi aku putusin beli bukunya. pas aku buka halaman pertama semua yg aku duga langsung berubah ternyata buku ini memiliki kualitas tulisan yg nyaman dan tidak kaku sm sekali, so sy merasa terbawa kedalam cerita selama membaca. so untuk kepenulisan sy kira sudah amat bagus. juga banyak banget nilai2/pelajaran yg bs dipetik dr novel ini yg ga bisa disebutin satu2. tpi yg paling berkesan menurutku itu gimana situasi yg dihadapi mbak ninim saat itu memaksa dia untuk berusaha demi pencapaiannya kelak d masa depan dan juga pastinya keihktiaran mbak ninim thd tuhan yg tdk bisa sy bayangkan luar biasanya itu dan trakhir gimana syangnya ia sm ortu. dan saran juga untuk mbak ninim, lebih bagus menurutku bukunya diperjelas antara novel dengan crita real. so ane sbagai pembaca bisa dpt feeling bahwa segala yg ada di buku tab bener2 bisa terjadi di kehidupan nyata. untuk sekarang sekian dulu. semangat mbak ninim untuk sekuel selanjutnya. aku udah jdi penggemar tetap mbak okayy. pokoknya Recomended deh bukunya. wajib beli kawan2. (line : fadlan06)
1 review
January 31, 2016
Diawal cerita saya sempat dibingungkan dengan hal hal seperti ebtanas dan lain lain, namun karena kata-kata yang dipilih untuk merangkai dan menggambarkan cerita dalam buku ini sebagai pembaca saya merasa sangat mengerti, buku ini mengajarkan pembaca untuk bangkit dari keterpurukan, mencari solusi untuk lepas dari kegagalan, buku ini sangat cocok bagi pelajar saya sendiri sebagai pelajar ikut ternotivasi dengan semangat nya.

Penggunaan" kata kata yang cerdas
Pokoknya bukunya bagus ☺
Profile Image for Debby.
6 reviews
January 14, 2016
Novel yang sangat menginspirasi sekali, khususnya untuk para teenagers ;)
cerita yang disuguhkan dalam novel ini ringan, asyik dan membekas di hati,
mengjarkan kita untuk menjadi individu yang berkualitas, individu yang tangguh dengan segala rintangan yang menghadang. Dan mengajarkan pada kita untuk selalu dekat dengan Tuhan baik dalam keadaan senang ataupun susah.
Lekas dan bergegas membaca buku hebat ini, sahabat :)
Profile Image for Andi Kurniawan.
1 review1 follower
January 8, 2016
Kisah yg sangat Menginspirasi kita, dimana kegagalan bukan berarti kiamat bagi kita, akan tetapi bisa menjadi cambuk untuk menuju keberhasilan. Giat, mandiri, pantang menyerah & tdk lupa saling tolong menolong dng orang di sekitar kita bisa membawa kita pada kesuksesan yg terkadang tdk bisa kita bayangkan.
Profile Image for Nining Rukhster.
10 reviews
January 20, 2016
baru aja selesai baca novel ini..
banyak pelajaran dari novel ini yg bisa kita petik..
jangan putus asa & selalu menyertakan Tuhan dalam kegiatan apapun, Tuhan Maha Mendengar & Maha Adil, nggak ada yg sia-sia setiap usaha yg kita lakukan..
you must read this novel..
:')
1 review
February 2, 2016
Malam-Malam Terang

Judul : Malam-malam Terang
Penulis : Tasniem Fauzia Rais & Ridho Rahmadi
Penerbit : Gramedia Pustaka
Tahun Terbit : Desember 2015
Tebal Buku : 244 halaman
Ukuran Buku : 13 x 20 cm

Kesuksesan adalah harga mati bagi para pekerja keras. Segala pikiran, hati bahkan raga hanya ditujukan untuk satu titik tujuan. Tapi ketika kesuksesan itu lepas begitu saja dari tangan, dunia siapa yang tidak runtuh sesaat? Apalagi ketika usaha yang dilakukan tidak main-main. Menguras energi yang tidak bisa diukur lagi dengan satuan joule. Entah kenapa saat itu dunia serasa tidak adil. Iya kan?

Begitupun halnya dengan Tasniem kecil yang kehilangan kesempatannya untuk masuk SMA impiannya hanya karena nilai ujian akhirnya yang jatuh, jauh dari perkiraan. Padahal dia siswa rajin, pekerja keras, berkali-kali mendapatkan peringkat di sekolah. Seharusnya satu kursi di SMA impiannya itu berhak ia dapatkan. Tapi Tuhan berkata lain. Tasniem jatuh. Runtuh dengan segala ego dan mimpinya.

Sembari membangun kembali mimpinya di usianya yang masih 15 tahun, Tasniem kecil membawa lari dirinya ke luar negeri. Singapura. Dengan mengorbankan sepetak tanah dan modal restu dari ayah-ibunya, Tasniem membawa hari-harinya bertarung dengan tanah rantau. Bertarung dengan ke-heterogen-an sekolah barunya,kesepian, keterasingan,persaingan, prinsip hidup, bahkan bertarung dengan dirinya sendiri.

Satu hal yang Tasniem yakini dalam perjalanannya yang tidak bisa dibilang mudah. Bahwa setelah kesulitan itu ada kemudahan. Bahwa ketika dia meninggalkan keluarganya, Tuhan mengirimkannya sahabat-sahabat yang walau berbeda dari segala fisik sampai kepercayaan, membuatnya tenang dan kembali bersemangat. Bahwa ketika kegagalan membuatnya runtuh, Tuhan sedang mengajarinya untuk kuat. Bahwa ketika pilihan itu terasa menyesakkan dan menyakitkan, Tuhan sedang menyiapkan hikmah lain yang lebih indah.
Bersahabatlah dengan kegagalan, karena kegagalan adalah pengingat yang hebat kala dirimu terlena oleh kemalasan.

Itu adalah quote yang mungkin muncul di batok kepala saat membaca buku ini. Novel karya Tasniem Fauzia Rais dan suaminya ini merupakan novel yang menceritakan dirinya sendiri saat masih berusia 15 tahun. Usia yang cukup belia untuk bisa menemukan pintu petunjuk dari liku-liku hidupnya saat itu. Bukan hanya menyajikan usaha tanpa henti dari sosok mungil Tasniem, tapi juga tentang persahabatan. Petualangannya dengan 3 sahabatnya yang membuat mereka belajar banyak hal tentang arti persahabatan. Persembahan untuk orang tua yang telah merelakannya merantau dituliskan dengan pesona sendiri hingga membuat pembaca bisa mengingat orang tuanya sendiri. Dan tidak lupa juga sentuhan roman antara Tasniem dan cinta pertamanya saat SMP.

Dari buku ini kita akan belajar tentang kerja tiada henti dan doa yang tiada putus dari makhluk kecil bernama manusia. Membuat kita merenungi tentang pekatnya malam dan semua misteri di dalamya. Lalu membuat kita berpikir bagaimana caranya mengubah malam itu menjadi malam-malam terang penuh cahaya. Tasniem sudah melaluinya dengan mengalami banyak hal. Membuat kelam malamnya menjadi lentera-lentera petunjuk jalan. Lalu bagaimana dengan kita? Dan belajarlah dari “Malam-malam Terang”. ^_^


I appreciate this book with five white roses. Then I want to write my other point of view with informal words. 

Kuberikan point 3,7 untuk buku ini (dengan skala 4). Meski bukan motivasi, perjalanan hidup Bu Tasniem yang merupakan putri ke-4 Amien Rais membuatku bercermin pada beliau. Membuatku kembali menelaah bahwa perjalananku sampai ketika aku menulis review ini nggak lebih dari sekedar ngupil. Hehehe….

Jujur aku juga pernah gagal. Pernah marah dan mengutuk betapa nggak adilnya dunia ini. Jadi aku mengerti sekali perasaan Bu Tasniem kala itu. Mungkin beberapa orang bakal berkomentar: Aih, itu kan cuma nilai. Plis! Ini bukan masalah nilai. Tapi masalah mimpi yang kandas di tengah jalan. Tangga impian yang disusun semanis mungkin, roboh hanya gara-gara sebuah NEM.

Buku ini cocok banget untuk mereka yang sedang berjuang di penghujung kelas. Secara akademis maksudku. Entah yang kelas 6 SD, 3 SMP, 3 SMA, sedang skripsi atau sedang tesis. Seperti dibisikkan bahwa kegagalan itu tidak akan membuat kita mati. Tidak akan membuat malaikat Izrail langsung datang dan membawa nyawa kita masuk neraka. Tenang saja, Tuhan Mahatahu yang terbaik bagi kita. Dia nggak akan membuat kita hidup nelangsa meski kita gagal di ujian akhir sekolah.

Well, aku menangis saat episode Bu Tasniem yang dipanggi sebagai the first from The Big Ten. Rasanya seperti namaku sendiri yang dipanggil. Rasanya semua sakit, ngantuk, capek, tangis, saat belajar disambi baca novel ini terpuaskan dengan suara imaji tepuk tangan. Sensasi yang mungkin susah kalau kurealisasikan ( ya kali, aku kan bukan siswa Globe College), tapi aku bener-benar menikmatinya.

Well…well …well… I love the story like my life right now. 
1 review
Read
April 10, 2016
Sertakan Tuhan dalam Sulit dan Mudahmu

Berangkat dari kisah seorang gadis remaja yang pada saat itu berusia 15 tahun, Tasniem, harus menerima kenyataan bahwa NEM yang ia peroleh hanya 44,73, artinya ia tidak dapat melanjutkan ke SMA impiannya, SMA 3. Beberapa hari ia mengurung diri di kamar, tidak ingin menjumpai siapapun, hingga suatu hari ia memutuskan untuk mengunjungi neneknya yang berada di Solo. Potongan teka-teki Tuhan pun mulai ia dapati. Bermula dari sebuah keluarga yang menggunakan baju bertuliskan Singapura, majalah seorang ibu yang terjatuh dimana bertuliskan melanjutkan studi ke Singapura?, hingga kisah sahabat neneknya yang pindah ke Singapura. Saat itu pula ia menyadari jawaban teka-teki takdir yang Tuhan berikan, melanjutkan studi ke Singapura. Berbekal sepetak tanah yang dijual serta restu dari kedua orang tua, Tasniem berangkat menuju mimpi yang belum pernah ia impikan.

Globe College of Singapore, menjadi pilihannya dalam melanjutkan studinya. Sungguh pemberian Tuhan Yang Maha Kuasa, di negeri yang belum pernah ia kunjungi, Tasniem mendapatkan keluarga baru, Cecilia berasal dari China, Aarin berketurunan India, dan Angelina, berdarah Indonesia. Persahabatan ini merupakan persahabatan terindah yang pernah ada. Berbagai rintangan dihadapi bersama, bahkan mereka pernah merelakan masa liburannya untuk menemani Angelina bertemu ayahnya yang berada di Malaysia. Dalam menghadapi ujian, Tasniem selalu memiliki strategi dalam belajar. Awalnya, strategi tersebut dianggap tidak biasa oleh teman-temannya, namun ternyata strateginya tersebut mampu mengantarkannya pada nilai yang memuaskan, sehingga caranya dalam belajar ditiru oleh sahabat-sahabatnya. Tak lupa pula Tasniem melengkapi usahanya dengan sholat lima waktu, shalat Tahajud dan puasa Daud, menurutnya hal itu mujarab membawa doa kepada sang Khalik.

Setelah 3 tahun bersekolah di GC, Tuhan menjawab semua doa yang ia pinta, Tasniem lulus dan termasuk dalam The Big Ten, ditengah acara wisudanya, serta dihadapan kedua orang tuanya, mereka bertiga sama-sama terkejut ketika mengetahui bahwa Tasniem lah yang menjadi nomor urut 1 dalam The Big Ten. Mimpi Tasniem selanjutnya ialah melanjutkan studi ke Jepang, Negeri yang menurutnya mempunyai keunikan tersendiri dalam menjaga nilai-nilai tradisional. Sempat ditolak oleh salah satu instansi beasiswa, Tasniem lulus beasiswa Ritsumeikan Asia Pasific University, APU. Beasiswa itulah yang membawanya ke negeri matahari terbit.

Novel Malam-Malam Terang menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Bahasa yang mudah dicerna oleh berbagai kalangan. Di dalam novel ini juga, terdapat bahasa Jawa Krama, yang merupakan bahasa yang sering digunakan tokoh dalam kehidupan sehari-harinya. Selain itu, dalam novel ini, banyak terdapat istilah ilmiah, yang dituliskan sesuai dengan aturan penulisan ilmiah, membuat pembaca tidak hanya tahu mengenai sebuah kisah, juga menjadi tahu beberapa hal tentang ilmiah. Tidak hanya bahasa Jawa Krama ataupun kata-kata ilmiah, terselip pula dalam novel ini ayat-ayat Allah SWT yang indah, serta penjelasan dari ayatnya. Secara umum, karya Tasniem Fauzia Rais dan Ridho Rahmadi sudah menggunakan bahasa yang ringan dan enak untuk dibaca kapan saja.

Novel yang bercerita tentang kisah hidup seorang remaja ini memiliki nilai dan arti hidup yang sangat banyak. Novel ini memiliki keterikatan bathin kepada setiap pembaca, terutama bagi seseorang yang tengah merantau demi ilmu. Cerita yang dituliskan dapat memberikan kesan hidup sehingga pembaca dapat hanyut dalam cerita. Selain itu, novel ini memiliki nilai keagamaan yang tinggi. Masalah, rintangan, dan kemudahan yang dialami tokoh, selalu dikaitkan dengan Tuhan. Novel ini pun dapat mengajak pembaca untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik, menjadi seseorang yang selalu ingin Tuhan bersamanya dalam kehidupan sehari-hari. Cara belajar yang dilakukan tokoh Tasniem dalam Malam-Malam Terang selalu memberikan inspirasi bagi pembaca, termasuk dalam hal Tahajud dan puasa Daud. Mengenai kekurangan, tidak ada gading yang tak retak, novel yang bagus ini memiliki sedikit kekurangan, dimana tidak semua bahasa, terutama bahasa Jawa Krama dan ilmiah memiliki arti, karena pembaca dapat berasal dari berbagai kalangan, hal ini dapat saja membuat pembaca yang tidak paham akan hal tersebut sulit dalam memahami perkataan yang disampaikan.

Secara keseluruhan, novel Malam-Malam Terang merupakan novel yang syarat makna dan inspiratif, novel ini mampu membuktikan bahwa perempuan dapat berdiri sendiri dengan kedua kakinya. Tanpa harus menunggu bantuan dari luar. Novel ini dapat menjadi penambah semangat dikala seorang perantau ilmu merasa jauh dari keluarga. Melalui cerita jatuh bangun ini, novel ini sangat dianjurkan untuk dibaca, terutama kaum muda-mudi, yang merupakan penerus dari bangsa ini.

Peresensi adalah Novita Sary Saputri, Anggota Magang DETaK Unsyiah 2016.
Profile Image for afin.
267 reviews20 followers
April 17, 2016
rated 3 / 5 stars

Sinopsis:
Secara keseluruhan, cerita yang ingin kami usung adalah tentang metamorfosis seorang perempuan muda, yang kemudian beranjak dewasa, hingga kelak ketika ia menjadi orang tua. Aneka rupa peristiwa: senang-sedih, jatuh-bangun, tawa-tangis, kehujanan-kepanasan, lapar-kenyang yang berdasarkan kisah nyata penulis, kami coba ramu sedemikian rupa, untuk menyampaikan banyak hal. Yang pertama adalah pesan, yang menjadi identitas buku ini. Yang kedua adalah pertanyaan dan wacana diskusi, karena bagi kami, buku yang menarik adalah yang memberikan satu ruang kepada pembacanya untuk bebas berinterpretasi, berimajinasi, dan berkesimpulan. Untuk lebih kongkretnya, adalah pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: sebagai perempuan muda, haruskah aku menjadi mimpiku atau barangkali mimpi dari orangtuaku? Sebagai perempuan dewasa nanti, yang barangkali seseorang sudah meminangku, haruskah aku menjadi mimpi dari suamiku atau kelak ketika aku sudah tua, haruskah aku menjadi mimpi dari anak-anakku? Apakah Tuhan Mengizinkanku ‘tuk memilih atau biarkan aku mengizinkan Tuhan Memilihkan satu untukku?

Paragraf di atas adalah abstraksi dari mimpi kami tentang buku(-buku) yang kami tulis. Kalau tak tampak sederhana, mohon maaf, terkadang memang angan-angan sulit dikalimatkan. Kalau Tuhan Mengizinkan, dan juga Memberi kesempatan, insya Allah buku pertama kami ini, Malam-Malam Terang, akan jadi buku pertama dari trilogi yang kami harapkan bisa merajut bagian demi bagian dari barisan impian kami di atas. Doakan ya :)

Tentang Malam-Malam Terang.

Buku ini bercerita fase pertama; di mana Tasniem, tokoh utama di dalam buku ini, mengalamai kegagalan untuk memperoleh nilai ujian akhir yang cukup untuk masuk SMA idamannya di Yogya. Tasniem yang saat itu baru 15 tahun, menantang dirinya untuk merantau ke luar negeri. Berbekal restu sang ibu yang rela menjual sepetak tanah, ia berangkat ke Singapura melanjutkan sekolah dengan tekad memenangi apa yang “direbut” darinya.

Hidup di Singapura dan belajar di sekolah internasional mengantarkan Tasniem melihat dunia global. Di sisi lain, remaja belasan tahun ini juga didera cobaan hidup merantau: rindu keluarga, kesepian, terasing dan uang pas-pasan seringkali merayunya untuk menyerah dan pulling.

Beruntung, Tuhan kirimkan tiga teman serantau; Cecilia asal China, Aarin asli India, dan Angelina dari Indonesia. Empat sekawan ini sekalipun berbeda dalam keyakinan dan banyak hal lain, berhasil melewati suka-duka dan sukses membangun persahabatan. Petulangan mereka menjadi suguhan menarik sarat makna.

Mampukah Tasniem memenangi apa yang menjadi tekadnya? Mampukah ia menjadi bintang yang paling terang?

Review:
Saat masa smp Tasniem memiliki ambisi utama untuk melanjutkan masa sekolahnya di SMA 3. Tetapi pada saat selesai ujian nasional dan pengumuman pun datang ia mendapatkan hasil yang jelek, hasil yang tidak akan mengantarkannya ke SMA impiannya. Karena impiannya untuk memasuki SMA 3 tidak bisa dicapai, Tasniem harus memikirkan langkah selanjutnya untuk pendidikannya, dengan penuh kesedihan dan kekecewaan dia tidak bisa menentukan pilihan sampai akhirnya ia memutuskan untuk berkunjung ke rumah neneknya di Solo dan disana akhirnya dia menemukan jawabannya, yaitu Singapura. Saat pulang ia langsung meminta izin kepada ibunya untuk merantau ke Singapura.

Pada awalnya ibunya tidak memberikan izin karena alasan jarak dan biaya. Namun akhirnya setelah ibu Tasniem berunding dengan ayahnya, Tasniem pun diberikan restu untuk menuntut ilmu di Singapura. Berbekal restu kedua orang tua dan hasil penjualan sepetak tanah, Tasniem pun berangkat menuju sekolah barunya, Globe College. Globe College adalah sekolah asrama yang akhirnya mempertemukan Nim dengan ketiga sahabat barunya yang juga teman sekamarnya. Aarin Mohanty dari India, yang sudah lama tinggal di Inggris. Cecilia Ng dari China. Angelina Soemantri dari Jakarta.

Bersama teman-temannya mereka saling membantu satu sama lain menghadapi hidup di Singapura bersama. Banyak kejadian yang terjadi dan pengalaman-pengalaman yang didapatkan Tasniem, mulai dari bekerja paruh-waktu hingga bisa membiayai tiket pulang ke Indonesia hingga menentukan pilihan untuk antara menemani temannya bertemu dengan Ayah yang sudah lama tak ditemuinya tau pulang ke kampung halaman. Tak lupa juga cerita Tasniem dengan Ridho.

“Jadikan kegagalan sahabat setiamu. Bukan berarti kamu harus selalu gagal, namun ketika kegagalan datang, sambutlah ia sebagai sahabat. Mengapa? Karena kegagalan adalah cermin yang mengingatkan kita untuk berusaha lebih baik. Tanpa cermin itu kita tidak bisa melihat diri sendiri, tidak bisa mengevaluasi diri.”

read the full review and enter the giveaway here http://booksoverall.blogspot.co.id/20... [ends April 21, 2016]
Profile Image for Arum Mayasari.
1 review
May 5, 2016
Dalam novel tersebut menceritakan tentang seorang Tasniem yang pernah gagal dengan nilai nem yang sangat mengecewakan dan hal tersebut berakibat buruk pada keinginannya untuk melanjutkan sekolah di SMA 3 Yogyakarta karena standar nilai kelulusan di sekolah SLTP tidak mencukupi standar yang ditentukan. Dari kejadian tersebut Tasniem merasa sangat kecewa terhadap dirinya sendiri sampai-sampai ia jarang keluar kamar terkecuali hanya untuk makan dan jika ada kepentingan saja, ia lebih memilih untuk berdiam sendiri di kamarnya. Setelah kejadian tersebut ia memutuskan untuk berkunjung ke rumah neneknya dengan tujuan ingin mencari suasana yang ia harap bisa menenangkan hatinya dari kekecewaan tersebut.
Ketika ia berada di Station Tugu untuk membeli tiket kereta dan akan melakukan perjalanan ke rumah neneknya di Solo, ia melihat ada sekelompok teman kelasnya yang terlihat sedang membeli tiket untuk berlibur lalu tak lama ada sahabatnya Erika melihat Tasniem dan memanggil-manggil nama Tasniem dari kejauhan, tapi kemudian Tasniem melarang Erika untuk tidak teriak memanggil namanya dengan keras karena khawatir akan terdengar oleh sekelompok temannya tadi karena itu akan membuat Tasniem merasa malu dan takut akan terkena ejekan teman-temannya karena nilai yang ia dapat. Di perjalanan menuju Solo ia mengalami beberapa kejadian diantaranya melihat seorang copet yang berhasil menjambret tas seorang Ibu tapi dengan tidak sengaja copet tersebut tertangkap dari kejaran masa karena tersandung Tasniem yang sedang menjongkok membetulkan tali sepatunya.
Sesampainya ia di rumah neneknya, Tasniem banyak berbincang dengan neneknya, lalu Tasniem melihat sebuah foto yang terpajang di dinding rumah neneknya dan ia bertanya mengenai seorang teman yang berada samping neneknya dalam foto tersebut, nenek menceritakan siapa temannya tersebut yaitu seorang teman dekat neneknya pada saat muda kemudian secara tidak sengaja nenek berfikiran agar Tasniem pergi merantau ke Singapur karena kebetulan saat itu teman dekat dalam foto tersebut bertempat tinggal di Singapur, lalu nenek mengungkapkan inisiatifnya tersebut kepada cucunya Tasniem tapi tidak secara langsung menyuruhnya merantau ke Singapur, nenek hanya menyarankan Tasniem untuk pergi merantau saja untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat SLTA.
Tasniem pulang kembali menuju Yogyakarta untuk menyampaikan saran dari neneknya, ketika di perjalanan pulang Tasniem berfikir bahwa pilihannya untuk pergi merantau sudah ia rasa yakin dan ingin segera menyampaikan keinginannya tersebut pada ibunya di rumah dan sesampainya di rumah segera ia sampaikan hal tersebut pada ibunya sembari menyerahkan majalah yang ia dapat dari ibu yang terkena copet di perjalanan menuju Solo, pada akhirnya ibunya menyetujui keinginan anaknya tersebut.
Tasniem adalah seorang gadis yang tidak pernah kenal dengan putus asa, karena kepribadian dia yang terbentuk dari kedua orangtuanya mendidik tasniem dengan penuh rasa cinta serta di didik dengan secara disiplin. Kegagalan satu tujuan yang dicapai oleh Tasniem membuat dia menjadi seorang yang berani mengambil keputusan dalam kehidupanya untuk merantau jauh dari kedua orangtua dan saudaranya. Nilai Nem yang sangat mengecewakan membuat Tasniem percaya bahwa akan ada hikmahnya. Serta kesabaran yang tiada hentinya mengantarkan dia menjadi seseorang yang membuat kedua orangtuanya bangga akan dirinya. Nilai ESBTASNAS jelek hanya kesuksesan yang tertunda. Mungkin pada saat dia mendapat nilai bagus mungkin akan berbeda cerita kembali. Kejadian demi kejadian dijalani dalam setiap detik hidup tasniem. Di mulai dengan nilai nem yang hanya 44,73 kemudian berkunjung dirumah nenek yang ada di solo dengan berbagai perjalanan menemukan tulisan Singapore yang ada di dalam keluarga yang menggunakan jaket bertuliskan Singapore, kemudian tas ibu-ibu yang kecopetan setelah itu ada majalah yang bertuliskan Singapore, setelah itu yang terakhir adalah teman dekat sang nenek yang sampai sekarang masih berada di Singapore.
Singapore adalah pilihan yang terbaik setelah nilai nem yang tidak cukup untuk memasuki SMA 3. Singapore memberikan pelajaran hidup yang berharga untuk tasniem. Dimulai dari teman seperantauan yang semuanya berbeda-beda agama, berbeda-beda ras, suku dan bahasa yang di persatukan dalam satu asrama dan hidup bersama selama 3 tahun. Hidup di singapura dan belajar di sekolah internasional mengantarkan Tasniem melihat dunia global. Di sisi lain, remaja yang masih berumur 16 tahun ini mengalami cobaan yang begitu berat dengan merantau, yang semua orang belum tentu bisa menjalaninya, rindu akan adanya keluarga dan hanya uang jajan yang pas-pasan.
Displaying 1 - 30 of 70 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.