Im Reportagen- und Essayband Schreib ja nicht, dass wir Terroristen sind! weitet Linda Christanty ihren Erzählradius von Aceh, der nordwestlichsten Provinz Indonesiens, über die Grenzen des Inselstaates hinaus auch nach Festlandsüdostasien aus. Die Autorin interviewt Vertreter unterschiedlichster religiöser, politischer und sozialer Gruppierungen. Die Orte und Erfahrungen, von denen die Reportagen in diesem Band leben, zeigen, dass Unrecht und Willkür auf jede (un)erdenkliche Art und Weise legitimiert werden, sei es ethnisch, völkisch, religiös, kommunistisch, nationalistisch oder gar demokratisch. Dieses Buch bietet einen kritischen und mutigen Journalismus mit einer provozierenden Erzählweise.
Linda Christanty adalah sastrawan-cum-wartawan kelahiran Bangka. Pada 1998, tulisannya berjudul “Militerisme dan Kekerasan di Timor Leste” meraih penghargaan esei terbaik hak asasi manusia. Kumpulan cerita pendeknya Kuda Terbang Maria Pinto memperoleh penghargaan Khatulistiwa Literary Award 2004. Dia sempat bekerja sebagai redaktur majalah kajian media dan jurnalisme Pantau (2000-2003), kemudian menulis drama radio bertema transformasi konflik untuk Common Ground Indonesia (2003-2005). Sejak akhir 2005, dia memimpin kantor feature Pantau Aceh di Banda Aceh.
Karena temanya lebih beragam, saya lebih menyukai 'Dari Jawa Menuju Atjeh'. Kumpulan tulisan Linda di buku ini merupakan fitur seputar sosial politik di daerah-daerah konflik di Asia Tenggara. Aceh mendapat porsi terbanyak.
Esai-esai dalam buku memberi warna yang segar, mencolok dan pedih tentang gambaran kehidupan di Aceh dan fenomena pahit yang dialami hampir semua muslim di Indonesia maupun dunia. Narasi dan gaya bahasa Linda begitu khas dan menggoda, membuat hanyut sekaligus gugup. Sayang, kebanyakan esai dalam buku ini telah dipublikasikan di web Linda atau catatan facebook Linda, bahkan sudah dimuat di web dulu secara lengkap sebelum buku ini terbit. Anehnya, sampai sekarang, esai-esai di web itu bahkan tidak pernah dihapus. Entah apa pertimbangan penulis maupun penerbit membiarkan kebanyakan esai tersebut tetap beredar di internet.
Hati saya terhenyak sedih dan sendu ketika membaca buku ini. Disatu sisi saya salut dengan kemampuan Linda Christanty yang mampu menceritakan tentang misalnya kasus GAM tetapi dari sudut pandang si teroris.
Saya juga mendapatkan pengetahuan baru ketika membaca bab perpecahan dalam persatuan yang terjadi di negara Malaysia. Saya sempat angkat jempol ketika berkunjung ke Pulau Penang pada tanggal 19-21 Februari 2016 yang lalu melihat tempat ibadah masjid, kelenteng dan pura berdampingan bersebelahan. Saya bisa merasakan sekilas adanya harmonisasi dan kerukunan umat beragama di pulau ini. Ternyata setelah saya membaca buku ini saya baru tahu kalau ada slogan "1 Malaysia" yang diciptakan oleh Perdana Menteri Najib Tun Razak. Slogan yang bagus namun susah untuk diwujudkan karena di Malaysia sendiri ada orang Melayu, Cina, dan India. Tetapi orang Cina harus masuk Islam kalau ingin kawin dengan Melayu (Hal ini menurut saya wajar karena orang melayu masih mayoritas beragama islam). Tetapi yang mengejutkan adanya diskriminasi ketika orang Melayu dapat diskon lima persen saat membeli rumah tetapi tidak orang India dan Cina. Selain itu Lelaki atau perempuan Tionghoa yang pindah agama dan menjadi muslim lantaran menikah dengan orang muslim Melayu, kalau suatu hari dia meninggal dunia dan istri atau suaminya sudah tidak ada atau bercerai, keluarganya yang Tionghoa tidak boleh mengambil jenazahnya. Saya tidak menyangka negeri yang terlihat adem ayem dari luar itu menyimpan konflik antar ras :(
Tetapi juaranya di buku ini kesedihan saya tidak terbendung ketika membaca kisah Khmer Merah yang terjadi di Kamboja pada tahun 1975-1979 dimana terjadinya pembantaian massal diperkirakan menewaskan 1,7 juta korban jiwa. Tampaknya suatu saat nanti saya akan memasukkan ke dalam itinery saya untuk menyempatkan diri datang ke Choeung Ek Genocidal Center di Phnom Penh ini.. Kalau kalian ingin tahu kisahnya seperti apa bisa membaca memoir dari 2 orang ini First They Killed My Father: A Daughter of Cambodia Remembers by Loung Ung dan Neraka Kamboja 1: Awal Mula by Haing Ngor
Buku Favorit dihadiahkan oleh dosen yang suka ngatain status mahasiswinya, waktu itu dapat hadiah buku ini tahun 2014 akhir, sehari sesudah wisuda. Membuat saya berpetulang jauh ke tanah Aceh dan sangat ingin pergi kesana.
Sampai akhirnya masuk Bisnis Indonesia, pas wawancara sama Mas Bayu juga dibilang saya akan dikirim kerja jadi jurnalis di Aceh. Hahahahaha! Sahabat-sahabat sudah pada galau kalau saya bakal ke Aceh, dan sampai hari ini, buktinya, saya belum juga ke Aceh.
Mungkin, suatu hari nanti, Tuhan menggiring saya ke Tanah Gayo :) Semoga!
Linda Christanty kembali meluncurkan kumpulan karya jurnalisme sastrawi melalui buku ’Jangan Tulis Kami Teroris’. Sebelumnya, pada 2008 lalu, Linda meluncurkan karya serupa dengan judul ’ Dari Jawa Menuju Atjeh’. Melalui ’Dari Jawa Menuju Atjeh’, Linda disebut berhasil menampilkan karya yang merekam dengan baik tentang konflik gerakan pemerdekaan Aceh. Ia memperoleh banyak penghargaan karena buku itu.
Jika dibandingkan, kedua buku ini sebenarnya masih memiliki tema utuh yang sama. Tentang dampak konflik yang sangat tidak sehat. Tentang diskriminasi yang bertolak dari kapitalisme, komunisme, terorisme, fasisme dan neofasisme. Hanya saja pada ’Jangan Tulis Kami Teroris’, Linda bukan hanya bercerita tentang konflik Aceh saja. Sebagian tulisan sudah jauh melaju dari Aceh. Linda menampilkan tulisan hasil perjalanan liputannya ke Malaysia, Thailand hingga Kamboja. Alhasil Linda menampilkan pesan-pesan universal melalui konflik-konflik lokal yang terjadi bukan hanya di Aceh, Indonesia tapi juga di beberapa negara lain.
Dari 14 tulisan yang terangkum dalam buku itu, ada cerita tentang pemerintah Malaysia yang menetapkan beberapa kebijakan yang menguntungkan Bumiputra (sebutan untuk orang Melayu di Malaysia). Salah satunya kebijakan diskon lima persen untuk pembelian rumah. Namun tak ada diskon sama sekali untuk orang non Melayu, seperti Tionghoa dan India yang juga amat banyak menjadi warga Malaysia. Kebijakan yang diambil untuk melindungi suku asli Melayu itu menimpulkan dampak sosial pada masyarakat.
Ada pula liputan dari perjalanan Linda ke Kamboja berjudul ’Tahun Nol di Kamboja’. Dari tulisan itu terlihat bagaimana amat buruk dampak dari konflik pada masa Khmer Merah yang bermula dari perang Antar Amerika, Vietnam dan Kamboja. Bertahun-tahun setelah konflik, dampaknya belum reda. Di sebuah desa Phum Chon masih terlihat banyak warga berkaki puntung karena ranjau darat sisa konflik. Diperkirakan dari 12 juta ranjau darat di Kamboja, baru tiga persen saja yang dijinakkan.
Namun, agaknya tulisan seputar konflik Aceh akan lebih menarik perhatian pembaca. Bukankah konflik di negara sendiri menjadi sesuatu yang patut diperhatikan agar tak terulang? Di Aceh, konflik karena upaya pemerdekaan Aceh yangg diusahkan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) memang dinyatakan usai setelah perjanjian Helsinky beberapa tahun lalu. Tapi nyatanya masih ada gejolak yang teredam. Dampak masih ada di masyarakat. Dendam masih tertanam.
Misalnya pada tulisan berjudul ‘Markaz Al Ishlah Al Aziziyah’ yang mencertikan tentang semacam asrama yang menampung anak-anak yatim korban konflik itu. Pendiri markas, Bulqani membina anak-anak untuk menghilangkan dendam akibat dari tewasnya orang tua mereka karena konflik. Bulqani mengatakan anak-anak yang muda, di bawah 10 tahun masih bisa dibina untuk tidak mendendam. Tapi pada anak yang lebih dewasa ingatan hitam akan trauma orang mereka yang tewas membekaskan dendam yang susah dihilangkan.
Lalu mengapa buku ini berjudul ‘Jangan Tulis Kami Teroris?’. Kalimat tersebut merupakan judul sebuah tulisan di dalam buku tentang sebuah Dayah (sejenis pesantren) di Aceh yang disebut-sebut sebagai markas pembinaan teroris. Linda menulis : Salah seorang dari duet jubah putih itu menghampiri mobil kami dan bertanya-tanya dengan suara keras pada Tu Nazir yang sudah memegang kemudi. Pipinya agak tembam. Brewokan. Matanya nyalang. Tu menjawab tenang, “Ini wartawan mendengar dayah kalian dituduh sebagai sarang teroris. Dia ingin tahu apa benar atau tidak.”Khairul menghampiri lelaki berjubah putih yang tadi bicara pada Tu. Entah apa yang dikatakannya. Saat keduanya sedang terlibat percakapan, mobil bergerak menuju jalan raya. Tak berapa lama terdengar lantang orang-orang berjubah, “Jangan tulis kami teroris! Jangan tulis kami teroris!
Ini buku pertama Linda yang saya baca - setelah ini saya harus baca buku-bukunya yang lain! Apakah Linda sudah sekaliber Christiane Amanpour? Kenapa tidak? Di antara belantara novel pop remaja yang tidak laik terbang dan komedi (sok)-urban yang mempertajam perbedaan sosial di Indonesia, buku-buku Linda membuka mata orang Indonesia (termasuk saya) yang masih belum paham mengapa masih ada orang yang membunuh atas nama agama.. Tidak, dalam buku ini Linda tidak menulis latar belakang seseorang menjadi teroris. Well, mungkin latar belakang Hasan Tiro, pemimpin GAM, ditulis lebih lengkap daripada pemimpin-pemimpin organisasi teror lain seperti Pol Pot ataupun Hitler. Saya sendiri baru tahu kalau Hasan Tiro adalah doktor hukum jebolan Columbia University yang prestisius itu (btw, per-2014 Columbia juga adalah almamater si Cinta Laura, bok..) Saya hanya jebolan state university yang lebih sering dianggap sebagai suitcase university oleh orang-orang lokal gara-gara lebih banyak orang pekerja daripada lulusan SMA. Dan beliau sudah nyambi kerja di PBB (karena satu kota kali yak!) saat itu - saat dimana perjalanan dari Manado ke Jakarta bisa dibandingkan dengan perjalanan dari Jakarta ke New York saat ini. Mahal, dan tidak semua orang bisa menikmati.
Apa siy teroris itu? Di sampul buku kata ini di-BOLD dan dibuat lebih besar daripada kalimat "Jangan Tulis Kami" - apakah ini untuk menarik pembeli? Terus terang, memang kata itu yang membuat saya tertarik, dan saya tidak kecewa dengan isinya. Hanya saja lebih dari separuh isi buku ini adalah tentang perjuangan Aceh Merdeka. Kalimat "Jangan Tulis Kami Teroris" diteriakkan salah seorang narasumber buku ini. Jadi jika anda ingin mencari sesuatu tentang terorisme, jangan beli buku ini. Ijinkan saya mengutip satu bagian dari buku ini yang menyentak hati: '.. Di kantong Wali (Hasan Tiro) ada satu batu. Batu kecil seperti timah tapi bukan timah. Wali bilang, emas ada, intan ada, bagaimana kayanya kita. Tapi diambil oleh Jawa. Itulah sebabnya kita berjuang..'
Ini bukan buku tentang perjuangan GAM ataupun gerakan separatis lain. Ini buku yang menceritakan ketidak-adilan (terutama terhadap perempuan!), ketidak-berdayaan, keterbatasan kesempatan, dan ketamakan penguasa. Tingginya pendidikan seseorang tidak menjamin keluasan berpikirnya (Khieu Shampan, bekas presiden Kamboja/pentolan Khmer Merah, ternyata doktor ekonomi jebolan Prancis). Belas kasihan dan kemampuan untuk menghargai orang lain yang akan menunjukkan karakter seseorang. Pendeknya, Linda mengajak pembaca untuk berusaha menerima perbedaan. Tidak ada seorangpun dapat memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Titik. Pesan sponsor saya: jangan mau kembali ke masa lalu, jangan mau diperintah seorang diktator! Terima kasih Linda, mulai saat ini saya tidak ingin meremehkan kekuatan tulisan. Brava!
Buku ini membahas sosial politik berbagai macam masyarakat dan wilayah seperti Aceh – Indonesia (terutama yang berhubungan dengan Geakan Aceh Mandiri dan pasca damai), Patani – Thailand Selatan, Malaysia, dan Kamboja berdasarkan wawancara dan pengamatan langsung penulis yang berprofesi sebagai wartawan, Linda Christanty. Semuanya ditulis dengan cukup objektif dan menarik, dan pembahasan juga berkaitan dengan agama/ajaran Islam yang dianut dan dijalankan sesuai dengan masyarakat yang berada di wilayah yang dibahas.
Secara umum, penulis memiliki wawasan mengenai Islam secara cukup luas, namun sepertinya penulis belum mempelajari secara lebih detil dan serius sehingga terdapat beberapa kesalahan (atau kesalahanpahaman), seperti mengenai definisi bid'ah yang kurang tepat, pendapat yang menyatakan “para ulama salafi hanya mengakui empat mazhab fiqh sunni dan satu madzhab Syiah (Assyariah atau mazhab Imam 12 atau mazhab Ja'fari)”, salafi anti wahabi (???), dan lain-lain.
Andai penulis lebih detil dan serius dalam mendalami, maka tentu saja beberapa kesalahan tersebut tidak akan terjadi, bahkan pendapat-pendapatnya nanti dapat berbeda dan berubah daripada pendapatnya yang sudah tertulis pada buku ini.
Kesimpulannya dari sisi pembahasan sosial politik buku ini memang sudah bagus, namun dari sisi pembahasan yang berkaitan dengan agama, seharusnya dapat dibuat lebih baik lagi.
saya gak sengaja nemu buku ini di gramedia, diantara berbagai macam buku mengenai sosial dan politik di indonesia... and i am very happy to have made that discovery... tadiannya lagi liat2 "notes from qatar", tp pas baca2 dikit, kok nuansanya nggurui banget ya... jd, pindah perhatian ke buku2 lama...
buku ini sangat mudah dibaca... mungkin karena topiknya menarik perhatian saya... mungkin karena cara penulisannya teramat "engaging"... it was just a good package... befriending me on my trips across traffic-laden jakarta roadways... :D
linda menulis mengenai pengalaman2nya, mengenai perjalanan2nya... informatif, insightful, dan tidak bersifat menggurui... ngalir aja...
saya sangat suka dengan artikel2 mengenai kehidupan orang2 aceh pasca-tsunami, pasca-perjanjian perdamaian... kehidupan orang2 mantan gam... orang2 fundamentalis yang membuat aceh "menyeramkan"... orang2 yang berusaha utk maju, dan melupakan masa lalu yang pahit dan penuh darah...
on the way home, i'm stopping by gramedia to get other books by linda... :D
i spent couple days to finish not-so-thick-book. ini buku bacanya digilir--gantian sama om yang penasaran sama judul bukunya.
tertarik baca buku ini karena ketemu di bazar dan buku ini pernah disebut sama seorang penulis yang saya 'peduliin' sepak terjangnya *halah*.
memang tulisan dan narasi linda christianty enak untuk dibaca. saya rasa dia tahu banyak menyoal konflik di sana-sini, tapi dia bisa meredam segala yang ia tahu untuk menyampaikan apa yang kiranya penting dan bisa menggugah pembaca.
"Aceh ibarat kepala bagi Indonesia. Tanpa Aceh tak ada Indonesia. Tanpa kepala, hanya badan saja."
Karya pertama Linda yang saya baca. Fakta-fakta sejarah plus kedalaman jurnalistik disajikan dengan gaya sastrawi Linda yang khas. Yang tak kalah menarik dari buku ini adalah kemampuan Linda untuk menarik inheren dari hal-hal yang secara tidak langsung saling berkaitan. Sayangnya, buku ini kurang menghadirkan aspek sebab-akibat dari seberapa dalam Islam mengakar di bumi Aceh dan Indonesia.
sulit ya utk menilai dgn objektif karena saya pecinta karya2 linda. jadi, begitulah sy selalu memberi bintang 5 utk setiap karya linda krn sampai saat ini belum ada satu pun karyanya yg mengecewakan saya.
Menyenangkan membaca tulisan Mbak Linda. Kita seperti dibawa keliling naik sampan dalam arus tenang ke berbagai tempat untuk mengamati dan merasakan berbagai peristiwa. Yakin deh. Nggak bakal bosan ^_^
Namanya, Faisal lahir 7 Juli 1977. Ayahnya orang Sabang, ibunya orang Banda Aceh. kerjanya tukang becak di Sabang Pulau Weh. Namun Gerakan Aceh Merdeka dan pemerintah Indonesia lebih membuatnya trauma ketimbang tsunami.
Buku ini layak dibaca untuk mengerti lebih jauh keadaan dan cerita-cerita mereka yang kita tatap dengan sinis karena terlanjur punya prasangka jelek (yang kadang dibentuk oleh media utama).