“Jika seseorang mengidentikkan ‘aku’-nya dengan wujud materi maka bersiaplah ia untuk kecewa dan babak belur. Ketika orang lain memuji mobilnya, ia akan merasa ikut terpuji. Namun ketika mobilnya tabrakan dan penyok-penyok, dirinya pun ikut merasa hancur dan penyok-penyok. Mobil dan dirinya seolah sudah menyatu.”
Itulah ilustrasi tentang rapuhnya identitas-materiil ketika tidak disangga oleh pola pikir bahagia. Ya, pola pikir. Bukan sekadar pengetahuan tentang kebahagiaan yang mudah terlupakan. Poin pola pikir bahagia itu antara lain:
• Sayangi hati (jiwa rabbani), sumber syukur dan cinta kepada Tuhan yang akan selalu membuahkan gairah hidup, daya tahan, dan harapan. Kekuatan inilah yang akan mengalahkan berbagai fluktuasi hidup, sehingga hal-hal fisik sama sekali tidak mempengaruhi kebahagiaan diri.
• Rawat dan sayangi anugerah tubuh, dengan makanan halal dan baik secara medis, sehingga ia mampu menyangga dan mendukung kesehatan jiwa-jiwa yang bertumbuh kembang di dalamnya.
Inilah buah pengalaman dan renungan Mas Komar—panggilan akrab Prof. Dr. Komaruddin Hidayat—tentang identitas diri sejati anak manusia, tentang virus-virus yang merusak kebahagiaan, dan akhirnya tentang pola pikir bahagia.
Prof. Dr. Komaruddin Hidayat , nama yang tidak asing lagi di dunia dakwah Islam, khususnya dakwah dengan pendekatan sufistik. Sejak menyelesaikan S3nya dalam bidang filsafat di Universitas Ankara, Turki pada 1990, pria yang biasa dipanggil Mas Komar ini bergabung dengan Yayasan Wakaf Paramadina di Jakarta. Dari Paramadina inilah ia mulai mengguratkan namanya sebagai cendekiawan Muslim yang cukup diperhitungkan. Memulai karirnya sebagai dosen dan kemudian Direktur Eksekutif Paramadina, ia lalu dipercaya menjadi Ketua Yayasan yang didirikan cendekiawan Nurcholish Madjid tersebut. Penguasaan ilmu-ilmu agamanya yang sangat mumpuni, ditambah reputasi publik yang disandangnya sebagai intelektual kelas wahid di negeri ini, membuatnya begitu sibuk memenuhi undangan diskusi, ceramah dan acara unjuk wicara (talkshow) baik di televisi maupun radio. Sejak Januari 2005, Mas Komar resmi diangkat sebagai Direktur Program Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Kita patut bersyukur, buku yang inspiratif seperti ini terus bermunculan di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir ini.
Beberapa buku lain, ratusan artikel, dan puluhan video tentang kebahagiaan sudah ditulis sejak tahun 2014 yang isinya tentang berbagai penelitian di bidang neuroscience atau positive psychology.
Ternyata penelitian tentang kebahagiaan sudah berlangsung selama beberapa puluh tahun terakhir ini. Hasilnya adalah sebuah definisi baru tentang kebahagiaan dan bagaimana untuk mendapatkan kebahagiaan, yaitu sebuah kondisi otak di mana otak berfungsi maksimal, sehingga lebih cerdas, kreatif, inovatif, penuh solusi, tak mudah stres atau depresi, tubuh lebih sehat dan lebih cenderung pada kebajikan atau spiritualitas.
Sebelumnya buku ini pernah diterbitkan dengan judul New Life.
Psikologi Kebahagiaan membahas tentang kebahagiaan hakiki. Seringkali kita melihat ke luar diri kita, melihat orang lain tampak bahagia dengan segala yang dimiliki. Sejatinya kebahagiaan bukanlah tentang apa-apa yang sanggup kita miliki.
Buku ini mengajak pembaca untuk melihat ke dalam diri dan telah menjawab pertanyaan penting (yang saya tanyakan sejak berumur 11 tahun), dan pertanyaan itu diabaikan sebagian orang: Siapa aku?
Mas Komar mengajarkan bahwa hidup itu journey yang tiada akhirnya & sayangi hati untuk bersyukur cinta kepada Tuhan yang selalu kasih kita harapan, gairah untuk menjalani kehidupan dll. "Dalam diri manusia terdapat jiwa rabbani, yang akan merwsa bahagia ketika berhasil meniru dan mewujudkan sifat Tuhan yang Maha-Rahman dan Rahim kepada sesamanya. Kita pun terkesan dan senang terhadap pribadi yang pengasih dan murah hati" Salah satu kutipan yang aku suka.
ada tipe buku yang kita bahkan udah tau berapa ratting yang bakal kita kasih sebelum selesai bacanya, bahkan saat ada di paruh halaman keseluruhan.
beda banget sama psikologi kematian. yang ini menurut saya kurang bernyawa, kurang pas dengan judulnya. mungkin sebaiknya dikasih judul "psikologi jiwa" or semacamnya.