Jump to ratings and reviews
Rate this book

Mencari Jejak Masa Lalu Lampung: Lampung Tumbai 2014

Rate this book
Persoalan bahasa menjadi kendala utama yang mematahkan semangat mahasiswa dan peneliti untuk tidak menggunakan pendekatan sejarah yang memanfaatkan sumber-sumber tertulis berbahasa Belanda. Mengetahui problem utama keterbatasan dalam penguasaan bahasa sumber itulah, seorang antropolog yang menyejarah, Frieda Amran, mempunyai ide cemerlang. Sebagai seorang yang pernah menjadi mahasiswa Pascasarjana Jurusan Antropologi di Universitas Leiden, pernah menggunakan pendekatan sejarah untuk objek studinya di bidang Antropologi dan tinggal di negeri Belanda, ia memahami betul keterbatasan-keterbatasan tersebut.

Sumber-sumber tertulis tentang Lampung begitu kaya dan tampaknya belum diolah dengan baik. Misalnya saja informasi mengenai mitos dan asal-usul nama Lampung dan orang Lampung. Sumber-sumber informasi untuk satu tema ini saja dapat membangkitkan pertanyaan-pertanyaan kritis tidak saja tentang asal-usul dan mitosnya, tetapi juga mengenai sejarah pembentukan marga, suku, kampung dan persebarannya dalam pola geografi yang berbeda, di pedalaman dan di pantai. Pertanyaan-pertanyaan lanjut, misalnya tentang sejarah pembentukan kampung, sejarah demografi Lampung, termasuk pola migrasi dari satu periode ke periode lain. Lampung adalah wilayah transmigran Jawa yang telah dirancang Belanda pada awal abad ke-20.

Artikel-artikel dalam buku Mencari Jejak Masa Lalu Lampung ini ditulis berdasarkan tulisan-tulisan para ilmuwan, pegawai pemerintahan Hindia- Belanda dan penjelajah Inggris dan Belanda di abad ke-19 mengenai Lampung. Sebagian besar artikel itu ditulis dalam bahasa Belanda kuno. Hanya satu artikel (dari tangan Kapt. Jackson) yang ditulis dalam bahasa Inggris. Asyiknya artikel-artikel ‘Lampung Tumbai’ bukanlah merupakan terjemahan. Struktur kalimat dan gaya tulis bahasa Belanda kuno teramat panjang dan berbelit-belit sudah diramu sedemikian rupa oleh penulisnya menjadi sajian yang menarik tanpa kehilangan esensinya.

215 pages, Paperback

First published January 1, 2016

7 people want to read

About the author

Frieda Amran

9 books2 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
2 (50%)
4 stars
2 (50%)
3 stars
0 (0%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 of 1 review
Profile Image for Willy Alfarius.
96 reviews9 followers
August 31, 2021
Melalui buku dari kumpulan kolomnya ini, Frieda Amran dapat disebut sebagai sejarawan pelopor bagi penulisan sejarah Lampung berdasarkan dokumen-dokumen historis yang sejauh ini tersisa, dengan jumlah yang tidak seberapa banyak. Frieda mengemukakan apa yang selama ini cukup jarang dilirik jika membicarakan tentang Lampung masa lalu: sumber-sumber dari pegawai kolonial. Tentu kita dapat berdebat soal sudut pandang dan cara penggambaran yang digunakan oleh para laki-laki kulit putih Eropa dalam menggambarkan Lampung beserta orang-orang setempat yang mereka kunjungi di abad-abad 19-20 lalu. Hanya saja melalui pembacaan yang cermat kita dapat memperoleh sedikit gambaran seperti apa sejatinya masa lalu Lampung, khususnya orang-orang Lampung bumiputra itu sendiri, yang sejauh penelusuran sumber tempatan masih sangat kurang jumlahnya.
Frieda menyadur berbagai buku yang ditulis oleh orang Eropa yang berkunjung ke Lampung, kemudian mengubahnya menjadi tulisan-tulisan singkat. Kemudian ia merangkainya dalam sebelas bagian yang sekiranya satu tema. Ditambah gambar-gambar Lampung masa dulu yang menarik, dengan kualitas cetakan yang bagus, buku ini saya kira dapat menjadi pengantar yang baik untuk memahami Lampung secara historis.
Displaying 1 of 1 review

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.