Fiska berangkat ke Yogyakarta dengan frustrasi. Bukan hanya karena putus cinta. Keberangkatannya ke kota pelajar tersebut atas perintah meliput dadakan dari Pak Edi sebagai hukuman karena ia mangkir kerja selama seminggu demi menyembuhkan patah hatinya.
Liputan kali ini bukan sekadar mengejar konfirmasi gosip selebritis, melainkan untuk mengungkap kasus pembunuhan Nita, karyawati sebuah perusahaan batik cap tradisional terkenal di kota tersebut.
Berbagai keanehan ditemui Fiska selama mencari bahan berita. Pemilik pondok yang luar biasa santun tapi mampu membaca pikiran. Kejanggalan pengakuan Pak Wiryo, pemilik perusahaan batik cap. Dan noda darah pada sehelai kain batik cap di samping gudang kosong tempat Fiska dibawa oleh Diki, pacar Nita.
Apa sebetulnya yang terjadi? Berhasilkah Fiska mengungkap kasus pembunuhan itu? Atau ia justru menjadi korban berikutnya?
Rahasia Batik Berdarah punya blurb yang menarik, sayangnya... 1. Kenapa harus Fiska yang diutus mencari berita? Fiska kan dari Jakarta, jauh amat harus ke Jogja buat ngeliput berita ini doang. Emang ga ada cabang Jogja? :| 2. Emangnya polisi nggak melakukan penyelidikan di kantor korban? Aneh bener deh pas baca bagian itu. Nggak logis. Belum lagi masa karyawan dan teman-teman korban nggak diselidiki sih? Apalagi katanya Nita sempat hilang antah berantah sebelum ketabrak. Masa nggak ada penyelidikan polisi di sana? 3. Sebenarnya ini Fiska itu wartawan apa detektif kepolisian sih? Kok dia bisa menemukan bukti-bukti gitu? Ini polisi nggak niat melakukan penyelidikan dugaan kasus apa gimana sih? Sebagai pembaca cerita misteri, detektif, dan kriminal, cerita Rahasia Batik Berdarah ini terlalu nggak bisa dinalar. 4. Nggak paham kenapa dapat label young adult. :| Kalau kamu pecinta young adult, mending jangan baca novel satu ini. Karena novel ini lebih kental unsur klenik, ditambah misteri detektif (yang bakal bikin kamu gemas karena terlalu nggak logis). 5. Sebenarnya cerita ini punya potensi, sayangnya, eksekusinya sangat mengecewakan.
Semoga nggak ada spoiler, yang jelas kecewa bacanya. Harusnya menuruti kata Abo buat nggak baca. :(
Tidak banyak buku yang membuat saya menyesal telah membelinya, karena saya termasuk pembaca yang selektif dalam memilih buku yang akan saya beli (baca: nggak mau rugi :p). Sayangnya buku ini termasuk di dalamnya. Kalau kamu setelah membaca sinopsisnya mengira buku ini akan penuh dengan misteri dan twist, tentang seorang jurnalis yang berhasil mengungkapkan pembunuhan misterius, kamu salah besar. Kalo saya bilangnya sik lebih tepat kalau isi buku ini hantu-hantuan dan hal gaib . Mulai dari karakter utamanya (Fiska) yang . Masih banyak lagi sebenarnya yang akan saya tulis, tapi bayanginnya aja saya sudah lelah sendiri. Terakhir deh, yang bikin saya lelah dengan buku ini: endingnya. Ternyata pelakunya adalah... Jeng! Jeng! Buku ini adalah buku Young Adult GPU pertama yang saya punya, semoga penilaian saya pada buku ini tidak lantas membuat buku ini menjadi Young Adult GPU terakhir yang saya punya/beli. Semoga.
Ceritanya sebetulnya sederhana, tentang Friska, seorang wartawan, yang mendapatkan tugas untuk menyelidiki sebuah kasus pembunuhan yang terjadi di Jogja. Menimpa seorang perempuan karyawan sebuah perusahaan batik dengan tersangka pemilik dari perusahaan tersebut.Sebuah penugasan yang dari awal amat tidak disukai Friska yang biasa meliput berita berita tentang selebriti.
Lalu sampailah Friska di Jogja dan mulai meliput, juga menyelidiki kasus tersebut. Sebuah kasus yang menjadi menarik karena pemilik perusahaan yang pada awalnya menyerahkan diri dan mengaku sebagai pembunuh, akhirnya dilepaskan karena tak cukup bukti.Penyelidikan lalu berkembang ke banyak hal hal baru, mulai dari munculnya potongan potongan kisah yang pada awalnya membingungkan, kasus yang lalu terang benderang sampai pada kemunculan hantu hantu.
Pada awalnya, harapan saya saat melihat judul novel ini saya akan disuguhi sebuah kisah misteri yang mencekam, penuh dengan adegan adegan menegangkan. Tapi ternyata isi novel ini tak seperti yang saya bayangkan. Saya malah seperti membaca sebuah kisah komedi horor, dengan tokoh utama yang hobby memaki dan ngomong sendiri.Dan kisah yang sepertinya diniatkan untuk menjadi kisah misteri, berubah menjadi reportase kisah pembunuhan.Pengungkapan tersangkanya pun bukan karena " kerja" si wartawan, tapi atas pengakuan sukarela pihak pihak yang terlibat. Yang sayangnya, bukannya bercerita pada pihak berwajib, tapi malah ke wartawan amatiran.
Ada beberapa hal yang bolong di sana sini yang menyebabkan novel ini kehilangan daya tariknya sebagai novel misteri. Hal hal itu antara lain adalah :
1/ Judul novel ini Misteri Batik Berdarah, tapi sampai akhir cerita saya tak menjumpai keterangan tentang batik itu, selain keterangan tentang seonggok kain yang diduga bernoda darah di halaman 75. 2/ Terlalu kebetulan, Friska tinggal di rumah tersangka.Uniknya lagi, walau tersangka ini tokoh utama, tapi sedikit sekali informasi tentangnya. 3/Pada halaman 119, diceritakan tentang 3 orang yang menabrak dan menghabisi karyawan perempuan itu.Sebuah penceritaan dengan tak memberikan pengantar sebelumnya. Pengantar bagian itu malah ada di halaman 134. Kok jadinya kebalik balik ya? 4/ Di halaman 128 dan 129, ada keterangan yang kontradiktif. Di halaman 128 diceritakan Rizal keluar rumah dan tertabrak sekitar pukul sepuluh pagi, tapi di halaman 129 diceritakan Rizal tertabrak pukul 2 pagi, lho? 5/ Di halaman 159, diceritakan pomsel Friska berbunyi dan Friska tahu itu dari pak Joko. Mereka belum pernah bertukar nomor telpon sebelumnya kan? 6/ Cerita yang pada awalnya murni misteri, kenapa di akhirannya malah jadi cerita hantu hantuan ya. Ada genderuwo yang jadi pesugihan tersangka. Padahal sepanjang yang diceritakan, tak tampak adanya keterangan bahwa tersangka kaya raya atau memiliki harta berlimpah.
Selain beberapa bolong bolong itu, ada beberapa kesalahan keterangan/ tulisan yang menganggu, seperti : 1/ Keterangan di halaman 38 tentang stasiun kereta api. Informasi yang benar adalah, penumpang baru diijinkan masuk ke peron/ruang tunggu penumpang, minimal 1 jam sebelum jam keberangkatan, bukan masuk keretanya. 2/ di halaman 80 dan 131 ada kata berserdawa. Ynag betul berserdawa atau bersendawa?. 3/ Di halaman 135, diceritakan bahwa Diki membekap mulutnya dengan bantal lalu menjerit histeris sekuat-kuatnya. Nah, kalau mulut dibekap, bukankah bicara saja nggak bisa ya?
Dari keseluruhan cerita, rasanya ekspektasi saya terhadap buku ini terlalu tinggi. Atau ini lagi lagi tentang selera? Entahlah. Kalau pun ada yang menyenangkan dari buku ini adalah, ceritanya nggak bikin serem. Dan rasanya tokoh utamanya, Friska, cocok jadi pemeran cerita humo komedi.
I bought this book a few years ago; I love the cover; although the title seems mysterious, the cover is so cheerful. Even though it's unrelated, at least the cover is interesting enough to buy.
The book opens with a description of Nita, a girl chased and killed by an unknown person. On the other hand, Fiska, a girl who works as a celebrity reporter in Jakarta, is suddenly appointed as a murder mystery reporter in Yogyakarta. Strangeness is experienced by Fiska, from her horror experience of being terrorized by Nita's ghost, the amount of info that was covered up, and the strangeness of her boarding mother, who was revealed at the end who she was.
In terms of ideas, this book has a fascinating plot. Unfortunately, the delivery, narration, character background, and other information make this book not like a novel but a mystery short story that should be finished in just 4 pages. Many details feel awkward, such as: 1. Why do we have to explain Fiska's educational background that doesn't have any effect? 2. Why does a celebrity tabloid want to uncover a murder mystery? 3. Why was the inexperienced Fiska given the task? Although, in the end, it does illustrate how amateurish Fiska's point of view and thoughts are towards casting suspicion on his surroundings and covering up the facts he finds. 4. Some characters have awkward portions, such as Tomo, whose disappearance is unknown after dropping off Fiska.
However, no matter how boring the beginning of the book was, the climax was triumphant even though some details were not well developed. However, the 30 pages before the end I really enjoyed. However, the ending on the last page didn't feel like an ending. The final score that can be given is 2.2/5.
Nyesel ga baca review ini. Tertipu cover yang cantik.
Fiskaaaa fiska, bener-bener loh ye! lo nyebut diri lo jurnalis? jangan ngadi-ngadi lu! Ingin berkata kasar, tapi gak mau samaan sama Fiska yang kerjaannya misuh-misuh mulu, padahal kerjaan die kaga ade yang bener. Astagfirullah 99x.
Novel ini... gue hampir gak sanggup selesaikan, tapi gue tetep terngiang-ngiang sama sinopsis yang ditawarkan. Waktu sampai chapter 17 gua berasa menemukan oasis di gurun sahara yang kering tak memiliki kehidupan. Tapi habis gitu dibuat kecewa lagi. Not recommended buat orang yang nyari novel misteri/ yang bisa ngebuat adrenalin naik, membuat emosi campur aduk. Tapi kalau buat orang yang pengen misuh-misuh, saya sangat rekomendasikan, karena membuat kalian emosyong alias kesel sampe urat keliatan. Sekian.
Aku baca novel ini disela-sela kerja, rasanya tegang banget. Ya tegang kerjaan, ya tegang penasaran kelanjutan cerita Fiskha. Buat yang merasa cerita tentang hal gaib (setan, arwah gentayangan) itu nggak masuk akal, mungkin akan nggak tertarik sama novel ini karena hal supranatural itu yang menjadi daya tambah rasa tegang waktu baca.
Dibuka dengan adegan Nita yang sedang dikejar-kejar mobil sedan, novel ini sudah terasa tegangnya dari awal. Lalu berlanjut Fiskha yang diberi tugas untuk meliput berita Nita yang tewas dengan tragis, meskipun Fiskha hanya reporter gossip. Sayangnya, sepanjang cerita clue yang menguak kematian Nita, bukan muncul karena Fiskha yang mendapat ilham atau connecting the dot. Justru muuncul untuk tujuan "plot-twist" atau narasi dari author (pijak ketiga serba tahu). Agak kurang puas sih sama jalan ceritanya, tapi udah sanggup membangun rasa tegang ketika baca. Nggak mengecewakan, tapi bisa banget nihh untuk jalan ceritanya dibikin lebih menantang. Arwah Nita tuuh potensial banget untuk dikulik lagi perannya di cerita ini. Overall, sudah cukup oke deh.
Alasan utama membeli buku ini adalah kata "batik" pada judul. Blurd memang sudah mencantumkan tentang urusan pembunuhan, tapi apa hubungannya dengan batik? Apakah penemuan kain batik yang terkena noda (diasumsikan sebagai darah) menjadi alasan pemilihan judul?
Banyak hal aneh dalam kisah ini yang jelas bikin pembaca cerewet seperti saya sakit kepala. Adegan di halaman 56 misalnya, suatu kebetulan atau bagaimana? Mungkin saya yang terlalu menaruh harapan tinggi akan karya ini.
Saya jadi ingat bacaan ketika kecil, Tintin. Profesinya sebagai wartawan membuat Tintin sering menyelidiki berbagai hal, mungkin tokoh kita dalam buku ini dianggap bisa melakukan hal seperti Tintin ^_^
Sisi baiknya, buku ini dibeli saat ada obralan, jadi tak terlalu sakit hati ketika tahu kisahnya kacau balau begini. Sayang sebenarnya, tapi begitulah. Berasa nonton kisah horor lokal nanggung di tv.
Sebenarnya judul sama blurb nya menarik banget, tapi aku kurang puas sama jalan ceritanya walaupun pas baca beberapa bagian lumayan bikin tegang dan tulisannya nyaman dibaca. Ceritanya berbau mistis tapi nggak dijelaskan secara detail. Pengungkapan pelakunya juga bukan berdasarkan penyelidikan yang dilakukan Fiska tapi pengakuan sukarela dari berbagai pihak yang terlibat. Anehnya mereka malah kasih keterangan tersebut ke Fiska si wartawan amatiran bukan langsung ke pihak berwajib. Banyak bagian yang bikin bingung juga pas baca kayak waktu kejadian ketabraknya Rizal, terus pak Joko yang punya nomor Fiska, dan banyak plot hole lainnya. Mungkin ini lebih cocok jadi horor komedi bukan horor misteri. Padahal buku ini punya potensi jadi horor misteri yang mencekam namun sayang ternyata ekspektasi aku yang ketinggian.
Berkisah tentang Fiska, jurnalis yg mendapat tugas meliput berita tentang seorang pegawai toko batik cap ternama di Jogja oleh bosnya sebagai hukuman akibat mangkir kerja selama seminggu karena putus cinta.
Pengalaman Fiska di Jogja cukup melelahkan dengan berita nyeremin yg harus diselidikinya, bener2 penuh misteri.
•••
Penggambaran cerita ditulis dengan bahasa yg ringan sehingga cukup enjoy saat dibaca. Dikisahkan menurut sudut pandang orang ketiga. Unsur yg terdapat dalam kisah ini didominasi oleh ketegangan di beberapa bagian yg mencekam serta misterius, tetapi ada pula sedih, senang juga humor dan roman. Konflik yg muncul cukup unik dengan penyelesaian yg seru dan bikin gereget. Kisah ini penuh dengan hal2 yg jarang diduga pembaca sehingga cukup mengejutkan.
Karena saya orang Jogja dan novel ini bersetting di Jogja, jadilah saya miliki dan review novel Young Adult ini. Ternyata tidak mengecewakan. Lebih dari sekedar lumayan. Saya suka dengan Fiska dan tentu saja Wagiman Diki. Sudah saya tebak pasti tokoh antagonisnya dia, sudah saya curigai sejak awal, yang saya heran kok mau-maunya Pak Bos Fiska memberi rekomendasi Fiska ke situ ya? Mungkin ada kisah lanjutannya dan Pak Bos yang memang menyebalkan ini ikut terjun ke lapangan membantu Fiska dan juga Wid hahaha.
Temanya sih suka banget, misteri. Tapi ceritanya yang aku kurang suka karna berbau mistis, di dalamnya ada tokoh makhluk halus. Satu hal lagi, kebetulan yang benar-benar kebetulan bagaimana si penjahat bisa bertemu dengan tokoh utamanya. Waktu baca alis kiri & kananku ga tahan untuk bertemu (haahaha), ini kenapa kebetulan banget?! Bagusnya novel ini adalah gaya penulisannya mengalir, enak untuk dibaca. Alurnya juga jelas dari awal sampai akhir. Cuma bisa ngasih 2 bintang untuk novel ini.
2,5 bintang, lumayan lah.. Di novel ini ada unsur mistisnya. Serasa lagi nonton FTV jaman dulu yang isinya pesugihan dan makhluk2 gaib. Jangan berharap ada romantisme ya~