Saya datang kemari dalam sebuah misi yang sangat penting. Saya perlu mengetahui sebanyak-banyaknya peninggalan tertulis Pendeta Bahira, perihal Nabi yang Dijanjikan. Tolong saya.
Pesan dari Elyas semakin membuat Kashva bingung akan keberadaan sahabatnya itu. Dia mencari Elyas dari Suriah hingga ke Yerusalem, hanya untuk mendapati kedua kota itu telah takluk oleh tentara Islam. Adalah ‘Umar bin Khattab yang telah menaklukkan keduanya tanpa pertumpahan darah. Sang Khalifah bahkan melarang perusakan terhadap rumah-rumah ibadah di tanah taklukannya.
Kemuliaan ‘Umar menggetarkan hati Kashva sehingga dia memutuskan untuk mengikuti sang Khalifah sampai ke Madinah. Namun, keselamatan Kashva justru terancam di kota itu. Keberaniannya menentang Hurmuzan—seorang bangsawan Persia pengkhianat yang masuk Islam hanya demi keselamatan dirinya sendiri—membuat Kashva diburu.
Sementara itu, Elyas ternyata masih hidup meski dalam keadaan terluka. Dia berada di Aleksandria, Mesir, tempat di mana perang akan segera meletus. Elyas menjadi saksi kemurkaan Kaisar Heraklius, serta kemustahilan di mana hanya ada empat ribu tentara Islam yang melawan dua puluh ribu tentara Bizantium. Di tengah suasana yang tengah memanas, akankah Elyas menemukan jawaban perihal Muhammad, sang Nabi yang Dijanjikan tersebut?
Tasaro (akronim dari namanya, Taufik Saptoto Rohadi, belakangan menambahkan "GK", singkatan dari Gunung Kidul, pada pen-name nya) adalah lulusan jurusan Jurnalistik PPKP UNY, Yogyakarta, berkarier sebagai wartawan Jawa Pos Grup selama lima tahun (2000-2003 di Radar Bogor, 2003-2005 di Radar Bandung). Memutuskan berhenti menjadi wartawan setelah menempati posisi redaktur pelaksana di harian Radar Bandung dan memulai karier sebagai penulis sekaligus editor. Sebagai penyunting naskah, kini Tasaro memegang amanat kepala editor di Salamadani Publishing. Sedangkan sebagai penulis, Tasaro telah menerbitkan buku, dua di antaranya memeroleh penghargaan Adikarya Ikapi dan kategori novel terbaik; Di Serambi Mekkah (2006) dan O, Achilles (2007). Beberapa karya lain yang menjadi yang terbaik tingkat nasional antara lain: Wandu; novel terbaik FLP Award 2005, Mad Man Show; juara cerbung Femina 2006, Bubat (juara skenario Direktorat Film 2006), Kontes Kecantikan, Legalisasi Kemunafikan (penghargaan Menpora 2009), dan Galaksi Kinanthi (Karya Terpuji Anugerah Pena 2009). Cita-cita terbesarnya adalah menghabiskan waktu di rumah; menimang anak dan terus menulis buku.
Setidaknya benar kalau Tasaro GK memakai akun twitter sebagai juru cerita. Buku novel Biografi yang sekarang memasuki babak ketiga "Sang Pewaris Hujan" adalah bukti nyata bahwa dia adalah si juru cerita. Kepandaiannya meramu cerita dan menyajikan sejarah sirah nabawiyah dan sabahat r.a dengan apik, showing yang indah dan bahasa nikmat.
Pada babak ini, sebagaimana sang pewaris hujan, berkisah zaman kekhalifahan Umar pasca wafatnya Rasulullah. Pada zaman ini keislaman sudah mulai merambah pada perluasan dan penakulkan daerah-daerah yang saat rasulullah masih hidup diramalkan akan menjadi milik Islam. Islam mulai menguasai suriah, Palestina, Persia, dan adegan yang paling mengguncang adalah pengepungan benteng Alexandria di bawah pimpinan Amr Bin Ash, yang dikisahkan begitu lama dan menegangkan.
Selain itu, tetap ada kisah Kashva, orang Persia yang mencari pencerahan.
Juga bagaimana Umar wafat, kemudian perselisihan bani hasyim dan umayyah tentang penunjukan Utsman atau Ali sebagai pengganti khalifah islam selanjutnya.
dan sampai di sini dihentikan. Menunggu kisah selanjutnya.
Setidaknya dari novel ini akan terbuka kisah bagaimana penakulkan negara-negara oleh Khalifah Islam bukanlah sama denga motif yang mendasari kolonialisme Barat (Gold, Glory. Gospel) tetapi lebih mengembalikan dan menjayakan Islam sebagai agama. Terbukti saat Raja Bizantium menawarkan ajalan damai dengan tawaran harta melimpah, dan itu ditolak oleh Khalifah Umar.
Ini buku pertama yang saya baca tahun ini yang begitu menguras emosi dan air mata. Tak kuasa menahan tangis terutama pada bagian meninggalnya khalifah 'Umar. Mata saya basah menahan haru. ada riuh yang menggema di kepala, menggelegak di jiwa, menggugah kesadaran. Bagaimana bisa selama ini aku mengabaikan sejarah agamaku? Hanya memahami dengan penggalan yang tak utuh.
"Manusia berangan-angan lebih panjang dibandingkan umur yang mampu mereka perjuangkan. Mendambakan banyak hal dan lupa bahwa hidup hanyalah bagian dari sebuah perjalanan pulang"
Novel ini memang bukan diperuntukkan bagi ahli sejarah. Pembaca macam saya lah, yang haus membaca kisah manusia utama ini namun rasanya berat jika membaca shiroh asli. Ada selipan kisah Kashva yang merupakan cerita fiksi yang menarik pembaca untuk menekuni kisah agung Rasulullah mulia.
Pada buku ketiga ini, Rasulullah telah wafat. Kisah bergerak di zaman kekhalifahan Umar bin Khattab. Tanpa meninggalkan keteladanan Sang Nabi, panutan umat.
Tasaro GK, kembali mengukuhkan dirinya sebagai pencerita ulung. Tenunan kata yang halus, indah, berkelas, mengikat pembaca menelusuri kisah penaklukan kekuasaan Romawi oleh pasukan Amr bin Ash.
Suasana tegang yang dibangun, merasuk ke hati pembaca, hingga terasa betapa para prajurit Islam sungguh berjihad semata demi meraih ridlo Allah. Keyakinan melanjutkan perjuangan Sang Nabi melahirkan keharuan yang menggetarkan. Tampilnya tokoh Muhammad, sebagai prajurit muda militan yang tangguh, memperkuat deskripsi suasana heroik.
Kepiawaian Tasaro GK terasa ketika menceritakan cuplikan kisah yang sudah sangat sering didengar, semisal kisah kedermawanan Umar bin Khattab. Kebiasaan blusukan di malam buta lalu menolong rakyatnya yang miskin, terasa bukan kisah yang membosankan. Saya tergugu pilu, dijerat haru. Danau di mata meninggalkan jejak basah di pipi. Duhai khalifah yang lembut hati dan ringan tangan..
Buku setebal 580 halaman ini banyak meninggalkan kesan. Terlalu panjang bila diceritakan. Yang jelas, jangan sampai dilewatkan. It's recommended book. Dan yang patut diingat adalah, bahwa setiap kita adalah Kashva..
sampai sini, saya terheran-heran, di mana batas antara shiroh dan fiksi. karena Kashva, Vakhsur, Astu, Bar, dan tokoh-tokoh Persia lainnya mulai dipertemukan dan dikisahkan secara langsung dalam satu frame yang sama dengan kisah-kisah penaklukkan di masa Khalifah Umar.
atau, apakah jangan-jangan... justru tidak ada fiksi sama sekali di sini? wah ini fiks, saya kurang baca. wawasan sejarah saya dangkal sekali rupanya..
hm, buku ketiga ini saya tamatkan lama sekali. entah, awalnya saya merasa begitu bosan meniti setiap cerita. dan akhirnya saya tinggalkan, mencaplok buku-buku lain.
kisah dimulai dari cerita Kashva dan Bar Nasha (Pendeta Beshara) di Suriah. baru mulai aja rasanya udah caaapek banget. karena ini udah buku ketiga, ya, dan petualangan Kashva makin nggak jelas juntrungnya. penasaran banget ke mana Mahsya, Xerxes, Vakhsur. gimana Atusa? gimana Persia?
tapi malah, aduh, Kashva Sang Pemindai Surga ini mengenaskan banget. udahlah kepisah, sendirian, kehilangan, dituding gila pula. terdampar ke tempat asing, jadi kayak gembel ini mantan bangsawan Persia.
di buku ketiga ini.. ada beberapa adegan yang menurut saya drama abis, yaitu Kashva amnesia, menikah pura-pura, dan bertepuk sebelah cinta. banyak tangisnya. banyak perang dan kehilangan. wabah, pembunuhan, keharuan, pengkhianatan, kekeringan, kelaparan. tapi banyak juga kemenangan atas negeri-negeri taklukkan..
maasya Allah, lagi-lagi bagian yang berderai-derai ada pada: mangkatnya Amirul Mukminin. mangkat pula sebelumnya para sahabat, para pemimpin yang... Khalid, Abu Ubaidah.. yaa Allah..
kalimat-kalimat Umar di akhir hayat begitu menyayat. saat sadar setelah ditikam saat menjadi imam, yang beliau tanyakan adalah, "apakah orang-orang sudah shalat?" ah, jleb banget.. wasiat dan nasehatnya begitu mengiris. cara tabib memeriksa dan mengumumkan 'waktunya' begitu jeri. umat seketika patah hati, tapi Umar bilang apa? "Jangan menangisiku! siapa yang menangisiku keluarlah! Apakah kalian lupa Rasulullah berkata, 'orang mati itu disiksa dengan tangisan keluarganya'?"
bagian yang menegangkan, lagi-lagi ada pada: pelimpahan estafet kekhalifahan. siapa yang paling berhak? dilihat dari mana penilaian berhak tersebut? kubu-kubu terbagi, bani-bani saling mengunggul-ungguli. ketidaksetujuan yang berangkat dari ketidaksukaan pada sosok, pada bani asal, bukan pada kepemimpinan, atau kekeliruan keputusan. pedih.
wah ini spoilernya kebanyakan sepertinya. dan baunya bawang banget. harap maklum, efek baru banget tamatin dan endingnya sesedih ini :"
tapi ada yang saya suka juga, sangat saya suka, bagian favorit saya. adalah saat seorang tokoh baru dikenalkan. namanya sama persis seperti Nabi kita. dia ditampilkan sebagai sosok pemuda yang begitu matang dengan mata yang begitu tajam. semangatnya luar biasa: dalam artian sebenarnya! Amr bin Ash menyanjungnya begini, "semangat yang bagus!" tapi tak pernah berbekas di hatinya. sebab sabetan pedangnya, bidikan panahnya, senyumnya, tidurnya hanya untuk Allah saja. benar-benar, hanya untuk Allah saja. pemuda yang sangat mengagumkan! tapi....
cukup sekian dan terima kasih. mohon maaf ini bukan ulasan, tapi contekan bacaan, ehm.
novel ini, sejujurnya sangat menakjubkan. ternyata shirh bisa dikemas semengasyikkan ini, seseru ini. novel ini mampu membuat saya merasa hadir di tengah cerita. merasakan panas, merasakan lapar, cemas, kalut, jeri, marah. hanya satu yang masih mengganjal saya, yakni: batas antara shiroh dan fiksi.
kalau ada yang mau bantu saya mengerti, mari diskusi. akan sangat saya nanti ^^
Membaca buku ini membuat saya ingin merekomendasikannya kepada siapa saja yg saya kenal. Superb! Buku yang tidak melalaikan jiwa..karena di dalamnya justru saya temukan sesuatu yang membangkitkan iman. Menyelami kisah Umar,sang pemimpin yang begitu dicintai umat muslim dan dirindukan sosoknya selalu..menyejukkan hati bahkan membuat mata gerimis. Kami merindukan pemimpin seperti Umar...sungguh! Tapi ada yg mengganjal di benak...fiksi tentang kashva...bagaimana menyatukan tokoh-tokoh fiksi itu dg tokoh nyata? Ataukah kashva,Astu,Abdul Masih,Bar Nasha,Vakshur adalah tokoh nyata senyata Sa'ad bin Abi Waqqash,Hurmuzan? Karena dlm buku ini bisa kita temui percakapan antara Vakshur dan Sa'ad juga Astu dan Hurmuzan. Bagian-bagian itu yg merisaukan saya.. Tak sabar menanti buku terakhir yang cover-nya saja sudah dipublish oleh sang penulis
Buku yang ketiga dari seri novel biografi Muhammad SAW ini mengisahkan perjuangan muslim di masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khatab. Setelah Jerussalem berhasil diduduki tentara muslim tanpa perang, tentara muslim lainnya bergerak ke tanah Mesir. Kashva yang sebelumnya dikisahkan dibunuh Hurmaza dll di perjalanan pulangnya ke Persia ternyata masih hidup namun hilang ingatannya. Yang diingat hanya namanya adalah Elyas. Dia diselamatkan oleh pendeta kristen koptik Mesir dan dirawat dengan baik oleh Maria, wanita koptik yang menyamar sebagai penyanyi muda Tayis kebanggaan seluruh kota.
Dalam perjuangan tentara Muslim di Mesir, muncul satu tokoh fiktif bernama Muhammad yang kemudian jadi kawan baik Elyas. Ya, di sini dikisahkan Elyas turut membantu tentara Muslim bergerilya melawan tentara Byzantium demi menduduki Alexandria.
Di Persia, Astu membuka usaha jasa kurir demi mendapatkan secuil informasi tentang Kashva, Mahsya, dan Xerxes anaknya. Namun, dia mencium ada misi terselubung dari salah satu pelanggannya yang menitipkan surat ke Madinah yang rupanya itu adalah misi untuk menjatuhkan Umar, lebih tepatnya membunuh Umar. Dengan Vakshur, ia ingin mencegah usaha pembunuhan itu tapi waktu mereka udah sampai di Madinah, semuanya udah terlambat. Khalifah Umar sudah wafat, dibunuh oleh Abu Lu'luah, seorang budak dari Persia. (di bagian inilah gw nangis termehek-mehek. Well, Tasaro selalu bisa nyeritain semua kejadian Rasulullah dan para sahabatnya dengan baik, sampai-sampai gw ngerasa turut 'hadir' di dalam ceritanya dan ngeliat langsung kejadian-kejadian itu). Kekalifahan pun akhirnya digantikan oleh Utsman bin Affan.
Akhir kisah, Vakshur pun akhirnya berkelana ke Suriah demi mencari jejak Kashva. Setelah sampai di Biara Busra, di dapet fakta mengejutkan kalau sebenarnya dia udah bersinggungan dengan jejak Kashva selama di Madinah.
Gw rasanya gak sabar pengen baca buku keempat dari seri ini. Semoga kisah Kashva dan Astu berakhir bahagia dan masa kekhalifahan Utsman dan Ali diceritakan dengan baik seperti kisah Rasulullah, Abubakr, dan Umar. This book is on my list for 2018!
Muhammad #3 Sang Pewaris Hujan @tasarogk 578 halaman.
"Apakah benar ia ... lelaki penggenggam hujan?" "Apa itu penting bagimu?" "Tentu saja!"
🌼 Pencarian Kashva semakin pelik ketika ia berhasil sampai di Biara Busra. Ia menemukan hal-hal ganjil tentang dirinya sendiri. Siapa Elyas, dan siapa dirinya sebenarnya? Bahkan, setelah perjalanannya dari Madinah, kehilangan ingatan justru menerpa dirinya. Perjalanan Kashva selalu membawa pada banyak pengetahuan yang coba disemburkan kepada pembaca. Pengetahuan tentang agama-agama lain di luar Islam dan pandangan mereka, keingintahuan mereka (yang juga mungkin juga kita) yang terjawab hanya dengan menyusun ayat-ayat Allah. Kashva mewakili diri sebagai majusi, dan perjalanannya membawanya pada orang-orang yang mewakili agama mereka, kristen koptik, dan kristen konstantinopel.
Dan siapa sangka bahwa perjalanannya kini, membawanya pada ikatan yang kuat dengan seorang bernama sama dengan Nabi yang dijanjikan? Muhammad, sang pemanah.
"Apa kau tidak punya pendapatmu sendiri, Muhammad? Kau selalu mengutip Alquran untuk menjawab hampir semua pertanyaanku." "Engkau bertanya tentang Allah, maka biarlah Allah yang menjawab pertanyaanmu," jawab Muhammad.
Cuplikan yang berhasil menyedot perhatian, juga menancap dengan tajam di hati. Pemahaman Muhammad dan caranya beriman menggambarkan dengan jelas tentang kelurusan akal, keutuhan sikap, dan kemurnian iman. Chapter 15 menjadi bagian favoritku!
🍁Perjalanan Khalifah Umar juga dijabarkan dengan cerdik dan mendalam. Bagaimana seorang yang terkenal paling keras, justru memiliki kelembutan hati yang tak tertandingi. Seseorang yang tak kenal takut justru memiliki ketakutan besar terhadap Allah, Tuhannya. Kisah perjumpaan Khalifah Umar dengan pasangan dari Mekah adalah bagian yang paling mengharukan. Sungguh sosok pemimpin yang didambakan menurutku.
🌻Sungguh perjalanan yang mengesankan bersama buku ini. Banyak amanah yang sebenarnya sedang kita pegang. Banyak perjalanan yang seharusnya juga kita tempuh. Bukankah kita sedang dalam perjalanan pulang? Dari Allah menuju Allah.
Siapa yang merindui Rasulullah dan Para Sahabat, kukira membaca buku ini akan membayar sedikit tentang itu.
Aku selalu teringat, Najwa Sihab pernah berkata “hanya perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca. Temukan buku itu dan mari jatuh cinta!”. Yaa, kurang lebih seperti itu laah…dan buku ini adalah alasanku jatuh cinta!
1. Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan (2010) 2. Muhammad: Para Pengeja Hujan (2011) 3. Muhammad: Sang Pewaris Hujan (2016) 4. Muhammad: Generasi Penggema Hujan tahun (2016)
Sepertinya hampir 3 tahun yang lalu kuselesaikan tetralogi buku ini, jujur untuk bagian per bagiannya aku agak lupa, jadi reviewnya kubuat satu untuk semua yaa, maaf.
Buku ini bercerita tentang tokoh fiksi bernama Kashva, pemuda asal Persia yang hidup satu masa dengan Nabi Muhammad SAW. Awalnya, Kashva adalah orang yang cukup terhormat di Kekaisaran Persia, tapi karena keyakinannya, hidupnya berujung pada pengembaraan ke berbagai penjuru dunia.
Insight tentang sejarah, teologi, sirah nabawiyah dan sahabiyah melimpah dalam buku ini. Rasanya kaya ikut mengembara bareng Kashva, mulai dari Persia, Tibet, Romawi, sampai ke Tanah Suci. Kita juga dikenalkan dengan keyakinan Zoroaster, Buddhist, Kristen, dan Islam tentunya.
Untuk sirah nabawiyah dibahas secara kronologis sejak kelahiran Nabi Muhammad SAW sampai wafatnya beliau, dilanjutkan dengan Sirah Sahabiyah periode kekhalifahan Abu Bakar RA sampai Ali bin Abi Thalib RA. Jalan cerita novel ini menguras adrenalin. Sering banget greget karena tokoh utamanya agak apes (spoiler dikit ya wkwkwk). Ada banyak intrik yang bikin seru, kaya konflik politik, internal kerjaan, perdebatan kepercayaan, dan masih banyak lagi. Oh iya, ada bagian komedi dan romance yang gemes-gemes juga nih, jadi walapun temanya serius, dibaca tetep seger.
Rasanya, aku selalu mau berterimakasih ke penulis karena bait-bait tulisannya bisa membawa muara cinta ke Rasulullah SAW dan para sahabat dengan cara yang lembut, bukan hanya sebagai doktrin yang sejak kecil sudah sering dikenalkan. Kalau suruh cerita tentang buku ini, sampai besok pun bisa-bisa aku masih nyerocos wkwkwk. Pokoknya bagus banget!!! Selamat membaca temen-temen <3
Setelah buku kedua berakhir dengan penuh kejutan, buku ketiga kembali menyajikan kepingan-kepingan puzzle cerita yang membuat keterkaitan antarcerita semakin mendekati utuh. Berbeda dengan buku pertama dan kedua yang masih banyak bercerita tentang Nabi Muhammad SAW semasa beliau hidup, buku ketiga ini lebih banyak bercerita tentang penaklukan-penaklukan yang dilakukan oleh pasukan Islam di bawah kepemimpinan Khalifah 'Umar bin Khaththab untuk memerangi kezaliman penguasa Persia dan Romawi sembari menyebarkan ajaran Islam.
Dan sebagaimana buku kedua ditutup dengan dimulainya perjalanan baru Kashva menuju Suriah (menjanjikan cerita baru di buku ketiga yang tidak kalah menakjubkan dibanding perjalanan Kashva ke Tibet), buku ketiga ini ditutup dengan dimulainya perjalanan baru Vakhshur untuk mencari Kashva ke Damaskus. Benar-benar dibuat penasaran dengan akhir perjalanan Kashva di buku keempat setelah misinya untuk bertemu Nabi Muhammad SAW kandas (beliau telah wafat bahkan sebelum Kashva berhasil mencapai Suriah).
Buku yang sangat direkomendasikan, dan disarankan untuk membaca semua jilidnya secara berurutan. Buku ini akan selalu berhasil membawa pembaca ke masa ribuan tahun silam dan merasakan damainya hidup di masa Nabi Muhammad SAW beserta para sahabat. :)
Di dominasi oleh kisah penaklukan dan, IMO, yang paling seru adalah kisah penaklukan Mesir oleh Amr bin Ash. Saya baru tau penaklukan negari-negeri besar itu ternyata di bawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Khaththab.
Sedangkan lanjutan petualangan tokoh fiksi kita, Kashva, juga seru. Perkembangan karakter Kashva cukup mengagumkan. Berawal dari cendekiawan yang tak bisa pegang pedang menjadi petarung yang andal di medan perang.
Tidak ada lagi kisah perebutan kekuasaan di kerajaan Persia karena kerajaan itu sudah takluk. Meskipun begitu, seperti yang kita tahu di buku kedua, masih ada satu putri bangsawan yang selamat dan dia sama sekali tidak muncul di buku ketiga ini. Duh gemesnya.
Secara keseluruhan buku ini seru sekaligus membuat terharu jika tiba di bagian bagaimana sahabat-sahabat nabi berupaya sepenuh hati mengikuti jejak beliau. Semakin jauh jarak waktu kebersaman mereka dengan nabi semakin membuat pilu. Begitu pula ketika mereka wafat satu-persatu.
IMO, yang perlu diingat, biar bagaimanapun buku ini adalah sebuah novel, jadi ada baiknya juga membaca buku sirah lain sebagai pembanding.
At last, ga sabar kepingin baca lanjutannya. Penasaran bagaimana akhir petualangan Kashva. 4 dari 5 bintang untuk buku ini. I really liked it.
buku ke 3 dari 4 serial buku Muhammad oleh Pak Tasaro GK merupakan buku yang paling stabil plot ceritanya dibandingkan 2 buku pertama yang super seru. tetap banyak petualangan tapi saya merasakan ada rasa yang hilang dalam perjalanan di buku ketiga ini. Pak Tasaro GK sayang sekali tidak mempertahankan ritmenya, walaupun tidak jomplang juga tapi bintang-bintang pada buku ini tentu sebagian besar bersinar karena terpancar 10 bintang yang solid pada 2 buku sebelumnya.
akhirnya tibalah masa bersinggungannya kisah kashva dengan kisah utama pada buku ini yakni kisah Rasulullah saw yang dilanjutkan oleh khilafah. di buku ketiga ini membahas kepemimpinan khalifa Umar ra. saya cukup pusing dengan penyatuan kisah ini karena jadi bertanya-tanya dimana batas fantasi, yang mana batas kenyataannya. sampai sekarang saya masih sulit membedakan mana character asli dan fantasi.
ada banyak sekali pertanyaan-pertanyaan dari buku dua yang bahkan dengan buku setebal ini belum ada penjelasannya dan sepertinya author sengaja menggabungkan semuanya untuk dijawab pada buku penutup serial buku Muhammad ini.
Walaupun tidak se-menyihir buku ke-1 dan ke-2, juga terdapat beberapa kesalahan minor yang agak menjengkelkan dikarenakan di buku sebelumnya hampir tidak ada (penggunaan kata hubung yang kurang enak dibaca, penggunaan font yang berubah disaat pembacaan surat yang kurang enak pemilihannya, dsb.)
Tapi buku ini tetaplah menguras emosi dan membawa kita ingin terus menyaksikan kemana arah cerita ini akan menuju. Keadaan Kashva di Mesir yang mengulik hubungan pertemanan maupun sedikit bumbu romansa banyak menguras emosi.
Keadaan Madinah yang sebelumnya gegap gempita dengan kemenangan, harus merasakan suatu kegoyahan saat kepemimpinan berganti ke Khalifah Utsman bin Affan. Ketika pepatah "Darah lebih kental dari air" benar-benar terasa disini, dan sudah diperingatkan oleh Umar di dipan kematiannya. Tidak bisa dipungkiri bahwa itulah penyebab kejatuhan Khalifah Utsman bin Affan dari kepemimpinannya dalam banyak sejarah-sejarah Islam.
Third book of the anthology of the beginning of Islamic era, the story of Prophet Muhammad sAW, and Khulafaur Rasyidin. It was told in a lyrical language, rich in vocabularies, with vivid and mesmerizing storytelling that made me feel that I was inside the book and saw by myself the cities, peoples and all characters both factual or historical figures and the fictional ones. Good book as an alternative to a usual "boring" books of the history on the Prophet.
Masih konsisten mengkisahkan perjalan Kashva dan diselingi oleh sejarah peradaban Islam
Gaya penulisan bak novelnya membuat sejarah Islam dikemas dengan manusiawi dan menarik. Sudut pandang orang ketiga dalam menceritakan kisah sejarah ini membuat semakin serasa dekat dengan tokoh tokoh besar Islam
Jaraknya jauh banget dari buku kedua sama ketiga sampai udah hopeless aja mikir gak bakal ada lanjutannya, lalu di tahun 2016 di gramedia Amplaz nemu buku ini di rak dan gak pake mikir langsung bawa ke kasir.
Secara keseluruhan buku ketiga ini membahas tentang kehidupan umat Muslim di bawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab. Kekhawatiran beliau terhadap rakyatnya benar-benar digambarkan dengan indah melalui kisah gerilya beliau di malam hari yang menolong langung penduduknya yang sedang melahirkan. Diceritakan pada sub bab "Penali Nasab Suci" kisah tersebut menggambarkan bagaimana perjuangan Khalifah Umar untuk memastikan tiada rakyatnya yang kesulitan di tengah-tengah kekhalifahan beliau. Sungguh sebuah keteladanan yang semakin sulit ditemukan di masa sekarang.
Selain itu, salah satu keunggulan dan keseruan cerita ini dibandingkan dua buku pendahulunya ialah mengenai kisah peperangan yang kembali disajikan dengan tulisan yang mampu menyihir para pembacanya. Jika buku pertama menggambarkan peperangan pasukan Muslim melawan pasukan Kafir yang menentang Rasulullah, buku kedua mengisahkan peperangan internal saudara-saudara di kerajaan Persia untuk merebut kekuasaan Khosrou, maka pada buku ketiganya menggambarkan strategi perang pasukan Muslim dalam menaklukkan kerajaan Romawi. Membaca kisah tersebut, ibarat sedang menyaksikan film kolosal seperti 300 dan Kingdom of Heaven dalam versi tertulisnya. Bahkan keseruan adegan peperangan tersebut sepertinya mengalahkan adegan Battle of Hogwarts atau Avengers End Game melawan Thanos.😁
Menariknya lagi, di balik kemenangan-kemenangan tersebut, kehidupan sang Khalifah tetap bersahaja dan jauh dari kemewahan sebagaimana tulisan ini..
"Kedatangan sang Khalifah yang menjadi syarat utama jika Palestina hendak menyerah, adalah kehadiran penguasa paling senyap sepanjang sejarah. Seekor keledai melenggang perlahan menuju Bukit Golgota, dengan seorang tua yang berjalan di depannya. Seorang lagi berjalan mengiringi, sembari menarik tali kekang keledai dan menebar senyumnya ke orang-orang yang berjejalan.. Inikah lelaki yang paling berkuasa di Timur dan Barat? Penakluk Persia dan Romawi?
Semakin kita baca, semakin banyak hati yang terenyuh menyaksikan betapa hebatnya kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab dibandingkan dengan kekuasaan para pemimpin masa kini..😕
Lalu,,yang paling kita tunggu-tunggu,,bagaimanakah kelanjutan kehidupan Kashva di tengah kepemimpinan Umar bin Khattab ini? Akankah akhirnya Kashva menemukan orang-orang yang disayanginya kembali? Berhasilkah Kashva mendapatkan jawaban dari pencariannya selama ini?
Sebenarnya banyak sekali kejutan yang diberikan Abah Tasaro GK tentang kehidupan Kashva di buku ketiga ini. Setelah akhirnya Kashva berhasil mengunjungi biara di Suriah yang menjadi tempat Elyas mengirimkan surat-suratnya untuk Kashva, ia berhasil menemukan Bar Nasha yang kini menjaga biara tersebut. Kali ini, Bar Nasha berhasil menunjukkan hubungan Kashva dengan teman-teman diskusinya selama ini yaitu Elyas dari Suriah, Biksu Tashidelek serta hubungannya dengan mereka semua.
Selain itu, untuk pertama kalinya, akhirnya perjalanan Kashva bersinggungan bahkan terlibat langsung dengan masa pemerintahan Khalifah Umar. Kashva akhirnya berhasil menuju Madinah didampingi oleh Bar Nasha yang kelak akan berjasa untuk membantu Kashva menemukan jejak masa lalunya yang ditinggalkan di Persia. Ia pun merasakan pengaruh besar dari kejayaan Islam yang dirasakan secara personal lewat petualangan-petualangan Kashva pada buku ini. Dari mulai menikmati suasana ramah dan terbuka di Pasar Madinah, berkenalan dengan dua orang Muslim yang nantinya akan membuka wawasan Islam bagi diri Kashva, membantu masyarakat Kristen Koptik yang menjadi tempat persinggahannya setelah pulang dari Madinah, hingga akhirnya terlibat dalam peperangan melawan pasukan Romawi di Mesir.
Tidak hanya tentang Kashva, dalam buku ini juga diceritakan bagaimana kehidupan Astu setelah berhasil menyelamatkan diri dari peperangan di Koshrou ketika ia menjadi pemimpin pasukan elit sebagai seorang Atusa. Ia kini membuka usaha Kurir Gathas (semacam jasa ekpedisi seperti JNE, Tiki, dsb pada masanya). Harapan ia membuka usaha tersebut adalah semoga ada seseorang dari masa lalunya atau orang-orang lain yang membawa kabar mengenai kelanjutan kisah Kashva dan Mahsya (kakaknya) atau bahkan yang paling ia harapkan ialah kehadiran Xerxes, anak lelaki tercintanya yang akan kembali datang untuk menemuinya. Dan lagi-lagi, kita diberi kejutan di sini dengan kehadiran seseorang yang membantu Khanum Astu menjalani usahanya tersebut. Siapakah dia?
Overall, 5 bintang masih sangat layak untuk perjalanan panjang kisah Kashva dan kekhalifahan Umar bin Khattab yang tertulis di buku ini. Salut untuk Tasaro Gk yang berhasil "menyihir" kita semua untuk menikmati tulisan-tulisan indah nan puitis namun tetap sarat makna dan berhasil membuat kita terpesona dengan sejarah Islam dan perabadaban dunia yang pernah terjadi di masa itu. Banyak tokoh-tokoh baru dalam novel ini tetapi ceritanya semakin melengkapi dunia besar yang diciptakan dari tetralogi buku Muhammad saw. Semakin membacanya, semakin membuat kita terlarut dan bersemangat untuk mengembalikan kejayaan Islam dan meneladani kisah-kisah penuh makna di dalamnya.. Barakallah Tasaro dan tim Bentang Pustaka :))
This entire review has been hidden because of spoilers.
Jarak yang lama dengan membaca Muhammad #2, saya harus merefresh tokoh-tokohnya. Tapi tetap saja, kekayaan sumber literatur sejarahnya memukau sangat. Ngga bisa berhenti dari satu bab ke bab lain.
kembali dengan kashva (aku sangat suka nama ini) yang kebingungan dengan sosok biksu tashidelek dan Elyas yang menurut orang-orang di sekitarnya, mereka tidaklah nyata. kemudian kashva bertemu Bar Nasha, yang akan menguraikan kebingungan-kebingungan kashva. dalam buku ketiga ini kita akan disuguhkan pasang, surut dan pergolakan umat islam ketika dalam pemerintahan khalifah 'Umar bin Khattab, tentang perbedaan antara penaklukan dan pembebasasan, dan di paruh akhir buku akan dihadirkan tokoh-tokoh dari persia yang telah tercerai berai dan sedang mengumpulkan jejak-jejak dari orang-orang yang mereka sayangi.
".......jawaban terbaik dari bertahun-tahun perjalanan hidupku. Aku terlalu keras ingin mengubah dunia, sedangkan inti dari kehidupan hanyalah begitu sederhana: *jalan pulang*. Dan, manusia selalu punya dua pilihan" Perjalanan Kashva dalam pencarian sahabat Elyas, Suriah, Madinah dan Mesir. Buku ketiga ini menceritakan jaman kekholifahan Umar. Irisan cerita pencarian Kashva dan sejarah pemerintahan Umar sangat enak untuk dinikmati, seakan kita mengetahui hal-hal yang mendasari keputusan sejarah tersebut dibuat. Tak pelak lagi, setelah seri ke 3 selesai, sekalian melanjutkan seri ke 4