Gerakan ekologi dan etika lingkungan telah dengan tepat menunjukkan berbagai kerusakan alam dan kemerosotan lingkungan hidup akibat aktivitas-aktivitas manusia yang mengutamakan kepentingannya sendiri. Pandangan dunia yang antroposentrik dituding sebagai pangkal ketimpangan relasi antara manusia dengan alam sekitarnya.
Namun baik ekologi maupun etika lingkungan ditengarai masih terjebak dalam dikotomi antara ekosentrisme dengan antroposentrisme. Dikotomi ini membuat kedua gerakan tersebut kerap kesulitan dalam menjelaskan kepentingan manusia di dalam kerangka hidup bersama alam, misalnya dalam menjelaskan soal teknologi.
Dengan memakai pendekatan fenomenologi yang bersumber dari filsafat Husserl, Merleau-Ponty, dan Heidegger, buku ini hendak meneliti hubungan ontologis manusia dengan alam secara lebih mendalam dan radikal. Sebuah perangkat baru hendak dibangun guna memahami alam secara substansial, yang bukan sekadar gejala kerusakannya atau hal-hal lain yang bersifat deskriptif, statistik, maupun etis belaka.
Nama Saras Dewi dan buku Ekofenomenologi ini sebenarnya tidak asing bagiku. Ketika masih di Surabaya, buku ini sempat terpajang di C2O Library--sebuah perpustakaan independen favoritku. Tetapi kala itu, karena merasa belum sanggup membaca buku-buku filsafat, aku cuma mengandai-andai suatu saat akan ku baca buku ini.
Beberapa tahun setelahnya, aku mulai menemukan ketertarikan terhadap filsafat. Hadir dalam kelas filsafat yang diadakan oleh Komunitas Utan Kayu membantuku untuk berkenalan dengan keilmuan ini. Dalam salah satu materinya, ada teori fenomenologi. Yakni teori yang digunakan oleh Saras Dewi dalam buku ini.
Jujur ku akui, apabila masih awam dan belum mengerti betul tentang keilmuan filsafat, membaca buku ini akan terasa melelahkan. Meskipun sudah dibantu dengan catatan-catatan kaki, tetap saja butuh waktu yang tidak sebentar untuk akhirnya paham apa yang diutarakan oleh Saras Dewi. Ada banyak nama tokoh dan istilah yang tidak awam sepanjang buku ini membuatku yakin bahwa buku ini ditujukan kepada mereka yang sudah paham dengan filsafat itu sendiri.
Perlu diketahui, buku ini merupakan penelitian disertasi karya Saras Dewi. Wajar saja jika bahasanya begitu lekat dengan keilmuan. Tetapi aku tidak menyangka bahwa tidak ada penyerdehanaan terhadap istilah-istilah (atau barangkali memang tidak mungkin untuk melakukan penyederhanaan?).
Poin utama yang ingin disampaikan oleh Saras Dewi adalah betapa Antroposentrisme membuat manusia merasa superior terhadap makhluk hidup lain. Ia juga mendeteksi adanya disekuilibrium manusia dengan alam salah satunya melalui teori Heidegger yang berkaitan dengan teknologi.
Pada intinya, memang umat manusia hanya melakukan penyelematan semata-mata untuk kepentingan ekonomis saja, tidak untuk melihat bahwa alam pun juga merupakan substansi yang memiliki peran sama besarnya dengan manusia untuk menemukan keseimbangan dalam kehidupan.
Menurutku tesisnya Utama buck ini adalah bahwa manusia dan alam itu tidak bisa dipandang sebagai dua entitas berbeda. Manusia dan alam saling mempengaruhi. Maka, diperlukan suatu rasa kecintaan manusia pada alam untuk membuat kerusakan lingkungan ini membaik. Intinya dia mencoba "melampaui" diskursus etika lingkungan yang hanya terpaku pada persoalan etis hubungan manusia dan alam. Dia ingin melakukan eksplorasi ontologis mengenai hubungan manusia dan alam. Apa yang menyebabkan keterpisahannya.
Mengenai itu aku setuju, bahwa manusia dan alam adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Tapi, apakah tujuan menuju ekuilibrium itu hal yang mungkin? Sesuatu yang menurutku luput dari pembahasannya adalah mengetahui apa itu alam. Apakah ada ekuilibrium itu dalam alam? Apakah alam adalah sesuatu yang punya mekanisme tersendiri untuk menuju kondisi homeostatis/ekuilibrium?Apakah problem lingkungan dapat diselesaikan dengan framework "merestorasi keseimbangan alam"? Bukankah itu adalah cara-cara liberal-kapitalis untuk menutupi motifnya guna meneruskan eksploitasinya terhadap alam? Maksudnya, kita bisa terus mencapai profit, asal kita tidak melewati batas-batas tertentu yang kita sepakati untuk tidak merusak alam?
Menurutku Saras Dewi terlalu naif dengan konsep alamnya. Dia tidak menjelaskan itu sama sekali. Dia hanya menerima begitu saja bahwa alam itu punya sifat homeostasis. Tapi, untuk tesis bahwa manusia dan alam itu tidak bisa dipisahkan aku setuju. Tapi itu bisa lebih diradikalkan lagi. Bahwa, selama masih ada keterpisahan alam dan manusia secara ontologis atau kultural, selamanya alam akan disubordinasi oleh manusia.
I took a really long time finishing this book, as it was, more or less, my first actual introduction to phenomenology (despite the many times Heidegger's name has been sporadically dropped in a lot of my classes during college). I had to go back and forth between reading this and online articles explaining in compact the central ideas of phenomenology, just so I struggle less grasping the meaning of the many foreign terms written in italic without losing the idea of the sentence they were in.
I really liked the idea of having an ontological transformation towards reshaping human-nature relation, to steer away from humanity's current pathway towards more chaotic disequilibrium. But then again, how to achieve equilibrium when we've only ever experienced the opposite? This book posited two (very extremely different) possible outcomes--Hobbesian eco-dictatorship or decentralized anarchist communism embedded with social ecology a la Bookchin--but chose none and stick with the idea that individuals has to transform their ontological consciousness of their relationship with nature themselves. Always the safe, frustrating answer, as if radical ontological transformation isn't influenced by the collective reality in which a subject lives.
(Obviously I was hoping Mba Saras would talk more about Bookchin's ideas, or at least showing more tendencies towards his stance).
One last problem that I have with this book is the blatant lack of eastern philosophers, despite the idea of ontological equilibrium of human-nature relation being very omnipresent in eastern beliefs and texts. I would've loved reading Mba Saras' interpretation of Kitaro Nishida or K.C. Bhattacharya's views.
I'm tired always having to read some white men's foundational thoughts. In this case, especially the racist Heidegger.
Once it touches Heidegger it becomes exciting, otherwise, it lacks the excitement and fresh take on ecology. Nature itself—ontologically—hardly conceived as having a constant equilibrium. If let say, the Utopian (or non-disequilibrium condition) goal aimed in the last chapter on this book is achieved, would the solar catastrophe, as once speculatively imagined by Lyotard, be canceled then? The term equilibrium is perhaps too naive. Due to the Holocene, the Anthropocene arises. No human lived on the Holocene. It parallels to the contingency experienced by the organic and inorganic. The notion of equilibrium brought forward by Saras Dewi in this book still pretty much revolves around anthropocentrism.
Furthermore, it is very unfortunate that Dewi eschews the ‘ontological turn’ in anthropology, considering she writes excessively regarding the ontological question of human nature relation. This results in universalizing human as one ontology; naturalist. The book sees the empiric human experience as universal—Francois Jullien has a hard time to prove the existence of ontology in the Chinese way of thinking represents that the question of universality is Western perception. In addition, Saras's view of technology is also pretty narrow, seeing techne as a (again) universal experience; for more detail see the concept of cosmotechnics.
In one of the chapter: it seems an easy route to pointing the (arguably mainstream) whaling practice in Taiji, Japan without even give a proper explanation of its ontological question. How does it compare to other whaling performed by indigenous Lamarela—in which the practice is pretty much entangled to their cosmology? I think that’s the main problem in this book, the definition of human and its culture flattened as universal. Maybe that’s also the problem when a conversation about ecology is merely seen from the perspective of Western phenomenology.
Buku ini cukup naif dalam membahas hubungan manusia dan alam. Sempat disebut beberapa kali bahwa buku ini juga tidak ingin memberi batasan yang begitu kuat antara manusia dan alam. Aku tidak melihatnya. Di sini ya tetap membincangkan hubungan manusia dan alam yang terpisah. Lebih-lebih lagi, alam apa, manusia yang mana yang dirujuk? Tapi tetap kuberikan tiga bintang atas "pengantar singkat" Husserl, Merleau-Ponty, dan Heideggernya. Dua bintang lagi tidak kuberikan karena jika diibaratkan skripsi--walau ini sebenarnya disertasi, buku ini mengandung banyak landasan teori dan sedikit sekali pembahasan yang mengelaborasi teori-teori tersebut. Justru aku tidak melihat ekofenomenologi itu sendiri. Ia hanya disebut-sebut saja--atau aku yang salah tangkap?
Ulasan setelah 5 tahun berlalu semenjak membaca buku ini untuk kali pertama: cukup menyegarkan dan menjadi pengingat ulang untuk pengantar singkat Husserl, Merleau-Ponty, dan Heidegger. Sisanya, ulasanku tetap sama seperti sebelumnya. Kubaca ulang karena merasa perlu dan sebagai pembanding untuk materi Etika Lingkungan yang kubuat untuk SAKTI Korupsi dan Krisis Iklim 2022.
Sudah jelas bahwa lingkungan hidup mengalami banyak perubahan seiring berkembangnya peradaban manusia, & banyak di antaranya adalah perubahan menuju arah lebih buruk. Manusia terus berupaya mengeksploitasi alam untuk memenuhi kepentingannya, mengais profit, mengumpulkan materi, menimbun harta tanpa memikirkan harmoni dengan ekosistem yang dihidupinya. Sudut pandang antroposentris mendominasi peradaban sapiens selama beberapa abad terakhir, menghasilkan kerusakan lingkungan yang pesat.
Di sisi lain, upaya2 menyatakan kepedulian terhadap lingkungan juga dikerjakan, baik lewat tindakan nyata melalui perawatan, konservasi, upaya "kembali ke alam", juga secara akademis melalui kajian2 & pendalaman landasan mengapa manusia perlu merawat lingkungan. Dari sudut pandang ini, ilmu ekologi & etika lingkungan berkembang. Namun juga ada kekhawatiran bahwa sudut pandang berbalik menjadi ekosentrisme, menempatkan kehidupan umat manusia sebagai sesuatu yang sekunder. Tak bisa disangkal bahwa sebagai manusia, kepentingan bersama sebagai satu spesies harus jadi pertimbangan.
Lewat Ekofenomenologi, diambil dari disertasinya, Saras Dewi mencoba mendekati problem relasi manusia dengan alam secara ontologis. Poin penting yang menolong adalah konsep disekuilibirum, ketika antroposentrisme & ekosentrisme terus diadu, & kurangnya upaya untuk menilik pemaknaan manusia dan alam secara lebih mendasar demi memahami kesetaraan & kelindan antara keduanya, untuk mencapai ekuilibrium.
Latar belakang filsafat penulis menjadi landasan penting pendekatan di buku ini. Tradisi filsafat fenomenologi, dari Husserl, Merleau-Ponty, Heidegger, sampai perkembangannnya di fenomenologi lingkungan menjadi pisau analisis untuk menggali sampai kedalaman, sebenarnya apa hakikat yang membuat manusia begitu antagonis terhadap lingkungan hidup.
Buku ini cukup teknikal, & mungkin agak sulit dibaca orang2 awam filsafat. Namun kajian filsafati memang memiliki urgensi, karena seperti kata penulis, keketatan berpikir filosofis sebagai standpoint terhadap problem kontemporer itu penting.
Buku ini tipis, tapi akan lebih bagus lagi kalau dibuat lebih tipis lagi (inti argumennya saja) ATAU dibuat jauh lebih tebal sekalian (supaya semua landasan pikirannya bisa dijelaskan hingga tuntas).
Bahasanya terlalu akademis untuk pembaca awam, jadi lebih baik mengelola ekspektasi dulu sebelum mulai membaca. Nggak salah juga sih kalau akademis, karena memang isinya bermuara dari disertasi penulisnya. Jadi memang nuansa bacanya ya seperti membaca Bab II skripsi/tesis/disertasi saja: informatif, bisa untuk referensi awal, tapi tidak terlalu menggugah emosi.
Biarpun saya kasih bintang 1, ya itu memang karena saya bukan audiens yang pas untuk buku ini saja. Untuk pembaca lain mungkin lebih cocok ya.
Buku tentang ekofenomenologi pertamaku. Bacanya pelan-pelan sebelum kerja di pagi hari. Topiknya mengingatkan dengan tema skripsi. Aku sendiri penganut prinsip tubuh adalah bagian dari alam bahkan sebelum mengurai di tanah. Sumber oksigen, makanan, dan ketentraman jiwa yang membuat kembali ke alam se-simple melihat yang ijo-ijo tiap healing adalah kodrat manusia. Menciptakan keseimbangan di antara keinginan untuk menjadi penguasa alam dan ketakutan saat alam mulai menunjukkan taring adalah tantangan besar yang harus dihadapi manusia. Pembahasan tentang pentingnya kesadaran untuk berbuat baik pada alam.
Buku ini membicarakan pentingnya dalam menjaga lingkungan. Dengan kata lain kepedulian terhadap lingkungan secara ontologis, epistimologis, dan aksiologi. Dasar tersebut menjadi hal penting menggabungkan filsafat dan lingkungan yang begitu dekat. Sehingga tidak ada batas antara filsafat dan lingkungan.
Perlu banyak waktu, sebagai pembaca tanpa background filosophy yang mumpuni buat saya dapat menikmati ulangan-ulangan yang ramai di dalam buku. Namun, semangat yang sama mengalir untuk Saras dewi.
Buku ekofenomenologi ini merupakan suatu karya yang sangat penting dibaca pada era modern ini. Pendeskripsian yang dilakukan Saras Dewi cukup sistematis dalam merangkai suatu latar masalah dan kaitannya dengan yang lain. Diangkat dari pandangan Merleau Ponty, saras dewi menguraikan pandangan akan disekuilibrum relasi antara manusia dan alam. Sebelum itu juga saras dewi menampilkan pendekatan ekologi dalam memahami relasi manusia dengan alam, akan tetapi terdapat suatu kejanggalan, dimana pandangan yg pada awalnya antoposentris malah mengarah pada ekosentris. Pandangan ekosentris belum lagi menguraikan relasi antara manusia dengan alam secara ontologis. Pada Bab2 terakhir, saras dewi menguraikan hubungan antara manusia dengan alam dalam ke-ada-annya dalam realitas bertolak dari Ontologinya. Namun menurut saya masih ada kekurangan pada buku ini dalam memecahkan kondisi ekuilibrum antara manusia dan alam. Gambaran yang diberikan masih bersifat abu-abu dan cukup rumit untuk dikupas.
“Alam adalah faktisitas, ia adalah pemicu kebebasan juga pengingat tentang keterbatasan manusia,” ungkap Saras Dewi setelah mengutip salah satu pernyataan pemikiran dari Maurice Marleau-Ponty.
Ketidakmampuan etikus lingkungan dan naturalis dalam menghadirkan manusia sebagai subjek acap kali mengeksklusi kehadiran mereka sebagai subjek guna mengetahui kebenaran objek. Dalam hal ini, objek adalah alam itu sendiri. Padahal, persepsi noematik menandakan subjek memiliki peralatan imanen atau intuitif untuk menangkap objek. Sebab itu, diskursus atas reevaluasi manusia sebagai bagian dari rantai komunitas biota perlu ditilik lebih jauh dan dipertimbangkan dalam urgensinya merawat keseimbangan alam. Degan demikian, revolusi ontologis perlu dihadirkan agar menjadikan alam dan manusia sebagai subjek yang berkelindan.
Buku ini bahasanya sangat akademis karena ini studi kritik untuk mengkaji ulang pemikiran filsafat yang usang tentang hubungan manusia dengan alam; yaitu pandangan-pandangan yang sifatnya antroposentrisme, yaitu pandangan-pandangan yang cenderung membesar-besarkan manusia sebagai khalifah, dan mengecilkan alam sebagai objek untuk dimanfaatkan atau dieksploitasi untuk kepentingan manusia, bahkan yang terdengar paling mulia sekali pun. Penulis lalu mencoba mencari titik terang dari pemikiran-pemikiran filsafat untuk mendekonstruksi pemikiran usang tersebut, yang ia sebut sebagai fenomenologi; pandangan yang mencoba melihat relasi manusia dan alam itu bersejajaran, saling mendukung.
Bagi saya kajian dalam buku ini cukup menarik. Sebuah kritik yang cukup tajam mengenai betapa antroposentrisnya manusia dalam memosisikan alam dan dirinya. Mengingat bagaimana manusia terus menerus berupaya untuk 'bertahan hidup' hingga melupakan bahwa dirinya pun bagian dari alam yang sejatinya ingin ia kuasai. Mungkin cukup menjadi bahan perenungan untuk kita yang acap kali masih melupakan bumi dan seluruh elemen semesta lain yang menyertainya dalam melakukan 'rekayasa' atas teknologi demi hidup yang katanya lebih efektif dan efisien.