Bagaimanapun, aku hanya gadis SMA. Selayaknya, saat ini aku sedang merasakan asmara.
Tapi, justru seakan semua awan mendung dikirim dalam masa kehidupan yang katanya penuh warna ini.
Persaingan menjadi ketua ekskul tari di sekolah menyeret statusku sebagai penari jathil keliling yang dianggap rendah. Rey, satu-satunya sahabatku, tiba-tiba menjauh. Dan seakan itu belum cukup, Kakek mengusir Carl, guru baru yang menjadi idola di sekolah, hanya karena dia orang asing.
Tidak sekali aku berpikir bahwa tentu hidupku akan berbeda jika orang tuaku bersedia tetap di sisi.
Tampaknya, waktu tidak selalu menjadi obat mujarab bagi luka. Bahkan setelah jeda yang lama, beberapa hal dari masa lalu masih bergelayut. Termasuk pertanyaan kepada orang tuaku: "Kenapa kalian memilih pergi?"
Tapi, semakin dekat dengan tujuan, aku bimbang. Benarkan aku ingin tahu jawaban mereka?
KOVER novel ini cukup simpel, dengan warna dasar putih dan background seperti kertas yang lecek. Gambar kuda-kudaan mewakili penari jathil. Dua frame berisi foto perempuan dan laki-laki mungkin menggambarkan sosok orang tua Kinanti. Kemudian, dari membaca judul novel ini, susah ditebak alur ceritanya. Lain dengan, misalnya ketika saya mendengar judul novel terbaru Christian Simamora, "Tiger on My Bed" dan "Meet Lame". Yang pertama langsung bisa saya bayangkan sebagai novel contemporary romance yang tokohnya disimbolkan sebagai harimau, dan melibatkan banyak adegan hot di atas ranjang. Kalau yang kedua, bisa dibayangkan sebagai kisah kebalikan dari "meet cute". Nah, kembali ke novel ini. "Interval", judul ini mungkin mewakili masa antara kejadian di masa lalu (kisah orang tua Kinanti) dengan kejadian masa kini (kehidupan Kinanti masa SMA) dan masa depan (petualangan Kinanti mencari orang tuanya).
Tema keluarga sangat terasa dari narasi soal kakeknya dan perjalanan Kinanti ke Amerika demi menemui keluarganya. Proses mencari ini yang kemudian menjadi sarana penulis membawa pembaca menikmati latar Amerika. Apa Kinanti bisa menemukan keluarganya? Mending baca saja novelnya, yang pasti, "Apa yang kita mau, belum tentu dikabulkan Tuhan."
sejujurnya, saya bingung mau komen gimana. karna.... banyak. greget :')
untuk ukuran novel setebal 176 halaman, ada terlalu banyak topik yang dibahas di sini. - Kin sebagai seorang siswa SMA yang juga berprofesi sebagai penari jathil - Kin dan masalah keluarganya - Kin dan beragam patah hatinya - Kin dan LGBT - Kin dll
gapapa aja sih kalo emang terlalu banyak yang ingin dibahas asalkan tuntas dan gak terburu-buru. tapi, di novel ini, ada banyak yang terlihat seperti ditempel atau dipaksa untuk masuk, utamanya masalah LGBT. Toh, pandangan Kin terhadap hal itu juga ga dieksplor lebih jauh.
ada banyak hal lain yang bisa dieksplor lebih dalam di novel ini, untuk menunjang kesesuaian cerita dengan konflik awal yang Kin alami, tapi justru hanya lewat gitu saja! seperti momen pertama kali ketemuan sama Ibunya. atau ketika Kin dan Rey bertengkar. padahal, kalau drama-drama seperti itu dijabarkan momennya, bisa jadi momen pengaduk emosinya pembaca banget. tapi nggak ada! hanya dijabarkan dalam satu-dua paragraf, setelah itu berpindah ke bahasan lain.
alurnya yang kecepetan banget perpindahannya, namun penggalan dari bab sebelumnya ke bab baru yang ternyata sudah beda masa—contoh, bayangin dari adegan masih kelas 2 SMA, tiba-tiba aja pindah ke masa 6 tahun kemudian tanpa dipenggal oleh sesuatu yg uwow atau yang minimal ada penjelasan logisnya sampai harus akhirnya 6 tahun kemudian itu muncul. itu saja. gak ada korelasi, hanya memang alurnya maju yang benar-benar maju banget.
pilihan gaya berceritanya, mengingat sejak awal digambarkan sebagai siswa SMA—meski berkembang dan semakin dewasa usianya—bahasa yang digunakan terlalu kaku. walaupun memang ada masa ketika Kin ke New York untuk menemui ortunya—dan di sana mungkin pas aja kalo gayanya serasa terjemahan, mengingat ada beberapa perbincangan yang terjadi dengan Ayahnya Kin, Mrs. Anne, Seth, Bas yang memang bule—namun saat Kin masih SMA, masih berbicara dengan oeang-orang Indonesia, bahkan daerah jawa, bisa lah bahasanya lebih nyantai lagi, tak terlalu kaku baku gitu. apalagi, kalau melihat cover dan blurbnya, pembaca akan mengira bahwa novel ini akan mengangkat tema lokalitas/kedaerahan tentang penari jathil, reog, dan jatim. tapi justru hal itu tidak dibahas dan diulik lebih dalam. rasanya lagi-lagi seperti tempelan. masalah yang dialami oleh Kin terkait dengan statusnya sebagai penari jathil pun terbatas hanya pandangan buruk teman-temannya. coba kalau diterangkan bagaimana, misalnya, gerakan-gerakan tariannya. atau sedikit sejarah. atau diskusi tentang hal tsb dengan rey, atau dimas, atau kakek, atau siapapun. yah atau gimana, lah. saya sampai bingung.
intinya, saya hanya bisa memberi rating 2 bintang. semangat buat penulis! :')
Sebagai penari jathil yang sering menerima pekerjaan dari kampung ke kampung, ada saja hal-hal yang membuatku sedih. Tak jarang para penari sepertiku mendapat perlakuan tak adil.
Satu-dua minggu novel ini tersimpan rapi dengan bungkusnya di atas lemari. Kegiatan PLP membuat saya harus rela sedikit menyedot waktu baca. Beberapa hari sebelum membacanya sampai selesai, saya mengecek Interval di akun goodreads dan sedikit terkejut dengan pendapatan bintangnya yang rendah. Ketika akan membacanya, saya melepaskan berbagai macam ekspektasi kemudian berhasil menamatkan Interval hanya dalam waktu sekitar 2-3 jam dan saya cukup puas.
Saya membaca bagian awal Interval dengan tersendat-sendat sejujurnya, entah kenapa, meskipun kehidupan Kinanti dengan background profesinya sebagai penari jathil keliling sangat menarik. Bagaimana lingkungan dan bahkan ayah temannya sendiri terkesan tidak setuju dengan jalan hidup yang dipilih oleh Kinanti. Misteri tentang keabsenan orang tuanya juga menjadi teka-teki yang membuat penasaran. Beberapa teka-teki lain cukup mudah ditebak, orientasi seksual Ray misalnya.
Baru setelah masuk pada masa Kinanti dewasa dengan perbedaan kondisi hidupnya yang cukup kontras, rasanya nyaman sekali dibaca. Pemaparan perjalanan Kinanti di Amerika adalah bagian yang saya nikmati. Narasinya enak dibaca, plot twisnya juga ada. Tapi pada bagian Ray bunuh diri entah kenapa membuat saya kecewa, saya jadi merasa karakter Ray yang dari awal dibangun pada akhirnya hanya untuk dimatikan. Sedikit tidak terduga. Menilik dari kisah Ray yang orientasi seksualnya pada sesama jenis menjadi bahan saya untuk menduga-duga orientasi seksual Seth, dan ternyata benar dia juga begitu.
Ketika membaca bagian Kinanti pulang ke Indonesia, saya masih tidak tahu kemana alur akan berakhir, dan ternyata alur berakhir dengan kisah cinta yang manis antara Kinanti dan Dimas. Yeah, saya setuju setelah...
1.5 bintang buat isinya. Saya genapkan jadi 2 buat kovernya yang cantik.
Kinanti adalah gadis penari jathil keliling yang tinggal berdua dengan kakeknya, sang pengrajin topeng Bujang Ganong. Meski masih SMA Kinanti harus sering-sering tampil sebagai penari untuk mendapatkan uang. Kakek yang selama ini membesarkannya sedang sakit. Kinanti memang suka menari, dia menggantungkan hidup pada menari. Namun, sampai kapan pun Kinanti tidak pernah bisa menikmati bisik-bisik negatif soal aktivitas menarinya. Untungnya ada Rey, sahabat baik Kinanti yang selalu bersamanya.
Akan tetapi, kehidupan Kinanti tidak selalu berjalan baik-baik saja. Ada Ratih yang mengintimidasinya di kelas ekstakurikuler tari. Ada Dimas yang membuat hati Kinanti berdetak cepat. Juga ada Carl, guru baru yang mengajar bahasa Inggris, yang mengantarkan Kinanti pada kenyataan lain dalam hidupnya.
Ketika mulai membaca, saya pikir Interval akan berisi perjuangan Kinanti sebagai seorang penari. Tentunya dengan bumbu roman dan cerita mengenai orang tuayang pergi meninggalkannya. Terlebih penulis mengekspresikan cukup banyak perihal gosip buruk yang beredar di sekitar Kinanti sebagai penari jathil keliling.
Hanya saja, tuntutan profesi memaksaku untuk berdandan sedikit menor, sehingga lekat dengan status perempuan penggoda…. (h. 16)
Lalu, pembaca akan menemukan lebih banyak kisah Kinanti di sekolah. Kisah cintanya, kisah perjuangannya di ekstrakurikuler, dan kisah kegiatan belajarnya. Saya masih menanti soal perjuangan-menjai-penarinya-Kinanti, atau soal orang tua Kinanti. Tapi, kemudian …. Interval maju begitu cepat dan tahu-tahu Kinanti sudah dewasa dan dia sedang dalam perjalanan ke New York.
Judul : Interval Penulis : Diasya Kurnia Penyunting : Ainini Penerbit : Ping, Diva Press Cetekan : Pertama, Februari 2016 Halaman : 176 hlm ISBN : 978-602-391-058-5
Membaca novel ini, akan mengingatkan kita tentang seni budaya reog yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo yang dianggap sebagai kota asal kesenian reog. Dalam wikipedia reog sendiri adalah salah satu budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat. Namun seiring berjalannya waktu, seni budaya ini pun mulai dilupakan sebagaimana seni budaya lain di Indonesia. Sebuah kenyataan yang membuat miris. Bahkan sempat tersiar Reog Ponorogo malah dikalim sebagai seni budaya Malaysia.
Kisah berawal dari Kinanti seorang gadis SMA yang juga menjadi penari jathil—penari yang menunggang kuda kepang yaitu kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu dan dicat menyerupai kuda di pertujukan tari reog sebagai gambarana pasukan berkuda. (hal. 14) Sejak kecil Kinanti memang sangat suka menari yang kemudian dari profesi itu dia bisa melanjutkan sekolah hingga SMA. Mengingat sejak kecil dia hanya dirawat sang kakek yang hanya bekerja sebagai senima pembuatan topeng Bujang Ganong.
Pertama kali mengetahui nama tokoh utama dalam cerita ini, saya langsung jatuh cinta. KINANTI. Nama tersebut menurut saya Indonesia banget! Sangat pas dengan kultur budaya yang menjadi setting cerita yaitu kota Ponorogo. Tentu saja, Ponorogo dengan tari reognya yang khas juga tak luput dimasukkan oleh penulis ke dalam cerita.
Perpaduan antara seni reog dan teka-teki orangtua Kinanti disambun gkan dengan cara yang pas. Nggak berlebihan, sehingga saya nggak melewatkan satupun adegan tiap adegan. Melalui novel ini saya juga mendapatkan sebuah pesan moral, yaitu janganlah memandang rendah suatu profesi, apapun itu. Karena kita sebenarnya tidak akan pernah mengetahui apa yang mereka lakukan, sebelum kita benar-benar pada posisi mereka. Penari jathil juga seniman, bro! Jangan diremehkan!
Aku rasa Cerita yang disuguhkan jelas dan runut. Aku bisa langsung melahap novel ini dalam sehari. Namun ada beberapa kata yang menurutku tidak pada tempatnya dan membuatku harus membaca ulang apa yang dimaksudkan kata itu. Terlebih lagi cepatnya alur yang membuatku sedikit bingung dan pada akhirnya di pertengahan bab aku sepertinya kurang menikmati alur dan emosi yang ada. Berbeda pada awal-awal bab yang disuguhkan. Semua konflik ada proporsi masing-masing. Cinta,persahabatan, budaya dan keluarga. Semuanya ada. Novel ini indonesia banget loh! Salut deh sama kak Diasya. Sebagai novel debut, menurutku sudah lumayan bagus. Aku juga berharap bisa mengunjungi latar novel ini yakni, kota Ponorogo, suatu saat nanti.
Sebetulnya cerita ini cukup menarik. Sang penulis mengangkat unsur lokalitas sebagai “menu” utama. Hanya saja, di tengah-tengah menuju akhir, saya mulai kehilangan fokus cerita. Alurnya memang runut, tetapi tahu-tahu alur sudah melompat jauh. Tiba-tiba saja diceritakan kalau Kinanti tengah berada di New York.
setengah awal dari buku ini, alurnya cukup lambat tapi asyik dinikmati karena tentang sekolah dan segala masalahnya
sampai bagian tengah, cerita lompat pada beberapa tahun berikutnya setengah bagian selanjutnya ritme cerita mendadak cepat perubahan karakter pun terasa agak dipaksakan entah kenapa, sya lebih suka karakter kinanti saat masih sekolah dibanding setelah dewasa