Jump to ratings and reviews
Rate this book

Seri Buku TEMPO: Tokoh Militer

Bung Tomo: Soerabaja di Tahun 45

Rate this book
Sutomo atau Bung Tomo ialah tokoh "pemberontak" termasyhur. Pidato-pidatonya--yang dibuka dan ditutup dengan lagu Tiger Shark karya Peter Hodgkinson asal Inggris--selalu meneriakkan "Allahu Akbar". Sosoknya terekam kuat dalam potret diri yang mengacungkan telunjuk dengan tatapan mata tajam.

Lewat Radio Pemberontakan, suara Bung Tomo berapi-api membakar semangat pejuang Republik Indonesia terhadap tentara Sekutu. Kehadirannya jadi simbol perlawanan dalam pertempuran 10 November 1945. Hingga kini, namanya selalu dikaitkan dengan Hari Pahlawan.

Bibit kepemimpinan Bung Tomo disemai dari keaktifannya dalam organisasi Indonesia Muda dan Kepanduan Bangsa Indonesia. Pada masa penjajahan Jepang, dia menjadi wartawan kantor berita Domei. Sutomo kerap mengkritik Orde Baru, terutama soal korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Selepas masa perjuangan, peran politiknya meredup. Namun, dia masih membela kepentingan buruh dan pedagang kecil yang terancam hak-haknya di pengadilan. Naik haji dengan menggadaikan lukisan, perjalanan hidup Bung Tomo berakhir di Arafah.

160 pages, Paperback

First published January 18, 2016

27 people are currently reading
264 people want to read

About the author

Tim Buku TEMPO

44 books95 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
19 (29%)
4 stars
23 (35%)
3 stars
11 (17%)
2 stars
7 (10%)
1 star
4 (6%)
Displaying 1 - 7 of 7 reviews
Profile Image for Amalia Chairida.
43 reviews1 follower
July 9, 2021
Buku ini adalah salah satu wishlist saya yang akhirnya terwujud (Dream comes true :D)

Honestly, lewat buku ini saya baru tahu kalau foto fenomenal Bung Tomo yang selama ini beredar di buku-buku pelajaran dan banyak lini massa yang mengingatkan kita akan pertempuran 10 November 1945 di Surabaya masih diperdebatkan keautentikan lokasinya.

Buku ini penuh. Mulai dari kisah kepatriotan, kisah cinta bersama sang istri, dan alur "naik-turun" kehidupan Bung Tomo diperlihatkan di buku ini.

Dari buku ini juga saya menangkap sosok Bung Tomo yang bukan hanya berperan penting dalam mengobarkan semangat juang rakyat tapi juga sosok yang berprinsip. Beliau tidak tahan terhadap segala macam bentuk pendindasan terhadap rakyat. Beliau juga merupakan sosok yang religius.
"Menurut William H. Frederick, Bung Tomo penganut Islam yang taat tapi tidak fanatik. 'Bung Tomo tak menganggap diri sebagai agamawan,' ujarnya."
(hal. 45)

Satu hal yang saya tangkap dari buku ini adalah penafsiran sejarah yang diambil dari berbagai aspek. Saya makin belajar bahwa sejatinya sejarah bukan perkara benar dan salah. Sejarah merupakan peristiwa masa lalu yang bisa kita gunakan untuk merancang masa depan. Entah itu benar atau salah, entah itu menang atau kalah, akan terus menjadi pembelajaran bagi generasi selanjutnya demi menciptakan peradaban yang lebih baik. Dan... sepertinya tanggung jawab itu milik kita sekarang :")

salah satu kutipan favorit saya :
"Penghormatan bukan berarti pengkultusan dan menerima sisi lain dari sosok pahlawan berarti mengembalikan mereka pada kesejatiannya sebagai manusia biasa."
(hal. 159)
Profile Image for Delian Satria.
23 reviews5 followers
August 9, 2017
"Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih, maka selama itu, tidak akan kita mau menyerah kepada siapapun juga...
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar!"
(Hlm 10)

Bung tomo bukan tokoh pergerakan kemerdekaan, bukan pula ideolog. Namun hampir seluruh rakyat Indonesia melekatkan sosok beliau dengan pertempuran 10 November 1945.

Bung tomo berjuang di jalur agitasi dan propaganda. Pidatonya sukses merayu pemuda dan santri dari berbagai pelosok pulau jawa agar berjibaku di medan laga surabaya. dia juga berperan dalam pelucutan senjata jepang, lalu mengirimkan sebagian senjata itu ke jakarta.

Bung tomo juga mendirikan Barisan pemberontakan rakyat indonesia pada Oktober 1945.
Bung tomo juga diangkat menjadi TNI dengan pangkat jendral mayor AD (Setara dengan brigadir jendral, karna saat itu TNI masih menganut sistem kepangkatan belanda). namun bung tomo hanya 3 bulan menjadi jendral, karena menolak tunduk pada perdana mentri Amir sjarifuddin. karena bung tomo suka berpidato di radio yang bertema waspada belanda. pidato tersebut rupanya mengusik amir sjarifuddin, lantas mengancam bung tomo dengan memberi pilihan tetap duduk di dalam pimpinan TNI atau tetap berpidata di radio. setelah berpikir sejenak, bung tomo memilih mundur dari TNI.

Semasa Orde Baru, bung tomo kerap mengkritik pemimpin rezim tersebut. terutama soal korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. hal tersebut membuat ia di jebloskan ke penjara nirbaya.

Perjalanan hidup bung tomo berakhir di padang arafah, setelah dia pergi haji dengan menggadaikan lukisan.
Profile Image for Yogi Saputro.
143 reviews7 followers
October 13, 2017
Buku ini sederhana, padat, dan mumpuni dalam menguak lebih dalam kisah Bung Tomo. Di sini beliau tergambar seperti pahlawan Indonesia pada umumnya: dikenang karena satu hal luar biasa, lalu terseok-seok menghadapi zaman berikutnya.

Banyak dari rakyat Indonesia mengingat kiprah Bung Tomo dari fotonya yang ikonik. Lewat foto itulah dia senantiasa abadi sebagai pengobar semangat. Sayangnya sungguh miris saya membaca kisah hidup beliau selanjutnya. Gagal bisnis, diusir dari panggung politik zaman Orde Lama, dipenjara oleh rezim Orde Baru. Beruntung sekali beliau bisa meninggal di Arafah. Akhir yang mulia bagi muslim sekaligus pahlawan.

Bung Tomo adalah lambang keberanian berkata dan bertindak. Watak yang jarang ditemui pada tokoh masa kini. Respek. Kemudian untuk buku ini, saya rasa jadi pengisi waktu yang cukup menyenangkan.
Profile Image for Yunita.
34 reviews1 follower
January 14, 2018
Dari beliau, saya belajar. Ambil satu organisasi kepemudaan utk membentuk karakter awal mjd pemimpin & motivator. Bung mmulai aktivitas kepemudaan pd usia 12. Melalui byk latihan, mengikuti alur kenaikan tingkat, mmnuhi syrt kecakapan, semua memicu Bung memlki ketrampilan yg sgt beragam.
Selain itu, saya menemukan the real nya "pemuda" dlm diri beliau. Sejak zaman sblm kemerdekaan-Soekarno-Soeharto hingga wafatnya.
Displaying 1 - 7 of 7 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.