Madoka dan Yuichi adalah kakak beradik dengan beda umur yang cukup jauh dan sifat yang bertolak belakang. Madoka masih duduk di bangku SD, sedangkan Yuichi sudah SMA. Madoka menyukai Judo, sedangkan Yuichi adalah anggota band.
Keluarga mereka hidup baik-baik saja sampai Madoka menerima sebuah panggilan telepon dari orang yang tak dikenal.
Satu panggilan telepon mengubah keluarga yang tadinya baik-baik saja menjadi keluarga yang menyimpan rahasia satu sama lain.
Yukiya Shōji (小路 幸也) made his debut as a writer by winning the 2002 Mephisto Award for Sora o miageru furui uta o kuchizusamu (Singing an Old Song about Looking Up at the Sky). Among his many works published since then are the Tokyo bandowagon (Tokyo Bandwagon) series, Cow House, and Hanasaki kōji yonchōme no seijin (The Holy Man of Hanasaki Street). He works at the entertainment end of the literary spectrum, in genres ranging from family novels to mysteries.
"Kata orang, punya dua pusaran rambut itu tanda kebahagiaan, lho."
*brb cek rambut* *bercanda*
Satu lagi J-Lit menarik dari penerbit Haru. Saya selalu berekspektasi tinggi pada J-Lit terbitan Haru. Kenapa? Karena dari semua (iya, saya punya semua J-Lit nya Haru) rata-rata 85% pasti ceritanya menarik dengan tipe genre yang berbeda-beda. Mulai dari Akiyoshi dengan crime-mystery, ada Wind Leading to Love yang menarik jenis romansanya, juga Tsukasa Sakaki dengan Cinderella Teethnya yang catchy, ringan, tapi berbobot ceritanya, dalam artian ada ilmu yang didapat dari membaca novel tersebut.
Untuk Novel Double Spin Round yg disingkat DSR ini, saya menemukan genre tentang keluarga, jadi waktu baca novel ini kesannya kayak lagi nonton serian dorama yang genrenya tentang family-life kaya I'm Home-nya Kimura Takuya, namun dengan bobot misteri yang lebih ringan. Rahasia adalah tema yang paling menarik untuk dijadikan topik dalam genre semacam ini, dan di novel ini saya menemukan satu keutuhan tema cerita yang diceritakan dari dua sudut pandang kakak-beradik (yang saya curigai, adik perempuan yaitu Madoka ditulis oleh penulis wanita, dan kakak laki-laki Yuichi ditulis oleh sang penulis pria). Gaya bahasanya ringan, pujian juga untuk translatornya Koh Andry Setiawan. Baca terjemahan POV Madoka serasa baca tulisan murid saya yang kelas SD dengan tata bahasa yang lebih rapi, hehehe.
Hanya saja yang menyebalkan adalah.. kenapaa endingnya musti ngegantung sihhh~~~~ hahaha. Meskipun saya juga punya analisis yang sama dengan si tokoh yang bercerita, sih :p
"Kalau ragu dengan sesuatu, pertama-tama kita harus meragukan diri kita dulu."
Aku selalu suka dengan novel yang bertemakan keluarga. Saat membaca novel ini, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membacanya, sejak awal aku sudah dibuat penasaran dengan kisah keluarga Komiya.
Keluarga Komiya selama ini hidup baik-baik saja dan akur, dengan anggota keluarga yang saling menyayangi dan saling mendukung satu sama lain dengan caranya masing-masing. Beranggotakan seorang ayah, ibu dengan dua anak serta seorang kakek. Namun, sebuah panggilan telepon mengubah semuanya, membuat keluarga ini mempertanyakan satu sama lain. Benarkah ada sebuah rahasia yang ditutupi selama ini?
Diceritakan dari 2 sudut pandang seorang anak, baik Madoka dan Yuichi, kita akan melihat perbedaan usia membuat mereka menilai permasalahan keluarga dan memilih penyelesaian yang berbeda juga.
Madoka dan Yuichi, dua kakak beradik yang saling menyayangi dan mencintai. Saling mendukung dengan aktivitas masing-masing. Madoka sangat tertarik menjadi atlit yudo dan ingin meneruskan usaha dojo milik kakeknya, sedangkan Yuichi lebih tertarik di bidang musik dengan punya sebuah band, Double Spin Round.
Disini kita akan melihat bagaimana Madoka yang masih SD dan Yuichi yang duduk di bangku SMA melihat rahasia di dalam keluarganya, akibat sebuah panggilan telpon dari seseorang yang bernama Aishida Nobuko.
Melalui Madoka, kita akan melihat bagaimana seorang anak seusia Madoka yang seringnya dianggap anak kecil menyikapi semuanya. Ada rasa penasaran yang begitu dalam dengan sosok Aishida Nobuko. Sosok wanita yang awalnya disangkal dikenal oleh ibunya, namun ternyata sosok itu kembali muncul di festival kembang api. Namun, anehnya ibunya sungguh tidak ramah, Madoka merasa melihat ibunya yang berbeda sejak hari itu. Seakan-akan ibunya bukan seperti ibunya yang dikenalnya selama ini yang hangat dan ceria. Walau menyimpan sejuta pertanyaan, Madoka tetaplah seorang anak kecil, Madoka lebih memilih menunggu dan tidak membicarakannya.
Hal yang berbeda dengan sosok Yuichi, kakaknya. Awalnya Yuichi mengetahui sosok Aishida Nobuko sebagai salah satu teman ayahnya yang tertarik dengan bandnya, namun ketika Madoka bercerita soal telepon misterius, Yuichi mulai curiga dengan semuanya. Yuichi yang lebih dewasa tentunya punya cara tersendiri untuk mengungkap semuanya yang telah membuatnya penasaran. Alih-alih diam saja, Yuichi malah menyelidiki sendiri dengan bantuan informasi teman-teman bandnya dan menyusun keping demi keping puzzle untuk menjawab rasa ingin tahunya. Ketika semuanya terungkap pun, aku salut dengan Yuichi yang berjiwa besar untuk menerima dan menyimpannya sendiri.
Novel ini sukses membuatku penasaran dan bertanya-tanya mengenai apa yang sesungguhnya dirahasiakan oleh Keluarga Komiya, membuatku terus membaca dan mulai mengumpulkan setiap informasi yang ada. Ketika aku sudah di halaman akhir, aku jujur agak kaget dengan pemilihan ending yang dipilih, jauh di luar bayanganku. Penulis membiarkanku sebagai pembaca mereka-reka sendiri jawaban dari semua kisah keluarga Komiya ini. Walau secara tersirat sudah lumayan jelas dengan apa yang telah ditemukan oleh Yuichi dan mungkin sudah bisa dibayangkan oleh pembaca, tetapi alih-alih ditulis secara gamblang, penulis membuat kita menyimpulkannya sendiri.
Novel ini menarik dari segi tema, terjemahannya juga rapi dan mengalir. Karakter setiap tokoh kuat dan saling melengkapi kisah ini, sesuai dengan porsinya masing-masing. Jika disuruh memilih, aku paling menyukai sosok Madoka, seorang gadis yang walau usianya relatif masih muda, tetapi bisa menyikapi masalah keluarganya dengan cukup bijaksana sesuai usianya.
Overall, jika kamu mencari sebuah drama keluarga yang memadukan misteri di dalamnya, jangan lupa memasukkan Double Spin Round ke daftar bacaanmu ya.^^
Aneh sih kalau saya bikin segumpalan kalimat di atas sebagai inti dari buku ini tapi yah, menurut saya memang pas sekali kalimat di atas menggambarkan buku ini. Memang intinya adalah tentang rahasia-rahasia yang dimiliki anggota keluarga dan drama yang dihasilkan dari rahasia tersebut...
Nah tapi karena tokoh-tokoh dalam novel ini sangat baik dan manis jadi memang tidak ada kelebayan drama di dalamnya. Kisahnya berjalan adem saja gitu walau dipenuhi dengan misteri rahasia sang Ibu.
Dalam novel ini ada dua POV yaitu sang kakak yang keren, Yuichi (17 tahun) dan sang adik yang manis, Madoka (10 tahun). Keduanya pun memiliki pandangan yang berbeda dalam menjalani kehidupan dan menceritakan kisah mereka sehingga memberikan warna tersendiri dalam membaca novel ini.
Novel ini juga memberikan pandangan baru akan rahasia, dimana kita tidak perlu memaksakan seseorang, terlebih orang terdekat kita, untuk mengungkapkan rahasia terdalam mereka. Cukuplah mempeecayai mereka dan yakin bila saatnya nanti pada waktu yang tepat mereka akan mengungkapkannya. Dan jika pada akhirnya pun mereka tetap tidak mengungkapkannya hargailah keputusan itu. Berat sih. Tapi rasanya cukup adil karena memang setiap orang pasri memiliki rahasianya sendiri.
Saya berikan 3.5 bintang untuk novel keluarga yang hangat ini.
Madoka tidak memiliki Hyaku-nigiri seperti teman dekatnya, Minami, Garis Kepandaian dan Garis Perasaan di telapak tangan yang memiliki arti akan mendapatkan peruntungan, yang diidolakan teman-teman sekelasnya. Namun, Madoka memiliki dua pusaran rambut, sama seperti ibu dan kakak lelakinya, yang menandakan orang tersebut bahagia, dan itu cukup melegakan bagi gadis kecil yang menyukai Judo ini. Madoka tinggal bersama ayahnya yang setiap hari bekerja di Tokyo, ibu yang cantik dan pandai memasak, kakek yang memiliki dojo dan klinik tulang, serta kakaknya tersayang yang keren, pintar, masih kelas 2 SMA tapi sudah memiliki band, suara merdu dan pandai bermain alat musik. Madoka sendiri masih kelas 4 SD, dia sangat menyayangi keluarganya, mereka adalah kebahagiaanya.
Suatu hari ketika Madoka sendirian di rumah dia mendapatkan telepon dari seorang wanita bernama Ashida Nobuko yang mencari ibunya. Anehnya, ketika Madoka menyampaikan pesan tersebut ibunya merasa tidak mengenal wanita itu, Madoka yakin sekali kalau Ashida Nobuko mengenal ibunya dengan sangat baik. Pada festival kembang api yang Madoka datangi beserta ayah dan ibunya, dia melihat seorang wanita yang menatap ke arah keluarganya, dan pandangan ibunya kepada wanita tersebut sangatlah aneh, tidak seramah seperti biasanya, tidak seperti ibunya yang selama ini terlihat selalu lembut. Keanehan tidak hanya terjadi pada Madoka, Yuichi pun juga merasakan kehadiran wanita misterius yang tiba-tiba saja datang ke pertunjukan band-nya, menjadi satu-satunya penonton yang berusia seperti kedua orangtuanya.
Siapa sebenarnya Ashida Nobuka? Rahasia apa yang selama ini disembunyikan oleh orangtua Madoka dan Yuichi? Apakah Hyaku-nigiri lebih keren daripada dua pusaran rambut atau biasa disebut dengan Double Spin Round, sebutan yang juga menjadi nama band Yuichi.
Saat itu, kami membuka kamus dan memutuskan. Pusaran rambut ganda. Double Spin Round. Disingkat, DSR. Bagus juga. Band yang melibatkan semua orang berputar-putar mengalirkan kekuatan.
Kalau ragu dengan sesuatu, pertama-tama kita harus meragukan diri kita dulu.
Double Spin Round adalah sebuah drama keluarga yang memiliki cita rasa misteri cukup kental di dalamnya, sama seperti ada dua nama penulis di buku ini, sudut pandangnya pun disajikan melalui orang pertama dengan dua narator secara bergantian, Madoka dan Yuichi. Dengan cara seperti itu, pembaca juga dihadapkan sama seperti kedua tokoh utamanya, sama-sama ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, dengan berbagai petunjuk yang dimunculkan secara perlahan. Didukung dengan terjemahan dan editing yang bagus, emosi di buku ini terasa sekali, membacanya sangat mengalir lancar. Kita akan menyukai keluarga Komiya.
Dari sudut pandang Madoka, kita akan melihat kehidupan keluarga kecil yang awalnya damai tanpa rahasia kemudian mulai terasa berubah sejak dia menerima telepon dari orang asing, banyak pertanyaan yang dia ingin ajukan kepada ibunya tapi seringkali dianggap belum mengerti karena dia anak paling kecil di keluarga, padahal Madoka sudah merasa dewasa. Di bagian ini cerita lebih menitikberatkan akan kehidupan Madoka bersama temannya, kegagalan dia mengikuti turnamen Judo, interaksi dengan ibunya, dan kedekatan dengan kakaknya yang sering menjadi tempat curhat. Sebuah konflik yang dilihat dari kacamata anak kecil.
Berbeda dengan adiknya yang tidak bisa berbuat banyak, Yuichi mempunyai cara tersendiri untuk menyingkap rahasia keluarganya. Dengan berbagai informasi yang dia kumpulkan sendiri dan atas bantuan teman band-nya, sedikit demi sedikit dia mulai tahu apa yang orangtuanya rahasiakan. Di bagian ini kita akan melihat kedekatan Yuichi bersama pacarnya yang usianya lebih tua, interaksi dengan band-nya, dengan orang yang tertarik dengan bakatnya, dengan kakek serta ayahnya. Dan tidak ketinggalan hubungan yang sangat dekat Yuichi dan Madoka. Sebuah konflik yang dilihat dari kacamata orang dewasa.
Saya sangat menyukai interaksi keluarga Komiya, karakternya benar-benar hidup, khususnya ayah Madoka dan Yuichi, sangat bijaksana dan mencintai keluarganya dengan tulus, cukup terharu dengan pengorbanannya. Suka kepolosan Madoka, suka ibunya yang tenang tapi menghanyutkan, kakek yang tidak kalah bijaksana juga, serta Yuichi, pemuda yang memiliki impian. Dan yang paling membuat saya menyukai buku ini adalah penyelesaian konflik, saya menebak ceritanya bakal begini, eh tidak tahunya malah begitu. Kita akan tahu apa yang ada di pikiran Yuichi, apa yang pembaca pikirkan tidak akan jauh berbeda dengannya, yaitu bisa menebak sendiri misteri yang ada. Hanya saja tidak dibeberkan secara langsung, melalui berbagai deskripsi dan adegan alias dengan metode show yang amat sangat baik, penyelesaian endingnya di luar perkiraan pembaca, cara mengakhiri ceritanya benar-benar tak terduga.
Sedikit kekurangannya atau harapan saya sih sebenernya, hehehe, saya ingin melihat permasalahan dari sudut pandang Komiya dewasa, lewat ayah dan ibunya, ingin lebih detail lagi akan masa lalu mereka tapi yah tujuan buku ini memang bukan tentang membahas yang telah lalu tapi lebih ke penerimaan, kesalahan yang lalu biarlah berlalu, bahwa kasih sayang orangtua kepada anaknya tidak akan pernah putus.
Buku ini sangat recommended bagi yang mencari cerita tentang drama keluarga yang penuh misteri. Cocok juga untuk pembaca remaja dan menyukai J-Lit :D
Dengan begonya aku baru menyadari di pertengahan kalau buku ini bisa dibilang buku anak-anak. Mungkin ada hal yang belum perlu diketahui anak-anak juga sih, tapi ada juga anak-anak yang tau lebih banyak dari buku ini XD
Sangat-sangat manis, sangat hangat~ (o^-^o) Hubungan keluarga yang manis dan hangat ini bikin bacanya seperti sedang makan bakpao isi keju susu di saat hujan gerimis (っ˘ڡ˘ς) Karena cuaca ga selalu cerah, di kisah ini pun ada gerimisnya.
Diceritakan secara bergantian oleh Madoka (10 tahun) dan kakaknya, Yuichi (17 tahun), kisah keseharian mereka yang damai, serta gerimis mengundang yang tiba-tiba turun itu mungkin akan terasa 'datar' jika kita mengharapkan hujan-badai-petir-jlegaarr. Tapi saat membacanya seperti sedang mendengarkan kisah teman, misalnya, cerita ini jadi terasa menenangkan.
Bagaimana proses berpikir Madoka dalam menghadapi hal-hal yang belum dia pahami itu sangat menarik, sekaligus menimbulkan rasa sayang pada bocah ini (ღ˘⌣˘ღ) Semua tokohnya menyenangkan sih, kecuali ---*permisi mau nge-rant dulu*
Poin pentingnya: menjadi keluarga itu bukannya mementingkan soal "apa yang kamu sembunyikan" atau "bagaimana tingkah lakumu kemarin", tapi lebih ke rasa percaya, penerimaan-tanpa-syarat, dan kasih sayang. Dan untuk kasih sayang yang menghangatkan di buku ini, aku rasanya ingin melambung-lambungkan si Madoka tinggi-tinggi (ノ≧▽≦)ノ*: ・゚
Yang membuat saya tertarik pada novel ini adalah blurbs yg tertera di belakang. Misteri dan orang asing! Dua hal ini langsung membuat saya berpikir tentang film "Knock Knock" yang dibintangi Keanu Reeves, yang kemudian membuat saya trauma pada sosok Reeves. Beruntung, Double Spin Round nggak seabsurd dan seaneh film terbaru Reeves. Sebaliknya, novel duet Miyashita dan Yukiya ini membuat saya justru jatuh sedalam-dalamnya pada gaya menulis mereka.
Yang satu tampil begitu dewasa dalam balutan usia tokohnya yang begitu belia, sedangkan yang lain begitu lembut dan dewasa. Sama sekali jauh dari kesan misteri yang menjadi genre novel ini. Walau begitu, baik Miyashita dan Yukiya nggak serta-merta melupakan main-genre yang mereka usung ke dalam tulisan mereka. Alih-alih menyingkirkannya, mereka seolah menyelipkannya dengan hati-hati dan teliti.
Celoteh lengkap saya tentang novel Double Spin Round bisa Goodreaders baca di sini.
Ada 1copy buku ini saya bagikan dalam GA di bacaaninge.blogspot.com !!!
Pernah merasa mengenal seseorang, namun akhirnya dikemudian hari tersadar bahwa sebenarnya tidak tau apa-apa tentang orang tersebut?
Terkadang karena ada 'embel' sahabat atau keluarga, kita merasa sudah tau semua hal tentang seseorang. Merasa tak mungkin seseorang memiliki rahasia, terlebih ketika kita sendiri tidak menyimpan rahasia pada mereka.
Sering kali kita lupa akan sesuatu yang tidak atau mungkin belum tersampaikan, karena alasan apapun atau yang lebih sering dipakai adalah 'belum tepat waktu' itu juga sudah menjadi rahasia tersendiri.
Apabila sebuah rahasia terungkap, akankah memecah sebuah kebersamaan? ***
Yuichi dan Madoka, kakak beradik yang bisa dibilang sangat akur walau mungkin salah satu alasannya adalah karena usia mereka yang cukup terpaut agak jauh. Madoka seorang anak perempuan yang manis walau ia begitu suka akan Judo, sedangkan Yuichi adalah anak band yang bisa dikatakan super kalem dan bisa 'ngemong' adiknya.
Keluarga mereka adalah keluarga yang bisa dikatakan nyaris sempurna. Mereka tinggal bersama ayah ibu dan juga kakek. Ayah yang sibuk bekerja tetapi masih memiliki waktu-waktu tertentu dengan putra putrinya, ibu yang pandai memasak dan sangat ceria, juga kakek yang walau saat mengajar Judo begitu tegas, namun menjadi kakek yang lembut saat berada di rumah.
Namun suatu hari ada satu panggilan telepon yang membuat ketenangan rumah tersebut sedikit terganggu.
Yuichi dan Madoka mencium adanya rahasia di keluarga mereka. Madoka yang masih duduk di bangku SD cukup dibuat was-was walau mungkin tak sampai membuatnya tak bisa tidur nyenyak. Sedang Yuichi menjadi sedikit tak bisa konsentrasi terutama ketika rahasia tersebut membuat ya menghadapi sedikit masalah dengan bandnya.
Namun apakah semuanya akan berubah dalam keluarga ini?
***
Saya suka novel dengan tema keluarga. Menggambarkan bagaimana hubungan ayah dengan anak, ibu dengan anak, bahkan kakak beradik. Hal-hal yang mungkinbiasa terjadi dalam sebah keluarga, namun kadang penyelesaian masalah yang begitu beragam bisa menjadi satu pelajaran tersendiri.
Seperti dalam novel ini, ketika sebuah rahasia mulai terendus bagaimana masing-masinganggota keluarga menyikapinya. Yuichi, yang mulai tumbuh menjadi pria dewasa sepertinya mulai bisa mengambil sikap harus bagaimana di depan orang tuanya. Walau ada satu hal yang menjadi catatan bagi saya, bahwa menyimpan rahasia apapun itu bisa menjadi pintu pembuka untuk seorang anak bercerita tentang urusan dalam rumahnya pada seseorang.
Untungnya teman band maupun teman dekat Yuichi bisa memberikan masukan dan pandangan yang baik untuk Yuichi.
Sedang Madoka sendiri, mungkin ia merasa ia tidak memiliki rahasia apapun. Namun disatu waktu ketika akhirnya ia merasa dirinya mulai beranjak dewasa dan sudah tak mungkin melakukan hal-hal tertentu seperti sebelumnya, ia hanya memendam rasa itu sendiri mungkin itu juga bisa dinamakan rahasia. Mungkin ini yang menjadi salah satu kesulitan menjadi orang tua, memahami perubahan seorang anak tanpa perlu anak tersebut bercerita.
Saya suka dengan bagaimana masing-masing pihak dalam keluarga ini mengambil 'porsi' secara pas. Kakek yang tidak melulu ikut campur masalah cucu-nya, tetapi tetap bisa memberikan masukkan. Ayah yang masih memiliki waktu untuk anak-anaknya, walau mungkin dalam novel ini tidak diceritakan secara gamblang, namun ada satu adegan yang buat saya cukup menggambarkan itu. Ibu yang ceria yang bisa membuat anak-anaknya betah di rumah dengan caranya sendiri.
Novel ini memberi pandangan baru tentang cerita dalam sebuah keluarga. Menarik, menghadirkan beberapa tanya dalam bab-bab yang disuguhkan. Sedikit ikut menebak apa rahasia sesungguhnya walau ternyata tetap diluar dugaan.
Hal yang saya suka dari penerbit Haru: J-Lit dan M-Novel! Yah, saya ada baca K-Iyagi-nya tapi rasanya ga secihuy dua "saudara"nya tadi. Dan sebelum mulai lebih jauh, saya mau bilang: terima kasih, Andry Setiawan! Hasil translasinya sampai saat ini sangat luar biasa. Saya belum ada keluhan untuk pemilihan kata yang aneh atau susunan kalimat yang janggal. Malah rasanya saya seneng dengan beberapa hal, terutama keputusan beliau untuk tidak mengalihbahasakan beberapa istilah Jepang dan memilih untuk menambahkan catatan kaki. Terima kasih!
Pertama kali tau novel ini dari Kakak Guguk tapi saya baru baca berabad-abad kemudian. Dan saya setuju kalau cerita ini hangat. Bahkan membangkitkan rasa yang aneh pas saya baca. Temanya jelas menarik buat saya, rahasia dalam keluarga. Karena semua keluarga, terlepas dari betapa rukun dan dekatnya hubungan antara anggota keluarga itu pasti masing-masing memiliki rahasia; entah besar atau kecil. Rahasia ini sama sekali tidak terbaca oleh saya di bab-bab awal. Keluarga Komiya ini tipikal keluarga yang hangat dan idaman, tiap anggotanya rukun dan memiliki ikatan yang baik, apalagi Mado-chan dan Yuichi-kun. Saya sampai bertanya-tanya, rahasia apa sich yang sebenarnya disimpan keluarga Komiya ini? Dan begitu tiba di adegan telepon misterius itu, saya malah ikutan tergiring opini anggota DSR soal perselingkuhan dan sempat misu-misu sendiri: UAPA?? Si Oom selingkuh?? Padahal Mamanya anak-anak udah top markotop gitchu! Dasar laki kaga sopan! -- Dan ternyata yang harus diomelin yah para personel DSR, dasar saya hahaha Bagi saya, rahasia ini sendiri jadi menarik. Kenapa? Karena sampai akhir cerita, rahasia besarnya ga terungkap! Saya sampe berasa gemash tingkat dewa. Shoji Yukiya-sensei dan Miyashita Nantsu-sensei membebaskan pembaca untuk merangkai sendiri kira-kira apa rahasia besar itu. Memang sich, banyak petunjuk yang mengarahkan pembaca mengenai status Yuichi, tapi kan bisa aja dugaan itu salah. Dan rasanya akan lebih greget kalau rahasia itu dibongkar. Atau jangan-jangan ada sequel dari DSR ini yang menceritakan masa lalu Mama?
Di luar itu semua, isinya sangat menyenangkan loh. Banyak sekali hal positif yang dapat dipetik dari buku ini. Selain itu, ada banyak quote yang mengena sekali. Salah satunya, saya paling suka dengan motto DSR: jangan bermusik karena terbiasa. Duh, penjelasannya itu loh... saya sampai berpikir mungkin seharusnya disebutkan: jangan melakukan sesuatu karena terbiasa. Di bagian itu, saya sampai ingin membungkukkan badan dan berbisik, "Arigato gozaimasu, Sadaichi-sensei!" Dan rasanya ada banyak sekali kalimat yang memotivasi saya di buku ini.
Saat melihat cover novel ini, sungguh cantik. Aku senang melihat wajah Yuichi di cover, rasanya menenangkan. Aku sangat suka sosok Komiya Madoka. Walaupun masih berumur sepuluh tahun, ia tetap mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi dalam keluarganya itu. Saat aku seumuran Madoka, aku hanya berpikir untuk pulang dari sekolah dan bermain game Harvest Moon. Madoka memiliki cara berfikir yang lebih dewasa dari anak-anak seusianya.
Novel ini memiliki cerita yang cukup ringan, mengalir dengan tenang. Dalam novel ini mengambil dua sudut pandang, dari Madoka dan Yuichi yang silih berganti beriringan dengan pergantian bab. Menurutku ini menarik. Dengan adanya dua sudut pandang ini, dapat tergambar jelas intrik dalam Keluarga Komiya. Baik Madoka maupun Yuichi memiliki sikap yang berbeda dalam menghadapi situasi keluarga mereka. Mereka pun memiliki alasan tersendiri atas sikap masing-masing.
Nggak ada orang yang bisa berfikir objektif soal keluarga mereka sendiri. (Double Spin Round, hal 167)
Four notes untuk Madoka dan Yuichi yang berfikir keras demi keluarganya. Setuju banget sama penggalan novel diatas. Pada umumnya, keluarga memang tidak dapat sepenuhnya berfikir objektif pada lingkup mereka sendiri. (ʃƪ ˘ ³˘)
endingnya bikin gue komen "dih apaan. gini doang? masa gini? ah, balikin duit gue!" hahahaha
yah, jadi keinget bukunya tere liye yang suka ngasih ending menggantung sih. sebab menurut gue, memulai menulis buku berarti mengakhiri dengan baik juga. tapi kalau akhirnya gak "berakhir", ya pembaca terganggu lah.
tapi karena deskripsi soal keluarga Jepang dan cara nulis yang "Jepang banget" maka patut diapresiasi dengan 3 bintang lah. oh ya baca buku ini jadi keinget dengan lirik2 lagu JKT48 hahahaha tipikal jejepangan lah :p
Genre: Misteri, Family drama. Gaya bahasanya: heartwarming.
Jadi, ini bukan novel misteri yang biasanya, tapi misteri yang heartwarming.
Dan, aku suka sekali dengan pilihan penulis untuk membiarkan akhirnya seperti itu. Keluarga Komiya seperti sebuah keluarga idaman! *hehe
Setelah selesai baca, dijamin bakal kesengsem sama Ayah Yuichi dan Madoka, dengan pilihan-pilihan yang sudah dia buat, baik sebelum menikah, maupun saat ini.
Jadi, saya membaca ini setelah membaca buku Dark Love dari Ken Terate, dan, dari situ, saya sadar akan satu hal: pentingnya misteri dalam bercerita.
Jadi, saya pernah membaca (entah di artikel apa) bahwa ada dua elemen narasi yang menjadikan sebuah buku sebagai page turning kalau dieksekusi dengan baik: suspense dan mystery. Suspense adalah ketika pembaca merasa tegang atau emosional dengan adegan-adegan di cerita, sedangkan mystery adalah ketika pembaca bertanya-tanya dengan apa yang selanjutnya terjadi. Sementara suspense lebih ke konflik, mystery lebih ke plot. Dan tujuan keduanya sama: membuat cerita yang page turning.
Dan Double Spin Round mengeksekusi mystery dengan baik.
Jadi, ada beberapa hal yang ingin saya komentari. Pertama, dari sisi karakternya, baik Madoka dan Yuichi itu hidup. Ada beberapa kategori kenapa saya bilang hidup (a.k.a enggak flat). Pertama, dari segi voice-nya saja sudah berbeda. Yuichi, yang berumur 17, memiliki voice yang lebih fokus dan serius, sementara Madoka, yang berumur 10, punya voice yang lebih spontan dan jangka pendek. Kalau diperhatikan, Madoka menggunakan lebih banyak interjeksi ('ah', 'ya', dst) ketimbang Yuichi. Kedua, baik Madoka maupun Yuichi memiliki motif atau tujuan yang jelas, yang berpengaruh pada concern mereka. Madoka memiliki motif sebagai pemain judo, dan ia concern untuk menjadi kuat. Yuichi memiliki motif sebagai musisi, dan ia concern untuk menjadi independen. Ketiga, ada sisi khas yang selalu ditonjolkan oleh masing-masing karakter, atau yang mereka anggap penting. Madoka selalu menonjolkan hyaku-nigiri dan madeleine, sementara Yuichi selalu menonjolkan band+teman-temannya dan Sayumi-san, pacarnya yang lima tahun lebih tua. Overall, saya suka sekali dengan betapa hidup karakternya. Dan karakter-karakter lain juga enggak ada wasted, seperti karakter Ibu, Ayah, dan Kakek. Ada, sih beberapa yang kelihatan kurang signifikan seperti Akihiro-san, tapi, overall, karakter-karakter yang ada di sini somewhat mengisi perannya dengan baik.
Oh, dan saya juga suka bagaimana Madoka concern terhadap ibunya, meski pada bagian-bagian akhir, saya agak mengangkat dahi mengenai "penantangan" Madoka terhadap peran gender.
Kedua, ini dari segi cerita, a.k.a. plot-konflik. SPOILER ALERT BTW.
Seperti yang saya bilang, DSR mengeksekusi mystery dengan baik. Cerita dibuka dengan sesuatu yang kelihatannya simpel dan ringan (celoteh Madoka tentang Hyaku-nigiri), tapi, seperti kata blurb, "Satu panggilan telepon mengubah keluarga yang tadinya baik-baik saja, menjadi keluarga yang menyimpan rahasia satu sama lain". Overall, kita digiring untuk bertanya: "Apa yang sebenarnya terjadi?". Saya suka dengan bagaimana pengarang menempatkan hint-hint mengenai reaksi-reaksi Ibu ketika karakter baru masuk, seperti ketika Ibu menolak berbicara dengan Nobuko (tapi tidak dijelaskan mengapa), bagaimana ia akrab dengan Sakurai (tapi tidak dijelaskan mengapa), atau bagaimana ia menentang Yuchi yang menyebut Ishigo Production ketika menawari mereka kontrak, padahal, ia dulu mendukung Yuichi menjadi musisi (tapi tidak dijelaskan mengapa). Begitu pula hint-hint kecil seperti ada banyak benda-benda terkait idol Sakurai Hanako di rumah mereka (tapi tidak dijelaskan siapa yang mengoleksinya), Ibu yang tiba-tiba menangis sambil memeluk Madoka dan berkata bahwa ia senang Madoka ada di sini, dan bagaimana Nobuko dan Ayah sering bertemu maupun ketika Nobuko tiba-tiba hadir di festival kembang api. Pada awalnya, pembaca digiring untuk berpikir bahwa Ayah selingkuh dengan perempuan bernama Nobuko tadi (sebagaimana analisis Yuichi dan teman-temannya--ini juga hal yang menarik omong-omong), tapi, lama-kelamaan, dengan masuknya karakter baru, pembaca mulai aware bahwa "bukan itu masalahnya". Masalahnya bukan di Ayah, tapi di Ibu.
Dan semuanya tersimpulkan di bagian-bagian terakhir, meski saya agak "gone huh?" sama ending-nya. Iya, saya udah mengira kalau ending-nya pasti melibatkan itu, tapi, karena pengarang enggak mengafirmasi langsung, jadi ya udah saya terima aja.
Omong-omong, saya sempat kena spoiler dikit (hence tulisan SPOILER ALERT gede-gede), di mana ada review yang menyebutkan bahwa karakter Ibu membuang mimpinya menjadi idol ketika menikah dengan Ayah (padahal saya belum sampai situ), dan, selama membaca, saya jadi galaw. Pada akhirnya, saya sukses ngelupain spoiler itu, meski, yah, ketika itu diungkap, saya jadi enggak sekaget kalau belum kena spoil.
Semenjak saya main Life is Strange, saya jadi punya kriteria plot yang bagus: plot bagus itu adalah plot yang kalau dibicarakan, susah buat enggak spoiled. Bahkan meski hanya muncul di review atau bahkan sekadar di reaction video YouTube.
Aaanyway, kembali ke review. Berikutnya adalah setting. Karena ini terjemahan, untuk setting, saya pikir udah enggak perlu diragukan lagi. Untuk segi tempat, ada beberapa hal yang, kalau mau bisa dicek di Gugel Maps, dan penamaan tempatnya juga enggak di-spam alias seperlunya. Selain itu, sebagaimana halnya buku Kuteriakkan Cinta Pada Dunia - Sekai no Chuusin de Ai Wo Sakebu yang memperlihatkan kremasi sebagai ciri khas Jepang, buku ini menggunakan dojo untuk memperlihatkan ciri khas Jepang. Dan, enggak cuma itu, sih, karena ada beberapa hal lain yang terkait budaya mereka, kayak yah literally its title. Buku ini juga mengadopsi tren-tren masa kini kayak FaceTime dan Facebook--sesuatu yang enggak saya duga mengingat umur pengarangnya yang udah lebih dari setengah abad (yah, meski mereka masukkin The Beatles juga sih).
Pada akhirnya, saya kasih bintang empat. 4,5 sebenarnya, dan kenapa enggak lima adalah karena ending-nya Yuuichi yang enggak ke-konfirm (dan bahkan ending Madoka sebenarnya, tapi saya enggak terlalu memikirkannya). In the end, ini buku bagus buat belajar mengenai cara menerapkan teknik foreshade di cerita-cerita drama yang nondetektif atau thriller.
"Rumah adalah tempat di mana semua anggota keluarga berkumpul." - Komiya Madoka, hlm 220.
Kata orang, dua pusaran rambut melambangkan simbol kebahagiaan.
Double Spin Round menceritakan tentang keluarga Komiya yang bahagia, kelewat bahagia. Ada kakek, ayah, Komiya Yumiko (ibu), Yuichi (kelas 2 SMA), dan Madoka (kelas 4 SD).
Kakek Komiya adalah seorang pejudo kuat yang melatih judo pada anak-anak SD. Ia juga punya klinik tulang. Ayah Komiya adalah seorang pegawai kantoran. Ibu Komiya (Komiya Yumiko) adalah ibu rumah tangga yang suka sekali membuat kudapan. Ia merupakan sosok ibu yang sabar dan penuh pengertian. Kemudian Yuichi yang berumur tujuh belas tahun adalah anggota band Double Spin Round atau seringnya disingkat DSR. Ia pintar menyanyi dan bermain keyboard. Dan Madoka yang berumur sepuluh tahun adalah gadis kecil kuat yang gemar sekali judo.
Semuanya begitu aman, tentram, damai, sejahtera—sebelum sebuah telepon dari orang asing datang dan membuat keluarga ini saling mencurigai satu sama lain.
Adalah Ashida Nobuko, seorang wanita yang mengenal Komiya Yumiko, namun Yumiko sendiri berkata ia tidak mengenal Nobuko. Selain hal itu, yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa Ashida Nobuko mengenal suami Yumiko dan juga datang ke konser band Yuichi?
Semua pertanyaan yang muncul pada tokoh (dan aku sebagai pembaca) sangat rumit dijelaskan. Novel ini mengambil dua sudut pandang—secara penulisnya juga dua. Setelah Madoka menerima telepon Ashida Nobuko untuk pertama kalinya dan melihat sikap anggota keluarganya yang aneh, sebagai anak berumur sepuluh tahun, pikirannya sangat sederhana.
Tidak ada hal yang lebih indah daripada melihat keluarganya bahagia, pikir Madoka. Namun Madoka yang berpikir bahwa dirinya bukan anak-anak lagi, malah jadi merasa galau dan seakan sungguh menerka apa yang sedang terjadi pada keluarganya. Hal itu membuatnya resah namun ia tidak bisa berbuat apa pun karena takut menyakiti perasaan orang lain.
Sedangkan Yuichi yang sudah puber(?), juga merasakan keganjalan pada keluarganya. Ia tidak ingin Madoka terlibat lebih jauh kalau sesuatu yang dicurigainya memang benar. Karena itu ia berenca untuk menyelidiki teka-teki itu sendiri dengan banuan teman band-nya.
Terlihat, kan, perbedaan Yuichi dan Madoka? 'Rahasia' itu memang menganggu mereka, namun Madoka hanya khawatir dan berani berpikir saja, tidak bisa berbuat banyak. Ssedangkan Yuichi sudah berani mengambil tindakan.
Setelah membaca novel ini, aku merasa sepertinya lebih enak jadi Madoka. Apa yang diketahui gadis sepuluh tahun selain kue enak buatan ibunya? Sebentar saja kepikiran masalah, selanjutnya akan lupa oleh aktivitas lain. Saat itu, masalahku hanya sekedar lupa mengerjakan PR matematika dan takut dimarahi guru.
Yuichi dan Madoka sangat dekat. Aku suka sekali dengan keakraban keluarga Komiya—sebelum mereka saling menyimpan rahasia. Ayah dan ibu yang sangat akur, kakek yang baik, dan kakak beradik yang dekat. What a family goals.
Novel ini lebih menunjukkan sisi keluarga Komiya daripada tentang teka-teki yang menjadi topiknya. Sedikit spoiler, konflik yang ada itu berasal dari masa lalu. Namun Double Spin Round tidak membahas tentang itu, melainkan lebih seperti ‘yang sudah berlalu biarlah sudah’. Lebih seperti penerimaan, daripada flashback masa lalu.
Ngomong-ngomong, aku suka Yuichi berdasarkan ekspetasiku sendiri. Ia dilukiskan sebagai remaja tujuh belas tahun yang pintar menyanyi dan bermain keyboard. Dia juga punya kepribadian yang baik, serta sangat menyayangi adiknya. Yuichi populer di kalangan gadis, namun sudah punya pacar yang lima tahun lebih tua darinya!
Aduh, kenapa nggak sama aku aja ya yang seumuran XD
/ngaco/
Oke itu readers problem tiap jatuh cinta dengan tokoh khayalan.
Aku jadi sangat nge-fan dengan ayah Yuchi dan Madoka. Dia digambarkan sebagai sosok pekerja keras, bijaksana, rendah hati, lembut, penyabar, dan sangat menyayangi keluarganya. Karakternya benar-benar hidup, begitu juga dengan tokoh yang lain.
Kedua penulis menyuguhkan alur yang lumayan lambat, namun seakan terjun ketika hampir menyentuh ending. Sama seperti The Stolen Years, Double Spin Round juga punya ending tersirat yang tidak terduga. Dan aku selalu menyukai novel yang seperti itu.
Jujur saja, selesai membaca novel ini, aku nggak tahu mau nulis review kayak gimana. Aku suka ceritanya, tapi aku nggak tahu harus bagaimana nantinya ketikaa menulis review. Jadi, seperti inilah jadinya. Hahaha.
Dan ngomong-ngomong tentang J-lit Penerbit Haru atau 'novel tebak-tebakan' lainnya, favoritku tetap Girls in the Dark. Hehehe.
Well, this is a good story from good authors. Aku nggak menyesal membaca novel ini. Ceritanya menarik dan bahasa terjemahannya mudah dipahami.
I enjoyed it and I hope you so <3
This entire review has been hidden because of spoilers.
Tentang rahasia yang membuat sebuah keluarga yang semula baik-baik saja menjadi terasa berbeda.
Konflik yang dihadirkan buku ini sederhana dan bukan hal yang wow banget atau yang spesial. Eksekusinya pun sederhana. Diceritakan dari dua sudut pandang, yaitu Madoka (sang adik) dan Yuichi (sang kakak)
Terlepas dari hal tersebut, buku ini enak kok dibaca. Ringan dan bisa dibaca sambil bersantai karena terbukti bisa aku habiskan dalam sekali duduk (sekitar 3 jam).
"Perasaan yang berputar-putar itu nggak akan sia-sia. Berputar-putar lalu maju selangkah, berputar-putar lagi dan maju selangkah lagi. Meskipun nggak tahu apa sudah melangkah atau belum, tapi perasaan yang seperti berputar-putar itu sangat penting."
Suka pake banget. Bukan cuma ceritanya yang sebenarnya hanya drama keluarga biasa, tapi cara tutur dari POV kak Yuichi dan dek Madoka. Bukan hanya cocok dgn tingkat umur, melainkan juga dari cara tutur yg berasa novel Jepang banget! :)
Jadi double spin round di sini maksudnya pusaran rambut atau unyeng-unyeng. Katanya sih, dua pusaran rambut di sini berarti kebahagiaan. Ada-ada aja. Keluarga Komiya dalam cerita ini, semuanya punya dua pusaran rambut. Dan Double Spin Round akhirnya jadi nama band milik Yuichi, sang kakak yang jago piano dan menyanyi.
Cerita slice of life ini beneran ringan dan nyaris tanpa gejolak. Nggak ada satu pun karakternya yang brengsek. Benar-benar cerita yang penuh dengan orang baik. Tapi buat yang menyukai cerita dengan konflik yang naik-turun, cerita ini mungkin sedikit hambar.
Narator novel ini ada dua: Yuichi, sang kakak, dan Madoka, si adik yang baru berusia 10 tahun dan sangat suka judo sampai-sampai ingin meneruskan dojo kakeknya. Dua adik kakak ini benar-benar sangat saling menyayangi dan nggak pernah bertengkar. Apa ada keluarga sedamai ini, ya?
Monolog internal keduanya terasa begitu intim dan hangat. Anak usia 10 tahun ternyata bisa punya pemikiran serumit ini, ya?
Konflik dalam cerita ini berputar di rahasia kecil yang disembunyikan ibu mereka. Dimulai dari Madoka yang menerima telpon dari wanita asing bernama Ashida Nobuko, datangnya wanita ini ke tempat konser band Yuichi secara rutin, sampai dikontraknya band Yuichi oleh seorang produser nyentrik mantan musisi problematis bernama Ishigo.
Ibu Madoka mengaku tak kenal Nobuko. Tapi ayah bilang dirinya justru mengenalnya dengan baik sampai cerita kalau Yuichi punya band. Jadi dia itu siapa? Pembaca sampai digiring buat mikir jangan-jangan Nobuko ini selingkuhannya ayah Yuichi, loh.
Lalu ada ibu Yuichi yang meski sangat mendukung keputusan anaknya untuk terus bermusik, mendadak malah menentang waktu Ishigo akan mengontrak Double Spin Round. Ada apa?
Misterinya memang tergolong sangat ringan, tapi cukup untuk membuat geregetan dan bertanya-tanya, "Ini ada apa, sih???"
Tapi misteri terbesar antara hubungan ibu Yuichi, Ishigo, dan Yuichi sampai akhir pun dibiarkan menggantung. Bahkan Yuichi pun sudah menyuarakan kecurigaanku soal itu. Tetap saja tak ada jawaban yang pasti.
Pada akhirnya novel ini selesai begitu saja. Seperti yang kubilang, narasi-narasinya terasa sangat personal dan hangat. Tapi kalau pingin drama yang penuh konflik, berarti novel ini bukan untukmu. Karena novel ini benar-benar jenis cerita yang cukup dibaca sambil bersantai.
Buku ini menggunakan sudut pandang dua orang, yaitu Yuichi, anak kelas 2 SMA yang bisa berpikir dewasa serta analitis; dan juga Madoka, anak kelas 4 SD yang walaupun gaya berceritanya seperti anak-anak, tapi pola pikirnya terkadang bisa dewasa juga.
Aku beli buku ini karena memang ngincer dari dulu dan juga blurb-nya yang menarik! Ada bumbu misteri yang cukup ringan untuk dibaca~. Apalagi, buku ini ngangkat tema keluarga juga. Menarik.
Terjemahannya rapi sekalii. Bahasanya halus dan mudah dipahami. Footnotenya juga sangat membantu. Untuk gaya bahasanya, jempol deh!:D
Untuk karakternya, dijelaskan dengan cukup kuat. Aku suka dengan hubungan keluarga Komiya yang terlihat manis! Terlebih hubungan adik-kakak antara Yuichi-Madoka, terasa lebih menggemaskan. Hubungan keluarga yang harmonis, tapi ternyata menyimpan sebuah rahasia. Haha *apaan
Endingnya gantunggg. Tapi aku suka endingnya sih, soalnya terasa gak memaksa, dan salah satu tokohnya pun menjelaskan hasil pemikirannya itu. Ya, aku setuju sih, soalnya masuk akal juga.
Ada bagian yang paling aku sukaaa:
Aku menyentuh dahi Madoka, kemudian menggerak-gerakkan jariku. Mata Madoka menjuling.
❝Daripada kerutan di sini...❞
Kemudian aku mendorong kedua ujung bibir Madoka dengan dua jari telunjukku. Aku membuatnya tersenyum.
Apa itu Double Spin Round yang sering disingkat menjadi DSR?
Aahhh… rupanya itu adalah kelompok band music yang terdiri dari anak-anak SMA. Mereka adalah Yuichi, Naruchon, Masaya, dan Zaki. Mereka telah membentuk kelompok band ini sejak mereka SMP. Dan saat ini, mereka tengah mendapat tawaran dari seseorang yang mengaku sebagai manajer, bernama Ishigo-san untuk membuat debut. Namun, kemunculan Ishigo-san ini berbuntut panjang. Sebuah misteri menyelimuti masa lalu orangtua Yuichi.
Double Spin Round memiliki makna berbeda bagi adik Yuichi, Madoka-chan. Ia menganggap, double spin round membawa kebahagiaan bagi pemiliknya. Bagi Madoka-chan, double spin round adalah pusaran rambut di kepala seseorang yang berjumlah dua. Dia percaya, bahwa memiliki double spin round akan memberi kebahagiaan. Dan Madoka-chan sangat bahagia, karena ibunya memiliki DSR yang sama dengannya. Kebahagiaan Madoka-chan sedikit berkurang ketika ia melihat kakaknya, Yuichi, sedikit demi sedikit berubah.
Awal membaca buku ini aku sempat beberapa kali merasa bosan dan merasa buku ini memang gak menarik. Suatu kesempatan aku iseng bawa buku ini untuk dibaca saat antri di rumah sakit dan ternyata sangat page turning! Kalau gak sibuk, mungkin aku akan kelarin buku ini dalam sekali duduk.
Penulisan buku ini sangat unik, ditulis dari dua sudut pandang : Madoka dan Yuichi. Karena ditulis oleh dua sudut pandang, rasanya seperti mendengar dua orang bercerita dengan usia, karakter dan dunia yang berbeda. Madoka dengan cara bicara dan berpikir yg sederhana namun kita bisa merasakan perasaan halus anak perempuan 10 tahun, dan Yuichi yg beranjak dewasa dan mulai menata kehidupan dan masa depannya.
Walaupun buku ini tentang rahasia keluarga, namun justru tidak ada konflik yang menegangnkan. Rasanya seperti membaca kisah sebuah keluarga hangat yg tiap anggota keluarganya bisa saling berfungsi meski ada berbagai rahasia yg disimpan.
Uwaaa..buku ini bagus sekali..sangat menyenangkan untuk dibaca, memberikan perasaan hangat, ceria, dan membahagiakan. Madoka yang manis, ayah, ibu, kakek, dan yuichi yang hangat. Madeleine buatan ibu. Rasanya sayang karena ceritanya sudah selesai.
Rahasia yang merupakan isu utama menambah kesenangan membaca. Buku ini adalah terbitan lama penerbit haru yang saya beli karena diskon besar. Tidak disangka akan menjadi salah satu buku haru favorit.
Sebelumnya pernah ada j-lit haru lainnya bertipe mirip seperti ini, judulnya Cinderella Teeth. Buku itu betul2 sudah langka dan saya senang bisa mendapatkannya karena sangat menyenangkan untuk dibaca. Tapi buku ini bahkan lebih bagus lagi.
Saya menantikan Penerbit Haru menerbitkan J-lit dengan tipe seperti ini lagi. Semoga.
4/5 star saya suka kisah keluarga Madoka dan Yuichi, benar siapa pun punya rahasia, rahasia seperti bom waktu yang suatu saat akan meledak dan menghancurkan segalanya, tapi karakter-karakter dalam kisah ini mengajarkan kita menghadapi sebuah masalah dengan sisi positif tanpa amarah, mereka tetap berprasangka, mereka tetap menangis, mereka tetap berbohong, tapi rasa takut yang nyata, rasa takut untuk kehilangan, membuat mereka jujur dan mengerti satu sama lain. karena mereka tidak ingin kehilangan sesuatu yang disebut ikatan. ikatan keluarga.
Ternyata cukup seru juga membaca novel ber-genre keluarga ini.
Ini madoka padahal umurnya baru 10 tahun tapi kok sifatnya udah dewasa banget sih? Hahaha. Jadi gemes membayangkan seorang gadis kecil memiliki sifat seperti itu. Jadi pengen punya adik cewek. Loh?😅
Dipertengahan cerita udah sempat ketebak bagaimana ceritanya bakalan berakhir, dan ternyata bener. Jadi, ngebaca sampai akhir buat ngepastiin aja analisis yang terbentuk dari setengah buku yang telah dibaca.
Ceritanya slow pace dan di ending misteri nya masih belum keungkap semua. Bukan misteri deng, tapi rahasia. Ya seperti yang disampaikan Madoka, bahwa terkadang dalam keluarga pun ada beberapa rahasia yang ingin disembunyikan. Selain itu, sama seperti Yuichi, aku juga memiliki pemikiran yang sama.
Masih belum terbiasa dengan J-lit. Waktu nge-proofread berasa datar begitu. Tapi, setelah dirilis dan beberapa teman bilang novel ini unik, saya pun jadi kepikiran begitu. Unik yang asyik, hehehe.