Dgn setting Perang Saudara di AS, Konfederasi vs Union, novel ini dilatarbelakangi ttg sebuah keluarga kaya di Selatan, yg jelas memihak Konfederasi utk kepentingannya sendiri. Utk yg masih awam ttg sejarah ini, Abraham Lincoln, Presiden AS saat itu mengumumkan Deklarasi Kemerdekaan setiap manusia, yg sangat ditentang oleh pihak Selatan yg masih menerapkan aturan perbudakan, sehingga terjadilah perang antara pihak Utara (Union) dgn pihak Selatan (Konfederasi).
Saya kecewa berat dgn karakter heroine-nya, Rose O'Sullivan. Bukan krn dia berbohong ttg identitasnya sbg janda pdhl masih perawan. Bukan pula pada kelancangannya menyeberangi samudra utk mencari pembeli potensial kapas yg diproduksi perkebunan kakak iparnya. Mau tahu apa? Saya merasa Rose ini di-over glorifikasi oleh author (yup.. lagi-lagi sandungannya ini-ini mulu). Rose ini sudah sebatangkara tanpa adanya ayah dan kakak-kakaknya yg gugur dlm perang, dan Rose memilih utk tinggal dgn kakak iparnya, Bruce yg beristrikan kakak perempuannya, Claire, yg tinggal di Glengarden, selatan AS dan jelas-jelas tidak menginginkan perubahan apapun macam pembebasan budak. Nah, sedangkan Rose ini penganut abolisionis alias penentang segala macam perbudakan dan terus-menerus bertentangan dgn Bruce selaku tuan rumah, pdhl Rose ini ibarat tamu loh. Jadilah dia disiksa melulu sama Bruce dan anehnya (ini jadi pertanyaan saya terus-menerus) knp Rose gak kabur aja, toh tempat Rose bukan di Glengarden tsb? Apakah Rose ini pengidap masokis? Walaupun atas dasar kemanusiaan yg tinggi, saya kurang bisa membenarkan tindakan Rose yg melepaskan para budak sedikit demi sedikit, krn itu bukan wewenang Rose. Rose bukan istri Bruce, dia hanya ipar yg numpang tinggal bagi saya. Mau gak kamu menerima tamu yg sok memberesi rumahmu pdhl tidak kau minta? Terlepas si Bruce ini luar biasa keji pd budak-budaknya, kemarahan Bruce masuk di nalar krn Rose selalu menjadi duri dalam daging di keluarganya.
Dan yg bikin gregetan juga sisi naif Rose, seolah dia gak (mau) paham sifat dan sikap Claire, kakaknya Rose ini. Saya juga depresi berat, koq gak ada empati sama sekali atas penderitaan adiknya? Bisa ya orang macam Claire ini hidup dlm gelembungnya sendiri seolah-olah sudah layak dan sepantasnya dia hidup enak-enak diatas penderitaan org lain. Dan gilanya, mereka benar-benar terkucil dan picik, gak mau tau apa yg terjadi di dunia luar sana. Walaupun kata org cinta itu buta, seandainya saya jadi Claire yg cinta setengah mampus pd suami macam Bruce, lebih baik saya usir saja adik saya drpd melihat Rose disiksa seperti budak begitu.
Sisi bagus dari novel ini cuma Duncan MacIain, hero yg akan melakukan apapun utk menolong heroine-nya, menembus blokade, menyelamatkan nyawa kekasihnya yg bodoh ini.
Ini buku terakhir dari seri MacIain ini, kesimpulan saya semua bukunya biasa-biasa saja, over glorifikasi heroine yg gak masuk akal tapi lumayan bagus di settingnya.