Jane Shakuntala namanya, dan siapa pun yang membaca CV-nya akan mencapai satu kesimpulan yang sama: dia seorang kutu loncat. Tapi dia bukan kutu loncat biasa. Jane melompat ke sana-sini demi menemukan lingkungan kerja yang dianggapnya sempurna. Chira, sahabatnya, menanggapi hal ini dengan skeptis. Apalagi ketika Jane melamar jadi resepsionis di hotel yang marcomm-nya dikenal killer.
Ini yang dihadapi Jane di tempat barunya: rekan kerja yang tidak becus, atasan yang resek, pesta yang heboh, dan seseorang dari masa lalu yang mendadak muncul. Sanggupkah Jane bertahan, atau apakah dia akan menjadi kutu loncat abadi?
Call her Donna or Angela, she might respond with a smile. This Indonesian writer divides her time juggling to make ends meet, writing, balancing her attention between her partner (Isman H. Suryaman) and children, managing the household, and of course, occasionally sipping earl grey tea to keep her sane. She has written twenty books so far, popular fiction, in Gramedia Pustaka Utama (GPU). Her newest book, Candrasa, is published in August 2017.
Her passion for new experiences propels her to seek new chances to meet more people. Enthused for fresh inspirations, she longs to join multicultural events, collecting data and broadening her horizon.
She claims to be unique, independent and strong. She dreams and imagines a lot. "But what is love, and what is life, if you do not let yourself live?"
Hmmm... jujur saja gue membeli novel ini karena judul dan sinopsis yang ditawarkan. Kutu loncat. ya penasaran aja gimana tokoh Jane - si kutu loncat- menjalani pekerjaannya. terlebih novel ini dilabeli metropop.
Novel ini bercerita tentang Jane yang hidup hanya memiliki Ibu dan Chira dalam hidupnya serta suka sekali berpindah-pindah kerja. Ada saja bagi Jane yang membuatnya pergi dari kerjaannya dan mencari kerjaan baru. Bedanya reputasi Jane selalu baik di tempat kerjanya.
Sampai ketika Jane ingin menduduki jabatan marcomm di suatu hotel. Jane bahkan rela menjadi resepsionis padahal di hotel tersebut ada seorang marcomm yang galak dan kejam. Bernama James.
Hidup Jane berubah saat berurusan dengan James. Bahkan Jane harus memberanikan diri bertemu seseorang di masa lalu nya yang hadir kembali. Gimana kelanjutannya?
Ya baca novel ini boring sih. Banyak plot yang berakhir begitu saja tanpa jelas kenapa. Terus background si Jane yang kutu loncat menjadi tempelan belaka saja. Gue gak nemuin konflik seru mengenai hal tersebut.
Bahkan saat Jane bekerja di hotel tempat baru juga begitu saja. Lalu kehadiran Hasan yang tiba2 menemui James aneh aja. Apa karena Hasan hadir di pesta dimana James yang membuatnya? Terus katanya Hasan hadir di pesta yang dihadiri jane juga. Tapi gue gak liat adanya deskripsi mengenai kehadirannya!
Terus kenapa menjelang ending tiba2 ada setting Jepang? Ya penulis sih bilang Jane sedang mengenang ucapan Ibunya akan Jepang. Ya terus kenapa? Kenapa ucapan itu dikenang? Emang ada kejadian apa yang seru saat itu hingga Jane rela ke Jepang untuk mencoba es krim yang digemari banyak turis dan penduduk lokal.
Terus menjelang ending, buset aneh abis.
Walaupun begitu, setiap bab baru di novel ini diberikan ilustasi bagus dan kutipan menarik. Ya mungkin hanya itu kelebihannya :(
Entahlah, novel tebal ini benar2 membuat ngantuk saat membacanya. Halaman yang tebal benar2 buang2 waktu saat bacanya.
Padahal gue termasuk suka tulisan Primadonna Angela. Namun tidak di novel ini.
Pas baca 20 halaman awal kesannya "waaaaa ini novel gue banget!". Paham lah saya perasaan dan pemikiran si Jane itu soal pekerjaan, mengingat saya juga sering resign kerjaan dengan alasan "pengin resign aja". Gaya bahasanya juga super renyah, khas Primadonna Angela.
Sayang makin ke tengah dan ke belakang, ceritanya seolah kehilangan fokus dan hubungan semua tokoh terkesan "gampang banget!". Jujur, bagian Chira - Tobias kebanyakan aku skip, karena, hey, bukannya harusnya buku ini tentang Jane? hehehe
Tapi seenggaknya, aku belajar banyak dari Jane. Terutama bahwa nggak ada pekerjaan yang sempurna. Sesuka apa pun sama kerjaan itu, pasti ada lah momen-momen pengin nyekek seseorang dan itu biasa. Hahaha
Saya kritik gapapa ya, Mbak Donna. Mbak Donna adalah mentor saya ketika saya menulis Travel in Love saat writing camp Mizan di Puncak. Saya hormat kepada Mbak Donna. Saya hanya mengkritik bukunya ya, Mbak. Peace. Hehe.
Saya suka dengan konsep si kutu loncat ini, terasa pas dengan problematika cewek-cewek metropolitan saat ini. Suka dengan ide yang Mbak Donna tawarkan, tapi nggak sreg dengan jalan ceritanya yang rumit. Di beberapa bagian ada adegan yang dibuat menggantung seperti ketika James didatangi Hasan dan udah. Nggak ada lanjutannya. Tiba-tiba James mendatangi Hasan ke coffee shop. Lalu yang bagian sebelumnya itu kelanjutannya bagaimana?
Saya agak sedikit terganggu dengan gaya bahasanya yang kaku banget. Di satu bagian ada percakapan yang sangat Indonesia menggunakan teknik WAYS (write as you speak), di bagian lain saya menemukan percakapan bahasa Indonesia yang rasanya persis sepereti bahasa Inggris yang diterjemahkan. Kemudian ada beberapa pengandaian yang rasanya kurang cocok ditempelkan ke dalam cerita.
Perasaan cintanya juga terasa cepat sekali JS - JS dan Tobias - Chira.
Overall saya suka bagian Jane bekerja. Terasa benar bahwa Jane adalah pekerja yang baik dan sangat modern.
1. Judulnya Jane Si Kutu Loncat. Saya pikir bakal mendapati cerita Jane pindah pindah kerja sesuai yang diceritakan di awal, tapi yang diceritakan cuma Jane berhenti kerja sekali aja terus jadi resepsionis di hotelnya James. Padahal judulnya itu.
2. Penulis di awal menceritakan dari sisi Jane, eh tau-tau nanti ada di sisi Chiara trus nanti di bab berikutnya dari sisi James. Perpindahan ini mungkin untuk tau hati masing-masing peran tapi kok ya, aneh? Kayak gak perlu sih.
3. Cerita Jane sama James aja sebenernya biasa banget, gak ada konflik. Lalu cerita banyak juga soal Chiara eh sama Tobias eh konflik tiba-tiba sama Hasan. Kayak dipaksakan banget konfliknya.
4. Saya gak nemu kemistri antara Jane dan James pun dengan Chiara dan Tobias (yang entah apa masuk sebagai tokoh utama juga dalam buku ini, tapi ceritanya lumayan banyak)
5. Sungguh saya gak dapet dan gak bisa menikmati ceritanya yang menurut saya banyak bolongnya. Maafkan aku Mbak Primadonna Angela, walau begitu tetap saya baca sampe selesai juga kok buku ini.
dari judulnya, saya sudah membayangkan bakal akan ada seorang tokoh utama bernama Jane yang bakal pindah-pindah kantor, tetapi di buku ini, hanya pindah sekali dan akhirnya pindah lagi menjadi seorang resepsionis disalah satu hotel yang katanya hotel besar. dan akhirnya dia bertemu dengan seseorang pria bernama James dan sudah bisa ditebak dong, bakal gimana kisah ini berlanjut?
ceritanya menurut saya sedikit lari dari judul ceritanya ya.... dikarenakan ini hanya berkisah antara Jane yang bertemu dengan James, yang berawal dari teman sekerjanya Jane yang menuduh dirinya bersalah sehingga James memberikan hukuman kepada Jane untuk datang ke Pesta Pernikahan yang dilakukan dihotel tersebut dan menjadi teman kencanya seorang Aktor terkenal bernama Tobias. yang dikhawatirkan James adalah Tobias yang merupakan mantan pacar dari yang punya acara akan merusak acara pernikahan tersebut. Dilain kisah, ada sahabat dekatnya Jane yang bernama Chiara yang merupakan penulis. dan Chiara ini ternyata ngefans berat terhadap Tobias. Sehingga saat Tobias datang kerumah Jane untuk menjemput dirinya, dia bertemua dengan Chiara. Dan gak tau bagaimana, tetiba Tobias menjadi dekat Chiara. (Jujur disini saya sangat menyangkan akan ada cerita sulap seperti ini, cinta pada pandangan pertama kah ini??? )
Dan akhirnya Chiara dan Tobias semakin dekat, sedangkan Jane yang ternyata punya sisi gelap akan kisah cintanya bersama dengan Michael sehingga saat dirinya ingin membuka hati kepada James disaat James sudah menyatakan cintanya kepada Jane, Jane pun menolaknya. Tetapi keajaiaban pun terjadi lagi, Jane memaafkan Michael dan akhirnya mengejar James. Dan sebelum ditutup buku ini, Jane dan James berakhir bahagia.
Thats It !!!
Jadi teman2 pembacapun mulai berpikir, mungkin judulnya jangan Jane, si Kutu Loncat.... tp secara overal aku menikmati kisah Jane ini, walau ceritanya ada yang kurang (menurutku) karena banyak hal yang seperti tiba-tiba atau dipaksakan agar ceritanya berjalan padahal jadi aneh sih.
Buat yang pengen baca, baca deh kisah Jane dan James ini, karena menurut saya cukup romantis lah.....
"Aku 'kan selalu menunggumu. Tapi jangan lama2. Kamu tau 'kan betapa tidak sabarannya aku?" - James ke Jane . . Kisah Jane ini manis2 gimanaaa gitu. Jane yg digambarkan doyan gonta-ganti pekerjaan akhirnya kena batunya juga di hadapan James, bos-nya di hotel. Awalnya sih doi ga mau nyerah tapi ntah kenapa saat hati mulai bicara (meski enggan 'tuk mengakuinya), semua kebiasaan itu menghilang seketika . . Cerita ini semakin menarik tatkala melibatkan trauma masa lalu Jane yg kelam. Kehilangan figur ayah membuatnya terpesona dgn figur lelaki dewasa yg menemaninya sedari kecil. Dari situlah trauma tersebut bermula. Dan mimpi buruk itu kembali hadir di kehidupan Jane pasca penugasan James padanya . . Saya suka permainan emosi di tulisan ini. Ga pake basa-basi namun langsung ngena di hati pembaca. Sayangnya, kisah ini terlalu cepat berakhir. Padahal masih ada yg belum dibahas seputar masa lalu James dan karirnya . . Eh iya, di kisah ini juga ditampakkan hubungan emosional yg ideal antara ibu-anak, peran yg memang seharusnya dilakukan seorang ibu tatkala si anak mengalami masalah. Suka deh dgn intensitas obrolan yg terjadi pada keluarga Jane dan James. Masih adakah obrolan hangat seperti itu di masa kini? . . Yg paling disukai lagi tu sikap James ke Jane. Tegas, galak tapi romantis. Bisa ngebayangin, 'kan? Hahaha
Primadonna Angela belum kehilangan sentuhan magisnya. Sudah hampir 10 tahun yang lalu, saat terakhir kali baca buku karangan Mbak Donna.
Sebenarnya, Gue sangat berekspektasi ceritanya sesuai dengan judul–dan sinopsis. Kutu Loncat; bagaimana kehidupan seorang karyawan yang sering pindah-pindah kerja. Jujur saja, yang bikin menarik justru karena nggak semua orang pernah atau bahkan berani untuk menjadi seorang kutu loncat. Tapi ternyata, cerita yang ditawarkan di novel ini berbeda dari judul bukunya.
Kecewa? tidak. Mungkin judul Jane Si Kutu Loncat hanya kurang sesuai dari penggambaran isi novel ini, atau mungkin judul dibuat hanya sebagai perumpamaan–sekaligus bocoran–bagaimana sebenarnya pribadi tokoh utama yang diceritakan. Tapi menurut Gue, ceritanya masih sangat amat bisa dinikmati.
Pembatas buku yang diberikan hampir tidak terpakai. Karena Gue langsung menghabiskan buku ini semalam aja, saking serunya! Jangan langsung membayangkan cerita novel yang sempurna tanpa cela. Memang ada drama-drama ala sinetron dan bagian cerita yang terlalu cepat–lebih seru kalau diceritakan lebih detil lagi kayaknya 😁 tapi secara keseluruhan, Mbak Donna sukses berhasil bikin baper hehehehehe
Judulnya memang mengundang, saya jadi bayangin kehidupan kantor dengan segala "loncatannya" si Jane. Sayangnya, ternyata fokus cerita nggak hanya soal kerjaan, tapi juga bermerah muda. Jujur, awal-awal saya menikmati tulisan ini. Lalu mulai mengerutkan dahi di aksi lebay Mayfair yang dikatain gendut langsung nampar orang, padahal dia lagi di pelaminan. Yang ngatain juga suaminya, kenapa yg ditampar bukan suaminya malah orang lain >.< Agak aneh sih buat saya, tapi gatau kalau penulisnya pernah liat yang macam itu. Saya mulai merasa gak nyaman juga sama temannya Jane, si C dan Tobias. Aneh aja gitu. Tobias yg lagi susah move on mendadak langsung aja gitu jatuh cinta sama C. Gimana ya, jatuh cinta pandangan pertamanya C dan Tobias kurang soft gitu, chemistry-nya kurang. Gitu juga Jane sama James, saya gak merasakan chemistry-nya mereka. >.< Sayangnya saya nggak menyelesaikan buku ini dan terhenti di halaman 200an awal. Mungkin ini memang soal selera, dan kisah Jane not my cup of tea. Sekian, maaf ya. Sukses terus untuk Mbak Primadona. ^.^
i think this book would be better if more research is done and longer stories for more in-depth understanding of the events and characters instead of just brushing it off and continuing it just like that. there’s too much pieces that doesn’t make sense like hasan-james meeting (like what most mentioned in the reviews) or tobias-chira relationship and the japan bit seems really random. in terms of writing style, it still shines because it’s primadonna angela but the changing of thought from one character to another can be a little confusing when reading. especially the going back and forth of the story.
overall i think the bg story is interesting with the kutu loncat theme but would be great to include more of that aspect and give a clearer and deeper story for each part so it doesn’t feel rushed.
ini rating yang saya pikir cukup gede, tapi I think that It worth it walau terkesan sangat buru-buru, namun konflik dalam cerita ini cukup menarik. Tokoh2nya begitu keuat dan juga banyak sekali yang saya peroleh kebermanfaatannya. banyak sekali kata2 yang seperti slentingan keras di telinga saya untuk lebih memperbaiki diri, selalu terbuka pada tantangan dan mencari tau apa yang benar2 saya inginkan. simple but nice story,,
Rating asli 2.5 Penulisannya enak sih, cumaaa gue blm dpt chemistry antara James dan Jane nih :( Trus kejadian di pesta pernikahan itu kayak terlalu bertele-tele Trus vibe kutu loncatnya Jane masih berasa kurang dapet, gue blm ngerasain Jane yg udah pindah2 kerjaan ke banyak tempat Dan endingnya bikin gue bilang "lah gitu doang?" Sorry to say soalnya dari blurb dan 3 bab awal udah promising gtu soalnya dan bab2 stlh pesta nikahan itu menghempaskan segalanya 😭
Dari judul dan sinopsis, berharap ceritanya berkutat dengan Jane di berbagai tempat kerja. Maksudnya, bagaimana si Jane keluar-masuk berbagai perusahaan dan pekerjaan. ternyata cerita ini lebih fokus saat Jane bekerja sebagai resepsionis hotel dan konflik dengan bosnya. jenis cerita yang cukup bisa ditebak alur dan endingnya, tetapi tetap menarik untuk diikuti karena gaya bahasanya yang mengalir, lucu, dan tokoh-tokohnya cukup unik.
chemistry karakternya kurang nampol T_____T and it shouldve been titled “kehidupan jane setelah selesai menjadi kutu loncat” or something like that instead. cause apparently jane udah nggak pindah pindah kerja sesering dulu kan?
This entire review has been hidden because of spoilers.
Kisah yang dituturkan dengan renyah khas penulis. Tidak begitu istimewa, tapi bisa dinikmati. Alurnya mudah ditebak. Beberapa bagian terkesan buru-buru. Tiga bintang.
Menurut profil penulis pada halaman terakhir novel ini, Jane Si Kutu Loncat adalah karya ketiga puluh Primadonna Angela. Saya adalah salah seorang pembaca setia yang telah membaca kurang lebih belasan karya beliau. Harus saya katakan, Jane Si Kutu Loncat tidak masuk dalam jajaran novel terbaik yang pernah saya baca, namun juga bukan yang terburuk.
Diawali dengan premis yang menjanjikan, tentang kehidupan seorang wanita muda yang tidak pernah puas dengan tempat kerjanya, dengan mimpi-mimpi besar, dan ambisi yang meluap. Setelah membaca beberapa puluh halaman, saya berekspektasi membaca lebih banyak tentang lika-liku hidup Si Kutu Loncat ini dan pekerjaan-pekerjaannya. Di luar dugaan, saya justru mendapati konflik pelik dan romansa yang terkesan dipaksakan. Sesuatu yang tidak biasa saya temukan dalam karya-karya Primadonna Angela.
Karakter-karakter dalam novel ini sangat menarik namun sangat disayangkan ada banyak hal yang dibiarkan menggantung. Konflik dengan seseorang yang di masa lalu selesai hanya dalam beberapa belas halaman, bagaimana kisah cinta sang karakter utama dan 'pangerannya' terwujud semudah menyeduh mi instan, dan kepribadian Jane yang berubah, bertolak belakang dengan premis merupakan nilai minus bagi saya saat membaca novel ini.
Terlepas dari semua itu, saya berhasil menyelesaikan novel ini. Saya rasa itu berkat gaya penulisan Primadonna Angela yang begitu mengalir dan alih-alih kaku, saya justru mendapatinya cukup santai untuk ukuran novel-novel Metropop yang beredar saat ini. Saya akan menantikan karya-karya Primadonna Angela berikutnya : )
pertama, bahasanya terlalu kaku untuk buku yang dilabeli 'metropop'. yaah, memang Jane dan pekerjaannya menunjukkan gaya wanita pekerja masa kini. tapi hmm... nggak terlalu sreg dengan bahasanya.
kedua, seberapa sering sih interaksi Jane-James? sampai James (&) Jane memutuskan slash mengatakan jatuh cinta satu sama lain. saya nggak merasakan chemistry mereka berdua. sama halnya dengan Tobias-Chira.
saya kasih dua bintang untuk usaha jerih payah mbak Donna menulis buku ini. Terus berkarya, ya, Mbak. :))
Selalu suka gaya mbak Donna bercerita, dan karakter-karakter bikinannya selalu 'hidup'. Kontroversial tapi ga yang dipaksain gitu, cukup natural sih kata gue.
Cuma gue terlalu bosan dengan formula karakter metropop. Anak keluarga terpandang but trying to be low profile-hidup mandiri, ga suka dandan kalau ga penting, masih naik angkot sesekali-tapi tetep barangnya bermerek harga jutaan semua. :)))
Waktu beli buku ini, ekspektasi saya lumayan tinggi. Maklum Kak Primadonna Angela adalah satu diantara penulis favorit saya. Namun kali ini konfliknya terasa kurang greget, saya membayangkan kehidupan Jane yang kesana kesini tapi latar tempatnya malah stuck di hotel. Konflik asramanya terlalu sedikit belum apa apa sudah sayang. Walaupun demikian novel ini lumayan lucu dikarena adanya ilustrasi-ilustrasi yang cantik.
Saya beli buku ini karena tertarik dengan judul, sinopsis, dan desain sampulnya. Setelah selesai baca, secara keseluruhan novel ini bagus dibaca sebagai pengisi waktu luang. Ceritanya ringan dan karakternya menarik. Tapi ada beberapa bagian dimana saya merasa perkembangan ceritanya terlalu cepat. Saya sedikit mengharapkan konflik yang lebih "berat" dan cerita masa lalu yang lebih detail. Overall, I enjoyed reading this novel.
Label metropop dan blurb serta judul benar-benar beda banget sama isi novelnya. Jadi pas kelar baca, agak kecewa sih. Mungkin karena jauh banget dari ekspektasi.
Apalagi sejak adegan pernikahan ke belakang hingga ending. Jadi kayak cerita sinetron dengan adegan super cepat.
Interaksi Jane James kayak kurang chemistry. Porsi Chira dan Tobias kebanyakan dan nggak penting juga.
Seperti biasa, genre metropop dari Primadonna Angela selalu bikin hati jadi greget senangnya. Alur cerita gak ngebosanin, kejutannya pun greget. Meski endingnya ketebak juga (ah, abaikan saya yg terlalu banyak menebak. haha). Overall, ini buku gak boleh dilewatin, beli!
kurang greget, alurnya sedikit membingungkan. sulit dibedakan apakah masih di waktu yang sama atau tidak. aku masih lebih suka cerita resep cherry. kurang nangkep ceritanya. judulnya padahal udh menarik tapi, diluar ekspektasi bgt. sori.
Tertarik waktu liat judulnya... apalagi menceritakan seseorang yg berpindah" kerja utk menemukan tempat kerja baru yg paling nyaman buat dia. Kan jadi penasaran gitu kenapa si Jane pindah" kerja melulu. Walaupun gk seperti harapan, Menurut aku isi ceritanya lumayan bagus, ceritanya ringan, Dapet ilmu baru jg mengenai dunia kerja. Cerita asmaranya juga cukup bikin baper. 😄😀