What do you think?
Rate this book


344 pages, Paperback
First published September 1, 2013
"Orang-orang ini dengan mudahnya mengatakan kalau ia hilang ingatan. Seperti menaiki mesin waktu saja; membuang dirinya ke masa depan, lalu memaksanya menghadapi kejadian-kejadian yang begitu asing baginya...Kisah The Stolen Years ini awalnya adalah sebuah skenario film yang kemudian dibukukan. Ceritanya dengan tema hilang ingatan yang sekaligus memberi kesempatan kedua bagi karakternya ini berhasil menarik perhatianku sejak bab-bab awalnya. Penulisnya berhasil membuatku penasaran tentang apa yang akan sebenarnya terjadi di masa lalu, apa yang akan dilakukan oleh karakter utamanya dan apakah ia bisa memperbaiki kesalahan yang telah dibuatnya di masa lalu. Pergerakan alur ceritanya sendiri cukup lambat karena karakter utamanya, He Man, harus perlahan-lahan beradaptasi dengan kehidupan yang asing baginya dan juga mengumpulkan potongan kenangan yang telah ia lupakan dari orang lain. Meski demikian, ceritanya tetap mengalir dengan baik dan aku sangat menikmati misteri masa lalu He Man yang diungkapkan secara perlahan-lahan. Tentu saja aku tidak akan mengungkapkan misteri tersebut dalam review ini karena bagian itu adalah salah satu bagian terpenting dari ceritanya yang benar-benar membuatku terkejut. Sebagian besar alur ceritanya benar-benar aku sukai, namun sayangnya aku kurang begitu puas dengan ending ceritanya. Menjelang akhir, aku sedikit banyak sudah menebak bahwa ceritanya akan menuju ke arah yang 'kurang menyenangkan'. Tetapi yang benar-benar membuatku kecewa adalah bagian ending-nya yang dibuat menggantung. Hal tersebut membuatku merasa tidak adil karena aku sudah mengikuti perjalanan He Man dan Xie Yu sepanjang buku ini tanpa mendapatkan jawaban yang pasti tentang 'hasil akhir'-nya. Aku tahu penulisnya pasti punya alasan tersendiri mengapa ia membuat ending-nya demikian, hanya saja secara pribadi aku mengharapkan penutup yang jelas untuk cerita ini :'(
Di satu sisi, sang waktu telah memberinya begitu banyak pengetahuan baru padanya. Namun, waktu juga telah membawa pergi orang yang paling ia cintai."
"Berapa banyakkah hubungan yang kandas karena keegoisan, dan berapa banyakkah cinta yang memudar karena kerakusan?"Berbicara tentang karakter dalam buku ini, karakter yang menjadi favoritku adalah Xiao Huan, sahabat baik He Man. Dari semua karakter yang menjadi fokus ceritanya, ia adalah sosok yang paling berkesan meskipun ia tidak berperan banyak. Lewat kata-katanya dan respons-nya terhadap He Man yang lupa ingatan, aku merasa bahwa Xiao Huan sungguh adalah seorang sahabat sejati. Walaupun He Man yang dulu telah begitu menyakitinya, ia bisa menganggap lalu itu semua dengan lapang dada. Dialog-nya pun juga menggambarkan dengan baik sosok Xiao Huan yang menyenangkan :))
"Datangi dia dan tanyakan langsung padanya. Waktu berlalu dengan begitu cepat. Lihatlah dirimu sendiri. Begitu kau membuka mata, lima tahun sudah berlalu! Jangan-jangan waktu kau memejamkan mata sekali lagi, kau sudah harus dimasukkan ke peti mati. Lalu, masih mau menunda sampai kapan?"
"Yang lalu biarlah berlalu. Semarah apa pun aku saat itu dan seberapa pun merasa bersalahnya kau kepadaku, itu tidak akan mengubah apa-apa. Hanya saja, waktu bertemu denganmu tadi, aku sadar diriku masih ingin menjadi sahabatmu."Tentu saja aku juga akan membahas karakter utamanya: He Man dan Xie Yu. Konflik rumah tangga yang diangkat dalam buku ini adalah sesuatu yang cukup sering aku lihat di kehidupan nyata; yaitu istri yang berkembang jadi lebih dominan karena jabatan yang lebih tinggi atau pendapatan yang lebih besar. Permasalahan yang diangkat ini sangat realistis dan menurutku respon Xie Yu terhadap masalah ini pun sangat manusiawi—karena lelaki cenderung ingin merasa diandalkan atau dibutuhkan oleh pasangannya. Hal tersebutlah yang kemudian memicu perceraian mereka; walaupun jika ditelusuri lebih dalam, sesungguhnya mereka masih sangat saling mencintai satu sama lain. Oleh karena itulah kemunculan He Man dengan ingatan 5 tahun lalu seolah memberi kesempatan kedua bagi mereka. Dan di kesempatan kedua ini pun, Xie Yu juga bisa turut memperbaiki kesalahannya yang dulu. Perkembangan karakter itulah yang aku suka dari He Man dan Xie Yu; dan interaksi mereka menjelang akhir menurutku sangat manis :'))
"Dunia ini penuh dengan beragam cerita cinta. Begitu banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Sebenarnya, kalau diperhatikan baik-baik, semua itu hanyalah suatu cobaan kecil dalam kehidupan."Secara keseluruhan aku sangat menikmati buku ini; terjemahannya sangat luwes, ceritanya mengalir dengan baik, dan kisahnya berhasil membuatku bersimpati terhadap karakter utamanya. Sewaktu membaca buku ini ada saat ketika aku berandai-andai jika aku mengalami hal yang serupa dengan He Man. Aku sungguh tidak ingin saat bangun dari koma aku mendapati bahwa aku kehilangan sahabat terbaikku dan bahkan orang yang aku cintai. Bagiku, kisah ini mengingatkan untuk menghargai orang-orang yang kita cintai agar tidak ada penyesalan nantinya sewaktu kita kehilangan orang tersebut—karena tidak semua orang akan mendapatkan kesempatan kedua seperti He Man.
"Jika saat kau terbangun lalu mendapati lima tahun sudah berlalu... kita berdua telah berpisah... apa kau akan melakukan segalanya untuk mencariku kembali?" —hlm 40
"Yang lalu biarlah berlalu. Sekarang apa pun aku saat itu dan seberapa pun merasa bersalahnya kau padaku, itu tidak akan mengubah apa-apa. Hanya saja, waktu bertemu denganmu tadi, aku sadar diriku masih ingin menjadi sahabatmu. Ingin selamanya menjadi teman baikmu..." —hlm. 227
Sepertinya, cinta juga bukanlah sesuatu yang terdengar hebat. Mereka berdua begitu saling mencintai, tapi tetap saja tidak mampu melewati setiap cobaan hidup yang datang pada mereka. Sepertinya, Tuhan tidak begitu senang melihat pasangan kekasih yang begitu saling mencintai. —hlm. 321
He Man berteriak kencang, "Pohon! Pohon!"
Xie Yu bergesa memalingkan wajahnya ke depan, tapi semuanya sudah terlambat
"Kak, tolong beritahu aku, kenapa Xie Yu tidak menjengukku? Apa dia terluka parah? Apa dia masih menyalahkanku?"
Ponsel He Man berbunyi. Ia merasa aneh, bagaimana mungkin seseorang menghubunginya yang sedang berada di luar negeri? Dengan segera, ia mengeluarkan ponsel dari tasnya.
SMS itu ternyata dikirim oleh Xie Yu. Isinya, Hoi, bicaralah denganku.
Tanpa sadar He Man berkata sambil menatap ke layar ponsel, "Kenapa?!"