Saya senang sekali karena novel pendamping manga Monster ini akhirnya terbit dalam bahasa Indonesia! Selain asyik sebagai bacaan yang berdiri sendiri, Another Monster juga membantu menyegarkan ingatan saya yang sudah karatan soal manga adikarya Urasawa Naoki tersebut. (Dalam novel yang mengaburkan batas dunia nyata dan khayalan ini, Urasawa Naoki dicantumkan 'hanya' sebagai penulis pendamping novel sekaligus penerjemah bahasa Ceko-Jepang.)
Formatnya unik pula, seolah-olah sebagai sebuah laporan jurnalistik yang disusun oleh seorang wartawan bernama Werner Weber, dilengkapi berbagai foto dan sketsa. Bersama Weber, kita bukan hanya menengok lagi peristiwa yang melibatkan Tenma dan Johan dahulu dalam penyelidikan tentang sebuah kasus yang terjadi 'di masa kini' (dalam latar waktu ceritanya). Kita bahkan dibawa ke masa yang lebih dahulu lagi, menyelidiki ke dalam sejarah Ceko, Jerman, dan Austria sehingga bisa memahami dengan lebih jelas berbagai peristiwa dan kaitan antara segala macam kejadian dalam Monster. Dan yang jelas, kita juga mendapat update tentang para karakter 'kini', setelah peristiwa-peristiwa itu berlalu cukup lama. Jadi geleng-geleng kagum memikirkan seperti apa dulu Urasawa Naoki menggelar riset untuk menulis Monster.
Menerjemahkan novel ini pasti sebuah upaya yang lumayan berat, mengingat topiknya dan berbagai informasi yang terkandung di dalamnya. Salut untuk penerjemah. Hanya saja, menurut saya, banyak sekali catatan kaki yang tidak diperlukan dan malah mengganggu pembacaan. Apalagi novel ini kan pura-puranya catatan jurnalistik kejadian nyata; aneh rasanya kita malah dapat catatan kaki soal hal-hal seperti mengapa penerjemah memilih menggunakan istilah 'sersan' atau 'petugas'. Lho? Yang namanya menerjemahkan, kita sebagai penerjemah pasti harus membuat pilihan. Pilihan itu tidak selalu harus dijabarkan justifikasinya di teks terjemahan kita. Kalau dengan kata pilihan kita pembaca sudah bisa menangkap info dan membacanya enak, buat apa kita berpanjang-lebar menjelaskan bahwa 'kata ini aslinya dalam bahasa Jepang adalah...'.
Lebih lucu lagi, kembali ke contoh di atas, catatan kaki itu secara khusus menerangkan bahwa istilah asli dalam bahasa Jepang adalah 巡査部長 dan 巡査. Lalu karena latar belakang bukan di Indonesia, penerjemah memilih menerjemahkannya menjadi 'sersan' dan 'petugas'. ...ya, lalu? Berpengaruhkah itu? Malah kalau sudah jelas latar belakangnya di mana, kenapa tidak sekalian pakai istilah yang berlaku di negara tersebut? Pakai jabatan bahasa Jerman, mungkin? Memangnya Werner Weber yang pura-puranya menulis buku ini tahu soal istilah-istilah bahasa Jepang sampai memusingkan "junsa buchou itu di pangkat kepolisian Indonesia jaman sekarang sama dengan AKBP, tapi di Jerman nggak ada AKBP, jadi pakai istilah lain, ya?" Ya langsung saja pakai sersan, tidak perlu dijustifikasi lagi pemilihan katanya, apalagi untuk istilah yang tidak penting-penting amat dalam cerita, hanya selewatan. Memang kenapa kalau polisi yang datang saat itu pangkatnya sersan?
Penting-tidaknya catatan kaki ini sebenarnya salah satu hal yang harus dipertimbangkan penerjemah baik-baik. Bila memang ada catatan yang dirasa perlu sekali, sebaiknya di catatan akhir saja agar tidak mengganggu aliran pembacaan (apalagi yang fiksi) atau format penulisan buku. Tanpa catatan itu pun teks utama harus tetap bisa dibaca dengan mudah. Mungkin penerjemah bisa lihat catatan akhir Kajita Yui, penerjemah novel Miura Shion, Run with the Wind, yang menjelaskan mengapa ia mempertahankan sejumlah istilah asli Jepang (bahkan tanpa dicetak miring) dan tidak menambahkan catatan kaki.