Jump to ratings and reviews
Rate this book

Episode Hujan

Rate this book
Hujan membuatku merasa tidak sendiri. Rintik hujan membuatku sadar. Aku bukan satu-satunya orang yang jatuh, lalu pecah membentur batu dan aspal jalanan, atau larut bersama kelokan sungai.”

“Pluviophile,” ucap Katya.
“Apa itu?”

“Itu kamu. Orang yang merasakan kedamaian saat hujan,” ungkap Katya. Meski ia tahu, pria itu—Banyu Mili—sepertinya bisa merasa damai kapan pun juga.

Bagi orang lain, pembicaraan tentang hujan barangkali terdengar konyol. Tapi, bagi Katya, bersama Banyu Mili, pembicaraan topik seremeh-temeh cuaca menjadi semenarik film box office.

Katya membenci hujan. Hujan deras turun pada perayaan ulang tahunnya yang kedelapan, membuat satu-satunya ulang tahun yang pernah dirayakannya berantakan karena tak ada seorang pun dari undangan yang datang. Hujan juga menjadi latar kepergian kakak kandungnya, Bara, yang hilang sejak usia sembilan. Dan, hujan turut mengantar kepergian ibunya, yang meninggal saat Katya memutuskan untuk menjadi seorang wartawan. Hujan pun turut mengiringi kehilangan Katya akan Jani, sosok gadis kecil yang menjadi muridnya di sebuah pusat kegiatan belajar mengajar di daerah pinggiran Jakarta, tempat anak-anak jalanan mengecap pendidikan.

Lalu, masih adakah alasan bagi Katya untuk tak menyalahkan hujan atas semua kehilangan? Katya tak pernah yakin, sampai ia bertemu dengan Banyu Mili, sosok yang diam-diam mengisi hatinya, yang membuatnya berani mengambil satu keputusan penting dalam hidupnya.

292 pages, Paperback

First published January 1, 2016

17 people are currently reading
173 people want to read

About the author

Lucia Priandarini

12 books58 followers
Lucia Priandarini lahir dan dibesarkan dalam rumah penuh buku. Setelah lulus dari Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia, ia sempat menjadi reporter di media gaya hidup, menulis naskah nonfiksi untuk penerbit, serta menulis konten untuk media daring.

Episode Hujan dan 11.11 (Grasindo, 2016) adalah 2 novel pertamanya. Ia menerbitkan buku nonfiksi kesembilannya, Mengejar Ujung Pelangi pada 2020. Pada 2021 ia menerbitkan kumpulan puisi pertamanya, Panduan Sehari-hari Kaum Introver dan Mager (Sastra GPU). Buku ini menjadi nomine buku sastra pilihan Tempo kategori puisi tahun 2021.

Dua Garis Biru (GPU, 2019) adalah kolaborasi ketiganya dengan Gina S. Noer setelah novel adaptasi Film Posesif (2017), dan Dunia Ara, buku anak dari semesta Film Keluarga Cemara (2018).

Ia juga menulis buku nonfiksi Mengejar Ujung Pelangi (TransMedia Pustaka, 2020) dan Ibu Kamu Tidak (Gila) Sendirian (Noura Publishing, 2025).

Kini ia bekerja mendokumentasikan pendampingan komunitas pembatik dan penenun di beberapa daerah.
Ia dapat dihubungi melalui surat elektronik: lucia.priandarini@gmail.com, Instagram dan X: @rinilucia.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
27 (25%)
4 stars
46 (44%)
3 stars
25 (24%)
2 stars
6 (5%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 21 of 21 reviews
Profile Image for mollusskka.
250 reviews158 followers
September 21, 2016
Menurutku judul Episode Hujan kurang tepat untuk buku ini. Lebih cocok dikasih judul Orang-Orang Hilang atau Sang Pencari. Eh, tapi kalo Sang Pencari terlalu berlebihan juga sih kayaknya.

Terus blurb di sampul belakangnya benar-benar mengecoh. Aku cukup yakin bukan cuman aku aja yang mengira buku ini akan lebih menitikberatkan pada kisah percintaan atau khas YA, padahal jalan ceritanya nyaris 100% jauh dari itu.

Tapi buku ini tetap menarik untuk dibaca, kok. Karena isinya mengupas kehidupan para reporter, orang-orang hilang (tentu saja), kehidupan jalanan/orang tak mampu, dan juga perusahaan yang bergerak di bidang media, terutama majalah gaya hidup.

Novel ini bercerita tentang seorang wanita bernama Katya yang terpaksa merelakan tidak ikut seleksi tahap akhir di media Barometer dan terpaksa memilih bekerja di majalah gaya hidup bernama Senarai. Ia melakukan itu semata-mata demi memenuhi harapan mendiang ibunya yang tak ingin anaknya mempertaruhkan nyawanya sebagai reporter. Meski begitu, Katya akhirnya malah bertemu juga dengan seorang pria bernama Banyu Mili yang juga bekerja di Barometer, dan juga teman baik Max Wangge, reporter pujaan Katya, yang dinyatakan hilang di tengah usahanya mengungkap kasus korupsi. Pertemuannya dengan Banyu diawali keinginan Katya untuk mengusut hilangnya Jani, seorang bocah perempuan yang diajarnya di sekolah PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Mengajar. Sebuah sekolah yang dikhususkan untuk anak-anak kurang mampu. Usahanya ini mengarahkan Katya pada pertemuannya dengan seseorang yang dirindukannya.

Masih banyak lagi kasus-kasus orang hilang yang diungkap di buku ini. Mulai dari tragedi 1998 sampe cerita soal anak buah kapal. Dengan begitu, buku ini cukup banyak membahas isu politik dan sosial. Tidak semua kasus diungkap dengan mendalam, sih. Karena kalo mendalam, bukunya pasti akan jauh lebih tebal. Aku nggak bilang buku ini tebal, tapi cukup rapatlah huruf-hurufnya. Kalo direnggangin kan jadinya tebal?! :p

Aku cukup menyukai gaya kepenulisan Lucia dan ini buku pertamanya yang aku baca. Sangat informatif tapi tidak mengurangi kenyamanan membaca dan sepertinya penulis menguasai apa yang ditulisnya (Ternyata penulis memang reporter). Aku suka bagian-bagian di mana penulis menceritakan kehidupan para reporter dan belang-belangnya dan juga suasana kerjanya di perusahaan media cetak gaya hidup yang bikin aku geleng-geleng kepala. Amburadul banget sistem kerjanya. Atasannya cuma mengejar profit. Pantesan kadang aku suka nemu majalah yang isinya kebanyakan iklannya. Jangan-jangan majalah ini yang diungkit penulis...

Meski penggambaran lingkungan kerjanya yang terbilang memuaskan, ada satu hal yang bikin aku nggak nyaman. Katya seperti hidup di dua dunia tapi aku agak kesulitan untuk melihat keterkaitan di antara keduanya. Oke, keterkaitan itu ada. Tapi setiap berganti bab, aku seperti membaca cerita lain. Seperti ada benang yang hilang, meski memang mendekati akhir mulai kelihatan keterkaitannya. Mungkin ketidaknyamanan aku ini nggak akan terjadi kalau segala sesuatunya terjadi di Senarai dan berawal dari Senarai. Atau jangan ada Senarai, deh, cukup Barometer aja (jadi Katya kerja di Barometer, gitu), tentunya dengan penjelasan mendetail seperti halnya penulis menjelaskan lingkungan kerja di Senarai.

Selain itu tentu soal fokus cerita. Terlalu banyak isu yang ingin diceritakan penuis dan akhirnya menciptakan begitu banyak tokoh di novel ini. Tapi untuk penggambaran beberapa tokohnya memang cukup memuaskan meskipun tidak mendalam karena memang sudah sering dijumpai di kehidupan nyata/karya fiksi lain. Favoritku Sekar karena dia cewek, rajin dan gak suka ngeluh. Lalu tentu saja soal judul dan blurb yang "menyesatkan". Tidak banyak bercerita soal hujan, selain beberapa momen kehilangan/kejadian menyebalkan yang terjadi saat hujan, dan itu cuman dikit. Untunglah bukunya masih enak untuk dibaca, dan sekali lagi informatif.

Akhir dari novel ini adalah antara memuaskan dan tidak memuaskan. Setidaknya mulai ada keterkaitan yang lebih jelas di antara dua dunia Katya yang aku sebut di atas.

Buat kamu yang penasaran soal kehidupan reporter dan sistem kerja di majalah gaya hidup, boleh baca buku ini. Menarik. :D
Profile Image for inas.
392 reviews37 followers
July 3, 2017
Aku mau ngedaftar typo dan kata-kata yang nggak baku, meski mungkin buat beberapa orang hal ini sepele banget dan bisa banget dimaklumi.

hlm. 119: berdehem padahal di hlm. 152 ditulis berdeham

hlm. 123: beberapa angka yang muncul nggak ditulis pake huruf; meski kalo lebih dari dua kata emang ngerusak konsentrasi

hlm. 131: Keesokan paginya, wanita itu tiba di kantor Barometer, satu-satunya tempat ia bisa bertanya. Banyu adalah orang pertama yang menemui mereka di lobi... Mereka siapa? :'v

hlm. 138: “Ya, angel-nya rencana pernikahannya...” Harusnya angle. =w= (Aku... ngakak nggak selesai-selesai di bagian ini.)

hlm.139: Namun ,tentu,

hlm. 140: Katya biasa mengekor Katya...

hlm. 140: ...seperti jatuh terjerembab... Ini udah zaman kapan masih pake terjerembab? Dan tepat pas aku ngebahas tekad sama nekat dengan diri sendiri, hlm selanjutnya ditulis Ia nekad menanyakannya...

hlm. 142: Relasi laki-laki perempuan... Karena di situ maksudnya “laki-laki dan perempuan”, aku pikir harusnya dikasih tanda sambung (-)

hlm. 147: Putri lagi nanyain Katya, terus di paragraf selanjutnya ditulis Entah untuk kali keberapa Katya mengajukan kalimat yang sama...

hlm. 170: paragrafnya Banyu secara harfiah kepotong di tengah-tengah. Setelah “ujar Banyu” langsung ke-Enter terus dilanjut “lima menit kemudian”

hlm. 189: menggertakkan giginya... Oh, well.

hlm. 248: Sebagai mantan wartawan, menurut Katya, Bara paling bisa... harusnya Adit. Bara kan masih ilang, kok tiba-tiba jadi mantan wartawan. ;w;

hlm. 253: “Disappeare?” Well, well.

hlm. 269: “Rekanku yg sedang bertugas...” Upil garing!


Kabar baiknya, novel yang kubaca ini cetakan ketiga. Jadi kesalahan-kesalahan kayak di atas wajar kalo dimaklumi. 3:>

Oke. Berlanjut ke review.

Awal baca, aku ngerasa banyak banget deskripsi yang bikin aksinya kurang lancar. Tiap ketemu orang, deskripsi fisiknya dijelasin. Meski diksinya bagus dan ngalir, pas berusaha ngikutin jadi “ngos-ngosan”.

Konflik mulai kerasa waktu ibu Katya meninggal, tapi setelah itu, rasanya semua adem-ayem aja. Beberapa tokoh punya masalah di Senarai, terus udah. Kayak nggak ada dampak atau akibat yang mengancam keselamatan mereka. Semua perjuangan dicurahkan buat nyari orang hilang, dan itu pun rasanya kurang bikin greget karena nggak ada batas waktu atau sesuatu yang bikin aku ngerasa situasi mereka genting. Biasanya, kalo ngikutin perjuangan tokoh, aku pengin mereka cepet berhasil, atau mereka bakal terjebak bahaya dan nggak berakhir bahagia. Di sini, sayangnya, nggak kayak gitu.

Dua tokoh utamanya—Bara sama Katya—termasuk tokoh yang punya cara berpikir kritis, logis, dan cerdas. Normally, aku bakal terintimidasi setelah ketemu orang-orang kayak mereka. Setelah baca Episode Hujan, aku tetep terintimidasi. :v

Kupikir pengetahuan-pengetahuan mereka bakal berguna buat konflik-konflik ke depan. Atau, kejadian kayak bakal dibahas. Ternyata nggak, mereka sekadar sideshadowing. Nggak masalah sih, cuman aku makin ngerasa cerita ini lebih datar dari yang kukira.

Terus, soal sejarah, kukira bakal dibahas di sekujur alur (tapi yha ngapain juga, wkwkw). Ternyata cuma sebagian di bagian belakang. Lagi, aku nggak ngerasa adegan itu ada hubungannya sama kejadian sebelumnya atau di depan. , aku sungguh-sungguh ngerasain benang merah dari semua ini.

Deskripsi-deskripsi di depan tetep jadi sideshadowing, yang berhasil nyembunyiin foreshadowing sampe bikin aku ternganga-nganga begitu sampe ke plot twist.

Dari awal, aku tahu aku nggak bisa menghargai buku ini kalo nggak baca sampe selesai. Aku nggak bisa maksain teknik-teknik nulis macam “semua tokoh harus punya tujuan, saling menghalangi, ada motivasi, batas waktu, ancaman, dan sebagainya” ke semua cerita. Apalagi kalo penulis nggak cocok sama teknik itu.

Dan, kekuatan buku ini muncul setelah sampe di bagian klimaks, antiklimaks, dan menuju akhir! Aku rasanya kayak kehabisan oksigen selama mikir, “Oooh, ternyata begini, begitu!” Namanya juga foreshadowing, pasti nggak kelihatan karena cara sembunyinya bener-bener lihai.

Pesanku buat yang punya selera kayak aku sih, jangan ketipu sama alur-datar-seolah-baca-koran. Novel ini mungkin kebanyakan konflik, tapi semuanya tetep selesai, dirangkum dengan manis, dan punya benang merah yang kuat. Sebenernya, kalo dipikir-pikir lagi, kejadian “datar” itu sekadar potret cara hidup berlaku di dunia nyata kok. 3:>

Oh! Aku juga suka pas ngebahas seluk-beluk redaksi majalah Senarai! Jujur dan tepat sasaran! Aku makin suka sama yang jujur-jujur gini nih, soalnya lagi nulis konten serupa supaya nambah wawasan dan bisa menghadapi kenyataan. xP

Ada beberapa kutipan bagus yang kutemuin sepanjang baca.

“Saya baru saja berdoa agar bisa berdamai dengan hal-hal yang berada di luar kendali saya. Itu bagian Tuhan.” —hlm. 7

“Saat kita mengagumi seseorang, sesungguhnya kita sedang mengagumi kepingan diri kita sendiri yang kita lihat pada orang itu.” —hlm. 15

“Pekerjaan, sayangnya, sering sama sekali tak berhubungan dengan apa yang diinginkan pekerjanya.” —hlm. 139

“Kita tidak pernah perlu menyesali hal-hal yang kita lakukan. Kita hanya boleh menyesali hal-hal yang tidak kita lakukan.” —hlm. 165

“Tak ada orang yang bisa menulis saat hatinya ragu. Menulis itu adalah soal keberanian.” —hlm. 261


Dan dengan keberanian, secara objektif, novel ini layak dapet empat bintang. Tapi, secara subjektif, novel ini kukasih lima bintang! (Yang awalnya bahkan cuma tiga! >w<)
Profile Image for Sinta Nisfuanna.
1,027 reviews64 followers
October 13, 2016
“Orang-orang seperti Max ditugaskan untuk membongkar tanda di balik kata, menjerat bukti berseberangan di balik peristiwa, mengejar pengakuan dan menyerukannya.” (h.2)

Impian Katya menjadi seorang reporter dengan idealism seperti Max, mendapat tentangan dari Sang Ibu. Proses penerimaan reporter dari Barometer, media yang sangat dia idamkan, yang memasuki tahap akhir, harus tersisih saat berita buruk muncul bersamaan dengan keberangkatannya. Kesempatan Katya kembali terbuka pada sebuah majalah wanita dewasa, tapi dunia barunya menantang idealisme. “You know… ada perbedaan antara sekadar menyampaikan informasi dan memberikan pengetahuan. Seperti juga ada perbedaan antara bisnis media dengan jurnalisme.” (h.119)

Kehidupan Katya menemui petualangannya, ketika Jani, gadis cilik, yang diajarnya di Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) untuk anak-anak tidak mampu dan jalanan, menghilang. Jani tiba-tiba menghilang saat turun dari kereta api bersama kakeknya. Pertemuan Katya dengan Jani di kelas tanpa sadar menciptakan ikatan dalam dirinya. Keputusan pun dibuat bahwa Katya harus menemukan Jani.

Keputusannya menghubungkan dia dengan sosok Banyu Mili, pria yang menawarkan jasa pencarian orang hilang di twitter, sebuah jasa yang menurut Katya aneh. “Harapan kita, ia belum mati. Anak itu hanya sejauh keberanianmu mencari.” (Banyu Mili – h.100) Keraguan Katya yang sebelumnya memerangi isi kepala, berkurang dan dia memilih mempercayai pria yang bersedia membantunya mencari Jani.

Episode Hujan berbicara tentang idealisme, kehidupan dan kritik sosial, selipan romansa memberi sisi lembut dalam alur cerita. Alur cerita Katya terbagi menjadi dua, tentang dunia kerjanya dan pencarian orang-orang hilang, yang keduanya terhubung pada sosok Max, reporter idolanya. Ketika pencarian Jani tak kunjung menemukan jejak, dan semangat Katya mulai tergerus, kenyataan masa lalu diungkap oleh sang Ayah. Kondisi yang ternyata membuat Katya termasuk dalam orang-orang yang kehilangan. Begitu pun dengan Banyu Mili yang melakukan pencarian orang-orang hilang karena dirinya juga kehilangan.

“Aku melakukan yang harus kulakukan. Sesederhana karena aku merasakan yang dirasakan sesama orang-orang yang kehilangan. Mereka berhak punya harapan. Mereka berhak dibantu untuk mencari.” (Banyumili – h.137)

Proses pencarian Jani sekaligus mempertontonkan kehidupan warga pinggiran dan anak-anak jalanan. Katya dan Banyu Mili harus melebur dengan penghuni jalanan demi mendapatkan secuil pun informasi tentang Jani. Kritik sosial terbangun pada alur ini, “Lembar-lembar uang yang bagi si pemberi barangkali pertanda belas kasih, tapi bagi dirinya adalah tanda persetujuan bahwa anak-anak itu memang harus tetap berada di jalanan dengan semua resiko terburuknya. Tertabrak, kekerasan, hingga pelecehan seksual.” (h.168) Pencarian ini juga menggiring Katya untuk bertemu dengan para orang tua, saudara, kerabat orang hilang akibat tragedi atau pelanggaran HAM di Indonesia. Orang-orang yang setiap hari Kamis sore berdiri di depan Istana Merdeka demi mendapatkan kepastian yang tak kunjung datang.

"Orang sering bilang mari melawan lupa. Padahal, yang lebih penting menurut saya adalah jangan sampai lupa melawan. .... Jelas! Melawan lupa adalah menolak melupakan apa yang sudah terjadi. Lupa melawan adalah ketika seseorang dihadapkan dengan segala fasilitas dan kemudahan, kemudian dia memilih berhenti melawan." (h.206)

Romansa terbentuk dari kebiasaan Katya dan Banyu Mili bertemu, pemikiran yang senada, profesi yang saling mengait, tapi terhalang perasaan yang tak tersampaikan karena keraguan akan status hubungan mereka. Klise tapi penulis berhasil membalutnya dengan pemikiran tentang kehidupan yang tampak selalu tidak ideal. Begitupun dengan dunia kerjanya yang tidak sesuai dengan bayangan, deadline yang tak sebanding dengan jumlah karyawan, gaji yang kerap terlambat, bos arogan yang tidak mempedulikan team work, segalanya terasa timpang bagi kekritisan Katya.

Keganjilan sedikit ada pada jelang akhir cerita, saat Katya menyatakan Jani, adalah keponakannya (h.264), padahal sebelum-sebelumnya tidak ada tanda/cerita yang mengaitkan kenyataan tersebut. Meski begitu, keseluruhan cerita tentang menawan dan layak untuk dijadikan renungan bersama.

“Berikan yang terbaik pada dunia. Dan, kamu akan kecewa. Tapi … bagaimanapun, tetap berikan yang terbaik.” (Aksa – h. 153)
Profile Image for Putri Review.
74 reviews13 followers
March 3, 2016
Actual score : 4,4 from 5 stars

Baca lebih lengkap review novel ini di blog Putri Review : Idealisme Jurnalis dalam novel "Episode Hujan" by Lucia Priandarini

Dua hal utama yang saya suka dari novel Episode Hujan adalah tata berbahasa seorang Lucia Priandarini, kemudian hal-hal mendetail mengenai karakter dan kehidupan yang terselip sepanjang cerita. Saya benar2 suka dengan keterampilan Lucia merangkai kata, rapi, bijaksana, terkesan sedikit misterius karena tidak sekaligus membeberkan plot--memberikan kesempatan bagi pembaca untuk mereka-reka.

Prolog tentang kekaguman tokoh Katya kepada seorang Max Wangge juga sangat menarik, cukup membuat penasaran. Suasana kasus orang hilang yang cukup kental mengingatkan saya akan novel Lost karya Rizal Affif dan Nia Janiar yang pernah saya review, membuat saya bertanya2 apakah memang novel ini dan Lost merupakan bagian dari lini tertentu di Grasindo? Kenapa saya belum mendengar gaungnya?

Saya juga cukup suka dengan tema jurnalisme yang diangkat. Tentang jurnalis-jurnalis bangsa yang berawal dari niat mulia sebagai agen perubahan dan kebanyakan berakhir menjadi pion2 dari pihak2 yang lebih berkuasa, tentang kenyataan kegiatan peliputan di luar sana. Rasanya miris melihat jiwa2 polos yang perlahan terkotori karena urusan perut dan tekanan lingkungan, tapi hal seperti itu tentunya bukan hanya terjadi di dunia jurnalistik saja. Kalau mau dibedah dan ditelisik, semua bidang punya sisi2 kotornya sendiri2.

Sayangnya, saya sempat bingung dengan premis novel ini. Awalnya saya berpikir cerita ini akan berpusat pada perjuangan Katya sebagai jurnalis untuk menguak kasus hilangnya Max Wangge, jurnalis idolanya, tapi kalau saya boleh menyimpulkan, Episode Hujan tentang Katya, tentang mimpi2 gadis itu dan dilema2nya, tentang hati nuraninya, bukan perjuangannya. Beberapa kunci penting dari kasus yang diliputnya seakan jatuh dari langit, bukan hasilnya bergelut dan menerjang hambatan di hadapannya.

Cerita sempat sedikit terasa berputar-putar di tengah2, terutama untuk kasus pencarian seorang anak bernama Jani. Tapi setidaknya penulis telah menyiapkan twist yang cukup menyentuh di akhir cerita, lengkap dengan seklumit paragraf tentang kehilangan yang luar biasa.

Saya dibuat jatuh cinta dengan buah pikiran seorang Lucia Priandarini. Rasanya tak sabar untuk menunggu novel berikutnya. Terimakasih Lucia, untuk karya yang menghibur dan memperkaya pikiran :)
Profile Image for Neneng Lestari.
296 reviews1 follower
September 16, 2023
"𝑲𝒊𝒕𝒂 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒑𝒆𝒓𝒏𝒂𝒉 𝒑𝒆𝒓𝒍𝒖 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒆𝒔𝒂𝒍𝒊 𝒉𝒂𝒍-𝒉𝒂𝒍 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒍𝒂𝒌𝒖𝒌𝒂𝒏. 𝑲𝒊𝒕𝒂 𝒉𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒃𝒐𝒍𝒆𝒉 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒆𝒔𝒂𝒍𝒊 𝒉𝒂𝒍-𝒉𝒂𝒍 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒍𝒂𝒌𝒖𝒌𝒂𝒏." (𝑩𝒂𝒏𝒚𝒖 𝑴𝒊𝒍𝒊, 165)

Aku sempat skeptis dengan buku ini, karena cover, judul & blrub-nya agak romansa menye-menye. Ternyata enggak dong! Malah aku suka. Malah sangking asiknya, buku ini nggak ada reading progress-nya. Aku menikmati alur maju dengan ritme yang tetap. Indah bahasanya. (kelihatan penulisnya suka nulis puisi).

Tentang Katya, perempuan kritis yang terjebak di majalah mode yang lebih mementingkan pamor daripada isi majalah tersebut. Sebelumnya dia ingin bekerja di Barometer, dimana idolanya Max menghilang karena investigasi yg ia lakukan.

Banyak hal yang dibahas oleh penulis di dalam novel ini. Mulai dari bagaimana Senarai, majalah mode, bekerja, wartawan yang dibayar sponsor supaya bisa iklan gratis, lalu konflik di dalam Senarai, segala macam keluhan hanya tertuang dalam percakapan tanpa berani diperjuangkan. Aku paling gokil dengan ibu Nat yang memberi mereka voucher salon kuku, tapi hanya di hari & jam kerja. Membuat mereka melongo satu sama lain.

Disini aku agak terganggu dengan sifat Katya yang kritis, mempertanyakan segala hal, namun juga bungkam. Gimana nanti kalau dia akhirnya di Barometer ya? 🤔

Lalu lanjut, Jani, anak didik Katya menghilang. Lika-liku anak jalanan, gelandangan, dan orang pinggiran. Serta bagaimana anak-anak tersebut hilang, tewas dan terlupakan karena tidak ada yang mengkhawatirkan mereka.

Disinilah, Katya bertemu Banyu, yang pekerjaan sampingannya menemukan orang hilang. Motivasinya adalah sahabat sekaligus partnernya yang hilang tak pernah kembali.

Pencaharian ini membawa Katya bertemu, mendengar dan menyapa dari apa yang tersisa dari peristiwa '98. Bagaimana mereka menghadapi kehilangan, harapan yang masih membumbung tinggi dan menanti "yang hilang" kembali, mau mereka hidup atau mati.

Kalau suka tipe-tipe bacaan "Laut bercerita" aku rasa pasti suka buku ini ♥️

#GrasindoEmbraceOptimism #HutGrasindo33 #HutGWI33 #BookloversIndonesiaChallenge #ChallengeBookLoversInd
1 review
February 11, 2018
Kehilangan, Episode Hujan

“Janji kepada diri sendiri barangkali adalah janji yang paling mudah diingkari.”
-Lucia Priandarini, Episode Hujan

Episode Hujan adalah novel karya Lucia Priandarini berhalaman 282 yang menceritakan tentang perjalanan seorang gadis bernama Katya yang bercita-cita menjadi seorang jurnalis, di mana Katya mulai terdorong dengan pahitnya kenyataan.

Max Wangge, jurnalis idola Katya yang membuatnya kagum setengah mati. Max bekerja di media Barometer. Katya tak pernah ragu di mana dirinya akan melamar setelah lulus dari universitas nanti—tentunya mengikuti Max di media berita tersohor tersebut. Namun, semakin waktu berjalan, Katya menelan mimpinya bulat-bulat. Dimulai dari Max Wangge yang menghilang mendadak tanpa jejak, kemudian kesempatannya masuk Barometer yang lenyap karena ibunda yang dicintainya meninggal di hari terakir seleksi penerimaan pegawai baru. Katya yang semula berniat untuk menjadi jurnalis teladan di Barometer, terpaksa puas dengan bekerja di Senarai, majalah gaya hidup wanita ibukota. Katya terpaksa berurusan dengan mode yang tak pernah dimengertinya hingga kepentingan sponsor yang seringkali bertabrakan dengan hati nuraninya. Hal-hal ini serta lingkungan yang menurut Katya tidak layak untuk dirinya mengganggu idealisme tujuan dia menjadi seorang jurnalis, sampai dia ketemu Banyu Mili, jurnalis senior mantan rekan kerja Max Wangge yang diidolakannya. Banyu selalu ada untuk membantunya ketika Katya dalm kegelapan dan lama-lama muncul keakraban ketat antara keduanya.

Tata bahasa dalam novel ini rapi dan bijaksana dengan Lucia Priandarini bertujuan menarik perhatian pembaca selama membaca dengan memberi detail dan kehidupan lebih lanjut mengenai tokoh-tokohnya sepanjang cerita. Kebahasaannya juga mampu membuat pembaca merasa perasaan tokoh selama cerita berjalan.

Tema pada novel ini mengarah pada kesedihan, tetapi dapat membuat pembacanya membangkitkan rasa semangat seperti bagaimana tokoh utamanya, Katya, tidak putus asa meskipun disertai dengan rasa kehilangan dan kesedihan yang berat.

Tentunya terdapat kekurangan pada novel ini, antara lain bagaimana cerita sedikit terasa terputar-putar pada bagian kasus pencarian anak bernama Jani (94-114). Lepas dari kekurangan yang ada, buku ini menurut saya bagus dengan menceritakan sebuah kisah yang menarik serta bahasa yang dapat membuat pembacanya merasa rasa kesedihan dan kehilangan tanpa jalan keluar lain.
Profile Image for Sunarko KasmiRa.
293 reviews6 followers
December 11, 2022
Episode Hujan adalah sebuah novel karya Lucia Priandarini yang bercerita tentang sosok perempuan muda bernama Katya dalam menjalani pilihan hidupnya sebagai karyawan sebuah majalah lifestyle di ibukota dan juga kisahnya dalam usaha untuk memperjuangkan keadilan bagi orang-orang yang (di)hilang(kan) bersama-sama dengan wartawan bernama Banyu Mili, pria yang diam-diam dikaguminya sedari awal mula perjumpaan mereka. Lalu, apa korelasinya dengan hujan? Sepanjang cerita, banyak sekali muncul hal-hal krusial yang sering kali berkaitan erat dengan hujan.

Awal mula melihat covernya (saya membaca bukunya dengan cover edisi terbaru, entah kenapa di GR belum tersedia pilihan cover tsb) dan juga membaca blurb dibelakang novel ini, saya langsung seketika berasumsi jika novel ini bercerita tentang kisah romansa muda-mudi di ibukota. Tetapi, asumsi saya langsung terpatahkan di bab awal. Novel ini begitu menarik karena ternyata mengangkat isu yang masih relevan dengan keadaan saat ini. Tentang perjuangan para keluarga dan kerabat yang anggota keluarganya (di)hilang(kan) dan bertahun-tahun masih belum juga mendapati kepastian. Selain itu, menjadi menarik karena mengambil latar cerita tentang industri media (majalah) yang ternyata penuh dengan polemik dan juga politik. Hal lain yang terkesan samar tetapi juga tetap jelas terlihat yaitu tentang potret pilu kerasnya kehidupan masyarakat kecil ditengah megahnya ibukota.

Pada titik tertentu, novel ini membawa saya ke perenungan tentang beberapa hal, khususnya yang sudah saya lewati melalui keputusan-keputusan dalam hidup. Lalu, saya juga belajar tentang bagaimana menyikapi sebuah kehilangan yang tentunya tidak pernah kita inginkan.
Profile Image for Chels.
184 reviews3 followers
May 22, 2023
Awalnya aku enjoy, lama-kelamaan aku bosan. Menurutku, karena "oversharing" atas deskripsi yang tidak perlu, alur yang lambat, dan plot yang membuatku bingung mau dibawa ke mana cerita Katya. Sebab, perjalanan Katya rumpang. Bagiku, banyak plot hole yang membuat novel ini tidak utuh.

Mulanya novel ini menceritakan tentang Max Wangge—wartawan Barometer, idola Katya—yang hilang. Lalu keinginan Katya masuk Barometer. Katya yang terpuruk karena ibunya meninggal. Kisah Katya bekerja di majalah Senarai. Kegiatan Katya mengajar anak-anak kurang mampu. Pertemuan dengan Jani. Diskusi dengan adik Bima Petrus. Plot twist Jani adalah anak Bara—kakaknya yang hilang sekian tahun lalu yang hidup tak jelas dan berakhir dibui akibat eksploitasi anak. Dan kisah cinta segitiganya. Di antara adegan-adegan tersebut, seperti ada lembah yang memisahkan, tetapi tak ada jembatan untuk mencapainya.

Hal yang aku suka dari novel ini, yakni penulis yang memotret ketidakadilan di Indonesia. Kasus hilangnya aktivis 98, ketidakbecusan pemerintah dan polisi, kemiskinan, dan kehidupan jalanan.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Jess.
609 reviews141 followers
September 5, 2024
"Jika memang lorong yang sedang saya jalani ini berujung tembok, ya biar saya saja yang menabrak tembok itu."

Buku yang nggak aku expect akan membuka mata ku terhadap banyak hal.

Episode Hujan tentang Katya yang membenci hujan karena segala hal buruk dalam hidupnya terjadi saat hujan turun.

Ketidakadilan, penindasan, kehilangan. Tema cerita yang berat dan heartbreaking, kadang sengaja tidak dianggap tapi sangat dekat dengan kehidupan kita masyarakat.

Sebagai seorang wartawan, ada begitu banyak resiko yang harus diterima, apalagi jika integritas diri berlawanan dengan sistem masyarakat.

Menjadi suara oposisi, berjuang bersama masyarakat yang suaranya seringkali dibungkam.

Buku ini bahas banyak hal tentang kemanusiaan, tujuan hidup, dan perjuangan mencari mereka yang hilang.

Tulisannya pun enak dibaca, lugas, kadang puitis. Membuat pembaca merenung dan merefleksikan diri tentang hidup dan menjadi bagian dari masyarakat.
Profile Image for Abovetheclouds.
205 reviews
February 14, 2024
Cukup bagus karena membahas mengenai banyak isu2 yg kontroversial dimasyarakat, seperti: penculikan dan pemaksaan anak2 bekerja dijalan, aktivis yg hilang, atasan kantor yg korupsi maybe?, kebebasan berpendapat, dan isu2 lainnya. Tapi, aku merasa kurang puas karena tiap part terkesan melompat-lompat, belum selesai yg satu eh sudah dihadapkan dengan yg satunya lagi jadi kurang bisa mendalami cerita2 yg disampaikan dan bab2 awal terlalu banyak narasi tpi, mungkin itu tergantung selera pembaca sih karena aku kurang suka dengan yg banyak narasi dan menurutku sebenarnya judul cerita ini seharusnya tidak menyinggung tentang hujan karena overall ceritanya tentang orang2 hilang dan isu2 sosial lainnya, but so far so good sih worth to read
Profile Image for d.
304 reviews3 followers
September 24, 2024
Beneran beli ini karena lagi pengen baca buku-buku romansa YA, berakhir kejebak sama cerita seorang jurnalis ya Allah, menarik sebenernya ceritanya, tapi ya gitu, aku lagi pengen baca romance T__T

Tapi beneran menarik dan kayak banyak banget yang dipelajarin dari buku ini, things yang bener-bener membuka mata aku karena selama ini kayak suka sadar tapi ga sadar sama topik yang dibahas disini. Kayak gimana Katya belajar dari Banyu, aku juga jadi belajar hal yang sama kayak Katya HAHA. Jujur agak hm... sama twist yang dikasih, tapi yaudahlahya the author tried her best juga, I appreaciated it much though! The ending was good cuma agak hmm aja HAHAHA, overall emosi akan agak-agak dimainkan, sedih-sedihnya dan rasa kehilangannya~ tapi yang pasti enjoyful kok!
Profile Image for ilminafiaa.
95 reviews19 followers
July 16, 2023
Sepertinya ini novel pertama yang kubaca dalam beberapa jam. Saking seru nya sampai tidak sadar berjam-jam duduk. Alur nya jelas, terarah, aku paling suka permainan kata dan penggambaran karakter nya. Yang kurang suka, ending nya kurang greget. Meskipun the very ending part nya lumayan ngena, tapi kurang smooth aja antiklimaksnya.
12 reviews
October 23, 2024
Sorry, I reckon there are a few typos in the book pages 140 and 248. Need to check with the author, though
Story of missing person and reporter. It is quite interesting, but the story is moving back and forth quickly, so I reckon there was gap in the story
1 review
January 10, 2025
Capek banget, tiap episodenya gak utuh. Tiba-tiba nyeritain ini, pindah ke sini, masa lalu, bahh!! Lompat-lompat terus alurnya, plot hole di mana-mana:( salah aku terlalu menaruh ekspektasi tinggi karena baca review di twitter:((
Profile Image for Moodyreader.yc.
17 reviews
October 17, 2025
Topik-topik yg dibahas sangat bagus, pesan yg tersirat juga banyak, hanya saja timelinenya sangat kacau, lumayan membingungkan. And banyak sisi yg menurut saya sebenarnya tak perlu diceritakan karena berujung tidak ada penjelasan, dan lumayan plot twist :)
Profile Image for Zy Masri.
28 reviews21 followers
December 7, 2022
i'd actually bought this book 6 years ago because i was highly resonated with the book description only for it to inadvertently joined my ever huge TBR-stacks and sadly been forgotten due to my tight schedule. Few weeks into my ACL injury in which i was bedridden and was left with little to nothing to do i slowly picked my way up again among my TBR and soon i found myself falling in love irrevocably hard with this one:) ! simple on the outer but was humbly enriching on the inside; it grabs your emotion with such force and its words just ripped your hearts with the weight of sadness and pain that it carried so effortlessly. I truly share Katya's penchant for rain and adore her wisdom both and in her emotions and in the way she voiced her words:). Banyu was a haunting character , the one that i deeply had a huge crush on definitely and yes it was a brilliant way in how Lucia brought him to life:). I must say that this is truly worth a read and i think i will read it again in a few years to come:) Good job, Lucia! Keep on beautifully writing !
Profile Image for ❦ ivy.
198 reviews7 followers
September 23, 2025
"Jika memang lorong yang sedang saya jalani ini berujung tembok, ya biar saya saja yang menabrak tembok itu."
p. 7
[3,8/5]
Perihal orang-orang yang tak kembali pulang. Dihilangkan atau diculik paksa. Dihilangkan karena teriakannya yang terlalu berisik dan mengusik kaum elite tertentu, diculik untuk kelak diperbudak kembali pada tiap ruas jalan.

Dengan hujan sebagai latar belakang hilangnya orang-orang tersebut, sangat sesuai dengan judul pada novel ini, Episode Hujan.
"Hujan ... membuatku merasa tidak sendiri. Rintik hujan membuatku sadar. Aku bukan satu-satunya orang yang jatuh, lalu pecah membentur batu dan aspal jalanan, atau larut bersama kelokan sungai. Setelah itu ia naik lagi ke atas, lalu jatuh kembali ke bumi. Begitu seterusnya."
p. 164
Profile Image for Imam Rahmanto.
149 reviews8 followers
February 5, 2017
Hanya karena tokohnya yang bekerja sebagai wartawan, saya terdorong untuk membacanya.

Ini bukan tentang kisah asmara. Justru, menceritakan lebih banyak kehilangan. Kehilangan dalam arti sebenarnya. Orang-orang hilang yang belum ketemu di masa dulu. Anak-anak hilang.

Bacaan ini cukup ringan. Buat para wartawan, tidak teramat berat. Apalagi sang tokoh utama, yang bekerja di media lifestyle setelah menguburkan kesempatannya masuk di media ternama.

Tidak semua kehilangan bermuara pada penemuan. Tetapi, beberapa kehilangan berujung pada pertemuan. Paling tidak, ada jawaban dari pertemuan itu.
Profile Image for Trian Lesmana.
77 reviews1 follower
May 16, 2016
Novel tentang sebuah kehilangan. Penggambaran tentang tema itu terasa sekali disertai dengan latar hujan. Rasanya memang menjadi perpaduan yang menarik.

Novel ini ringan. Tidak banyak mengurai pemahaman dan emosi. Klimaks dalam cerita ini tidak begitu menggugah. Lama. Baru menjelang akhir cerita, saya baru serius "menelan" ceritanya.
Profile Image for Hilda Kitti.
7 reviews
September 8, 2016
Novel yang ringan dan enak dibaca. Ringan yang saya maksud bukan berarti seringan chicklit atau novel remaja lainnya yang menurut saya malah terlalu ringan. Karakter-karakter yang ditampilkan menarik. Mungkin ini sedikit bias, tapi saya suka dengan secuil dinamika kehidupan jurnalis di latar belakang (karena dulu sempat bercita-cita jadi jurnalis
Displaying 1 - 21 of 21 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.