Jump to ratings and reviews
Rate this book

Totto-chan's Children: Anak-Anak Totto-Chan

Rate this book
Totto-chan kini sudah dewasa. Ia sekarang menjadi aktris terkenal dan punya banyak penggemar. Tapi Totto-chan tak pernah melupakan masa kecilnya. Karena itulah Totto-chan langsung setuju ketika UNICEF menawarinya untuk jadi Duta Kemanusiaan.
Sejak itu, Totto-chan berkunjung ke banyak negara dan menemui berbagai macam anak. Di negara-negara yang mengalami kekeringan hebat atau terkena dampak perang, anak-anak yang sebenarnya polos dan tak berdosa selalu jadi korban. Ternyata masih banyak sekali anak-anak dunia yang tidak bisa makan, tidak bisa sekolah, tidak bisa dirawat ketika sakit, bahkan mengalami trauma hebat akibat perang.

Lewat buku ini Totto-chan ingin menceritakan pengalamannya saat bertemu anak-anak manis itu supaya semakin banyak orang bisa membantu anak-anak dunia menggapai masa depan yang lebih baik.

Kisah Tetsuko Kuroyanagi adalah kisah tentang cinta dan belas kasih untuk anak-anak di seluruh dunia, untuk setiap anak dan setiap ibu yang ditemuinya dalam tugas kemanusiaannya bersama UNICEF. Dalam buku ini ia berbagi perasaan dan pemahamannya yang mendalam, dalam konteks global, tentang kesengsaraan anak-anak di sebagian negara berkembang---anak-anak yang jadi korban kemiskinan, kondisi kesehatan yang buruk, dan sayangnya, perang.
---Carol Bellamy, Direktur Eksekutif UNICEF (1995-2005)

Note: Cetak ulang dengan sampul baru.

328 pages, Paperback

First published January 1, 1997

105 people are currently reading
1261 people want to read

About the author

Tetsuko Kuroyanagi

48 books389 followers
Tetsuko Kuroyanagi (黒柳 徹子) is an internationally famous Japanese actress, a talk show host, a best-selling author of children book.

She founded the Totto Foundation, named for the eponymous and autobiographical protagonist of her book Totto-chan, The Little Girl at the Window. The Foundation professionally trains deaf actors, implementing Kuroyanagi's vision of bringing theater to the deaf.

In 1984, in recognition of her charitable works, Kuroyanagi was appointed to be a Goodwill Ambassador for UNICEF, being the first person from Asia to hold this position. During the late 1980s and the 1990s, she visited many developing countries in Asia and Africa for charitable works and goodwill missions, helping children who had suffered from disasters and war as well as raising international awareness of the situations of children in poor countries. Kuroyanagi has raised more than $20 million for the UNICEF programmes that she has been involved in, through television fund-raising campaigns. She also used the royalties from her bestselling book, Totto-chan, to contribute to UNICEF.

In 1997, Kuroyanagi published the book Totto-chan's Children, which was based on her experience working for as a UNICEF Goodwill Ambassador from 1984 to 1996. Kuroyanagi is a director of the Japanese branch of the World Wildlife Fund.

Kuroyanagi has twice brought America's National Theater of the Deaf to Japan, acting with them in sign language.

For her involvement in media and television entertainment, Kuroyanagi won the Japanese Cultural Broadcasting Award, which is the highest television honour in Japan. Since then, she has been voted 14 times as Japan’s favourite television personality, for the show Tetsuko’s Room.[3]

In 2000, Kuroyanagi became the first recipient of the Global Leadership for Children Award, which was established by UNICEF in the 10th anniversary of the 1990 World Summit for Children. In May 2003, Kuroyanagi received Order of the Sacred Treasure in recognition of her two decades of service for the world’s children.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
976 (45%)
4 stars
716 (33%)
3 stars
356 (16%)
2 stars
87 (4%)
1 star
29 (1%)
Displaying 1 - 30 of 200 reviews
Profile Image for Uci .
617 reviews123 followers
February 7, 2013
"Orang dewasa mengatakan banyak hal saat meninggal--bahwa mereka kesakitan, bahwa mereka tak bisa lagi menahan penderitaan--tapi anak-anak tidak mengatakan apa pun. Mereka meninggal dalam kebisuan, di bawah daun-daun pisang, memercayai kita orang-orang dewasa."

Sebenarnya saya tidak yakin harus memberi bintang berapa untuk buku ini. Lima bintang? Untuk apa? Untuk kisah-kisah sedih, pilu dan biadab yang bertebaran di sini? Untuk kesadaran tentang kejamnya perang, yang sebenarnya sudah saya ketahui dari dulu dan naif sekali jika baru menangisinya setelah membaca buku ini?

Atau satu bintang? Untuk alasan-alasan serupa yang saya sebutkan di atas?

Totto-Chan's Children adalah jurnal perjalanan seorang ibu mengunjungi 'anak-anaknya' yang sakit dan menderita di negara-negara yang dilanda perang, bencana alam, atau keduanya. Tetsuko Kuroyanagi, aktris Jepang yang dikenal sebagai gadis cilik di jendela dalam buku pertamanya, Totto-Chan, ditunjuk sebagai Duta Kemanusiaan UNICEF dan tugas itulah yang membawanya menemui anak-anak dunia ini.

Tetsuko menuliskan perjalanannya dengan sudut pandang seorang ibu, seorang perempuan, yang tidak sok menggurui dengan analisis tentang berbagai petaka di negara-negara yang dia kunjungi. Dia bercerita dari hati mengenai keadaan anak-anak yang mengenaskan, sekaligus mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengan bahasa yang sederhana, tanpa menghakimi dan memihak siapa pun, hanya mengutuk jahatnya perang dan kegilaan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.

Mungkin tidak perlu saya kutip panjang lebar mengenai kondisi anak-anak di Angola, Rwanda, Kamboja, Vietnam, Etiopia atau Irak yang dia temui selama perjalanannya. Semua tahu betapa anak-anak di negara yang bergejolak selalu menjadi korban paling lemah. Dibuntungi tangan dan kakinya, dijadikan sasaran ranjau darat, dibiarkan tidak makan (meskipun terpaksa) karena berat tubuhnya mencapai 70% persen berat normal (hanya 70%!) sementara anak-anak dan bayi-bayi lainnya jauh lebih kurus daripada dia. Atau ratusan bahkan ribuan anak yang menderita trauma dan mungkin akan sulit tersenyum seumur hidupnya.

Saya ingin mengutip kisah-kisah berani dari mereka yang seharusnya menjadi orang-orang paling putus asa. Di Baghdad, ketika bertemu bayi berkaki sekurus sumpit dengan mata kering dan 'tua' yang memandang tajam kepadanya, Tetsuko menulis: Menurutku, karena ditakdirkan untuk tidak hidup lama, ia ingin melihat sebanyak mungkin kehidupan dalam setiap detik yang tersisa.

Di Etiopia, seorang gadis kecil bernama Selamawit, ketika ditanya apa yang ia inginkan saat dewasa kelak, menjawab dengan lugas, "Aku ingin hidup."

Di Haiti, seorang gadis kecil yang menjadi pelacur dengan bayaran 6 gourde atau sekitar 40 sen dollar, ketika ditanya apakah tidak takut kena AIDS, menjawab, "Aku memang takut. Tapi kalaupun aku tertular AIDS, aku masih bisa hidup beberapa tahun lagi, kan? Kau tahu, keluargaku tidak punya makanan untuk besok."

Betapa sia-sianya perang. Betapa bodohnya orang-orang dewasa. Betapa payahnya kita yang tak pernah cukup peduli karena perut kita selalu kenyang dan tidur kita selalu nyenyak...

Membayangkan begitu banyaknya bayi yang dilahirkan hanya untuk mati... saya tak dapat menahan diri untuk bertanya pada Tuhan, mengapa Dia memberikan takdir yang begitu menyedihkan bagi mereka, sementara di sini, saya dan suami yang insya Allah bisa memberikan kehidupan yang lebih baik, masih harus menunggu...Egoiskah saya dan orang-orang lain yang mendambakan anak atau sudah memiliki banyak anak sementara di luar sana begitu banyak anak terlantar yang membutuhkan uluran kasih sayang kita?

Baiklah, cukup curhatnya :)

Dan akhirnya saya memilih menyematkan lima bintang. Untuk keberanian anak-anak yang memilih hidup dan berjuang melawan nasib, bukan meratap dan bunuh diri karena putus asa. Untuk para ibu yang berjuang menyelamatkan keluarga, rela berkorban demi anak mereka meskipun dirinya sendiri sakit dan sekarat. Untuk para relawan dan orang-orang baik hati yang berjuang memperbaiki nasib anak-anak dunia, tanpa pamrih, tanpa puja-puji dan tanpa tanda jasa.

Dan untuk malaikat kecil di atas sana, yang semoga belum putus asa mencari jalannya ke hati kami...
Profile Image for Ellen Isabella.
164 reviews21 followers
October 21, 2014
Perjalanan kemanusiaan sebagai duta UNICEF yang dilakukan Totto-chan sungguh mengharukan. Totto-chan bertemu dengan jutaan anak dari puluhan negara. Sungguh menyedihkan melihat kehidupan anak-anak yang sejak kceil sudah merasakan begitu banyak penderitaan.

Sejak dulu sebenernya saya pengen banget kerja kaya' Totto-chan. Bantuin anak-anak di desa-desa terpencil yang kesulitan. Setelah baca buku ini hadi makin berniat deh. Mudah-mudahan suatu hari nanti bisa terwujud.. Amin..

Dari buku ini saya disadarkan bahwa selama ini saya masih kurang bersyukur dari kehidupan yang saya miliki..

- Di saat kita merasa bosan dengan makanan yang biasa kita makan, anak-anak di Ethiopia bahkan tidak punya kesempatan untuk memilih ataupun menikmati makanan.

- Di saat kita malas untuk belajar, anak-amal di Vietnam bahkan tidak punya kesempatan untuk belajar dan mereka harus bekerja sejak kecil.

- Di saat kita merasa kesal dengan orangtua kita, anak-anak di Angola bahkan tidak punya orangtua untuk dikesali.

- Di saat kita menyia-nyiakan air dan listrik tanpa merasa bersalah, anak-anak di Nigeria bahkan tidak pernah menikmati semua itu.

- Betapa seringnya kita merengek dan mengeluh menghadapi masalah sepele atau rasa sakit, anak-anak di Tanzania bahkan tidak pernah menangis atas rasa sakit mereka.

- Terkadang kita merasa senang memulai permusuhan dengan orang lain, anak-anak di Mozambik sangat berharap perang segera berakhir dan mereka begitu mendambakan kedamaian.

- Sewaktu kita malas minum obat meskipun obat banyak tersedia, anak-anak di India bahkan tidak pernah mendapatkan pengobatan atas rasa sakit mereka.

- Kita senang membeli pakaian mahal meskipun jarang menggunakannya, anak-anak di Kamboja hanya punya satu pakaian untuk dipakai setiap hari.

- Kita sering merasa kurang dengan fasilitas yang kita miliki, anak-anak itu tidak pernah menikmati fasilitas apapun..


Kurang bersyukur apa anak-anak itu? Mereka tidak pernah mengeluh.. Mereka masih memiliki harapan yang besar..
JADI... harusnya kita belajar seperti anak-anak itu, bersyukurlah dalam segala hal...
Profile Image for Rahmadiyanti.
Author 15 books174 followers
December 11, 2015
Baca prolognya saja sudah sesak. Baca terus, duh perih. Beberapa kali saya nggak mampu menahan tangis. Tuturan Tetsuko sendiri verbal saja, tapi pengalaman demi pengalamannya menemui anak-anak di berbagai negara (terutama negara berkembang & negara yang sedang berperang/konflik) benar-benar "kaya".

Sebagai Duta Kemanusiaan UNICEF selama kurun waktu hampir dua dekade Tetsuko telah mengunjungi puluhan negara. Dari Tanzania hingga Vietnam. Dari India hingga Bosnia.

Anak-anak yang polos dan mestinya mendapat kasih sayang, sering kali menjadi korban "orang-orang dewasa" yang haus darah dan serakah.


Profile Image for Ziyy.
642 reviews24 followers
March 7, 2011
Selain karena saya menyukai buku Toto-chan yang pertama, buku ini di-display sebagai 10 buku best seller saat itu. Iya, saat membelinya, saya termakan rekomendasi dari toko buku mumpuni itu. Buku ini sama-sama merupakan penuturan dari Tesuko Kuroyanagi, perempuan bernama-kecil toto-chan itu. Bila buku pertama berkisah mengenai ia dan sekolahnya yang ‘berbeda’ saat itu, yang berlatar masa perang di Jepang. Buku ini lebih bertutur lanjutan kisahnya yang pada tahun 80an hingga 90an dimana dia menjadi representasi UNICEF dan menjelajah daerah konflik dibanyak belahan dunia untuk misi kemanusiaan bagi anak-anak.

Negara-negara yang dikunjunginya sebagian besar adalah negara-negara benua Afrika, selebihnya merupakan negara-negara Asia Tenggara. Berlangsung dari tahun 1985-1996, total tiga belas negara konflik yang ia kunjungi. Kondisi anak-anak dinegara-negara tersebut bermacam-macam. Satu garis besar yang membuat mereka sama adalah kondisi mereka yang menyedihkan. Kebanyakan mereka korban perang, tidak terurus kesehatannya, mentalnya terganggu, sebagian dari mereka meninggal akibat genosida rezim zalim, banyak yang terlahir cacat. Tapi dari sekian banyak jumlah mereka dengan kondisi menyedihkan tersebut, masih tercipta mimpi dibenak mereka. Meski mimpi tersebut hanya semisal ‘aku ingin hidup’, ‘aku ingin bisa bersekolah’, dan beberapa mimpi sederhana lainnya.

Buku ini dilengkapi dengan foto-foto ‘apa-adanya’ yang menggambarkan kondisi sesungguhnya di lapangan. Foto-foto anak-anak yang menderita malnutrisi, busung lapar, anak-anak kelaparan mengantri jatah makanan dibawah terik suhu 49 derajat celsius, foto malu-nya seorang anak yang menderita hidrocepalus karena dilihat dengan pandangan kasihan, foto seorang bayi yang mungil sekali (dengan kulit keriput, tulang tampak jelas dan beratnya segenggaman tangan saja). Miris sekali melihatnya, saya bahkan tidak kuat lama-lama memandangi dokumentasi perjalanan toto-chan.
Meski kemalangan demi kemalangan tersebut berlangsung beberapa dekade lalu, tetapi menyadari bahwa pernah ada fakta-fakta menyedihkan bagi kemanusiaan seperti itu rasanya sesak sekali, benar-benar memojokkan kantung tangis dan sendu.

“Miss Kuroyanagi, saat Anda kembali ke Jepang, ada satu hal yang saya ingi Anda ingat: orang dewasa meninggal sambil mengerang, mengeluhkan rasa sakit mereka, tapi anak-anak hanya diam. Mereka mati dalam kebisuan, dibawah daun-daun pisang, mempercayai kita, orang-orang dewasa.” (kepala suku desa tak bernama di Tanzania)

Sedikit atau banyak, demi kepentingan atau bukan, peperangan selalu membuahkan perih dan kesakitan. Dibuku ini juga ditampilkan beberapa negara yang menjadi daerah konflik akibat perang saudara. Suku yang satu membunuh suku yang lain. Anak-anak bahkan mengenali sesiapa saja yang membunuh keluarga mereka. Dendam yang akhirnya berantai dan sulit usai.

“Manusia tidak dilahirkan untuk saling membenci, manusia dilahirkan untuk saling mengasihi..”

Maka rasa-rasanya, bila disekitar kita sedikit saja ada beberapa bentuk kasih-sayang, itu adalah kenikmatan. Melalui buku ini, saya belajar menghargai (bahkan) kondisi aman-nyaman yang lebih sering datang. Tetapi juga melalui buku ini, saya dibantu memahami psikologis orang-orang yang berada dalam lingkaran mencekam sembari sellau berucap syukur karena kondisi lingkungan dan psikologis saya masih lebih baik.

Ah, kenyataan bahwa sampai saat ini peperangan, pembersihan etnis, perang saudara, penjajahan masih saja berlangsung dengan bentuk-bentuk yang ‘terkemas samar’ semakin membuat hati rasanya tidak berdaya. Benarlah itu kedamaian adalah kondisi keberjayaan bagi kemanusiaan. Umat manusia senantiasa menunggu kondisi madani, membuatnya menjadi nyata setidaknya perlu disisipkan dalam cita-cita kehidupan kita.
Profile Image for e.c.h.a.
509 reviews257 followers
April 30, 2010
Entah apa yang ingin aku tulis setelah selesai membaca kisah Totto-chan dewasa. Air mata ku tak henti menetes, dada ini terasa sesak. Semahal itu kah harga sebuah Perdamaian?

Aku banyak belajar dari anak-anak ini, mereka tidak pernah patah semangat, mereka tetap ingin hidup lebih lama, mereka selalu memandang jauh ke depan terus jauh ke depan dan mereka selalu melihat akan hadirnya sebuah harapan.




Kita dilahirkan bukan untuk saling membenci tetapi saling mengasihi dan Tuhan menciptakan anak-anak murni dan baik
Profile Image for melmarian.
400 reviews135 followers
January 10, 2011
Tanzania. Anak-anak antre mengambil air di 'sumur' yang tak lain lubang yang berisi air berlumpur. Mereka anak-anak asli Afrika yang tidak pernah melihat gajah, singa, atau jerapah secara langsung.

Nigeria. Negara dengan curah hujan tahunan 2,5 sentimeter. Suhu udara pada siang hari mencapai 60 derajat Celcius. Tidak ada air bersih yang layak dikonsumsi.

India. Negara dengan budaya yang menawan. Namun di kota Madras, 92 persen anak-anak menderita kekurangan gizi.

Mozambik. Bekas jajahan Portugis yang memperoleh kemerdekaan dengan tingkat literasi hanya 2 persen. Tentara gerilya menghancurkan semua fasilitas umum, laki-laki dibunuhi, perempuan diperkosa, anak-anak dilatih paksa menjadi tentara gerilya.

Kamboja. Ada tempat bernama kuburan massal Choeng Ek tempat 9.000 tengkorak manusia diletakkan begitu saja di atas rumput. Korban-korban rezim Pol Pot menggali lubang kuburan mereka sendiri dan dipenggal tepat di depan lubang yang mereka gali.

Vietnam. Anak-anak bekerja dari pagi hingga malam hari. Mereka pergi ke sekolah pukul 19.00-21.30.

Angola. Tentara gerilya antipemerintah memotong kaki dan tangan anak-anak. Ayah ibu mereka dibunuh di depan mata.

Bangladesh. Setiap kali terjadi banjir, sepertiga negara ini terendam. Bencana alam menyebabkan kelaparan dan wabah penyakit merajalela.

Irak. Kotoran masuk ke rumah penduduk karena saluran pembuangan dan pembangkit listrik tidak berfungsi akibat dibom. Anak-anak dijadikan alat pendeteksi ranjau darat.

Etiopia. Orang-orangnya kurus kering, hanya tulang berbalut kulit. Makanan dijatah, yang mendapatkannya hanya mereka yang berat badannya kurang dari 70 persen standar berat untuk umur dan tinggi badan mereka.

Sudan. Banyak sekali anak yang menjadi korban tembakan gerakan antipemerintah. Banyak anak menjadi yatim piatu karena perang saudara.

Rwanda. Kata salah satu pendeta setempat yang dimuat di majalah Time, “Tidak ada lagi iblis di neraka. Semuanya ada disini, di Rwanda.” Orang-orang saling membunuh karena kebencian yang amat hebat.

Haiti. Anak-anak menjadi pelacur untuk memberi makan keluarganya. Anak-anak jalanan dijebloskan ke penjara, tanpa mengetahui apa kesalahannya.

Bosnia-Herzegovina. Anak-anak menderita luka psikologis yang sulit disembuhkan, akibat perang. Ada ranjau dan bom yang khusus dibuat untuk membunuh anak-anak, yang berbentuk seperti cone es krim, cokelat, atau mainan.

--------------

Sangat mudah bagi kita untuk berkata, “Di negara X terjadi kelaparan,” atau “di negara Y pecah perang,” tanpa mengetahui apa yang sesungguhnya dirasakan orang-orang yang mengalami langsung kejadian itu. Kalaupun kita sempat melihat liputan beritanya di televisi, paling-paling kita hanya mendesah pelan dan berkata, “Oh, kasihan ya.” Titik.

Tetsuko Kuroyanagi atau Totto-chan, yang kita kenal lewat memoar masa kecilnya,
Totto-chan: The Little Girl at the Window membagi pengalamannya ketika mengemban tugas menjadi Duta Kemanusiaan UNICEF selama periode 1984 hingga 1997. Ia mengunjungi sejumlah negara dan bertemu bermacam-macam anak; anak yang sangat kekurangan gizi sehingga otaknya rusak, anak yang ditinggal mati orangtuanya karena wabah kolera, anak yang harus bekerja untuk memberi makan keluarganya, anak yang haus belajar namun tidak ada sarana prasarana yang tersedia baginya untuk belajar, anak yang menderita trauma batin amat parah akibat perang saudara yang terjadi di negaranya.

Begitu banyak fakta mengejutkan yang dibeberkan Totto-chan dalam buku ini, baik mengenai musibah kelaparan, kejamnya perang, dan kondisi mereka yang mengalaminya, baik anak-anak maupun orang dewasa. Siapapun yang masih memiliki nurani akan remuk hatinya mengikuti penuturan Totto-chan sementara ia bergerak dari satu negara ke negara lain. Betapa mengerikannya dampak kelaparan dan perang terhadap anak-anak khususnya, dan umat manusia pada umumnya!

Namun kabar gembiranya adalah; masih ada orang-orang yang dengan sukarela mau membangun kembali negara yang hancur, mengusahakan kesehatan masyarakat, memberdayakan kaum perempuan, memperjuangkan perdamaian. Dari orang-orang seperti inilah kita dapat mengambil teladan, bahwa masih ada kasih sayang di dunia ini. Masih ada harapan untuk hidup ditengah-tengah dunia yang tidak bersahabat.

Inilah salah satu buku yang “menampar” saya dengan begitu keras. Walaupun fakta yang ditulis dalam buku ini terjadi sudah 13-26 tahun yang lampau, dan saya tidak begitu tahu seberapa banyak perkembangan yang terjadi sampai dengan hari ini, tetap saja selesai membacanya saya merenung lama, memikirkan hal-hal ini;

Saya masih bisa makan tiga kali sehari, masih pantaskah saya mengeluh?
Saya tidak kekurangan air bersih, kalau tidak ada air tinggal beli saja, masih pantaskah saya mengeluh?
Saya tinggal di negara yang relatif masih damai, ketakutan tidak merajalela di jalan-jalan, masih pantaskah saya mengeluh?

Di luar sana, ada anak-anak yang harus berjalan sejauh 4,8 sampai 9,6 kilometer untuk mengambil air. Airnya cokelat berlumpur, tapi tidak ada air yang lain.
Di luar sana, ada anak-anak yang tidak bisa bebas berlarian di padang berumput, karena satu kali saja salah melangkah, nyawa bisa hilang akibat ranjau darat yang tersebar dimana-mana.
Di luar sana, ada keluarga-keluarga terpisahkan akibat perang, rumah-rumah yang masih berdiri punya lubang-lubang yang tak terhitung jumlahnya, hasil bombardir peluru.

Teman-teman, bersyukurlah dan lebih banyak lagi bersyukur. Di luar sana, banyak orang yang mengalami kesulitan-kesulitan tak terbayangkan, masih pantaskah kau mengeluh karena hal yang begitu kecil dan remeh?

Totto-chan menuliskan hal ini dalam Epilog;
“Setelah bertemu berbagai macam anak,
Aku ingin mengatakan pada anak-anak Jepang:
Jika kalian sedih melihat anak-anak di negara berkembang,
Yang kalian temui di dalam buku ini,
Dan ingin membantu mereka,
Katakan sekarang kepada teman yang duduk di sebelahmu,
“Mari berdamai.
Mari bergandengan tangan dan menjalani hidup bersama
.”


Anak-anak tidak mengenal teman atau musuh. Bagi mereka semuanya sama. Dapatkah kita bersikap seperti mereka, dan memandang manusia sebagai manusia, sesama ciptaan Tuhan, tanpa memandang suku, ras, agama, golongan, kewarganegaraan? Jika kita bisa melakukan hal itu, tentulah akan jauh lebih sedikit perang yang terjadi di muka bumi ini.

Bersyukurlah dan berdamailah. Sesederhana itu. Sebab manusia tidak dilahirkan untuk saling membenci, tapi untuk saling mengasihi.
Profile Image for Gita Romadhona.
Author 9 books35 followers
March 10, 2010
Kisah-kisah dalam buku ini tak hanya menginspirasi, tetapi juga mengingatkan kita yang selalu lupa akan satu hal sederhana. bersyukur.

saya menangis di beberapa kisah. saya malu membaca beberapa cerita, karena selalu mengeluh untuk hal yang teryata bukan apa-apa dibandingkan persoalan yang dihadapi anak-anak dalam buku ini.

saya jadi bermimpi untuk memiliki kesempatan yang sama seperti yang dimiliki Totto Chan untuk menemui anak-anak di dunia yang kurang beruntung. belajar dari mereka. membagi sedikit harapan.



ah semoga saja, ya :)
Profile Image for Arief Bakhtiar D..
134 reviews82 followers
September 11, 2019
TOTO

DALAM bahasa Swahili, kata “toto” berarti anak. Dan di Tanzania (sebuah negeri yang rakyatnya sehari-hari memakai bahasa Swahili) tahun 1984, perempuan Jepang itu seperti mendengar namanya terus-menerus dipanggil.

“Mtoto, Mtoto…”

Tetsuko Kuronayagi, perempuan Jepang itu, hanya bisa heran. Pengarang Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela, di masa kecilnya, sering mendengar kata serupa. Dari telinganya yang mungil, nama panggilannya “Tetsuko” terdengar seperti “Totto”—seperti kata “mtoto” atau “anak” dalam bahasa Swahili.

Mtoto, Mtoto…

Di Tanzania itu, di sebuah klinik kecil yang kekurangan alat, Kuroyanagi menemui “sekumpulan anak yang tidak bersuara”, yang terang sudah tak bisa memanggilnya “mtoto”. Dua puluh anak dan bayi tak punya cukup tenaga untuk menangis dengan suara, juga untuk menggerakkan tangan mengusir lalat yang merangkak dan memenuhi muka mereka. Mereka menangis: mata mereka yang besar dipenuhi air mata. Bayi-bayi itu tak tersenyum, sebab tak memiliki “nutrisi” untuk tersenyum. Yang mereka lakukan hanya memegang-megang baju Kuroyanagi.

Adakah masa depan bagi mereka? Atau pada akhirnya akan mati dalam diam? Saya tak tahu. Kuroyanagi tak tahu. Yang dia tahu: kita tak menyaksikan bayi-bayi yang berbaris tidur berselimut manis seperti kepompong, dengan pipi yang gembul dan merah, yang esok akan punya cita-cita jadi insinyur, pilot, polisi, atau dokter.

Di Tanzania, Kuroyanagi percaya kalau alam bisa kejam. Dalam buku Anak-Anak Totto-chan itu—judul versi Jepang Totto-chan to totto-chan tachi, yang berarti Totto-chan dan para watoto (bentuk jamak dari mtoto)—kita diberi kisah daerah bernama Dodoma. Di sana hujan tidak turun delapan bulan. Tanaman jagung, tanah, sungai, tak perlu ditanya—semua kering. Tapi Kuroyanagi diberi kehormatan mencuci tangan. Yang membuat kegiatan remeh-temeh cuci tangan itu menjadi besar adalah ini: air itu, yang berada di dalam sebuah panci kecil, adalah air yang diambil dari jarak 4,8 kilometer. Pemandu Kuroyanagi bilang jarak itu tidak terlalu jauh. Lainnya bisa 10-16 kilometer.

Yang meraih simpati terdalam Totto, yang mengambil air itu adalah sekelompok anak kecil. Mereka berjalan kaki, berkilo-kilo meter, dan sampai di tempat tertentu anak-anak kecil itu menggali lubang sedalam 30 senti dan lebar kira-kira 40 senti. Mereka diamkan sebentar lubang itu, dan hola: dasar lubang mulai basah, mulai terisi air. Sekitar 10 menit, akan ada mudah-mudahan cukup air untuk dua mangkuk kecil. Tapi di permukaan air itu masih mengambang debu-debu. Agar lebih bersih (hanya “lebih”, tidak bisa bersih sempurna tanpa lumpur), mereka menyendoki debu dan kotoran di permukaan air itu. Dalam situasi sulit, anak paling kecil dalam pengembaraan didahulukan meminum airnya. Tidak heran, di Dodoma sekolah tidak lebih penting ketimbang mencari air. Logikanya sederhana: tanpa sekolah mereka bisa hidup, tanpa air mereka mati.

Tapi tidak hanya alam yang kejam terhadap anak-anak. Perang turut andil menyebabkan kehidupan anak-anak semakin sulit. Dalam era di mana anak orang kaya menghabiskan berjuta-juta sekali main di mall, di belahan dunia lain anak-anak hanya mampu bermain di tanah lapang—untuk menjadi korban ranjau. Mari kita perhatikan angka-angka: diperkirakan 110 juta ranjau darat masih tertanam di 64 negara. Tiap tahun hanya mampu diamankan sekitar 100.000 ranjau. Secara matematis, pembersihan semua ranjau membutuhkan 110 tahun. Dalam 110 tahun, bisakah kita memastikan tak ada anak-anak yang jadi korban?

Berdasarkan cerita Kuroyanagai, kita masih bisa membuat deret yang tak habis-habis mengenai kekejaman perang dan derita anak.

Di Angola, 1989, anak-anak yang tak bisa berlari cepat dalam pelarian diikat di pohon. Tangan atau kaki mereka dipotong dengan golok agar tak bisa membalas dendam atas kematian orang tua mereka. Di Ho Chi Minh City, 1988, lima ribu anak tuna netra akibat racun yang dipakai tentara Amerika Serikat. Itu masih belum ditambah betapa kejamnya sebuah kecerdasan: pihak yang berperang menciptakan bom dalam bentuk boneka—mainan yang dalam situasi perang bagaikan hadiah Santa, teramat berharga bagi seorang anak yang rumah dan kotanya hancur. Di Leningrad, anak-anak sampai memakan plester dinding. Dalam situasi perang sering kali bayi-bayi digoncang, untuk tahu apakah mereka masih hidup atau mati. Dokter? Dokter-dokter hanya bisa melihat, tak bisa mengobati, tak bisa mengoperasi. Ada memang suatu kisah yang agak menyenangkan kita, tentang seorang anak yang amnesia—mungkin itu bentuk baik hati dari Tuhan daripada ia mengingat apa-apa yang menyeramkan.

Selain perang apa? Mengungsi?

Jutaan anak-anak hidup di barak pengungsian. Mereka tumbuh di kota di mana gedung-gedungnya dipenuhi lubang peluru. Di perkampungan kumuh di Port-au-Prince, Haiti, 60.000 pengungsi menghuni bangunan-bangunan kotak 2,7 x 1,8 meter dengan atap dinding seng bergelombang yang membikin udara makin panas. Di kota Juba, Sudan, 400.000 orang menggantungkan hidup dari apa yang dijatuhkan dari udara. Di sebuah gereja di Nymata, 2000 mayat tanpa kepala bertumpukan. Di lantainya, tengkorak-tengkorak berserakan. Mereka adalah korban-korban perang yang mati dipenggal dengan golok, senapan, atau granat tangan.
Di tempat-tempat seperti itu jutaan anak-anak hidup, juga mungkin setelah perang berakhir. Mereka mungkin akan sekolah seadanya sambil bekerja. Di Phnom Penh, dari 1 juta anak sekolah dasar, 60.000 diantaranya bekerja setiap hari. Mereka mungkin tak punya orang tua lagi, dan sibuk menyalahkan diri sendiri atas kematiannya. Dan memang itulah yang terjadi. “Aku melakukan hal yang dilarang Ibu,” kata seorang anak yang percaya, “karena itulah dia dibunuh.”

Mtoto, mtoto…

Di sini barangkali Tagore menjadi berarti. Membaca cerita perjalanan Kuroyanagi, kita sulit membayangkan apa yang dibayangkan Tagore tentang anak-anak, saat betapa damainya tangan-tangan kecil itu meluncurkan “daun yang kisut seolah-olah jadi perahu, dan dengan senyum mereka apungkan ke laut dalam.” Kita hanya bisa murung oleh apa yang diperikan kepala desa di Tanzania kepada Kuroyanagi, bahwa orang-orang dewasa meninggal sambil mengerang dan mengeluhkan rasa sakit mereka, tapi anak-anak hanya diam. Anak-anak, Miss Kuroyanagi, anak-anak itu “mati dalam kebisuan, di bawah daun-daun pisang, memercayai kita: orang-orang dewasa”.

In the dark times/ will there also be singing/ Yes, there will be singing/ About the dark timesMotto, Bertolt Brecht
Profile Image for Syifa Luthfianingsih.
250 reviews95 followers
June 5, 2018
Aku tahu betapa banyaknya alasan untuk berperang, tapi aku tak bisa berhenti memikirkan betapa banyaknya nyawa anak-anakk dan air mata para ibu yang bisa diselamatkan jika hal semacam ini tidak terjadi. Aku akan terus mengatakannya: perang benar-benar kejam.


Di tahun 1997, buku ini pertama kali diterbitkan. Di tahun yang sama, saya dilahirkan. 21 tahun kemudian, buku ini sampai di tangan saya. Dan saya belum pernah membaca buku senyata ini, yang di setiap penggal ceritanya membuat saya harus menutup halaman sejenak, karena saking sesaknya dada dan pilunya hati.

21 tahun berlalu. Apakah dunia sudah berubah lebih baik bagi mereka?
Profile Image for Ade Putri.
216 reviews
April 3, 2019
Masya Allah. Sungguh buku yang tak kalah hebat dari buku Totto-chan sebelumnya. Buku yang akan membuat kita punya sudut pandang lain tentang cara bersyukur. Dari pengalaman anak-anak yang harus menanggung resiko akibat ‘ulah’ orang dewasa yang melakukan perang. Dari bagaimana sucinya anak-anak yang tak kenal apa itu musuh karena menganggap semua teman. Ah, pokoknya salah satu buku terbaik yang sudah saya baca di tahun 2019 ini.

Setiap orang butuh sahabat, teman untuk tertawa.
Anak-anak yang kelaparan pun ingin jadi temanmu.
Itulah yang ingin kusampaikan padamu. (hlm. 302)

Selengkapnya di Delina Books
Profile Image for Rajita P..
332 reviews28 followers
January 1, 2020
'โต๊ะโตะจังกับโต๊ะโตะจังทั้งหลาย' หนังสือเล่มที่ 3 ของคุณคุโรยานางิ เท็ตสึโกะ ต่อจาก โต๊ะโตะจังเด็กหญิงข้างหน้าต่าง และนางสาวโต๊ะโตะ
🦋โต๊ะโตะจังกับโต๊ะโตะจังทั้งหลาย เล่าประสบการณ์การเป็นฑูตยูนิเซฟใ���ช่วงปีค.ศ.1984 ถึง 1996 ที่เดินทางไปพบเจอเด็ก ๆ กว่า 14 ประเทศ ได้มองเห็นความลำบาก ทุกข์ยากและความไร้เดียงสาของเด็กในประเทศเหล่านั้น รวมทั้งเล่าถึงความพยายามให้ความช่วยเหลือของยูนิเซฟ
🌻ฉันอ่านเล่มนี้จบด้วยน้ำตา ท้องไส้ปั่นป่วนไปหมด ความรู้สึกเหมือนตอนอ่านบันทึกลับของแอนน์ แฟรงค์ ที่อ่านจบนานมากแล้ว...
สงครามไม่ว่าจะเกิดประเทศ ในพื้นที่ไหน
จะเป็นไปด้วย���หตุผลอะไรก็ตาม ผู้ที่ได้รับผลกระทบและน่าสงสารที่สุดคือเด็ก ๆ นั่นเอง
💐ฉันให้เล่มนี้คะแนนเต็มเพราะอยากสนับสนุนให้ทุก ๆ คนได้อ่าน และอยากให้โลกนี้มีสันติภาพ
Profile Image for Dona.
20 reviews2 followers
June 16, 2010
Baru membaca beberapa lembar saja, buku ini bisa bikin nangis. Ada perasaan sedih, kaget, dan malu. Sedih ketika aku membayangkan aku berada di posisi mereka, mencoba merasakan apa yang mereka rasakan. Kaget ketika aku membaca bahwa begitu buruknya kondisi yang diakibatkan oleh perang. Dan perasaan malu ketika aku membaca perjuangan orang-orang yang berusaha mencari air, mencari makanan, bahkan tidak memiliki baju untuk dipakai.

Sering kali aku bingung untuk makan apa, minum apa, sementara banyak orang-orang, khususnya anak-anak yang tidak memiliki air untuk diminum, bahkan terpaksa meminum air berlumpur. Bukan hanya makanan, minuman, ato tempat tinggal yang mereka pikirkan, anak-anak itu begitu ketakutan sampai mereka harus tidur bertindihan dan saling menjaga.
Ada juga anak-anak yang harus mengangkat senjata untuk membela sukunya sendiri. Ntah apa yang mereka pikirkan, bahkan membedakan mana musuh dan mana teman mungkin mereka juga bingung, namun mereka dipaksa melakukannya. Ketika anak-anak itu bermain, banyak dari mereka yang terkena ranjau darat. Ada anak yang meninggal tapi ada juga yang harus kehilangan kaki, tangan ato luka parah di tubuhnya. Anak sekecil itu harus merasakan kesakitakn sebegitu besar?? Betapa mengerikannya perang itu!!!

Buku ini mengajarkanku banyak hal, contohnya mensyukuri hidup, karena banyak anak-anak yang tidak bisa merasakan mereka tumbuh menjadi orang dewasa. Dilahirkan dengan prematur, dan harus meninggal karena kekurangan gizi, betapa menyedihkan bukan?? Dan dokter juga tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu anak-anak itu meninggal.

Ada satu kalimat dalam buku ini, yang mengatakan bahwa "Manusia diciptakan bukan untuk saling membenci tapi untuk saling mengasihi". Kata-kata yang bagus, dan akan lebih bagus jika hal itu juga diterapkan. Perang hanya akan membawa kematian, akan membawa kemiskinan dan kebodohan. Tidak ada keuntungan sama sekali. Alangkah baiknya jika semua orang berpikiran demikian, dan melakukannya juga dalam kesehariannya, tapi semuanya itu kembali ke diri masing-masing...^_^



Profile Image for Edy.
273 reviews37 followers
June 6, 2011
Buku ini merupakan “true story” atau pengalaman nyata dari Tetsuko Kuroyanagi (Toto Chan) ketika sudah dewasa sewaktu menjadi duta kemanusiaan UNICEF. Buku ini merupakan buku kedua Toto Chan, setelah buku pertamanya “Gadis dibalik Jendela” yang isinya sangat mempesona.

Dalam buku ini Toto Chan menceritakan pengalaman dan empathynya terhadap penderitaan anak-anak di berbagai negara yang mengalami bencana alam, wabah penyakit dan perang. Diceritakan bagaimana bencana alam kekeringan di Tanzania, Nigeria, Ethiopia telah mengakibatkan banyaknya anak yang terkena kasus kurang gizi dan kesulitan air bersih. Kasus bencana lain adalah banjir di Bangladesh yang menimbulkan kerugian ekonomi dan munculnya berbagai penyakit seperti TBC, polio, tetanus dan juga eksploitasi tenaga kerja anak. Kondisi kemiskinan juga memaksa masyarakat tinggal dalam situasi yang kurang higienis dan anak-anak rentan terkena berbagai penyakit (kasus India), kurang gizi, maraknya anak jalanan dan pelacuran anak (Haiti).

Dari berbagai kejadian bencana, salah satu dampak yang paling mengerikan adalah bencana perang baik perang saudara, genocide maupun agresi pihak luar.(kasus Mozambique, Angola, Kamboja, Vietnam, Irak, Sudan, Rwanda, Bosnia Herzegovina). Selain kurang gizi dan tidak ada akses terhadap pendidikan yang memadai, anak-anak korban perang seringkali mengalami kematian, cacat fisik, diperkosa dan trauma psikologis yang berkepanjangan akibat aksi kekerasan yang terjadi di depan matanya. Suatu hal yang sangat tidak adil bagi anak-anak yang seharusnya menikmati masa bermain dan jauh dari hingar bingar pertikaian.

Secara umum buku ini menarik untuk membangkitkan empathy terhadap anak2 korban bencana. Di sisi lain buku ini juga bisa menjadirefleksi bagi kita untuk mensyukuri akan kondisi Indonesia yang relatif cukup aman (walau ada beberapa kasus konflik kekerasan terjadi di negara kita). Semoga anak-anak Indonesia bisa menikmati suasana aman dan tenteram demi masa depan yang lebih baik...amin...
Profile Image for Yunita.
13 reviews5 followers
March 23, 2010
Pheww...baru saja selesai baca ni buku..Sambil baca, sambil menyesali diri yang selama ini terlalu berkeluh kesah terhadap keadaan yang kalau dibandingkan dengan keadaan masyarakat yang tinggal di belahan dunia sana yang jauuuuuuuuh lebih buruk daripada diriku disini.

Buku ini adalah semacam jurnal perjalanan Tetsuko Kuroyanagi, sang penulis, yang bertugas sebagai duta kemanusiaan UNICEF dari tahun 1984 sampai dengan 1997. Perjalanan dimulai dari Tanzania terus ke beberapa negara afrika lainnya (Uganda, Rwanda, Somalia, Ethiopia, Mozambik, dll). Kemudian Asia (India, Bangladesh, Vietnam dan Kamboja, Irak) lanjut ke Haiti, terus ke Bosnia-Herzegovina. Buku ini mendeskripsikan apa yang dilihat dan dialami oleh sang penulis dan bahsanya membawa kita dapat membayangkan keadaan-keadaan yang menyedihkan di negara-negara tersebut.

Gambaran-gambaran kehidupan dimana jangankan makanan, bahkan air merupakan barang mewah. Kehidupan dimana anak-anak tak sanggup menangis sangking menderitanya. Kehidupan dimana kebebasan dan kedamaian merupan impian.

Deskripsi tersbut lengkap dengan gambar-gambar perjalanan.

Kuakui mengerikan melihat foto-foto tersebut dan membaca tulisan ini. tapi kenyataan yang terjadi adalah aku tak bisa melepaskan buku ini sampai pada halaman terakhir.

Jadi mikir kalau buang-buang makanan dan membeli barang-barnag yang tidak terlalu dibutuhkan. hiks..
Profile Image for Lisa.
59 reviews17 followers
May 25, 2010
Ini bukan jenis buku yg bisa dibaca sambil lalu di kereta... soalnya baru beberapa lembar halaman pertama aja, air mata udah ber"cucuran" keluar dengan sendirinya. Hiks..hiks... (Kan ndak seru kalo di kereta tahu2 kita ketahuan mengeluarkan air mata gitu deh...apalagi sampai banyak...hehehe..).

Air mata keluar dengan sendirinya bukan karena ini cerita sedih... mestipun memang sangat menyentuh hati. Kalimat-kalimatnya sangat apa adanya, enak dibaca, namun sangat menyentuh. Dua jempol deh buat Ms. Tetsuko. (sayang jempol kaki tidak bisa dihitung yaa...). Membuat kita menyadari betapa beruntungnya kita hidup di Indonesia ini.. (mestipun dengan sistem perkereta apian yg sering kali bikin bete saking memblenya... namun much much better lah...). Benar juga kata Ms. Tetsuko bahwa binatang dalam kebun binatang hanya bisa kita lihat dalam kondisi negara yang aman dan sejahtera... (lupa sih bagaimana tepatnya kata-kata beliau...). Kalo pake istilah Ipin... jadi makin cintaaaaa Indonesia... hehehe... (nyambung nggak sih? Auh ah...)
Profile Image for Juniar.
103 reviews31 followers
August 1, 2010
Heartbreaking facts told by a person full of hopes. The book tells about children of the world who are struggling or die trying; helpless children who cry silently. Every story brings tears to my eyes, pain in my chest. Amazingly, this is written in high spirit and unwavering faith.
Perhaps a lesson I learned from this book is: if you want to change the world, start from yourself and the small world around you.
Profile Image for Francisca Todi.
Author 8 books48 followers
June 8, 2017
Buku ini benar-benar membuka mata saya terhadap kekejaman perang dan betapa banyaknya penderitaan di muka bumi. Sementara kita mengeluh soal hal-hal sepele, membuang-buang makanan dan air, orang-orang di belahan dunia lain kelaparan dan kekeringan, menderita trauma dan luka yang mendalam. Rasanya pengen langsung ikutan menjadi duta UNICEF.
Profile Image for Puput Hardianto.
5 reviews
February 17, 2014
Sebuah buku yang bagus untuk membuka pikiran yang selalu mengeluh dan jarang bersyukur. Buku yang bercerita bahwa air penuh lumpur akan disyukuri di tanah yang tandus. Buku yang bercerita bahwa bisa tertawa saja bahkan bisa menjadi suatu nikmat yang besar di sebuah tempat penuh konflik.
Profile Image for Aisyah Hasyim.
14 reviews21 followers
June 4, 2016
Read this and you will know how lucky you are. Be grateful to Allah for your life. However, it's a gift.
Well, it would be good for us if we could read this kind of book with a more updates event in the recently years.
Profile Image for fira.
108 reviews7 followers
November 28, 2023
sesek bgt baca ini. makin ke belakang makin bikin ngilu. beneran berketerbalikan sm buku Totto-chan yg ini. kalo yg Gadis Cilik di Jendela tuh versi Totto-Chan waktu masih menempuh sekolah dasar, nah kalo Totto-Chan's children itu versi dewasa. singkatnya buku autobiografi ini ditulis Tetsuko saat dia dewasa, Tetsuko ikut sebagai relawan UNICEF dan pergi ke 13 tempat untuk ngeliat kondisi manusia terutama anak-anak disana. perjalanan Tetsuko itu tahun 1984-1996.

hiks aku cukup merinding di tahu tsb masih banyak negara yg struggle, bahkan ada yg blm merdeka :') pembunuhan, perang, pembantaian, kemiskinan, penyakit, kelaparan, pemerkosaan, didefinisiin semuanya di 13 tempat tsb.

dan yg kuhighlight, anak-anak banyak menderita busung lapar, kurang gizi, tetanus, diare, tipus. bahkan anak² dijadikan budak sm orangtuanya sndr. anak² jg dijadiin pendeteksi ranjau sm org dewasa :") ada juga anak yg harus pisah sm ortunya dan berujung yatim piatu.anak-anak banyak yg kena gangguan mental, depresi, bahkan mereka udah gabisa berekspresi saking traumanya. hidup mereka penuh ketakutan. orangtua dibunuh di depan mereka pun kek hal yg udah biasa, astaga😭

aku salut Tetsuko mau nyentuh anak² disana, karna dia tau anak disana tuh jg butuh kasih sayang. mulia sekali Tetsuko ini, sama seperti guru sekolahnya dulu, Mr. Kobayashi. buku ini bikin kita banyak bersyukur karna kita udah hidup enak dan dilahirkan dalam kondisi yg aman dan tentram. anak-anak kecil disana lahir tapi untuk meninggal, tapi mereka masih mau ada keinginan untuk hidup. ibaratnya gitu, hiks :")

klo mau baca buku ini, nggak bisa enjoy, apalagi kalo tipe manusia perasaan yg mudah emosional, bisa nangis kejer :")
Profile Image for Tiya Mulani.
93 reviews8 followers
October 23, 2020
Buku ini menceritakan perjalanan Tetsuko Kuroyanagi (penulis buku Totto-chan) ketika menjadi Duta Kemanusiaan UNICEF selama tiga belas tahun (1984-1997)
Baru membaca buku ini di tahun 2020 mungkin sudah tidak relevan kondisi dari berbagai negara yang dikunjungi oleh Tetsuko Kuroyanagi. Lebih dari 20 tahun, pastinya sudah banyak yang berubah dari negara-negara itu, bisa jadi lebih buruk tapi tentu harapan kita semua, kondisi menjadi lebih baik di sana.

Saya bukan orang yang mengikuti perkembangan kondisi negara-negara lain. Jadi buku ini sungguh membuka mata saya, betapa banyak negara yang jauh lebih kesulitan dibandingkan negara yang saya tinggali saat ini.
Bahkan beberapa negara yang menjadi tujuan Tetsuko Kuroyanagi ini masih asing di telinga saya. Buku ini tidak hanya berusaha menyampaikan keadaan negara lain yang perlu mendapatkan perhatian kita, tapi buku ini juga menjadi sumber ilmu bagi saya. Sedikit banyak menambah wawasan saya.

Buku ini sepatutnya dibaca oleh banyak orang. Mungkin tidak banyak yang bisa kita lakukan untuk saudara-saudara kita yang jauh di negara lain, tapi setidaknya buku ini bisa menyadarkan kita akan nikmat yang kita dapati setiap hari yang seharusnya kita syukuri, karena masih begitu banyak orang di luar sana yang berjuang jauh lebih berat untuk mempertahankan hidup mereka.
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,438 reviews73 followers
October 6, 2023
Apa kenangan kita sebagai generasi tahun 90-an? Anime TV di Minggu pagi? Gamebot? PS? Ngefans sama West Life? Nonton Meteor Garden? Nungguin waktu tayang Power Rangers? Kita punya banyak kenangan romantis sebagai generasi yang lahir dan besar di tahun 90-an.

Tapi buat anak-anak di Afrika, Irak, India, dan banyak negara lain, lahir dan besar di tahun 90-an berarti kekeringan panjang, kelaparan, perang saudara, mati karena diare, dan kaki serta tubuh yang hancur karena ranjau darat.

Membaca detail kisah-kisah kunjungan Tetsuko Kuroyanagi ke negara-negara konflik antara tahun 1987-1997, apalagi lengkap dengan melihat foto-foto anak-anak dan bayi yang busung lapar, kehilangan tangan, tak punya mata karena radiasi, membuat hati benar-benar menangis. Meski sudah terjadi lama sekali, rasanya sulit mengira bahwa ada pernah ada neraka-negara seperti itu di dunia ini.

Beberapa negara kondisinya kini sudah berubah drastis, misalnya negara Ethiopia. Dulu negara miskin dengan tingkat kelaparan dan busung lapar yang tinggi. Kini makmur dan maju teknologi serta pertaniannya.
Profile Image for Katherine 黄爱芬.
2,421 reviews291 followers
January 20, 2021
Ternyata buku ini mengisahkan ttg kehidupan Tetsuko Kuroyanagi selama menjadi Duta UNICEF, mengunjungi banyak negara miskin dan sangat terbelakang akibat perang saudara bertahun-tahun. Ada 15 negara yg diceritakan di dalam buku ini dan sangat menyedihkan kehidupan anak-anak yg tumbuh besar dalam gejolak perang, kelaparan, kecacatan dan kemiskinan mewarnai kehidupan mereka.

Tadinya saya kira buku ini ttg anak-anak kandung Totto-Chan, eh ternyata bukan. Berbeda jauh dgn buku Totto-Chan yg lucu dgn semangat anak-anak utk belajar, buku ini lebih gambaran kepahitan dari kesalahan politik negara-negara yg tidak memedulikan jiwa rakyatnya. Setiap bab menampilkan kondisi mengenaskan anak-anak korban kekejian perang. Bikin saya merinding semua dan bersyukur saya tumbuh di Indonesia walaupun dlm rezim diktator tapi gak sampai setengah hidup spt anak-anak di Afrika maupun negara-negara bekas perang tsb.
Profile Image for Ipeh Alena.
543 reviews21 followers
May 18, 2018
Meski 'rasa' yang ditawarkan di dalam buku ini berbeda dari buku kisah Toto Chan ketika masih kecil. Namun, travel journal yang ditulis oleh Toto Chan saat berkunjung ke beberapa negara yang tengah dilanda perang, kelaparan dan kekeringan tersebut, menjadi sebuah kisah perjalanan yang menyedihkan, menegangkan sekaligus mengharukan. Perjalanannya dalam misi kemanusiaan ini dilakukan olehnya saat dirinya masih aktif menjadi duta UNICEF.
Profile Image for Kurnia Dwi Aprilia.
216 reviews4 followers
June 27, 2016
Kemiskinan memang terkadang sangat mengerikan. Terlebih jika kemiskinan yang disebabkan bukan karena kemalasan, tapi karena kekejaman perang, konflik, dan perebutan orang-orang dewasa yang pada akhirnya merenggut kebahagiaan anak-anak. Anak-anak menjadi sangat miskin. Miskin ilmu, miskin materi hingga jutaan yang menderita gizi buruk, juga miskin cinta dan kasih sayang. Ditelantarkan secara sengaja oleh orang tua, atau menjadi gelandangan oleh takdir yang menggariskan ibu-bapaknya hilang atau mati dalam perang. Begitu gambaran yang sangat mengerikan saat orang-orang di negara miskin hidup di tanah-tanah gersang yang suhu udaranya bisa mencapai di atas 60 derajat C dikala siang hari, tanpa tempat berteduh, tanpa ada tumbuh pepohonan sedikitpun sepanjang mata memandang, bahkan tanpa air minum yang layak untuk bertahan hidup. Sehingga, kematian senantiasa mengintai.
Kekeringan dan konflik menjadi sangat mengerikan dan menyakitkan, terutama bagi anak-anak. Di Tanzania, Negeria, India, Mozambik, kekeringan menyebabkan anak-anak terpaksa harus mencari air untuk minum hingga puluhan kilometer. Anak-anak terpaksa meminum air dengan keadaan yang keruh dan berlumpur. Peristiwa ini tentu menjadi alasan besar akan banyaknya penyakit yang tersebar dan berkembang seperti Kolera, tetanus, diare, polio, kwashiorkor, dsb. Kekeringan ini dikarenakan tidak adanya pepohonan yang dapat membuat siklus hujan. Sehingga berbulan panjang bahkan berbilangan tahun, di tanah tersebut tidak turun hujan sedikit pun.
Peperangan di Irak, Vietnam, Kamboja, Bangladesh, Ethiopia, Bosnia, Sudan, Haiti, Rwanda, menimbulkan luka-luka mendalam bagi anak-anak. Anak-anak usia belasan tahun harus kehilangan tangan dan kaki karena terkena ranjau darat, bahkan kehilangan penglihatan di usia yang begitu mudanya. Di Bosnia, pelajaran yang pertama diterima anak-anak di dalam kelas adalah mengenai ciri-ciri ranjau darat. Di sana orang-orang kejam sengaja membuat ranjau-ranjau darat yang bentuknya mirik es krim, batangan coklat, dan benda-benda yang dekat dengan anak-anak. Bahkan, di dalam boneka-boneka yang disayang anak-anak juga dimasukkan bom yang kemudian akan menjadi pembunuh sang anak.
Peristiwa di Rwanda begitu mengejutkanku. Saat membaca bahwa ribuan kepala orang berserakan di gereja, di jalanan, karena hampir setiap orang saling membunuh. Tetangga, teman dekat, bahkan saudara yang berbeda suku membunuh orang-orang terdekatnya, yang rasanya tidak pernah terbayangkan betapa mengerikannya. Betapa kejam manusia-manusia yang saling membunuh itu. Kurasa mereka tak lagi punya hati.
Di Haiti, anak-anak perempuan usia 12 tahun pun berjuang menghidupi diri dan keluarganya dengan cara yang sangat keji, yaitu dengan menjual dirinya. Sensus di sana menyatakan bahwan 1 dari 6 orang penduduk mengidap penyakit AIDS, bahkan tidak sedikit bayi-bayi yang baru dilahirkan membawa penyakit AIDS di dalam tubuhnya, sungguh sangat kasihan. Anak-anak gelandangan jumlahnya sangat banyak. Bergelimpangan di jalanan ketika malam hari, tanpa rumah, tanpa orangtua, tanpa kasih sayang. Tidak sedikit ditemukan anak-anak yang meninggal di jalanan karena kelaparan, dilahirkan untuk disia-siakan. Bahkan, ketika meninggal pun dalam keadaan sendiri, tanpa pelukan orang yang disayang.
Tapi mereka selalu berusaka untuk bertahan. Mereka kuat. Tidak ada kasus bunuh diri, tidak.

Alhamdulillah, dengan membaca buku ini saya bisa mengunjungi banyak negara di dunia ini. Mengetahui lebih dalam hal-hal yang terjadi di negara-negara tersebut.
Membaca buku ini membuat saya merasa sangaaaaaat bersyukur dapat hidup dalam keadaan yang sangat baik, tidak kekurangan suatu apapun. Hidup di negara yang penuh dengan kedamaian, bisa belajar dengan mudah hingga jenjang yang tinggi, tinggal di tempat yang terdapat air yang melimpah ruah, dan memiliki keluarga yang selalu memberikan cinta dan kasih sayang.
Namun banyak hal yang menjadi pertanyaan di benakku tentang keadaan sulitnya air, dan peperangan. Hal-hal yang diceritakan di dalam buku ini semakin menjelaskan kepadaku bagaimana sesungguhnya keadaan saudara-saudara muslim di semua belahan bumi yang di tanahnya masih terjadi peperangan. Seperti di Irak, Iran, Palestina, Libanon, Rohingya, dsb, seberat cerita inikah yang mereka alami? Aku tak mengerti, mengapa harus ada orang-orang yang sangat kejam di dunia ini. Buta mata hati, karena dikuasai emosi dan ambisi. Tak peduli berapa banyak yang mati, tak peduli seberapa banyak luka yang ditimbulkan di hati.
Profile Image for ruan.
46 reviews1 follower
Read
April 11, 2022
buku yang begitu berkesan. tidak hanya tahu tentang kondisi beberapa negara yang terlibat perang, maupun negara miskin, tapi juga banyak pelajaran yang bisa diambil setelah membaca buku ini.

buku ini berisi tentang perjalanan penulis (tetsuko kuroyanagi) dalam kunjungannya ke beberapa negara sebagai duta kemanusiaan dari UNICEF. selain narasi, buku ini juga berisi dokumentasi penulis selama ia berkunjung ke negara-negara yang ia kunjungi. aku dibuat geram, sedih, dan sedikit terkikik tatkala membaca buku ini. seperti buku pertamanya (totto chan: gadis cilik di jendela), sepanjang halaman aku tidak merasa buku ini buku nonfiksi. cara penulis menceritakan kisahnya mudah sekali dicerna.

meski ini buku terjemahan, bahasanya begitu mudah dipahami (terima kasih untuk penerjemah).
Profile Image for Afrizal.
5 reviews1 follower
December 6, 2017
Buku ini menceritakan tentang kunjungan Tetsuko Kuroyanagi (Totto-chan) ke negara-negara miskin dan korban perang sebagai duta kemanusiaan UNICEF. Dalam kunjungannya tersebut, penulis menyoroti berbagai keadaan anak-anak yang hidup dikelilingi masalah kesehatan, kelaparan, dan ketakutan.
Displaying 1 - 30 of 200 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.