Jump to ratings and reviews
Rate this book

Conversations with Claude Lévi-Strauss

Rate this book
At the age of eighty, one of the most influential yet reclusive intellectuals of the twentieth century consented to his first interviews in nearly thirty years. Hailed by Le Figaro as "an event," the resulting conversations between Claude Lévi-Strauss and Didier Eribon (a correspondent for Le Nouvel Observateur ) reveal the great anthropologist speaking of his life and work with ease and humor.

Now available in English, the conversations are rich in Lévi-Strauss's candid appraisals of some of the best-known figures of the Parisian intelligentsia: surrealists André Breton and Max Ernst, with whom Lévi-Strauss shared a bohemian life in 1940s Manhattan; de Beauvoir, Sartre, and Camus, the stars of existentialism; Leiris, Foucault, Dumézil, Jacob, Lacan, and others. His long friendships with Jakobson and Merleau-Ponty are recalled, as well as his encounters with prominent figures in American anthropology: Lowie, Boas (who suddenly died in his chair beside Lévi-Strauss at a banquet at Columbia University), Benedict, Linton, Mead, and Kroeber.

Lévi-Strauss speaks frankly about how circumstances and his own inclinations, after his early fieldwork in Brazil, led him to embrace theoretical work. His straightforward answers to Eribon's penetrating questions—What is a myth? What is structuralism? Are you a philosopher?—clarify his intellectual motives and the development of his research; his influential role as an administrator, including the founding of the Laboratory of Social Anthropology and of the journal L'Homme ; the course of his writings, from Elementary Structures of Kinship to The Jealous Potter ; and his thoughts on the conduct of anthropology today. 

Never before has Lévi-Strauss spoken so freely on so many aspects of his life: his initial failure to be elected to the Collège de France; his reaction to the events of May 1968; his regrets at not being a great investigative reporter or playwright; his deep identification with Wagner, Proust, and Rousseau. This is a rare opportunity to become acquainted with a great thinker in all his dimensions.

192 pages, Hardcover

First published January 1, 1961

6 people are currently reading
366 people want to read

About the author

Claude Lévi-Strauss

230 books880 followers
Claude Lévi-Strauss was a French anthropologist, well-known for his development of structural anthropology. He was born in Belgium to French parents who were living in Brussels at the time, but he grew up in Paris. His father was an artist, and a member of an intellectual French Jewish family. Lévi-Strauss studied at the University of Paris. From 1935-9 he was Professor at the University of Sao Paulo making several expeditions to central Brazil. Between 1942-1945 he was Professor at the New School for Social Research. In 1950 he became Director of Studies at the Ecole Practique des Hautes Etudes. In 1959 Lévi-Strauss assumed the Chair of Social Anthroplogy at the College de France. His books include The Raw and the Cooked, The Savage Mind, Structural Anthropology and Totemism (Encyclopedia of World Biography).

Some of the reasons for his popularity are in his rejection of history and humanism, in his refusal to see Western civilization as privileged and unique, in his emphasis on form over content and in his insistence that the savage mind is equal to the civilized mind.

Lévi-Strauss did many things in his life including studying Law and Philosophy. He also did considerable reading among literary masterpieces, and was deeply immersed in classical and contemporary music.

Lévi-Strauss was awarded the Wenner-Gren Foundation's Viking Fund Medal for 1966 and the Erasmus Prize in 1975. He was also awarded four honorary degrees from Oxford, Yale, Havard and Columbia. Strauss held several memberships in institutions including the National Academy of Sciences, the American Academy and Institute of Arts and Letters, the American Academy of Arts and Sciences, and the American Philosophical Society (Encyclopedia of World Biography).

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
27 (28%)
4 stars
30 (31%)
3 stars
34 (35%)
2 stars
3 (3%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for Haries.
29 reviews
April 23, 2014
Bagaikan juru kamera yg percaya diri, Claude Levi-Strauss senang memilih sudut pengelihatan yg tak lazim. Ketika sejawatnya melihat budaya dengan sudut pandang yg biasa, Levi Strauss memandang perkembangan budaya melalui lensa makanan. Cara memandang itu ia tuangkan dalam esainya yg terbit pada pertengahan 1960-an, "Le Triangle Culinaire" ("THe Culinary Triangle").
Dalam esai itu, ia mencontohkan bagaimana orang-orang suku Amazon membedakan antara memanggang dan merebus. "Merebus menyediakan sarana konservasi yg utuh atas daging dan cairannya, sedangkan memanggang di ikuti oleh kerusakan dan kehilangan," tulisnya "Jadi yang satu menunjukan ekonomi, yg lain pemborosan; yg terakhir aritokratis yg terdahulu udik."
Cara pandang yg berbeda itu pula yg membuat nama Levi-Strauss menjulang. Tatkala para ahli memandang suku-suku primitif sebagai kelompok manusia yg aneh, Levi-Strauss menunjukkan bahwa mereka memiliki budaya yg tak kalah canggih di bandingkan kelompok manusia modern.Ia menunjukkan betapa pemikiran-pemikiran primitif sesungguhnya kompleks dan memiliki pola tertentu.
Publikasi Levi-Strauss sekembalinya dari Amerika ke Perancis yakni La Vie Familiale et sociale des Indiens Nambikwara (1948), dan Les Structures El mentaires de la parent (1949), memperlihatkan kekuatannya itu. Bersebarangan dengan Antropolog "fungsionalis" yg berpendapat bahwa sistem -sistem kekerabatan adalah respons terhadap pola-pola organisasi sosial yg berbeda-beda, Levi-Strauss mengatakan bahwa sistem-sistem kekerabatan mencerminkan prinsip-prinsip yg mendasari pikiran manusia.
Ia menunjukkan, salah satu prinsip dasarnya ialah keengganan di bawah sadar-dan karena itu fundamental--untuk inses (tabu inses) yg satu mata rantai dengan sistem pertukaran dan pemberian-hadiah yg berlangsung berabad-abad. Ini merupakan gesture simbolis yg meliputi keseluruhan jaringan hubungan yg menjadi basis masyarakat manusia.
Penafsirannya atas mitos-mitos Amerika Utara dan Selatan begitu menantang pemikiran Barat mengenai apa yg disebut masyarakat primitif. Ia mulai menantang kearifan konvensional mengenai hal itu tidak lama setelah ia memulai riset antropologisnya pada 1930-an--pengalaman yg menjadi basis bagi bukunya yg terbit pada 1955, Tristes Tropique. Pandangan yg diterima bahwa masyarakat primitif secara intelektual unimaginative dan secara temperamental irasional, berdasarkan pendekatan mereka terhadap kehidupan dan agama dan pemenuhan atas kebutuhan makanan, pakaian,dan hunian.
Levi-Strauss menyelamatkan subyeknya dari perspektif yg terbatas ini. Dimulai dengan suku Caduveo dan Bororo ia kemudia mempelajari suku Nambikwara dan Kawahib di kawasan Mato Grosso, Brazil. Disinilah ia melakukan kerja lapangannya yg pertama dan utama, dan menemukan bahwa mereka bukan hanya memuaskan kebutuhan material semata, tapi juga memahami logika canggih mitos dan memiliki kepekaan akan keteraturan dan desain.
Tristes dan Tropique (World on the Wane) dipuji oleh Antropolog Amerika, Clifford Geertz, sebagai "salah satu buku paling bagus yg pernah ditulis oleh seorang Antropolog." Perbedaan antara masyarakata "beradab" dan masyarakat "primitif," menurut Levi-Strauss hanya sedikit. Lantaran itulah, antropolog ini lebih suka menyebut yg terakhir itu sebagai "masyarakat tanpa tulisan."
Levi Strauss menulis Tristes tanpa beban. "Saya menulis tanpa beban ilmiah, tanpa cemas apakah hasilnya terdengar ilimiah. Dan, hasilnya adalah sejenis fantasi liar," ujarnya."Saya menulis sangat bebas mengenai apapun yg melintas di kepala saya." Dalam bukunya, yg dianggapa sebagai hasil meditasi Antropologis ini, Levi Strauss merumuskan perbedaan antara nature dan culture berdasarkan bahasa dan kemampuan unik manusia dalam melihat suatu obyek, bukan semata-mata sebagai obyek itu sendiri, melainkan sebagai simbol.
Betapapun primitifnya suatu suku, menurut Antropolog kelahiran Brussels, Belgia, 28 November 1908 ini mereka mimiliki kemampuan simbolisasi--suatu karakteristik yg dimiliki bersama oleh seluruh manusia. Lantaran itulah, alih-alih mencari perbedaan antara satu budasya dan budaya lain, Levi-Strauss justru mencari apa yg ia sebut uncoscious similiratiess dalam pikiran manusia. Ia berusaha menunjukkan adanya hukum berpikir mistis sebagaimana ditemukan ilmu-ilmu alamiah.
Philipe Descola, ketua Antropologi di College de France, mengatakan kepada NewYork Times bahwa Levi-Strauss adalah "Salah seorang hebat pahlawan intelektual terhebat di abad ke-20. Ia memberikan obyek yg tepat kepada Antropologi: bukan sekedar studi mengenai watak manusia, tetapi suatu studi tentang bagaimana praktek-praktek budaya bervariasi, bagaimana perbedaan kultural diorganisasi secara sistematis."
Dengan cara pandangnya yg tak lazim, interpretasinya terhadap fakta menjadi orisinal, puitis dalam asosiasinya. Ia dianggap mampu menerangi cahaya baru atas fakta-fakta yg sudah ada, sekalipun kesimpulannya kadang-kadang dianggap meragukan. Kapasitasnya untuk menciptakan sejenis intellectual jigsaw yg kompleks tak pernah diragukan, namun sebagian menganggap ia tidak selalu menjelaskan apa relasi antara hipotesisnya dengan realitas.
Antropolog berayah seorang pelukis dan berbuyut komposer Isaac Strauss ini mengakui keterbatasan metodenya. "Gagasan di balik struktralisme," ujarnya, "ialah adanya hal-hal yg mungkin kita tidak tahu, tapi kita dapat belajar bagaimana hal itu berhubungan satu sama lain. (Metode) ini telah digunakan oleh sains sejam kemunculannya dan dapat diperluas ke beberapa studi lain--linguistik dan mitologi tetapi tidak untuk setiap studi."
Ya, strukturalisme akhirnya memang dilekatkan pada gagasan2 Levi-Strauss yg menguat setelah Les Mythologis,karya empat jilidnya,m terbit. Jilid pertama, Le Cru et le Cuit ( The Raw and The cooked,1964), menyajikan asal-usul keahlian memasak sebagai paradigma transisi dari alam ke budaya yg melintasi sejumlah mitos. Jilid kedua, Du Miel aux Cendres (from honey to ashes, 1966), membahas madu dan tembakau sebagai penjelmaan ritual dari antitesis fundamental yg ada di otak. Jilid ketiga, L'origine des mani res de table (The Origin of Table Manners, 1968) dan keempat L'Homme Nu (The Naked Man, 1971), berkonsentrasi di Indian Utara Amerika Utara.
Apa yg hendak ditunjukkan dalam penelitiannya yg berjilid-jilid tentang totemisme, ritus primitif, pola kekerabatan,dan terutama mitos adalah adanya kesejajaran antara artefak2 kebudayaan kuno tersebut dengan fenomena kebahasaan. Kesalah Antroplogi tradisional--sebagaimana lingustik tradisional, menurut Levi-Strauss, adalah perhatian pada arti sebuah terma dan bukan pada relasi antarterma. Perspektif ini sangat Saussurian. Pertama, Levi-Strauss melihat setiap ekspresi kebudayaan sebagai bagian dari sistem yg lebih luas. Kedua, dan ini lebih penting, dia meyakini bahwa item-item dalam kebudayaan tidak memiliki nilai intrinsik, namun menjadi penting karena kedudukannya dalam struktur.
Bagi Levi-Strauss, fenomena antropologis,seperti sistem kekerabatan--baru dapat dipelajari maknanya jika diletakkan dalam kerangka relasi2 struktural. Oleh Levi-Strauss, struktur mitos--seperti kisah Oedipus--dibongkar memilah-milahnya menjadi satuan2 kisah terkecil, yg dinamai mitem ( serupa dengan "fonem" dalam kajian linguistik). Dalam analisisnya, Levi-Strauss mengabaikan mitem-mitem berdasarkan tipe relasinya. Misalnya, "Cadmus membunuh naga" serupa dg bagian "Oedipus membunuh Sphinx.". Kedua bundel kisah itu dapat disatukan dalam kelompok yg sama.
Perjalanannya menuju ke NewYork, saat ia diundang menjadi professor tamu di New School for Social Research, 1941, merupakan "periode paling menyenangkan dalam kehidupan saya." Di kota dunia itu, ia menghabiskan waktu di ruang baca NewYork Public Library. Ia berkenalan dengan antropolog Amerika kelahiran Jerman, Franz Boas, dan linguis kelahiran Rusia, Roman Jakobson, yg teorinya tentang struktur bahasa mempengaruhi prinsip2 strukturalis Levi-Strauss. Ia senang mengunjungi toko barang antik di Manhattan yg menjual berbagai artefak dari masa Pacific Northwest, Ia begitu terkesan sehingga mengatakan, "hal-hal yg esensial dari kekayaan artistik kemanusiaan dapat ditemukan di New York."
Selama periode empat tahun di Amerika Serikat itulah "antropologii struktural" dikonstruksi. Selagi di New York, Levi Strauss menenggalamkan diri dalam catatan2 antropologis Amerika Utara dan Selatan yg dihimpun oleh paran antropolog dan linguis selama lebih dari seabad. Data itu membuatnya menentang penjelasan reduksionis terhadap budaya, yg secara implisit menampik pencapaian intelektual yg direpresentasikan oleh mitologi dan pemikiran sosial pribumi. "Rasa haus akan pengetahuan obyektif," tulis Levi Strauss "adalah salah satu aspek yg paling diabaikan dari pikiran orang2 yg kita sebut 'primiitif'." Kontaknya dengan linguis struktural membuat nya meyakini material ini.
Kendati usianya terus menanjak, Levi-Strauss tetap bekerja. Pada 1958 ia menerbitkan esainya di bawah judul Anthropologie Structurale (1958, terjemahan Inggrisnya muncul pada 1964). Dua tahun kemudian ia menempati kursi Chair of Social Anthropology di College de France; pidato kuliahnya diterbitkan di Inggris sebagai The Scope of Anthropology (1967). La Pens e Sauvage -- terjemahan Inggrisnya, The Savage Mind, muncul 1966-- adalah salah satu dari bukunya yg terpenting. Karya ini menyediakan totemisme kompleks yg berlaku di antara orang2 Aborigin Australia sebagai ekspresi pandangan-dunia yg mengatur dan menjelaskan hidup mereka sehari-hari. Anthropologie Strutural deux (1967), La voie des Masques (1975, terjemahan Inggris 1983), Le Regard Eloign (1983), Paroles Donn es (1984), La Poti re Jalouse (1985) and Histoire de Lynx (1991) adalah sejumlah karya terakhir Levi-Strauss.
Seperti intelektual Prancis lainnya, Jean-Paul Sartre, Simone de Beauvoir--keduanya ia kenal sejak muda--, Michael Foucault, Roland Barthesm Jacques Derridam dan Paul Ricoeur, pengaruh Levi-Strauss meluas kedisiplin-disiplin lain. Bagi orang2 diluar antropologi, dia adalah antropologi yg paling mahsur dan dianggap sebgai pendiri gerakan intelektual yg dikenal sebagai strukturalisme.
Namun, pada 1980-an strukturalisme seperti dibayangkan oleh Levi-Strauss digusur oelh pemikir Prancis yg dikenal sebagai post strukturalis: Michael Foucault, Roland Barthes, dan Jacques Derrida. Mereka menolak gagasan universal yg tak lekang waktu dan berpendapat bahwa sejarah dan pengalaman jauh lebih penting dalam membentuk kesadaran manusia dibandingkan hukum universal.
Sejak mula, Levi-Strauss menyadari suatu saat buah pikirnya mungkin bakal "tergusur". "Masyarakat Prancis dan khususnya masyarakat Paris, adalah pelahap",ujarnya menanggapi."Setiap lima tahun atau sekitar itu mereka membutuhkan sesuatu yg baru di mulut mereka. Dan begitulah lima tahun yg lampau adalah strukturalisme, dan kini sesuatu yg lain. Saya secara praktis , tidak berani menggunkan kata 'strukturalis' lagi, sebab ia sudah sedemikan dideformasi. Tentu saja, saya bukan bapak strukturalisme.". [Dian basuki beragam sumber]
This entire review has been hidden because of spoilers.
47 reviews
November 9, 2018
Levi-Strauss' perspective & understanding of the human condition should be mandatory teaching.
Displaying 1 - 3 of 3 reviews