Memaparkan kisah hidup tiga perupa muda Indonesia (Bob, Teddy, dan Toni) lengkap dengan kegilaan, kekonyolan, kisah cinta, proses kreatif, impian dan jalinan persahabatan di antara mereka. Kisah mereka ditempatkan dalam konteks sosial dan politik, juga di telatah seni rupa Indonesia.
File lengkap buku bisa diunduh di link: http://kbea.co/2016/01/unduh-gratis-m...
Mulanya saya mengira ini adalah sebuah novel..., ternyata bukan. Adalah sebuah petikan hasil wawancara dan riset yang disampaikan dengan gaya penulisan novel. Berkisah tentang tiga orang bernama Bob, Teddy, dan Toni, seniman muda Indonesia, dan bagaimana kiprah mereka dalam menghasilkan karya serta dikenal masyarakat luas.
Ketiga pemuda itu bertemu di ISI, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda, dan keputusan untuk berkuliah seni rupa mendapat tantangan dari keluarga mereka. Namun, pada akhirnya mereka pun menimba ilmu di tempat itu, dan berkarib di sana. Perjalanan mereka dalam hal berkesenian tidak hanya dipaparkan melalui sudut pandang mereka saja, namun di buku ini, secara luas dijelaskan tentang kiprah seni lukis di kancah lokal maupun nasional. Tidak hanya membahas dari sudut pandang sejarah seni saja, karena latar yang disajikan adalah era Soeharto, otomatis pengaruh politik kental tersaji di sini. Sudut pandang politis tentu saja memengaruhi kiprah mereka, apalagi saat rezim Soeharto berakhir. Semua kalangan mahasiswa muda berperan dalam penggulingan rezim, dan para seniman mengambil peran melalui seni.
Kehidupan tokoh-tokoh ini pun tak luput dari sorotan penulis, bagaimana kisah mereka mulai dari latar belakang keluarga, tabiat yang menurut orang 'luar' itu 'unik' (karena saya cukup jauh dengan dunia ini, jadi kehidupan seperti mabuk-mabukan, mengonsumsi obat-obat terlarang, kehidupan malam, seks bebas, adalah tabu, dan saya tidak memiliki gambaran sama sekali), dan kehidupan percintaan. Bagaimana mereka bersinggungan, bersisisan, dan bersama-sama menjalani kehidupan yang..., 'wah'.
Sebagai penikmat sejarah, apalagi sejarah di sini disampaikan menurut kacamata yang tidak biasa, yaitu melalui para seniman, saya cukup suka dengan kisah yang disampaikan. Menambah pengetahuan, tentu saja. Selain itu, dengan membaca buku ini juga cukup memperkaya wawasan saya tentang apa yang terjadi di lingkungan yang selama ini jauh dari kehidupan saya pribadi. Apalagi, gaya penulisannya yang dituturkan seperti penulisan novel, membuat sejarah yang berat menjadi cukup ringan, meskipun saya tidak hapal siapa-siapa saja tokoh yang diangkat oleh penulis (selain ketiga orang itu) dalam buku ini.
Dan satu hal lagi, seni berbicara dengan nyaring dan dengan bahasa yang lain saat suara dibungkam. Seni juga mampu memberikan kritik sosial dengan cara yang elegan. Seperti: saat lahan pertanian sudah tidak ada lagi, mungkin itu saatnya kita menanam padi di langit. Bagaimana bisa?
Sebagai urang Bandung, awalnya merasa ga akan nyambung baca buku ini. Tapi lama kelamaan serasa kenal dengan tokoh-tokohnya, S Teddy, Toni, dkk. Seru sekali mengenal mereka dan skena seni Jogja dari dekat. Sempilan sejarahnya juga terasa pas, ga ngebosenin. Phuthut EA menulis agak stakato, tapi menarik dan gampang dicerna.
Pinginnya sih lebih banyak cerita soal proses berkarya para seniman ini, cerita tentang mereka di era reformasi (entah kenapa terasa terlalu singkat padahal kan masa yang monumental) dan bagaimana karya-karya dari Jogja mempengaruhi khasanah seni rupa nasional. Saya juga selalu suka cerita-cerita tentang tokoh seni rupa selain seniman, jadi pinginnya sih lebih banyak cerita tentang kurator, pemilik galeri dan kritikus seni.
Seru. Seperti baca Ninth Street Women yang sayanganya sampai hari ini baru saya baca 1/10 nya.
Jadi gini...kesalahan gw yg utama ternyata adalah menganggap karya ini adalah novel a.k.a fiksi. Salah besar! Buku ini adalah kumpulan hasil wawancara Puthut E.A yg dirangkum dan ditata sedemikian rupa hingga alurnya menyerupai sebuah novel. Semua tokoh yg disebutkan di dalamnya adalah nyata. Dan gw baru mengetahuinya setelah baca bab tambahan beserta ucapan terima kasih penulis.
Buku ini berkisah tentang kehidupan para seniman Indonesia, terutama yg bermukim di Yogyakarta dan sekitarnya. Namun, pada dasarnya, kisah-kisah dalam buku ini berkutat seputar tiga tokoh yaitu Bob "Sick" Yudhita, Toni Volunteero dan S. TeddyD. Bagaimana akhirnya ketiga seniman dengan latar belakang berbeda ini bertemu, hingga terlibat dalam dunia kampus, perpolitikan (yg dimulai pasca 1965) bahkan kehidupan ala bohemian mereka, dikupas tuntas dalam buku ini.
Buku ini pada dasarnya bisa menjadi satu bacaan yg menarik (buku kayak gini kategorinya apa ya? Biografi? Esay?) karena pembaca bisa mendapatkan gambaran bagaimana kehidupan para seniman seni rupa dan seni lukis (khususnya keseharian dan pandangan politik) di Indonesia. Namun: 1. Typo-nya buanyaaaak banget. Terutama di tengah-tengah. Tetapi, karena buku ini self-published, jadi yowis lah. 2. Plotnya nggak ada. Memang informasi yg disampaikan oleh buku ini begitu banyak, apalagi dengan banyaknya tokoh yg terlibat, belum lagi latar belakang masing-masing. Tetapi, di sisi lain, apakah memang buku semacam ini butuh plot? *jadi bingung sendiri*
Yang jelas, menurut gw, buku ini berpotensi bikin macet di tengah jalan, terutama apabila pembacanya nggak tertarik dengan dunia seni dan politik tanah air.
Pak Puthut EA menjelaskan dengan detail berbagai peristiwa kesenian (utamanya seni rupa) di Yogyakarta. Tokoh-tokoh yang diangkat juga merupakan tokoh sentral dari berbagai pergerakan seni rupa pada tahun itu. Ada empat tokoh sentral yang kemudian, darinya, cerita berkembang menjadi sangat luas. Dari keempat tokoh sentral dijelaskan pula latar belakangnya dari lahir sampai kuliah.
Kesenian/ seni rupa ini tak bisa lepas dari belenggu politik saat itu. Keempat tokoh tersebut melakukan perlawanan dengan dalam bentuk kesenian dari membuat band hingga melakukan pameran seni instalasi. Berbagai macam peristiwa mereka lalui bersama, bahkan ikut ambil bagian dalam poros UGM-ISI.
Seni rupa yang morat-marit hingga melambung tinggi juga tak lepas untuk diceritakan pada buku ini. Sehingga cerita yang awalnya sederhana dapat berkembang luas. Karya monumental dari Puthut EA.
Sering mendengar orang bilang kalau seniman itu nyeleneh, nyentrik, dan semacamnya. Buku ini memperlihatkan kalo pendapat itu adalah under-statement. Mereka itu wong edan. Sampai-sampai saya ga habis pikir dan ga bisa ngikutin buku ini.
Bagian paling bagus dari buku ini adalah tentang sejarah seni rupa Indonesia dan hubungannya dengan pergerakan kemahasiswaan di era Orde Baru. Seperti inilah seharusnya sejarah diajarkan; dijadikan terasa dekat dan menggetarkan.
Gaya bahasa fiksi dari buku Nandur pari ning awang-awang ini membuat cerita yang aslinya non-fiksi ini menjadi nyaman dibaca dan membuka wawasan baru bagi saya. :)
Isi dan tema buku ini sangat penting dan kuat, lalu disampaikan dalam struktur naratif yang kokoh menggunakan bahasa yang begitu akrab buat segala kalangan pembaca. Buku ini adalah dokumentasi yang penting tentang seniman-seniman Yogyakarta; geliat hidup dan karya mereka yang senantiasa integral dengan sejarah perjuangan Indonesia seputar masa Reformasi.
Buku ini mampu membelalakkan mata kita mengenai dunia seni rupa, khususnya di Jogja. Tidak habis pikir, buku ini berhasil bersinggungan dengan kondisi politik Orde Baru, sejarah ISI, pergerakan politik kampus, dan yang paling asyik bagiku: cinta-cintaan dalam lingkaran anak seni rupa.
Jika ingin tahu kehidupan para seniman. Bagiku, selalu menjadi misteri sejak melihat polah tingkah mereka ketika jadi tetangga sekolah: SMA alim vs kampus seniman. Dan ternyata mereka memang edan :D. Terlepas dari banyak typo, tetap 5 bintang.
Oh wow. Buku ini saya dapat dari unduhan gratis beberapa waktu lalu. Pernah baca sekilas bahwa ini bukan fiksi, hanya saja nggak nyangka ternyata benar-benar bukan fiksi (YAIYALAH). Saya memberikan review pure cuma buat isi yang saya dapat dari buku ini.
Seru dan memberikan pandangan, wawasan, informasi soal pegiat seni di Yogyakarta ini. A must read! Saya sangat awam soal mereka-mereka yang tercantum di sini. Jadi sepanjang membacanya, saya berulang kali googling sana googling sini. Dan memang buat saya yang nggak ngerti seni rupa sama sekali pun melihat sekilas karya2 mereka jadi bikin saya sangat tertarik.
"Fisik kita bisa berjalan di mana-mana, tetapi kepala kita bisa saja hanya terpaut pada sesuatu di satu tempat, di rumah misalnya. Atau bisa juga, tubuh kita berdiam di satu tempat, tetapi isi kepala kita mengelana ke mana-mana." (Hal. 299)
Terakhir, please mau tahu lebih banyak soal Eddie Hara doong!
Dari awal saya menerka-nerka ada hubungan apa sih menanam padi di langit dengan lukisan? Ada kaitannya dengan sejarah terbentuknya Taring Padi? Atau salah satu dari tokoh sentral yang diceritakan awalnya seorang pelukis banting setir jadi petani? Ternyata saya baru dapat jawabannya setelah melahap habis buku ini. Hahaha. Buku yang sangat menarik mulai dari cara bertuturnya hingga menggali kehidupan tiap tokoh. Mengajak saya melihat sisi-sisi yang tak pernah bersentuhan dengan saya pribadi. Jadi bikin semakin penasaran dengan wacana dunia seni setelah membacanya.
saat saya selesai membaca halaman terakhir, mungkin saat itu juga salah satu dari tiga tokoh perupa sentral yang diceritakan telah beristirahat dalam damai. Selamat jalan Pak S.Teddy D, mungkin ini saatnya anda memanen padi yang anda tanam di langit.