Jump to ratings and reviews
Rate this book

Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida

Rate this book
Buku ini dapat digunakan untuk memahami teori interpretasi pada umumnya dan untuk melengkapi studi filsafat, teologi, sastra, sosiologi, etnografi ilmu komunikasi, ilmu hukum, ilmu politik. Tidak semua tokoh secara eksplisit menyentuh persoalan interpretasi skriptural. Schleiermacher, Bultmann dan Ricoeur memang sibuk dengan kitab suci. Namun Dilthey mengembangkan hermeneutik untuk metode ilmiah, Heidegger untuk ontologi, Gadamer untuk pemahaman manusia dan kebudayaan pada umumnya, Habermas untuk kritik ideologi, dan Derrida untuk dekonstruksi metafisika. Tentu persinggungan mereka dengan eksegesis tidak dapat dihindarkan juga.

344 pages, Paperback

Published January 1, 2015

30 people are currently reading
212 people want to read

About the author

F. Budi Hardiman

27 books36 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
54 (51%)
4 stars
34 (32%)
3 stars
11 (10%)
2 stars
2 (1%)
1 star
3 (2%)
Displaying 1 - 12 of 12 reviews
Profile Image for Dwi Adhe.
1 review
September 28, 2020
Buku ini merupakan pembukuan dari makalah Hardiman ketika mengisi seri kuliah filsafat di Komunitas Salihara Art's Center, Jakarta. Hermeneutik berasal kata dr "Hermes", sebuah dewi dari mitologi Yunani yang memiliki tugas untuk menyampaikan pesan para dewa kepada umat manusia. Pesan tersebut harus Hermes terjemahkan terlebih dahulu karena tidak mungkin manusia bisa langsung memahami apa yang dikatakan oleh para dewa. Seiring berjalannya waktu, hermeneutika mulai digunakan manusia sebagai cara memahami, seperti untuk memahami bahasa lisan dan tulisan.

Hardiman mencoba memetakan ihwal hermeneutik dari sudut pandang para filsuf mulai dari Schleimarcher hingga Derrida. Setiap dari bab buku ini membahas 1 tokoh dengan aliran pemikiran hermeneutiknya dan terdapat total ada 8 tokoh: Schleimarcher, Dilthey, Heidegger, Bultman, Gadamer, Habermas, Ricoeur, Derrida.

Bagi anda yang memiliki minat dalam bidang filsafat hermeneutik (herme), sosiologi, dan ilmu sosial yang relevan, buku ini sangat wajib untuk anda baca.
Profile Image for Femi.
205 reviews18 followers
July 14, 2020
Aku sudah lumayan sering mendengar kata hermeneutik dilontarkan dalam diskusi-diskusi, namun tidak pernah betul-betul mengerti definisinya. Berhubung aku menikmati membaca Humanisme dan Sesudahnya yang juga ditulis oleh F. Budi Hardiman, kurasa tidak ada salahnya aku membaca bukunya yang satu ini.

F. Budi Hardiman membahas hermeneutik dari perspektif delapan pemikir modern hermeneutik yang kebanyakan adalah intelektual besar Jerman dan Prancis. Bahasan ini dibagi menjadi delapan bagian. Karena membahas tiap hermeneutik pemikir-pemikir ini lumayan menyusahkan, aku akan membagi bahasan berdasarkan jenis hermeneutik. Yang pertama dibahas adalah hermeneutik reproduktif milik Schleiermacher dan Dilthey. Schleiermacher, yang hidup dalam zaman Romantik, meyakini memahami sebagai sebuah seni untuk menghadirkan kembali maksud penulis dari zaman lampau ke zaman sekarang dengan memosisikan diri sang penafsir sebagai penulis. Dilthey, berbeda dengan Schleiermacher, melihat memahami sebagai sebuah metode ilmu-ilmu kemanusiaan dan menolak bahwa memahami dapat dicapai dengan empati psikologis semacam itu. Dilthey berpendapat bahwa memahami dicapai dengan interpretasi yang berfokus pada dunia sosial-historis.

Selengkapnya: http://thebookswanderer.blogspot.com/...
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
245 reviews40 followers
January 25, 2021
Selalu menyenangkan belajar filsafat dari tulisan F Budi Hardiman. Penjelasannya runut dan terlihat memang diperuntukkan pembelajar pemula. Pada awalnya saya tidak tahu menahu apa itu hermeneutik. Buku ini memberikan gambaran umum hermeneutik hingga teori-teori para filsuf yang dirunut searah zaman. Setelah selesai membacanya saya tersadar bahwa seni memahami, entah itu teks atau pemikiran orang lain, sangatlah penting diketahui. Dengan memahami suatu fenomena lebih baik, kita akan mengembangkan horizon pemikiran kita dan tidak menelan mentah-mentah apa yang kita lihat atau ketahui.
Profile Image for Book O Latte.
100 reviews5 followers
September 28, 2022
Mengapa mempelajari hermeneutik itu penting dalam memahami kitab suci?

Buku ini dipakai untuk pengantar kuliah Hermeneutik, berisi sejarah perkembangan ilmu Hermeneutik, tokoh-tokoh utamanya, dan pemikiran-pemikiran mereka. Tapi yang mau aku bahas di sini sebagian kecil saja dari bukunya, topik paling menarik dari ilmu hermeneutik, yaitu penggunaan hermeneutik untuk memahami teks suci.

Ya, hermeneutik awalnya adalah metode yang dikembangkan untuk memahami kitab suci. Lawan dari hermeneutik adalah pembacaan kitab suci secara literalis, kata per kata, yang diterima maknanya secara harfiah. Sudah sejak lama pembacaan harfiah dari kitab suci ini menimbulkan masalah, misalnya mendorong timbulnya gerakan radikalis agama yang ingin menerapkan hukum positif berdasarkan pemahaman literalis mereka. Ujung-ujungnya, muncullah teroris yang menggunakan pemahaman literalis untuk membenarkan kekejian yang mereka lakukan. Karena sifatnya yang berusaha memahami teks suci lebih dari sekedar apa yang tertulis, ilmu hermeneutika cenderung dimusuhi oleh kalangan literalis, dianggap bid'ah, bahkan sesat.

Kenapa tidak cukup memahami kitab suci hanya dengan pembacaan harfiah? Karena telah terbentang jarak yang sangat jauh antara diri kita sebagai pembaca masa kini, dengan teks yang ditulis ribuan tahun tersebut. Banyak sekali makna yang telah berubah seiring jaman. Sebagai contoh, mari kita ambil makna kata akal. Kita yang hidup di dunia modern, cenderung mengartikan bahwa akal adalah kecerdasan dalam memahami sains. Lalu kita melihat bahwa orang-orang yang cerdas secara sains ternyata banyak yang memilih jadi ateis. Kemudian diambil kesimpulan bahwa orang yang berakal ternyata malah jadi ateis, membuang iman pada Tuhan. Maka sebagian kalangan beriman menganggap bahwa menggunakan akal itu sangat berbahaya. Akhirnya muncul alergi terhadap penggunaan akal. Hal ini marak di kalangan umat Islam, padahal Al Qur'an sangat menekankan agar orang beriman itu mengolah akalnya. Tentu yang perlu kita telusuri adalah, apakah makna kata akal yang ditekankan dalam Al Qur'an itu sama dengan makna kata akal yang kita pahami sekarang?

Itu baru satu kata. Di buku ini dijelaskan bahwa makna kata dosa dan penebusan, telah mengalami perubahan seiring zaman. Bahkan kata 'agama' pun mengalami pergeseran makna. Di masa kini kita cenderung mengartikan 'agama' sebagai label-label Islam, Kristen, Yahudi, Buddha, Hindu, dengan segala atribut organisasinya (ritual, sistem hukum). Hal ini terjadi karena kita hidup di masa ketika agama-agama telah menjadi suatu institusi resmi dengan hirarki dan aturan yang ketat. Tapi ribuan tahun yang lalu ketika kehidupan manusia masih sangat sederhana, apakah yang sebenarnya disebut agama itu?

Satu hal yang sering diperdebatkan jika bicara teks suci adalah, dengan sudut pandang apakah kita harus membacanya? Apakah tepat jika kita membacanya dengan sudut pandang ilmiah modern dan mengajukan bukti kebenaran kitab suci sesuai sains? Ataukah sebenarnya kitab suci lebih merupakan kisah moral yang lebih baik didekati dengan cara pandang hikmah? Yang jelas, pemaksaan membaca kitab suci dengan pendekatan ilmiah seringkali menghasilkan cocoklogi yang dipaksakan. Sedangkan menganggapnya sebagai kisah moral memerlukan pengetahuan konteks yang mumpuni agar tidak salah mengambil pelajaran.

Demikianlah, hermeneutika mengajak kita untuk mencoba memahami lebih dari sekadar yang tertulis, dengan menyadari bahwa pemikiran dan kebiasaan kita masa kini telah berjarak jauh dengan teks suci yang kita coba pahami. Karena itu hermeneutik kemudian berkembang, tidak hanya berupa metode untuk memahami teks, tapi juga memahami budaya, sejarah, politik, bahkan memahami 'kegilaan' diri sendiri. Pak Budi Hardiman memberi judul buku ini 'Seni Memahami', karena memang demikianlah tujuan hermeneutik, untuk memahami segala hal yang ada di luar diri kita, dan pada akhirnya, memahami diri kita sendiri.

'Memahami adalah cara untuk 'menjadi' (bereksistensi/menjadi manusia)'-- terjemahan bebas dari kata-kata Martin Heidegger, salah satu pemikir hermeneutik.

Mari menjadi manusia, lewat memahami.

-ani-
Profile Image for rekasakti.
25 reviews10 followers
May 25, 2018
Hermeneutik modern, yang dimulai dari Schleiermacher hingga puncaknya pada Gadamer, memang tidak akan langsung menghentikan radikalisme dan fideisme dalam agama, sebab faktor lain yang saling terkait, seperti: kekuasaan, ideologi, ekonomi, dan psikologi. Namun, setidaknya, hermeneutik dapat membuka pendekatan-pendekatan yang menggunakan nalar untuk memahami makna kitab suci, seperti eksegesis dan arkeologi kitab suci. Dan dalam jangka panjang, membantu pembaca bersikap kritis dan dewasa dalam membaca kitab suci, bukan malah tampak primitif, konyol, bahkan dungu seperti tampak dalam pembacaan literal.
Profile Image for Ginan Aulia Rahman.
221 reviews23 followers
June 22, 2019
Belajar Hermeneutika bermanfaat sekali buat saya. Mungkin akan bermanfaat juga buat semuanya. Saya jadi tahu bagaimana melakukan interpretasi dengan berbagai gaya dan perspektif. Saya juga jadi tahu bagaimana manusia memahami dan memegang keyakinannya.

Buku ini bagus, sangat mendasar. Saya kira, siapapun bisa membaca dan paham apa yang ditulis.
Profile Image for Manuel Marbun.
40 reviews
April 10, 2022
Buku ini adalah kenalan saya dengan F. Budi Hardiman. Next baca karya beliau yang lainnya.
Displaying 1 - 12 of 12 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.