Jump to ratings and reviews
Rate this book

Phiếu bé hư

Rate this book
Tôi là Lee Kun Woo, học sinh lớp ba.
Tôi chưa bao giờ từng nghĩ mình là đứa trẻ hư.
Nhưng chẳng hiểu tại sao tôi luôn phải nhận phiếu bé hư.
Thế nên trong giờ học tôi đã lôi cuốn sổ tay ra và vẽ hình cô giáo mặt nhăn nhó.
Tôi còn cho luôn cô mấy phiếu cô giáo hư nữa.
Cuốn sổ này, nhất định không được để cô trông thấy!

100 pages, Paperback

Published August 18, 2015

5 people are currently reading
86 people want to read

About the author

Sun-mi Hwang

6 books400 followers
Hwang Seon-mi is a South Korean author and professor who is best known for her fable The Hen Who Dreamed She Could Fly, which has also been made into a successful animated film in South Korea, Leafie, A Hen into the Wild.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
21 (31%)
4 stars
26 (39%)
3 stars
18 (27%)
2 stars
1 (1%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 21 of 21 reviews
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,438 reviews73 followers
November 7, 2016
Setiap orang yang ingin menjadi guru dan dosen, atau berkarir di dunia pendidikan, harus --wajib membaca buku ini serta merenungkannya berkali-kali sebelum memulai hari mereka di kelas.

Kita bisa membandingkan cerita guru yang ditulis si penulis di kata pengantar dengan guru yang ada dalam cerita ini. Yang satu begitu pengertian, tak memendam syak wasangka kepada muridnya sendiri, bahkan sampai memberi kepercayaan besar berupa kunci lemari dan kelas. Yang satu begitu pemarah (PMS, Buk?), kurang bijak, dan kurang adil.

Guru pertama membuat sang murid begitu terinspirasi hingga akhirnya menjadi penulis dan menerima banyak penghargaan sastra serta menjadi figur penting dalam dunia literatur anak di Korea Selatan. Guru kedua yaitu tokoh dalam cerita ini, membuat anak menjadi sangat depresi dan benci sekolah, serta memecah belah pertemanan anak-anak di kelas.

Mungkin kita semua pernah menyimpan satu-dua pengalaman traumatik bersama guru, sosok yang seharusnya bertanggung jawab atas tumbuh-kembangnya anak di sekolah. Trauma itu mungkin masih berpengaruh sampai sekarang. Kalau disuruh memilih pun, aku tak mau kembali ke masa-masa sekolah yang dulu. Takkan pernah mau.

Beruntung guru dalam kisah ini akhirnya menyadari kesalahannya dan dengan besar hati menawarkan resolusi kepada sang murid yang begitu sudah terlanjur babak belur hatinya. Karena pada kenyataannya, ada banyak guru-guru yang begitu bebal sehingga terus memilih untuk menjadi sosok serupa momok bagi para murid di sepanjang karier mengajarnya.

Mari kita doakan agar guru-guru semacam itu segera mendapat perawatan yang layak di rumah sakit jiwa.
Profile Image for Guguk.
1,343 reviews81 followers
May 16, 2016
Aku lumayan suka ini (⌒ω⌒) pas masih kecil 'kan ada perasaan kesal karena ga dimengerti oleh guru, atau juga karena dimarahi padahal ga salah...

Ini pengalaman waktu TK, pernah dimarahi karena merekatkan gambar anjing di tempat yang salah, juga karena gambar kandangnya ikut ditempel juga pintunya...//iniTKmacamapayaa ヽ(>∀<☆)ノ *TKguguk*

Rasanya waktu itu pingin marah tapi ga bisa, jadinya nangis... Ini pun makin dimarahin~

Kalo inget sekarang sih bisa ketawa, tapi dulu itu soal anjing dan kandang anjing kertas lipat itu bener-bener soal "hidup-mati"-nya anak TK V●ᴥ●V
Profile Image for R-Qie R-Qie.
Author 4 books9 followers
June 1, 2018
Berkisah tentang Gun Woo yang seringkali mendapat hukuman dari gurunya. Sang guru sama sekali tak pernah menerapkan hukuman fisik pada para murid yang dianggap berkelakuan tidak baik. Ia menggunakan Kartu Kuning yang diasumsikan sebagai Kartu Anak Nakal. Akan tetapi, hal itu rupanya menimbulkan perasaan buruk pada sang murid. Menggunakan sudut pandang Gun Woo yang polos dan merasa tidak pantas mendapat hukuman. Pergolakan batin Gun Woo dituturkan dengan sederhana khas anak-anak. Perasaan takut, benci, sekaligus ingin diakui, bergolak dalam batin Gun Woo. Ia merasa sang guru tidak tahu apa-apa tentang dirinya dan teman-teman yang mendapat Kartu Anak Nakal.



_ _ _



Sederhana namun begitu menampar jiwa. Orang dewasa seringkali tak bisa memahami anak-anak. Begitu mudah melabeli seorang anak sebagai anak nakal hanya karena terlampau aktif atau melakukan suatu kesalahan yang si anak sendiri tidak menyadarinya. Tak jarang kita juga tak menyadari bahwa anak-anak juga bisa terluka batinnya ketika merasa diperlakukan tidak adil. Bahkan sampai membekas hingga dia dewasa. Sang penulis sendiri mengalami hal yang berbanding terbalik dengan tokoh utama. Bertemu guru yang dikagumi dan menginspirasi hingga membuatnya amat berterima kasih atas pencapaian saat ini yang ia nilai tak lepas dari jasa guru tersebut. Empat dari lima bintang.

Profile Image for Lorelupin Acevedo (El Caldero Literario).
730 reviews25 followers
November 14, 2017
Les diré que este libro llegó a mis manos gracias a Nostra Ediciones y pues la verdad no se por que siempre me a dado algo de curiosidad por leer sobre autores ya sean Chinos, Japoneses o Coreanos en otro ámbito que no sea como tal los mangas y pues me anime a leer el libro y me encontré con una historia infantil muy bonita que se que a ustedes si lo leen les va a gustar.
El libro nos va a hablar de Geon un niño normal que va a la escuela, tiene amigos y que tiene problemas de un niño normal de 8 años, pero un día su maestra decide traer un nuevo método para que sus alumnos pongan atención en clases que son unas pegatinas amarillas que a Geon le van a traer varios problemas que va a odiarlas y termina haciendo algo con ellas que le va a traer consecuencias que no se espera.
Debo decir que es un libro muy bonito ya que nos presenta una linda historia con un gran mensaje, por eso me gustan los libros de los autores orientales, siempre es un gusto leerlos porque sus libros siempre traen una enseñanza incluida y nos es como en la mayoría que tu buscas que es lo que te dejo el libro y en este caso creo que Geon aprendió que no todo es lo que parece siempre y que a veces algo que tu piensas que es malo en el fondo no lo es porque te puede ayudar a ser mejor y hasta te puede enseñar muchas cosas, como dicen no siempre las cosas son lo que parece y lo malo no siempre tiene que ser malo.
La autora en este cuento nos plasma una historia simple pero muy original que como digo a los pequeñitos de la casa les va a dejar un muy bonito mensaje y que se que les va a gustar mucho, ya que con el con el complemento que son las ilustraciones el libro se vuelve aún más bonito y más atractivo para los niños y al ser una lectura corta, para nosotros los adultos es una muy bueno para cuando se tiene bloqueo lector ya que es de esos libros que se terminan en un día o si simplemente están buscando una lectura corta puede ser una buen opción.
Como les digo es un libro muy recomendado para todas las edades, ya que desde los más pequeños hasta los más grandes pueden leerlo y a parte de ver la bonita edición del libro se van a llevar una bonita historia y una buena enseñanza.
El libro tiene sus partes bonitas ya que hubo algunas que me gustaron como una en que Geon le pide algo a su papá y como se lo compra Geon le da un regalo de agradecimiento a su papá, ya que le bolea los zapatos del trabajo, creo que esa parte es muy bonita y me gusto ya que en esta parte se pudo ver otra faceta de la personalidad de nuestro protagonista que es Geon.
Una historia que si tienen la oportunidad de leer no se la pueden perder, es un libro muy recomendable para regalar o para que sea su próxima lectura.

Reseña completa en: http://calderoliterario7.blogspot.mx
Profile Image for Zulfy Rahendra.
284 reviews76 followers
November 16, 2017
Saya pernah kepikiran jadi guru TK. Keliatannya menyenangkan dan gampang. Ketemu anak-anak, kerjanya banyak gerak, pelajarannya ga terlalu susah. Saya udah kepikiran paling harus punya stok sabar yang luar biasa banyak, karena yah you know namanya anak-anak ya, kelakuannya macem-macem aja. Tapi saya kira udah, cuma itu.

Buku ini nunjukin kalo jadi guru TK itu amat sangat susah. Menghadapi anak-anak yang masih polos itu bukan cuma harus punya stok sabar yang banyak, tapi juga kemampuan berbaik sangka, bersikap adil, mau mendengarkan. Kelakuan yang macem-macem itu didasari sama banyak hal, berbagai macam alasan. Ngga ke orang dewasa, ngga ke anak-anak, kita (apa saya aja kali ya) terbiasa menghakimi. Menghakimi anak-anak buat saya terasa lebih jahat karena mereka masih polos, lugu. Dihakimi sepihak (apalagi sama orang dewasa) takutnya nanti ngaruh ke perkembangan mental sama karakternya. Tengoklah saya. Saya sampe sekarang masih minderan gara-gara dari kecil dibilang jelek sama tante-tante saya. Hahaha. Kalo ngejudge orang dewasa mah paling dijudge balik kan ya. Lalu twitwar. Masuk infotwitwor. Lalu beken. Tapi paling gampang emang suudzon sih. Terlalu cepat menghakimi, terlalu sedikit mendengarkan. Anak-anak berantem, yang nangis pasti dianggep korban. Anak ga ngedengerin, langsung dibilang bandel. Anak banyak tingkah dikit, dicap nakal. Si doi berhari-hari ngga ngabarin, dibilang ga peduli (LOH MALAH CURHAT, MBA). Dasar human~~

Suka banget bukunya!! Ceritanya bagus, eksekusinya keren, ilustrasinya cantik. Suka suka sukaaa!!!
Profile Image for LiLa.
317 reviews12 followers
March 2, 2016
Apa sich kriteria anak nakal itu? Suka membuat anak lain menangis? Datang terlambat ke kelas? Suka mengadu? Melalui buku ini kita diajak untuk bersikap lebih bijaksana dalam menghadapi anak-anak, entah murid, anak, adik, keponakan atau sepupu. Terkadang sikap orang dewasa justru jauh lebih nakal dibanding anak nakal. Tengok buku ini, Ibu Guru menghukum Chang Gi karena mengira anak itu mengobrol padahal dari penuturan tokoh utama, Chang Gi hanya menanyakan soal matematika. Ada baiknya sebelum menghukum atau mencap sesuatu, kita bertanya pada anak (mengapa, apa yang terjadi dan lainnya). Dalam sebuah perselisihan, anak yang menangis bukan berarti tidak bersalah.

Melalui buku ini, saya diajarkan prinsip reward and punishment dengan mempertimbangkan banyak aspek. Datang terlambat memang layak diberikan punishment tapi mendengarkan alasan di balik keterlambatan itu juga perlu sebagai bahan pertimbangan. Memiliki nilai akademik yang bagus memang perlu diberikan reward tapi sikap yang buruk (suka menganiaya, sombong dan sejenisnya) juga perlu dipertimbangkan. Kedua aspek baik dan buruk itu harus dilihat sebagai pertimbangan seberapa berat punishment atau seberapa besar reward yang layak diberikan.
Profile Image for Risa Nuraini.
56 reviews16 followers
November 10, 2016
Leafie.
Saya masih jatuh cinta pada novel karangan Hwang Sun-mi yang satu itu. Sehingga termasuk dalam kategori novel yang 'nyaman' saya baca berulang kali. Dan kini saya jatuh cinta lagi dengan karya Hwang Sun-mi. "Harusnya semua calon guru dan guru baca buku ini!" Kira-kira itu komentar teman ketika saya 'paksa' membaca buku tipis ini.

Buku ini bercerita tentang seorang guru yang menerapkan 'hukuman' terhadap anak yang melanggar peraturan seperti, terlambat, mengumpat, bertindak kasar, dan sejenisnya. Sudut pandang diambil dari seorang anak yang merasa tidak pantas mendapat kartu anak nakal dari gurunya. Hingga ia kemudian membuat kartu guru nakal yang ditulisnya di jurnal harian.

Profile Image for Itus Tacam.
61 reviews2 followers
November 8, 2017
serasa meloncat dan ditabik. guru ideal itu seperti apa? apakah selesai dengan memiliki kepintaran yang memadai? atau sekedar tersertifikasi saja?

~anak anak yang manis, janganlah menangis. kau dan aku kadang kesulitan menerjemahkan sesuatu, perilaku.

bila ada kartu anak nakal, itu terasa kental perasaan diblacklist dan pertanyaan pertanyaan seperti kenapa aku begitu dibenci? dan kenapa guru berhak menyangkal sanggahanku. dan berbagai kebetulan yang menyebabkan aku terpojok untuk diberikan sanksi, sebentuk ketidakadilan yang akan guru bayar kelak bila dendam sudah mengakar. Dan murid tidak susah membuat catatan kartu guru jahat di buku harian mereka.
Profile Image for Beatrice Deviana.
1 review
May 17, 2016
Hahaha saya punya bukunya suka banget ampe nyari google and that's why saya tau goodread ahaha... Ini buku bikin nangis, soalnya saya emg gk tega ngeliat temen suka ditusuh dan diperlakuin ga adil. Pertama kali baca pas kls 5 klo gak salah, buku smper ilang dan skrg udh kls 7 dan pas baca ulang g tau baper ahaha pas sy baca pertama kali sempet baper juga sih (bukan krn sy cengeng, tapi ini buku bener2 slh 1 yg tersedih n nyebelin wkwkwk dari semua buku yg pernah sy baca dan yg ceritanya sedih gimanaa gitu)
Profile Image for Amalia Jiandra.
6 reviews1 follower
February 25, 2018
Cerita yang menarik, gaya bahasanya polos seakan-akan menyelami perasaan anak-anak. Saya rasa ini bacaan yang wajib dibaca oleh pendidik
Profile Image for bakanekonomama.
573 reviews84 followers
July 20, 2019
Anak nakal itu sebenarnya anak yang seperti apa?

Apakah yang suka menjahili temannya? Apakah yang suka mengadu kepada ibu guru? Apakah yang suka membuat keributan? Apakah yang suka merusak? Apakah yang suka berkata kotor dan mengumpat? Ataukah yang suka berkelahi?

Menjawab pertanyaan-pertanyaan "apakah" di atas mungkin tidak terlalu sulit. Tapi jika kita ubah kata "apakah" menjadi "kenapa" jawabannya tentu menjadi lebih rumit.

Kenapa kamu suka menjahili temanmu? Kenapa kamu membuat keributan? Kenapa kamu merusak barang yang bukan milikmu? Kenapa kamu berkata kotor dan mengumpat? Kenapa kamu berkelahi?

Kartu anak nakal yang diberikan oleh ibu guru di kisah ini, hanya dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan pertama, tapi tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan kedua. Akibatnya, tokoh utama kita merasa diperlakukan tidak adil karena ibu guru menganggapnya sebagai anak nakal tanpa bertanya apa sebabnya.

Ibu guru tidak tahu kalau Lee Min Chul menjahili Lee Ji Yeon karena ia suka pada Ji Yeon. Ibu guru tidak tahu kalau Chan Gi bukannya mengobrol di kelas tapi hanya bertanya soal matematika. Ibu guru tidak tahu kalau Gun Woo, tokoh utama kita, tidak sengaja merusakkan pot bunga anggrek karena ada yang mendorongnya dari belakang. Ibu guru tidak adil karena hanya memberikan kartu kepada Min Chul padahal Ji Yeon yang memulai perkelahian. Ibu guru juga tidak memberi kartu kepada anak yang suka mengadu padahal menurut Gun Woo, mengadu juga sama buruknya dengan berbohong dan berkata kasar. Ibu guru hanya memberi kartu kepada perbuatan yang terlihat tapi tidak menanyakan apa sebabnya perbuatan itu sampai terjadi.

Tentu saja maksud ibu guru sebenarnya baik, yaitu supaya anak-anak yang berbuat nakal menyadari perbuatan buruknya dan memperbaikinya. Tapi dengan adanya kartu anak nakal (dan kartu anak baik juga), anak-anak yang dianggap nakal justru dijauhi oleh teman-teman sekelasnya. Anak-anak yang mendapat kartu anak baik hanya mau bermain dengan sesamanya sementara yang dapat kartu anak nakal, tidak mau bermain dengan yang mendapatkan kartu anak nakal juga karena tidak ingin dianggap lebih nakal lagi.

Jadi guru itu memang sulit, ya... Apalagi untuk anak-anak sekecil ini. Dulu pernah beberapa bulan mengajar anak-anak seusia Gun Woo dan meskipun sulit, tapi menyenangkan juga. Anak-anak itu sebenarnya vokal dalam menyampaikan perasaan mereka, hanya saja kita sebagai orang dewasa yang kurang sabar dalam mendengar mereka. Jika ketika kecil mereka tidak didengarkan, maka ketika dewasa mereka akan sulit menyampaikan perasaan dan mudah disalahpahami.

Untungnya cerita ini akhirnya lumayan oke. Meski saya kurang puas juga sih. Mestinya lebih gimana, gitu (apa coba?).... Untungnya lagi, ilustrasinya juga cakep dengan gaya cat air dengan warna-warna lembut yang menenangkan. Untungnya lagi juga, saya dapat buku ini dengan harga murah, hanya sepuluh ribu sahaja... 😀
Profile Image for Novella Dwisri.
213 reviews12 followers
February 5, 2023
Baca cerita ini cukup bikin saya iri karena sejak SD si ibu penulis di cerita pengantar berbagi cerita tentang kunci pertama ia bisa jadi penulis. Inspiratif. Beliau bisa mengakses bacaan beragam cerita dengan begitu mudahnya ga kayak perpus SD saya yang cuma sekali bisa dimasuki dan lebih banyak rasa enggan balik laginya saking ruangannya kecil bersatu jadi tempat para guru beristirahat siang ngopi2. Ah pengalaman perpustakaan luas menyenangkan saya justru terjadi saat SMP itu juga telat sadarnya baru mulai pinjam baca2 saat kelas 2 jadi aja ga bisa berambisi baca tamat semua buku di perpustakaan kayak Shinichi wkwk Terlalu banyak curcol ini tapi itulah pikiran saya yang bernostalgia soal buku dan perpustakaan.

Saya agak bingung di awal seolah tokoh utama dgn pov aku adalah seorang anak cewek yg kalah dalam pemungutan suara jadi ketua kelas tapi soal penerima kartu anak nakal yg merasa ga adil diperlakukan oleh ibu guru mereka ini adalah Lee Gun Woo yang keknya anak cowok kalo dilihat dari gambar animasi yang menyertai di sisi ceritanya.

Bagusnya tekad Gunwoo yang ga mau dapat kartu anak nakal lagi. Keren tugas bikin jurnal buat anak SD ada di kurikulum sekolah, ngiri pas zamanku sekolah dulu ga ada yg begitu kan bagus ya bikin jurnal itu berlatih menulis buat diri biar jadi pribadi yang konsisten rajin dll deh.. Jadi biar anak terbiasa terbuka dengan perasaan dan pikirannya karena menuangkannya dalam tulisan kesehariian di jurnal pribadinya sampe dewasa bisa dilakoni biar belajar kenali dan kendali diri gitu kan nilainya positif gitu buat jiwa manusia rasanya.. Marah itu suara ya. Menyuarakan keadilan saking emosinya jadi wujudnya keluar marah gitu..

Ikut emosi saat mengikuti kisah Gunwoo ini yg oleh ibu guru dan ibunya terkesan ga dimengerti. Gunwoo anak baik, ia ingin menampakkan dirinya sebaik mungkin. Tapi bener juga eh Gunwoo bisa kepikiran gitu padahal masih anak2 ya soal menjadi orang dewasa dan anak-anak itu sulit, tetapi kalo ada saling pengertian antar mereka mungkin akan lebih mudah.. Anak baik kan Gunwoo itu.. ia mengkhawatirkan kesulitan yg dialami ayahnya krn mengabulkan keinginannya..
Membenci sekaligus menyukai ya, Gunwoo~~ya~~

Selalu ada kali pertama. Selalu ada salah paham. Selalu ada lega.

Profile Image for Carlos Bexlier.
558 reviews45 followers
October 7, 2018
La historia nos habla de una escuela en donde un día a la maestra se le ocurre implementar una nueva manera de castigo y consiste en las pegatinas amarillas. La maestra otorga pegatinas amarillas a quien considera que que hizo algo indebido y en su defecto si hizo algo bueno le otorgará una pegatina verde con la que puede anular una pegatina amarilla. Lo peor de todo es que el niño que llegue a juntar tres pegatinas amarillas deberá quedarse en la escuela castigado hasta las cinco de la tarde. Nuestro protagonista se llama Geon-u y es un niño que por más que trata de portarse bien siempre le otorgan pegatinas amarillas, por lo cuál se molesta mucho con la maestra y decide poner en su cuaderno razones por las cuales la maestra debería recibir pegatinas amarillas. Así de esta manera Geon-u empieza a buscar la manera de liberarse de esa forma de castigo que le molesta tanto de su maestra.
El niño de la pegatina amarilla está considerado un libro para lectores medios, pero yo opino que puede ser un libro para cualquier edad. Geon-u nos muestra el amor que puede hacer que un padre haga todo por sus hijos y viceversa. También nos enseña que a veces los adultos creen que por el hecho de ser mayores tienen la razón e ignoran lo que un niño puede opinar. Este pequeñín de 100 páginas te divertirá, te encantará y disfrutarás la lectura junto a sus hermosos dibujos y su excelente trasfondo en Corea del Sur. Un libro que altamente recomiendo, que quedará en mi memoria y por supuesto te dejará una lección que nunca podrás olvidar.
Profile Image for Sakebushippo.
563 reviews96 followers
May 6, 2022
LEER RESEÑA COMPLETA EN MI BLOG: https://www.blogdivergente.com/2022/0...

Sun-mi Hwang nos transporta a la infancia y vivencias de un pequeño con El niño de la pegatina amarilla, publicada en su idioma original (coreano) en 1999 y más tarde, traducida y publicada por Nostra Ediciones en 2016.

Geon-u Lee es un pequeño intrépido, con muchas ganas de aprender y ser de los mejores en la clase. Es por ello que decide postularse para el puesto de representante del salón. Sin embargo, pese a sus intentos no es seleccionado.

Para sorpresa del pequeño, los niños que son elegidos imponen junto a la maestra una nueva mecánica para premiar a los niños bien portados y castigar a los agitadores del orden dentro del salón de clase: los que cumplen, son merecedores de una estrella verde y los que cometen errores, con una amarilla.

Pareciera que todo corre en su contra, pero el primero día de la nueva mecánica, Geon-u, es el primero en recibir una estrella amarilla por llegar tarde al salón de clases; toda una tragedia para él. Pronto el menor es juzgado por sus compañeros, quienes deciden mantener la distancia de él, para no correr con su suerte.

El salón se ve dividido en dos bandos: los que tienen estrella verde y los que tienen estrella amarilla. Los primeros son merecedores del favor de la maestra y los segundos son amonestados y mal vistos. Pronto Geon-u recibe más y más estrellas, y todo parece irle mal cada día.
Profile Image for Pham Tung.
401 reviews64 followers
December 23, 2023
Truyện khá hay và dễ thương nhưng mắc lỗi đáng thất vọng về dùng từ ngữ dung tục trong truyện thiếu nhi (giống như trong truyện Cô Gà Mái Xổng Chuồng của cùng tác giả).
Có vẻ tư duy về giáo dục của người Hàn khá hạn chế, và cả mấy người dịch giả Việt Nam nữa, mình không hiểu sao truyện thiếu nhi lại cứ lôi những từ như "thằng chó" vào, lẽ nào nó là một câu bình thường và không thể loại bỏ ra?Với mình thì nó là một câu văng tục khá thô tục và không nên để trẻ con thốt ra.
Profile Image for Ayudante.
29 reviews14 followers
July 23, 2018
Karena alih bahasanya terlalu setia pada bahasa asli, beberapa bagian kurang dapat dimengerti. Gagasan ceritanya sendiri bagus. Penulis menggunakan perspektif subjektif si anak nakal. Resolusi cerita di akhir juga keren, sayang karena masalah alih bahasa tadi, jadi kurang mengena. Ilustrasinya sedap!
Profile Image for Ruby Dalek.
68 reviews1 follower
July 14, 2021
Lâu lắm mới đọc sách dành cho thiếu nhi. Sách Nhã Nam xịn khỉ chê, chữ to rõ ràng, hình hình họa cũng cute nữa.
Nội dung phù hợp cho trẻ con, dù mình đọc cũng thấy hợp nữa.
Chỉ hơi băn khoăn về đoạn mở đầu tưởng liên quan đến câu chuyện phía sau mà hóa ra không phải.
Kết chuyện hơi mở đủ để bọn trẻ con đau đầu rồi.
Lâu lắm mới có hứng thú với truyện Hàn :3
Profile Image for Kate Readings.
208 reviews8 followers
February 16, 2022
Una historia que se siente muy real sobre las consecuencias del conductismo en clase, la fobia escolar y la ansiedad. Siendo docente me conmovió mucho el punto de vista de Geon-u Lee, pues he tenido y tengo alumnas y alumnos así. Sin duda, me da a reflexionar mucho sobre qué tanto apoyo a mis alumnos y alumnas a sentirse seguros en mi aula.
Profile Image for thao.
439 reviews21 followers
August 14, 2024
Tự dưng nhớ hồi xưa đi học cx có sticker hoa xanh hoa đỏ, cuối tuần tính điểm xếp hạng nữa chứ🥲 Cơ mà đứa quậy thì vẫn quậy:)))))
Displaying 1 - 21 of 21 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.