Jump to ratings and reviews
Rate this book

Di Hadapan Rahasia

Rate this book
Kumpulan Puisi

Masihkah kita harus bersengketa
ketika hari hampir habis
dan doa hanya menjadi ritus ala kadarnya?
Sementara daun-daun tak sekalipun
menebak ke mana angin akan meniupnya.
Seperti kita manusia
yang amat kecil di hadapan rahasia,
yang tak sepenuhnya berkuasa
atas jatuh-bangun kita.

104 pages, Paperback

First published January 28, 2016

23 people are currently reading
341 people want to read

About the author

Adimas Immanuel

12 books103 followers
Adimas Immanuel adalah serorang penyair dan novelis Indonesia. Ia lahir di Solo, 8 Juli 1991.

Tulisan-tulisannya beredar di berbagai surat kabar nasional dan lokal. Karya-karyanya pernah dinominasikan untuk beberapa penghargaan seperti Anugerah Pembaca Indonesia dan Kusala Sastra Khatulistiwa. Adimas kerap diundang dalam festival sastra seperti ASEAN Literary Festival 2015, Ubud Writers & Readers Festival 2015, Melbourne Writers Festival 2016, dan Festival Sastra Banggai 2019. Pada tahun 2019, Adimas terpilih mengikuti residensi penulis di Oslo, Norwegia dengan dukungan Komite Buku Nasional.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
68 (19%)
4 stars
163 (46%)
3 stars
105 (30%)
2 stars
10 (2%)
1 star
4 (1%)
Displaying 1 - 30 of 66 reviews
Profile Image for Mikael.
Author 8 books92 followers
May 11, 2016
banyak goodreaders (juga orang-orang di luar goodreads) yang memuji buku ini karena "diksi"-nya, tapi kayaknya itu malaproprisme, maksud mereka sebenarnya bukan diksi tapi kosa kata. ada yang bilang kosa kata di buku ini sering mengirimnya ke kamus, dan itu benar, siapa yang tahu di luar kepala arti kata "sakal"? (pukulan, salah satu judul di buku puisi ini), tapi apakah kosa kata yang luas = diksi yang bagus? diksi adalah masalah menemukan kata yang paling tepat untuk mengekspresikan maksud atau apapun itu yang ingin dibawa oleh penulis dalam karyanya--pertanyaannya sekarang seberapa tepatkah kosa kata luas adimas di buku ini menyampaikan maksudnya (atau bukan-maksudnya if you will)? ataukah pengalaman membaca buku ini memang seperti (di)bingung(kan) di depan rahasia?

that's if you really wanna close-read this thing.

but generally first. seperti pernah juga diungkapkan seorang reviewer goodreads, sebenarnya di hadapan rahasia adalah sebuah himpunan (!!!) puisi post-gm, sdd, nd par excellence. semua jurus-jurus ketiga penyair ini dipakainya dengan setia. tema cinta tak kesampaian, cek. metafora-metafora pengennya far-fetched tapi jatuhnya obvious, cek. pseudo-intertekstualitas dengan menyebutkan lukisan/music (john cage!)/game avant-garde sebagai inspirasi, cek. gak perlu belajar bourdieu untuk tahu bahwa deliberate atau tidak, terpengaruh secara tidak sadar atau membeo secara sadar, yang dilancarkan oleh di hadapan rahasia adalah sebuah politics of taste, usaha untuk mengintimidasi pembaca dengan selera si penulis sehingga pembaca tidak bisa tidak akan bilang: keren deh, kayaknya, gak tahu juga kenapa, but i don't understand it so it's gotta be cool.

6 dari 20 puisi yang katanya diinspirasi oleh lukisan di dalam di hadapan rahasia menyitir lukisan koleksi MoMA new york, satu lagi menyitir lukisan yang disimpan di MoMA SF. jadi kalau belum sempat nitip temen beliin totebag MoMA buat dibawa ke pasar santa, bisa tenteng aja buku ini ke giyanti terus difoto bareng secangkir strong flatwhite dan sepiring lamington jangan lupa diupload ke path!

btw, semua lukisan yang dijadikan inspirasi dalam di hadapan rahasia adalah lukisan-lukisan abstrak ekspresionis (klee, klimt, pollock, dkk.). pilihan ini kayaknya keren deh aw, tapi sebenernya agak yaelah ke mana aja dan punya konsekuensi besar dalam politik sastra indonesia. seperti sudah ditunjukkan oleh wijaya herlambang (rip) dalam buku klasiknya kekerasan budaya pasca 1965 (yang mengikuti jejak ekspose francis stonor saunders dalam who paid the piper?: cia and the cultural cold war, pelukis abstrak seperti jackson pollock entah sadar atau tidak telah dimanfaatkan oleh amerika serikat lewat cia untuk meng-hype-kan l'art pour l'art dan mendiskreditkan seni termasuk puisi yang bermuatan kritik sosial seperti misalnya puisi-puisi wiji thukul untuk melanggengkan kuasa rezim-rezim boneka amerika serikat (termasuk orba) biar mereka gak terlalu banyak dikritik.

di indonesia, seperti diungkapkan wijaya herlambang dalam bukunya dan oleh martin suryajaya dalam beberapa surat kepada goenawan mohamadnya, ujung tombak propaganda l'art pour l'art adalah goenawan mohamad dan "kantong budaya" teater utan kayu dan saliharanya. sejak 1965 sebagai pemenang sengketa manikebu vs. lekra goenawanlah yang memotori kepopuleran puisi-puisi high-art sok esoterik yang sebenarnya ternyata puisi-puisi alay tentang cinta tak sampai. penerus goenawan adalah nirwan dewanto yang membumbui esoterisisme bakat alam pendahulunya dengan referensi-referensi sok akademis yang diklaimnya sebagai alusi dan intertekstualisme padahal dia nggak tahu cara pakainya itu (lose the endnotes nirwan, gak seru tauk permainan intertekstualisme dikasih kunci panduan! (di salah satu puisinya habis menyitir wallace stevens langsung dia jelaskan -- masih di dalam puisinya sendiri -- siapa yang dia sitir dan kenapa dia sitir. yaelah coy takut amat gak dimengerti sama pembaca awammu yang kau hina-hina separuh buta itu! maumu apa sih, ditakuti dan dihormati atau dimengerti kemudian disayangi? make up your captive mind cuy)).

sadar atau tak sadar, di hadapan rahasia mempromosikan hal-hal yang sama: bahwa puisi yang bagus adalah puisi yang esoterik/abstrak/non-realis, bahwa puisi yang bagus ditulis oleh penyair yang sophisticated dengan selera yang tinggi (those MoMA totes!), bahwa puisi yang bagus mengerahkan tesaurus eko endarmoko (juga produk tuk) setiap baris supaya kosa katanya makin arkaik/susah dimengerti. kalau gak bisa dimengerti oleh pembaca awam pasti cuma bisa dimengerti oleh pembaca ahli yang berselera tinggi toh!

menarik juga bahwa setelah memuja-muji diksi, eh kosa kata buku ini, banyak juga reviewers goodreads yang menyebutkan puisi "sepeda tua" sebagai puisi favorit mereka, justru salah satu puisi (cinta) tersimpel dengan conceit paling sederhana dalam buku ini. fenomena apa ini? apakah tanda bahwa puisi yang paling "nyampe" dalam di hadapan rahasia ternyata adalah puisi yang paling gak banyak/ribet/ruwet rahasianya?

dan lucu juga sekalinya adimas mungkin ingin agak kelihatan lowbrow sedikit biar nggak terlalu ketahuan fetish high-artnya dengan mereferensi ragnarok instead of pollock dia keliru mengeja glast heim jadi ghast heim. apakah ini tanda bahwa referensi satu ini hanya sekedar pretensi lowbrow saja? sekaligus tanda bahwa di hadapan rahasia adalah sebuah game politics of taste yang disengaja untuk menarik perhatian semua hipster budaya indonesia baik yang lowbrow maupun highbrow? a case of adimas hedging his literary bets? sitting on salihara's fence?
Profile Image for Teguh.
Author 10 books336 followers
February 1, 2016
Puisi kesukaan saya adalah

REQUIEM
Katamu Tuhan tinggal dalam diri,
tapi kau berdoa menatap langit
tak menunduk menatap tubuh.
Seolah Tuhan begitu jauh.


Apik banget dan dalam. Pas baca bagian ini aku merinding disko
Profile Image for Mia Prasetya.
403 reviews268 followers
January 29, 2016
Diksinya luar biasa.

After effectnya : bikin bengong, pedih menusuk dan menerawang. Suka!

Favorit saya : Di Altar dan Requiem.

Mas Adimas, ditunggu buku selanjutnya, bikin nagih!
Profile Image for Alvina.
733 reviews119 followers
March 1, 2020
Lembah tak pernah tahu cara mencintai bukit
Ia hanya tahu harus jadi yang paling lapang
Profile Image for Andre.
18 reviews9 followers
February 22, 2016
Diksinya memabukkan. Beberapa judul puisi harus saya cari artinya di KBBI, juga untuk tahu rujukan lukisan via google. Mungkin kita memang harus mengecapnya pelan-pelan untuk memanjakan mata dan rasa. Jangan membaca kumpulan puisi ini sekaligus, ingat kesehatan anda.

Silakan mencicipi:
Katamu Tuhan tinggal dalam diri,
tapi kau berdoa menatap langit
tak menunduk menatap tubuh.
Seolah Tuhan begitu jauh.
(Requiem, hal. 87)
Profile Image for Nike Andaru.
1,654 reviews112 followers
February 14, 2019
43 - 2019

Ini buku kedua dari Adimas Immanuel yang saya baca, setelah sebelumnya lebih dulu baca buku terbarunya Karena Cinta Kuat Seperti Maut. Tetap suka, tapi lebih suka KCKSM.

Di Hadapan Rahasia juga bagus, menarik dan puisi-puisi di dalamnya juga bagus, tapi ya entah kenapa saya lebih suka KCKSM. Mungkin karena rasanya lebih dapet buat saya.

Favorit saya ada beberapa sih yaitu Di Altar, Sepeda Tua dan Di Hadapan Rahasia.

Berpeganglah, ketatkanlah peluk seperti cinta tanjung kepada teluk.
Sebab aku tahu kita lebih berkelok daripada tepian sungai, lebih berlekuk daripada celah batu,
lebih menikung daripada jalan perbukitan, tapi tidak buntu.
3 reviews
January 2, 2019
"Di Hadapan Rahasia" karya Adimas Immanuel
Buku ini merupakan kumpulan-kumpulan puisi karya Adimas Immanuel.
Ketika lo membaca bait-bait dalam puisi ini lo akan dibuat sedikit kebingungan karna banyak diksi-diksi yang memaksa lo harus membuka KBBI atau membaca ulang agar lebih memahami maksud dari puisi itu. (btw, gue melakukan keduanya)
Adimas menggunakan judul-judul yang cukup unik disetiap puisinya menurut gue, seperti N, Jazira, Selaka, The Unfinished Opera: Monna Vanna.
Ada sebuah bab dimana disetiap akhir puisi ia menulis dari mana inspirasi puisi itu berasal dan kesemuanya berasal dari lukisan, salah satunya puisi yang berjudul Selaka terinspirasi dari Lukisan Jackson Pollock 'Number 1,Lavender Mist'(1950) .
.

Diantara semua buku puisi yang sudah dan sedang gue baca, buku ini menjadi satu-satunya buku yang membuat gue tersipu malu membacanya. Fav. Gue di buku ini adalah: Selaka, Rahat, Etudes-Tableaux, Sepeda tua, Lembah, Iras, Requiem, Simpang. .
.

RAHAT
"Dari balik daun-daun gemerisik, Kudapati kecemasan berbisik: "Ia telah lalu. Ia telah berlalu. " Angin meredam tangis kota merekam segala kebisuan kita. Sejumlah tanda baca berakhir ketika pekerja mematikan kincir. Lalu kudapati: Mencintaimu juga seperti menjaring angin. Dan kecemasan pindah, bergaung dari tepi bahasa, seolah berdaya. Padahal gerak-gerik lebah madu tak lagi diindahkan bunga itu. Tak lama angin itu beranjak pergi, "Ada Kesedihan yang belum diurai." Kita tak bisa menghalanginya, memang tak pernah bisa. Lalu kecemasan berhenti berbisik. Lengang mengalir jadi bunyi ricik: "Kita tak pernah mengada-ada, Kita memang tak pernah ada." .
Terinspirasi dari Lukisan Franz Marc "The Bewitched Mill"(1913)
Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books106 followers
November 30, 2016
"Jika semua cermin di dunia memantulkan kejujuran, apakah kebohongan tak boleh mempunyai wajah?" - Iras (hlm. 18)

Setelah membaca Pelesir Mimpi, buku kumpulan puisi tunggal pertamanya, aku tahu kalau tulisan Adimas Immanuel adalah candu. Sebagai pembaca yang malas diajak berpikir keras, aku selalu lebih suka puisi yang berterima, bukan sekadar kumpulan bait rumit yang sulit dicerna. Maksudku, ada saatnya kita berhenti membaca, entah untuk berpikir atau untuk merenung. Berpikir karena nggak mengerti maknanya atau merenung untuk meresapi maknanya. Walaupun bukan semua, tapi saat membaca puisi berjudul Etudes-Tableaux, Lembah, dan Singir Manggala; aku berhenti untuk melakukan hal yang kedua.

"Kita tak cukup waktu untuk bisa membendung arus yang kenal tabiat batu." - Arus (hlm. 95)
Profile Image for Ariel Seraphino.
Author 1 book52 followers
February 7, 2017
Buku puisi paling lama yang saya baca. Sejak awal saya merasa bosan dan sedikit tak bisa menikmati puisi-puisinya. Lantas menunda melanjutkan baca dengan berbagai alasan. Hingga akhirnya memberanikan diri membaca kembali tanpa pretensi apa-apa dan berhasil. Menyelamu puisi penyair muda ini memang perlu satu-dua baca ulang yang berusaha menangkap makna-makna baik yg tersirat dan tersurat. Beberapa puisi dibuat begitu mendalam dengan inspirasi dari lukisan-lukisan yang beliau saksikan. Ini menarik dan semakin ke belakang semakin saya menikmatinya.
Profile Image for Syamsurrijal.
5 reviews6 followers
February 21, 2016
Buku ini membuat saya menyadari betapa lamanya saya tinggal berjauhan dengan literatur Indonesia sehingga nyaris tersesat saat kembali kesana.

Personal fav: Arus.
Profile Image for Annisa Tiara.
32 reviews
Read
July 13, 2020
*Baca buku ini di a-god-sent-app bernama iPusnas. Pernah baca buku fisiknya secara sekilas tahun 2018.

Yang hebat soal puisi adalah ia dibaca dengan cara yang sedemikian beragamnya hingga sulit untuk diberikan satu interpretasi pakem. Pembacaan ini bersifat sangat subjektif menurut pola masing-masing pembaca. Seringkali, bagi saya, puisi yang baik adalah puisi yang terus dapat saya ingat: bukan karena diksinya yang caur banget sampai bikin melongo dalam artian ndakik, tapi lebih ke maknanya yang dapat saya tangkap, secara subjektif, dengan jelas walau disampaikan melalui kata-kata yang cukup rumit.

Sejauh ini, saya dapat menangkap sepersekian teknis diri saya dalam mengartikan berbagai puisi: kalau isinya sulit dipahami, saya akan lari ke judul karena menurut saya, judul biasanya dapat menjadi tempat paling sarat oleh penulis puisi dalam menyampaikan makna yang ia maksud. Tentu, teknis ini bukanlah pakem dari segala pembacaan puisi yang saya lakukan, tapi ini cukup membantu dalam memproses berbagai rangkaian kata yang saya hadapi. Sayangnya, bagi saya, teknis ini sangat tidak berlaku untuk buku Di Hadapan Rahasia karena Adimas hobi betul pakai judul dengan kata-kata yang harus saya googling dulu maknanya, pun kalau sudah googling, seringkali tetap tidak dapat dimengerti.

Karena itu, jelas sudah kenapa puisi favorit saya di buku ini kebanyakan struktur isinya singkat, padat, sederhana, dan mudah dimengerti. Salah satunya adalah Sakal:

Kesedihan datang dari mana?
Padahal pintu telah kukunci
tirai dan jendela telah kututup
lampu-lampu telah kupadamkan,
tapi tetap saja waktu
bisa mencurimu dariku.


Cakep banget, Bang. Beneran deh, kalau ditanyain puisi Adimas kesukaan saya yang mana, saya bisa megucapkan puisi ini dengan lantang tanpa ngecek ponsel dulu. Hal yang sama saya rasakan terhadap Requiem:

Katamu Tuhan tinggal dalam diri,
tapi kau berdoa menatap langit
tak menunduk menatap tubuh.
Seolah Tuhan begitu jauh.


Dua puisi itu punya kesamaan: isinya sederhana tanpa diksi yang lari ke sana & ke sini, walau menggunakan judul dengan kata-kata yang asing di telinga saya. Dua puisi di atas adalah sekian dari sedikit puisi yang dapat saya mengerti. Saya belum baca karya Adimas yang lain, tapi kalau memang gaya penulisan puisinya seperti ini, saya akan berpikir tiga kali dulu untuk memutuskan membaca karyanya yang lain.

Hehehe. Gak usah pakai bintang saja, ya?
Profile Image for Limya.
97 reviews6 followers
December 31, 2020
Antologi ini membawaku pada tempat-tempat yang jauh, lalu seketika aku dilemparkan kembali pada kehidupan.

Puisi-puisi awalnya terasa begitu estetis di awal, benar-benar membentuk visualisasi lukisan dalam kepala, sungguh pas karena puisi-puisi tersebut memang terinspirasi dari lukisan-lukisan yang menjadi catatan kakinya.

Puisi-puisi selanjutnya tetap membuatku merasa seperti hidup di abad ke-17 atau 18 (Yaelah, hiperbolis yak sepertinya, hehe. Tapi emang puisinya Dimas se-vintage itu bagi saya). Sepertinya efek dari teknik penulisan yang dipakai Dimas: kata-kata arkais yang antik dan rima-rima juga repetisi yang beraturan dengan rapi dan apik.

Dimas membawa kita pada perjalanan mencari diri sendiri, lalu mencari kekasih, hingga akhirnya membaca alam dan kehidupan untuk mencari Tuhan.
Semua itu adalah rahasia.
Pantas jika antologi ini dinamakan, "Di Hadapan Rahasia".
Profile Image for Pasya Alfalaqi.
1 review
November 19, 2018
saya agak kesusahan dalam meresapi puisi-puisi di buku ini. beberapa ada yang saya mudeng, dan beberapa menuntut pembacaan yang lebih dalam lagi. menariknya adalah puisi-puisi pada bagian awal buku ini merupakan interpretasi si penyair terhadap lukisan-lukisan yang pernah ia jumpai. begitu saya meng-google judul-judul lukisan yang dirujuk, saya membayangkan bagaimana isi kepala penyair saat memberi pemaknaanya sendiri atas karya-karya tersebut, yang mana meskipun tampak rumit begitu memikat saya untuk terus menyingkap makna di dalamnya.

puisi kesukaan saya adalah "requiem", hal. 87. begitu sederhana dan begitu mengena.
Profile Image for Aya Canina.
Author 2 books44 followers
August 12, 2020
Permainan bunyi, akhir yang menukik tajam. Mengapa kritikus itu harus risau dengan "Sepeda Tua" yang jadi favorit banyak pembaca?

Berpeganglah, ketatkanlah peluk seperti cinta tanjung
kepada teluk. Sebab aku tahu hati kita lebi berkelok
daripada tepian sungai, lebih berlekuk daripada celah
tebing batu, lebih menikung daripada jalan perbukitan,
tapi tidak untu.


Bait terakhirnya saja layak untuk lebih dari dicintai. Lagipula, kalaupun ini menyoal telanjang dan eksplisit, memangnya kesederhanaan selalu tidak mengandung rahasia? Boleh jadi kandungannya justru lebih pekat, kan?
Profile Image for Afsokh.
4 reviews
September 17, 2017
Aku membaca puisi-puisi di buku ini secara acak, dan terkadang pula membacakannya di kelas keras-keras seperti pujangga-pujangga. Aku cukup pede, karena memang puisi-puisi ini bagus. Ada tentang kekasih, sakit hati, tuhan, kehidupan, rahasia-rahasia. Aku rasa puisi-puisi di buku ini berkesan murung, jarang sekali aku temukan puisi yang bernada bahagia, atau memang tidak ada?

Baca Selengkapnya di: http://afsokhq.blogspot.co.id/2016/04...
Profile Image for Nellaneva Nellaneva.
Author 7 books159 followers
September 23, 2019
Tidak heran banyak yang menggandrungi buku ini. Diksi (dan kosa kata) bagus, figuratif sekaligus imajinatif, seperti sedang berkisah. Meskipun beberapa terkesan seperti racauan abstrak, tapi pada kebanyakan puisi saya bisa membayangkan latar-latar Eropa, baik berupa jalanan, bangunan, landskap pemandangan alam, hingga lukisan-lukisan yang menjadi sumber inspirasi penulis. Saya harap bisa menemukan tema yang lebih luas di karya-karya penulis yang lain.
Profile Image for Nura.
1,058 reviews30 followers
May 24, 2020
Buku pertama Adimas yang gw baca. Mirip-mirip sama bukunya Mario F. Lawi. Ga cuma penuh kata-kata puitis, tapi bikin gw buka kamus, tanya mbah google, sampai diskusi sama teman yang nasrani. Ada cerita apa sih di setiap puisinya. Mungkin saat gw lebih mengerti gw akan lebih menikmati dan mampu mengapresiasi.

Requiem

Katamu Tuhan tinggal dalam diri
Tapi kau berdoa menatap langit
Tak menunduk menatap tubuh
Seolah Tuhan begitu jauh

#Courtesy of iPusnas
Profile Image for Alistya Dewi Esty.
21 reviews2 followers
September 5, 2018
Sudah tiga atau empat kali saya membaca buku ini. Tadi iseng-iseng baca lagi, dan... ya, isinya masih mampu membuat saya jatuh hati. Banyak yang bilang diksinya rumit, bagi saya biasa-biasa saja, namun memang ada beberapa kosakata yang terdengar asing.

Dan saya kagum dengan bagaimana sang penulis terinspirasi dari lukisan-lukisan; kemudian mampu menghasilkan puisi-puisi yang tidak kalah indah.
Profile Image for Afy Zia.
Author 1 book116 followers
March 31, 2020
2,5 bintang.

[BERISI PENDAPAT PRIBADI!]

Di Hadapan Rahasia kayaknya pernah ngehits pada masanya deh, soalnya saya inget kepengin baca buku ini tapi nggak kesampean mulu.

Untuk puisinya, saya nggak bisa 'masuk' sama sekali. Entah faktor pemilihan kata yang terlalu njelimet (bagi saya) atau isinya yang membosankan (lagi-lagi bagi saya), jadi yah... it was just okay.
Profile Image for Natanael Christianto.
54 reviews6 followers
May 20, 2017
"Duduklah di belakang. Aku dan sepeda tuaku sudah berjanji akan menjagamu, menggulirkan doa-doa seperti gerak roda." - Adimas Immanuel

Nemu kumpulan puisi ini di Bazaar nya Gramedia seharga 10rb aja. Sebenernya baca ini karena suka sama puisi-puisi nya Adimas Immanuel. Paling suka yang Sepeda Tua.
Profile Image for Faizah Dewi.
14 reviews1 follower
November 23, 2019
entah mengapa pertama kali aku baca buku ini, nampak seperti selayaknya buku puisi pada umumnya. namun di kedua kali aku baca, aku lebih memahami dan merasakan perbedaan yang cukup jelas. Adimas pandai memilih kalimat, itu yang terfikirkan olehku. Sakal menjadi puisinya yang paling aku sukai.
Profile Image for Made Astrawan.
17 reviews
December 31, 2020
Saya selalu suka buku antologi puisi maka dari itu saya akan selalu berusaha memberinya rating 5 bintang. Teruntuk isi dari buku ini, itu kembali pada para pembaca perihal bagaimana cara menginterpretasikan maknanya <3
Profile Image for parareads.
182 reviews1 follower
March 2, 2023
Adimas dan puisi-puisinya selalu kreatif, bersahaja dan meninggalkan remang kepada para pembaca (atau Para Jamaludin). Di Hadapan Rahasia mewujudkan pertanyaan, sekaligus meraikan kewujudan kita sendiri.
Profile Image for Lisna Atmadiardjo.
146 reviews24 followers
August 19, 2017
Pemakaian diksi yang tidak biasa di sana sini. Bunyi puisi Indonesia masa kini yang saya rindukan sejak lama.
Profile Image for Suetha Ronarumata.
1 review16 followers
September 17, 2018
Setelah siap baca, saya memutuskan buku ini adalah salah satu bacaan terbaik saya sepanjang masa.
Profile Image for Nila Pratiwi.
148 reviews5 followers
March 28, 2019
pertama, cover. kedua, kecerdasan adimasnuel. saya hanyut ❤
Profile Image for Daniel.
1,179 reviews855 followers
January 25, 2020
Adimas Immanuel
Di Hadapan Rahasia
Gramedia Pustaka Utama
116 halaman
7.0

Displaying 1 - 30 of 66 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.