Tafsir Al-Mishbah merupakan tafsir Al-Quran lengkap 30 juz pertama dalam 30 tahun terakhir, yang ditulis oleh ahli tafsir terkemuka Indonesia : Prof. Dr. M. Quraish Shihab. Ke-Indonesiaan penulis memberi warna yang menarik dan khas serta sangat relevan untuk memperkaya khasanah pemahaman dan penghayatan kita terhadap rahasia makna ayat-ayat Allah. Volume I QS. Al Fathihah & QS. Al Baqarah.
Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, MA adalah seorang cendekiawan muslim dalam ilmu-ilmu Al Qur’an dan mantan Menteri Agama pada Kabinet Pembangunan VII(1998).
Ia dilahirkan di Rappang, pada tanggal 16 Februari 1944. Orangtua Quraish Shihab adalah Bapak Abdurrahman Shihab dan Ibu Asma Aburisyi. Quraish adalah putra ke-empat dari 12 bersaudara. Tiga kakaknya, Nur, Ali dan Umar serta dua adiknya, Wardah dan Alwi Shihab, juga lahir di Rappang. Tujuh adik lainnya yaitu Nina, Sida Nizar, Abdul Mutalib, Salwa dan adik kembar Ulfa dan Latifah, lahir di Kampung Buton.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di Ujung Pandang, ia melanjutkan pendidikan tingkat menengah di Malang, yang ia lakukan sambil menyantri di Pondok Pesantren Darul-Hadits Al-Faqihiyyah.
Pada tahun 1958 Ia berangkat ke Kairo, Mesir, dan diterima di kelas II Tsanawiyah Al-Azhar. Tahun 1967, dia meraih gelar Lc (S-1) pada fakultas Ushuluddin jurusan Tafsir dan Hadits Universitas Al Azhar. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di fakultas yang sama dan pada tahun 1969 meraih gelar MA untuk spesialisasi bidang Tafsir Al Qur’an dengan tesis berjudul Al-I’jaz Al-Tasyri’i li Al-Qur’an Al-Karim.
Sekembalinya ke Ujung Pandang, Quraish Shihab dipercaya untuk menjabat Wakil Rektor bidang Akademis dan Kemahasiswaan pada IAIN Alauddin, Ujung Pandang. Selain itu, Ia juga diserahi jabatan-jabatan lain, baik di dalam lingkungan kampus seperti Koordinator Perguruan Tinggi Swasta Wilayah VII Indonesia Bagian Timur, maupun di luar kampus seperti Pembantu Pimpinan Kepolisian Indonesia Timur dalam bidang pembinaan mental. Selama di Ujung Pandang, Ia juga sempat melakukan beberapa penelitian; antara lain, penelitian dengan tema “Penerapan Kerukunan Hidup Beragama di Indonesia Timur” (1975) dan “Masalah Wakaf Sulawesi Selatan” (1978).
Quraish Shihab menikah dengan Fatmawaty Assegaf pada 2 Februari 1975 di Solo. Mereka dikaruniai lima orang anak, Najelaa, Najwa, Nasywa, Ahmad dan Nahla. Najelaa menikah dengan Ahmad Fikri Assegaf dan memiliki tiga anak, Fathi, Nishrin dan Nihlah. Putri kedua, Najwa Shihab menikah dengan Ibrahim Syarief Assegaf dan memiliki dua orang anak, Izzat dan almarhumah Namiya. Putri ke tiga Nasywa, menikah dengan Muhammad Riza Alaydrus, dan memiliki dua orang putri, Naziha dan Nuha. Ahmad Shihab, satu-satunya anak laki-laki dari Quraish Shihab, menikah dengan Sidah Al Hadad.
Tahun 1980 , Quraish Shihab kembali ke Kairo dan melanjutkan pendidikan di almamater lamanya. Tahun 1982 Ia meraih doktornya dalam bidang ilmu-ilmu Al Qur’an dengan disertasi yang berjudul Nazhm Al-Durar li Al-Biqa’iy, Tahqiq wa Dirasah, Ia lulus dengan yudisium Summa Cum Laude disertai penghargaan tingkat I (mumtaz ma`a martabat al-syaraf al-’ula).
Sekembalinya ke Indonesia, sejak 1984 Quraish Shihab ditugaskan di Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Selain itu, di luar kampus, Ia juga dipercayakan untuk menduduki berbagai jabatan. Antara lain: Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat (sejak 1984); Anggota Lajnah Pentashbih Al Qur’an Departemen Agama (sejak 1989); Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (sejak 1989).
Quraish Shihab juga banyak terlibat dalam beberapa organisasi profesional; antara lain: Pengurus Perhimpunan Ilmu-Ilmu Syari`ah; Pengurus Konsorsium Ilmu-Ilmu Agama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan; dan Asisten Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).
Saat ini, Quraish Shihab aktif menulis artikel, buku dan karya-karyanya diterbitkan oleh Penerbit Lentera Hati. Salah satu karanya yang terkenal adalah Tafsir al-Mishbah, yaitu tafsir lengkap yang terdiri dari 15 volume dan telah diterbitkan sejak 2003.
Selain sebagai penulis, sehari-hari Quraish Shihab memimpin Pusat Studi al-Qur’an, lembaga non profit yang bertujuan untuk membumikan al-Qur’an kepada masyarakat yang pluralistik dan menciptakan kader mufasir (ahli tafsir) al-Qur’an yang profesional.
Saya baru saja memulai membaca tafsir ini. Kini bacaan saya baru sampai pada pembahasan kenapa di ayat pertama Al-Quran, yakni kalimat basmallah, tidak menggunakan huruf alif. Alasannya sederhana, karena kalimat ini akan sering diucap dan ditulis..
Tafsir Al-Misbah buku yang sangat saya rekomendasikan. Saya, yang seorang awam bisa mengerti dengan jelas setiap pembelajaran di dalamnya. Pemilihan kata dan penyusunan kalimat sangat mudah dipahami. Satu poin plus lagi, Pak Quraish tak jarang menggunakan perumpamaan-perumpamaan yang tentu saja memudahkan saya untuk semakin paham.
Setiap harinya mungkin saya hanya bisa membaca 2-3 paragraf dari buku ini. Insya Allah dengan begitu saya tidak akan mudah lupa dengan apa yang baru saya baca. Insya Allah :)
Quraish Shihab adalah seorang ilmuwan. Ia tau benar bagaimana berkarya dengan media kitab suci ini. Membaca Al-qur'an bagi orang-orang non-arab khususnya di Indonesia sangat riskan. Riskan dengan tidak adanya kepahaman mendalam pada ayat-ayatnya atau tersesatkan oleh tafsiran-tafsiran dangkal yang diragukan autorisasinya. Dalam tafsir al-misbah, saya memahami ayat-ayat al-quran seperti saya memahami buku-buku ilmu pengetahuan. Tidak lagi hanya sebagai kitab suci suatu agama. Keharmonisan antara spiritualitas dan logika menari dalam jiwa saya. Tidak sabar untuk melahap volume 2 berikutnya.
Al Baqoroh adalah tragedi sapi. Mengapa bila perintah datang tak cukup hanya arif, melainkan tanya yang tidak perlu? Setelah semuanya terjadi dan tercatat, barulah kita tahu, bahwa ada tempat yang tidak perlu untuk tanya.
Begitulah Al Baqoroh salah satu topik yang dibicarakannya, tentang tragedi sapi yang berawal dari tanya salah tempat.
Selebihnya...silakan baca, saya masih jauh dari ilmu untuk bisa menafsir.
Sebagai pakar dalam bahasa, Prof. Quraish Shihab tampak sangat konsen terhadap permasalahan bahasa al-Quran. mengupas perkalimat dengan ragam tafsir dari ulama baheula hingga kontemporer.
satu hal yang membuat tafsir ini menarik dan tiada duanya, adalah kandungannya yang begitu mengalir dan berbobot sekali. tidak malu untuk merangkum apa yang telah dijelaskan oleh ulama lainnya, lalu menyelipkan pendapat pribadi. dan buuuum, .. jadilah kitab tafsir yang penuh warna.
Dengan hanya membaca tafsir al-Mishbah ini, kita akan dapati didalamnya tafsir ulama-ulama dahulu, tafsir Maqashid syariah, tafsir filsapat (yang menggunakan pendekatan filosopis), tafsir ar-Razi, tafsir Ibn Katsir, Tafsir kontemporer seperti tafsir al-Manar-nya Rasyid Ridha, muridnya Muhammad Abduh, yang bagi sebagian kalangan menganggap tafsir mereka berbau liberal, hingga tafsir syiah pun menghiasi buku ini (tafsir al-Mizan, Husein Thabathabai). tapi yang menjadi keunikannya, adalah bahwa semuanya bernuansa ilmu.
Buku ini selain membahas keagungan surah Al Fatiha, juga berisi makna keseluruhan Al Baqarah. Mulai dari kisah Nabi Adam, Musa dan Ibrahim. Tuntunan kriteria pasangan hidup, hubungan suami istri, rejeki, perkawinan dan perceraian, berhaji, adab berperang, pencatatan hutang piutang dan riba, dijabarkan dengan sangat detail.
Sejarah yang menyertai atau menjadi sebab turunnya suatu ayat, juga menjadi ilmu yang tidak ternilai dalam memahami petunjuk ayat tersebut.
Misalnya, Maqam adalah tempat berdiri. Maqam Ibrahim adalah batu tempat berdiri beliau sewaktu membangun Ka'bah, dulunya diletakkan berdempet dengan Ka'bah, sebelum Umar ra memindahkan maqam tersebut ketempatnya yang sekarang.
Dahulu, kaum muslim enggan shalat di belakang batu tersebut, karena mereka tidak ingin ada sesuatu yang menghalangi/membatasi mereka dengan Ka'bah. Keengganan itu menjadikan arah dimana maqam Ibrahim sering tidak digunakan shalat. Untuk itu, Umar ra mengusulkan kepada Rasul agar arah dimana maqam itu berada dibenarkan pula menjadi tempat shalat. Usul Umar diperkenankan Allah, maka turunlah perintah menjadikan maqam Ibrahim sebagai tempat shalat (Al Baqarah: 125), dan bahkan tempat itu kini menjadi 'rebutan' pengunjung Ka'bah. Batu tempat berpijak nabi besar itu, sekarang diletakkan dalam sebuah bejana kaca
wedew....1 juz tafsirnya 1 buku tebal banget. Bisa nambah minus nih mataku! hihihi...tapi sangat senang bacanya,penjelasannya sangat detail dan menggunakan bahasa yang sangat mudah dimengerti,lain dengan tafsir al azhar punya buya hamka,bahasanya agak susah dicerna. Yang pasti membukukan tafsir Al Qur'an membutuhkan expertise tersendiri yang tidak setiap orang mampu melakukannya. Kita tinggal baca dan mencerna..huaah..sungguh pengalaman membaca yang memperkaya jiwa. Highly recommended...cuman saya ngga tahu kapan rampungnya membaca tafsir hingga 30 juz..bukunya banyak dan tebal-tebal...Bismillah,niat ingsun menyelesaikan buku tafsir hadiah bojoku ini...hihihi....
Tafsir Al Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran, adalah sebuah kitab tafsir yang ditulis oleh M. Quraish Shihab, seorang ulama dan cendekiawan Muslim terkemuka di Indonesia. Kitab ini terdiri dari 15 volume, di mana setiap volumenya membahas beberapa surah secara jelas dan terperinci.
Kitab ini menawarkan pendekatan baru dalam tafsir Al-Quran yang mencoba untuk memahami pesan-pesan dan makna-makna Al-Quran secara holistik dan kontekstual. Beliau menekankan bahwa Al-Quran harus dipahami dalam kerangka keseluruhan, dan tidak bisa dipahami secara terpisah-pisah. Beliau juga menyoroti pentingnya memahami latar belakang sejarah dan budaya pada saat Al-Quran diturunkan untuk memahami makna ayat-ayat tertentu.
Salah satu point penting dari kitab ini adalah beliau menekankan bahwa Al-Quran bukan hanya sebuah kitab suci, tetapi juga sebuah petunjuk untuk kehidupan manusia. Beliau menunjukkan bagaimana Al-Quran dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, dan bagaimana ayat-ayat tertentu dapat memberikan petunjuk tentang bagaimana kita mesti berperilaku dan bertindak di dunia.
Selain itu, beliau juga menyoroti pentingnya memahami konteks sosial dan sejarah pada saat ayat-ayat tertentu diturunkan, dan menunjukkan bagaimana pemahaman konteks tersebut dapat membantu kita memahami makna ayat-ayat tersebut secara lebih baik. Beliau menekankan pentingnya memahami bahasa Arab dan cara penggunaan bahasa dalam Al-Quran, sehingga membantu pembaca untuk memahami arti dan makna dari ayat-ayat tersebut.
Beliau menyampaikan uraiannya dengan gaya yang lugas, jelas, dan mudah dipahami. Meskipun bahasa yang digunakan cenderung formal, tetapi tidak terlalu kaku sehingga memudahkan pembaca untuk memahami setiap makna yang terkandung dalam tiap-tiap ayatnya. Beliau menggunakan istilah-istilah teknis dan bahasa Arab yang diperlukan dalam konteks tafsir Al-Quran, namun juga memberikan penjelasan untuk memudahkan pembaca yang tidak terbiasa dengan istilah-istilah tersebut.
Dan yang terakhir, narasi dan penyampaian yang beliau sajikan dalam kitab ini cenderung menyegarkan, sehingga kitab ini tidak terasa kering dan membosankan. Beliau menggunakan contoh-contoh dari kehidupan sehari-hari dan memberikan ilustrasi yang relevan untuk membantu pembaca dalam memahami konsep-konsep yang kompleks dalam Al-Quran.
Secara keseluruhan, "Tafsir Al Misbah" adalah sebuah kitab tafsir Al-Quran yang menarik untuk dibaca bagi siapa saja yang ingin memperdalam pemahaman mereka tentang Al-Quran. Pendekatan holistik dan kontekstual yang digunakan oleh beliau dapat membantu pembaca untuk memahami pesan-pesan dan makna-makna Al-Quran secara lebih mendalam dan aplikatif.
Membaca buku ini memang membutuhkan ketekunan dan kesabaran yang luarbiasa. Sudah hampir 7 atau 8 bulan saya membacanya baru sampai pada kisah Ibrahim dan Ismail yang meninggikan Baitullah. Buku ini sangat saya rekomendasikan bagi yang ingin mengenal dan mendalami tafsir Al Qur'an, Walau Abah Quraish Shihab sendiri dalam pengantarnya mengatakan ini tafsir Al Mishbah, seperti enggan untuk menuliskan tafsir Al Qur'an. Mungkin beliau sangat berhati-hati.
Sangat mengagumkan! Baca Al Qur'an dan artinya saja memang tidak cukup. Harus paham makna dibalik artinya itu. Terimakasih Prof. Sangat membantu untuk bisa memahami lebih dalam tentang ayat2 di Al-Qur'an.