‘Allahu Akbar, Allahu Akbar, Asyhadu alla ilaha illallah’…. Itulah suara adzan yang terdengar melalui stetoskop yang diletakkan di atas dada seorang pasien yang telah meninggal dunia.
Dokter Jasim al-Haditsy berkata, "Saya rasa suara itu adalah adzan subuh. Kemudian saya bertanya kepada salah seorang perawat, ‘Jam berapa sekarang?’ Ia menjawab, "Jam satu malam." Saya tahu bahwa saat ini belum tiba saatnya adzan subuh, kemudian saya kembali meletakkan stetoskop di atas dadanya dan saya kembali mendengarkan adzan tersebut selengkapnya.
Maka saya bertanya kepada keluarga pasien yang meninggal ini tentang keadaannya semasa hidup, mereka menjelaskan, "Ia bekerja sebagai muadzdzin pada sebuah masjid, biasanya ia datang ke masjid seperempat jam sebelum tiba waktunya atau kadang lebih awal lagi, ia selalu menghatamkan Al-Qur`an dalam tiga hari dan sangat menjaga lisannya dari kesalahan.”
Itulah salah satu kutipan kisah dalam buku ini, dan masih banyak lagi kisah-kisah lain yang sarat dengan pelajaran dan nasehat.
Penulis menyampaikan sebuah kisah, kemudian mengungkap keajaiban-keajaiban dari kisah tersebut, dan ditutup dengan pelajaran dan hikmah yang dapat diambil dari setiap kisah-kisah itu.
Hal yang menarik dari buku ini adalah bahwa kisah-kisah yang diceritakan oleh penulis betul-betul kisah nyata yang dialaminya selama tugas di rumah sakit Riyadh, Saudi Arabia hingga sekarang. Di samping sebagai seorang dokter spesialis bedah dan jantung, penulis juga seorang dai yang masyhur, sehingga setiap pelajaran dan nasehat yang disampaikan dibalik kisah-kisah dan kesaksiannya selalu disertai dengan argumen dan dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah. Beliau juga sering menyampaikan dakwahnya di masjid-masjid dan pada acara seminar-seminar.
Semoga pelajaran dari kisah-kisah tersebut dapat menjadi nasehat dan tauladan bagi kita semua. Amiin.
Sangat, sangat bagus untuk jiwa yang sedang gundah. Seorang dokter bedah jantung berbagi pengalaman spiritualnya. Caranya bertutur tidak menggurui, banyak sekali hal yang bisa diambil sebagai pelajaran.
Ketika pekerjaan kita dekat dengan kematian seperti dokter Khalid ini, banyak sekali pelajaran dan hikmah yang bisa dipetik dari setiap episode kehidupan. Dan mengingat kematian adalah salah satu cara paling jitu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Percaya atau tidak, buku ini saya habiskan hanya dalam waktu satu hari saja! Dan satu hal penting yang selalu penulis tekankan:
Singkat, padat, penuh hikmah, adalah tiga deskripsi yang mampu saya gambarkan untuk buku ini. Singkat karena baik cerita maupun hikmah serta dalil yang berkaitan disampaikan dengan bahasa yang lugas, padat karena informasi yang terkait inti pembicaraan tidak banyak yang bertele-tele, penuh hikmah karena banyak cerita yang mendukung dalil-dalil baik dari hadits maupun dari Alquran.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Asyhadu Alla Ilaha Illallah..” Itulah suara adzan yang terdengar melalui stetoskop yang diletakkan di atas dada seorang pasien yang telah meninggal dunia. … saya bertanya kepada keluarga pasien yang meninggal dunia ini tentang keadaannya semasa hidup, mereka menjelaskan, “Ia bekerja sebagai muadzdzin pada sebuah mesjid…
Seperti itulah kutipan yang tertulis di cover belakang buku ini. Dan kutipan itu jugalah yang kemudian menyentil rasa ingin tau-ku lebih banyak lagi tentang isi buku ini. Beberapa bulan belakangan, aku dihadapi dengan beberapa kabar duka. Salah satunya kabar meninggalnya teman SMUku dulu. Aku terkejut bukan main. Dia masih sangat muda, menurutku. Belum genap setahun suaminya meninggal, menyusul pula dirinya. Putra semata wayangnya yang baru berusia 3 tahun akhirnya menjadi yatim piatu. Kematian memang mutlak urusan Tuhan. Tak ada yang tau kapan, di mana serta siapa yang akan terlebih dahulu menuju ke sana. Meski demikian, tak banyak juga dari kita yang berlomba-lomba mempersiapkan bekal ke sana. Termasuk diriku yang kerap lalai dan alpa mengingatNya.
Membaca Kesaksian Seorang Dokter membuatku berpikir tentang kematian. Bagi sebahagian orang kematian ternyata bukanlah hal yang menakutkan. Ada hal yang sangat indah di dalam peristiwa tersebut. Indah karena ternyata kematian justru dirindukan oleh mereka yang ingin bertemu dengan Sang Penciptanya. Bukankah bisa bertemu dengan yang dirindukan adalah moment yang sangat indah? Bahkan untuk beberapa orang, mereka tak kuasa menggambarkan kegembiraan ketika bisa bertemu dengan yang dirindukannya. Di buku ini penulisnya, Dr. Khalid bin Abdul Aziz Al-Jubair, seorang dokter spesialis bedah dan jantung di Riyadh berbagi pengalaman tentang hal itu.
Jika ditanya, aku sendiri masih takut dengan kematian. Aku takut karena aku merasa belum siap menuju ke sana. Aku takut dengan segala konsekuensi yang harus aku terima akibat dari apa yang aku lakukan selama hidupku. Aku pikir apa yang aku rasakan normal. Alhamdulillah di buku ini aku kemudian seperti diingatkan kembali. Cukuplah kematian sebagai peringatan (hal 37). Penulis mencoba mengingatkan aku untuk selalu introspeksi diri. Kalau memang takut, persiapkan semuanya dengan baik. Lebih kurang seperti itulah pesan yang aku tangkap.
Begitu banyak pengalaman penulis ketika berhadapan dengan orang-orang yang mati dalam keadaan husnul khatimah, dan itu semua sebanding dengan ketaatan mereka kepada Allah selama di dunia. Mereka adalah orang-orang yang tak pernah meninggalkan shalat, yang selalu membaca Al-quran, menjaga lisan mereka dari perkataan-perkataan kotor dan menjaga hati mereka dari prasangka. Aku belajar dari kisah mereka.
Selain pengalaman tersebut di atas, penulis juga mengingatkan bahwa pemilik obat atas sakit yang diderita manusia adalah Allah swt. Siapapun yang sedang berjuang melawan sakit yang dideritanya dengan berobat ke rumah sakit dan berkonsultasi dengan dokter hendaknya tak lupa juga memperbanyak doa kepada Allah. Karena dokter hanyalah perantara, sedang yang memiliki kuasa untuk menyembuhkan tetaplah Allah yang Maha Segala-galanya.
Seperti kisah seorang ibu dari pasien bayi laki-laki yang belum genap berumur dua tahun. Setelah mengalami operasi, bayi tersebut mengalami pendarahan yang bisa berakibat pada proses kerja jantungnya. Reaksi ibunya? “Cukuplah Allah untukku, dan Dia sebaik-baik Pelindung. Ya Allah, sembuhkanlah ia jika kesembuhan adalah yang terbaik untuknya” Kemudian dia pergi melihat bayinya sambil membacakan Al-Quran. Alhamdulillah, dengan izin Alalh kondisi bayi tersebut membaik (Obat yang terlupakan, hal 62). Entah bagaimana jika aku yang berada di posisi si Ibu.
Sebuah pengalaman yang luar biasa yang tidak semua orang bisa mengalaminya. Semoga tiap kisah di buku ini menjadi pengingat bahwa tujuan akhir dari kehidupan ini adalah kematian. Sehingga masing-masing kita mulai berlomba-lomba untuk mempersiapkan bekal menuju ke sana.
Kesaksian Seorang Dokter ini merupakan himpunan kisah yang dialami sendiri oleh penulis. Namun ada juga beberapa kisah yang diceritakan oleh rakan-rakannya yang boleh dipercayai. Saya tergamam juga pada beberapa bahagian cerita. Betapa Allah benar-benar menunjukkan kekuasaannya di saat seorang hamba itu dipanggil menghadap-Nya. Penulis banyak membawakan kisah-kisah yang positif - husnul khatimah pesakit-pesakitnya.
Antara yang saya terkesan ialah kedengaran azan subuh dari jantung seorang muazzin yang baru meninggal dunia. Doktor yang memeriksa beliau untuk disahkan kematiannya terkejut dan takjub. Lantas apabila diajukan kepada ahli keluarganya ternyata semasa hidup akhlaknya mulia dan tidak pernah mengumpat orang.
Ada juga pesakitnya yang sebenarnya sihat tetapi merasakan dirinya sakit jantung, lemah dan sebagainya. Ini semua tanda-tanda kebergantungan kepada dunia dan kemewahan dan jauh daripada Allah. Masya Allah, macam-macam keadaan yang dijumpai oleh beliau.
Ya, doktor ini banyak menekankan perihal larangan mengumpat dan mencaci maki orang, menjaga solat malam, menjaga zikir pagi petang, dan mengajak orang kepada kebaikan. Sungguh, saya termenung memuhasabah diri. Betapa banyaknya dosa yang saya lakukan. Adakah saya masih sempat mengucap kalimah syahadah di akhir hayat saya? Penentuan kalimah itu didasari oleh iman dan amal soleh kita sewaktu hidup.
Doktor ini sunguh-sungguh menyeru supaya mejaga ketepatan solat, membaca al-Quran, menjaga solat malam dan tidak mengumpat. Dosa mengumpat akan membinasakan seluruh pahala yang kita lakukan.
Identitas Buku : Judul Buku :Kesaksian Seorang Dokter Pengarang :Dr. Khalid bin Abdil Aziz Al-Jubair, SpJp
Penerbit :Darus Sunnah Tebal Buku :176
Buku ini berisi tentang kesaksian seorang dokter tentang kisah-kisah nyata yang ada disekitar kita. Salah satunnya adalah jantung seorang muadzin yang mengumandangkan adzan.Dokter Jasmin seorang penasehat kesehatan jantung anak di RS. Angkatan Bersenjata Riyadh, mengceritakan suatu hal tang tidak lazim terjadi.Pada saat ia sedang bertugas, ada seorang pasien yang meninggal dunia, maka ia memastokan kematian pasien tersebut dengan meletakkan stetoskop. Lalu apa yang terjadi?Tiba-tiba ia mendengar suara adzan. Sungguh aneh bukan?Dokter Jasmin bertanya kepada keluarga pasien tersebut tentang keadaannya semasa hidup. Ternyata ia adalah seorang muadzin di sebuah masjid. Ia dikenal sebagai orang yang ramah. Selain kisah diatas, daa beberapa kisah lain: • Lari dari kenyataan • Penyakit hati • Muflis(oang yang pelit) • Umat yang terbaik • Cukuplah kematian sebagai peringatan • Tipu daya iblis • Macam-macam jantung manusia • Kebaikan dan keburukan Dari kisah diatas, kita dapat mengambil manfaat. Kita dapat menjadikannya sebagai cara untuk mensucikan hati. Kelebihan buku ini adalah bahwa kisah-kisah yang ada didalamnnya merupakan kisah yang betul-betul nyata. Kekurangan buku ini adalah tidak di sertakan gambar animasi didalamnnyaagar lebih menarik.
Banyak kisah nyata yang dituturkan oleh dokter. Semua kisah tersebut -lagi-lagi- menguatkan pijakan keimanan pada Allah SWT, Yang Maha Esa. Mulai dari kisah pembedahan pasien, kisah pasien yang telah divonis umurnya tidak akan lama lagi -yang ternyata mampu bertahan hidup hingga vonis itu luruh dengan sendirinya-, kisah rumah tangga dokter itu sendiri....
Sudah cukup lama, saya baca buku ini. Jadi sedikit ingatnya... ^_^