Salah satu buku yang bagus untuk dibaca jika ingin mengetahui lebih lanjut tentang citra perempuan di Hindia Belanda pada karya sastra kala itu (akhir abad 19 ke awal abad 20).
Hellwig memulai tulisannya dengan apik. Ia memaparkan secara jelas mengenai sejarah kedatangan Belanda dan dinamika sosial yang terjadi, termasuk adanya praktik pergundikan yang dilakukan oleh orang-orang Eropa totok terhadap perempuan-perempuan Indo dan pribumi. Dinamika sosial di Hindia Belanda kala itu tak pernah lepas dari isu rasial dan gender.
Karya sastra yang diteliti oleh Hellwig berasal dari dua kelompok penulis yang berbeda. Ada yang ditulis oleh laki-laki dan perempuan Eropa totok dalam bahasa Belanda, ada pula yang ditulis oleh laki-laki Tionghoa dalam bahasa Melayu.
Penjelasan dan analisis singkat Hellwig tentang berbagai karya sastra inilah yang merupakan sebuah pengetahuan baru bagi saya. Dalam banyak karya sastra yang beredar di Hindia Belanda kala itu, ternyata kebanyakan membicarakan tentang ‘Nyai’ dan dinamika ras dan gender yang ada di dalamnya. Umumnya, orang Eropa totok melihat para Indo sebagai ‘the Other’ dan pribumi sebagai ‘makhluk’ yang lebih asing lagi. Seringkali dalam karya yang ditulis dalam bahasa Belanda, Indo dan pribumi digambarkan sebagai orang-orang antagonis yang tak bisa berpikir dengan bijak.
Sebaliknya, dalam karya-karya berbahasa Melayu, orang Eropa totok lah yang menjadi antagonisnya. Meski seluruh karya berbahasa Melayu ditulis oleh orang Tionghoa, anehnya tak banyak disinggung tentang dinamika antara Tionghoa dan pribumi di karya-karya tersebut.
Dari analisis Hellwig, dari banyak karya sastra tersebut, menurutnya perempuan Eropa kala itu posisinya terjepit. Mereka bingung untuk menaruh rasa solidaritasnya. Kepada laki-laki Eropa, kah? Yang satu ras dengan mereka. Atau ke sesama perempuan? Meski mereka adalah pribumi dan ‘Nyai’ dari orang Eropa.
Overall, buku ini menarik meski tak begitu banyak kebaruan yang saya dapatkan.
Bab 1–6 menyajikan konteks, lalu bab 7 menyajikan kesimpulan perihal perempuan di Hindia Belanda. Buku ini tak hanya menyoroti perempuan pribumi, tetapi juga perempuan kulit putih. Inti yang disampaikan adalah perempuan kulit putih memiliki kedudukan yang lebih rendah daripada laki-laki kulit putih dan perempuan pribumi lebih rendah daripada perempuan kulit putih. Di samping itu, buku ini memberikan gambaran kehidupan dan budaya pada masa kedudukan Belanda di Hindia Belanda dengan cukup jelas. Selain menyajikannya dari realitas sosial, buku ini membedah karya sastra pada masa itu yang memberikan ilustrasi lebih lengkap.
Buku tentang kajian citra perempuan di zaman Hindia Belanda. Ada dua kesimpulan ketidaksetaraan yang dipaparkan Tineke Hellwig, yaitu ketidaksetaraan yang menimpa perempuan Inlander ataupun perempuan Indo, serta ketidaksetaraan gender yang menimpa perempuan kulit putih (bangsa Belanda asli).
Di buku ini terpaparkan cerita tentang pergundikkan, atau bahasa sekarang dikenal pelacuran dan prostitusi adalah sebuah kelumrahan pada zaman Belanda. Lumrah dalam artian Nyai adalah perempuan pribumi kelas dua yang dipergunakan hanya sebagai pemuas kebutuhan hasrat seksual laki-laki Belanda. Uniknya, hampir pada semua karya sastra Belanda dan Melayu, baik ditulis oleh penulis Belanda ataupun penulis Tionghoa sama-sama selalu menjadikan masalah 'Nyai' sebagai salah satu tokoh dalam relasi sebab-akibat.