Jump to ratings and reviews
Rate this book

Dijual: Keajaiban

Rate this book
“Kalau si perempuan yang jatuh cinta lebih dulu, pasti selalu sial.”
—Di Sebuah Taman, Gao Xingjian

Ayahku menaruhku di pangkuannya, dan dalam waktu yang lama kami pun memandang ke luar jendela bersama. Ujung-ujung pohon sipres yang berdiri antara kami dan bangunan apartemen di depan kami mulai bergoyang diembus angin. Aku suka cara ayahku menghidu.
—Memandang ke Luar Jendela, Orhan Pamuk

“Apa yang bisa kita lakukan dengan sesosok makhluk yang kembali kepada hukumannya dengan begitu sukarela?”
—Anjing Buta, R.K. Narayan

Selamat menikmati suguhan karya 9 pengarang besar Asia dalam buku ini. Saya memperoleh “rasa” yang lebih-kurang sama. Ini merupakan indikasi bahwa hasil terjemahan Tia Setiadi akurat tidak hanya pada tataran bahasa. —Bernard Batubara, penulis.

228 pages, Mass Market Paperback

Published December 21, 2015

2 people are currently reading
27 people want to read

About the author

Tia Setiadi

23 books1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1 (3%)
4 stars
16 (61%)
3 stars
8 (30%)
2 stars
1 (3%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 12 of 12 reviews
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
December 31, 2015
Ketika sembilan karya besar para sastrawan kenamaan Asia dikumpulkan dalam satu buku, maka hadirlah sebuah keajaiban. Sebuah keajaiban yang kemudian dapat dibeli oleh para pembacanya dengan membeli buku ini (atau dengan meminjamnya juga boleh deh. Tapi masak buku sebagus ini pinjem, kudu punya ah!). Sembilan sastrawan Asia dengan sembilan karyanya: sembilan cerita dengan corak, kekhasan, dan warnanya masing-masing. Juga, dengan keajaiban yang diusung setiap penulis. Membaca buku ini ibarat mengambil kepingan permata dari sebuah kantung uang (seperti yang terlihat pada sampul depannya), kita tidak tahu akan menemukan apa setiap kali tangan kita masuk ke dalamnya, atau setiap kali pikiran kita masuk dalam salah satu cerita di dalam buku ini.

Bagaimana membaca kumcer ini? Dinikmati saja tanpa terlalu mempermasalahkan pilihan kata si penerjemah yang kadang ajaib, tapi efeknya lebih mengena. Seperti biasa, saya selalu tidak urut kalau membaca buku kumcer (*nggak ada yang nanya) karena cara ini menurut saya lebih bikin deg-degan (*makanya minum white coffee #malahiklan) dan seru, kayak memasukkan tangan ke dalam kantung uang berisi sembilan permata, kita tidak akan pernah tahu apakah dapat batu rubi, safir, kecubung, atau akik. Tapi, apa pun warna dan jenisnya, Sembilan cerpen dalam buku ini memiliki keistimewaannya masing-masing sehingga tidak selayaknya dibanding-bandingkan. Apa pun yang diusungnya, karya-karya ini telah mendapatkan tempat di hari para pembaca dunia.

“Memang, ada begitu banyak hal yang seharusnya diterima begitu saja.” (hlm. 25)

Siapa saja Sembilan penulis Asia yang karyanya terkumpul dalam buku kumcer ini? Pertama adalah Gao Xingjian dengan cerpennya ‘Di Sebuah Taman’ yang berkisah tentang kisah di errr sebuah taman. Dari Sembilan cerpen di buku ini, saya kok merasa cerpen ini yang paling ‘biasa’ walaupun saya yakin saya saja yang memang belum bisa menangkap keindahan cerpen ini. Kedua adalah Khayriyah Ibrahim as-Saqqaf dengan cerpennya "Pembunuhan Cahaya di Alir Sungai.” Khayriyah Ibrahim as-Saqqaf ini adalah sastrawan kelahiran Makkah dan juga editor perempuan pertama di Saudi Arabia. Jarang-jarang kan kita baca karya sastrawan dari Saudi Arabia. Untuk tema dan isinya, mungkin bisa ditebak: tentang ketertindasan perempuan di Arabia. Pedih rasanya membaca nasib si tokoh yang bahkan dipaksa untuk membenci keluarganya sendiri atas pilihan hidupnya.

“Oh, betapa Maha Besarnya Engkau, Allah! Kau ciptakan hatiku, perasaan-perasaanku! Tak seorang pun dapat memiliki hati orang lain, demikian Firman-Mu!” (hlm. 39)

Selanjutnya ada karya Naguib Magfouz, pemenang Nobel Sastra tahun 1988. Sastrawan Arab yang konon paling produktif ini memang memiliki karya-karya yang khas dan sayang untuk dilewatkan. ‘Qismati dan Nasibi’, cerpennya dalam buku ini, masih menghadirkan antara unsur religiusitas serta latar Timur Tengah yang kental. Di balik kisahnya yang terlihat sederhana, terkandung pertanyaan-pertanyaan besar tentang takdir dan kehidupan.

"Kebahagiaan itu tak sulit ditemukan bagi sesiapa yang mencarinya." (hlm. 61)

Tidak lengkap rasanya kalau sebuah buku kumcer sastra dari Timur tidak menghadirkan karya dari Orhan Pamuk, sang maestro tulisan dari Turki. Dalam cerpennya ‘Memandang ke Luar Jendela,’ penulis membawa ciri khas ke-Istambul-annya. Membaca cerpen ini mengingatkan saya pada novel karyanya Istambul yang belum juga selesai saya baca sampai sekarang (padahal belinya sudah setengah tahun yang lalu). Pamuk memiliki gaya khas dalam bercerita, terutama dengan menghadirkan latar Istambul semasa kecilnya. Dalam cerpennya yang panjang ini, Pamuk seperti mengajak kita ke masa kecilnya, ikut mendengarkan kisahnya saat masih anak-anak. Kelihatannya mungkin biasa, tapi selalu ada sesuatu yang indah namun tak terjelaskan saat kita membaca karya-karyanya.

“Jikalau tidak ada yang bisa dipandang dan tak ada kisah-kisah untuk didengarkan, hidup niscaya akan boyak—atau membosankan.” (hlm 65)

Kemudian ada karya dari seorang sastrawan asal India R.K. Narayan dengan judul ‘Anjing Buta.’ Bagi yang sudah membaca karya-karya penulis India macam Divakaruni atau Arundhati Roy pasti akan langsung bisa merasakan ke-khas-an lokal yang sepertinya hanya dimiliki oleh para penulis dari anak benua ini. Cerpen ini dengan latar kemiskinannya yang sangat hidup berkisah tentang seekor anjing yang tetap mendatangi mantan tuannya meskipun binatang ini sering diperlakukan dengan buruk. Cerpen ini mengajak kita merenung tentang sifat manusia yang kadang lebih suka menderita di tempat yang sudah kenal ketimbang mencoba membebaskan diri dengan sesuatu yang baru. Terlalu terpaku di zona nyaman itu kadang memang tidak selalu baik.

“ … merupakan suatu anugerah besar bagi seorang lelaki untuk mempunyai sahabat-sahabat yang darinya dia bisa belajar sesuatu yang baru tiap-tiap hari.” (hlm 122)

Cerpen karya Salman Rushdie yang berjudul 'Di Selatan Dua Lelaki Tua India' juga turut hadir di buku kumcer sastrawan Asia ini. Penulis pemenang Booker Prize ini pernah menulis novel 'Satanic Verses (1988)' yang sempat menghebohkan dunia muslim. Beberapa bajakan dari buku ini konon bisa dipinjam di beberapa kolektor buku di Tanah Air. Salman Rusdie termasuk produktif dalam menghasilkan karya-karya sastra tingkat dunia, termasuk Midnight's Children dan Imaginary Homelands. Cerpennya di buku ini termasuk agak panjang—dan membosankan—buat saya, tapi keistimewaannya ada pada detail. Silakan dibaca sendiri, Tuan dan Puan.

“Kepercayaan, adalah korban usia juga.” (hlm. 132)

Sastrawan selanjutnya adalah Taufiq el-Hakim, yang cerpen karyanya 'Dijual: Keajaiban' dipilih sebagai judul kumcer keren ini. Saya—seperti juga editornya—menfavoritkan cerita ini dalam kumcer ini. Ada sesuatu yang menyentil tetapi sangat halus dalam cerpen ini, cara penulis untuk menggugah kesadaran pembaca begitu luar biasa: antara pengen ketawa sekaligus merenung setelah membaca cerpen ajaib ini. ’Dijual: Keajaiban’ berkisah tentang seorang Rahib yang diminta datang ke suatu desa dan mendoakan penduduknya. Sebuah anugrah bagi seseorang seringkali adalah musibah bagi orang lain. Inilah pentingnya memiliki pandangan yang luas, tentang perlunya memandang dari kedua sisi. Pada ending cerpen ini, pembaca yang teliti akan mengerti bagaimana ceritanya sebuah keajaiban dapat dijual.

“Iman telah membuat kalian mencapai semua ini. Kalian tak tahu kekuatan yang terhampar dalam jiwa pemeluk teguh. Iman adalah kekuatan, Anakku!” (hlm 152)

Selanjutnya, kita dibawa ke Jepang bersama Yukio Mishima. Ini pertama kali saya membaca karyanya (dan tahu namanya) tetapi cerpennya elok nian menghadirkan suasana Jepang dengan kentalnya. Elemen-elemen wajib dari Jepang semacam kimono, kuil, jembatan, dan sendal teklek-nya turut hadir dan menjadi penguat rasa untuk cerpen 'Tujuh Jembatan' ini. Terakhir namun tidak kalah asyik untuk disimak adalah cerpen 'Nampan dari Surga' karangan Yusuf Idris yang berasal dari Mesir. Dalam cerpen ini, pembaca akan dihibur oleh seorang bahlul yang mengecam Tuhannya sendiri, yang lalu membuat manusia menjadi gerah dan mereka pun mencoba untuk menghentikannya. Lewat cerpen di kumcer ini, para penulis akan mengajak pembaca untuk bertanya kepada diri, sudahkah kita baik-baik saja sebagai manusia.

“Keajaiban-keajaiban itu terkubur dalam hati kalian, laksana air di dalam batu, dan hanya iman yang bisa membangunkan mereka!” (hlm. 152)

Sebagai penutup, dihadirkan pidato Gao Xinjian saat menerima penghargaan Nobel untuk bidang Sastra tahun 2000. Penulis yang diasingkan sendiri oleh rezim pemerintahnya sendiri ini banyak menulis dari ‘persembunyian’ dan dia termasuk penulis yang mengobarkan kata-kata dibalik ancaman politik yang tidak menyukai tulisannya. Meskipun nyawanya sendiri terancam, tapi penulis ini tetap menulis dan menulis walau dari luar negeri karena dia percaya bahwa penulis tidak akan pernah mati selama orang-orang masih membaca karyanya. Sebuah keberanian yang layak diganjar hadiah Nobel Sastra.

"Setiap penulis memiliki tempatnya sendiri di rak buku dan dia hidup sepanjang mempunyai pembaca. Tak ada pelipur yang lebih besar dari penulis ketimbang bisa meninggalkan sebuah buku dalam harta karun besar sastra manusia yang akan terus dibaca di masa depan." (hlm 220)
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
May 30, 2018
9 cerita pendek dari 9 pengarang fiksi ternama di berbagai penjuru Asia - sayang tidak ada dari negeri sendiri... yg juga masih Asia. ;p

Dari negeri oriental, ada Gao Xingjian dan Yukio Mishima. Dari sub benua Indus ada R.K. Narayan dan Salman Rushdie. Dari Asia Tengah ada Turki yang punya Orhan Pamuk, Mesir dengan tiga sastrawannya; Naguib Mahfouz, Taufiq el-Hakim dan Yusuf Idris, serta yg paling unik dari Arab, seorang editor wanita pertama untuk koran, Khayriyah Ibrahim as-Saqqaff. 9 karya yang berbeda-beda gaya penceritaan dan dalam berbagai tema, satu yang sama, semuanya meninggalkan kesan mendalam setelah dibaca.

Di Sebuah Taman: belum lama sblm ini, aku sempat membaca buku kumcer Gao Xingjian, jd sdh melewati tahap *kaget* menghadapi narasi-narasi panjangnya tentang hal remeh nan sederhana. Karenanya, aku cukup suka dengan percakapan sepasang mantan kekasih yg terpisahkan oleh keadaan. Realistis. Tapi tetap menyisakan pedih.

Pembunuhan Cahaya di Alir Sungai: satu kata untuk cerpen ini: Malala.

Qismati dan Nasibi: berbeda dengan karya Mahfouz yg kubaca sebelumnya, Karnak Café, yg bertema politik kental, cerpen ini justru simpel dan mengusung tema mencari kebahagiaan yg tulus. Karakter utamanya unik, kembar siam.

Memandang ke Luar Jendela: Orhan Pamuk menyajikan cerita tentang kehilangan dan kesepian. Sedih.

Anjing Buta: "Apa yang bisa kita lakukan dengan sesosok makhluk yang kembali kepada hukumannya dengan begitu sukarela?". R.K. Narayan seakan sedang menyindir kita yg kadang lebih buta daripada orang buta.

Di Selatan Dua Lelaki Tua India: usia seseorang memang tak ada yg dapat memastikan. Dua lelaki tua beda watak, nasib dan jalan hidup, sama2 menunggu ajal. Entah apa yg ada di benak Salman Rushdie saat menulis cerpen ini, karena nuansanya aneh dan putus asa sekali.

Dijual: Keajaiban: terus terang, aku ngakak keras sekali saat mengetahui twist cerpen ini. Taufik el-Hakim pas sekali menggambarkan keajaibannya. *cerpen fav-ku*

Tujuh Jembatan: sejak pertama kali membaca novelnya, aku jd lumayan gandrung pada hasil2 karya Yukio Mishima. Selalu sederhana mengharukan, kaya detail dan realistis meski kadang sepi. Begitu juga cerpennya ini, tetang 3 geisha yg percaya bahwa dengan berdoa sambil melewati 7 jembatan -tanpa berbicara sama sekali- rupa2 permintaanmu pasti terkabulkan. Yeah, kayak hidup segitu gampangnya aja.... :))

Nampan dari Surga: eaaak... emang sableng ini tokoh utama cerpen Yusuf Idris ini. Tereak2 menyalahkan Tuhan, lha dianya sendiri enggan berusaha. Tapi tetangga2nya juga gak sensitip dan menolong sebelumnya. Eaaaakk... sindirannya ngena banget nih, buat kita semua.

Selain 9 cerpen tsb, ada tambahan prolog tentang menerjemahkan karya sastra dan pidato penerimaan nobel dari Gao Xinjiang. Ku merasa sedikit salah tempat sih, tapi isi pidato Gao ternyata cukup bernas untuk dinikmati. Sebuah pernyataan tentang sastra propaganda, sastra yang terbungkam dan sastra yang melindungi kesadaran pengarangnya. Sastra yang membuat manusia menjadi lebih beradab.
Profile Image for Wardah.
952 reviews171 followers
January 13, 2016
Dalam buku setebal 228 halaman ini, ada 9 cerpen yang disajikan. Sesuai dengan tulisan di kover, cerpen dalam buku ini ditulis oleh pengarang Asia. Kebanyakan nama-namanya belum pernah saya dengar. Yang paling familiar tentu saja Orhan Pamuk. Tapi ternyata begitu saya baca, ke-9 penulis ini memang terkenal. Beberapa di antaranya pernah mendapat hadiah Nobel.

Ke-9 cerpen di buku ini, menurut saya dihubungkan dengan satu benang merah: kebahagiaan. Tentunya dengan cara pengisahan yang berbeda.

Cerpen pertama berjudul "Di Sebuah Taman", karya Gao Xingjian, bercerita tentang kisah di sebuah taman. Dalam cerpen ini pembaca akan disuguhkan deretan percakapan dua orang yang baru bertemu setelah sekian lama serta seorang gadis yang tengah menunggu di taman.

"Gadis itu sedang menunggu seseorang."
"Menunggu seseorang itu mengerikan. Agaknya sekarang pria muda-lah yang tak menepati janjinya untuk kencan." (h. 19)


Saya mengharapkan sesuatu yang menendang di akhir cerpen ini. Karena percakapan yang terjalin di cerpen ini cukup dalam, cukup menguras perasaan. Tapi, ternyata saya tidak mendapatkannya. Menurut saya, cerpen pertama ini terasa sangat biasa.

Lain lagi pada cerpen kedua, "Pembunuhan Cahaya di Alir Sungai" ini menceritakan seorang gadis yang dipaksa pulang ke rumah dari tempat belajarnya untuk dijodohkan.

Tak kusangka bahwa dia hanya mempersiapkanku untuk dikorbankan, bak si penggembala yang merawat dan menggemukkan kambingnya untuk dijual. (h. 37)


Ditulis dari sudut pandang pertama, cerpen ini berhasil menguras emosi saya. Khayriyah Ibrahim as-Saqqaf berhasil membuat saya menjadi Raha. Sang tokoh utama kita yang kebebasannya direnggut paksa kedua orang tuanya.

Cerpen ke-6 adalah karya Salman Rushdie dengan judul "Di Selatan Dua Lelaki Tua India". Cerpen ini berkisah mengenai dua lelaki tua yang dipanggil Senior dan Junior. Cerpen ini ditulis dengan detail. Penulis mengungkapkan kedua tokoh kita dengan cukup menyeluruh, mulai dari asalnya hingga keluarganya yang sekarang telah beranak-pinak.

Cerpen ini termasuk salah satu yang saya sukai. Saya suka bagaiman penulis memberikan ironi pada kehidupan tokoh kita. Bagaimana seringkali apa yang kita harapkan justru tidak pernah terjadi kepada kita, tidak menjadi takdir kita.

Dia, Senior, adalah seseorang yang telah meminta untuk mati. Tapi, Kematian telah meninggalkannya dalam keadaan hidup.... (h. 141)


Taufiq el-Hakim adalah penulis cerpen ke-7 yang sekaligus menjadi judul buku ini, "Dijual: Keajaiban". Membaca cerpen ini saya jadi mengerti kenapa judul cerpen ini yang digunakan sebagai judul kumpulan cerpen pengarang Asia ini. Cerpen ini singkat, ditulis dengan cukup lugas, tapi berhasil menyentil siapa pun yang membacanya.

"Apa yang mereka lakukan kepadamu?"
"Mereka membuatku melakukan banyak keajaiban." (h. 153-154)


Review lengkap silakan cek ke di sini.
Profile Image for DIVA Press.
26 reviews20 followers
December 29, 2015
Apa jadinya kalau karya dari sembilan sastrawan Asia berkumpul dalam satu buku? Jawabannya: KEAJAIBAN!

Dan, asyiknya lagi, keajaiban itu bisa kalian beli. Apa sih yang lebih ajaib dari keajaiban yang dapat dibeli? Dijual: Keajaiban, adalah kumpulan karya dari 9 sastrawan legendaris Asia. Dan kalian bisa membeli keajaiban ini. Dalam buku ini, terkumpul 9 sastrawan Asia dengan corak dan warnanya masing-masing, tentu dengan keajaiban mereka.

Siapa saja yang meramaikan buku kumcer ini? Pertama, ada Gao Xingjian yang merupakan orang Tiongkok pertama yg mendapat Nobel Sastra. Karyanya dalam buku ini, 'Di Sebuah Taman' dengan indah berkisah tentang suatu kejadian sederhana di taman, dgn diksi puitis-konteplatif. Kedua adalah Khayriyah Ibrahim as-Saqqaf dengan cerpennya "Pembunuhan Cahaya di Alir Sungai" yg menyindir ketertindasan kaum perempuan. Siapa itu Khayriyah Ibrahim as-Saqqaf? Dia adalah sastrawan kelahiran Makkah dan juga editor perempuan pertama di Saudi Arabia. Jarang-jarang kan kita baca karya sastrawan dari Saudi Arabia, nah di buku ini pembaca bisa mencicipi karyanya.

Sastrawan ketiga adalah Naguib Magfouz, tentu sudah banyak yg mengenal namanya. Beliau disebut-sebut sebagai sastrawan Arab paling produktif. Karena kebesaran karya-karyanya, Naguib Magfouz diganjar dengan Novel Sastra pada tahun 1988. Sungguh, karya-karyanya sayang untuk dilewatkan. Dalam cerpennya, Qismati dan Nasibi, penulis memadukan antara unsur religusitas dan pertanyaan seputar takdir dan kehidupan itu sendiri.
"Kebahagiaan itu tak sulit ditemukan bagi sesiapa yang mencarinya."

Ini salah satu kutipan indah dalam cerpen 'Qisnati dan Nasibi' hlm. 61

Sastrawan besar selanjutnya adalah Orhan Pamuk, tentu sudah pada tidak asing dengan beliau kan? Apa, belum tahu siapa Orhan Pamuk? Baca gih! Orhan Pamuk adalah salah satu sastrawan Turki terbaik saat ini, dengan karya-karya hebat yang mendunia seperti Snow dan My Name is Red. Selain mendapatkan Nobel Sastra, Pamuk juga dianugerahi IMPAC Dublin Literary Award (2003) dan Prix Medicis Etranger (2006). Jadi, tidak perlu diragukan lagi kemampuan seorang Orhan Pamuk dalam menggoreskan cerita. Kisah-kisahnya selalu khas dan sulit dilupakan. Dalam buku ini, kita bisa mencicipi rasa seorang Pamuk lewat cerpen panjangnya berjudul 'Memandang ke Luar Jendela' yg so Istambul as usual.

Lanjut ke cerpen berikutnya, 'Anjing Buta' karya seorang penulis kebangsaan India, R.K. Narayan. Sebuah cerpen yang sangat menyadarkan! Mungkinkah ada orang yang dengan sukarela mendatangi hukumannya sendiri hanya karena itulah yang sudah biasa dia alami? Baca 'Anjing Buta.' Cerpen 'Di Selatan Dua Lelaki Tua India' karya Salman Rushdie juga turut hadir di buku kumcer sastrawan Asia ini. Penulis pemenang Booker Prize ini pernah menulis novel 'Satanic Verses (1988)' yang sempat menghebohkan dunia muslim. Salman Rusdie termasuk produktif dalam menghasilkan karya-karya sastra tingkat dunia, termasuk Midnight's Children dan Imaginary Homelands.

Sastrawan selanjutnya adalah Taufiq el-Hakim, yang cerpen karyanya 'Dijual: Keajaiban' dipilih sebagai judul kumcer keren ini. Mimin juga paling suka sama cerpen 'Dijual Keajaiban' ini. Seringkali, keberuntungan pada diri sendiri adalah musibah bagi orang lain. Mengapa cerpen 'Dijual: Keajaiban' begitu indah dan tak terlupakan? Karena memang cerpen ini indah dengan caranya menggugah kesadaran kita. Secara apik, cerpen ini mengajak pembaca berjalan-jalan di tengah malam untuk terkabulnya sebuah keinginan. Penasaran dong pastinya. Suasana Jepang dengan kimono, kuil, jempatan, dan sendal teklek-nya menjadi salah satu kekuatan dari 'Tujuh Jembatan' ini. Keren pokoknya.

Terakhir namun tidak kalah mengukir adalah cerpen 'Nampan dari Surga' karangan Yusuf Idris yang berasal dari Mesir. Dalam cerpen ini, pembaca akan dihibur oleh seorang bahlul yang mengecam Tuhannya sendiri, yang lalu membuat manusia menjadi gerah. Lewat cerpen di kumcer ini, para penulis akan mengajak pembaca untuk bertanya kepada diri, sudahkan kita baik-baik saja sebagai manusia?

Dan, satu kutipan luar biasa dari Gao Xingjian dalam pidatonya saat menerima hadiah Nobel sastra tahun 2000:

"Setiap penulis memiliki tempatnya sendiri di rak buku dan dia hidup sepanjang mempunyai pembaca. Tak ada pelipur yang lebih besar dari penulis ketimbang bisa meninggalkan sebuah buku dalam harta karun besar sastra manusia yang akan terus dibaca di masa depan." (hlm 220)
Profile Image for Sulhan Habibi.
806 reviews62 followers
February 2, 2016
3 cerita favorit :

1. Dijual: Keajaiban
2. Anjing Buta
3. Qismati dan Nasibi

cerita yang lain juga bagus..
Profile Image for Doddy Rakhmat.
Author 4 books4 followers
December 1, 2017
9 Penulis Dunia bergabung dalam satu buku adalah sebuah hal luar biasa. Namun hanya beberapa judul yang bisa saya nikmati.
Profile Image for Frida.
201 reviews16 followers
December 31, 2015
Sembilan cerpen dari sembilan penulis besar Asia terkompilasi dalam buku ini, ditambah bonus seuntai esai dari pidato Nobel Sastra Gao Xingjian. Hanya dua dari sembilan nama itu yang saya sudah pernah berkenalan dengan karyanya, yaitu Naguib Mahfouz dan Orhan Pamuk. Pun waktu itu saya berkenalannya juga lewat karya terjemahan Tia Setiadi, Menggali Sumur dengan Ujung Jarum. Sebenarnya tiga dari sembilan penulis tersebut berasal dari Mesir (Naguib Mahfouz, Taufiq el-Hakim, dan Yusuf Idris), tapi mereka pun ikut disebut sebagai "pengarang besar Asia". Menurut penerawangan saya, mungkin karena karya-karya mereka berbahasa Arab. Mungkin, lho ini.

Gao Xingjian, seperti bisa ditebak dari namanya, berasal dari Tiongkok, tapi kemudian eksil ke Perancis. Dia orang Tiongkok pertama yang mendapat Nobel Sastra pada tahun 2000. Cerpennya, Di Sebuah Taman, membuka buku ini dengan serangkaian dialog antara dua orang laki-laki dan perempuan, yang berlatarkan di sebuah taman. Cerpen ini unik, lantaran penuh dialog dan miskin sekali narasi. Namun, dialog yang berisi selalu mampu bercerita semumpuni narasi, atau bahkan bisa mengungkap lebih, seperti dalam cerpen ini.

Tiap kali dialog menyentuh hal sensitif seputar hubungan antara mereka berdua, mereka berpindah ke topik lain, sebelum kemudian si perempuan mengungkapkan sesuatu yang membuat saya mengerti bahwa.....

baca kelanjutannya di sini: http://kimfricung.blogspot.co.id/2015...
Profile Image for Novitasari Amira.
32 reviews2 followers
October 22, 2016
Saya salah ketika menilai buku ini melalui covernya yang tidak menarik. Lagipula buku ini adalah pemberian yang tidak begitu saya harapkan. Lalu, bagaimanapun saya segera mencoba membacanya. Ketika cerita demi cerita mengalir saya baca, hingga berakhir, tak terduga saya merasa beruntung. Beruntung karena telah menyelami tulisan-tulisan beberapa sastrawan termasyhur dari Asia ini, yang hampir kesemuanya menerima Nobel Prize. Betapapun kesan saya terhadap mayoritas atau mungkin seluruh cerita dalam buku ini adalah miris dan tragis, namun juga humoris. Juga nanggung, yang membuat saya kesal. Meski begitu, tetap nikmat dan memikat.
Profile Image for Wawan Kurn.
Author 25 books36 followers
February 17, 2016
Saya menyukai cerpen pilihan ini, terima kasih untuk Tia Setiadi. Dan cerpen terbaik menurut saya, jatuh pada cerpen Naguib Mahfouz.
Displaying 1 - 12 of 12 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.