Dia legenda pengarang cerita silat. Kho Ping Hoo, lelaki peranakan Cina kelahiran Sragen, Jawa Tengah, 17 Agustus 1926, yang kendati tak bisa membaca aksara Cina tapi imajinasi dan bakat menulisnya luar biasa. Selama 30 tahun lebih berkarya, dia telah menulis sekitar 400 judul serial berlatar Cina, dan 50 judul serial berlatar Jawa.
Ceritanya asli dan khas. Dia pengarang yang memiliki ide-ide besar, yang tertuang dalam napas ceritanya yang panjang. Sepertinya dia tak pernah kehabisan bahan.
Bahkan setelah dia meninggal dunia akibat serangan jantung pada 22 Juli 1994 dan dimakamkan di Solo, namanya tetap melegenda. Karya-karyanya masih dinikmati oleh banyak kalangan penggemarnya. Bahkan tak jarang penggemarnya tak bosan membaca ulang karya-karyanya.
Beberapa karyanya dirilis ulang media massa, difilmkan, disandiwararadiokan, dan di-online-kan, serta disinetronkan. Dia meninggalkan nama yang melegenda. Legenda Kho Ping Hoo, pernah menjadi sinetron andalan SCTV. Lewat penerbit CV Gema, karya-karyanya masih terus dicetak.
Kho Ping Hoo bernama lengkap Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo, pengarang cerita silat yang memunculkan tokoh-tokoh silat dalam ceritanya, seperti Lu Kwan Cu, Kam Bu Song, Suma Han, Kao Kok Cu, atau Wan Tek Hoat dan Putri Syanti Dewi, Cia Keng Hong, Cia Sin Liong, Ceng Thian Sin, dan Tang Hay. Serta tokoh-tokoh dalam serial paling legendaris Bu Kek Siansu dan Pedang Kayu Harum.
Dia juga banyak mengajarkan filosofi tentang kehidupan, yang memang disisipkan dalam setiap karyanya. Salah satu tentang yang benar adalah benar, dan yang salah tetap salah, meski yang melakukannya kerabat sendiri.
Kisah Keluarga Pulau Es merupakan serial terpanjang dari seluruh karya Kho Ping Hoo. Kisahnya sampai 17 judul, dimulai dari Bu Kek Siansu sampai Pusaka Pulau Es.
Penggemar cerita silat Kho Ping Hoo sangat banyak yang setia. Mereka sudah gemar membaca karya Kho Ping Hoo sejak usia 10-an tahun hingga usia di atas 50-an tahun. Mula-mula mereka senang melihat gambar komiknya. Namun, lama-lama makin tertarik cerita tulisannya. Tak jarang penggemar mengoleksi karya-karya Kho Ping Hoo, bahkan mencarinya ke bursa buku bekas di kawasan Senen.
Kho Ping Hoo, lelaki peranakan Cina kelahiran Sragen, Jawa Tengah, 17 Agustus 1926, berasal dari keluarga miskin. Dia hanya dapat menyelesaikan pendidikan kelas 1 Hollandsche Inlandsche School (HIS). Namun, ia seorang otodidak yang amat gemar membaca sebagai awal kemahirannya menulis.
Ia mulai menulis tahun 1952. Tahun 1958, cerita pendeknya dimuat oleh majalah Star Weekly. Inilah karya pertamanya yang dimuat majalah terkenal ketika itu. Sejak itu, semangatnya makin membara untuk mengembangkan bakat menulisnya.
Banyaknya cerpenis yang sudah mapan, mendorongnya memilih peluang yang lebih terbuka dalam jalur cerita silat. Apalagi, silat bukanlah hal yang asing baginya. Sejak kecil, ayahnya telah mengajarkan seni beladiri itu kepadanya. Sehingga dia terbilang sangat mahir dalam gerak dan pencak, juga makna filosofi dari tiap gerakan silat itu. Karya cerira silat pertamanya adalah Pedang Pusaka Naga Putih, dimuat secara bersambung di majalah Teratai. Majalah itu ia dirikan bersama beberapa pengarang lainnya. Saat itu, selain menulis, ia masih bekerja sebagai juru tulis dan kerja serabutan lainnya, untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Namun, setelah cerbung silatnya menjadi populer, ia pun meninggalkan pekerjaanya sebagai juru tulis dan kerja serabutan itu, dan fokus menulis. Hebatnya, ia menerbitkan sendiri cerita silatnya dalam bentuk serial buku saku, yang ternyata sangat laris. Hal itu membuat kreatifitasnya makin terpicu. Karya-karyanya pun mengalir deras. Cerita silatnya pun makin bervariasi. Tak hanya cerita berlatar Cina, tetapi juga cerita berlatar Jawa, di masa majapahit atau sesudahnya. Bahkan, selain secara gemilang memasukkan makna-makna filosofis, dia pun menanamkan ideologi nasionalisme da
Dikisahkan di negeri Nan-cao, sebuah wilayah di Cina bagian selatan, sedang ada sayembara pemilihan jodoh yang diadakan oleh Koksu sakti ketua agama Beng-kauw bernama Liu Gan yang tenar berjuluk Pat-jiu Sin-ong (Raja Sakti Berlengan Delapan). Sayembara itu sendiri ditujukan untuk mencari suami yang tepat bagi putri semata wayangnya yang amat jelita bernama Liu Lu Sian dengan syarat utama harus bisa mengalahkannya, hal ini sangat berat mengingat meski baru berusia 16 tahun Liu Lu Sian telah mendapat gemblengan langsung dari ayahnya sendiri sehingga sudah sangat sulit untuk dicari tandingannya. Tapi tetap saja peminat sayembara ini membludak hingga semua penginapan di kota itu habis disewa oleh pemuda yang ingin mendapatkan Liu Lu Sian.
Kwee Seng yang sebenarnya tidak berminat dan hanya sekedar lewat di kota itu menjadi penasaran dan tertarik untuk datang setelah beberapa peserta yang berniat mengikuti sayembara tewas secara mengerikan di wisma tempat ia menginap. Meski ia datang dengan menyamar sebagai pelajar, namun Liu Gan mengenalinya sebagai orang yang pernah menjadi tamu agung ketua Siauw-lim-pai, Kiang Hi Hosiang, sehingga diapun disambut dengan istimewa. Kwee Seng sendiri dari awal sudah menjadi jemu karena yakin tidak akan ada yang bisa mengalahkan Liu Lu Sian, namun menjadi tertarik kembali saat Kam Si Ek, seorang jenderal muda dari Shan-si, naik panggung meski hanya untuk menolong seorang peserta yang hampir terbunuh dan kemudian pergi meninggalkan gelanggang. Tapi hal inilah yang justru membuat Liu Lu Sian tertarik kepada jenderal muda itu, di sisi lain, Kwee Seng juga mulai menyadari bahwa sebenarnya dirinya juga mulai terpesona oleh kecantikan putri tunggal Liu Gan itu. Sayembara berakhir saat Kwee Seng diminta oleh Liu Gan untuk turut masuk gelanggang dengan syarat dia harus mengajari Liu Lu Sian jurus yang digunakan untuk mengalahkannya, Kwee Seng menyanggupinya dan bisa dengan mudah mengalahkan Liu Lu Sian, meski kemudian kemenangannya ditentang oleh Ma Thai Kun, salah seorang sute Liu Gan yang ternyata diam-diam menaruh hati pada Liu Lu Sian.
Saat mulai pengembaraan berdua, mereka dihadang oleh Ma Thai Kun yang justru kedoknya terbongkar sebagai pembunuh para peserta sayembara di wisma. Meski sempat dihajar oleh Liu Gan, namun nyawanya selamat karena dilindungi oleh sute termuda Kauw Bian yang loyal dan baik hati, Ma Thai Kun sendiri akhirnya diusir oleh Liu Gan karena penyelewengannya. Di sisi lain, Kwee Seng yang terang-terang jatuh cinta kepada Liu Lu Sian ternyata diabaikan perasaannya, ini karena Liu Lu Sian mempunyai watak aneh yang suka melihat orang jatuh cinta kepadanya dan kemudian mempermainkannya. Dalam perjalanannya Kwee Seng sempat menceritakan pengalaman pahitnya berhubungan dengan wanita, seorang pelacur kelas atas yang menjadi primadona bernama Khu Kim Lin yang berjuluk Ang-siauw-hwa (Bunga Kecil Merah). Wanita ini pula yang membuatnya harus berhadapan dengan tokoh sakti sesat Ban-pi Lo-cia (Dewa Locia Berlengan Selaksa), meski pertandingan berlangsung seimbang, Kwee Seng harus rela kehilangan sulingnya, salah satu senjata andalannya selain kipas. Kwee Seng yang terluka ditolong oleh Khu Kim Lin dan menjadi kekasihnya, namun saat Kwee Seng sedang mencari suling baru, Ban-pi Lo-cia berhasil menemukan Khu Kim Lin, tidak rela dinodai, Khu Kim Lin lebih memilih membunuh diri untuk menjaga kehormatannya.
Dalam pengembaraan, Liu Lu Sian justru mengarahkan perjalanannya menuju Shan-si untuk menemui orang yang telah membetot hatinya, Kam Si Ek, jenderal muda pemangku benteng Naga Emas. Kam Si Ek sendiri sedang dalam posisi sulit mengingat negara sedang rusuh setelah kejatuhan dinasti Tang oleh dinasti Liang yang dipimpin oleh gubernur pemberontak Cu Bun. Namun patriotismenya yang lebih memilih melindungi rakyat-lah yang membuatnya bertahan, hingga dalam satu kesempatan dia menolak dibujuk oleh 3 bersaudari See-liong-sam-ci-moi (Tiga Enci Adik Naga Barat) untuk mengikuti kerajaan Liang, penolakannya membuat ketiganya marah dan menyerangnya meski akhirnya ketiganya tewas setelah terkena jarum beracun yang secara diam-diam disambitkan oleh Liu Lu Sian, saat terjadi kesalahpahaman akibat peristiwa itu, Kwee Seng datang menolong Liu Lu Sian dan membawanya pergi. Namun apa lacur, Liu Lu Sian malah marah-marah dan menghina serta menyepelekan perasaan Kwee Seng dan menuduhnya ingkar untuk menurunkan satu ilmu kepadanya, meski hatinya hancur, dengan mengeraskan hati Kwee Seng menyanggupi asal Liu Lu Sian mau menyusulnya ke puncak bukit Liong-kui-san di malam berikutnya. Tidak diduga pertengkaran itu ternyata didengar oleh suci Kam Si Ek bernama Lai Kui Lan yang ternyata jatuh hati kepada Kwee Seng.
Keesokan harinya, Kwee Seng secara tidak sengaja menolong Lai Kui Lan yang hampir saja menjadi korban kecabulan panglima muda Khitan Bayisan, meski sempat merobohkannya, namun Bayisan yang ternyata murid Ban-pi Lo-cia ini berhasil kabur. Setelah waktu menginjak malam, Kwee Seng berangkat menuju puncak bukit untuk menunggu Liu Lu Sian, Lai Kui Lan yang mengikuti diam-diam ternyata ketahuan dan disuruh sembunyi oleh Kwee Seng agar tidak menimbulkan kesalahpahaman saat Liu Lu Sian datang. Tanpa dinyana ternyata Liu Lu Sian meminta lebih dari satu jurus kepada Kwee Seng, sadarlah Kwee Seng bahwa dibalik Liu Lu Sian ternyata ada Liu Gan yang gila ilmu dan diam-diam membuntutinya. Murka akibat penolakan Kwee Seng, Liu Gan menantangnya adu jurus, namun di tengah pertandingan Bayisan muncul dan membokong Kwee Seng dengan jarum beracun, akibatnya Kwee Seng terperosok ke dalam jurang saat berusaha menghindarinya. Liu Gan yang merasa terganggu berusaha mengejar Bayisan, namun gagal. Liu Gan mendongkol karena gagal mempunyai menantu Kwee Seng dan mengultimatum Liu Lu Sian untuk bisa mencari lelaki yang hebat sebagai pasangan atau kelak harus menuruti pilihan ayahnya. Tapi Liu Lu Sian yang memang pada dasarnya berwatak egois tetap pada keputusannya untuk mengejar cinta Kam Si Ek.
Kwee Seng yang terjatuh ke jurang ternyata tidak mati dan terseret arus kuat yang membawanya ke sebuah tempat terpencil tanpa pintu keluar bernama Neraka Bumi. Secara ajaib dia diselamatkan dan disembuhkan oleh seorang nenek. Kwee Seng sendiri beruntung ternyata memasuki tempat yang sebenarnya merupakan tempat pertapaan dan penyimpanan kitab-kitab pusaka, hasilnya secara perlahan ilmunya meningkat dengan pesat. 3 tahun terkurung di tempat itu bersama seorang nenek tidak membuatnya jengah, hingga pada suatu hari terjadi peristiwa yang membuatnya setengah linglung dan kabur dari tempat itu.Di suatu hari terjadi banjir besar hingga tempat itu hanya tersisa sedikit ruang, biasanya hal ini bisa berlangsung selama satu bulan penuh, Kwee Seng menyarankan agar keduanya keluar saja meninggalkan tempat itu selamanya, namun nenek itu menolak, tapi tidak melarang Kwee Seng untuk pergi setelah banjir surut asal dia mau menuruti keinginannya, yaitu menjadi suaminya. Bimbang antara susila dan budi, Kwee Seng akhirnya memilih budi dan bersedia menjadi suami nenek itu. Namun betapa kagetnya dia ketika merasa bahwa nenek itu tidak lain adalah kekasihnya yang telah mati, Khu Kim Lin. Setelah 15 hari berlalu dan dia mendapati dirinya berpelukan dengan seorang nenek, dia kalap dan kabur tanpa menoleh kembali, nenek itu yang sebenarnya adalah seorang gadis jelita bernama Khu Gin Lin yang memakai topeng, hanya bisa menangis dan melihatnya pergi.
Dalam cerita lain, Liu Lu Sian secara tidak sengaja mengendus rencana bawahan Kam Si Ek yang ingin berkhianat dengan cara menculik dan kemudian memfitnahnya di hadapan gubernur Shan-si, Li Ko Yung. Setelah membunuh pengkhianat itu, Liu Lu Sian berniat menyusul Kam Si Ek dan menggagalkan penculikan itu. Dalam usahanya, dia bertemu dengan Bayisan dan bertempur hebat meski akhirnya Bayisan kabur setelah kedatangan tokoh kai-pang Sin-tung Sam-kai (Tiga Pengemis Tongkat Sakti). Liu Lu Sian yang melanjutkan pencariannya malah bertemu dengan tokoh sakti buntung kaki mantan raja muda Tang Couw Pa Ong yang berjuluk Sin-jiu (Tangan Sakti) yang sedang menghadang rombongan pengungsi, dia akan membunuh secara brutal setiap pengungsi yang bermaksud bergabung dengan kerajaan Liang namun menghadiahi mereka yang tetap setia terhadap Tang. Liu Lu Sian bahkan sempat menguntit Couw Pa Ong yang melayani tantangan Wei-ho Si-eng (Empat Orang Gagah Sungai Wei-ho) yang kesemuanya dihabisi dengan sadis. Setelahnya, gadis itu berhasil menemukan kuil tempat dimana Kam Si Ek ditawan. Tapi di tempat ini Liu Lu Sian mesti berhadapan dengan Ban-pi Lo-cia, meski keberuntungan datang saat tiba-tiba Couw Pa Ong datang dan membantu karena Kam Si Ek adalah salah satu jenderal muda Tang.Tapi kedua orang tua sakti itu membuat kesepakatan ganjil, Couw Pa Ong hanya menginginkan Kam Si Ek sedangkan Ban-pi Lo-cia tergila-gila dengan Liu Lu Sian, namun dengan kecerdikannya Liu Lu Sian berhasil kabur dengan Kam Si Ek, meski mengejar, dua orang tua sakti itu tidak berhasil menangkap mereka kembali, saat kabur itulah benih cinta di antara kedua muda ini tumbuh dan berkembang. Dengan meminta bantuan gubernur Li Ko Yung, Kam Si Ek melamar Liu Lu Sian ke Nan-chao, meski dengan hati sedikit enggan, Liu Gan menerima juga pilihan anaknya. Setahun setelah pernikahan itu, keduanya dikaruniai seorang putra yang diberi nama Kam Bu Song.
Di sisi lain, Kwee Seng yang menjadi setengah gila karena tekanan batin, mulai melanglang buana di kang ouw dengan perawakan seorang gelandangan sakti dan menjuluki dirinya sendiri Kim-mo Taisu. Dalam beberapa waktu saja nama ini menjadi momok dan banyak yang mulai menghubungkannya dengan pendekar muda sakti berjuluk Kim-mo Eng yang muncul beberapa tahun sebelumnya. Dalam masa itu ada perubahan penguasa kelompok pengemis setelah munculnya seorang pendekar muda sakti dari Po Hai (daerah selatan) bernama Pouw Lee Kui yang berhasil menumbangkan pimpinan terkuat kelompok pengemis daerah selatan Yu Jin Tianglo dan merebut jabatannya.
Setelah beberapa tahun hidup rukun, Liu Lu Sian mulai kembali ke watak asalnya yang egois dan mudah bosan, karena merasa terkungkung dengan kehidupan militer, dia memutuskan untuk pergi meninggalkan keluarganya dengan alasan ingin memperdalam ilmu silatnya, bahkan dia membebaskan Kam Si Ek jika sewaktu-waktu ingin mencari pengganti dirinya. Kenekatannya ini menyadarkan Kam Si Ek bahwa dia telah salah pilih jodoh, namun nasi sudah menjadi bubur, mengingat bahwa Kam Bu Song masih kanak-kanak dan jelas membutuhkan kasih sayang seorang seorang ibu, dia memutuskan untuk menikah kembali dengan seorang putri siucai bernama Ciu Bwee Hwa, meski sempat mendapat halangan kecil dari Giam Sui Lok, seorang teman masa kecil yang sangat mencintai Ciu Bwee Hwa. Tidak dinyana, saat Kam Si Ek menangani masalah itu, Kam Bu Song diam-diam pergi berniat menyusul ibunya.
Kwee Seng sendiri mengarahkan pengembaraannya ke Khitan untuk mencari Bayisan. Kebetulan di saat yang sama raja Khitan Kulu-khan sedang mengadakan lomba ketangkasan bagi semua perwiranya yang berniat naik pangkat atau sekedar unjuk kebolehan. Salinga, orang yang dicintai oleh putri mahkota Khitan Tayami, juga turut serta di situ. Hal ini membuat Bayisan dongkol karena dia diam-diam juga mencintai Tayami yang sebenarnya adalah adiknya sendiri mengingat dia adalah putra tak resmi raja Khitan. Dalam adu ketangkasan, Bayisan yang sombong memamerkan diri dihadapan Tayami bahwa dia jauh lebih hebat dibanding Salinga. Namun tidak disangka, Kwee Seng yang secara tidak sengaja bertemu dengan jagoan tua sakti seangkatan Bu-ke Sian-su berjuluk Bu Tek Lojin melakukan atraksi ketangkasan yang mampu mengatasi kepongahan Bayisan, meski hal itu menimbulkan decak kagum, namun tak urung Bayisan yang mengenali Kwee Seng menjadi keder dan melarikan diri.
Tanpa sengaja keduanya mendengar rencana buruk mengenai kudeta yang akan dilakukan oleh pangeran pertama Kubakan dan Bayisan serta pembunuhan terhadap putri Tayami. Tayami sendiri yang sedang mabuk kepayang dengan Salinga tidak sadar nyawa mereka diincar, namun secara diam-diam Bu Tek Lojin dan Kwee seng berhasil menggagalkan rencana itu, bahkan obat racun yang sedianya akan digunakan untuk Tayami justru mengenai Bayisan yang menyebabkan wajahnya menjadi buruk, meski karena hal itu Kwee Seng menjadi uring-uringan terhadap Bu Tek Lojin yang mempunyai ide gila itu. Sayangnya, rencana pembunuhan terhadap raja berhasil, meski pada akhirnya Tayami tetap naik takhta, tapi pada dasarnya dia berbagi kekuasaan dengan Kubakan.
Tak lama setelah itu, Kwee Seng bertemu kembali dengan Bu Tek Lojin yang sempat membuatnya geram akibat kelakuannya memberi bubuk beracun kepada Tayami, setelah lama berdebat tanpa menemui ujung, mereka memutuskan untuk adu kesaktian. Di tengah serunya bertanding, tiba-tiba muncul Ban-pi Lo-cia yang sedang berusah menolong Bayisan. Kwee Seng yang dendamnya pada Ban-pi Lo-cia mencapai ubun-ubun tak pelak langsung berusaha menghajarnya, namun dihalang-halangi oleh Bu Tek Lojin yang merasa pertandingannya belum lagi selesai. Namun saat Kwee Seng mngeluarkan ilmu yang telah disempurnakan oleh Bu Kek Sian Su, Bu Tek Lojin tiba-tiba pamit dan kabur begitu saja. Kalisani yang tahu betul dengan kebusukan dalam peristiwa kematian raja memutuskan untuk pergi dari istana dan menjadi murid Bu Tek Lojin setelah secara tidak sengaja bertemu dengannya. Kwee Seng sendiri terus meneruskan pengembaraannya dengan tidak lupa melakukan ‘kegemaran’nya membela keadilan sehingga julukannya semakin lama semakin terkenal.
Liu Lu Sian yang sudah merasa bebas dari kungkungan, bertemu dengan seorang pendekar muda Tan Hui yang punya julukan mentereng Hui-kiam-eng (Pendekar Pedang Terbang). Merasa tertarik dengan ketampanan dan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki pendekar ini, dia mencoba nimbrung dalam permasalahan yang sedang dihadapi oleh pendekar yang telah menduda itu. Tan Hui sendiri sedang berurusan dengan salah satu perkumpulan pengemis besar, yaitu Khong-sim Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Hati Kosong), akibatnya, anak semata wayangnya diculik oleh perkumpulan itu. Merasa kepalang basah, dengan Liu Lu Sian yang menawarkan bantuannya, dia mendatangi langsung markas dari perkumpulan itu. Namun ternyata telah terjadi perubahan pemimpin di kaypang ini. Pouw Kee Lui, seorang muda yang sakti dari selatan berhasil menumbangkan pimpinan lama Khong-sim Kai-pang yakni Yu Jin Tianglo dan mengangkat dirinya sendiri sebagai pemimpin baru. Sempat bersitegang dan bertempur, namun dihentikan oleh Pouw Kee Lui dan mengembalikan anak Tan Hui begitu menyadari ada orang hebat lain dalam ruangan itu (Bu Tek Lojin yang menyamar sebagai karung beras) yang secara diam-diam memberi bantuan kepada keduanya, serta mengetahui kalau Liu Lu Sian adalah putri dari Pat-jiu Sin-ong (Raja Sakti Berlengan Delapan) Liu Gan. Terlena dengan kecantikan serta pertolongan Liu Lu Sian, Tan Hui terbujuk oleh akal Liu Lu Sian yang pura-pura terkena jarum beracun yang tak lain miliknya sendiri. Usaha penyembuhan berubah menjadi cinta terlarang yang membuat Tan Hui khilaf dan mengajarkan ilmu peringan tubuh rahasia keluarganya kepada Liu Lu Sian yang jelas-jelas orang luar. Sempat lama memadu kasih, Tan Hui akhirnya mengetahui bahwa Liu Lu Sian adalah istri dari Jenderal besar Kam Si Ek, orang yang sangat dikaguminya. Terhimpit malu dan penyesalan, Tan Hui memutuskan untuk pergi, namun dihalang-halangi oleh Liu Lu Sian yang merasa kecewa muslihatnya ketahuan, pertarungan tidak terelakkan dan berakhir dengan gugurnya Tan Hui.
Sementara itu, Kam Bu Song yang terlunta-lunta berpapasan dengan jembel sakti Kwee Seng yang sedang diseret oleh 5 jagoan dari Sian-kauw-bu-koan (Perkumpulan Silat Monyet Sakti) yang sedang berurusan dengan salah satu partai pengemis. Namun kelimanya kecele setelah ternyata ketuanya, pendekar tua Sin-kauw-jiu (Kepalan Monyet Sakti) Liong Keng Lo-enghiong menyambutnya dengan hormat. Kwee Seng justru menawarkan bantuannya untuk mencari putri semata wayang temannya itu yang kabarnya hilang diculik oleh pemuda sakti misterius yang mengaku dirinya sebagai Kai-ong (Raja Pengemis). Penyelidikannya dia mulai dari satu tempat ramai milik salah satu kumpulan pengemis besar Ban-hwa-kai-pang (Perkumpulan Pengemis Selaksa Bunga), Ban Hwa Po Koan (Rumah Judi Selaksa Bunga). Di tempat ini Kwee Seng memancing keluarnya pemilik sekaligus pimpinan dari perkumpulan pengemis ini, Koai-tung Tiang-lo (Orang Tua Tongkat Setan). Pancingannya berhasil setelah dia membuat Bandar bangkrut dan menyebabkan pimpinannya sendiri turun tangan, Kwee Seng menyanggupi tantangannya dengan syarat informasi tentang Kai-ong jika dia menang, dan dia berhasil mendapatkan informasi itu setelah dengan mudah mengalahkan Koai-tung Tiang-lo dengan telak. Kam Bu Song yang bertemu kembali dengannya setelah itu seakan saling cocok, sehingga tak lama kemudia mereka saling mengangkat guru murid. Namun dasar Kwee Seng, dia menguji keteguhan anak itu dengan menyuruhnya menyusul dirinya ke gunung Tapie-san, tempat Kai-ong berada. Kwee Seng yang lebih dulu sampai langsung dihadang oleh Sin-tung Sam-lo-kai namun itu tidak berarti apa-apa baginya yang terus merangsek hingga akhirnya bisa langsung bertemu dengan Kai-ong yang tidak lain ternyata Pouw Kee Lui. Geram dengan kenyataan bahwa dia tidak bisa berbuat banyak karena ternyata Liong Bi Loan telah diperistri oleh Pouw Kee Lui serta kekejiannya membantai banyak pimpinan kaypang, Kwee Seng menantangnya bertanding. Dasar licik, tahu bahwa tidak ada jaminan kemenangan, Pouw Kee Lui menjanjikan pertandingan di malam buta 3 hari kemudian di puncak Tapie-san, dan Kwee Seng menyanggupinya. Sementara dia menunggu hari yang dijanjikan, Kwee Seng mulai mengajari Kam Bu Song ilmu Samadhi dan olah gerak, meski hal itu dilakukannya secara tersamar karena Kam Bu Song sudah kadung benci dengan segala ilmu kanuragan yang dianggapnya sumber dari segala kekejian.
Tak dinyana, tak lama kemudian, Liu Gan yang sedang mencari Liu Lu Sian karena mencuri Sam-po-cin-keng (3 Kitab Pusaka) miliknya, lewat tempat itu dan bertemu dengan Kwee Seng. Lama tidak bertemu, keduanya bercengkerama dan beradu kesaktian masing-masing, saat itulah Kam Bu Song yang tahu kedatangan kakeknya segera kabur karena takut di bawa ke selatan. Terdorong lapar, dia menawarkan diri bekerja pada sebuah keluarga aneh yang tinggal di sisi lain Tapie-san, meski agak mendongkol dengan syaratnya yang harus mengambil air dari sisi gunung yang lain, Kam Bu Song tetap gigih melakukan syarat itu demi harga dirinya. Pada angkatan terakhir, Kam Bu Song melihat gurunya yang sedang bertanding melawan keroyokan Pouw Kee Lui yang dibantu oleh Hwa-bin-liong (Naga Muka Kembang), Sin-ciang-hai-ma (Kuda Laut Bertangan Sakti), Ban-pi Lo-cia, Ma Thai Kun, Lauw Kiat (murid Ban-pi Lo-cia), dan sisa dari Sin-tung Sam-kai (Tiga Pengemis Tongkat Sakti). Di sinilah mereka menyadari bahwa dengan keroyokan inipun ternyata masih sangat sulit untuk bisa menumbangkan Kwee Seng, hingga pada saat kritis, muncullah Pat-jiu Sin-ong Liu Gan yang langsung menyerbu Ma Thai Kun dan langsung kabur begitu menyadari tidak akan bisa menang melawan suhengnya itu. Keberuntungan Pouw Kee Lui semakin tipis saat tiba-tiba Ban-pi Lo-cia juga ikutan kabur setelah sempat bentrok dengan Couw Pa Ong yang datang belakangan. Menyadari kekalahan di depan mata, Pouw Kee Lui dengan tanpa rasa malu kabur dari gelanggang meninggalkan teman-temannya yang telah menjadi mayat.
Akhirnya buku ini diterbitkan ulang. Masih ingat banget dulu baca buku ini dengan kertas yang sudah lecek dan menguning, benear-benar seperti kitab kungfu yang dah dimakan usia.