Izinkan aku memulai cerita ini dari sebait akad yang terucap di pelaminan. Sebait akad yang akan mengubah banyak hal, sebait akad yang akan membuat aku dan kamu menjadi kita, sebait akad yang akan membuat kita menjadi sepasang manusia yang saling menggenapi.
Ditulis dari sudut pandang perempuan, meskipun penulis sendiri adalah seorang laki-laki. Kalau kata teman-teman, bacaan dengan tema-tema nikah seperti ini bikin baper. Tapi bagiku ini semacam pencerahan si. Terutama yang pernikahannya melalui proses non-pacaran, yang kita belum kenal sama sekali dengan pasangan kita, hanya modal percaya pada Yang Kuasa. Seringnya cerita-cerita pernikahan yang melalui proses non-pacaran itu kan nampaknya di luar indah, berbunga-bunga, manis, tanpa cela. Nyatanya tak se-amazing itu. Itulah yang aku tangkap dari kisah dalam buku ini, sudut pandang seorang perempuan dalam prosesnya memahami, mengenal, mendalami suami yang baru dikenalnya dan bahkan dirinya sendiri yang menyandang status baru sebagai seorang istri. Bagaimana harusnya kita sama-sama bersikap dalam menghadapi perbedaan yang PASTI ada dan membuat ekspetasi awal kita jatuh, tercengang-cengang, ternyata begini, ternyata begitu. Bagaimana harusnya kita sama-sama mengerti dan mencari solusi untuk masalah-masalah yang muncul. Ada satu quote yang paling aku suka, bahwa intinya yang penting dalam pernikahan itu bukan hanya masalah cinta, tapi kesiapan untuk menerima. Dalam pribadi seseorang yang menjadi pasangan kita itu kan tidak hanya ada kelebihan yang kita kagumi, tapi juga ada kekurangan yang perlu kita terima dengan lapang hati.
Penulis memberikan banyak pesan dan nasihat dalam menjalani kehidupan pernikahan dan hal-hal lain yang juga harus diperhatikan sebelum melangkah ke jenjang tersebut.
Buku ini memberikan banyak insight dan wawasan baru bagi saya, karena pernikahan tidak melulu tentang cinta. Buku ini mengajarkan arti kepercayaan, tanggung jawab, pengertian, menerima dan banyak hal penting lainnya dalam hubungan bersama pasangan kita nantinya.
Buku ini resmi menjadi salah satu dari buku yang terlalu banyak stabilo yang saya torehkan di dalamnya 😂
Hal yang membuat saya tidak memberikan bintang lima pada buku ini adalah penggunaan bahasa inggris yang kebanyakan hanya di bagian awal sebuah paragraf. Mungkin untuk membuat penyampaian semakin santai tapi bagi saya malah merasa risih. Hal lainnya adalah penggunaan kata 'gpp' di beberapa tempat yang mungkin bisa ditulis dengan lengkap.
Buku ini sangat menginspirasi baik bagi para pasangan yang belum maupun sudah menikah. Diceritakan dari sudut pandang wanita, saya merasa terwakili oleh tokoh sang istri. Mungkin buku ini dengan naifnya menceritakan segala permasalahan antar dua insan yang dirasa 'remeh' dan 'sepele' namun jawaban sang suami mampu mencerahkan. Buku ini juga mengajari tanpa menggurui. Beberapa ajaran dan adab suami istri dapat dicurahkan dengan baik dan dalam konteks yang santai. Terima kasih Nazrul Anwar atas pelajaran yang membuat saya merasa semakin siap untuk menggenap.