Novel yang pertama kali saya baca sewaktu masih SMP kelas 2. Saya akui dulu ada keterpaksaan, karena tugas pelajaran Bahasa Indonesia. Untuk membuat sinopsis novel - novel pada zaman Balai Pustaka. Tapi, akhirnya saya malah berterima kasih kepada Guru pengampu tersebut. Saya jadi mengenal betapa menariknya novel jika dibaca dan dihayati sungguh. Dan ini adalah satu-satunya novel (hingga kini) yang membuat saya menangis. Bercerita tentang kakak beradik, yang tak terawat semenjak ibunya meninggal. Ditangan ibu tiri, si jamin disuruh meminta-minta. Dan mempertemukannya dengan seorang tabib baik hati, Kong Sui. Disinilah konflik terjadi, saat ketidaksengajaan cincin nyoya Fi, masuk kedalam saku baju si Jamin, dan saat diketahui ibu tiri, cincin itu mau dijual. Namun akhirnya Si johan dapat mendapatkan cincin itu lagi. Sungguh malang, ketika cincin itu mau dikembalikan, si Jamin tertabrak Trem.
Pertama kali (dan mungkin yang terakhir kali) baca buku ini pas g lagi SMP. Gara - gara tugas Kesastraan Bahasa Indonesia !! Dan g ga recommend buku ini dibaca oleh anak dibawah umur 18 tahun.
Buku ini isinya cuma nyeritain betapa tidak adilya hidup dan betapa seusahnya orang hidup itu tanpa memandang umur berapapun kamu.
Well.. Mungkin banyak juga yang ga sependapat .. tapi at least cuma hal-hal itu yang g inget dari buku ini :)
Novel ini menceritakan tentang kisah kakak beradik yang hidup dalam penderitaan. Jamin adalah nama kakaknya dan adiknya bernama Johan. Ayah dan ibunya bernama Bertes dan Mina yang kemudian ibunya yang baik hati dan penuh kasih sayang itu meninggal karena sakit akibat memikirkan kelakuan suaminya yang semakin hari semakin buruk. Ayahnya yang sudah lama mabuk-mabukkan menjadi lebih beringas. Bertes menikah dengan Inem, seorang perempuan yang punya sifat berkebalikan dengan ibunya. Ibu tirinya senang mabuk-mabukan dan menghisap candu dengan memperoleh uang dari Jamin yang disuruhnya untuk mengemis. Semua barang yang ditinggal ibu kandungnya pun habis dijual oleh Inem untuk membeli candu. Pada suatu hari Jamin belum mendapatkan sejumlah uang seperti yang diminta ibu tirinya sehingga ia memilih untuk tidak pulang seelum uang yang diperoleh sudah memenuhi jumlah yang biasanya diinginkan ibunya. Biasanya apabila Jamin pulang dengan membawa uang yang belum cukup, maka adiknya, Johan akan dipukuli. Meskipun seharian belum makan nasi dan hanya minum air saja, Jamin tetap pergi ke tempat dimana ia bisa meminta-minta berharap belas kasihan dari orang-orang. Sampai malam tiba, ia belum dapat juga uang seperti keinginan ibu tirinya kemudian ia jatuh pingsan di emperan toko obat milik Kong Sui dan Nyonya Fi. Keesokan harinya, Kong Sui menemukan Jamin dan dibawanya ke dalam rumah. Ia dibangunkan dan diperlakukan dengan baik dan diberikan sejumlah uang. Nyonya Fi memberikan celana dan baju kepada Jamin untuk dipakai karena semalam celana dan bajunya kebasahan karena hujan. Ternyata di kantong celana yang diberikan Nyonya Fi terdapat cincin. Sehingga Jamin tidak ingin melepaskan celananya karena takut ibu tirinya akan menemukan cincin yang bukan miliknya. Meskipun begitu, Inem menemukan cincin itu dan mengambilnya. Di samping itu, ayahnya Bertes, dituduh membunuh orang lain ketika ia sedang mabuk dan Bertes pun di penjara. Akhirnya Johan bisa mengambil kembali cincin itu tanpa sepengetahuan ibu tirinya. Johan menemui Jamin yang sedang mengemis dan mereka berniat akan ke rumah Kong Sui. Di tengah jalan Jamin tertabrak trem dan ia dibawa ke rumah sakit. Johan kebingungan lalu ia tetap ke rumah Kong Sui dan mengembalikan cincin kepada Nyonya Fi. Johan pun menceritakan perihal kakaknya kecelakaan saat perjalanan ke rumahnnya Kong Sui untuk mengembalikan cincin. Nyonya Fi iba kepada kedua anak itu dan kemudian mereka mengunjungi Jamin di rumah sakit. Jamin meninggal setelah beberapa waktu sempat sadarkan diri. Johan diasuh oleh Nyonya Fi dan Kong Sui sehingga Johan menjadi anak yang lebih baik dan segar juga Johan disekolahkan. Sementara itu, ibu tirinya dikabarkan tenggelam di sungai. Waktu berganti, setelah tiga bulan lamanya Bertes keluar dari penjara dan insaf dari perbuatannya. Ia sadar karena ketidakpeduliannya selama ini orang-orang di sekitarnya harus menderita sampai meninggal. Bertes menjemput Johan dan meminta maaf kepadanya dan berterima kasih kepada Kong Sui dan istrinya yang telah merawa Johan. Armijn Pane lahir di Sipirok, Tapanuli, Sumatra Utara pada 13 Juli 1896 dan meninggal di Kalianget, Madura, Jawa Timur pada 23 April 1940. Si Jamin dan Si Johan diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1918, saduran dari Jan Smees karya Justus van Maurik (Merari Siregar pernah mendapat hadiah dalam sayembara mengarang atas cerita Si Jamin dan Si Johan). Armijn Pane menggunakan bahasa yang tidak baku supaya masyarakat umum, khususnya para remaja mudah mengerti dari isi novel ini. Dan mudah untuk di pahami. Bahasa yang digunakan yaitu bahasa Melayu karena pada saat menulinya dan keterkaitannya dengan angkatan Balai Pustaka yaitu bahasa Indonesia saat itu belum diresmikan. Ia menulis novel ini karena membahas tentang perjuangan dan pengorbanan seorang anak kecil demi bertahan hidup yang dimana menggambarkan masyarakat dalam golongan kelas rendah pada masa angkatan balai pustaka. Tema yang diangkat yaitu tentang keluarga yang kakak beradik yang nestapa dalam kepiluan. Pesan yang ingin Armijn Pane sampaikan kepada pembaca saat itu adalah ajakan untuk menjauhi minuman keras dan candu karena kedua benda itu mengakibatkan kerusakan mental dan kemerosotan bagi kehidupan manusia. Ide cerita itu sejalan dengan usaha pemerintah Hindia Belanda untuk memberantas pemabuk. Walaupun secara umum Belanda berusaha memberantas pemabukan, mereka masih mengizinkan adanya tempat-tempat tertentu, misalnya di Glodok, yang merupakan tempat terbuka untuk menjual candu. Ketika menyadur Si Jamin dan Si Johan, Merari sempat menemui hambatan saat memindahkan suasana Eropa ke dalam suasana Indonesia. Hal ini disebabkan oleh ukuran kemiskinan di Eropa berbeda dengan ukuran kemiskinan di Indonesia, begitu pula dengan kehidupan spiritualnya. Orang miskin di Eropa melarikan diri dari penderitaan dengan meminum minuman keras sedangkan di Indonesia orang yang meminum minuman keras adalah orang kaya. Pria Eropa pergi ke gereja bersama anak istrinya, sedangkan pria Indonesia yang soleh pergi ke masjid tanpa istri dan anak perempuannya. Dalam cerita ini pembaca dapat memaknai untuk diterapkan dalam kehidupannya bahwa setiap perbuatan baik maupun buruk pasti akan berimbas di kehidupan masa depannya dan bersyukur atas semua yang kita miliki karena ada tidak seberuntung kita menjalani kehidupan sehari-hari. Kedermawanan dan kejujuran juga menjadi hal yang penting untuk dilakukan kepada siapa saja tanpa memandang bulu. Pentingnya kasih sayang dan rasa peduli antar saudara dan keluarga. Menghargai kehidupan yang telah Tuhan berikan kepada kita dan memanfaatkan kesempatan yang ada agar tak menyesal akibat menyia-nyiakan.
kehidupan yang menyedihkan dari kakak beradik ini setelah ibunya meninggal... aku baca pertama kali wktu klas 4 sd, ga bisa nahan airmata.. :( baca lagi pas smp, sama aja, tetap ga bisa nahan airmata.. sedi...h banget..
Novel Si Johan dan Si Jamin saduran Merari Siregar menceritakan tentang kakak beradik yang hidup sengsara karena ketidakmampuan figur seorang ayah yang seharusnya dapat mengayomi keluarganya, hidupnya semakin sengsara ketika ibunya meninggal, dan ayahnya menikah lagi dengan perempuan tak baik. Jamin di paksa meminta-minta untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga ini, karena mereka tidak berpenghasilan. Akhirnya kakak beradik ini dipertemukan dengan orang yang peduli padanya, namun Jamin ditakdirkan meninggal karena melindungi adiknya, sebelum itu Jamin sudah bahagia karena dipertemukan dengan Kong Sui dan istrinya. Johan diasuh dan dibiayai oleh Kong Sui, selepas kepergian kakaknya, sementara ayahnya di penjara karena di tuduh melalukan pembunuhan, tiga bulan kemudian ia dibebaskan karena terbukti tidak bersalah. Merari Siregar adalah seorang sastrawan yang mula-mula menulis novelnya, Azab dan Sengsara dengan corak baru untuk ukuran zamannya ketika hikayat masih dominan. Dia lahir di Sipirok, Tapanuli, Sumatra Utara, tanggal 13 Juli 1896 dan meninggal di Kalianget, Madura, tanggal 23 April 1940. Merari Siregar bersekolah di Kweekschool, yaitu sekolah guru di zaman Belanda, sekolah guru Oost en West 'Timur dan Barat' di Gunung Sahari, Jakarta. Tahun 1923 ia mendapat ijazah dari Handelscrorrespondent Bond A di Jakarta. Selain sebagai pengarang novel, Merari Siregar juga seorang penyadur yang baik. Cerita sadurannya sangat hidup sehingga pembaca tidak merasakan cerita itu sebagai saduran dari luar negeri. Cerita Si Jamin dan Si Johan mendapat hadiah dalam sayembara mengarang tentang pemberantasan madat. Dalam saduran itu menciptakan lingkungan cerita yang baik sehingga tanpa membaca cerita aslinya kita seolah-olah membaca cerita baru yang terjadi di Indonesia (Jakarta). Daerah-daerah seperti Prinsenlaan di Taman Sari dan Glodok serta suasana Betawi tahun 20-an dilukiskan sehingga menimbulkan kerawanan di hati pembacanya. Dari novel ini penulis berusaha menghubungkan karyanya dengan kehidupan nyata, yaitu kehidupan yang ada di kota. Novel ini menghadirkan berbagai macam masalah dalam kehidupannya. Permasalahan yang muncul dalam kehidupan manusia tersebut memicu kepada kemunduran, kekalahan, dan keputusasaan sehingga gagal mencapai tujuan hidupnya. Sebaliknya, permasalahan yang muncul tersebut bisa juga menjadi pemicu semngat untuk melanjutkan kembali hidupnya. Kehidupan Si Jamin dan berusaha untuk melanjutkan kehidupannya dalam sisksaan ibu tirinya. Terutama bagaimana susahnya mencari uang untuk makan dan untuk hidup. Itulah pandangan si penulis terhadap kenyataan yang ada di muka bumi ini. Tokoh dan perwatakannya jelas meskipun alurnya maju tetapi masih terdapat banyak percakapan yang membuat kita meski berfikir dulu. Penggunaan bahasa yang lancar dan rapi, ia tonjolkan dalam setiap karyanya untuk menarik pembaca. Di samping bahasa yang enak dibaca, Merari juga memberi nasihat mengecam ketidakadilan, serta memberi pujian pada tindakan yang tidak menyalahi aturan ataupun norma yang berlaku dalam masyarakat. Tema yang diangkat dalam novel ini cukup menarik. Banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari novel ini yaitu tentang pentingnya kasih sayang dan rasa perduli antara saudara maupun keluarga. Alur maju dalam novel ini mempermudah pembaca memahami setiap peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam novel saduran ini. Saduran ini membuat kita bisa menyadari akan pentingnya sikap menghargai kehidupan yang telah diberikan Tuhan kepada kita, sehingga kita harus memanfaatkan kehidupan ini dengan sebaik mungkin bukan malah menyia-nyiakannya. Juga jangan pantang menyerah, karena Tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan hambanya, orang yang buruk perilaku dan ibadahnya akan mendapat balasan yang setimpal. Selain itu, kesabaran akan membuahkan hasil yang menakjubkan. Si Jamin dan Si Johan ini berada pada deretan novel-novel balai pustaka, bisa di ketahui dengan ciri bahasa yang digunakan bahasa melayu, bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Karya sastra yang dihasilkan diharapkan mendidik sehingga jalan cerita sering tidak wajar atau harus keluar dari jalan cerita. Selain itu, mempunyai amanat yang dapat tersampaikan. Dan adanya nota rinkes yang meliputi situasi masyarakat, sikap hidup pengarang, sikap dan persyaratan yang ditetukan penguasa. Maksudnya sastra pada masa ini banyak dipengaruhi oleh zaman dan masyarakat. Artinya dalam karya sastra banyak dimasukkan atau tercermin dari kondisi masyarakat.
Pengarang menulis novel ini karena membahas tentang perjuangan dan pengorbanan seorang anak kecil demi bertahan hidup. Novel ini cocok dibaca karena menceritakan hal yang menarik terkait dengan pengorbanan seorang kakak untuk adiknya.
Novel ini menceritakan sebuah keluarga yang hidup di dalam rumah tua, tidak terurus bahkan terlihat tak berpenghuni. Disana tinggalah seorang wanita bernama Inem dan dua anak bernama Jamin dan Johan beserta ayah kandungnya yang bernama Bertes. Jamin dan Johan adalah kakak beradik yang bisa dikatakan bernasib malang. Ayah mereka, Bertes adalah seorang pemabuk berat. Ibu mereka berdua adalah seorang yang baik, bernama Mina yang telah meninggal dunia. Ayahnya menikah lagi dengan Inem, seorang wanita yang buruk tingkah laku dan bicaranya. Ibu tirinya juga tukang menghisap candu. Jamin dipekerjakan sebagai seorang peminta minta. Dan apabila Jamin pulang dengan uang yang diperoleh kurang dari yang diinginkan Inem maka Johan tidak segan segan dipukulinya. Begitu juga dengan Bertes, sering memukuli anaknya karena tidak sadar diri dalam keadaan mabuk. Walaupun demikian Jamin dan Johan tidak pernah memiliki rasa dendam.
Jamin setiap hari harus keliling jalan untuk meminta belas kasihan orang lain dan harus diberikan kepada Inem untuk membeli candu. Jamin terpaksa melakukan untuk menghidupi keluarganya karena ayahnya telah dipecat dari pekerjaannya. Sering Jamin pulang dengan uang sedikit dan Ia bersama Johan dipukuli habis habisan.
Pagi itu matahari belum muncul sepenuhnya, tetapi si Inem sudah membangunkan Jamin untuk pergi meminta minta bahkan dia diancam jika belum mendapatkan lima puluh sen dia tidak boleh pulang kerumah dan mengancam adiknya akan dibuang ke sungai. Jamin pun selalu memikirkan ancaman Inem, Ia tidak mau berpisah dengan Johan karena ia sangat menyayangi adiknya. Jamin pun bergegas pergi tapi sampai malam ia tidak mendapatkannya. Saat itu hujan dan dia belum makan karena tidak mendapat sedikitpun uang, ia tidur di depan toko milik Kong Sui. Kong Sui dan Istrinya terkenal orang yang sangat baik. Karena melihat kondisi Jamin mereka lalu memberi makan dan baju ganti. Mereka juga member beberapa uang dan makan untuk adiknya.
Di dalam saku celana yang diberikan nyonya Fi tertinggal sebuah cincin. Dan si Jamin bergegas untuk mengembalikan kepada nyonya Fi. Dalam perjalanan Jamin tertabrak trem dan dilarikan ke rumah sakit. Adiknya saat itu bersama Jamin, Jamin menyelamatkan adiknya dan akhirnya ia yang tertabrak. Ia tak mengerti kenapa bisa terjadi, kejadian itu terjadi dalam sekejap. Cincin yang dibawa Jamin terjatuh. Johan mengambilnya dan mengembalikan pada nyonya Fi. Johan sangat sedih karena pada akhirnya ia harus ditinggalkan oleh kakaknya untuk selama lamanya. Ia tak menyangka jika ia telah ditinggalkan dua orang yang sangat ia sayangi.
Mendengar kabar kematian anaknya, Bertes hanya bisa terdiam tertunduk dan menyesali perbuatan yang telah ia lakukan terhadap anaknya. Jamin dimakamkan di sebelah makam ibunya. Kini Johan tinggal bersama Kong Sui dan Nyonya Fi seperti pesan Jamin dahulu agar adiknya jangan tinggal dirumah itu lagi. Terdengar kabar bahwa Inem ibu tirinya telah meninggal dunia karena mati lemas. Kini Johan hidupnya sudah membaik setelah tinggal di rumah Kong Sui. Bertes ayahnya juga telah dibebaskan dari penjara karena terbukti tidak bersalah daalam sebuah perkelahian. Kini Johan juga sudah bersekolah dan Bertes mendapat pekerjaan. Johan pun tidak akan pernah melupakan semua kebaikan Kong Sui dan Nyonya Fi. Dan dia berharap suatu saat nanti bisa membalas kebaikan mereka berdua.
Kelebihan Buku
-Cerita menarik
-Menggunakan alur campuran
-Jalan cerita sangat menarik untuk dibaca dan dapat diteladani.
Kekurangan Buku
– Bahasa sedikit sulit dipahami dan harus ada pengulangan baca.
– Gambar sampul dan gambar dalam buku kurang menarik
Buku ini berjudul "Si Jamin dan Si Johan" dan menceritakan sepasang kakak beradik yang bernama Jamin dan Johan yang hidup bersama dengan ibu tiri dan ayah kandungnya. keseharin keluarga ini yaitu si jamin disuruh untuk bekerja meminta-minta di lampu merah sedangkan ayah dan ibunya diam dirumah saja menunggu hasil yang didapatkan oleh si jamin. apabila sore telah tiba, hasil yang didapatkan oleh jamin nanti akan direbut oleh ibu tirinya dan digunakan untuk membeli candu(minuman keras atau arak atau sebagainya). kegiatan ini mereka lakukan setiap hari. Hingga disuatu ketika kettika jamin pergi meminta-minta dan tidak mendapatkan uang pun, dia memutuskan untuk tidak pulang dan akhirnya dia tidur didepan toko. keesokan harinya si pemilik toko merasa kasihan dengan jamin, kemudian disuruh masuk untuk memebersihkan dirinya dan mendapatkan baju yang lebih baik. jamin disana mendapatkan perlakuan berbeda yang selama ini ia rasakan di rumah bersama ayah kandung dan ibu tirinya. selepas itu Jamin izin pamit karena merasa tidak enak jika terlalu lama disana. akhirnya ia kembali kekehidupannya lagi ke rumah ayah kandung dan ibu tirinya. sesampainya si johan dimarahi, disiksa karena tidak bisa mendapatkan uang dari kerjanya kemarin. setelah itu ibunya pergi keluar rumah. saat jamin dan johan di rumah dia tidak sadar bahwa cincin milik orang yang menolongnya tadi terbawa dan ingin mengembalikannya sebelum diketahui oleh ibu tirinya. namun, semuanya terlambat ibu tirinya telah kembali dan mengetahui apa yang dibawa oleh si Jamin. kemudian ibu tirinya merampasnya dan disembunyikan. tapi jamin dan johan tahu dimana barang tersebut berada. setelah mengehaui letak barang tersebut, Jamin dan Johan keluar dari rumah dan menuju ke tokoh yang menolongnya kemarin. Hal yang tak terduga terjadi pada saat perjalanan. Si Jamin mengalami kecelakaan dan menyuruh johan untuk tetap mengembalikan cincin tersbut. setelah cincin di terima oleh pemiliknya, si jamin ditolong dan dibawa ke rumah sakit. namun, naas nyawanya tidak tertolong. akhirnya johan hidup bersama dengan keluarga yang menolong jamin sebelumya.
Hubungan antara judul dengan isi novel dirasa sangat tepat sekali. Dimana judul dalam cerpen ini menggunakan judul "Si Jamin dan Si Johan". Karena dalam cerita ini secara keseluruhan menceritakan tentang cerita keseharian Si Jamin di awal-awal. Si johan turut berperan dalam cerita walaupun hanya mendapatkan bagian di akhir cerita. Secara keseluruhan cerita ini menceritakan Jamin dan Johan.
pendekatan yang cocok digunakan dalam cerita ini adalah menggunakan pendekatan mimetik. karena, penulis menggambarkan cerita yang terdapat dalam buku tersebut mengambil dari cerita diseketarnya. cerita Si Jamin dan Si Johan aslinya merupakan saduran eropa yang diadaptasi ke indonesia dengan menggunakan latar tempat yang memang benar ada di Indonesia.
Cerita diatas apabila dihubungkan dengan jaman sekarang masih cocok dibaca untuk kalangan smp. karena dalam cerita ini tidak memerlukan pemmahan yang berat. jadi kemungkinan anak diusia SMP masih bisa menerima cerita tersebut. dan apabila jika dilihat dari isinya masih sama dengan kehiduapan yang berada di kota. yaitu sekumpulan anak ecil disuruh untuk pergi meminta-minta di lampu merah dan di suruh oleh orang yang tidak bertanggung jawab. orang itu hanya meneria hasil yang telah dikumpulkan oleh anak kecil itu.
Jamin dan Johan merupakan sepasang adik kakak yang ditinggal ibunya. Mereka hidup dengan ayahnya yang menikah dengan perempuan baru bernama Inem. Nasib Jamin dan Johan sangatlah malang karena setelah ditinggal ibu kandungnya, mereka memiliki ibu tiri yang sikapnya begitu buruk. Bertes merupakan pemabuk berat dan Inem merupakan seorang penghsap candu. Kehidupan Jamin dan Johan begitu sengsara, keadaan rumah dan kebutuhan mereka tidak diperhatikan. Mereka juga sering menyiksa, memarahi dan memerintah kedua saudara tersebut. Kasih sayang orang tuanya tak lagi dapat mereka rasakan. Jamin selalu dipaksa untuk mengemis sepanjang hari dan Inem memberikan target uang yang harus didapatkan. Apabila uang yang dibawa kurang maka Inem akan memukuli Jamin. Makian dan siksaanpun menjadi santapan sehari-hari. Jamin sendiri merasa malu karena harus meminta-minta. Jamin juga tidak diberi makan sedari pagi. Akibatnya Jamin sering merasa lemas dan lelah saat meminta-minta. Suatu hari Jamin diperintahkan untuk mencari uang dengan jumlah 25 sen. Saat meminta-minta ia pingsan di depan toko obat milik Kong Sui dan istrinya yang bernama Nyonya Fi. Melihat hal tersebut akhirnya Jamin ditolong dengan diberi makan dan pakaian. Setelah itu Jamin menceritakan kehidupannya kepada suami istri tersebut dan saat pulag Jamin diberi makanan dan beberapa uang. Sesampainya di rumah Jamin mengetahui bahwa Bertes ditangkap polisi karena kasus pembunuhan pada hari sebelumnya. Lalu saat Inem mengetahui bahwa baju yang Jamin kenakan baru ia memintanya dan menyuruhnya untuk menjualnya. Lalu Inem menemukan sebuah cincin yang merupakan pemberian dari Nona Fii, Inem mengambilnya namun Johan mampu merebutnya dan mengembalikan pada Jamin Akhirnya Jamin berniat untuk mengembalikan cincin itu. sayangnya dalam perjalanan Jamin mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kepalanya bercucuran darah. Lalu Jamin dibawa ke rumah sakit sedangkan Johan menemukan cincin tadi dan mengembalikan kepada Nyonya Fi. Lalu Nyonya Fi ikut kerumah sakit bersama Johan. Sesaat setelah mereka datang Jamin dinyatakan meninggal. Sejak kejadian tersebut Johan tinggal bersama Kong Sui. Inem sudah tidak ada kabarnya dan Bertes dilepaskan dari penjara karena dianggap tidak melakukan kesalahan namun ia sangat menyesali karena telah kehidalangan istri dan anaknya. Bertahun kemudian Johan sudah tamat dari sekolah dasar dan meneruskan sekolah di Jawa dan atas bantuan Kong Sui ia bisa belajar dan mendapatkan pekerjaan. kisah Jamin dan Johan sangat berhubungan dengan kehidupan nyata. Bahwa tidak sedikit seorang ibu tiri melakukan suatu hal yang buruk pada anak. Dalam novel ini keburukan yang dilakukan ibu tirinya adalah menyuruh mereka untuk mengemis. Banyak di luar sana orang tua menyuruh anak-anaknya untuk bekerja padahal usia mereka masih sangat belia dan seharusnya sekolah. Apalagi sering terjadi pemaksaan dan kekerasan yang dilakukan oleh pihak orang tua agar si anak memenuhi kebutuhan yang di butuhkan. Lalu dalam novel diceritakan bahwa ada pasangan suami istri yang membantu kehidupan Johan. Hal ini juga berhubungan dengan kehidupan nyata bahwa diantara orang yang jahat pasti juga ada orang baik yang mau membantu.
Buku yang berjudul Si Jamin dan Si Johan ini merupakan sebuah saduran dari karya sastra Belanda yang berjudul Justus Van Maurik, yang disadur oleh seorang sastrawan Minangkabau yang bernama bernama Merari Siregar. Buku ini yang berjudul Si Jamin dan Si Johan sendiri merupakan salah satu karya berbentuk Saduran yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1918. Hal tersebut berhubungan dengan karakteristik periodisasi Balai Pustaka dimana pada waktu itu karya sastra yang muncul didominasi bentuk Saduran. Dalam karya saduran ini, tidak ada unsur yang menentang pemerintah pada masa itu hal tersebut sesuai dengan karakteristik karya sastra periodisasi Balai Pustaka yaitu tidak mengandung unsur-unsur yang menentang akan pemerintah. Saduran ini mengisahkan mengenai kesengsaraan dua orang kakak beradik yang bernama Jamin dan Johan atas kehidupannya setelah ditinggal mati oleh ibu kandungnya. Saduran ini terbit saat Indonesia mengalami penjajahan yaitu pada tahun 1928. Sehingga dalam buku ini menjelaskan mengenai penderitaan dan susahnya hidup. Selain itu juga, buku saduran ini menggambarkan bagaimana seorang kakak yang harus berjuang dalam kesengsaraan hidup serta bagaimana Jamin dan Johan harus menerima siksaan dari ibu tirinya. Dalam saduran ini juga menggambarkan seorang ibu tiri yang selalu menyiksa anak tirinya. Hal tersebut berhubungan dengan karakteristik periodisasi Balai Pustaka, dimana karya yang ada merupakan realitas kehidupan dalam bermasyarakat. Karya-karya yang dihasilkan tidak lagi berhubungan dengan kehidupan raja-raja, dewa, atau kejadian tidak masuk akal seperti halnya dengan cerita-cerita lama. Melainkan berhubungan dengan kenyataan atau fakta kehidupan masyarakat pada masa itu. Bahasa yang digunakan dalam buku saduran ini adalah bahasa Indonesia pada masa permulaan perkembangan, yaitu bahasa Melayu Umum. Sebab, pada saat itu, bahasa Indonesia memang belum diresmikan sebagai bahasa persatuan, sehingga karya-karya yang ada masih menggunakan bahasa Indonesia permulaan yang lebih dikenal bahasa Melayu Umum. Saduran Si Jamin dan Si Johan ini memiliki nilai-nilai yang bisa dipetik, baik nilai moral, sosial, maupun budaya. Selain itu, pembaca juga dapat memperoleh pembelajaran yang bisa diteladani dan diterapkan dalam kehidupan saat ini. Pembelajaran tersebut berupa bagaimana sikap dan tingkah laku yang seharusnya dimiliki seseorang dalam menjalani kehidupan ini. Di mana dalam memperoleh masalah dalam hidup seorang manusia harus tetap sabar dan mendekatkan diri pada Allah SWT. Seseorang juga harus menjadi sosok manusia yang pemaaf. Dan selalu berbuat baik kepada orang lain tanpa pandang bulu.
Novel “Si Jamin dan Si Johan” menceritakan tentang kisah dua bersaudara yang kisah hidupnya sungguh sengsara setelah ditinggal mati oleh ibunya. Mereka memiliki ibu tiri yang sangat jahat yang menyuruh Si Jamin untuk mengemis. Sedang ayah kandung mereka, Bertes seorang pemabuk berat dan ibu tirinya merupakan penikmat candu. Novel ini termasuk angkatan Balai Pustaka karena terbit pada tahun 1921 (cetakan pertama) dan cetakan terakhir (ke-21) pada tahun 2004. Sudut pandang yang dipakai oleh pengarang pada novel ini adalah orang ketiga serba tahu. Hal ini dibuktikan dengan si pengarang, Merari Siregar mengetahui perasaan apa sajakah yang dirasakan oleh para pemain. Dalam penulisannya, terdapat karakteristik tersendiri yang terdapat dalam Novel “Si Jamin dan Si Johan” sesuai dengan angkatannya, yaitu angkatan Balai Pustaka. Karakteristik yang pertama adalah karya sastra yang dihasilkan diharapkan bersifat mendidik sehingga jalan cerita sering tidak wajar atau keluar dari jalan cerita. Hal ini dibuktikan dengan adanya pesan moral yang terkandung dalam novel ini, yaitu menjadi pribadi yang sabar dan tabah dalam menjalani rintangan hidup, niscahya akan ada saatnya semua rintangan itu sirna dan digantikan dengan sesuatu yang lebih membahagiakan. Namun, jalan cerita dalam novel ini masih sesuai dengan alur ceritanya sehingga karakteristik yang kedua tidak masuk dalam novel ini. Karakteristik selanjutnya adalah tentang penggunaan bahasanya. Bahasa yang digunakan dalam karya sastra angkatan Balai Pustaka biasanya menggunakan Bahasa Melayu, bahasa daerah, dan juga Bahasa Indonesia. Karakteristik ini dibuktikan dengan adanya sisipan Bahasa Melayu dalam cerita, seperti kata “laki istri”. Kata-kata tersebut termasuk Bahasa Melayu. Disamping penggunaan Bahasa Melayu, penggunaan Bahasa Indonesia dalam novel ini lebih dominan sehingga bahasa yang digunakan terkesan komunikatif dan mudah dipahami. Salah satu karakteristik novel keluaran Balai Pustaka adalah adanya nota rinkes yang terkesan membatasi ide-ide pengarang. Ciri khas hasil karya sastra dipengaruhi oleh 3 hal, diantaranya yaitu (1) Situasi dan kondisi masyarakat pada waktu itu. (2) Cita-cita dan sikap hidup para pengarang. (3) Sikap dan persyaratan yang ditentukan oleh pemerintah atau penguasa. Hal ini dibuktikan dengan adanya cerita jika ayah dari si Jamin dan si Johan merupakan bekas Tentara Indonesia. Seperti yang kita ketahui, pada periode 1920-an Indonesia masih dijajah oleh bangsa luar sehingga barangkali Merari Siregar terinspirasi dari pekerjaan masyarakat pada zaman itu, yaitu sebagai tentara.
Seiring berjalannya waktu, Sastrawan prosa Indonesia mulai berkembang menjadi lebih modern karena semakin banyaknya pengarang yang 'bergaul' dengan karya sastra barat, terutama Belanda, yang ditandai lewat penerjemahan dan penyaduran. Perkembangan itu semakin tampak saat Commissie Voor de Volkslectuur berubah nama menjadi Balai Pustaka. Perubahan itu juga disertai penambahan tugas, yaitu melatih para pengarang dalam gaya bahasa dan bentuk baru. Novel Si Jamin dan Si Johan merupakan saduran dari Novel karya Justin Van Maurik yang terbit pada tahun 1879 di Amsterdam. Kemudian, di Indonesia novel tersebut terbit pada tahun 1918 sehingga termasuk dalam periode 20-an. Sama dengan novel-novel lainnya yang terbit pada periode 20-an yaitu isinya terikat dengan nota rinkes yang dibuat oleh Dr. D. A. Rinkes sebagai ketua Balai Pustaka saat itu . Isi dari nota Rinkes tersebut ialah setiap naskah atau karangan harus mengandung pendidikan budi pekerti, setiap naskah atau karangan tidak mengandung unsur politik dan harius netral terhadap semua agama. Ide cerita Si Jamin dan Si Johan ialah ajakan untuk menjauhi minuman keras dan candu karena kedua benda itu mengakibatkan kerusakan mental dan kemerosotan bagi kehidupan manusia. Ide cerita itu sejalan dengan usaha pemerintah Hindia Belanda untuk memberantas pemabuk. Itulah karakteristik utama dari novel tahun 20-an terlepas dari tema adat yang mengikat seperti pada umumnya novel terbit periode itu, namun juga diharapkan dapat mengedukasi masyarakat melalui buku bacaan. Walaupun secara umum Belanda berusaha memberantas pemabukan, mereka masih mengizinkan adanya tempat-tempat tertentu, misalnya di Glodok, yang merupakan tempat terbuka untuk menjual candu. Ketika menyadur Si Jamin dan Si Johan, Merari sempat menemui hambatan saat memindahkan suasana Eropa ke dalam suasana Indonesia. Hal ini disebabkan oleh ukuran kemiskinan di Eropa berbeda dengan ukuran kemiskinan di Indonesia, begitu pula dengan kehidupan spiritualnya. Orang miskin di Eropa melarikan diri dari penderitaan dengan meminum minuman keras sedangkan di Indonesia orang yang meminum minuman keras adalah orang kaya. Pria Eropa pergi ke gereja bersama anak istrinya, sedangkan pria Indonesia yang soleh pergi ke masjid tanpa istri dan anak.
Persaudaraan yang saling mengasihi adalah hal yang indah dan perlu dijaga. Hal inilah yang patut kita tiru. Dan apabila kita melakukan salah sebaiknya segera bertaubat karena pertaubatan yang tulus akan diterima oleh Allah. Cerita ini mengisahkan dua orang anak manusia yang hidupnya sangat menyedihkan setelah di tinggal oleh ibunya yang telah meninggal dunia, dengan kondisi yang terpaksa dia menjalani jehidupannya sekarang ini. Ayah yang sepertinya tak punya tanggung jawab hanya bisa mabuk-mabukan saja, dan ibu tiri yang sangat kasar terhadap mereka menambah kesengsaraan yang teramat mendalam, di kesunyian malam hanya terdengar suara angin bertiup dan suara rintihan dari bocah kecil taak berdosa. Sepanjang hari kerjaannya hanya meminta belas kasihan dari orang sepanjang jalan terotoar. Buku ini menceritakan tentang 2 orang kakak beradik yang bernama Si Jamin dan Si Johan. Mereka adalah anak piatu yang terdampar dalam kehidupan yang sengsara, penuh cobaan, dan liku-liku masalah hidup. Penderitaan mereka dilengkapi dengan seorang Ibu tiri yang kejam. Sedangkan Bapaknya adalah seorang pemabuk yang pada akhirnya akan menyadari segala kesalahannya. Kisah ini berakhir dengan kisah tragis yakni dengan matinya si Jamin sang kakak oleh karena sebuah kecelakaan, sementara Johan sendiri akhirnya dapat hidup dengan selamat setelah mendapat pertolongan dan bantuan dari seseorang Buku ini sangat baik dibaca karena mempunyai pesan-pesan yang harus direnungkan dan dilakukan. Tidak perlu panjang lebar terhadap buku yang cocok bagi khalayak umum ini, karena buku ini jelas berguna bagi kita semua. Si Jamin dan Si Johan cukup kompleks dan memerlukan penegasan pada bagian-bagian tertentu. Cerita Si Jamin dan Si Johan ini bisa dibaca oleh semua kalangan umur karena mengandung nasihat-nasihat yang berguna dalam kehidupan. Terutama bagi para remaja sekarang ini yang cenderung mengikuti gaya hidup konsumtif, buku ini sangat cocok karena akan penderitaan dan kesulitan-kesulitan orang-orang yang kekurangan. Demikianlah makalah ini saya buat, semoga dapat bermanfaat bagi orang yang membutuhkan.
Novel Si Jamin dan Si Johan menceritakan tentang masalah kehidupan sehari-hari. Yaitu ketika teman-teman mereka hidup dengan kasih sayang kedua orang tua kandungnya, namun kedua anak kecil ini malah disiksa bagaikan budak oleh ibu tirinya (Inem). Mereka seharusnya memiliki hidup layak seperti anak-anak yang seharusnya yang selalu diperhatikan, namun mereka (Si Jamin dan Si Johan) disuruh oleh ibu tirinya untuk mengemis dipinggir jalan. Isi novel ini menceritakan tentang permasalahan dalam kehidupan sehari-hari yang terjadi dalam rumah tangga seseorang, nasib kedua anak ini sangatlah tidak baik karena memiliki ayah seorang pemabuk yang dipenjara dan ibu tiri seorang pecandu. Sehingga membuat anaknya menjadi budak dari ibu tiri. Merari Siregar sendiri membuat novel ini karena ia menjumpai kepincangan-kepincangan, melihat keadaan kedua anak kecil yang malang nasibnya itu. Dimana anak kecil itu harusnya dilindungi dengan semestinya. Sebagai seorang ayah dan ibu yang mengayomi anaknya dengan memberikan kasih sayang yang cukup. Sesuai dengan tuntunan waktu, seharusnya walaupun ibu tiri juga bisa menyayangi anak tirinya dan menganggap anak tirinya seperti anaknya sendiri. Karena ini sudah menjadi kewajiban kita sebagai orang tua bisa memimpin anaknya supaya bisa sukses kedepannya. Dalam novel ini nasib seorang anak tiri memang sudah biasa terjadi dilingkungan masyarakat. Hati kecilnya ingin mengubah cara pandang yang kurang baik. Karya sastra yang muncul pada zaman Balai Pustaka ini juga masih terpengaruh oleh keadaan sekitar atau budaya di lingkungan masyarakat penulis.
Bahasa yang digunakan Merari Siregar dalam penulisan novel Si Jamin dan Si Johan ini sangat mudah dipahami. Ceritanya cukup ringan dan mengandung banyak pesan moral, bahkan mampu membuat si pembaca menitikkan air mata hingga di penghujung cerita. Sifat dari para tokoh yang digambarkan cukup jelas sehingga si pembaca akan ikut merasakan alur cerita bagaimana jahatnya Inem dan Bertes, serta penyesalan akhir pada takdir yang tak mampu lagi dilawan.
Novel ini bisa dikatakan novel yang memiliki cerita yang ringan. Selain karena bahasanya yang mudah dimengerti, halamannya juga terhitung sedikit dibandingkan dengan novel-novel lama lainnya. Recommended banget buat yang ingin membaca untuk hiburan dan gak mau susah-susah mikir maksud dari ceritanya.
Buku ini menceritakan tentang kehidupan sepasang saudara yang menderita oleh siksaan ibu tirinya, Inem. Kakak yang bernama Jamin harus mengemis setiap hari, sedangkan adiknya Johan hanya mengharapkan kakaknya selalu kembali ke rumah dan membawa makanan. Sedangkan, ayah mereka yaitu Bertes hanyalah pemabuk yang tidak pernah memperdulikan nasib keduanya. Suatu hari Jamin yang pinsan akibat kelelahan dan kelaparan saat mengemis ditolong oleh Kong Sui. Setalah pulang dari rumah Kong Sui dan berterima kasih karena telah diberi pertolongan, Jamin menemukan benda berharga berupa cincin yang diduga milik Nyonya Fi, lalu Jamin bertekad ingin mengembalikan cincin tersebut. Sayangnya di tengah perjalanan, Jamin tertabrak trem dan berakhir meninggal dunia, kemudian Johan diadopsi menjadi anak Nyonya Fi, sedangkan ibunya ditemukan mati karena tenggelam di sungai akibat tergelincir saat sedang berjalan dalam keadaan sakau akibat narkoba yang selalu ia pakai. Namun, di akhir cerita sang ayah bertaubat dan berjanji akan mengurus anaknya dengan baik dan berhenti mabuk. Akhirnya Johan kembali tinggal bersama ayahnya, Bertes.
Dalam mengkritik novel ini, penggunaan pendekatan mimetik dirasa sangat sesuai. Sebab novel ini seperti mengangkat sebuah kisah nyata atau cerita berdasarkan kisah hidup sehari-hari, hal itu sesuai dengan prinsip pendekatan mimetik. Pendekatan mimetik menganggap bahwa setiap karya sastra adalah representasi dari alam semesta. Jadi, jalan cerita dari novel Si Jamin dan Si Johan ini merupakan representasi dari kehidupan keluarga yang tidak bahagia.
Novel ini bagus karena masih mengangkat isu-isu yang relevan pada masanya hingga saat ini. Jadi, pembaca akan tetap mendapatkan nilai-nilai dari novel ini untuk kehidupannya sehari-hari.
Secara plot mungkin tidak sekompleks harapan netizen. Namun persoalan kemiskinan, nirempati, dan ketimpangan kebijakan yg terpotret dlm sastra ini msh saja terjadi di Indonesia. It made me cry, for children, yg biasanya selalu jd korban dari situasi ini 🥺😭
Cerita dalam novel ini sangat menyedihkan dan mampu membuat saya menitikkan air mata. Cerita tentang ibu tiri yang galak, sadis dan kejam terhadap kedua anak tirinya yang bernama Jamin dan Johan. Novel ini juga mengisahkan tentang perjuangan hidup Jamin dan Johan, yang harus bekerja untuk kehidupan mereka dan untuk memenuhi permintaan Ibu tiri mereka yang tak tau diri, yang kerjanya hanya bermalas-malasan dan selingkuh. Si Johan sang kakak meninggal tertabrak kereta api demi membela adiknya, Jamin yang tak bersalah. Saat telah dewasa, Jamin tak pernah melupakan pengorbanan dan kebaikan kakaknya. Begitulah harusnya kakak beradik, saling membantu, membela, melindungi, menyayangi, dan saling berbagi.
Kelas 2 SMP setiap istirahat siang menyempatkan ke perpustakaan sekolah dan satu waktu ketemu buku ini di rak bawah yang tampak tak terurus.
Sudah agak lupa bagaimana buku ini ditulis, memakai gaya bahasa apa, dan penuturannya seperti apa, tapi satu yang perlu digarisbawahi bahwa buku ini wajib baca bagi mereka yang ingin mengenal dan merasakan sebuah penderitaan dan kesengsaraan hidup dua orang manusia yang belum lagi remaja atas perlakuan orang orang disekeliling mereka, perjuangan untuk sekadar meneruskan hidup, dan usaha yang mereka lakukan untuk keluar dari *kamar gelap* mereka.
Pahit getir kehidupan ini ada disini, walaupun klise namun membaca ceria persaudaraan dan kesengsaraan selalu tak lepas dari yang namanya air mata :(. Jamin dan Johan vs the World, saya kira bisa dikatakan seperti itu, dimana saat sorga tiba-tiba ambrol dan jatuh kedunia distopia, disanalah sekarang mereka. lol. Sepeninggal ibunya mereka merasakan kehidupan yang perih dibawah bayang-bayang ibu tiri pecandu madat dan ayah yang malas sehingga mereka.. you know lah ceritanya sudah ditebak.. mereka sengsara bla.bla.bla.. hidup susah sampai tiba datanglaah malaikat penolong, dan sedikit banyak pengorbanan. :(. Dan ya tentu air mata bagi saya..
Terima kasihku kepada Ibu Datun, guru SMPku, yang telah mengenalkanku--melalui tugasnya--pada buku ini. Mungkin inilah buku novel pertama yang kubaca dalam sejarah hidupku.
Beruntung, saya tidak kapok membaca buku setelah membaca buku ini. Karena ternyata, banyak buku atau cerita atau karya sastra yang menurut saya lebih baik, jauh lebih baik dari buku ini.
Apresiasi saya kepada Merari Siregar, juga penerbit Balai Pustaka. Terima kasih.#
Pertama kali melihat buku ini di perpustakaan SMP, aku langsung tertarik. Aku pinjam buku ini. Endingnya bener-bener bikin aku nangis. Ketika SMA, aku cari lagi buku ini di toko buku dan akhirnya kubeli. Aku bener-bener ingin memiliki buku ini. Makanya aku beli. Biar bisa dibaca lagi kapanpun aku mau. Aku nangis lagi setelah membaca buku ini untuk yang kedua kalinya. BENAR-BENAR MENGHARUKAN !!! VERY GOOD !!!
I read this book the first time when I was in junior high. Due to a writing competition that I participated in. It was first printed in 1921 and progressively being reprinted until the present. The latter brings this book to one of Indonesia's best literature. We can find enormous values about life, brotherhood, neighborhood, humanity, and family struggles as well.
Salah satu cerita yang men-stigma ibu tiri sebagai sosok yang jahat. Dan penderitaan tokoh utama tampak begitu berlebihan dan tiada kunjung selesai. Sinetron sekali, bukan? Cerita ini dibikin tahun 1921. Hmm...
Saya membaca buku ini pertama kali waktu msh kelas 1 SD. Ini adalah novel pertama yang saya baca. Buku ini bercerita tentang perjuangan kakak beradik, Jamin dan Johan, dalam menghadapi kekejaman ibu tirinya. Setiap kali membaca buku ini saya tak bisa menahan air mata, sangat menyentuh.