Jump to ratings and reviews
Rate this book

Piknik

Rate this book
Inilah PIKNIK, sebuah novel yang memotret dunia batin ‘orang desa’ namun di kepala dan punggungnya bertumpuk pikiran dan buku-buku dari seberang benua. Inilah novel yang dengan perlahan dan intens membawa kita pada alam pergulatan sang tokoh lewat pertemuan antara anak dan ibu pada suatu malam.

198 pages, Paperback

Published June 1, 2015

1 person is currently reading
8 people want to read

About the author

Nurul Hanafi

54 books6 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
0 (0%)
4 stars
2 (66%)
3 stars
1 (33%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 of 1 review
40 reviews4 followers
September 29, 2025
Sy penasaran dengan novel Nurul Hanafi sejak lama, mungkin di awal-awal Makan Siang Okta terbit. Endorsement di sampul belakang dari Geger Riyanto yang seingat sy menyebut-nyebut kelambatan novel itu bikin sy penasaran. Di tambah tulisan Nurul Hanafi di FB kemudian yang kalau tak keliru bilang mengapa ia menulis dengan cara seperti itu karena hidup kita tidak sekadar bergerak dari satu peristiwa penting ke peristiwa penting lainnya. Wah, mantap sekali.

Tapi sebelum ke Makan Siang Okta, sy cari-cari Piknik. Sy ingin tahu bagaimana perkembangan Nurul Hanafi--lebih-lebih kata kunci buku ini antara lain "dunia batin orang desa" dan "buku" dan itu bikin sy makin penasaran.

Meski Piknik bukan cerita pertama Nurul Hanafi dengan cara menulis demikian, dari tulisan Dea Anugerah (Efek Proust) diklaim bahwa di novel inilah teknik menulis ala Nurul Hanafi mulai terlihat kematanganya. Tepatlah jika sy mulai membaca Nurul Hanafi dari titik ini. Agak beruntung pula karena setelah berbulan-bulan mencari Piknik (tidak setiap hari tentu saja), dan sudah berada di ambang sabar, dan berniat langsung ke Makan Siang Okta saja, eh, buku ini muncul di Shopee.

Waktu sesungguhnya dalam novel ini terjadi hanya dalam satu malam. Selebihnya peristiwa muncul sebagai ingatan-ingatan sadar dan mungkin juga tak sadar yang berkelebatan. Sy jadi ingat Zen RS. Dia pernah nulis (di novelnya yang agak kureng itu) tentang bedanya memori dan kenangan. Memori itu mengandalkan ingatan sadar, jadi ketika kita memberikan upaya untuk mengingat suatu hal, sedangkan kenangan adalah ingatan yg tiba begitu saja karena kita mendapati keadaan tertentu, semisal, mencium wangi tertentu atau melihat benda tertentu atau mendengar kalimat tertentu.

Ketika tokoh ngobrol dengan ibunya, pada malam-malam setelah ayah/suami mereka meninggal, sy bayangkan itu jadi malam yang berat. Malam pengakuan. Dan mereka tak terbiasa mengaku antarsatu sama lain. Orang desa dalam novel ini digambar sebagai manusia yang gagu di hadapan emosi yang meletup-letup. Pada saat sulit seperti itu, obrolan mengundang kenangan melesat begitu rupa di kepala. Tapi, dalam beberapa bagian lain, seperti saat tokoh utama membatin, sy jadi teringat adegan di sinetron atau kartun Tsubasa yang kerap membatin setiap mereka melakukan sesuatu. Dan itu kadang panjaaaaang sekali. Ingatan dan solilokui inilah yang membuat novel ini bergerak lambat.

Ingatan memang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari. Saat kita berada di sini saat ini dan sedang melakukan ini, kadang ingatan menyelinap memunculkan gambar ketika kita sedang di situ saat itu ketika sedang melakukan itu. Ia hadir dan berputar super cepat, tapi kita ngerti. Ingatan, sy bayangkan, seperti sebuah video yang dipercepat belasan, puluhan, atau ratusan kali tapi kita tetap ngerti. Sebab itu, kadang mungkin kamu juga merasakan, ketika ingatan memalukan menyelinap tiba-tiba, tubuh kita bergetar dan otomatis kita mengumpat.

Belakangan ketika mulai kepengin lagi menulis fiksi saya berpikir apa saja keunggulan teks dibanding video jika ia sekadar filmis atau mendeskripsikan sesuatu dengan sangat baik? Nurul Hanafi kemudian datang menawarkan penulisan cerita yang mengoptimalkan monolog interior. Sy juga jadi penasaran dan makin kepengin membandingkan antara Piknik dan Makan Siang Okta. Setahu sy dua novel ini masih ditulis dengan cara yang sama, tapi kedudukan narator dan waktu yang diceritakan kayaknya beda. Di Piknik, narator dan cerita berada pada masa yang sama, sedangkan di Makan Siang Okta narator berada pada hari ini sedang cerita di masa silam. Mana yang lebih oke?

*Sedikit catatan tambahan: sayang sekali ada banyak kekeliruan dalam penulisan, salah satu yang paling mengganggu adalah penggunaan kata "acuh" yang malah dianggap sebagai semacam cuek atau tak peduli.
Displaying 1 of 1 review

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.