Hidup Jason Evans tak ubahnya berlayar di laut teduh. Tak ada kata yang mampu menggambarkan kehidupannya selain sempurna! Ia hidup bahagia bersama istri yang sangat mencintainya, memiliki karir yang gemilang, dan dikelilingi banyak sahabat baik. Kebahagiaannya tak terusik, hingga seorang tak dikenal mengiriminya sebuah foto aneh-foto batu nisan-dengan pesan mengejutkan dibaliknya: Kau sudah mati.
Jason yakin foto itu hanya ulah jail seseorang, tetapi kemudian ia menerima kiriman foto kedua. Kali ini dengan pesan yang lebih membingungkannya: Kau mungkin merasa hidup, tapi sesungguhnya kau tak ada di dunia ini...
Jason mulai merasa nyawanya terancam. Pencarian akan batu nisan yang tertera dalam foto menjadi obsesinya: Batu nisan yang mungkin saja adalah penanda makamnya sendiri. Ia pun menemukan bahwa hidup tak seperti yang selalu ia yakini selama ini.
Kemudian, foto ketiga datang dengan pesan: 18 Agustus, hari kematianmu.
Setelah mengenal tulisan John Connolly dengan kisah Charlie Parker-nya, aku memiliki standar yang cukup tinggi untuk buku yang menyangkut masalah detektif, misteri, ataupun yang ada aura supernaturalnya. Bukan berarti aku tidak akan bisa menikmati buku lainnya dengan genre yang sama, namun cerita dengan twist atau misteri apapun, tidak terlalu mengejutkanku lagi.
Buku "The Day You Died - Kau Sudah Mati!" karya Jack Lance ini cukup menarik. Jason Evans, seorang pekerja bagian periklanan yang hidupnya tenang-tenang saja hingga suatu hari dia menerima 3 foto polaroid yang seakan menerornya. Foto-foto tersebut adalah foto sebuah pemakaman dan batu nisan. Ada pula tulisan yang menyatakan bahwa Jason sudah mati. Sejak saat itu, hidup Jason tidak pernah tenang. Mimpi buruknya datang kembali setelah 4 tahun tidak pernah datang. Fobia terhadap api semakin parah dan mempengaruhi hubungannya dengan sang istri yang memiliki ketakutan akan kematian.
Buku ini cukup seru. Bagian awal cukup menimbulkan penasaran dan cukup asyik dibaca. Menjelang pertengahan, buku ini masih asyik untuk diikuti namun tidak sampai menimbulkan rasa penasaran yang berlebih hingga ingin segera menyelesaikan buku ini. Penyelesaian dan twist menjelang ending cukup menarik walaupun terasa tidak dibangun dengan cukup baik.
Bagian yang agak mengganggu adalah penggunaan nama yang tidak konsisten. Bahkan dalam beberapa paragraf penyebutan nama orang yang sama berbeda dan ini kadang membuatku agak bingung.
Selain itu, entah mengapa beberapa paragraf dalam buku ini tercetak tebal (bold). Aku mengira hal ini adalah bagian yang penting, namu ternyata tidak. Ada 2 bab yang penulisannya tiba-tiba tebal, dan satu paragraf kembali nomal, dan paragraf berikutnya tebal lagi. Aku hanya bergumam, "heh? ini maksudnya apa? Salah cetak?".
Kesimpulanku, buku ini cukup bagus, cukup seru, dan misterinya pun dikemas cukup menarik. 3 bintang cukup laah...
(Pertama-tama saya ingin mengatakan bahwa versi yang saya baca BUKAN versi yang satu ini, tapi terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan judul 'The Day You Died-Kau SUdah Mati!' terbitan Bhuana Sastra)
Saya membeli novel ini tanpa berpikir panjang setelah melihat embel-embel 'telah diterjemahkan ke dalam 13 bahasa di 25 negara', tapi di goodreads saya hanya menemukan versi asli dalam bahasa Belanda, versi bahasa Prancis, dan beberapa bahasa lain yang sejujurnya saya sendiri tidak tahu *orz* namun jumlahnya jelas-jelas kurang dari 13 (mungkin database-nya belum di update lagi). Awalnya tidak berniat baca sampai selesai, hanya iseng baca beberapa bab pertama, tapi ternyata ceritanya sangat menarik sampai saya begitu sulit melepaskan novel ini. Sempat berpikir awalnya ini adalah novel horor mulai dari Jason yang dikirimi tiga buah foto polaroid misterius dan selalu dibayang-bayangi mimpi tentang sosok 'roh api' serta pyrophobia yang dia sendiri tidak ingat dipicu oleh kejadian apa. Mungkin bisa dikategorikan sebagai thriller, dan saya SANGAT suka cerita dengan twist yang sangat kental dan alur yang memikat (walau di awal rasanya alurnya berjalan sangat lambat). Well, saya rasa memberikan rating 5 bintang tidak berlebihan untuk karya yang satu ini :D
Narra la vida de Jason que tiene una vida normal; una esposa que lo ama, un trabajo estable y buenos conocidos. Lo que persigue a Jason es un trauma que no sabe de donde proviene "pirofobia". Hasta que de pronto le entregan diversas polaris donde se muestra diversas fotos una de ellas tiene escrito al reverso un incoherente mensaje "estas muerto". Un vida se verá sacudida, él emprende el viaje de saber el porqué le pasa esto, con ello vendrán sus pesadillas sobre su mayor miedo "el fuego".
Nadie sabe el porqué hasta que el autor lo resuelve, nadie sabe de los secretos que lo envuelve porque antes de tener conocimiento de ellos fueron escondidos...
Jujur saja, saya membaca novel ini karena embel-embel di kover "Telah diterjemahkan ke dalam 13 bahasa di 25 negara". Begitu lihat embel-embel tersebut, saya merasa penasaran dan tertarik untuk membaca sinopsisnya. Dan sinopsisnya juga bikin saya tambah penasaran setengah idup. Lalu saya membelinya,,, dan 12 bulan kemudian barulah selesai dibaca dan tidak mengecewakan!
Sinopsisnya bisa dilihat diatas ^^
Jadi pada awalnya alurnya terasa lambat. Disatu sisi saya sedikit merasa bosan dan pengen langsung loncat ke akhir. Tapi disisi lainnya saya tidak bisa untuk tidak berhenti membacanya. Rasa penasaran saya cukup besar untuk mengetahui secara pasti bagaimana kejadian sebenarnya. Gaya ceritanya punya daya tarik tersendiri. Untuk pendeskripsiannya bener-bener detil. Ada di satu malam saya kesulitan tidur gara-gara pendeskripsian tersebut (atau saya yang terlalu penakut?)
Lalu yang terpenting, twist di novel ini. Saat membaca, saya langsung curiga sama semua tokoh yang muncul dan punya hubungan dengan Jason. Tapi setelah itu, saya berpikir bahwa cerita ini ada unsur supranatural, yang membuat kecurigaan akan tokoh-tokoh tersebut lenyap. Ada dua hal mengapa saya mengaitkan dengan unsur supranatural: 1) Salah satu tokoh di novel menderita,, gangguan jiwa, dan sepertinya punya kemampuan indera keenam. 2) Jason sempat meneliti penyebab pirofobianya dan kemudian menghubungkannya dengan konsep reinkarnasi. Tapi saya salah,, semua analisis (kayak detektif aja XD) yang saya buat salah. Dan saya bener-bener ga kepikiran ternyata tokoh itu adalah dalangnya.
Sayangnya ada beberapa hal yang bikin novel ini kurang enak dibaca (no.1) dan agak membingungkan (no.2):
Terlepas dari kekurangan-kekurangan itu, saya cukup menikmati novel ini. Endingnya pun tak terduga karena
Sebenernya saya bingung mau kasih berapa bintang. Tapi untuk saat ini tiga bintang rasanya cukuplah~
Me pareció un buen libro, lo suficiente como para entretenerte. Tiene el toque de misterio suficiente como para mantener la historia interesante, pero no como para provocar algún efecto en las emociones del lector. Tengo que admitir que me gustó bastante el giro que tiene al final; la explicación que tiene todo es, sin duda, inesperada, y es algo que suelo apreciar mucho en este tipo de libros. Sin embargo, me gusta más un libro que me haga morderme las uñas y terminar cada capítulo con una sensación helada en el estómago y un deseo incontrolable por seguir leyendo, y este no es el caso.
Nergens spannend, nergens vlot. De zinnen zijn geforceerd en de taal is warrig. De emoties van de hoofdpersonen zijn net als de keuzes die ze maken volstrekt oninvoelbaar. Het boek trekt en wringt en voelt onaf en gehaast.
MENEGANGKAN! Satu kata yang dapat kami sampaikan terkait penilaian kami akan novel ini. Seru banget pokoknya petualangan yang disajikan penulis. Penulis sangat lihai sekali dalam merangkai cerita yang sedemikian menegangkan tapi juga seru untuk dilanjutkan (membacanya).
Jack Lance est néerlandais et Tu es mort est son premier thriller à avoir été traduit en France. D'abord journaliste spécialisé dans le paranormal et le surnaturel, Jack Lance s'est ensuite tourné vers l'écriture de nouvelles fantastiques et de thrillers. Surnommé par la presse le "Stephen King néerlandais," il est traduit dans douze pays. Ses trois romans se sont vendus aux Pays-Bas et en Flandre à plus de 100.000 exemplaires et l'une de ces précédentes nouvelles, Night Eyes, est actuellement en cours d'adaptation aux Etats-Unis et devrait sortir sur les écrans début 2014.
A première vue, Jack Lance serait donc le nouveau maître de l'angoisse et du suspense et son thriller Tu es mort une pépite à ne manquer sous aucun prétexte. Mais qu'en est-il vraiment ?
Force est de constater que depuis sa sortie, le 13 novembre dernier, le livre rencontre un énorme succès ! Il suffit d'une rapide recherche sur Google pour se rendre compte du nombre d'occurrences impressionnant que compte le livre une semaine seulement après sa sortie ! Indéniablement, Tu es mort crée le buzz sur la blogosphère littéraire ! La raison à cela ? Un book trailer efficace mais surtout une opération de teasing audacieuse et formidablement bien orchestrée qui donnent envie au lecteur de se jeter sur ce page-turner digne des meilleurs thrillers américains !
Pourtant, a priori, l'histoire n'a rien de révolutionnaire. Jason Evans est un publicitaire a su tirer son épingle du jeu. Il vit à Santa Monica et il est marié à Kayla auprès de qui il coule une existence paisible et harmonieuse. Mais sa vie vole en éclats le jour où il reçoit une série de polaroïds macabres accompagnés de messages pour le moins troublants...
"Tu crois être vivant, mais tu n'existes pas..."
Et là, tout comme le personnage principal, le lecteur est ferré ! A partir de ce moment précis, il est tout bonnement impossible de ne pas tourner les pages pour savoir qui menace Jason Evans ! L'intrigue est servie par une succession de petits chapitres très courts et de rebondissements qui rendent la lecture totalement addictive. Jack Lance a su faire de Tu es mort un thriller psychologique captivant, haletant, dont la tension va crescendo. Si l'on pressent, dès les premières pages, que le dénouement de cette histoire ne sera pas banal, on est bien loin de s'imaginer le final que l'auteur nous réserve !
Le tour surnaturel qu'il donne à son intrigue, la phobie de Jason, ses horribles cauchemars et surtout, ses messages énigmatiques et macabres à souhait ne peuvent qu'intriguer et obséder le lecteur ! Pris au piège, il ne peut que tourner les pages ! Frénétiquement, compulsivement, pourvu qu'il sache ! Et il saura car Jack Lance n'est pas du genre à égarer son lecteur sur de fausses pistes. Celui-ci sera amené à suivre les mêmes indices, à partager les mêmes réflexions que le personnage principal, à commettre les mêmes erreurs de jugement jusqu'à découvrir la vérité et être, comme lui, abasourdi par la solution de l’énigme...
Juste histoire de pinailler, on pourra regretter le style un peu "débraillé" de l'auteur et son épilogue à l'américaine où tout est bien qui finit bien, mais on lui pardonnera cette petite facilité, tant son intrigue est incroyablement ciselée.
Tu es mort est un bon thriller qui fera le régal de tous les amateurs de lecture frissons !
Too many characters with too little background information causing some confusion. The ending is unpredictable so it kind of make up for the confusion.
Jason Evans heeft een goede baan op een reclamebureau en is gelukkig getrouwd met Kayla. Op een dag ontvangt hij een polaroidfoto met een grafzerk erop en de tekst: “Jij bent dood “.Een dag later nog een met de tekst :”Je denkt dat je leeft, maar je bestaat niet “ .En een derde met de macabere tekst : “18 augustus , je sterfdag “erop .Jason wordt gek bij het idee dat iemand hem wil doden dus besluit hij het graf te gaan zoeken . Dit valt echter niet mee.Hij krijgt ook weer heftige nachtmerries over vuur en stemmen die tegen hem zeggen dat hij dood is .Jason is bang voor vuur, hij heeft al vanaf kind af aan pyrofobie. Waardoor dit ontstaan is weet hij niet. In zijn jeugd heeft hij nooit een brand meegemaakt. De polaroids houden zijn geest bezig en de nachtmerries worden erger .Om van zijn nachtmerries over vuur en de angst hiervoor af te komen , krijgt hij hypnotherapie. Hij komt hierdoor dichter bij de oorzaak van zijn angst. Hij kan het verband met de foto’s niet leggen maar toch heeft hij het gevoel dat het er mee te maken zal hebben. Intussen stelt dit alles zijn relatie met Kayla behoorlijk op de proef. Zij vind dat hij er te veel achter zoekt en er te diep op ingaat. Zij is zelf bang voor de dood en nu Jason het raadsel rond de polaroids wil oplossen, wordt het haar teveel. Toch gaat ze met hem mee en steunt ze hem tijdens de zoektocht naar het graf. Op het moment dat Jason ontdekt heeft wat hij zocht en wat er met hem gaat gebeuren , gebeurt er iets met Kayla. Dit was niet wat hij gehoopt had te bereiken . Jason is hiervan erg geschrokken en in de war maar hij wil haar en het mysterie van het graf niet loslaten. In zijn eentje komt hij erachter hoe het zit . Hij beleeft zijn grootste nachtmerrie echt .Alles valt op zijn plaats .Hij komt erachter dat niet alles is zoals het lijkt ,alles heeft een reden. Soms zijn dingen te verklaren , soms niet en moet je het laten rusten. Het plot is zeker niet voorspelbaar .Jack Lance is erg goed in de opbouw van het verhaal. Het begint rustig , zelf een beetje saai maar naarmate het verhaal vordert , hoe spannender het wordt. Het boek heeft een paar hoofdstukken die voor mij onrealistisch overkomen maar het is een duidelijk en zeer spannend boek .Als je in reïncarnatie gelooft , moet je dit boek zeker lezen . Het verhaal speelt zich af in verschillende staten van de Verenigde Staten . De omgeving wordt goed en duidelijk beschreven . Je voelt de hitte van de woestijn en de sfeer op het kerkhof. Dit komt zeer realistisch over. Bijna griezelig soms. De personages van Jason en Kayla zijn goed kozen voor dit verhaal. In het begin denk je te weten hoe het tussen hen zal aflopen maar gaandeweg het verhaal ga je daar aan twijfelen. Zeer goed . 5 sterren
di bab-bab awal ketika baca buku ini, penggunaan kalimatnya terasa akrab seperti gaya Dean Koontz. Baru setelah googling penulisnya, yang ternyata orang Belanda, Jack Lance ternyata penggemar Dean Koontz dan Stephen Kings. Horee! Kita sama-sama ngefans! Tapi, dengan efek yang berbeda dari keduanya, yang memotivasi untuk memburu semua buku-bukunya, efek dari penulisan Jack Lance tidak memberikan hasil yang sama. Meski demikian, buku ini sebenarnya layak dapet 3,5 bintang.
Jadi begini. Buku ini bercerita tentang Jason Evans yang punya pekerjaan bagus, beristri cantik, kehidupan normal, yang tiba-tiba saja mendapat beberapa foto polaroid bergambar batu nisan dengan kalimat ancaman, "kau sudah mati!". Foto-foto itu mengganggunya. Bahkan membangkitkan kembali fobia lamanya terhadap api. Jason kerap bermimpi tentang api dan segalanya terasa surealis. Bahkan saya pun terombang-ambing memikirkan, apakah ada hantunya? the real angel of death? Perlahan-lahan, dengan serangkaian kebimbangan Jason (dan pembacanya), satu per satu misteri terbuka. Dan semuanya berhubungan dengan masa lalu Jason. Tapi Jason masih belum paham sepenuhnya tentang si pengirim foto. Jadi, semuanya diceritakan dengan sangat lambat tapi cukup dipikirkan dengan baik. Endingnya, terasa kurang bumbu, but I'll let it slide.
La verdad es que no es nada del otro mundo. No ha conseguido despertarme ninguna emoción ni hacerme empatizar con los personajes. Aun así, la historia no está mal
Gw lebih puas dengan buku pertama dari Jack Lance ini. Pantes aja novel ini sdh diterjemahin ke dlm 13 bahasa di 25 negara. WOW Banget kan tuh! Gw akui buku ini lebih terasa thriller & misterinya dibandingkan buku terbarunya (Dark Memory yg udah gw baca sebelumnya). Banyak yg dibahas di buku ini, tentang Pirofobia, reinkarnasi, kenangan masa lalu. Twistnya, kereenn. Gw sampe gak nyangka ternyata pelakunya "dia".