What do you think?
Rate this book


336 pages, Paperback
Published September 9, 2008
"Tak dapat disangkal, banyak orang Saudi -termasuk tentara-tentara Saudi yang berkeliaran di Mekkah- mulai goyah: Bagaimana jika semua ini benar? Bagaimana jika Imam Mahdi yang terberkati itu benar-benar muncul, dan dunia yang kita kenali ini akan segera berakhir?" Hal.103.
"Juhaiman dengan segera mengambil posisi terbuka untuk melakukan pembangkangan, mengklaim bahwa monarki Arab Saudi yang ada sekarang adalah haram. "Semestinya kamu tahu, bahwa menjadi pemerintah atau pemimpin Islam itu harus memenuhi tiga syarat: seorang Muslim, anggota (dari suku yang melahirkan Nabi Muhammad) al-Quraisy, dan merupakan orang yang menerapkan ajaran agama." Hal.43.

Tidak lama kemudian sang Presiden Terpercaya Sadat dicaci maki dalam selebaran-selebaran gelap (dan disebut) sebagai Firaun Baru yang telah mencemari Islam." Hal.55.
"Al-quran sendiri tidak menyebutnya. Tetapi Nabi Muhammad, menurut beberapa perawi, meramalkan bahwa Allah akan mengirimkan seorang juru selamat -seorang Mahdi- untuk memerintah dunia Islam dan mendirikan masyarakat ideal, setelah terjadinya peperangan dengan kekuatan jahat. Mahdi ini tidak dapat dibunuh oleh orang-orang biasa -sekurang-kurangnya tujuh tahun pertama pemerintahannya. Pada waktu itu, dia akan "menciptakan bumi yang adil dan damai, di mana sebelumnya bumi ini dipenuhi ketidakadilan dan tirani," sabda Nabi Muhammad." Hal.57 & 58.

"Pada saat itu, delapan perwira meninggal di tempat, sedangkan tiga puluh enam menderita luka-luka." Hal.91.
"Beberapa perwira Saudi juga menginginkan dia berada di sana: Masjid al-Haram, kendatipun hanya beberapa menit ditempuh dengan helikopter dari (kota) Thaif. Tetapi memasuki kota suci -dengan demikian melanggar tabu mengenai kunjungan orang non Muslim-adalah melawan instruksi dari Paris." Hal.241.
"Bagi Riyadh, bakal kehilangan muka jika mengandalkan -dari semua orang- Bani Hasyim yang pernah ditaklukkan Al-Saud untuk kembali merebut tempat suci Islam."
"Dilihat dari perspektif ini, operasi militer Yordania mana pun di Hijaz sama-sama berisiko. Pihak Saudi curiga -bukannya tanpa alasan- bahwa Bani Hasyim tidak pernah benar-benar menerima kegagalan mereka memiliki Mekkah, dan masih memumpuk mimpi-mimpi mereka untuk membalas dendam." Hal.200."
